Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-04-21
Words:
716
Chapters:
1/1
Comments:
3
Kudos:
34
Bookmarks:
2
Hits:
367

Sang Pria dan Cintanya

Summary:

Ketika dua insan yang saling mencinta sedang bercinta dalam kamar bermandikan cahaya berwarna amber.

Work Text:

Indahnya sinar bulan menyinari langit malam, memantulkan sinarnya melalui bintang-bintang yang tersebar di angkasa. Sayang, sinar itu tidak cukup untuk menerangi kamar gelap tempat dua insan sedang bermadu cinta. Kamar tersebut menjadi remang akibat hanya lampu tidur berwarna merah amber yang menyala, membuat penglihatan dua insan itu tidak dapat begitu jelas.

Namun, hal itu bukan menjadi masalah. Keindahan sang Cinta masih dapat dilihat oleh pria bermata biru cerah walau cahaya tidak sepenuhnya menerangi kamar. Meski penglihatannya terbatas, pria berambut biru senada dengan matanya itu tidak ada hentinya untuk melontarkan kata-kata hingga kalimat pujian untuk sang Cinta. 

Saat pria bermata biru itu masih melontarkan pujian, sang Cinta tidak berhenti merona sembari menggerakkan tubuhnya di atas tubuh si Pria untuk mencari puncak kenikmatan duniawi yang hampir ia raih. Kedua tangan sang Cinta yang cantik itu berada di atas perut sang Pria, menjadikannya sebagai tumpuan untuk memudahkan dirinya bergerak. 

“Mas, ugh … aku capek,” keluh sang Cinta. Mata sang Pria memang dapat menangkap raut kelelahan dari sang Kasih, tapi ia tidak berniat untuk bertukar posisi karena pemandangan saat ini sungguh indah. Wajah sang Cinta yang memerah bagai sebuah tomat segar, bibirnya yang terus terbuka menghasilkan suara terindah bagi sang Pria, dan keringat membasahi tubuh berotot sang Cinta. Sebuah pemandangan yang sangat jarang dilihat oleh sang Pria.

Tangan kanan sang Pria mengelus paha kiri sang Cinta, membelainya perlahan untuk menikmati kelembutan permukaan kulit itu. “Sebentar lagi, Cah Ayu. Tadi Cah Ayu sendiri ‘kan yang minta di atasnya mas? Apa sekarang mau mas bantu?”

Tempo gerakan sang Cinta semakin melambat. Ia melenguh lalu menggigit bibir bawahnya sebelum berbicara, “Mas Nakula … tolong ….”

Sang Pria, atau dipanggil Nakula, dengan senang hati membantu sang Cinta untuk mencapai puncak kenikmatan duniawi itu. Meski tidak dipungkiri bahwa dirinya sendiri juga ingin mencapai hal yang sama, tapi terus ditahan demi melihat sang Cinta bergerak. “Baik. Sekarang mas yang gerak, ya, Yudis?”

Sang Cinta, atau Yudis, mengangguk. Ia membiarkan kekasihnya mengambil alih permainan setelah dirinya tidak lagi sanggup memegang kendali sepenuhnya. Yudis dapat merasakan pinggangnya dipegang oleh kedua tangan Nakula, sedikit diremas hingga kemungkinan tertinggalnya bekas jemari Nakula di pinggangnya sangat tinggi.

Sesaat setelah menyamankan posisi, Nakula mulai menggerakkan pinggulnya. Memasukkan keseluruhan penisnya ke dalam lubang milik sang Cinta. Membuat sang Cinta dengan mata seindah batu permata zamrud itu refleks memegang paha Nakula sembari mendesah dengan suara yang lebih memekik dan kencang dibanding sebelumnya. Berulang kali Nakula menggerakkan pinggangnya dan berulang kali juga Yudistira mengganti-ganti posisi tangannya, dari perut kekasihnya lalu pindah ke paha. Desahan sang Cinta turut mengikuti gerak tubuh keduanya.

Berulang kali Nakula menggerakkan tubuhnya hingga Yudistira mulai meracau tidak jelas. Samar-samar terdengar kalimat “mau … mau keluar ...” yang diucapkan dari celah bibir sang Cinta di sela-sela desahannya itu. Suara Nakula turut bersahutan dengan suara sang Cinta. Berkali-kali ia menggeram dan ikut mendesah, menyebut-nyebut nama sang Cinta beserta pujian-pujian untuknya.

Ritme gerakan pinggul Nakula menjadi lebih cepat. Menyebabkan sang Cinta semakin sering mengeluarkan suara-suara indah bagi pria bermata biru itu. Satu tangan Nakula menjadi banyak bergerak. Meremas dada sang Cinta, turun ke perut untuk menggodanya sedikit dengan memberikan usapan-usapan lembut, lalu turun ke paha dan meremasnya.

Usai ritme pergerakan tubuh keduanya yang semakin tidak beraturan, puncak kenikmatan duniawi akhirnya telah mereka capai. Deru napas mereka sama-sama sangat berat, berebut udara untuk memenuhi paru-paru keduanya sembari mengembalikan akal sehat mereka. Nakula mengangkat torsonya, mendekatkan bibirnya dengan bibir sang Cinta. Mengakhiri kegiatan mereka malam ini dengan sebuah ciuman hangat. Tidak berlangsung lama karena Yudistira sudah tidak lagi sanggup mengimbangi permainan Nakula.

Melepaskan tautan di tubuh bawah mereka, Nakula langsung membelai pipi Yudistira dan menggeser poni Yudistira ke belakang telinganya. Ia bertanya pada sang Cinta, “Mandi, yuk?”

Yudistira mengerang. Dengan posisi dirinya sedang tengkurap di atas tubuh Nakula, ia menggelengkan kepala. Menimbulkan rasa geli bagi pria di bawahnya. “Capek ….” 

Rambut Yudistira dielus. “Iya, tau. Tapi, mandi dulu, ya? Badan mas ‘kan lengket gara-gara Cah Ayu. Badannya Cah Ayu juga kotor, ‘kan? Biar tidurnya nyenyak malam ini. Oke?”

Bujuk rayu maut dari Nakula langsung meluluhkan Yudistira. “Hm …,” jawabnya sambil menggunakan bahasa tubuh berubah anggukan, “tapi abis itu makan mie.”

“Loh, ndak boleh dong, Sayangku. Sudah malam ini.”

“Ih, laper aku,” jawab Yudistira.

“Jangan mie kalo gitu. Buah aja dulu, ya? Nanti mas potongin deh.”

Yudistira sempat diam sejenak. Mempertimbangkan tawaran kekasihnya. “Yaudah. Gapapa.”

“Oke. Kalo gitu, mandi dulu. Yuk?”

“Ya …, tapi gendong.”