Actions

Work Header

Memancing Bapak

Summary:

Joshua yang digempur dua lubangnya tanpa henti semalaman malah terkekeh merasa menang. Bisa membuat pria angkuh itu mengakui kalau badannya memang enak. Tidak percuma dia rela menumbalkan diri buat dimangsa predator tidak bermoral itu. Setidaknya Joshua juga ikut menikmati permainan yang diberikan padanya malam itu. Sex terhebat yang pernah ia rasakan selama 21 tahun hidupnya. 

Notes:

Commissioned by kak @gyutnite

Work Text:

 

Joshua mencuci tangan di wastafel dengan tenang. Seorang pengawal berjaga di depan sebuah bilik toilet yang masih tertutup. Tak lama seorang pria paruh baya dengan setelan kemeja rapi keluar dari sana. Masih tengah 40-an, seorang mantan artis yang banting setir jadi anggota dewan.

Joshua melirik tajam pria yang memiliki citra baik di masyarakat itu. Mempunyai seorang istri cantik, berwibawa dan pintar serta dua orang anak yang tengah tumbuh dewasa dengan segala privilegenya. Jeonghan, idola para ibu-ibu, dikenal sebagai pria yang sayang keluarga, kepala rumah tangga yang bijaksana sehingga masyarakat menjadikan keluarganya sebagai contoh keluarga harmonis. 

Tanpa orang-orang tahu bahwa semua itu hanya sandiwara sang pemangku kebijakan agar dirinya terlihat sempurna dan bisa dijadikan panutan. Orang awam akan mudah ditipu pencitraan begitu. Tapi bagi darah muda Joshua yang memang selalu vokal menyerukan ketidakadilan, bualan seperti itu sudah tidak bisa menipunya. 

"Capek ga sih pak harus selalu pura-pura gitu?" sentil Joshua tapi Jeonghan masih tak bergeming. 

"Belum aja giliran aib-aib bapak yang keungkap kayak temen-temen bapak itu. Segitu jaga image sampai kencing aja masuk bilik?" 

Pria yang lebih dewasa itu hanya tersenyum lalu lanjut mencuci tangannya. 

"Jangan-jangan bapak impoten ya? Makanya gampang banget ngerendahin perempuan? Atau kontolnya kecil?" kalimat dari Joshua langsung menghentikan gerak tangan Jeonghan yang sedang membilas air sabun. 

"Jangan suka berprasangka liar. Kamu masih muda. Jangan buang-buang waktu begitu." jawab Jeonghan tenang sambil merapikan pakaiannya di cermin. 

"Image yang anda bangun sangat bertolak belakang dengan kebijakan yang anda buat untuk kaum perempuan di sini. Kalau memang anda benar mencintai istri anda, bukankah wanita lain juga berhak mendapat yang sama? Mereka juga sama-sama manusia yang setara sama bapak."

"Tidak capek kamu membual terus dari tadi? Apa yang kamu dapat dari membela mereka? Kaum lemah yang tidak bisa apa-apa tanpa laki-laki, bisa apa mereka tanpa saya?" Tatapan meremehkan itu. Joshua sangat membencinya. 

"Banyak, pak. Bahkan bisa lebih hebat dari bapak yang bermodal topeng palsu demi mendapat simpati dan kedudukan. Atau emang kontol bapak kecil aja, makanya tega menindas perempuan?" 

Sisa hawa panas yang masih tersisa setelah podcast menegangkan tadi membuat emosi di dada Joshua bangkit kembali. Bibirnya menyunggingkan senyum seakan mengejek. "Apa karena itu juga, makanya istri bapak sampai selingkuh sama berondong?" 

Pengawal tadi bersiap menyergap Joshua tapi ditahan oleh Jeonghan. Wajah lelaki berkemeja putih itu tampak merah menahan amarah. Ia mendekat hingga hanya berjarak satu jengkal dengan muka Joshua. 

"Kamu masih mahasiswa, kan? Umur berapa? 21? Pantas mulut kamu begitu berani dan lancang sedari tadi." Jeonghan mengangkat tangannya menyentuh ujung bibir tipis Joshua yang hanya bisa mematung karena gugup dan terkejut atas aksi yang tak disangka itu. 

"Daripada dibikin membual, mendingan mulut ini kamu pakai buat enakin saya. Sekalian biar kamu tahu, kontol saya beneran kecil kayak yang kamu bilang atau enggak." 

Joshua membelalak ketika salah satu tangannya diraih dan tiba-tiba ditempelkan meremas gundukan di selangkangan Jeonghan yang udah ngaceng keras. Dan besar. Keringat merembes di kening Joshua, mukanya merah padam menahan amarah dan juga rasa takut sekaligus. Sementara tangannya masih terus diarahkan Jeonghan ngelus kemaluannya. 

"Atau kamu cuma berani di mulut aja tapi aslinya ga bernyali? Atau jangan-jangan malah kontol kamu yang kecil?" Jeonghan hampir saja menyentuh selangkangan Joshua sebelum untungnya berhasil dicegah pemuda itu. 

"Saya bukan pengecut kayak bapak." 

"Buktikan kalau begitu." 

 

 

 

Joshua dibawa ke sebuah rumah mewah yang diketahui bukan merupakan rumah dinas bagi pejabat. Mungkin salah satu aset kekayaan yang sudah ditimbun politikus itu sejak karirnya dari usia muda. Bisa saja di dalam sana juga tersimpan tumpukan uang kotor yang disusun seperti menara dan menunggu untuk dibersihkan. 

Joshua mengikuti Jeonghan masuk ke kamar yang luas bernuansa merah dan hitam. Lampunya redup membuat suasana di ruangan itu makin misterius. Sebuah ranjang besar dengan sprei warna merah juga berada di tengah ruangan itu. Di sudut ada lemari kayu dengan ukiran tua yang entah apa isinya. 

Joshua menaruh tas bawaannya di meja belakang pintu sebelum tiba-tiba pria tadi memeluknya dari belakang. 

"Cara lonte jaman sekarang cerdik juga ya. Pura-pura protes, pada akhirnya juga tetap tunduk demi kontol. Semau itu ya kamu jadi gundik saya?" tubuh Jeonghan menempel erat di punggung Joshua. 

Kedua tangannya menggerayangi badan depan Joshua yang dibalut kaos dan kemeja flanel, khas mahasiswa pertengahan tahun. Tangan kiri Jeonghan meraba dada sementara yang kanan turun di sekitar paha menuju selangkangan Joshua. Nafas dari hidungnya menggelitik tengkuk Joshua, membuatnya mendongakkan kepala memberikan aksi lebih. 

"Saya pikir kamu memang pintar. Ternyata ga ada bedanya sama lonte murahan yang suka godain saya." Jeonghan memelintir sebelah puting Joshua. 

"Ack hhnghh… ." Joshua tercekat dan menggigit bibirnya sendiri menahan desahan. Tangan Jeonghan sudah menemukan rahasianya dan menggosok sambil meremas di sana. 

"Pantes kamu ngotot banget. Ternyata emang sama aja kayak mereka. Punya tempik murahan." 

"Hhh paahhkk hhh tolonghh… ." 

Jeonghan menjilat leher dan tengkuk Joshua. Sambil tangannya terus memijat memek basah Joshua dari balik celana jeansnya. Sementara puting Joshua juga terus dikerjai dari dalam kaosnya sejak tadi. 

"Tolong apa? Ngomong yang jelas." Jeonghan terus menggesek selangkangan berisi memek itu dengan tangannya. Cincin kawinnya mengkilap kena pantulan cahaya lampu. 

"Tolong hhh memek sayahhh gatelhhh… ." 

Terdengar kekehan lembut dari mulut Jeonghan tepat di samping kupingnya. 

"Telanjang sendiri kalau gitu. Saya mau lihat seberapa murahannya kamu." 

Jeonghan meninggalkan Joshua yang mulai melucuti pakaiannya sendiri. Ia duduk di single sofa yang besar sambil menyesap wine menyaksikan Joshua melepaskan satu per satu pakaiannya. Kemejanya, kaosnya lalu celana jeans yang udah ngecap basah itu. Joshua berbalik ketika hanya tinggal kancut tipis warna merah membungkus memeknya yang total udah basah. 

"Kesini kamu." Joshua berjalan mendekat, dan segera digeret sampai bersimpuh di bawah kaki Jeonghan. 

"Kalau kamu sebegitu penasaran sama kontol saya, buka sendiri. Lonte pintar, kan?" 

Tangan lentiknya dengan ragu mulai melepas gesper mengkilap berlogo brand mewah. Dingin udara AC yang membelai kulit telanjangnya membuat bulu kuduknya berdiri. Joshua menelan ludahnya. Mendadak haus sekaligus gugup dengan langkah yang sudah dia pilih. Sudah sejauh ini, tidak ada kesempatan untuk mundur lagi. 

"Kamu haus? Atau takut?" tatapan Jeonghan itu menyebalkan. Begitu meremehkan dan sombong. Tapi auranya begitu mendominasi. Tak sadar membuat memek Joshua kedutan tiap Jeonghan bicara. 

"H-haus, pak. Bapak tidak menjamu tamu dengan baik." 

Jeonghan tergelak mendengar kalimat konyol disertai wajah cemberut itu. Semakin tinggi egonya untuk melecehkan pria yang sudah menghujaninya dengan pertanyaan dan pernyataan tajam hingga membuatnya kelabakan dalam podcast tadi. Jeonghan jadi dendam dibuatnya. 

"My bad. Saya pikir sudah cukup minum peju saya aja nanti. Serakah juga kamu." tepat saat Jeonghan menyelesaikan kalimatnya, batang kontolnya mantul tegak dari balik celana yang dibuka oleh Joshua. 

Pemuda itu membelalak kaget dengan ukurannya yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Lebih besar dari rata-rata cowok yang pernah tidur sama dia. Joshua menelan ludahnya kembali. Tenggorokan yang sudah kering serasa makin mencekik kehausan. 

Yang tak disangka Joshua, pria matang di hadapannya dengan sengaja guyurin wine ke batang kontol yang tampak sangat menggoda itu. 

"Minum. Katanya haus. Saya ga mau kamu mati sebelum kita mulai apa-apa." Joshua dengan wajah takut dan ragunya cuma diam menatap Jeonghan yang mulai ga sabaran. 

"Isep kontol saya. Kamu bilang bukan pengecut, kan? Lama banget." 

Rambut Joshua dijambak dan mulutnya langsung disumpal pakai kontol gemuk itu. Joshua sampai tersedak saking dalamnya Jeonghan melesakkan batangnya menyentuh kerongkongan Joshua. Pria itu menggeram merasakan hangat dan basah mulut Joshua melahap kontolnya. 

Rasa wine yang manis tapi pahit menyentuh perasa Joshua saat ia mulai mengulum batang itu. Disedotnya seperti sedang menyedot milk tea boba kesukaannya. Bedanya sedotan yang ini benar-benar besar. Sampai mulutnya dipaksa terbuka sangat lebar, seakan bisa robek kapan saja. 

Rambut yang tadi dijambak jadi dielus sama Jeonghan yang keenakan. Dia tuntun kepala Joshua buat naik turun nelen kontolnya sampai bunyi becek dan basah. Joshua cuma bisa bersimpuh pasrah dapat perlakuan seperti itu. Dia cengkram masing-masing paha Jeonghan yang masih berbalut celana sebagai pegangan. 

Jeonghan ngehentak kenceng sampai Joshua tersedak. Tapi bukan dilepas, kepala Joshua malah ditahan dengan kontol Jeonghan masuk penuh di dalam mulutnya sampai nutup saluran nafasnya. Joshua kesulitan bernafas, liurnya netes dari sela bibir yang dipaksa mangap lebar itu. Air mata juga ngalir dari sudut matanya serta kulit putihnya meremang merah. 

Detik berikutnya Joshua menepuk paha Jeonghan tanda batasnya sudah habis. Joshua terengah ngelepasin kontol dari dalam mulutnya. Keringat membasahi kening, jantung berdegup kencang dan masih terus terbatuk sambil ngais oksigen. 

"Gimana? Masih bilang kontol saya kecil?" 

"Hahhh gedehhhh pak hahhhh."

"Buat saya buncat. Nanti saya kasih kamu uang saku. Jago nyepong, pasti jago juga kan ngurutnya?" 

Joshua bangkit buat berlutut. Dia genggam batang panjang yang udah basah licin sama liurnya. Diurut naik turun sambil sedikit diremas. Tangannya bekerja di batang, mulut Joshua menyasar bola kembar yang menggantung dibawahnya. Sebelah bola diemut lalu dikulum sambil dimainin pakai lidahnya. 

Jeonghan tersenyum puas dan angkuh melihat Joshua yang nurut jadi lonte dadakannya. Tadi saja di studio berlagak seperti pemuda yang tak kan goyah oleh apapun. Diiming kontol sama duit juga habis harga dirinya. Joshua cuma pemuda kebanyakan masyarakat di negeri ini. Gampang tergiur dengan iming-iming yang memang menguntungkan mereka. 

Habis basah bola peler Jeonghan dimakan sama Joshua. Hasil urutan tangannya juga bikin precum Jeonghan banjir netes dari lubangnya. Joshua dengan kesadaran penuh kembali melahap kontol yang emang mantap dan enak itu. 

"Emang bener. Perempuan itu ga ada harganya. Murah buat dibeli, gampang buat ditipu. Apalagi yang ga jelas kayak kamu gini hhhh cowok tapi dalemnya punya tempik ahhhh… ." ujung kaki Jeonghan dengan kurang ajar malah gesekin memek Joshua di bawah sana. Yang dibegitukan jadi tercekat hampir menggigit batang yang diemutnya. 

Sedotan Joshua memang jauh lebih kuat dari kebanyakan pelacur yang dia sewa. Bikin Jeonghan ngerasa gila dengan servis mantapnya. Joshua nyedot ujung batangnya, sementara sisa yang bawah terus diurut sama dua tangannya gantian. Diremes sambil diemut kuat bener-bener dahsyat rasanya. Batang itu udah bengkak dan kedutan mau meledak. Joshua putusin buat segera sudahi kegilaan ini.

Kepalanya mulai naik turun sambil nelen batang gede Jeonghan. Suaranya becek dan porno. Tangannya ikut eksis ngeremes sisa yang ga masuk. Jeonghan sampai ga bisa ngomong selain desah dan memuji pekerjaan Joshua. 

Dengan mulut bengkak dan basah, Joshua ngelihatin Jeonghan yang kehilangan akal sambil ngocok cepet kontol pejabat itu. Dan ga lama kemudian cairan kental nyembur dari kontol Jeonghan, ngotorin bajunya sendiri. Joshua menyeringai puas dengan peju putih banjirin tangannya. 

Jeonghan sampai nyender lemes sehabis nyembur banyak berkat kehebatan Joshua ngenakin kontolnya. 

"Saya ga pernah omong besar kayak bapak. Apa yang keluar dari mulut saya, itu semua fakta. Dan saya udah buktiin ke bapak. Tugas saya udah selesai, kan?" 

"Jilat." Joshua baru mau bangkit buat nyuci tangannya. Tapi dicegah sama Jeonghan yang juga menatapnya nyalang. "Jilat peju saya sampai habis." 

Jeonghan nyumpalin tangan Joshua ke mulutnya sendiri. Maksa dia buat ngejilat bersih sisa peju di tangannya, bahkan juga meperin yang masih nempel di batang ke seluruh muka Joshua. Mahasiswa itu berontak tapi jambakan Jeonghan masih jauh lebih kuat darinya. Joshua dibuat ngedongak, ngasih lihat mukanya yang berantakan sama sisa peju dan air matanya sendiri. 

"Dan siapa bilang tugas kamu selesai? Kita lihat sehebat apa tempik yang kamu banggain itu."

Joshua kaget ketika dua orang pengawal masuk. Menyergap tubuhnya untuk digantung ke rantai yang menjuntai di tengah ruangan. Yang satu menahan Joshua yang berontak. Yang satu lagi memasangkan rantai yang cukup panjang ke kedua tangannya dijadikan satu. Kaki Joshua dibuat ngangkang dengan ditahan pakai tongkat stainless yang dirantai di pergelangan kakinya. 

Teriakan dan protesan Joshua tidak dipedulikan sama orang-orang di situ. Para penjaga pergi lalu menutup pintu kamar itu. Di depan sofa tadi, Jeonghan sudah melucuti pakaiannya sampai telanjang. Dari pantulan cermin nakas tepat di depannya, Joshua melihat Jeonghan jalan mendekat ke arahnya. Dari pantulan cermin Jeonghan memandangi muka Joshua yang tampak menangis ketakutan. Jeonghan mencengkram rahangnya dengan satu tangan. 

"Kamu bisa nangis juga? Kemana tadi Joshua yang berani ngatain saya? Itu nama kamu, kan?" 

"Lepas, Pak! Anda tadi cuma mau mulut saya, kan? Lalu ini apa?" semakin Joshua bergerak dia merasakan tangan dan kakinya menjadi sakit akibat dijerat rantai. Menjadi objek BDSM tidak ada dalam rencananya malam ini. 

"Kenapa? Kamu ga pede sama tempik yang kamu bangga-banggain itu? Saya juga mau tahu, sehebat apa memangnya? Saya lihat juga ga ada bedanya sama yang lain." 

Tubuh Joshua meremang malu. Dari cermin ia bisa melihat tubuh telanjangnya dengan kaki ngangkang lebar. Kancutnya masih terpasang, tapi cairannya yang basah merembes bikin memeknya nyaplak jadi tontonan gratis bapak-bapak yang juga sibuk ngocok batangnya sendiri itu. Jeonghan melihat Joshua yang mulai menangis malah tersenyum bangga. 

Pria itu melangkah menuju lemari jati berukir, lalu kembali membawa beberapa benda yang langsung dilempar ke meja depan kaca. Joshua membelalak melihat bermacam sex toys menggelinding di sana. Ada dildo, nipple clamp, buttplugs juga pelumas. Ia tak menyangka pria yang tampak lemah lembut itu memiliki selera sebegininya. 

"Nggak usah kaget gitu. Lonte kayak kamu harusnya ga asing kan sama beginian." 

Tangisan Joshua harus keredam karena Jeonghan udah meluk badannya sambil diajakin ciuman. Mulut lelaki itu begitu jago mencumbu hingga Joshua yang tadinya ketakutan jadi luluh dan hanyut dalam permainannya. Bibir bawah Joshua dilumat lalu gantian bagian atasnya. Lidah Jeonghan juga ikut masuk, membelai deretan giginya dan mengajak bertarung punya Joshua yang seperti kehausan. 

Rambut Joshua dibelai sambil sedikit dijambak membuat ciuman itu menjadi makin menggairahkan. Jeonghan menatap puas Joshua yang terengah setelah ciuman mereka. Mukanya total sayu dan minta buat dihancurin. Jeonghan mulai mencumbu muka, turun ke leher Joshua, dijilat, dihisap sampai digigit beberapa kali. Membuahkan lenguhan pasrah dari pemuda yang tak bisa apa-apa selain mendesah keenakan. 

"Ahhh paaahhkkk ahhhh… ." Jeonghan menghisap pentil kirinya dengan rakus. 

Ketidakberdayaannya juga membuat tensi dalam tubuh Joshua meningkat. Tubuhnya merinding menerima tiap sentuhan Jeonghan. Dua lubangnya di bawah berkedut tanpa henti sembari melumerkan pelumas alami yang sampai netes ke pahanya. Itil Joshua juga makin ngaceng dan sensitif. Tiap kontol Jeonghan yang menggandul tak sengaja menyentuhnya, tubuh Joshua otomatis berjingkat. 

"Bersih juga tempikmu. Sudah banyak yang pakai ya, makanya dirawat?" Joshua merem sambil mangap dengan punggung ngelengkung karena tiba-tiba Jeonghan meremas memek basahnya setelah kancutnya dipelorotin. Diremas terus-terusan sampai dua jari bapak-bapak itu membelai belah lubangnya. 

"Hhnghhh baapaahhhkk hhhhnnhhh… ." kalau tadi Joshua menangis ketakutan, sekarang dia jadi keenakan. 

Tangan Jeonghan beneran jago mainin memek. Padahal ga sampai masuk tapi cairan Joshua makin banjir dan tubuhnya terus merinding. Telapak laknat itu kemudian menggosok memutar mengusak sampai ke itil Joshua semakin cepat hingga bunyi becek. Teriakan Joshua menggaung di ruangan dingin itu. Kaki Joshua jinjit-jinjit merasakan aliran darah ngumpul di itilnya. Dan ga berapa lama Joshua squirt menyembur deras di tangan Jeonghan. 

Mata Joshua yang setengah terpejam bisa melihat tubuhnya sendiri yang kejang-kejang membuat rantai yang mengikat tubuhnya berbunyi gemerincing. Belum selesai dia orgasme, sepasang nipple clamp ditempel ke putingnya yang coklat dan ngaceng itu. Bukan cuma menjepit, ternyata alat itu juga bisa memberikan getaran yang semakin membuat sensasinya berkali lipat enaknya. 

Jeonghan bersedekap bersandar di meja sambil memegang alat kontrol kecepatan getarannya. Tubuh sensitif sehabis orgasme pertama tadi semakin menjadi akibat godaan di titik yang juga menjadi sumber saraf berkumpul itu. 

"Paahhaakkk udaaahhh ahhh ahhhhhngghhh aahmpuuhhnnhhh… ." lagi-lagi Joshua menangis dan Jeonghan malah semakin puas. 

Joshua masih bisa merasakan alat itu bergetar di speed terendahnya. Jeonghan kembali mendekat dengan membawa alat lain yang mirip dengan kepunyaan Joshua dirumah. 

"Kamu bisa lihat sendiri kan wajah kamu yang saya bikin berantakan? Kamu ada dalam kendali saya dan itulah yang memang dikodratkan bagi pemilik tempik kayak kamu." 

Kancut Joshua disingkap ngasih lihat memek tembem, mulus tak berbulu dan basah itu. Jeonghan ngelus lagi labia kenyalnya dipijat menggoda. Sebuah batang dengan ujung dingin lalu terasa menyentuh mulut lubangnya. Joshua menggerakkan pinggulnya reflek ingin seperti ingin menghindar walau sebenarnya sudah tahu akan seenak apa efeknya. 

"Ahhnghh ahhh paaahhkkk ahhh ampuunnn… ." 

Ujungnya masuk sedikit, lalu dikeluarin, dimasukin lagi perlahan dengan lancar tanpa hambatan. Pelumas Joshua yang selalu banjir memang sangat membantu. Dildo vibrator itu sukses nancep di lubang Joshua yang langsung dijepit kuat sama otot memeknya. Jeonghan cuma mencebik melihat memek Joshua yang kelihatan bergerak menahan batang itu. 

Jeonghan pakaikan kancut Joshua lagi untuk menahan dildonya. Lalu kembali membelakangi cermin sambil memegang remot. Dildo itu mulai bergetar sambil bergerak memutar. Pelan saja, tapi cukup menimbulkan bunyi gemerincing dan desahan bersamaan. Akibat dari Joshua yang menggeliat mendapat godaan vibrator di lubangnya. 

Tubuh Joshua sudah total basah dengan keringat, padahal AC ruangan itu diatur begitu dingin. Jeonghan menekan lagi remotenya, menambah speed getaran serta gerakan yang seakan tengah mengaduk lubang memek Joshua. Menggaruk dindingnya makin membuat gila Joshua yang seakan jadi boneka seks mainan bagi Jeonghan. 

Pada speed tertinggi, tubuh Joshua total melengkung, pinggulnya naik dan matanya juling ke belakang. Ditambah lagi nipple clamp tadi juga ditambah speednya, Joshua total gila kehilangan akal. Cairan kencingnya nyembur basahin lagi kancut merahnya sampai lepek tak berbentuk. 

Nafas Joshua yang tadi tercekat mulai kembali normal seiring kesadarannya juga ikut pulih. Tangan dan tubuhnya pegal akibat posisinya sekarang. Apalagi sudah dua kali dia dibuat kewalahan bahkan tanpa pria itu menyentuhnya sama sekali. Joshua cuma bisa berharap dalam hati, tasnya tepat berada di posisi dan tak ketahuan sampai akhir nanti.

Joshua merasa sedikit lega saat Jeonghan melepaskan rantai di tangannya. Seketika tubuhnya jatuh lemas dalam pelukan mantan artis sinetron favorit ibunya dulu itu. Entah keberanian dari mana ia menggeliat memeluk pria itu dan minta cium dengan manja. Jeonghan pun menuruti tanpa protes. 

Bibir mereka kembali bercumbu, namun lebih lembut dan pelan. Tidak terburu-buru seperti di awal tadi. Kulumannya memabukkan, membuai Joshua hingga bisa melupakan tiap hinaan yang diterimanya tadi. Joshua senang dan menikmati alunan bibir Jeonghan melumat miliknya. Joshua benar-benar hampir terpedaya. 

"Not yet over, darling. Saya lebih tertarik sama punya kamu yang lain." 

 

Tubuh Joshua tiba-tiba dibalik nungging pegangan ke meja depan cermin itu. Sebuah sabetan sabuk kulit cukup keras diterima bokong mulusnya. Satu lagi diberikan di sisi lainnya membuat Joshua seketika lemas karena kesakitan juga terkejut. 

"Pak tungguhh ahhh sakiihhttt… ." 

Belum selesai perih di bokongnya, cairan dingin dan kental tiba-tiba membasahi seluruh bokong hingga belahan pantatnya. Tangan Jeonghan meratakan pelumas beraroma kopi itu merata. Tangannya juga nyelip di antara belah bokong Joshua, mengusap lubang ke duanya yang ikut berkedut tiap manuver Jeonghan pada tubuhnya. 

Joshua membelalak horor ketika merasakan dua jari mulai menari di depan lubang analnya. 

"Nggak pak please pak jang-aahhhh… ."

Jeonghan benar-benar tidak memberikan Joshua kesempatan untuk protes. Setengah jarinya sudah masuk membelah tubuh Joshua menjadi dua. Rasanya sangat perih dan sakit. Joshua menangis lagi. Tapi lubangnya yang ngejepit jari Jeonghan seakan berbicara lain. 

"Jangan diketatin biar ga sakit. Rileks aja, manis. Nanti saya buat kamu enak." 

Tolong jangan lupakan nipple clamp juga dildo yang masih nancep di memek Joshua. Walau tidak menyala getarnya tapi keberadaan mereka membantu tubuh Joshua merasakan stimulasi berlipat-lipat. Tusukan jari Jeonghan yang mulai konstan seperti tambahan amunisi untuk Joshua kembali melenguh keenakan. 

"Mmhhhh ahhhhh iiiyaah situhhhh… ." diperkosa begitu malah bikin Joshua keenakan. 

Jari Jeonghan menabrak titik yang membuat lubang itu berkedut menjepit jarinya. Jeonghan akan hapalkan itu nanti. Joshua sempat merasa kosong ketika jari Jeonghan meninggalkan analnya. Tapi kembali senang ketika batang lain yang hangat, empuk dan besar terasa mulai gosokin belahan pantatnya. 

Jeonghan tambahkan lagi pelumas pada kontolnya yang udah ngaceng gede lihat Joshua kewalahan akibat ulahnya. Brlah oantat Joshua dibuka dan kontopnya digesekin ke tengah godain lubang anal yang udah merah dan melar. Ujungnya sengaja ditusuk-tusukin yang sukses bikin Joshua goyangin bokongnya ga sabar. 

"Bapak, cepetan masukin ahhh ga tahanhhh… ." Joshua dengan mulutnya sendiri malah godain Jeonghan yang bikin makin tinggi egonya. 

Jeonghan mulai masukin batangnya. Terasa gede banget bikin lubang anal Joshua kerasa sobek. Perih dan panasnya Joshua tahan sambil gigit bibirnya sendiri. Mata buramnya menangkap bayangan pantatnya dijebol anggota dewan kebanggaan dapilnya itu. Kaki ngangkangnya susah payah nopang badan yang makin lemes saat kontol Jeonghan masuk makin dalem sampai mentok. 

Ga ada istirahat. Jeonghan langsung genjot lubang Joshua seperti emang udah ga sabar dari tadi. Kancut yang disingkap di belakang bikin dildo yang ketahan juga nancep makin dalem di memek Joshua. Ujungnya seperti tabrakan sama kontol Jeonghan yang nabrak sampai tembus ke perut ratanya. 

"Ahhh ahh enaakk paahkkhh ahh ahhh" 

Plak!! Sabetan gesper di bokongnya bikin lubang Joshua ngetat jepit dildo sama kontol Jeonghan makin kuat. Joshua nyakar meja kayu jati yang dia pake buat tumpuan. Rasanya sakit tapi malah saraf di tubuh Joshua makin aktif dan bikin dia lebih bergairah. 

"Ujungnyahh kamuhhhh sama aja kayak gundik yang lain ahhh keenakan saya kontolin ahhh… ." 

"Hahh kontol bapak enaahhhkkhh ahhhh mauhhh teruss ahhhh… ." 

Dipuji gitu, selain egonya, libido Jeonghan juga makin naik. Kontolnya makin bengkak dan kedutan di dalam anal Joshua. Dia geser sudut tusukannya sampai dapat ke titik yang tadi dia ingat. Tubuh Joshua melengkung indah terpantul di cermin besar itu. Jeonghan meraih remote kontrol kembali menyalakan dua benda yang pasif sedari tadi. 

Jeonghan mencengkram pinggang ramping Joshua sambil terus ngehentak keras bikin kulit telanjang mereka bertepukan. Tubuh Joshua terus kedorong ke depan dengan pentil dan memek juga dikerjain tanpa ampun. 

"Ahh ahh paahkk mauuhh ahh ahh ahhhhh… ." Joshua kejang disusul kemudian Jeonghan yang juga menghentak-hentak sambil nyembur deres di dalam anal Joshua. 

Tubuh basah oleh keringat itu nempel menunduk di atas meja. Kontol Jeonghan masih nancep ngerasain enak jepitan anal Joshua mijetin kontolnya yang terus nyembur ga habis-habis. 

Selesai dengan orgasmenya, Jeonghan lepasin rantai di kaki Joshua. Ia pikir akhirnya ia bebas tapi ternyata tidak. Joshua dibuat telentang di atas kasur dengan dua tangannya dirantai ke headboard kasur yang berjeruji. Joshua benar-benar tidak diberi kesempatan untuk melawan atau kabur. 

Di atasnya, Jeonghan udah gagahin muka Joshua dengan kontolnya ditusuk-tusukin ke mulut Joshua yang dibuka paksa sampai tersumpal sempurna. Rambut Joshua dijambak, kepalanya didongakin dan Jeonghan mulai maju mundurin pinggulnya. Batang gede itu keluar masuk mulut kenyal Joshua yang sudah bengkak akibat terlalu banyak dicium. 

"Hohhck hoockhh hoohckhhh… ." pangkal leher Joshua terus disodok ujung kontol yang mulai rembesin precum lagi itu. 

"Kamu rasain sendiri ahh bekas lubang taimu ahhh jago banget bangsat ahhhh… ." 

Jeonghan tahan kepala Joshua sampai hidung bangirnya nyium bulu jembut lebatnya. Jeonghan goyang-goyangin pinggulnya disodokin cepet-cepet kayak lagi gemeter. Sampai kepala Joshua berontak baru dia lepasin deep throat enaknya itu. Bibir Joshua makin merah dan bengkak. Mangap nyari oksigen habis dibungkam paksa sama kontol Jeonghan. 

PLAK! PLAK! 

Perih. Panas. Memek Joshua dipukul cukup keras sama telapak tangan Jeonghan berulang kali. Kaki Joshua juga tertahan ngangkang sedari tadi. Dua dengkulnya diiket ke sisi ranjang dibuka lebar. 

"Ahhhh ampuuuhhnnhh paaak sakiiithhh… ."

"Sakit kok malah cengap-cengap gitu. Ga sabar kan saya kontolin juga memeknya?" lagi-lagi memek telanjang Joshua diremesin sama Jeonghan sambil masukin tiga jarinya nguras pelumas beceknya. 

Joshua cuma bisa meliuk kayak cacing kepanasan tanpa bisa melawan bahkan bergerak pun sulit. Senyum tipis tersungging di bibirnya ngeliat Jeonghan ngejilat jari yang habis ngobok-ngobok memeknya tadi. 

"Ahhh bapaahhkh ahhh jangahhhnhhh… ." Joshua bilang jangan tapi sambil senyum pas Jeonghan nenggelamin muka ke selangkangannya dan mulai makanin memeknya yang memang menggoda itu. 

Jemari kaki Josua menekuk rasain lidah Jeonghan jilatin tengah lipatan memeknya sampai bunyi slurp kencang. Jeonghan seperti sedang mencari madu manis dari lubang yang sudah merah akibat dia mainkan sedari tadi. Kepalanya sampai manggut-manggut sambil juga melumat labia Joshua yang halus mulus itu. 

"Tempik kamu manis juga. Beda sama yang lain." Jeonghan sampai mengusap bekas basah di mulut dan hidungnya pakai lengan putihnya itu. "Tapi tempik tetep aja cuma lubang buat kenthu kan. Ga ada yang spesial."

Bilang begitu tapi Jeonghan sambil melesakkan kontolnya dalam sampai mentok di ujung memek Joshua. Lelaki di bawahnya menjerit keenakan lubangnya dipenuhi bukan lagi sama mainan keras itu. Jeonghan merasakan langsung hisapan memek Joshua yang lebih becek dan lembut dibanding dengan analnya tadi. Tapi sama ketatnya. 

Jeonghan bergerak tidak pernah mendramatisir. Selalu full speed, full power sampai kasur tempat mereka bersenggama memantul disertai deritan kayunya. 

"Ahhhh enaahkk paaahhkk penuuhhh ahhhh… ."

Badan Jeonghan sejajar di atas Joshua. Mulut mereka kembali bertemu saling melumat sementara di bawah sana saling menumbuk tanpa ampun. Joshua sampai kesulitan bernafas karena Jeonghan benar-benar mengontrol semua permainan mereka termasuk hisapannya yang tak pernah kenyang pada bibir Joshua. 

Jeonghan kembali menjilati leher Joshua, merasakan asin keringatnya sembari menambahkan tanda kenangan di leher serta dadanya. Gerakan pinggul Jeonghan semakin cepat menusuk menembak dalam menjemput klimaks kesekian kalinya malam itu. Peju Jeonghan seperti tak habis-habis mengisi dua lubang Joshua sekaligus. 

"Pada akhirnya bapak juga tetep tunduk kan sama memek. Bapak tetap butuh memek. Kayak punya saya." Joshua menyeringai sombong menyulut emosi Jeonghan. 

"Banyak omong kamu lonte sialan." 

Rantai di lutut Joshua dilepas. Tubuhnya diputar dibuat nungging dengan tangan masih dirantai di atas sana. Joshua tidak protes. Lenguhan lirihnya yang keenakan juga kesakitan semakin memicu Jeonghan berlaku brutal padanya. 

Jeonghan sumpal mulut Joshua pakai kaos kakinya. Lalu memek Joshua juga disumpal pakai buttplug yang panjang. 

"Biar mulutmu ga berisik." tuturnya. 

Cairan pelumas dilumurin Jeonghan ke belahan pantat Jisoo juga ke kontolnya sendiri. Digosok sambil dibikin ngaceng lagi batang yang tak juga lelah bertempur itu. Jeonghan tak sabaran masukin palkonnya ke lubang anal Joshua dan langsung dilesakkan tanpa pertimbangan. Joshua menangis dengan mulut tersumpal akibat rasa sakitnya. Walau tadi sudah dirojok bukan berarti elastisnya bisa bertahan lama. 

Jeonghan ngegenjot dari belakang sambil ngejambak rambut tunggangannya. Mulut Joshua yang masih tersumpal kaos kaki jadi meredam suara rintihan dan desahan enaknya. Tangannya mencengkram sprei seiring rasa nikmat yang mulai menjalar dari tiap tumbukan itu. 

"Emang kaum kamu ituhhh udah takdirnya buat ditunggangin begini hhhh ga perlu nuntut macem-macem hhhh cukup buat dikontolin aja." 

Jeonghan tak henti-hentinya masih terus merendahkan orang lain. Joshua muak dengan mulut kotor dan munafiknya itu. Tampang alim dan baik yang selalu dia tunjukkan sangat bertolak belakang dengan perlakuan yang dia rasakan hingga detik ini. 

Joshua memang sengaja memancing Jeonghan untuk bisa mendapatkan kelemahan lelaki itu. Di tas yang ia letakkan di pojok kamar, sudah terpasang kamera kecil juga perekam suara yang semuanya langsung tersimpan otomatis dalam cloud memory. Dan untuk orang seperti Jeonghan, memberi makan egonya adalah cara paling ampuh dan terbukti manjur. 

"Ahhh bapaahkkk bilanghhh benci gay ahhh tapi suka juga sama bool saya aahhckhh…." Joshua teriak karena Jeonghan malah menghujam makin dalam ngenain titik terdalamnya. 

"Biar kamu tahu ahh memek kamu ga beda sama bool ini hahhhh sama-sama buat buang peju dan tahi ahhhh… ." 

"Ahhh awas ketagihaannhh bapaakk ahhh ahhh ahhh enak kan bool sayaahhh… ." 

PLAK!! 

"Lacur ga tahu diri kamu ahhh enak ahhh emang kamuhh enak Joshuaahhh… ." 

Dan kesekian kalinya Jeonghan memenuhi tubuh Joshua dengan benih kentalnya. Peju putih itu luber bersatu sama yang masih tersisa di memek Joshua. Malam yang panjang dan menyakitkan itu berakhir dengan Jeonghan terkulai lemas di sebelah Joshua yang juga meringkuk mengatur nafas. 

Joshua yang digempur dua lubangnya tanpa henti semalaman malah terkekeh merasa menang. Bisa membuat pria angkuh itu mengakui kalau badannya memang enak. Tidak percuma dia rela menumbalkan diri buat dimangsa predator tidak bermoral itu. Setidaknya Joshua juga ikut menikmati permainan yang diberikan padanya malam itu. Sex terhebat yang pernah ia rasakan selama 21 tahun hidupnya. 

 


 

Dua hari berikutnya Jeonghan duduk di meja kerjanya dengan kacamata bertengger di hidungnya. Tangan kanannya membuka lembar kertas laporan yang dikirim sekretarisnya. Jeonghan tersenyum getir dengan muka merah padam melihat isinya. 

Lembaran kertas itu berisi copyan bukti visum dokter serta tangkapan layar yang menunjukkan kegiatannya bersama Joshua malam itu. Lengkap dengan sebuah voice recorder yang saat dia putar memperdengarkan berbagai kalimat kotor, rengekan dan rintihan meminta ampun serta bunyi-bunyi liar yang sudah diedit sedemikian rupa untuk memojokkan dirinya. 

Lembar terakhir membuat Jeonghan tergelak tapi sorot matanya tajam menyimpan dendam. 

 

UBAH UNDANG-UNDANGNYA ATAU KARIR BAPAK BERAKHIR DENGAN INI SEMUA

Jeonghan tidak pernah menyangka permainlah berbalik menyerang dirinya. Ia tak menyangka wajah ayu dan tutur lembut pemuda itu menyimpan racun mematikan yang buat Jeonghan tidak bisa berkutik. 

Terlebih setelah ia tahu ternyata latar belakang Joshua bukan dari kalangan sembarangan dengan backingan yang kuat. Jeonghan benar-benar kalah. 

 

 

 

 

 

 

 

Series this work belongs to: