Work Text:
Di sebalik malam nan begitu dingin, torso mereka saling mendekat satu sama lain; berbagi kehangatan lewat sentuhan-sentuhan tipis. Ada Kailash, yang sedari tadi tak usai lantunkan godaan serta puja-puji kepada Sastra, sang Pujaan Hati. Sementara sosok di bawahnya hanya bisa merengek dengan netra nan diliputi selapis air.
Ah, pacarnya indah sekali. Sastra yang sosoknya dikenal berwibawa bak seorang pemimpin, yang kelihatan tangguh di mata publik—kini terlihat begitu mungil saat berada dalam rengkuhan Kailash yang penuh kasih sekaligus dominasi.
“Teteh,” Bisiknya begitu manis. Jari-jemari singgah perlahan ke wajah Sastra nan cantik, lalu dibubuhkan puluhan kecup sampai terdengar rengekan dari sang kekasih. “Tetehku yang cantiknya melebihi lukisan, yang kecil kalau ada dalam pelukan.”
Kailash bisa merasakan tubuh Sastra bergetar kecil. Mungkin karena belaian dan kata-kata kagum yang tak berhenti ia beri. Mungkin karena jamahan bibir pada leher dan wajah si cantik yang ia lakukan tanpa permisi. Entahlah, Kailash enggan ambil pusing. Ia bahkan tak peduli jika salah seorang anggota keluarga di rumah besar ini bisa saja memergoki atau mendengar rintih desah dari si Pujaan Hati.
“Teteh Asa sayangku. Cantikku.”
Telapak tangannya menyelinap masuk ke dalam kaos abu-abu yang Sastra pakai, hantarkan dingin nan bersentuhan langsung dengan torso sehangat air mendidih. Ia bisa merasakan Sastra bergetar lagi. Kailash menyeringai tipis, kembali berikan kecupan di seluruh bagian wajah sang kekasih, akan tetapi pemuda itu menghindari bagian bibir.
“Nnhh, su-sudaaah .... Sudah, Iyaas,” Rengeknya mengudara untuk kesekian kali. “Jangan diledekin akunya ….”
Yang lebih muda terkekeh. “Ngeledekin gimana, Sayang?” Kailash dekatkan wajahnya hingga ranum mereka hampir menempel. “Lagipula, kamu suka dipanggil Teteh, ‘kan?”
Kailash rasa, otak kekasihnya sudah kopong sekarang, sebab yang lebih tua seketika mengangguk samar. Ia layangkan tawa mengejek lalu berikan sekilas cium pada bibir Sastra nan berwarna semerah ceri di ladang. Ada manis yang meliputi permukaan ranum Kailash setelahnya, membuat si Tuan ingin lagi merasakannya.
Satu kecupan.
Napas Sastra langsung berhenti sebentar.
Dua kecupan.
Tangannya mencengkram erat bahu Kailash sembari memejamkan mata.
Tiga kecupan—
“Iyaaas,” Sastra menggeleng pelan. Ia sudah berada di ambang batas. Kepalanya benar-benar sakit karena diberi stimulasi berlebihan. Kemudian telapak tangan yang lebih tua meraba wajah rupawan pemuda di atasnya, mengelus pelan pipi mulus tersebut sampai ke telinga—membuat Kailash sontak menggeram.
Kala mata si cantik terbuka, setitik air jatuh dari salah satu pelupuknya. Manik yang berkaca-kaca itu balas tatap milik Kailash dengan sirat permohonan. “Dicium yang bener akunyaaaa.”
Ah, anjing. Sastra selalu tahu bagaimana cara membuat Kailash hilang kendali. Sastra selalu tahu kalau Kailash tidak bisa menolak permintaannya sama sekali. Dan, Sastra selalu tahu kalau ia adalah pemantik yang memicu Kailash berkobar selayak bara api.
Ibu jari milik Kailash terulur untuk mengusap lembut bibir bawah Sastra. “Minta yang bener dulu, Sayang.”
“Aku mau cium ....” Napas Sastra tercekat. “A-aku mau dicium Abang .... Tolong, Abang .... Tolong cium Teteh ....”
Maka, sang tuan jatuhkan ranumnya pada milik Pujaan Hati. Biarkan seluruh cinta tersampaikan lewat lumatan penuh kasih. Biarkan seluruh cinta mendekap keduanya agar dingin tidak menghampiri. Biarkan seluruh cinta memberitahu bahwa Sastra Nanggala adalah milik Lanang Na Kailash sampai dunia berakhir.
