Work Text:
“Ahh— Kakak..”
“Hnggh.. Kakak pelan-pela— AH! eungh.. Nenennya pelan-pelan aja Kakak,” keluh Anton sambil mencoba menarik kepala Sungchan dari dadanya.
Sungchan masih terus menyesap dada Anton. Bergantian kanan dan kiri. Seperti bayi yang haus oleh ASI. Tangannya tidak pernah diam memelintir puting Anton, membuat sang empu merintih penuh nikmat.
“Angh.. Sakit, Kakak. Eumh— lagi, kenyot lagi nenen akunya— Ahh.. Sakit tapi enak, Kakak— hnggh..” Sungchan baru bermain di area dada tapi racauan Anton sudah tidak jelas. Mungkin akal sehat Anton juga ikut tersedot oleh Sungchan lewat dadanya.
“Enak sayang? Suka ya Adek nenennya Kakak kenyotin,” tanya Sungchan disela-sela kegiatannya yang dijawab oleh anggukan semangat dari Anton.
“Iya, Kakak. Eungh.. suka, Adek suka kalo nenenin Kakak,”
“I miss you, adek sayang. Kakak kangen kamu banget,” kini Sungchan beralih ke ceruk leher untuk menghirup wangi tubuh Anton yang tidak ia rasakan dua minggu belakangan. Ia juga beri tanda-tanda kepemilikan kecil disana.
“Eungh.. Kangen aku atau kangen make aku?”
Anton memang paling tau soal kekasihnya. Tak hanya menumpahkan rasa rindu tapi hari ini pasti Sungchan akan menumpahkan banyak peju.
Sungchan tertawa kecil. “Kangen make kamu juga. Mau ya aku pake terus hari ini?”
“Pake, sayang. Pake terus akunya. Aku juga kangen dipake sama kamu,” jawab Anton dengan nada antusias.
Senang dengan jawaban sang kekasih, kini Sungchan mengurung Anton dengan tubuhnya. Ia tersenyum puas melihat karya yang ia ciptakan disekitaran leher hingga dada Anton. Terlihat jauh lebih cantik dan sexy di matanya.
“Aku entot sampe lumpuh, ya, Adek sayang?”
•••
Kini posisi Anton sudah mengangkang lebar dihadapan Sungchan, memamerkan lubang merah muda yang sudah cengap-cengap ingin dihajar oleh penis besar kekasihnya. Satu jari sudah dimasukkan tadi, Anton tidak bereaksi banyak kecuali ketika jari Sungchan menekuk dan menggaruk lubangnya. Sebenarnya Anton sudah tidak sabar, ingin langsung dimasuki saja. Namun mengingat sudah dua minggu lubangnya tidak dimasukkan apapun, maka ia putuskan untuk menikmati tusukan jari-jari Sungchan yang tidak kalah nikmat saat menerobos liang hangat miliknya.
“Ahh.. Kakak pelan please.. Eumhh..” lenguhan Anton terdengar saat dua jari Sungchan memasuki lubangnya.
“Sakit sayang?” tanya Sungchan sedikit khawatir.
Anton menggeleng perlahan. “It’s fine, Kakak. Ahh— perih sedikit aja. Gerakin aja lagi, kencengin lagi— Hnggh.. iya Ahh! Enak, nusuk banget jari Kakak..”
Lubang yang sedang Sungchan siapkan itu sudah terlihat becek, campuran antara gel lubricant dan cairan alami dari lubang Anton menjadi satu. Menciptakan bunyi clok! clok! clok! yang nyaring setiap Sungchan menggerakan jarinya keluar masuk. Melihat jarinya yang masuk sempurna dalam lubang sempit Anton, penisnya menjadi semakin ngilu. Sudah terbayang hangat dan nikmatnya disedot oleh lubang kekasihnya yang sempit itu.
“Becek banget, sayang. Enak ya jari aku?”
Pinggul Anton mulai bergerak kesana kemari, mencari nikmat lebih dari sekedar tusukan dua jari kekasihnya.
“Ahh.. Kakak, one more, please. Masukin lagi jarinya— Eunghh.. Masukin semua, Kakak. Gatel, lubang aku gatel— Ngghh..”
“Rewel. Baru pake jari aja rewel banget, sih. Apalagi pake kontol aku. Berisik pasti. Teriak-teriak terus,”
“Hnggh.. Mau, Kakak. Mau pake kontol Kakak aja— Ahh.. lagi, kencengin lagi jarinya Kakak. Ahh! Enakk huhu.. tambahin lagi jarinya. Lubang aku gatel mau digarukin please.. ANGGHH!”
Sungguh berisik sekali mulut Anton.
Sungchan melihat pemandangan di depannya dengan tersenyum senang. Kini ia sudah memasukkan tiga jarinya ke dalam lubang Anton. Rasanya sempit dan hangat. Mulut Anton terus mengeluarkan desah nikmat. Sesekali Sungchan bungkam mulut berisik itu dengan ciuman. Ini baru jari-jarinya. Tentu akan jauh lebih berisik jika lubangnya dihajar dengan penis kebanggaan Sungchan.
“Hahh.. Kakak.. stop dulu, aku kayaknya mau— Ngghh.. bucat. Ahh.. Kakakkk stop dulu huhu..”
Diberi tahu seperti itu, tangan kiri Sungchan langsung meraih penis Anton yang sudah memerah ujungnya. Sudah siap mengeluarkan cairan lengket kesukaan mereka.
“Jangan dikocok— NGGHHH… Ahh! Ahh! Kakakkk udah..”
Ia kocok penis itu dengan cepat. Tidak peduli pada teriakan Anton yang menyuruhnya untuk berhenti.
“Stopphh.. Anggh.. Kakak please udahhh.. Heunggh.. Bentar lagi— AHH! Huhu.. enakkk Kakak.. mau keluar— eunghh.. Ahh! Cepetin lagi, Kakak. Mau buca— ANNGHH!”
“Keluarin aja, Adek. Keluarin semuanya buat Kakak,” bisik Sungchan di telinga Anton.
Crot! Crot! Crot!
Air mani Anton muncrat kemana-mana. Paha, perut, dada hingga sprei disekitarnya, semua terkena cairan kental yang dikeluarkan Anton. Sungchan tersenyum puas melihat kondisi Anton yang kini berada dalam pelukannya. Ia kecup sekilas bibir Anton yang masih terengah-engah sehabis pelepasan lalu ia usap juga keringat yang membanjiri kening hingga pelipis Anton.
“Pinter, sayang. Bucatnya banyak banget. Liat tuh peju kamu kemana-mana. Enak ya lubangnya diacak-acak gitu?”
Anton hanya mengangguk lemah. Pelepasan pertama yang luar biasa masih membuat tubuhnya terkulai lemas dalam pelukan Sungchan. Penampilan Anton sudah kacau. Tubuh dipenuhi peluh, rambut kusut berantakan, wajah merah padam hingga air liur yang mengalir dari sudut bibirnya. Tapi menurut Sungchan penampilan Anton yang seperti ini adalah penampilan yang paling luar biasa cantik.
“Belum Kakak entot, sayang. Masa udah lemes?”
•••
“Ssshh.. Ahh sayang.. pinter banget,”
Sekarang Sungchan duduk di pinggir kasur, kedua kakinya sudah terbuka lebar dengan kekasihnya yang berada tepat di antara selangkangannya. Anton berlutut dengan berpegangan pada paha Sungchan. Mulutnya sudah mulai bekerja sesuai tugas— menghisap penis besar Sungchan yang sudah mengacung tegak. Kini giliran lelaki yang lebih muda memberikan service.
“Ahh.. Anget, sayang— Ngghh! Pinter, pinter banget Adek nyepongnya,” puji Sungchan sambil mengelus surai Anton.
Karena dipuji, Anton semakin semangat memberikan hisapan kuat untuk Sungchan. Kepala Sungchan terus mendongak ke langit-langit kamar, matanya memejam dan mulutnya terus menerus mengeluarkan desah. Lalu terbesit ide jahil di kepala Anton. Ia tarik mulutnya hingga berada pada ujung penis Sungchan, ia mainkan lidahnya pada lubang kencing itu yang kini membuat badan Sungchan gemetar dan reflek meremas rambut Anton.
“Angghh.. Sayang, iseng banget. Ahh.. fuck! Enak banget, Adek. Aku bisa kencing kalo gin— eumhh..”
Anton tersenyum puas. “Kencing aja. Aku mau dikencingin Kakak,”
Kembali Anton masukkan penis Sungchan ke dalam mulutnya. Kali ini lebih dalam, mentok hingga ke tenggorokannya. Ia gerakkan kepalanya naik turun dengan cepat. Sungchan mendesah dengan keras. Pinggulnya ikut ia gerakkan sesuai dengan tempo Anton, tangannya juga tidak tinggal diam, ia raih kepala Anton dan ia dorong agar penisnya masuk semakin dalam. Anton tersedak beberapa kali. Nafasnya juga mulai pendek-pendek. Air mata perlahan turun di sudut matanya. Tangannya memukul-mukul paha Sungchan— memberi isyarat agar berhenti. Tapi Sungchan tidak peduli.
“Ahh! Angghh.. Brengsek! Enak banget, anjing. Sshh.. Mulut kamu enak banget, sayang— Asshh.. Anjing mau bucat,”
Anton rasakan penis Sungchan mulai membesar di mulutnya, tanda bahwa sebentar lagi akan pelepasan. Namun belum sampai disitu, kepalanya ditarik paksa oleh Sungchan agar terlepas dari penisnya. Anton terduduk di lantai, menatap Sungchan yang napasnya terengah-engah.
“Kakak belum bucat kenapa udahan?” tanya Anton yang kini duduk disebelah Sungchan.
Sungchan menggeleng pelan. “Aku mau bucat pas entot kamu aja,”
Sungchan dorong pelan tubuh Anton agar posisinya menjadi tiduran. Lalu ia beralih ke selangkangan Anton, ia buka lebar-lebar kedua kaki kekasihnya. Terlihat lubang Anton yang sudah berlendir dan berkedut ingin diisi. Ia kocok pelan penisnya yang masih tegak akibat pelepasan yang tidak jadi lalu ia gesek-gesek ke arah lubang Anton.
“Anghh.. Kakak masukin, please. Jangan gesek-gesek aja.. udah gatel banget,” rengek Anton.
“Rewel,”
Maka Sungchan turuti pinta sang kekasih. Ia mulai memasukan penisnya ke lubang Anton. Sempit. Tubuh Anton mulai menegang. Lengannya ia kalungkan ke leher Sungchan, jari-jarinya juga mulai meremas surai kekasihnya. Belum setengah yang masuk tapi tubuh Anton sudah gemetar.
“Aahhh.. Kakak. Sakit— ngghh.. Ahh.. pelan aja, Kakak. Huhu..”
Sungchan usap pinggang Anton agar kekasihnya bisa sedikit tenang. “Ini aku pelan aja, sayang. Rileks, ya, jangan tegang nanti tambah sakit,”
Kini sudah setengah yang masuk. Rengekan Anton semakin terdengar. Punggung Sungchan kini jadi sasaran empuk untuk dicakar. Ia kembali berikan usapan pada pinggang Anton, tak lupa kecup di seluruh wajah kekasihnya yang sekarang sudah sedikit basah karena air mata.
“Tahan ya sayang,” Sungchan lesakan penisnya sekali dorong agar semuanya masuk ke dalam lubang Anton.
“AANGHH! Kakak gede bange— Ahh.. huhu sakit, Kakak. Pelan-pelan, please.” reflek Anton peluk tubuh Sungchan dengan erat. Lubangnya benar-benar terasa ingin robek akibat penis besar kekasihnya.
Sungchan bubuhi kecup diseluruh wajah Anton. Pinggulnya kini bergerak perlahan, tak ingin menambah rasa sakit kekasihnya.
“Adek pinter udah bisa tahan. Aku gerakin gini masih sakit gak, sayang?”
Anton menggeleng lemah dalam ceruk leher Sungchan. “Eunggh.. Sakit sedikit tapi enak, Kakak. Ahh.. ”
Sungchan bangkit dari pelukan Anton. Ia tambah kecepatan gerak pinggulnya. Jari-jarinya juga sibuk memainkan puting Anton yang mencuat, ia cubit, ia pelintir, ia tekan— membuat Anton membusungkan dada keenakan.
“Hnghh.. Kakak. Ahh.. ena— eunghh! Sakit!”
“Ahh.. Jadinya sakit apa enak, Adek?” Anton menggeleng tidak jelas. Tubuhnya mulai bergerak kesana-kemari. Tangannya mencoba meraih apapun yang bisa ia remas.
Tangan Sungchan turun ke pinggang Anton. Ia gerakkan pinggang itu sesuai tempo. Gerakannya semakin cepat. Bunyi plok! plok! plok! akibat peraduan keduanya mulai terdengar.
“Ah! Ah! Ah! Kakak.. Enak— eumhh.. lagi, lagi, Kakak,” desahan nikmat Anton mulai keluar. Kepalanya menggeleng tak karuan. Tangannya meremas sprei dengan erat.
“Angh.. enak, sayang? Ahh.. suka ya di genjot sama aku?” Sungchan juga mulai menikmati persatuan mereka. Sesekali kepalanya mengadah ke atas karena tak kuasa menahan nikmat.
“Jawab, Adek. Baru digenjot sebentar udah bego gitu. Ahh.. bentar lagi langsung tolol ya?”
Anton lantas mengangguk cepat. “Ngghh.. Suka, Kakak. Aku suka dipake sama— AH! Kakak.. Eumh.. Aku suka digenjot sama Kakak— ANGGHH!”
Bagai disuapi sesendok besar ego, Sungchan tersenyum senang dan menambah kekuatan tumbukannya pada lubang Anton. Tangan Sungchan juga kini meraih penis Anton untuk dikocok, sesekali ia elus lubang kencingnya dengan ibu jari. Anton yang menerima perlakuan itu semakin tak karuan, tangannya meremas sprei semakin erat, kepalanya bergerak kesana kemari dan lubangnya semakin menyempit sehingga membuat Sungchan mengerang keras.
“Angghh! Pinter banget, adek. Ahh.. anjing. Ketatin lagi, sayang, lubangnya— Ahh! Ahh!”
“Heungh.. Kakak.. Ahh! Ahh! Huhu.. Kakak jang— Eumhh.. kocok lagi. Anggh— pipis.. aku kayak mau pipis— ANGHH! Mau keluar, Kakak..”
Bukan malah mempercepat gerakannya, Sungchan malah menyudahi kocokkan tangannya pada penis Anton. Gerakan pinggulnya juga ia pelankan hingga akhirnya berhenti. Anton merengek kesal. Pelepasannya sudah benar-benar di ujung tapi gagal ia keluarkan.
“Hnggh.. Kakak kenapa berhenti.. aku udah mau keluar. Lagi, Kakak. Mau dimasukin lagi,”
Sungchan kecup seluruh wajah Anton lalu ia elus pinggang kekasihnya sekilas.
“Nungging, sayang. Aku entot kamu pake gaya kesukaan kamu,” bisiknya pada telinga Anton.
Anton lantas memutar badannya. Hatinya senang. Sungchan memang paling tahu kesukaannya. Kepalanya tetap ia rebahkan di kasur sedangkan bokongnya ia angkat tinggi-tinggi dan digoyangkan perlahan— memamerkan lubangnya yang sudah sangat becek akibat lendir persatuan mereka. Sungchan pegang kedua bongkahan kenyal itu, ia remas-remas, ia tampar dan ia tarik kearah berlawanan sehingga lubang Anton semakin terbuka.
“Angh! Jangan ditampar, Kakak. Perih. Masukin lagi aja. Gatel mau dientot Kakak ter— HNNGHH!”
Sungchan lesakkan penisnya tanpa aba-aba, membuat Anton berjengit kaget.
“Ahh.. Berisik. Mulut kamu berisik banget, sayang. Disumpel kontol aja, ya, biar gak bawel,”
Sungchan langsung gerakan pinggulnya dengan cepat. Tangannya meraih pinggang Anton dan digerakan sesuai tempo— membuat penisnya melesak semakin dalam pada lubang Anton.
“Ahh! Ahh! Ahh! Kakak.. seben— Ngghh.. pelan, Kakak. AHHH! Gede banget. Mentok,”
“Hah.. Kamu yang sempit banget, sayang. Ahh! Harus dipake setiap hari biar longgar. Ahh.. anjing!”
Sungchan tarik tubuh Anton dari posisi tengkurapnya. Ia peluk tubuh itu dari belakang sehingga tak menyisakan jarak apapun diantara keduanya. Masing-masing tangannya memainkan puting Anton. Mulutnya juga turut menyapu punggung dan leher Anton. Tak lupa ia gigit agar meninggalkan bekas kepemilikan disana.
Anton lemas bukan main. Posisi inilah yang sangat ia sukai. Ia benar-benar bisa merasakan lubangnya dipenuhi oleh penis kekasihnya dengan sempurna. Penuh. Mentok hingga titik nikmatnya. Sungchan juga begitu, dapat ia rasakan penisnya terhisap dengan sempurna oleh lubang sempit Anton. Penisnya bagai diperas agar dapat keluarkan semua isinya.
Kini Sungchan lepas pelukannya. Kembali ia raih pinggang Anton dan ia gerakkan dengan lebih kencang. Sedangkan Anton mati-matian bertahan agar tidak ambruk dengan hanya bertumpu pada lutut dan kedua tangannya. Tubuh keduanya sudah dibanjiri oleh keringat. Ruangan ber-AC itupun tidak dapat mendinginkan tubuh mereka. Desah Ahh! Ahh! Ahh! memenuhi ruangan itu.
“Huhu.. Kakak.. Ahh.. Enak banget Kakak.. Ah! Ah! Kencengin lagi..”
“Kencengin? sayang maunya dikencengin? Ahh.. tadi mintanya pelan-pelan aja”
“Eunghh.. kencengin aja Kakak.. Hngh! Enak, enak banget dikencengin. Ahh! Ahh! Huhu..” Anton menangis saking nikmatnya tumbukkan penis Sungchan.
“Dikencengin aja? Mau gak dikencingin juga, sayang?”
Anton mengangguk antusias. “Angghh.. Mau— eumhh.. Mau dikencengin sama dikencingin, Kakak. Ahh..”
Napas keduanya sudah terengah-engah. Tapi tak ada yang mau menyudahi persatuan tubuh mereka. Tubuh Anton semakin terhentak-hentak seirama dengan gerakan maju mundur tubuh Sungchan.
“Kakak— Anggh! Disitu. Mentok banget disitu. Huhu.. Ahh! Ahh!”
“Disini, ya, sayang? Ahh..”
Temponya semakin ia percepat. Tangan kanan Sungchan kini mulai menjamah bagian puting Anton. Ia tekan-tekan, pelintir, hingga ia cubit. Sedangkan tangan kirinya juga tidak ia biarkan menganggur, ia raih penis Anton untuk dikocok dan dimainkan lubang kencingnya. Anton yang menerima semua stimulasi berlebihan di tubuhnya menjadi semakin pening, tapi tak ada niatan melawan sama sekali. Otaknya sudah kopong.
“Annghh.. ketatin lagi, sayang. Aku bentar lagi mau bucat,”
Anton melakukan sesuai perintah kekasihnya. Ia ketatkan lubangnya yang membuat Sungchan semakin menggeram.
“Hnggh.. aku juga mau bucat. Mau pipis— eumhh..”
Maka Sungchan percepat kocokannya pada penis Anton. Nafas Anton sudah mulai pendek-pendek, air mata tak berhenti mengalir, tubuhnya semakin menegang— tanda pelepasannya sebentar lagi akan datang.
“Ahh! Kakak, udaah— hnnggh.. udah, Kakak. Mau pipis— ANGGHHH!”
Anton keluar. Cairan kental disusul cairan bening membanjiri kasur mereka. Tubuh Anton bergetar hebat, tangan dan lututnya sudah tidak kuat menopang tubuhnya. Anton ambruk begitu saja diatas kasur. Sedangkan Sungchan masih mencoba mengejar pelepasannya. Ia tarik pinggang Anton agar kembali menungging lalu kembali ia lesakkan penisnya. Anton merasakan penis Sungchan di dalam lubangnya semakin membesar— siap memuntahkan isinya.
“Ahh.. Sayang, bentar lagi aku keluar,”
“Di dalem aja. Keluarin di dalem aja, Kakak— ahh!”
“ANNGHH! Anjing.. hah..”
Sungchan memuntahkan cairannya di dalam Anton. Ia tekan penisnya semakin dalam agar tidak ada cairan yang keluar. Anton merasa hangat dan penuh. Saat dirasa sudah semuanya keluar, ia tarik penisnya dari lubang Anton. Namun tanpa disangka air seni juga ikut keluar dari penis Sungchan. Muncrat membasahi paha Anton.
Sungchan berbaring di sebelah Anton yang sudah terlebih dahulu ambruk. Ia tarik tubuh kekasihnya untuk ia peluk dan dibubuhi kecupan. Keduanya masih mencoba mengatur nafas dan mengembalikan akal yang sebelumnya sudah hilang diambil alih oleh nafsu. Anton tenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Sungchan. Kepalanya terus diberi usap dan kecup oleh Sungchan. Tubuhnya sungguh lelah sehabis persatuan hebat bersama kekasihnya. Anton hampir tertidur jika tidak mendengar kalimat yang Sungchan keluarkan.
“Baru ronde satu, Sayang. Masih kuat kan?”
