Actions

Work Header

Mesum di Kosan

Summary:

Kisah uh ah uh ah Sadenta Emmanuel (Oh Seungmin) bersama kating berengsek kesayangannya, Destian Adhikara (Kim Jungsu).

Notes:

This work was dedicated for Kim Jungsu's birthday on June 26th, 2026.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

 

 


  • Oh Seungmin as Sadenta Emmanuel, 22.
  • Kim Jungsu as Destian Adhikara, 23.

 

 

 

Sadenta rasa ia akan berubah wujud menjadi udang galah jika ia tak berhenti melembur tagihan esai linguistik ini sesegera mungkin. Ini adalah hari kelima ia membusuk di depan monitor; dibersamai oleh tugas-tugas akhir semester yang kian menumpuki meja, pun dengan berbagai proyek luar kampus yang dengan sok berani ia ambil meski akhirnya kewalahan juga. Kini Sadenta harus menghadapi konsekuensinya: leher tegang bukan main, mata yang betul-betul kering, serta pinggangnya yang — ah, menceritakannya pun ia tak ingin. Baginya, bergerak sedikit saja sendi-sendinya seolah menjerit minta ampun ‘tuk segera diberi pembebasan, ia dan tubuhnya sudah sekarat.

Oke, yang barusan itu sedikit lebay. Tapi Sadenta serius, tubuhnya laiknya dibelah membujur kemudian dipukuli hingga hancur — alias, bisa mampus sang lelaki jika tak segera bercumbu dengan kasur.

Malam ini adalah Sabtu malam yang tak Sadenta gemari. Bukan karena ia tak miliki incaran untuk bermalam Minggu bersama, tetapi karena ia harus membabat habis tugas dan proyek di daftar kerjanya yang kian menggulma. Lagipula, hei, Sadenta Emmanuel adalah primadona kampus yang justru jadi incaran setiap insan. Ia hanya perlu mengangkat telunjuk dan memilih sesiapa lelaki homoseks beruntung yang bisa menghabiskan akhir pekan dengannya. Namun meskipun begitu, urusan akademik masih jadi prioritas nomor satu. Toh, siapa yang mau menanggung kekacauan yang akan datang bila Sadenta lalai dalam studinya? Tak ada, hanya dirinya sendiri.

Maka di malam yang mulai merayapi waktu, Sadenta memutuskan untuk berehat sejenak sebelum ia tewas dan berubah jadi hantu. Seusai mematikan monitor dan mengganti lampu utama dengan lampu LED merah yang lebih redup, Sadenta terjun bebas ke kasur kamar indekosnya — hanya untuk akhirnya mengaduh karena tiap-tiap sudut tubuhnya serasa habis tertimpa beton runtuh, apalagi di bagian bawah tubuh. Tak bisakah rasa sakitnya hilang segera?

Pada akhirnya, tidur tengkurap adalah satu-satunya pilihan untuk Sadenta malam ini. Dengan posisi menyedihkan itu, ia membuka ponselnya yang telah berhari-hari malas ia jamah kecuali untuk menghubungi sesosok Destian Adhikara, kakak tingkat yang akhir-akhir ini kerap memadati lajur notifikasinya. Ngomong-ngomong soal Destian, hari ini keduanya miliki janji temu di indekos yang Sadenta tempati. Ia sengaja memaksa lelaki yang setahun lebih tua darinya itu untuk memijat tubuhnya yang sebentar lagi akan rontok, bak pohon kering yang siap digorok.

Sadenta peduli setan dengan permintaannya yang aneh, lagipula ia sudah tak kuasa mengganjal pinggangnya dengan bantal terus-terusan. Ia ingin seseorang memijat atau menginjak punggungnya — menggilas dengan bulldozer pun akan ia izinkan jika perlu. Toh, meminta tolong kepada Destian juga bukan hal yang buruk karena lelaki itu mengiyakan tanpa syarat, pun Sadenta yang tak sudi merogoh kocek puluhan bahkan ratusan ribu untuk membayar orang asing, serta tentunya tak ada orang lain yang dapat ia mintai tolong selain Destian saat ini. Tolong jangan lupakan bahwa para cecunguk satu angkatannya kini tengah sama gilanya dengan Sadenta, sibuk bertahan hidup di tengah tugas dan proyek akhir semester yang sedang deras-derasnya. Maka meminta Destian yang hanya tinggal berjibaku dengan skripsi itu adalah hal yang tepat bagi Sadenta.

Sempurna.

Sadenta Emmanuel nyaris saja berarak ke peraduan mimpi sewaktu sayup-sayup terdengar suara pintu yang terbuka. Destian sudah datang rupanya. Sadenta akui bahwa ia dan Destian memang cukup dekat hingga saling mempercayakan duplikat kunci kamar indekos satu sama lain, toh akan lebih mudah ‘kan jika mereka butuh sesuatu sewaktu-waktu?

Baru saja Sadenta akan menoleh untuk menyapa Destian ketika lelaki kunyuk itu tiba-tiba saja melompat ke atas tubuh Sadenta, menimpanya hingga ia tergencet di antara tubuh Destian yang besar dan spring bed single nan lapuk itu. Destian ini sadar diri tidak sih kalau dia sebesar gapura? Dasar menyebalkan, memang betul ia memanggilnya kunyuk.

“Goblok!” Destian terkikik atas umpatan Sadenta, namun tak juga bangkit. “Ah, anjing. Berat. Aku nggak bisa napas, Kak.”

“Galak amat sih?” Beban timpaan itu sirna, si lelaki menyebalkan yang barusan Sadenta maki itu terlihat melepas hoodie-nya ketika Sadenta menoleh.

Oh. Ada yang baru saja berganti gaya rambut rupanya.

“Habis potong rambut, ya?”

“Iya, tadi sekalian sebelum ke sini. Ganteng, nggak?” Destian menyentuhi rambutnya bak tengah mematut diri di depan cermin, alisnya naik-turun sarat akan kegenitan yang entah mengapa membuat Sadenta keki sendiri.

“Jelek,” Sadenta menjawab sekenanya, diam-diam merasa tak sanggup menatap Destian dengan gaya rambutnya yang baru itu.

“Ah elah, kamu nih nggak pernah sudi bilang aku ganteng.” Destian melempar bantal ke wajah Sadenta dan bangkit untuk celingak-celinguk mencari sesuatu di meja. “Nggak punya minyak urut, ya?”

“Nggak punya. Pakai minyak kelapa aja, adanya itu.”

Destian patuh bak dikomando, mengambil sebotol kecil minyak yang Sadenta maksud dan kembali ke ranjang untuk memerintah Sadenta balik. “Buka bajunya.”

Untuk sejenak, Sadenta disambangi keterkejutan. Cepat-cepat ia mengubah raut rupanya, tak ingin keterkejutan itu terpulas di wajahnya untuk Destian temukan. Maka Sadenta menurut ‘tuk tanggalkan kaos putihnya, menyisakan celana gombrong abu-abu sebagai bawahan. Sang lelaki yang lebih muda mencoba biasa saja di hadapan Destian, kembali tidur tengkurap meski setengah mendesis akan rasa sakit di pinggang bawahnya. Apa barangkali ia diam-diam digebuki ketika sedang tidur, ya? Rasa-rasanya semua nyeri ini tidak berkesudahan.

Belum juga Sadenta enyahkan pikiran acak nan aneh itu, sudah tersejingkat saja ia ketika jemari Destian menggaluri tulang belakangnya. Ia berubah kaku ketika ujung jemari beserta kuku-kuku yang dipotong pendek itu menyusuri punggungnya, lebih-lebih ketika Destian menindih Sadenta dengan melebarkan kaki di atas pahanya — membuat yang lebih tua duduk tepat di atasnya ‘tuk mempertemukan selangkangan sang tuan dengan pantat Sadenta.

Bajingan. Kondisi canggung macam apa ini?

Sadenta Emmanuel hanya bisa menarik napas konstan, berusaha mengaburkan pikirannya yang tidak-tidak. Toh, semua ini wajar saja ‘kan Destian lakukan agar lebih mudah menjangkau bagian-bagian tubuhnya? Sudah saatnya Sadenta binasakan kebiasaan menonton video porno sambil bermasturbasi, supaya otaknya berhenti berpikiran jorok laiknya sekarang ini.

“Lemesin, Sadenta. Syarafmu kentara tegang semua, loh. Lemesin.”

Sadenta terbatuk singkat mendengar suara Destian yang melembut menyapa rungu, yang tak biasanya lelaki itu perdengarkan padanya. Selagi punggungnya dikucuri minyak kelapa sebagai sarana memijat, Sadenta semampu mungkin coba kuatkan logikanya di tengah kondisi yang serba salah ini. Ia menyengaja biarkan pikirannya mengalir; selembut telapak tangan Destian menyusur di punggungnya, seluwes jemari Destian meremat nikmat —

Apa barusan ia bilang?

“Nah, kalau rileks gini enak, ‘kan?”

“Iya. Enak banget, Kak.”

Sadenta Emmanuel bersumpah tak tahu mengapa suara yang keluar dari linguanya adalah lantunan nada-nada manja, seolah ia adalah seekor siren yang tengah menjebak mangsanya agar terlena. Sialan. Sadenta merutuk dalam diam selagi meremat selimut di bawahnya, melampiaskan rasa malu yang mulai menggunung serta sensasi fisik tak karuan yang menggelenyar di sekujur tubuhnya. Sebaliknya, meski lirih, Sadenta dapat mendengar Destian terkekeh pelan di atas sana. Bajingan.

Baluran minyak kelapa itu kemudian naik ke tengkuk dan bahu Sadenta. Diusapnya oleh Destian dengan deriji yang merangkum tiap-tiap otot di tubuh Sadenta, juga kekuatannya yang pas dan sempurna — membuat Sadenta tanpa sadar menyimpulkan bahwa Destian memang lihai dalam menyentuhinya. Ah, pikiran jorok itu lagi. Bisa tidak sih ia berpikir normal —

“Aduh, sakit…” Jika yang sebelumnya bernada manja, kini rintihan bernotasi rasa sakit teresonansi sebab tangan Destian yang tiba-tiba turun untuk menekan pinggang bawah Sadenta. Itu dia, di situlah nyeri yang berhari-hari ini buat Sadenta merana. Destian menekan bagian itu berkali-kali setelah menerima sinyal kesakitannya, menitikberatkan kekuatannya di sana dengan gerakan yang bertempo pelan dan… sensual? Oh, Sadenta tidak salah, ‘kan?

“Di situ Kak, sakitnya. Aah — iya, di situ…”

Mulut Sadenta mulai meracau tiap pinggang bawahnya diberi tekanan, bahkan yang selembut mungkin pun berhasil buatnya mendesis tak karuan. Sadenta tak kuasa mengontrol erang dan desis yang bersahutan tiap kali Destian memijit dan mengurut pinggang bawahnya yang demi Tuhan — sensitif sekali. Ah, persetan. Sadenta mengubur wajahnya di bantal, barangkali bisa jadi kiat-kiat ‘tuk meredam suara erotis yang enggan berhenti keluar akibat tangan Destian yang menggerayanginya di sana-sini.

Lelaki bajingan, dasar Destian Adhikara bajingan. Harusnya Sadenta tahu mengundang Destian untuk menelusuri tubuhnya bukanlah perkara yang akan berujung kasual seolah tak terjadi apa-apa. Harusnya ia mencatat, mencetak tebal, serta menggarisbawahi bahwa Destian Adhikara adalah lelaki berotak mesum. Bahkan jika kepala lelaki itu bisa ia belah, Sadenta yakin jika otaknya hanya berisi adegan-adegan seks murahan yang sebentar lagi akan membuat konslet isi kepalanya sendiri.

Malam kian bergulir dan kini ketika Sadenta mulai mahfum ke mana arah dari semua sentuhan akan berhilir, Destian dengan sengaja meloloskan tangannya untuk melewati karet celana miliknya. Lelaki itu meremat pinggul Sadenta beberapa kali dan bajingannya, pinggul Sadenta otomatis terangkat sebagai respon dari rangsangan yang Destian berikan. Mengapa rasanya begitu aneh dan nikmat setiap kali Destian menyentuhnya? Apa mungkin pinggulnya terangkat naik untuk mengejar sesuatu yang ia inginkan? Yang entah apa, Sadenta juga tak tahu. Lagipula, mana mungkin Sadenta menginginkan hal yang lebih dari ini? Tidak, ‘kan?

Yang jelas, ketika pinggulnya terangkat, Sadenta menyadari bahwa ia telah basah di bawah sana, melengketi celana dalamnya yang kini terasa risih untuk dipakai. Cairan hangat dan kental itu mengalir dari perpotongan selangkangannya yang terasa ingin dijamah, seolah menjadi ucapan selamat datang untuk apa pun yang akan menyapanya di selangkangan. Sadenta ingin tewas, sekarang juga.

“Yang ini sakit…” Destian menekan pinggang bawah Sadenta cukup lama dan Sadenta tak bisa menahan diri untuk tak loloskan sebuah desah panjang — sebuah desah yang merangkum rasa sakit dan nikmat yang melebur jadi satu. Lantas tangan Destian beringsut ke pinggang depan milik Sadenta, kemudian turun ke bawah di mana lubang vagina Sadenta telah dilelehi lendir yang hangat nan lengket. “… tapi yang ini becek. Jadi, kamu mau aku pijit atau aku tidurin, sayang?”

Nafas Sadenta berhenti di pangkal tenggorok tepat ketika panggilan “sayang” disuarakan dengan nada yang seronok, serta jari milik Destian semayam di lipatan vaginanya. Di atasnya, dapat ia rasakan tubuh Destian yang merendah untuk berbisik ke telinganya, sedangkan kejantanannya yang menegang itu menyodok belah pantatnya.

“Berengsek.”

 

 

 

 


 

 

 

Sosok Destian Adhikara memang layak betul dipanggil berengsek dan semua orang nampaknya telah capai mufakat pada panggilan itu. Lelaki yang kini sentuh usia dua puluh tiga itu bahkan telah meniduri lebih banyak raga manusia daripada jumlah usianya sendiri. Ia punya tubuh tinggi tegap yang atletis, yang berikan kesan sanggup menggempur lawan bercintanya dari malam hingga pagi dengan keperkasaannya. Ia piawai dalam seks, dan seharusnya Sadenta Emmanuel sadar akan hal itu sejak jauh lama sekali — bukan ketika kini Destian tengah menguceki vaginanya di atas ranjang.

“Badanmu seksi banget,” pengakuan itu terembus ke telinga Sadenta selagi Destian memelukinya dari belakang. Mereka berdua duduk di atas kasur single itu bersama, dengan Sadenta yang mengangkang dan bersandar pada Destian yang duduk di belakangnya. Jangan tanyakan celana Sadenta telah pergi ke mana, jawabannya tentu karena dicampakkan nafsu mereka yang memburu. “Sayang banget badan seseksi ini nggak aku cicipin dari dulu.”

“Bilang aja nafsu,” Sadenta coba balik menggodai meski tubuhnya gemetaran setengah mati. Sentuhan Destian yang kini gerilyakan jemari di sekitar lipatan basah vaginanya sukses membuat jalang di dalam jiwanya terbangun ‘tuk minta digagahi. Ia menggigit bibir bawah ketika Destian mulai membuat gerakan melingkar, suara licin nan becek tak terelakkan di antara jemari yang bertemu dengan labium vaginanya.

“Gila aja aku nggak nafsu sama kamu, kamunya aja juga sangean gini.”

Rematan yang Sadenta berikan pada paha Destian tak lain tak bukan adalah sewujud pelampiasan atas rangsangan nafsu yang kian mengacak-acak akal sehatnya. Destian memang keparat yang lihai; yang tak ragu merogoh sedalam mungkin pada vaginanya, yang tak lupa menyasar klitorisnya yang tegang bukan main, yang tak hentinya pula mengucek lipatan-lipatan becek di perpotongan selangkangannya. Oh, dan jangan lupakan. Selain becek karena lendir dari lubang senggamanya, tangan Destian juga telah licin oleh minyak kelapa sebelumnya. Licin yang membuat jemari Destian kian menggila, licin yang membuat gerakan bertempo cepat itu kian kacau, licin yang sebabkan Sadenta menggelinjang setengah mampus di bawah sentuhan Destian.

“Aah — Destian bajingan.”

“Bajingan mana yang kamu biarin ngucekin kamu sampe tolol gini kecuali aku, heh?” Memang dasarnya sama-sama sakit, Sadenta justru kian terangsang dengan kata-kata jorok yang keluar dari mulut Destian. Napasnya kian menyempit lebih-lebih ketika dadanya diremas-remas oleh telapak tangan Destian — yang sekali lagi — licin akan minyak kelapa. Si berengsek namun jagoan urusan ranjang itu juga tak lupa menggarap lehernya yang lelaki itu rangkum dalam pagut-pagut basah, meninggalkan kemerahan yang Sadenta yakini akan berubah keungunan keesokan paginya.

Sadenta, pada akhirnya, menyerahkan tubuhnya pada Destian — pada lelaki berengsek yang kini buat vaginanya berdenyit tak karuan akibat jamah tak sopan yang lelaki itu berikan. Ia tahu ia lelah, ia tahu ia ingin pula dipuaskan sampai mendesah. Maka ketika Destian akhirnya menemukan titik nikmat di dalam vaginanya, ia melempar kepalanya ke bahu Destian yang beraroma musk — ah, wangi yang buatnya kian tegang macam jalang.

“Bangsat,” Sadenta coba mengais napas, wajahnya telah dilelehi keringat yang panas, “fingering lo enak banget, Tian.”

“Lo? Siapa yang kamu panggil ‘lo’?”

Sadenta disambar petir tengah malam, tanpa sengaja mengetatkan lubangnya yang tengah dirogoh dengan tak senonoh. Mampus, kepalang birahi membuatnya lupa jika Destian benci setengah mati dialamatkan menggunakan gue-lo dalam konversasi. Memanggil nama saja tanpa honorifik bukanlah suatu masalah, saling memaki juga tak dianggap salah, tetapi jangan sampai menjuruskan panggilan tak pantas itu kepada satu sama lain — Destian tak suka. Lelaki itu adalah pembenci nomor wahid panggilan lo-gue, dan inilah saat yang tepat untuk Sadenta berserah.

Ia tahu ia tamat, sekarang juga. Tamat ketika Destian menusuk jarinya lebih dalam dengan tempo yang lebih cepat, tamat ketika lelaki itu menguceknya bagai kilat, tamat ketika ia rasa sebentar lagi ia akan bucat.

“Aku mau pipis — aah. Tian aku mau pipis nghhh…” Tungkai Sadenta gemetaran setengah mampus, bergerak tak beraturan hingga sprei di bawahnya lantak dan teracak.

“Keluarin aja, perek,” komando Destian berhasil buat Sadenta meremang dan sakau, ia sudah betul-betul kacau. Dikatai dengan panggilan rendahan yang Sadenta suka, sekaligus digerayangi oleh tangan dan mulut Destian yang kepalang pandai dalam bercinta, siapa yang tak ingin klimaks di tangan lelaki itu?

Aah — goblok. Aku nggak punya duit buat laundry sprei, Tian.”

“Aku yang bayar.” Kalimat itu diucapkan dengan lembut, ditutup dengan sebuah kecupan di pipi Sadenta yang dirayapi bulir-bulir keringat. Sebuah gestur yang tak menuntut, dan Sadenta yakin ia telah jatuh ke dalam pesona Destian secara absolut.

“Tian anjing. Aah — ”

Sadenta benar-benar terkencing-kencing atas permainan tangan Destian, menggelinjang selagi lengkingkan nama Destian, juga lengkungkan tubuhnya yang masih saja Destian rengkuh dan sentuh. Dalam pelepasan yang banjiri kamar indekos murah berukuran 4x6 itu, Destian temukan selaksa keindahan yang mutlak di tubuh Sadenta; tubuhnya yang berkilat karena keringat dan minyak kelapa, dada penuhnya yang berdilatasi mengais napas, serta pusat dirinya yang memuntahkan pelepasan nikmat. Destian mengecup kembali pipi Sadenta, merengkuh raga lemasnya lebih erat dari sebelumnya.

“Cantiknya.”

 

 

 

 


 

 

 

Destian Adhikara adalah lelaki yang terlalu sering disalahpahami, setidaknya begitulah persepsi yang Sadenta rangkum selama setahun belakangan kenal dekat dengan sang lelaki. Meski kerap ia panggili dengan sebutan berengsek serta bermacam nama binatang lainnya, Destian yang Sadenta kenal adalah sosok yang miliki kompas moral sejalan dengannya. Betul memang tingkah lelaki itu menyebalkan bukan main, pun dengan urusan ranjang yang buatnya dicap sebagai seorang pemain. Tapi, hei, manusia tak bisa dikategorikan hanya dengan dua ragam hitam dan putihnya saja, bukan?

Toh, selama ini, Sadenta merasa cocok-cocok saja bergaul dengan lelaki itu. Ia bahkan tak ingat jikalau keduanya pernah berselisih paham yang benar-benar serius hingga menimbulkan pertengkaran besar yang perlu mereka urus. Ia tahu Destian Adhikara adalah lelaki yang bisa ia andalkan, entah untuk kecil-besarnya suatu perkara sekali pun. Namun, Sadenta Emmanuel tak pernah menyangka bahwa menyerahkan dirinya sepenuhnya untuk digauli oleh lelaki itu adalah sebuah kulminasi tertinggi dari kepercayaannya. Ia menyeka rasa malunya hingga musnah, memasrahkan raganya hingga yang lahir dari bilah bibir hanyalah selagu desah.

Maka ketika keduanya akhirnya bercinta malam itu, Sadenta tak dapat menahan diri untuk tak mengagumi sisi baru sosok Destian Adhikara yang entah mengapa buat jantungnya mendebar tak karuan. Mereka berakhir bercinta dengan Sadenta yang duduk di pangkuan sang kakak tingkat, bersemuka saling tatap dengan pusat tubuh mereka yang sua dalam titik temu nafsu. Di pinggang Sadenta, kesepuluh jemari Destian menahan tubuh yang lebih muda sebisa mungkin agar tak timbulkan rasa sakit ketika mengiramakan gerakan pinggulnya dengan hentakan Destian. Sedangkan Sadenta rangkulkan kedua lengannya seerat mungkin di bahu dan leher Destian, semata-mata agar ia bisa menatap rupa lelaki itu sepuasnya beserta potongan rambut pendeknya yang fenomenal bagi Sadenta.

Ah, bajingan. Dasar potongan rambut yang buatnya keranjingan.

“Buat apa potong rambut? Ngerasa ganteng kamu kayak gini?” Entah memaki entah memuji, yang jelas selagi vaginanya terisi dengan penis Destian yang buatnya keenakan, Sadenta menyentuhi wajah dan potongan rambut Destian tanpa henti. Ia mengagumi penampilan baru lelaki itu bak sebuah mahakarya, bak ia adalah pemuja berat yang telah terjerat.

Ucapannya berhasil membuat Destian tersenyum untuk beberapa saat; dengan rekam wujud torso Destian yang berkilau karena keringat, juga latar belakang tembok yang ditempeli sticky notes berisi catatan kelas pragmatik Sadenta. Ah, Sadenta tak akan pernah melepas jajaran sticky notes di tembok yang Destian sandari itu, ia akan menjadikan mereka saksi atas persetubuhan pertamanya dengan Destian yang buatnya menggila.

“Kenapa? Nafsu, ya?” tembak Destian sebagai respon atas pertanyaan dan adorasi Sadenta yang tak henti pada rupa dan potongan rambut barunya.

“Ereksi.”

Keduanya tertawa di sela panasnya gesekan tubuh mereka, juga decit ranjang indekos yang menjerit. Oh, mungkin besok Sadenta akan kena sidak oleh penjaga indekosnya karena bersenggama di sini. Namun mana ia peduli? Yang penting vaginanya dibobol hingga buatnya tolol, yang penting ia dihujam oleh kejantanan hingga tak lagi perawan. Persetan, Destian Adhikara dan cara bercintanya yang begitu presisi ‘tuk buatnya kelojotan terlalu sayang untuk ia lewatkan.

“Tian… cium…” Destian berkali-kali menekan titik nikmatnya dengan ujung ereksinya, buat Sadenta menggelinjang tak karuan di atas haribaan sang lelaki. “Tian… aku mau cium, Tian…”

Jika Destian Adhikara tahu bahwa sosok Sadenta Emmanuel akan merengek, melantur, dan memohon dengan matanya yang berkaca-kaca saat ia setubuhi seperti ini, harusnya ia telah melakukannya sejak dulu. Harusnya telah lama ia mengacak-acak isi kepala dan isi vagina lelaki itu dengan penisnya, merubah ia yang biasanya penuh akan sarkasme berubah jadi penuh cairan semennya. Maka ia merangkum bibir keduanya di tengah hentak yang ia sentak, mencium sang lelaki cantik di sela tukar napas mereka yang embuskan nafsu. Sadenta yang kini melengkung penuh nikmat di atasnya adalah secantik-cantiknya Sadenta yang pernah ia lihat; yang mendayu desah ketika ia rayu, yang menyayu pandang ketika ia buat terangsang. Ah, dasar jalang.

Maka Destian menciumnya dengan dalam hingga lidah keduanya saling membelit, mereplikasi sesuatu yang selama ini ia hadang di sebuah delik di hatinya. Ia ingin Sadenta menyadari sesuatu dari persetubuhan ini, dari cumbuan ini, dari ciuman ini.

Aah — Tian… Aku udah nggak tahan…”

Mm? Nggak tahan gimana? Kamu mau aku gimana, cantikku?”

“Cantikku? Anjing — aah… jangan gitu…” Destian menghentak lebih kencang ketika Sadenta memaki, membuat sang lelaki gelagapan sendiri. “Crot di dalem ya, Tian… Aku mohon…”

Ada sorak kemenangan yang menggaung di dalam bilik hati Destian, seolah apa yang didengarnya barusan adalah sebuah gol yang bertandang sendiri ke gawang. Permohonan kotor yang terbit dari mulut Sadenta itu pada akhirnya membangunkan satu lagi iblis di dalam dirinya untuk menggempur kewarasan Sadenta hingga tak bersisa. Si cantik yang amat ia sayangi itu mendesah panjang dan merengek atas berbagai stimulasi yang tak main-main di tubuhnya. Maka hanya dengan hitungan beberapa menit setelah permohonan penuh dosa itu diaminkan oleh Destian, keduanya akhirnya mencapai pelepasan yang teramat kacau.

Aah — Sadenta…”

“Tian… anjing — aah…

Sadenta total tumbang pasca klimaks untuk yang kesekian kalinya, sedangkan Destian memuntahkan cairan semen hangatnya untuk bersarang di dalam gua garba Sadenta yang selama ini ia idamkan ‘tuk setubuhi. Di atas dadanya yang bergerak naik turun terengah-engah, ia mengecup kepala Sadenta dengan begitu lembut seolah tak baru saja menggempur lelaki itu hingga nyaris hancur.

“Tian…”

“Mm?”

“Selamat ulang tahun,” Sadenta mengubah sandaran kepalanya setelah menoleh pada jam yang telah melewati tengah malam, kini menatap mata Destian yang sibuk mengusap kepalanya, “kamu mau apa dari aku?”

“Kamu,” sebuah kecup Destian berikan pada rekah ranum milik Sadenta yang pada akhirnya dapat ia cium, “aku mau kamu. Aku mau kamu jadi pacarku, mulai hari ini — saat ini juga. Gimana?”

“Bercandanya nggak lucu.”

“Aku nggak lagi bercanda.”

Canggungnya hening tumbuh di antara keduanya, Sadenta mencoba memperbaiki posisinya namun hanya bertemu dengan nyeri di sekujur tubuhnya. Ia mendesis selagi menegakkan duduknya, sedangkan Destian pelan-pelan mengusap punggungnya. Mereka bertatapan, ada hening yang masih terus berputar hingga akhirnya Sadenta membuka mulutnya ‘tuk berikan sebuah jawaban.

“Aku juga mau — ”

“Mau apa?” Destian mendesak dan Sadenta nyaris kehilangan segenap kesabaran. Lelaki ini, memang dasar, meski setahun lebih tua darinya tapi kadang sifat kekanakannya tak jauh beda darinya.

“Jadi pacarmu.”

“Ngomong yang lengkap.”

Oh, oke. Yang barusan ini cukup menuntut dan memaksa, namun Sadenta menyukai serpihan sifat berengsek Destian yang satu ini.

“Aku mau jadi pacarmu, Destian jelek.”

“Jelek-jelek gini sekarang jadi pacarmu.”

“Ah, nyebelin!”

“Nyebelin gini sekarang jadi pacarmu.”

“Bodo amat!”

Saling maki dan saling cerca, saling tertawakan ucapan menyebalkan satu sama lain yang justru buat perasaan keduanya kian menajam. Ah, malam ini indekos sederhana ini jadi saksi bagaimana keduanya bisa terikat dalam romansa — yang meski kotor dan penuh keliaran, tetap tulus dan penuh dengan rasa hangat yang selama ini mereka dambakan.

“Aku sayang kamu, Sadenta.”

“Selamat bertambah usia, Destian. Aku sayang kamu.”

Destian Adhikara dan Sadenta Emmanuel, secaci nan semaki, secinta nan semati. Sepasang lelaki yang tunjukkan bahwa dunia ini bukan hanya layak dinikmati kasihnya oleh orang-orang yang miliki segala-gala yang baik. Mereka yang terbentur dan miliki dentur, juga berhak mencinta dan dicinta, sebaik-baiknya, sedalam-dalamnya.

Laundry-nya tetep kamu yang bayar, ‘kan?”

“Monyet.”

 

 

 

 


 

 

 

References:

Hindia — everything you are (2025)

 

 


 

 

 

 

Notes:

Find me on Twitter (@ANARCHODES) for more works!