Actions

Work Header

Tukang Kebun di Rumah Teman

Summary:

Saban kali bertandang ke rumah Sohee, Wonbin telah memamah kebiasaan melihat tukang kebun itu, seolah ia tak lebih dari bagian pekarangan yang usang. Namun, entah kutukan macam apa yang jatuh di hari itu, segalanya serta-merta mengacaukan kewarasannya. Barangkali lantaran matahari yang merajam terlampau bengis, atau sungguh perawakan kerempeng lelaki itulah yang tiba-tiba menyulut pesona tak bertuan di kepalanya.

Didorong semacam kegilaan yang nekat, Wonbin menyaruk langkah menghampirinya tepat di tengah pekerjaan—dan sebagaimana nasib disuratkan, ujung dari semuanya? Terbakar panas-panasan berdua.

Notes:

benar-benar jorok mampus met baca ya oll mff!! (lariiii)

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Bangsat! Kalah lagi.”

Suara melengking Anton merobek ruang tamu rumah Sohee. Ia melemparkan stik PlayStation itu ke samping dengan wajah tertekuk masam, tak sudi menelan kekalahan. Di sisinya, Wonbin terkekeh mengejek, dilanda rasa puas tak alang kepalang menyaksikan temannya meradang serupa cacing kepanasan akibat permainan bola sialan itu.

“Makanya latihan, Til. Jangan cuma bacot doang lu,” sahut Wonbin santai, dua stik ia letakkan begitu saja di atas meja, punggungnya sudah bersandar nyaman di sofa dengan lagak jemawa hari ini.

“Berisik amat sih, Dek,” Sohee muncul dari arah dapur, mengusung nampan berisi minuman dingin dengan bulir embun yang menitik luruh ke bawah. “Cuma game doang padahal.”

Wonbin terkekeh, menyikut lengan Anton di sampingnya seraya mengedikkan dagu ke arah Sohee. “Tuh, Denger.” Antonmendecih pelan, menggeser bahu menghindar dengan raut muka yang masih memendam sebal.

Wonbin meraih sebotol soda dingin, membukanya hingga terdengar desis tajam. Ia meneguknya perlahan, namun sekonyong matanya tertambat pada pintu kaca lebar di samping. Halaman belakang rumah Sohee terhampar permai di luar sana.

Dari celah dedaunan hias, tatapannya lekat menelanjangi Eunseok yang tengah sibuk menyiram tanaman. Tukang kebun keluarga Sohee itu sesungguhnya sosok yang kerap ia lihat setiap kali singgah, namun entah muslihat setan apa yang bekerja siang ini, lelaki itu tampak begitu luar biasa. Barangkali sebab Eunseok menanggalkan kausnya, membiarkan tubuh langsing itu dipanggang terik matahari jahanam.

Perawakannya bukan jenis lelaki berotot raksasa yang lazim menidurinya. Tubuh Eunseok cenderung ramping, namun setiap lekuk otot terbentuk sedemikian rupa, buah dari kerja keras berpeluh di bawah kutukan matahari. Kulit cokelatnya berpijaran dihajar peluh dan percik air, meliuk luwes tatkala tangannya menggenggam selang, menghalau tumpahan air ke setiap sudut taman dengan cermat.

Sial... rutuk Wonbin di kerongkongan, nyaris serupa bisikan yang tertelan hiruk-pikuk ocehan Anton dan kawanannya.

Arah matanya terkunci pada celana pendek sedengkul yang kuyup dan melorot ke pinggul, menempel ketat serupa kulit kedua, mencetak sebentuk gundukan yang lekas membikin kepalanya pening. Sebuah tonjolan panjang membulat samar menyembul dari balik paha sewaktu lelaki itu membungkuk menata pot, serta-merta mengirim desiran panas dari ulu hati Wonbin, lumer dan berkumpul di pangkal pahanya.

Bagian tubuhnya yang telah lama kelaparan itu mengeras merengsek di balik celana dalam, sementara liangnya mulai berkedut-kedut menahan berahi yang menyengat.

“Lo kenapa, Bin? Merah bener tuh muka,” tegur Sungchan seraya menyandarkan lengan di bahunya.

“Sange?”

“Kagak!” sanggah Wonbin gelagapan, didera kepanikan sinting. Cepat-cepat ia menutupi pangkal pahanya dengan bantal sofa, menyembunyikan ereksi yang telanjur bangkit meliuk. “Mules gue. Ke toilet bentar.”

Wonbin bergegas pergi meninggalkan gerombolan itu. Langkahnya buru-buru, tangannya sesekali bergerak gelisah membenahi letak celana yang mendadak sesak menjepit. Namun, alih-alih menuju kakus, ia malah melipir ke samping dapur dan menyelinap keluar melalui pintu yang menghadap halaman belakang. Jantungnya bergemuruh hebat, antara takut tepergok dan syahwat keparat yang telanjur tumpah-ruah menguasai kepalanya.

Di luar, Eunseok yang baru purna dengan pekerjaannya mencampakkan selang ke atas rumput, memutar keran hingga air mampat, lantas menyeka peluh di dahi dengan punggung tangan. Pada saat itulah Wonbin merapat dengan tatap mata sarat muslihat kotor.

“Seok…” panggil Wonbin. Suaranya sengaja dibuat mendayu genit, betapapun terdengar serak didesak gejolak hasrat yang meluap-luap ke ubun-ubun.

​Sosok itu menoleh, terkesiap mendapati Wonbin telah tegak sekian jengkal darinya. Namun sejurus kemudian, seulas senyum ramah mengembang di bibir Eunseok sebagaimana biasa.

“Eh, Dek Bina. Ngapain kesini? Panas di luar.”

​Wonbin kembali menelan ludah tatkala suara serak pemuda jangkung itu membelai telinganya. Ia menatap lekat-lekat ke manik mata Eunseok dengan pandangan jalang, seolah tengah menantang nyali lelaki di hadapannya. “Iya, gue butuh bantuan lu. Banget…” sahutnya dalam gumam rendah yang menggoda.

​Terik jahanam yang menguliti halaman belakang itu seolah bertiup langsung dari tungku neraka, mendidihkan darah di ubun-ubun Wonbin dan membiakkan syahwat yang lekas mencekik mati sisa kewarasannya.

Ketika jemari Wonbin mulai menarik ujung atasan hingga terlepas, Eunseok mematung seketika; matanya membelalak lebar, napasnya tertahan melihat hamparan kulit mulus itu disorot cahaya. Kaus itu dicampakkan begitu saja ke rumput, disusul jemari Wonbin yang kini beralih melucuti celana kulotnya. Pemandangan itu membikin Eunseok panik alang-kepalang, ia refleks celingak-celinguk ke arah rumah, digerogoti cemas jika ada sepasang mata lain memergoki kegilaan ini.

​“Astaga, dek!” pekik Eunseok.

Tangannya bergerak canggung menggaruk kepala yang tak gatal, sementara matanya dikhianati oleh nalar—tak sanggup berpaling sedikit pun dari lekuk pinggang memesona yang kini telanjang. Manakala kain terakhir luruh dan dilemparkan serampangan, meninggalkan tubuh Wonbin polos tanpa sehelai benang dengan guratan halus di perutnya yang berkilau keringat, Eunseok tak lagi sanggup memuntahkan sepatah kata pun. Ia melangkah mundur dengan roman campur aduk, tampak linglung bercampur takjub merenungi kelakuan sundal teman majikannya itu.

​“Kamu…” Eunseok menggeleng pelan, bersitegang mencerna pemandangan gila yang baru saja merobek kewarasannya. “...ngapain telanjang begini?” Kalimat itu meluncur limbung, seakan ia baru saja diceburkan ke dalam sebuah mimpi terlampau cabul yang mengacaukan akal sehat.

Alih-alih menjawab, ia memutar raga menungging, menyodorkan bokongnya yang bulat padat telak ke hadapan Eunseok. Liangnya yang semburat kemerahan, dihiasi rambut-rambut halus di tepian, berkedut-kedut seolah meratap mendesak untuk segera dihujam.

​“Masukin…” desis Wonbin merendah, parau didera syahwat yang telah memyesak sampai ke kerongkongan. Ia menoleh dari balik bahu, melemparkan pandangan sayu yang siap mendamba apa pun hidup-hidup.

“Gue mau kontol lu...”

​Eunseok bergeming, kakinya serasa dipaku ke tanah. Napasnya mulai memburu satu-satu saat matanya dipaksa menelan pemandangan liar itu tanpa ampun. Di balik celananya yang kuyup, kejantanannya telah berdenyut beringas, membengkak tamak menuntut ruang kebebasan.

Tak kunjung mendapat balasan, Wonbin meludahi telapak tangannya sendiri hingga kuyup basah, membalurkan liur hangat itu ke sekitar liangnya diiringi desah tertahan.

Sst… ahh…”

Jemari lentiknya meraba-raba binal, menusuk juga menggunting, berusaha membuka jalan bagi sesuatu yang jauh lebih bengis di kepalanya.

​Eunseok hanya sanggup ternganga. Jakunnya naik-turun menelan ludah menyaksikan telunjuk itu kini disusul jari tengah, melesak keluar-masuk menciptakan bunyi cabul yang memanggil-manggil di kepalanya. Roman Wonbin memerah padam, bibirnya digigit kuat demi meredam erang.

Bokongnya bergoyang liar, menegang hebat tiap kali jemari itu menghujam dalam, membikin celana milik Eunseok tak lagi kuasa menyembunyikan batang ereksinya yang mulai menyembul menantang dari sela kain.

“Sialan” Wonbin mengerang tak tertanggungkan. Hujaman jemarinya makin memburu dan merangsek dalam, melontarkan bunyi kotor sarat godaan ke segenap penjuru belakang rumah Sohee, mengandaikan seolah jemari itu adalah batang perkasa Eunseok yang ia damba-dambakan.

Ah... iya... terusin…”

Si tukang kebun membasahi bibir yang mendadak kerontang. Pandangannya kian gelap gulita, diseret jauh oleh jemari Wonbin yang terus mengobok-obok jalur tahi sendiri. Terang di mata Eunseok bagaimana pinggang dan kaki Wonbin sekonyong bergetar hebat, disusul semburan putih kental yang memancar deras, menodai hijaunya rumput dan sebagian mengalir lesu di sela paha mulusnya.

Wonbin terengah-engah mengais napas. Dengan sisa tenaga ia berbalik dan memaku pandang pada Eunseok. Sepasang matanya berkaca-kaca dijejali sisa syahwat tatkala ia mengulurkan kedua lengan, melingkarkannya di leher Eunseok, menarik lelaki itu mendekat demi menempelkan sebentuk ciuman di bibirnya.

“Lu liat, kan Seok? Bool gue gatel banget minta dikontol.” suara Wonbin merendah serak.

Ia menjatuhkan diri berjongkok tepat di depan selangkangan Eunseok, tangannya bergerak tak sabar merenggut celana pendek si tukang kebun ke bawah hingga tandas tak bersisa.

Matanya berbinar jalang. Tak sudi membuang lebih lama, wajahnya lekas merunduk, melahap bulat-bulat batang gemuk itu dalam satu sedotan dalam. Kepalanya memompa maju mundur, membenamkan hidung di pangkal demi menyesap sengat kelakuan Eunseok dari rimbun belukar di sana. Lantas ia beralih, menguliti perlahan batang zakar itu dengan sapuan lidah yang membikin si pemilik melenguh tertahan membelah taman belakang.

Lidahnya merayap kembali ke pucuk, mengobok dan menusuk rakus lubang kecrotan yang meremang sensitif, sementara Wonbin mendongak dengan tatapan mengunci Eunseok—berpesta pora menyaksikan roman wajah lelaki itu merem-melek didera nikmat, napasnya tersengal diiringi desah payah yang lolos menyertai kedutan hebat senjatanya yang dibawa karam hingga ke pangkal tenggorokan.

​“Ahh…

“Enak—bangsat… Dek…”

​Eunseok tegak dengan sepasang kaki goyah, mengerang sejadi-jadinya seraya tangannya mencengkeram asal dedaunan di samping tubuh. Cecapan lidah yang terus-menerus merajam batangnya sungguh membinasakan akal waras. Pinggulnya merangsek maju lepas kendali, menghantam mulut Wonbin yang telaten menyambut dengan jepitan hangat tak tertanggungkan.

Badai kanikmatan itu sekonyong diputus paksa tatkala Wonbin melonggarkan kuncian rahangnya, membiarkan kejantanan Eunseok yang berdenyut nyalang meluncur keluar di ambang pelepasan.

Eunseok membelalak, menatap nanar ke bawah dengan napas terengah-engah, serasa jiwanya direnggut tiba-tiba, sebelum sontak tersentak oleh perintah Wonbin yang ketus namun telak menuntut.

“Jangan keluar dulu, anjing.”

Wonbin menjatuhkan diri, tergolek telentang di atas rumput. Diangkatnya kedua kaki tinggi-tinggi merapat ke dada, menyuguhkan anusnya yang kemerahan dan berkerut-kerut menanti ajal.

“Masukin sekarang, Seok. Udah gatel pantat gue.”

​Eunseok menatap lubang menganga di bawah sana dengan sepasang mata keruh terbakar berahi. Ia merunduk perlahan, merangkak membelah celah selangkangan Wonbin yang mengangkang lebar, menempelkan pucuknya yang panas berdenyut ke depan lubang yang masih becek bersimbah sisa liur.

Tanpa tedeng aling-aling, dengan satu sodokan bengis Eunseok menghujamkan miliknya tandas, menyulut jeritan melengking Wonbin yang lekas mengumpat maki.

“Bajingan! Pelan-pelan, setan!” Matanya melotot kesetanan, segenap urat pelipisnya menegang menahan nyeri laknat yang menyobek liangnya akibat dipaksa meregang serampangan.

Gumam "Ma-maaf..." yang nyaris tak berbunyi dari bibir Eunseok lekas tersapu badai syahwatnya sendiri. Lelaki itu kesurupan menggasak laju, memekakkan telinga atas rintih tubuh Wonbin yang terempas-empas, senata demi melunasi rasa lapar yang mendidih di kepala.

Eunseok menenggelamkan segenap panjang pusakanya dalam-dalam, menghentak hingga kandas, menghajar setiap inci dinding hangat di lorong itu hingga tak menyisakan seujung kuku pun celah bagi Wonbin sekadar untuk melolong minta ampun.

​“Sialan lu! Ah!” Wonbin mencengkeram kukuh lengan berurat Eunseok, kuku-kukunya nyaris membenam berdarah tatkala salurannya dipaksa menelan daging tebal yang merengsek bengis. Bentuk wajahnya berkerut pedih, kepalanya menggeleng liar ke kiri-kanan dibantai tarikan dan dorongan Eunseok yang makin kalap.

Sementara itu, si tukang kebun merunduk rendah demi merampok putik dada Wonbin yang mengeras, menyusu, menggigitnya rakus hingga si empunya terbakar padam dirajam luapan syahwat keparat.

“Udah lama nggak dipupuk, ya?” bisik Eunseok di sela isapannya.

“Banget... makanya rapet, kan,” rintih Wonbin tertahan

​Wonbin meracau tak karuan seiring pompaan Eunseok yang tak memberi jeda bernapas. Sembari terus menetek binal di dada Wonbin, sebelah tangan Eunseok merayap turun mengunci batang Wonbin yang menegang tegak, kemudian merancapnya seirama dengan hantaman bengis pinggulnya dari bawah.

Debur kanikmatan itu sungguh-sungguh memorakporandakan Wonbin, memaksanya menjerit melengking seiring punggungnya yang melengkung serupa busur ditarik mengikuti entakan banal Eunseok. Anusnya serasa digoreng api persenggamaan yang kian memburu, sementara miliknya terus dikocok tanpa ampun di tengah riuh-rendah lolongan desah keduanya yang tak senonoh.

​Bulir peluh dari dahi Eunseok jatuh luruh tak putus-putus, menimpa wajah dan perut Wonbin yang telah licin bersimbah keringat. Lelaki jangkung itu sesekali mendongak angkuh, membiarkan otot lehernya menonjol tegang saban kali pucuk senjatanya menyodok titik paling dalam, sebelum kembali membanting wajahnya demi mencaplok bibir Wonbin, membelit lidah rakus dan bertukar ludah di bawah kutukan sengatan panas gersang.

“Suka banget makan terong ya Dek?”

“Terong Eunseok enak…” racau Wonbin  makin melilit daging di dalamnya.

“Sialan, jablay bener kamu!”

​Wonbin mengiba-iba, pinggulnya bergerak menyongsong setiap tumbukan yang kian gila. Eunseok mencengkeram kuat paha Wonbin, memasungnya agar senantiasa mengangkang lebar selagi ia tak putus menghajar lorong hangat pemuda itu, hingga ia sanggup merasakan lilitan otot yang kejang menjepit kepala penisnya.

“Lagi, Seok!”

“Dalemin…”

“Kencengin…”

“Mentok—anjing!”

​Eunseok mengerang parau, pompaan pinggulnya dipacu kesetanan lepas kendali, masa bodoh dengan napasnya yang telah srsak di ceruk leher Wonbin. Tangannya memperkukuh genggaman, memecal batang Wonbin dengan kalap, membiarkan raga mereka saling membentur dan melebur dalam sabung mematikan di atas hamparan rumput halaman.

“Kerasa, hah?”

“Abang hamilin… kamu… Dek…”

Raga Eunseok menegang hebat seketika, cacing-cacing urat di lengannya bermunculan seiring entakan pemungkas yang dikubur kandas ke liang terdalam, seolah berniat memaku nasib Wonbin selamanya di sana. Lolongan Wonbin lekas dibungkam oleh pagutan serakah bibir Eunseok, membiarkan punggung pemuda itu melengkung serupa jembatan, sementara kuku-kukunya menggaruk punggung Eunseok hingga gurat-gurat merah tercipta.

“Iya! Crotin di dalem!”

“Hamilin—Ahhg!

Jauh di dalam sana, benih panas Eunseok meledak mutlak, menyemburkan lumpur kental yang membanjiri lorong Wonbin dalam denyutan memabukkan yang seolah enggan reda.

​Sengatan semburan itu menjalar lekas, menyeret Wonbin untuk turut memuntahkan tajinya hingga memancar berantakan ke perut, menodai tangan Eunseok yang masih mendekapnya erat dengan sisa-sisa daya.

Seusai lahar tumpah tanpa sisa, raga mereka ambruk seumpama karung pasir, tergolek lemas di atas rumput yang telah kuyup oleh keringat lengket, merelakan sisa ampas panggangan matahari menjilati kulit mereka yang basah dan megap-megap memburu udara.

Beduk di dada keduanya masih bergemuruh hebat dalam pagutan yang enggan terurai. Eunseok mencicipi sisa jepitan melenakan Wonbin pada pusaknya hingga sebentuk rintih lolos tertahan di ceruk leher yang ia sesap, seketika memancing balasan jilatan binal di daun telinga yang makin menenggelamkan siuman.

“Gula… Bangsat…” bisik Wonbin, parau nyaris pupus di balik wajah lelah sarat suka cita cabul.

Eunseok mengangkat parasnya, melunturkan gairah buasnya menjadi tatapan pasrah yang luruh telak ke manik mata Wonbin. Sebingkai kecupan dijatuhkannya ke pipi yang masih bersemu api, sebelum ia berujar lirih,“Kamu beneran bikin abang gila, Bin.”

Tawa pendek lolos dari bibir Wonbin, membiarkan kemanjaan itu menelusup pori-pori kulitnya. “Kagak nyangka gue tukang kebun Sohee seenak ini.”

Wonbin menyeka kening Eunseok dengan ibu jari, disusul sekelumit dorongan pelan di bahunya, menitahkan raga jangkung itu untuk rebah telentang mutlak di atas rumput dengan napas meronta. Sembari meratapi sisa penat yang menggerogoti pinggang, sebelah tangan Eunseok terjulur, sekadar menampik debu dan noda tanah yang menempel di punggung teman majikannya.

Pemuda itu kemudian beranjak, meraup sisa-sisa helai pakaian dan membungkus raganya kembali, lalu seulas senyum tipis sarat muslihat dijatuhkannya kepada Eunseok dari atas.

“Rahasia kita aja ya,” ujar Wonbin, nadanya terdengar seperti candaan namun matanya serius.

Eunseok mengais sisa-sisa tenaga untuk kembali bangkit, berdiri tepat mengadang Wonbin, lantas membalas dengan suara yang hampir ditelan degup dadanya sendiri. “Pasti atuh, cantik.”

Wajah jangkung itu lutuh menunduk, seolah itulah satu-satunya muslihat menyembunyikan rona merah yang kian mencolok di pipi. Wonbin mengulas senyum simpul, mengacak singkat surai lelaki di hadapannya, memutar haluan melangkah kembali ke dalam rumah.

Tepat di bibir pintu, ia berpaling ke belakang, memanggil nama Eunseok dipersenjatai tatapan berahi jalang, “Jangan kapok ngentot sama gue…”

Celotehan itu mengambang begitu saja di sekitar, dibunuh bunyi pintu yang ditutup rapat. Di tempatnya berpijak, Eunseok membatu, matanya nyalang tertahan pada ambang tempat Wonbin baru saja lenyap. Bara di pangkal pahanya pantang surut, sebagaimana jejak lumat yang masih membekas di bibirnya—bocah sundal, pikirnya meracau, tapi luar biasa. Seutas senyum puas terpatri di bibir selagi sebelah tangannya meremas kepunyaannya dari luar, lantas ia memunguti helai-helai kain miliknya yang terserak, dan melenggang pergi diringi siulan ringan kelewat girang.

“Lama bener di toilet, Bin,”

“Coli lo, ya?”

“Kagak, jing! Mules bener perut gue, kagak tau kenapa,” Wonbin menenun dusta dengan mulus diiringi senyum semringah yang sontak memancing Anton dan Sungchan untuk ikut menoleh.

“Yakin lo?” Sungchan menyipitkan mata menyelidik penuh curiga.

“Tuh muka seger bener, kayak abis dapet jackpot.” Anton menimpali dengan mimik wajah penuh curiga. Wonbin menoyor satu-satu kepala temannya itu, lalu merebut konsol yang berada di genggaman Anton.

“Orang sembelit kalo tainya udah keluar juga girang, gila!” Ditekannya tombol mulai, membuka lembar pertaruhan bola yang baru.

Namun, pikirannya raib sepenuhnya dari layar kaca di depan hidung. Sukmanya melayang jauh terseret bebayang Eunseok; psda kulit legam yang bergesekan kalap dengannya di atas rumput beralas tanah, pada auman kotor dan hnntaman liar yang baru usai mereka rampungkan. Sebentuk rahasia kotor teramat syahdu, ditanam rapat di sebalik rimbun belukar taman belakang.

Saban matanya tak sengaja bersinggungan dengan Eunseok esok-esok hari, Wonbin mafhum nian percik api laknat itu bakal menyala, menunggu sekadar satu kelebatan waktu untuk diledakkan kembali. Dan ia amat teramat yakin, raganya tak akan keberatan berpikir dua kali untuk kembali menggeret si tukang kebun, semata demi menuntaskan dahaga monyet di selangkangannya.

 

​Tamat

Notes:

meet me on x fiksipenggemarr