Work Text:
Minggu lalu upacara pergantian semester digelar di aula utama sekolah, menandakan bahwa kegiatan belajar di sekolah akan kembali berjalan seperti biasanya. Beberapa siswa masih menikmati waktu mereka reunian dengan teman sekelasnya usai libur panjang dan mulai menyusun berbagai rencana kegiatan untuk menikmati akhir pekan. Sedangkan disini, Ciel Phantomhive sedang bergelut dengan skenario dalam pikirannya sendiri yang bertumpuk-tumpuk.
Ia sudah memasuki kelas akhir semester dua, itu artinya Ciel sudah tidak punya waktu untuk bermalas-malasan ataupun bersenang-senang. Ia perlu bersiap untuk ujian akhir sekolah baik tulis maupun lisan, tes masuk perguruan tinggi, bimbingan tambahan, dan sesi belajar lainnya yang sudah pasti akan membuatnya semakin kewalahan membagi waktu bahkan dengan jadwal istirahatnya sendiri.
Belum lagi, satu minggu yang lalu bertepatan dengan hari masuk sekolah ia dihadapkan dengan sebuah masalah. Bukan masalah besar, namun cukup membuatnya sakit kepala. Alois Trancy pindah kelas dari kelas D ke kelas B tempat dimana Ciel berada.
Ia tidak punya masalah pribadi dengan Alois, hanya saja sikapnya yang terkesan sedikit terobsesi itu membuat Ciel merasa risih. Si pirang itu selalu membuntuti Ciel kemanapun dirinya pergi, dia juga selalu berkata bahwa dia menginginkan Ciel. Menginginkannya dalam konteks yang bagaimana? Ciel tidak tahu. Dan hal yang lebih menyebalkan lagi ialah, Alois duduk di samping Ciel karena hanya itulah satu-satunya bangku kosong yang tersedia. Lengkap sudah penderitaannya.
Sekolahnya tidak menganut sistem siapa yang terbaik ditempatkan di satu kelas dengan tingkat ambisius yang tidak berperikemanusiaan. Semuanya acak, yang terbaik dan yang terburuk. Dan untuk kasus Alois, kepala sekolah berkata bahwa jika ia dipindah ke tempat yang sedikit lebih tenang mungkin sikapnya akan sedikit lebih baik. Padahal kelas dimana Ciel berada cukup jauh dari gambaran kata ‘tenang’.
Helaan nafas gusar terdengar seiring dengan tangannya yang juga mengusak kasar helaian rambut legam miliknya sendiri. Ciel tengah berada di lantai dua, tepatnya di koridor terbuka tepat di depan kelasnya sembari menatap jauh ke arah lapangan basket tempat beberapa murid kelas dua sedang berlatih. Ia sendirian, meski matanya fokus menatap bagaimana mereka bermain dan berusaha mencetak poin, pikiran Ciel tidak sepenuhnya berada disana. Ia kalut tak karuan.
“Melamun tidak membuatmu merasa jauh lebih baik loh, Phantomhive.” Ciel terperanjat tatkala indera pendengarnya menangkap suara yang familiar. Kepalanya menengok pada sosok guru muda yang dikenal dengan Profesor Michaelis yang berdiri di samping Ciel.
Ia terkenal ramah, caranya mengajar dan rupanya yang tampan menjadi idola para murid di sekolah. Banyak anak yang berebut mencari perhatiannya entah dengan cara bagaimana, namun tidak ada satupun dari mereka yang dianggap serius oleh Profesor Michaelis. Sebab pikirnya mereka hanya bercanda, seperti kebanyakan murid pada umumnya.
Ia adalah seorang guru bahasa, sejauh ini mengajar bahasa Prancis dan Inggris. Namun, desas desus mengatakan bahwa pria ini menguasai lebih dari lima bahasa termasuk yang baru saja disebutkan. Ia adalah seorang guru tetap, namun juga kadang kala merangkap sebagai guru konseling para siswa. Sehingga banyak murid-murid yang sering secara sengaja mengarang cerita hanya untuk mendapatkan perhatian seseorang bernama Sebastian Michaelis.
“Siapa juga yang melamun.” Ciel bertukas demikian, wajahnya tetap tidak sunggingkan senyuman sedikitpun, tetapi sebaliknya bibirnya sedikit condong ke depan dengan wajah yang ditopang oleh satu pergelangan tangan.
Michaelis terkekeh, respon anak muridnya ketika digoda seperti ini memanglah menggemaskan. Terlebih lagi seorang Ciel Phantomhive, bisa dibilang dia adalah favorit Michaelis sebab dirinya yang pandai dan tidak banyak tingkah seperti anak pada umumnya.
Michaelis belum menikah, sampai umurnya yang saat ini menginjak 27 tahun ia masih seorang bujangan yang mencari seorang kekasih. Namun, jauh dari lubuk hati Michaelis ia tidak memerlukannya sebab hidupnya tidak semenyedihkan itu sampai perlu mendambakan seorang pujaan hati.
“Lalu, kenapa kamu hanya diam dan cemberut begitu? Dari semua anak murid saya, yang paling bisa dibaca ekspresi wajahnya ya kamu.”
Ciel terbilang cukup akrab dengan Michaelis, seringkali ia ceritakan bagaimana kehidupannya di rumah yang terkesan manis tapi juga berantakan dan pahit disaat yang bersamaan. Ia sering pula ceritakan bagaimana ternyata ia punya kembaran yang sudah tiada dan ibunya yang ternyata dulunya sering sakit-sakitan. Namun, bukan cerita sedih yang kemudian membuat Michaelis iba dan menaruh perhatian. Akan tetapi bagaimana ambisinya untuk menjadi yang terbaik, itu yang Michaelis kagumi. Untuk itu, setiap selesai sesi belajar di kelas, sebagai langkah awalnya mendekati Ciel yang hidupnya penuh teka-teki Michaelis akan selalu sengaja mengajukan satu pertanyaan untuk Ciel cari tau jawabannya. Kemudian ia akan diminta menghadap Michaelis untuk memberikan jawaban dan menilai apakah jawaban itu sesuai dengan idealisme yang Michaelis pegang ataukah tidak. Ini bukanlah sebuah patokan ataupun pegangan yang ingin Michaelis tanamkan pada Ciel. Tetapi sebaliknya, Michaelis berpesan bahwa ini adalah suatu hal yang cukup bagus untuk membuka sebuah wawasan.
Ciel berdecak tidak senang, sulit rasanya membohongi seorang guru yang mengenal cukup baik tingkah laku dan psikis anak remaja seusianya terutama Ciel.
Jika diperkenankan untuk Jujur. Meskipun Ciel cukup akrab dengan Michaelis, ia enggan terlalu dekat dan mengandalkan. Sebab rasanya ada setidaknya satu hal yang membuat Ciel merasa tidak nyaman. Entah untuk alasan bagaimana, Michaelis selalu memandang Ciel dengan tatapan aneh yang sulit Ciel utarakan. Katakan bahwa ini hanyalah perasaan negatifnya belaka, namun perlu digaris bawahi bahwa insting Ciel tidak pernah salah atau melenceng.
“Masih dengan topik perguruan tinggi sama Mama, bukan urusan Profesor ah.”
“Loh, tentu jadi urusan saya. Siapa tau saya bisa bantu anak yang sedang hilang arah seperti kamu.”
“Prof kira aku tersesat? Gak ada yang penting, Pak, pilihan Mama saja agak bikin pusing.”
“Yakin? Ini bukan tentang Alois Trancy yang pindah duduk di samping kamu itu?”
Ambar biru sewarna laut milik Ciel membola memandang Michaelis yang tersenyum, reaksinya begitu polos yang membuat Michaelis tersenyum hingga kedua matanya terkatup. Ini satu dari banyaknya hal yang Michaelis senangi dari seorang Ciel Phantomhive. Dia polos, penuh teka-teki, dan tentunya menggemaskan dengan rasa kewaspadaan yang cukup tinggi. Michaelis merasakan semua itu.
“Saya rasa cukup akurat dilihat dari reaksi kamu. Jadi, mau bercerita?”
Ruangan Michaelis didesain dengan khusus, nuansa putih dengan perabotan kecil dan rak buku tinggi yang rapi membuatnya terasa nyaman untuk ditempati.
Beberapa poster tentang edukasi terpatri rapi menghiasi dinding berjejer dengan beberapa lukisan yang punya ciri khas tersendiri. Profesor Michaelis ini memang punya selera yang tidak biasa. Dan itu hal yang terkesan cukup unik.
Ciel duduk di depan meja panjang di depan Michaelis. Pelan-pelan ia bercerita, yang awalnya mengeluh tentang Trancy yang semakin membuatnya risih hingga keresahan hati yang ingin melanjutkan pendidikannya jauh di luar kota tapi orang tua tidak merestui dengan alasan Ciel itu mudah sakit, bagaimana hidupnya nanti ketika di kos sendirian. Mamanya khawatir putranya sakit bahkan sampai pada kemungkinan terburuk bahwa bisa saja ia akan mati sendirian di kos nantinya, belum lagi kebiasaan buruk Ciel yang akan benar-benar melupakan jadwal makannya jika sudah berhadapan dengan tugas dan laporan.
“Saya paham yang dirasakan orang tua kamu, jika saya punya anak dengan kondisi yang sama tentu saya tidak menyarankan dia untuk tinggal di asrama kampus atau kos. Lebih baik lanjut pendidikan di dekat sini, itu akan jauh lebih aman. Tapi saya juga sarankan kamu bujuk lagi orang tua kamu dengan hal yang paling kamu inginkan. Tekad dan usaha bisa menggerakkan hati seseorang, kamu percaya itu?” jeda sejenak, kemudian Ciel mengangguk sebagai balasan persetujuan. Ia tidak menyangkal hal tersebut, mau sekecil apapun kemungkinan dan sebesar apapun penolakan yang diberikan, jika yang bersangkutan punya tekad dan keyakinan yang cukup kuat maka segalanya bisa saja diubah.
“Ya sudah, tunjukkan itu kepada orang tuamu. Kamu punya hak menentukan masa depanmu sendiri, Phantomhive, seperti yang sering saya katakan kepada semua anak murid saya. Usaha tidak akan menghianati hasil, dibarengi dengan keyakinan karena keduanya saling berkesinambungan. Dan juga…,” Michaelis berdiri dari duduknya, ia melangkah mendekat kepada Ciel yang menatapnya penuh tanda tanya. Kemudian langkahnya berhenti di depan Ciel dan kedua tangan Michaelis ia sandarkan pada kedua sisi kursi yang diduduki oleh Ciel—menopang berat tubuhnya sendiri, seraya memerangkap tubuh kecil Ciel disana.
Degup jantung Ciel berpacu lebih cepat, seolah sedetik kemudian bisa lompat dari rongga dadanya. Nafasnya terhenti sesaat ketika ia menyadari bahwa jarak wajah mereka hanya terpaut beberapa sentimeter saja hingga Ciel dapat merasakan nafas hangat Michaelis menerpa dagu dan lehernya.
Ciel adalah yang pertama memutus kontak mata di antara mereka, ia memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Otaknya mencoba untuk memproses tindakan tiba-tiba dari guru yang merangkap sebagai pembimbingnya kali ini.
Dari jarak sedekat ini, aroma parfum yang dikenakan oleh Michaelis menyeruak memenuhi indera penciuman Ciel hingga membuatnya sedikit hilang kendali atas diri.
“Dan kamu juga perlu tau, Phantomhive, tekad seseorang bisa berupa apa saja dan dari siapa saja. Termasuk dari saya sendiri.” lanjut Michaelis seraya sedikit mengangkat wajah Ciel hingga tatapan mereka kembali bersua.
“A-apa maksudnya itu…” Ciel tergagap, ditatap sedemikiannya oleh Michaelis membuatnya gugup hingga suaranya terdengar bergetar.
“Tidak ada, ini soal Trancy. Kamu juga butuh jalan keluar, benar, kan? Jadi akan saya beritahu secara langsung kepadamu, dan bukan dari lisan seperti biasanya.” Suara Michaelis rendah tepat di samping telinga Ciel, berbisik dan menggelitik telinganya dengan suaranya yang terdengar berat dan rendah. Tangan besar Michaelis perlahan-lahan menelusup ke dalam jas seragam sekolah yang Ciel kenakan. Membelai lembut pinggang ramping Ciel yang masih terbalut oleh kemeja putih yang sedikit tipis, yang tentu saja membuat setiap inci dari sentuhan Michaelis semakin jelas Ciel rasakan.
Ciel mematung, kedua matanya membola menatap Michaelis yang tersenyum seolah mengagumi bagaimana ekspresi Ciel berubah didominasi oleh keterkejutan yang ia rasakan. Tiada protes diberikan, tiada pula tanda-tanda penolakan, untuk itu Michaelis mengartikannya sebagai bentuk persetujuan. Dan untuk alasan yang sama, tangannya semakin berani untuk menanggalkan satu persatu kancing jas warna hitam yang Ciel kenakan.
Ia begitu manis, wajahnya yang bulat dan mulai panik itu cukup manis dalam pantulan netra merah Michaelis. Dalam hati ia mulai memuji, Michaelis dambakan paras manis nan rupawan itu tunjukkan semakin banyak raut wajah. Untuk itu, tangannya yang lain terangkat dan mulai membelai lembut wajah hingga leher dan dada Ciel yang semakin membuatnya tertegun dan mematung.
Lidah Michaelis membasahi bibirnya yang kering, kemudian mencium ranum merah muda Ciel yang terbuka yang juga sama keringnya seperti dirinya. Tidak ada tuntutan atau semacamnya, seolah-olah Michaelis hanya menunjukkan kepada Ciel bahwa beginilah setidaknya hal yang perlu ia lakukan kepada Trancy.
Ciel benar-benar mematung tak bergerak, tubuhnya terasa kaku dengan punggungnya yang juga terasa dingin. Sentuhan tangan Michaelis tak ubahnya layaknya pena yang mengantarkan sengatan listrik ke seluruh tubuhnya.
Pikiran Ciel sadar akan satu hal, bahwa ia harus lari atau setidaknya berteriak. Namun, yang paling menjengkelkan adalah meskipun otaknya sadar, tubuhnya seolah menolak perintah untuk bergerak. Seharusnya Ciel mendorong Michaelis dan berlari keluar dari ruangan bimbingan konseling, seharusnya juga Ciel berteriak dengan keras. Namun rasanya semua kemampuan itu menghilang entah kemana. Ciel benci perasaan ini, perasaan tidak nyaman dan sedikit ketakutan yang ditimbulkan akibat tindakan pelecehan yang diterimanya secara tiba-tiba.
“Cantik sekali, apakah kamu tau, saya menyukaimu. Tidak seperti murid saya yang lainnya, kamu lebih dari itu.”
Michaelis sebenarnya adalah seorang bajingan, yang merangkap sebagai pembimbing yang menyenangkan. Ia tawarkan keramahan dan kesopanan layaknya pendidik yang sepatutnya memberikan arahan kebajikan. Pandangan itu, impresi baiknya itu sedari dulu Ciel pegang dengan teguh. Sampai hari ini ketika kebejatan dan niatnya yang jauh dari kata terpuji itu Ciel sadari.
Michaelis menaruh minat dan rasa suka berlebih kepada seseorang yang dianggap sebagai si jenius dari Phantomhive. Ia memandang Ciel lebih dari selayaknya murid dan pendidik, bahkan perlakuannya pada Ciel berbeda dari bagaimana ia memperlakukan muridnya yang lain. Michaelis selalu mengamati dari jauh, ia juga selalu memuji dalam hati untuk setiap hal kecil yang selalu Ciel lakukan. Ia memperhatikannya diam-diam selama ini, bahkan Michaelis sendiri merasa ia jauh lebih mengetahui segala hal tentang Ciel daripada orang lain.
Pagutan itu dilepas oleh Michaelis, tidak satupun dari ciumannya dibalas oleh Ciel yang masih membeku. Michaelis pahami itu sebagai respon alami ketika hal tak terduga terjadi begitu saja. Wajah Ciel sedikit merona, pupil matanya bergetar menatap lurus Michaelis yang dalam hati sedang memuja. Indah sekali, akan lebih indah bilamana Ciel memanggil nama depannya sebagai seseorang yang dicinta.
“Ciel Phantomhive… saya benar-benar menyukaimu, saya harap kamu memaafkan saya atas tindakan yang tidak seharusnya dilakukan ini. Namun, bukankah sebelumnya kamu mempertanyakan sikap bagaimana yang seharusnya ditunjukkan kepada Trancy agar ia menjauh, iya kan? Dia berkata bahwa dia juga menyukaimu. Saya telah melanggar kode etik kali ini, tapi saya ingin memberitahumu tentang hal itu. Dan dia juga berkata tentang hal-hal tidak bermoral yang ingin dia tunjukkan kepadamu. Jadi, sebelum hal itu terjadi, biar saya tunjukkan sedikit kepada kamu. Biarkan saya jadi yang pertama mengajarimu!”
Sekali lagi Michaelis menyatakan perasaannya kepada Ciel yang lantas membuatnya terkesiap, ia mencoba mundur namun punggungnya terhalang sandaran kursi yang cukup tinggi. Suaranya tercekat di tenggorokan, air matanya menumpuk di pelupuk mata menjadi satu dan bersiap untuk luruh membasahi kedua pipi.
Jemari tangan Michaelis melepas dasi dan dua kancing atas kemeja putih Ciel—mengekspos indah pundak seputih susu milik Ciel dan kemudian menciumnya kembali dengan meninggalkan bekas kecupan dan gigitan di atas dadanya yang akan membiru di esok pagi. Michaelis memuji hasil karyanya, tiada peduli dengan Ciel yang tubuhnya semakin bergetar ketakutan yang akan meninggalkan pula jejak trauma.
Pada akhirnya—dengan sekuat tenaga, Ciel mendorong Michaelis menjauh. Ia berdiri dari kursi dan membuka pintu ruangan Michaelis dengan tergesa-gesa.
Ciel berlari, secepat yang ia bisa hingga membuatnya secara tidak sengaja menabrak beberapa murid di koridor sekolah yang menaruh pandangan bertanya-tanya kepadanya.
Toilet laki-laki yang jauh dari ruangan Michaelis berada, Ciel berhenti disana dan beruntungnya ruangannya sepi tanpa ada satupun orang di dalamnya.
Nafas Ciel terputus-putus selaras dengan bahunya yang naik turun, berusaha untuk menenangkan dirinya yang masih gemetaran. Pada akhirnya Ciel benar-benar terisak di sana, ditatapnya pantulan dirinya pada cermin yang tampak berantakan. Rambutnya kusut berantakan sebab berlari sekencang-kencangnya, bibirnya memerah bekas dicumbu, wajahnya pun basah bekas air mata, serta kancing jas dan kemejanya terlepas memperlihatkan dadanya yang terdapat bekas kecupan dan gigitan. Benar-benar tampilan yang terlihat menjijikkan dan menyedihkan.
Ciel terduduk disana, kakinya lemas dan dia mulai terisak pelan. Ini benar-benar mimpi buruk yang jauh lebih buruk dari apa yang pernah dia bayangkan. Dalam hatinya yang paling dalam, Ciel menaruh dendam pada seorang bernama Sebastian Michaelis yang bejatnya menghancurkan mental Ciel hanya dalam satu hari saja.
Dan akhirnya, cara pandang Ciel kepada Michaelis berubah. Rasa segan dan patuh yang tadinya Ciel tunjukkan berubah menjadi sikap tak acuh yang menjengkelkan. Tatapan mata yang tadinya penuh kekaguman, sekarang berubah menjadi sorotan mata kebencian.
Tidak ada lagi sapaan hangat dari Michaelis yang biasanya selalu Ciel balas dengan senyuman tipis yang menggemaskan. Seberapa dekatnya Michaelis ketika Ciel berada, ia akan benar-benar mengabaikannya.
Dan lain daripada itu, Ciel dan Trancy mulai menunjukkan tanda kedekatan. Mereka selalu terlihat bersama, bercanda, jalan, dan menikmati waktu bersama entah dengan status apa yang Michaelis sendiri tidak tau. Bahkan setiap kali pelajaran Michaelis dimulai, Ciel adalah yang pertama memulai kejahilan kepada Alois. Michaelis sedikit jengkel dengan sikap tidak sopannya itu yang Ciel bawa sampai ke jam mengajarnya. Namun, nilai Ciel tiada sedikitpun berubah, masih tetap memuaskan seperti biasa. Jadi, pada akhirnya Michaelis biarkan saja, dia juga tidak mengganggu yang lainnya.
Dari lubuk hati Michaelis yang paling dalam ada sedikit rasa tidak suka, namun wajar sebab Michaelis tau apa penyebabnya, yaitu sebab dirinya yang tidak bisa mengontrol diri sendiri. Terlalu bernafsu untuk menjadikan Ciel miliknya seorang diri. Ya sudah, Michaelis akan coba mengerti dan menerimanya. Lagi pula, sikap tak acuhnya itu tidak sedikitpun mengurangi rasa suka Michaelis kepada Ciel.
“Sayang sekali, bukan akhir yang menyenangkan. Ya sudah, saya akan menunggu kamu lima tahun yang akan datang.” gumam Michaelis kepada potret Ciel Phantomhive yang kemudian ia simpan di balik buku catatan pribadinya.
