Chapter Text
Malam itu, mereka bertiga duduk di ruang tamu dengan jarak yang terasa terlalu dekat sekaligus terlalu jauh. Lampu kuning redup menggantung di atas kepala mereka, menciptakan bayangan-bayangan lembut yang justru membuat setiap ekspresi tampak lebih jelas, lebih telanjang.
Raka duduk di sofa panjang, bersandar santai seolah ruang itu memang miliknya. Sadewa di sebelahnya, sedikit condong ke arah Raka—atau mungkin ditarik tanpa sadar oleh gravitasi yang tak bisa ia tolak. Sementara Nakula memilih kursi tunggal di seberang, terpisah oleh meja kaca yang terasa seperti garis pembatas yang tak kasatmata.
Raka sedang bercerita tentang proyek arsitekturnya—tentang konsep, klien besar, tentang bagaimana ia harus bolak-balik site visit ke luar kota. Tangannya bergerak aktif, ekspresif, penuh energi.
“Klienku maunya konsepnya tropis modern, tapi lahannya sempit banget. Jadi gue harus muter otak biar tetap dapet pencahayaan alami,” kata Raka, matanya berbinar. “Kemarin bahkan gue sampai nginep di site, ngecek sendiri arah matahari.”
“Serius?” Sadewa menoleh, terlihat berusaha mengikuti. “Capek banget, dong.”
“Capek, tapi worth it sih,” Raka terkekeh. Tangannya tanpa sadar jatuh ke punggung tangan Sadewa, mengusap pelan. “Aku suka kalau hasilnya keliatan nyata.”
Sadewa mengangguk pelan. “Kedengerannya… seru.”
Nakula diam.
Dari kursinya, ia mengamati tanpa benar-benar terlihat mengamati. Matanya menangkap detail-detail kecil yang mungkin terlewat oleh orang lain—atau sengaja diabaikan.
Jempol Raka yang terus bergerak di punggung tangan Sadewa.
Jeda sepersekian detik sebelum Sadewa merespons.
Cara bahu Sadewa sedikit menegang, meski ia tetap tersenyum.
“Kamu sendiri gimana, Dew? Kantor masih segila itu?” tanya Raka lagi.
Sadewa menghela napas kecil, seolah diberi ruang untuk bicara. “Masih. Minggu ini lembur terus. Deadline numpuk.”
“Makanya,” Raka mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat, nadanya melembut, “kamu butuh break.”
Nakula hampir mendengus.
Butuh break?
Seolah-olah itu hal baru. Seolah-olah ia tidak tahu berapa kali Sadewa dulu kelelahan sampai tertidur di meja, sampai sakit kepala berhari-hari.
“Kamu harus belajar bilang ‘nggak’ ke kantor,” lanjut Raka. “Nggak semua hal harus kamu tanggung sendiri.”
Sadewa tersenyum kecil. “Iya… nanti aku coba.”
Nakula memiringkan kepala sedikit.
“Kamu masih sering telat makan, Dewa?” tanya Nakula tiba-tiba.
Sadewa menoleh, sedikit kaget. “Hah? Enggak—ya… kadang.”
“Kadang,” ulang Nakula pelan, hampir seperti mengoreksi.
Raka melirik mereka berdua, sejenak memperhatikan dinamika yang berubah arah. “Ya wajar sih kalau lagi banyak kerjaan,” katanya santai. “Yang penting sekarang ada yang ngingetin.”
Nada itu ringan. Tapi cukup untuk menggeser sesuatu.
Nakula menatap Raka. Tidak lama, tapi cukup untuk menyampaikan sesuatu yang tidak diucapkan.
Gue juga pernah jadi orang itu.
Ia mengalihkan pandangannya kembali ke Sadewa. “Obat kamu masih rutin?”
Sadewa tampak semakin tidak nyaman. “Masih.”
“Jangan sampai lupa lagi kayak—”
“Nakula,” potong Sadewa cepat, suaranya sedikit lebih tegang dari sebelumnya. “Aku ingat kok.”
Keheningan kecil jatuh.
Raka mengusap tengkuknya, tertawa pelan untuk mencairkan suasana. “Wah, lo strict banget ya ternyata.”
“Biasa,” jawab Nakula datar. “Udah kebiasaan.”
Kata-kata itu sederhana. Namun, cara ia mengucapkannya membuatnya terasa lebih berat dari yang seharusnya.
Sadewa menunduk lagi, memainkan ujung kausnya.
Dan di sanalah Nakula melihatnya—ketegangan yang disembunyikan, ketidaknyamanan yang dipendam rapi.
Ia menghela napas pelan.
Lalu, seolah-olah hanya mengalihkan topik—
"Sadewa bilang kalian mau rencana liburan bulan depan?"
Suara Nakula memotong pembicaraan begitu saja. Datar. Tidak keras, tapi cukup tajam untuk menghentikan alur cerita Raka di tengah jalan.
Raka menoleh, sedikit terkejut, lalu tersenyum lebar seperti biasa. "Iya. Gue mau ajak dia ke Labuan Bajo. Biar dia bisa santai dikit dari kerjaan kantornya yang gila itu."
Nada bangga itu—seolah ia sedang menawarkan sesuatu yang istimewa, sesuatu yang tidak bisa ditolak.
Nakula menyandarkan punggungnya, tatapannya lurus ke arah mereka. "Sadewa nggak suka laut yang terlalu terbuka," katanya pelan, hampir tanpa emosi. "Dia takut kedalaman."
Kalimat itu jatuh begitu saja.
Dan seketika, udara di ruangan berubah.
Keheningan menyelinap masuk, halus tapi berat. Seperti sesuatu yang tiba-tiba disadari semua orang, tapi tidak ada yang siap membicarakannya.
Sadewa menunduk. Tangannya yang tadi diusap kini perlahan ditarik, berpindah memainkan ujung kausnya sendiri—gerakan kecil yang sangat familiar bagi Nakula. Tanda gelisah. Tanda ingin menghilang.
Raka berkedip, jelas tidak menyangka. Senyumnya sempat goyah sebelum ia menertawakan situasi itu, meski terdengar dipaksakan. "Oh ya?" katanya ringan, terlalu ringan. "Kamu nggak pernah bilang, sayang?"
Kata “Sayang” itu terdengar seperti klaim.
Seperti penegasan.
Nakula merasakan sesuatu mengeras di dalam dadanya.
Sadewa mengangkat wajahnya. Tatapannya beralih ke Raka—lembut, hati-hati, dan penuh pertimbangan. Tatapan yang membuat Nakula ingin memalingkan muka, tapi tidak bisa.
Karena ia ingin tahu.
Ia selalu ingin tahu.
"Nggak apa-apa, Raka," kata Sadewa akhirnya, suaranya pelan, sedikit bergetar tapi tetap berusaha stabil. "Aku… aku mau coba lawan rasa takut itu sama kamu."
Sama kamu.
Bukan sama aku.
Bukan sama orang yang tahu persis bagaimana caranya menenangkan napasmu saat kamu panik. Bukan sama orang yang dulu menggenggam tanganmu di kamar gelap waktu listrik mati, yang menghitung detik bersamamu sampai kamu berhenti gemetar.
Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang dicabut paksa dari dalam dirinya.
Nakula tertawa kecil.
Pendek. Hambar. Nyaris tak terdengar.
Ia menunduk sebentar, lalu kembali menatap mereka. Tatapannya kini lebih tajam, lebih dingin—seolah ia akhirnya berhenti berpura-pura.
"Bagus," katanya. "Enjoy ya liburannya."
Tidak ada yang benar-benar terdengar seperti harapan di sana.
Raka sedikit mengernyit, mungkin mulai merasakan sesuatu yang tidak beres. "Lo kenapa sih, Nakula?" tanyanya, nada suaranya berubah, tak lagi seringan tadi. "Dari tadi kayak… nyinyir banget."
Nyinyir?
Kata itu membuat sudut bibir Nakula sedikit terangkat, tapi tanpa kehangatan.
"Gue?" Ia menyandarkan tubuhnya ke depan, siku bertumpu di lutut. "Gue cuma bilang fakta."
"Fakta atau lo yang nggak suka?" balas Raka cepat, kini jelas ada nada defensif.
Sadewa langsung menoleh ke arah Nakula, matanya melebar sedikit. "Nakula, udah—"
"Tanya aja dia," potong Nakula, matanya tak lepas dari Raka. "Lo tau nggak dia nggak bisa tidur kalau suara ombaknya gede? "Atau nanti dia bakal pura-pura baik-baik aja, sampai akhirnya kena panic attack sendirian di kamar mandi?"
"Stop, Nakula."
Kali ini suara Sadewa lebih tegas. Ada sesuatu di dalamnya—bukan sekadar permohonan, tapi juga peringatan.
Namun, Nakula sudah terlalu jauh untuk berhenti.
Ia bangkit perlahan dari kursinya. "Atau mungkin lo pikir semua itu bakal hilang cuma karena lo ada di sana?"
Raka ikut berdiri, wajahnya menegang. "Gue nggak pernah bilang gitu."
"Tapi lo bertingkah seolah-olah lo ngerti semuanya."
Kalimat itu menggantung tajam di udara.
Sunyi kembali jatuh, tapi kali ini bukan sunyi yang kosong—melainkan sunyi yang penuh, berat, hampir menyesakkan.
Sadewa berdiri di antara mereka, secara harfiah dan tidak. Tatapannya berpindah dari satu ke yang lain, napasnya terlihat tidak stabil.
"Nakula, cukup."
Pelan. Tapi tegas.
Untuk sesaat, hanya suara napas mereka yang terdengar.
Lalu Nakula mengalihkan pandangannya. Bukan ke Raka. Tapi ke Sadewa.
Ada sesuatu yang retak di sana. Sesuatu yang akhirnya terlihat jelas, tanpa disembunyikan lagi.
"Gue ke kamar duluan," katanya akhirnya.
Datar. Lelah. Kosong.
"Ada kerjaan."
Ia tidak menunggu jawaban. Tidak menunggu reaksi.
Saat ia berjalan melewati mereka, bahunya hampir bersentuhan dengan Sadewa—hampir. Tapi ia sengaja memberi jarak satu langkah kecil, seolah bahkan sentuhan sekecil itu kini terasa terlalu berbahaya.
Pintu kamar tertutup pelan di belakangnya.
Namun, badai di dalam dadanya tidak ikut mereda.
Dan di ruang tamu itu, dua orang yang tersisa tidak lagi tahu harus memulai percakapan dari mana—atau apakah masih ada yang bisa diperbaiki.
Pintu kamar tertutup lebih keras dari yang seharusnya.
BRAK!
Bunyi itu menggema pendek, tapi cukup untuk meninggalkan jejak tegang di udara. Sadewa berdiri beberapa langkah dari pintu, punggungnya masih menghadap ke arah itu, seolah tubuhnya belum sepenuhnya berani berbalik.
Di belakangnya, Raka mengembuskan napas kasar.
“Jadi itu maksudnya apa?”
Tidak ada basa-basi. Tidak ada nada lembut yang biasa ia pakai.
Sadewa menelan ludah pelan sebelum berbalik. “Maksud apa?”
Raka tertawa pendek—bukan karena lucu, tapi karena tidak percaya. “Kamu serius nanya gitu?”
“Aku cuma—”
“Dari tadi dia kayak nyerang aku, Dew.” Raka melangkah mendekat, rahangnya mengeras. “Dan kamu diem aja.”
Sadewa menggeleng pelan. “Aku nggak diem—”
“Kamu diem.”
Dua kata itu jatuh berat.
Sadewa menarik napas, mencoba menahan sesuatu yang mulai naik ke tenggorokannya. “Aku nggak mau memperkeruh suasana, Rak.”
“Memperkeruh?” ulang Raka, suaranya meninggi sedikit. “Atau karena dia benar?”
Kalimat itu membuat Sadewa terdiam sepersekian detik.
Cukup lama untuk ditangkap Raka.
“Oh, jadi dia benar.” Raka mengangguk pelan, seolah menyusun sesuatu di kepalanya. “Pantes aja.”
“Raka, jangan—”
“Aku dari awal udah ngerasa ada yang aneh.”
Sadewa mengernyit. “Aneh gimana?”
Raka menatapnya tajam. “Hubungan kamu sama dia.”
Sunyi.
Bukan sunyi yang tenang. Tapi sunyi yang menekan dari segala arah.
“Dia saudaraku,” jawab Sadewa akhirnya, pelan.
“Saudara?” Raka mendengus. “Kamu yakin hubungan kalian itu cuma saudara?”
Nada itu—cara ia mengucapkan kata “saudara”—membuat sesuatu di dada Sadewa terasa jatuh.
“Ya,” katanya lebih tegas, meski suaranya mulai bergetar. “Dia saudara kembar aku.”
Raka mendekat lagi, kini hanya berjarak satu langkah. “Saudara kembar yang tau semua hal tentang kamu, yang jawab semua pertanyaan tentang kamu, yang bahkan lebih tau ketakutan kamu dibanding gue?”
Sadewa membuka mulut, tapi tidak ada kata yang langsung keluar.
“AKu pacar kamu, lho, Dew,” lanjut Raka, suaranya merendah tapi justru lebih tajam. “Tapi tiap aku ngomong sesuatu tentang kamu, dia selalu punya versi yang lebih ‘benar’.”
“Itu karena dia udah lama sama aku—”
“Aku juga sama kamu sekarang!” potong Raka. “Atau itu nggak cukup?”
Sadewa menggeleng cepat. “Bukan gitu maksudku—”
“Terus apa?” Raka menatapnya, matanya mulai memerah. “Kenapa tiap dia ngomong, kamu langsung diem? Kayak tadi. Kayak… kamu takut sama dia.”
“Aku nggak takut sama Nakula,” bisik Sadewa.
“Tapi kamu nggak pernah nolak dia.”
Kalimat itu membuat Sadewa membeku.
Raka memperhatikannya, lalu tertawa kecil lagi—pahit. “Aku lihat, Dew. Aku nggak buta.”
Sadewa mengangkat wajahnya, bingung. “Lihat apa?”
“Kamu pikir aku nggak pernah perhatiin?”
Ada jeda.
Lalu Raka berkata pelan, hampir seperti gumaman yang dipaksakan keluar:
“Aku pernah liat kalian.”
Jantung Sadewa seakan berhenti satu detik.
“…kapan?” suaranya nyaris tak terdengar.
Raka menatapnya lurus. “Di lorong apartemen kamu. Malam itu. Kamu baru pulang kerja.”
Sadewa mengerjap.
Dan perlahan, ingatan itu datang.
“Kamu capek. Dia nunggu di depan pintu. Terus kamu… langsung peluk dia.”
Suara Raka makin pelan, tapi tiap katanya terasa seperti ditekan keluar dengan susah payah.
Sadewa menggeleng cepat. “Itu cuma—”
“Belum selesai,” potong Raka.
Matanya kini benar-benar tajam.
“Dia nyium pipi kamu.”
Sunyi jatuh lagi.
Kali ini lebih berat.
Sadewa mundur satu langkah. “Itu hal biasa—”
“Biasa?” ulang Raka tajam. “Biasa buat siapa, Dew? Buat kamu? Atau buat hubungan ‘normal’ menurut kamu?”
“Itu cuma… kebiasaan dari kecil,” suara Sadewa mulai retak. “Kita dekat, Raka. Kita selalu dekat—”
“TERLALU DEKAT!”
Bentakan itu membuat Sadewa tersentak.
Raka mengusap wajahnya kasar, lalu tertawa lagi, lebih keras kali ini. “Aku juga pernah liat dia nungguin kamu di taman dekat kantormu.”
Sadewa menegang.
“Ngapain dia tau jadwal kamu?” potong Raka cepat. “Ngapain dia tau kapan kamu free, kapan kamu pulang?”
Sadewa tidak langsung menjawab.
Dan itu cukup.
“Dia ngikutin kamu, Dew.” Suara Raka kini dingin. “Dan kamu biarin.”
“Dia nggak ngikutin aku,” bantah Sadewa, tapi terdengar lemah. “Dia cuma… perhatian.”
“Perhatian?” Raka tertawa pahit. “Itu bukan perhatian. Itu obsesi.”
Sadewa menggeleng, semakin panik. “Enggak—enggak kayak gitu. Kamu salah paham.”
“Aku salah paham?” Raka mendekat lagi. “Atau kamu yang pura-pura nggak ngerti?”
Sadewa terdiam.
Dadanya naik turun, napasnya mulai tidak teratur.
“Kamu tau nggak apa yang paling bikin aku muak?” lanjut Raka, suaranya kini rendah, penuh emosi yang tertahan. “Cara dia ngeliat kamu.”
Sadewa mengerutkan kening. “Maksudnya?”
“Kayak kamu itu…” Raka berhenti sebentar, rahangnya mengeras. “Kayak kamu itu milik dia.”
Kalimat itu menggantung.
Dan entah kenapa, Sadewa tidak bisa langsung membantahnya.
“Dan yang lebih parah,” Raka menambahkan, suaranya hampir berbisik, “Kamu nggak pernah nolak cara dia ngeliat lo.”
Sadewa menutup matanya sebentar. “Raka… tolong. Ini nggak seperti yang kamu pikirkan.”
“Terus seperti apa?” Raka mendesak.
Sadewa membuka matanya lagi, kini berkaca-kaca. “Dia cuma… bagian dari hidup aku. Dari dulu.”
“Itu masalahnya,” kata Raka cepat. “Dari dulu. Dan kamu nggak pernah bisa lepas dari itu.”
“Aku nggak mau lepas,” jawab Sadewa spontan.
Keduanya terdiam.
Raka menatapnya, seolah baru saja mendengar sesuatu yang mengonfirmasi semuanya.
“…iya,” gumamnya pelan. “Tentu aja kamu nggak mau.”
Sadewa langsung panik. “Bukan gitu maksudku—”
“Kamu sakit, Sadewa.”
Kalimat itu jatuh dingin.
Sadewa membeku.
Raka menatapnya tanpa berkedip. “Kamu punya perasaan sama saudara kembarmu sendiri, dan kamu bilang itu normal?”
“ENGGAK!” Sadewa akhirnya meninggi. “Aku nggak punya perasaan seperti itu!”
“Terus jelasin!” bentak Raka. “Jelasin kenapa kamu nggak pernah bisa buat batasan hubungan antara kamu sama Nakula?!”
Sadewa terdiam, air matanya mulai jatuh.
“Aku… aku cuma nggak mau nyakitin dia,” bisiknya.
“Dan aku?” suara Raka pecah untuk pertama kalinya. “Kamu pikir ini nggak nyakitin aku?”
Sadewa mendekat setengah langkah. “Maaf…”
“Jangan ‘maaf’ doang!” Raka menggeram. “AKu butuh kejelasan!”
“Aku sama Nakula bukan apa-apa,” ulang Sadewa, kali ini lebih cepat, lebih putus asa. “Dia cuma saudara aku. Aku sayang dia, tapi bukan seperti itu. Tolong percaya—”
PLAK
Suara tamparan itu menggema.
Kepala Sadewa terhuyung ke samping. Tubuhnya membeku di tempat.
Ruangan terasa hening.
Terlalu hening.
Raka sendiri terlihat terkejut dengan apa yang baru saja ia lakukan. Tangannya masih terangkat sedikit, napasnya berat.
Sadewa perlahan menyentuh pipinya. Tidak ada kata yang keluar. Hanya air mata yang jatuh lebih deras.
“Aku…” Raka mundur satu langkah, suaranya goyah. “Aku… Aku nggak bermaksud—”
Sadewa menggeleng pelan, meski tangisnya semakin tak terkendali. “Maaf… aku minta maaf…”
Ia mengulanginya.
Lagi.
Dan lagi.
Seolah-olah itu satu-satunya hal yang bisa ia lakukan.
“Maaf… aku benar-benar minta maaf, Raka… aku nggak—”
Raka menatapnya, antara marah, sakit, dan bingung.
“Aku nggak tahu lagi mana yang harus aku percaya,” kata Raka pelan.
Sadewa hanya bisa berdiri di sana, hancur, dengan permintaan maaf yang terus berulang—sementara jarak di antara mereka terasa semakin lebar, semakin tidak terjangkau.
