Work Text:
Juni, 2013
“Aduh!”
Tomoya mengaduh cukup keras, dibarengi suara bugh yang buat Yu buru-buru menghampirinya.
Sore itu, seperti biasa, keduanya punya agenda berpetualang, mengitari daerah sekitar perumahan yang penuh dengan kebun dan pepohonan. Terinspirasi dari tontonan di televisi, mereka akan membawa tas berisikan bekal makanan (mie goreng yang berubah mengikuti bentuk kotak bekal karena tak segera dimakan) dan minuman yang disepakati harus memiliki varian yang berbeda. Hari ini minuman Tomoya rasa stroberi, sementara milik Yu rasa anggur.
Dari acara yang mereka tonton, tokoh utamanya adalah anak kecil pemberani yang senang berada di alam. Seringkali ia makan ikan hasil tangkapan sendiri ataupun memakan buah-buahan yang ditemukan dalam perjalanannya.
Tomoya ingin menirunya. Bukan semata-mata karena tokoh utama tersebut, namun, orang yang bersamanya saat ini adalah pengaruh terbesarnya.
Yu bukan hanya tetangga baginya, tetapi juga sosok yang selalu Tomoya anggap keren. Jarak umur mereka hanya terpaut satu tahun, lebih tua Yu, tapi Tomoya merasa Yu adalah orang paling bisa diandalkan. Yu tidak takut hewan apapun, Yu bisa memasak telur dadar walau harus naik ke atas kursi dan dituntun bunda, Yu selalu peringkat 1 di kelas, dan yang terpenting, Yu bisa memanjat pohon.
Maka, di sinilah Tomoya sekarang. Terbaring di tanah setelah gagal menaklukkan dahan pohon terendah. Nafasnya terengah-engah, kakinya cukup gemetar karena sebetulnya ia takut jatuh — dan ketakutannya terbukti.
“Moya! Moya kamu gapapa? Ada yang sakit? Kaki kamu? Tangan kamu?” Yu terlihat khawatir dan langsung memeriksa seluruh anggota badan Tomoya.
“Hiks…”
Tidak, Tomoya tidak menangis karena sakit, tak ada sedikitpun luka di tubuhnya, pun jatuh dari dahan terendah tak seberapa baginya.
Tapi, Tomoya menangis karena merasa gagal menjadi keren. Jatuhnya dilihat oleh Yu pula, orang terkeren di matanya.
“Moyaa pulang aja yuk… kamu sakit banget kayaknya...” Yu masih menatap Tomoya khawatir.
Tomoya menggeleng ribut. Dia menyeka air matanya, sadar bahwa menangis bukanlah sikap yang keren. Ia tidak pernah melihat tokoh di acara anak pemberani itu menangis, ia juga tidak pernah melihat Yu menangis, jadi Tomoya tarik segera air matanya.
“Aku enggak sakit!”
“Beneran? tapi kamu nangis…”
Tomoya masih menggeleng kuat. Dia gengsi untuk bilang kalau dia menangis karena malu dirinya terjatuh. “Enggak ada yang sakit kok…”
“Ih tapi waktu itu aku juga pernah jatuh cuma gak sakit, baru kerasanya pas udah lama. Kata bunda kalo jatuh itu suka kaget, makanya gak langsung sakit. Takut kamu kenapa-napa, ayo pulang aja. Aku gendong!”
Lagi-lagi Tomoya tertegun. Yu yang berjongkok membelakanginya sekarang terlihat seratus kali lebih keren. Mungkin jarak satu tahun di antara mereka mulai terasa karena Yu mengerti lebih banyak hal daripada Tomoya. Maka, Tomoya tak menyia-nyiakan kesempatan keren ini dan langsung naik ke punggung Yu.
“Nanti lagi kamu gak usah manjat ya, biar aku aja yang manjat, kamu tunggu aja di bawah biar gak ada yang ngambil bekel kita, oke?”
Tomoya mengangguk berkali-kali, menyetujui. Mungkin Tomoya tidak sekeren Yu yang bisa manjat, tapi Tomoya akan pastikan dia keren karena telah membantu Yu menjaga bekal mereka.
Keesokan harinya, Tomoya menangis karena kakinya yang terkilir saat jatuh baru terasa sakit. Acara petualangan mereka dihentikan sementara sampai Tomoya sembuh.
*****
Februari, 2018
Tomoya tidak mengerti apa itu hari kasih sayang.
Kakak perempuannya sibuk mondar-mandir di dapur, mengaduk ini itu, memanggang, mengeluh karena tercium bau gosong, kembali mengaduk, kembali memanggang.
Tomoya yang sibuk belajar untuk ujian kelulusan sekolah dasarnya di ruang keluarga, mulai terganggu dengan bising suara mikser.
“Kak! Lagi ngapain sih berisik banget?”
“Lagi bikin cokelat, adek!”
Tanpa menjelaskan lebih lanjut, suara mikser kembali berbunyi. Tomoya akhirnya meninggalkan setumpuk bukunya dan pergi ke dapur, menemukan kakaknya dengan apron yang penuh tepung serta kotor dari cokelat yang terciprat.
“Buat apa? Ada yang ulang tahun?” tanya Tomoya lagi.
“Enggak, adek. Besok kan hari valentine.”
“Valentine?”
Tomoya pernah dengar hari valentine. Tapi, Tomoya tidak pernah tahu apa yang dilakukan orang-orang di hari tersebut, dan ini pertama kalinya ia melihat kakaknya membuat cokelat selain di hari ulang tahun.
“Iya, hari kasih sayang. Nanti cokelatnya dikasih ke orang yang kita suka, kayak gitu.”
Tomoya menopang dagu, memperhatikan kakaknya yang tetap menjawab meskipun sibuk mengerjakan urusan panggang-memanggangnya.
“Bukannya kalo sayang bisa setiap hari ya? Bisa kapan aja, gak harus waktu valentine?”
Tomoya mengingat-ingat Yu yang sering memberinya cokelat. Belakangan, Yu yang sekarang kelas 1 SMP sudah lebih jago memasak, bahkan bisa membuat kue sendiri, dan Tomoya senang karena Yu selalu membagi hasil masakannya. Bukannya itu juga bentuk kasih sayang?
Sang kakak menaruh tangannya di pinggang, merengut. “Ah anak kecil tau apa sih!”
“Ih kok marah! Kan bener, aku juga suka dapet cokelat kok dari Yu, seminggu lalu juga dapet! Itu kan Yu ngasih karena sayang sama aku, bukan karena hari valentine.”
“Nanti pas udah gede juga kamu paham sendiri. Udah ah sana, jangan ganggu. Belajar lagi gih!”
Tomoya mencebik, padahal belajarnya juga terganggu karena suara mikser berisik itu.
Akhirnya Tomoya memutuskan untuk tidak lanjut belajar dan pergi ke rumah Yu. Harusnya Yu sebentar lagi pulang, jadi bundanya menyuruh Tomoya untuk menunggu Yu di kamarnya setelah memberinya setumpuk camilan.
Kamar Yu sudah terasa seperti kamar kedua Tomoya karena seringnya mereka menghabiskan waktu di sini. Kamar Yu tidak seluas kamar Tomoya, tapi banyak hal menarik di dalamnya. Di antara semuanya, Tomoya memilih untuk membaca asal salah satu koleksi komik Yu sembari tengkurap di atas kasurnya. Tenang, Tomoya sudah cuci tangan dan kaki sebelum naik ke atas kasur, karena jika tidak, Yu pasti akan mengomelinya.
Matanya hampir tertutup karena mengantuk sebelum didengarnya suara pintu terbuka. Tomoya langsung duduk dan tersenyum lebar.
“Yu!”
“Aku kira kamu tidur, kata bunda kamu gak kedengeran suaranya.”
Tomoya menunjukkan komik yang dibacanya. “Tadi baca ini tapi ngantuk hehe.”
Yu melihat komik yang dibaca Tomoya, kemudian terkekeh. “Pantes ngantuk, itu kan komik romance. Kamu sukanya komik action kan?”
Tomoya membalik komiknya, menemukan sampulnya berisikan dua laki-laki yang tersenyum sambil saling memandang. “Oh! Pantes ditungguin adegan berantemnya kok enggak ada.”
Yu tertawa tanpa membahasnya lebih lanjut. Selesai berganti baju, ia baru bertanya, “kamu mau ikut bikin cokelat nggak?”
“Kok semua orang bikin cokelat sih. Ini buat valentine juga?”
Yu mengangguk. “Kamu tau valentine?”
“Kakakku juga di rumah lagi bikin cokelat, berisik banget makanya aku kesini. Emang harus ya bikin cokelat waktu valentine?”
“Enggak harus sih, beli juga bisa kok. Tapi aku mau bikin aja biar lebih spesial. Kamu mau bantu?”
“Tunggu bentar! Kata kakak nanti cokelatnya dikasih ke orang yang kita suka. Kamu lagi suka sama orang?”
Yu tidak menjawab, ia membuka pintu kamarnya. “Yuk, mau ikut atau mau disini aja?”
Meskipun mengganjal karena pertanyaannya tak terjawab, Tomoya tetap mengikuti Yu.
Hari itu berjalan cukup aneh untuk Tomoya.
Saat bangun keesokan harinya, Tomoya menemukan sekotak cokelat di meja belajarnya.
“Kak, ini cokelat siapa?” ia bertanya pada kakaknya yang sedang memakai sepatu, bersiap untuk berangkat sekolah.
“Dari Yu, dia ngasih buat kita semua. Katanya yang itu buat adek.” kakaknya menunjukkan sekotak cokelat yang mirip dengan miliknya, sama-sama pemberian dari Yu.
Tomoya mengerti sekarang. Jadi seperti ini hari valentine yang penuh kasih sayang itu. Yu membuat cokelat sendiri dan membaginya dengan anggota keluarganya termasuk dirinya karena Yu menyukai semuanya. Tomoya paham akan hal itu karena keluarganya sudah seperti keluarga juga untuk Yu, pun sebaliknya.
Kotak cokelat milik Tomoya ada pita merah yang terikat di atasnya.
*****
April, 2022
“Happy birthday to you! Ayo tiup lilinnya!”
Rumah Yu hari itu cukup ramai. Keluarganya dan keluarga Tomoya, serta beberapa teman dekatnya menghadiri perayaan ulang tahun Yu yang ke-17. Yu berulang kali bilang ia sudah bukan anak-anak, tidak perlu lagi perayaan. Namun, orang tuanya bersikeras mengatakan bahwa perayaan ini adalah rasa syukur atas kelahiran Yu dan bentuk kasih sayang mereka untuk Yu. Tomoya ikut meyakinkan bahwa perayaannya tak akan seperti saat kanak-kanak. Tak ada badut, tak ada balon-balon yang memenuhi ruangan. Hanya dekorasi sederhana yang Tomoya dan kakak-kakaknya buat agar suasananya terasa lebih hidup.
Perayaannya pun berjalan dengan santai. Tiup lilin, memotong kue, dilanjut dengan acara makan-makan dengan berbagai makanan rumahan yang telah disiapkan oleh bunda mereka.
Tomoya memakan makanannya sedikit jauh dari keramaian. Ia tidak ingin mengganggu waktu Yu dengan teman-temannya. Sejak dulu, Yu memang selalu memiliki banyak teman, namun saat memasuki sekolah menengah atas, teman Yu bertambah banyak karena Yu aktif mengikuti kegiatan klub di sekolah.
Tomoya bukannya tidak memiliki teman. Ada beberapa orang yang cukup dekat dengannya, namun tidak pernah ada yang sedekat Yu. Beberapa dari mereka pun hanya sebatas pertemanan kelompok belajar, bukan orang yang Tomoya percayai untuk berbagi banyak hal dengannya.
Terkadang Tomoya iri karena perhatian Yu mulai terbagi dengan orang lain, tapi tidak pernah Tomoya ungkapkan karena ia tahu hidup Yu tidak hanya tentang dirinya.
“Kok malah duduk di sini?”
Lamunan Tomoya buyar ketika Yu menghampiri dan duduk di sampingnya.
“Gapapa, aku lagi makan. Kamu kan lagi sama temen-temen kamu.”
Tomoya langsung merasa bersalah karena ia sadar nada suaranya berubah menjengkelkan. Entah Yu menyadarinya atau tidak, tapi ia hanya tertawa kecil.
“Kayak sama siapa aja sih. Kamu kan bisa gabung sama kita, mereka juga kakak kelas kamu dan udah tau kamu siapa.”
Tomoya menggeleng. “Masa harus ada aku, kan kamu juga butuh waktu sama temen-temen kamu sendiri.”
Tomoya terlihat keras kepala dan Yu pada akhirnya mengalah. Ia hanya menghela nafas dan mengusak rambut Tomoya sebelum kembali bergabung dengan teman-temannya. “Yaudah, nanti jangan langsung pulang tapi ya? Temenin aku bukain kado.”
Waktu ‘nanti’ yang dimaksud Yu datang dengan cepat. Selesai makan, acara ditutup dengan berbagai ucapan terima kasih dan doa untuk Yu, kemudian satu persatu orang mulai pergi.
Tomoya membantu Yu membawa tumpukan kado ke kamarnya. Sesuai permintaan Yu, ia membantu Yu membuka satu persatu kadonya. Ini juga bagian dari tradisi mereka sejak kecil. Saat Yu ulang tahun, Tomoya akan membantunya membuka kado, dan ketika Tomoya ulang tahun, Yu akan melakukan hal yang sama.
Setelah remaja pun, membuka kado adalah hal yang menyenangkan. Rasa berdebar untuk menerka-nerka apa isi dari kado yang akan dibuka tak jarang berbuah tawa karena isinya tak terduga. Terkadang lucu, aneh, atau menjengkelkan.
“Hahaha muka kamu! Jelek banget, Yu!” Tomoya menunjukkan kado yang berisi kaos dengan sablon wajah Yu saat menangis. Tomoya ingat itu adalah waktu pertama Yu memenangkan olimpiade sains di kelas 1 SMA. Satu tahun telah berlalu sejak saat itu, dan masih menjadi bahan ledekan karena tangisan Yu terlihat lucu.
“Astagaaa ngapain sih mereka masih nyimpen ini!” Yu merebut kaosnya, segera memasukkanya kembali ke dalam kotak sementara Tomoya tertawa sambil melanjutkan membuka kado yang lain.
Kado selanjutnya membuat Tomoya diam. Kotaknya sederhana, berwarna merah muda dengan pita putih di atasnya. Isinya sebuah sweater rajut, namun bukan itu yang membuat Tomoya tertegun.
Tulisan di kartu ucapannya cukup panjang, Tomoya tak perlu membaca semuanya untuk menemukan kalimat ‘aku bikin sweater ini sendiri buat kamu karena aku suka sama kamu, Yu. Kamu gak perlu buru-buru jawab, boleh kamu pikirin dulu baik-baik ya. Selamat ulang tahun!’
Tomoya tidak mengerti, tapi ia merasa tidak nyaman membacanya. Pikiran bahwa ada orang lain yang dekat dengan Yu selain dirinya membuat dadanya terasa sakit. Tomoya tidak tahu itu perasaan apa.
“Moya, kok diem? Itu apa?”
Yu mendekat untuk melongok ke arah kartu ucapan yang dipegang Tomoya. Ia segera menariknya begitu melihat apa isinya.
“Kamu lagi deket sama orangnya, Yu?”
“Kenapa kamu nyimpulin gitu?”
“Orangnya suka sama kamu, berarti kamu deket sama dia kan? Kalo gak deket, gak mungkin dia suka?”
Yu menggeleng. “Aku deket sama semuanya kok.”
Mendengarnya tak membuat Tomoya merasa lebih baik. Jadi Yu memang dekat dengan banyak orang, tak hanya Tomoya, padahal Tomoya menganggap hanya Yu satu-satunya teman dekatnya. Tomoya rasanya ingin menangis, dan sebelum itu terjadi, ia segera berdiri.
“Aku pulang ya, ngantuk.”
Sebelum Yu sempat menjawab, Tomoya telah menghilang di balik pintu.
*****
Satu bulan berlalu sejak hari ulang tahun Yu. Tomoya dan Yu tidak lagi menghabiskan waktu bersama seperti biasa, bahkan orang tuanya mengira keduanya bertengkar. Namun Tomoya berkilah bahwa ia hanya sibuk belajar untuk ujian kenaikan kelas dan mungkin Yu juga, mengingat Yu akan segera menginjak kelas 3.
Pada kenyataannya, Tomoya tidak mau menemui Yu karena merasa bersalah telah meninggalkan Yu malam itu. Ia tidak mengerti apa yang dirasakannya, dan ia juga tidak tahu harus meminta maaf karena apa ketika dirinya sendiri tidak mengerti bagaimana harus menjelaskannya pada Yu. Ia tidak mau Yu membencinya hanya karena Tomoya tidak suka ketika Yu dekat dengan orang lain. Dan fakta bahwa ada orang yang menyukai Yu menimbulkan perasaan lain yang mengganjal yang semakin membuat Tomoya bingung.
Sementara itu, Yu tidak pernah menemui Tomoya secara langsung karena ia pikir Tomoya butuh waktu walau Yu juga tidak tahu apa yang sedang Tomoya pikirkan. Yu bukannya tidak ingin bertemu dengan Tomoya, ia sangat ingin. Bahkan berkali-kali Yu datang ke rumahnya untuk menitipkan makanan untuk Tomoya. Namun, Yu tidak ingin mengganggu Tomoya. Ini pertama kalinya mereka berjauhan selama ini, bahkan saat mereka bertengkar waktu kecil pun, mereka akan berbaikan dalam tiga hari.
Tapi saat ini situasinya berbeda. Mereka tidak bertengkar, namun ada hal yang lebih serius dari sekadar pertengkaran anak kecil. Yu ingin segera tahu, tetapi ia berusaha mengerti dan hanya berharap Tomoya cepat-cepat menemuinya.
Minggu lainnya kembali berlalu, ujian telah selesai dan tak ada lagi alasan belajar. Yu menceritakan kondisi sebenarnya pada kakak perempuan Tomoya karena kakaknya sadar ada yang salah dengan mereka dan berakhir bertanya langsung pada Yu, dan hal itu berkali-kali membuatnya menunjukkan reaksi kesal.
“Punya adek kenapa sih nggak peka banget. Padahal dia udah sering denger aku cerita kalo aku lagi cemburu sama pacarku, dia bahkan ngerti apa yang aku rasain. Tapi dia nggak ngerti perasaannya sendiri??”
Yu meringis, ia merasa ikut diomeli. “Aku juga nggak yakin kalo Moya cemburu, mungkin Moya kurang suka kalo aku deket sama orang lain karena aku temen deketnya Moya sejak kecil?”
“Ah, kamu mah sama aja, Yu! Mana ada yang kayak gitu cuma karena gak suka? Moya cemburu bukan karena kamu deket sama banyak orang, tapi karena ada orang lain yang suka sama kamu.”
“Emang iya ya…?”
Kakaknya menepuk dahi. Ternyata dua orang remaja ini sama saja.
“Susah deh ngomong sama ABG puber. Coba aja kalian obrolin sendiri. Jangan didiemin terus, nggak bakal ketemu jalan keluarnya. Moya gak akan mau ngomong karena dia sendiri juga bingung, coba kamu yang ajak dia ngobrol duluan.”
“Kalo Moya gak mau ketemu sama aku gimana?”
“Pasti mau! Aku paksa dia biar mau! Masa kalian mau setahun kayak gini terus?”
Paksaan yang dimaksud adalah hari dimana kakaknya menyuruh Tomoya mengantarkan makanan ke rumah Yu, dan kakaknya menyuruh Yu untuk menerimanya. Mau tidak mau, mereka akhirnya bertemu setelah beberapa kali hanya berpapasan dan tak pernah mengobrol lebih panjang daripada sekadar sapaan basa-basi.
Yu tidak melewatkan kesempatannya. “Mau main PS dulu nggak?”
Tomoya pun tidak ada alasan untuk menolak, ia akhirnya mengikuti Yu ke kamarnya.
Pada saat itu, keduanya bermain seolah tak pernah ada kerenggangan di antara mereka. Tawa meledak di sana sini, beberapa camilan tersebar dimana-mana. Yu berkali-kali sengaja mengalah agar Tomoya senang, agar Tomoya kembali berbicara padanya meskipun hanya untuk meledeknya.
“Kayaknya aku hari ini hoki banget deh. Lima kali berturut-turut ngalahin kamu, padahal biasanya menang satu kali pun udah syukur. Gila banget gak??”
Senyum dengan giginya yang berderet rapi tak luntur dari wajah Tomoya. Rasanya Yu sudah satu abad tidak melihatnya, dan Yu rindu suara tawa Tomoya yang selepas ini.
Tangan Yu refleks mengelus rambut Tomoya sembari memperhatikannya dari samping sementara Tomoya sibuk memilih game lain yang akan mereka mainkan.
Tomoya menoleh, menemukan Yu yang menatapnya dengan lembut. Tomoya mengernyit, bingung dengan tatapan Yu dan bingung dengan perasaan berdebar aneh di dadanya.
“Kenapa, Yu?” tanya Tomoya.
“Gapapa, aku kangen liat kamu senyum kayak gini.”
Tomoya mengerti akan kemana arah pembicaraan mereka. Ia menurunkan joystick dari tangannya, memutar badannya untuk berhadapan dengan Yu.
Tomoya menarik nafas sebelum mengutarakan kalimat tersulit di kepalanya. “Aku minta maaf.”
“Minta maaf kenapa?”
Ini yang membuat Tomoya bingung setengah mati. “Maaf karena.. tiba-tiba pergi waktu itu?”
“Kan kamu ngantuk.”
Ah, benar juga. Tomoya berdalih mengantuk walau malam itu ia tiba-tiba menangis setibanya di kamarnya.
“Aku.. minta maaf karena gak nemuin kamu sebulan ini.”
“Kamu sibuk belajar, kan?”
Meskipun Yu tahu semua itu hanya alasan, ia tidak mau membuat Tomoya merasa bersalah karena ia tahu Tomoya membohonginya.
“Ah, iya.. itu juga.”
Kemudian hening. Tomoya bingung harus mengatakan apa lagi, sementara Yu berusaha sabar menunggu Tomoya untuk berkata jujur.
Namun tak kunjung ada kalimat yang keluar hingga akhirnya Yu yang memulai.
“Jadi, kamu merasa mau minta maaf aja sama aku?”
Tomoya mengangguk.
“Kalo minta maaf kan ada alasannya. Aku nggak marah kok kamu pergi karena ngantuk, aku juga nggak marah kamu gak ketemu aku karena kamu sibuk belajar. Tapi aku mau tau, kenapa kamu pengen minta maaf sama aku ketika kamu juga pasti tau aku gak akan marah sama semua alasan tadi?”
Tomoya terdiam karena perkataan Yu memang benar. Sejak kecil, Yu tidak pernah marah padanya. Yu selalu berbesar hati. Yu hanya akan marah untuk hal-hal yang membuatnya khawatir pada Tomoya. Yu marah ketika Tomoya tidak ingin minum obat saat sakit, Yu marah karena Tomoya tidak memberi tahunya saat Tomoya jatuh dari sepeda dan membuatnya terluka cukup parah. Semuanya hanya tentang Tomoya.
Air mata Tomoya tiba-tiba turun mengingatnya. Rasa bersalahnya menjadi besar karena meninggalkan Yu tanpa tahu apa yang Tomoya rasakan.
“Aku.. bingung jelasinnya. Aku gak ngerti kenapa aku sedih waktu denger kamu deket sama banyak orang. Aku gak ngerti kenapa aku gak suka waktu ada orang lain yang suka sama kamu. Aku gak suka kamu perhatian sama orang selain aku. Aku gak tau kenapa aku ngerasain ini, Yu.. aku gak ngerti..”
Tomoya terisak sementara Yu segera meraih kedua tangan Tomoya untuk mengenggamnya erat dengan kedua tangannya.
“Moya, liat aku.”
Tomoya menggeleng. Ia tidak mau Yu melihatnya menangis.
Melihat Tomoya yang tak menatapnya, Yu tidak menyerah untuk bertanya. “Moya, aku mau tanya satu kali. Tolong jawab jujur ya. Kamu cemburu?”
Tomoya butuh waktu untuk menjawabnya. Ini adalah pertanyaan yang sama yang selalu terputar di kepalanya.
“Aku gak ngerti, Yu…”
Yu tak menyerah untuk mencari jawabannya. “Waktu kamu baca kartu ucapannya, apa yang kamu rasain?”
“Nggak tau, dadaku sakit aja tiba-tiba.”
“Sakitnya karena…?”
Tomoya akhirnya mengangkat kepala untuk melihat Yu tepat di matanya. Air mata Tomoya semakin tidak ingin berhenti saat melihat Yu masih menatapnya dengan tatapan yang sama. Inilah yang membuat Tomoya kemudian sadar akan satu hal. Tatapan Yu selalu lembut dan membuat tomoya rasanya tak ingin berbagi hal itu. Ia tak ingin Yu menatap orang lain sama seperti Yu menatapnya.
“Aku gak suka bayangin ada orang yang kamu perhatiin sama kayak kamu perhatiin aku.”
Semakin Tomoya menjawab, semakin ia menemukan kepingan-kepingan perasaannya yang pada awalnya tak pernah menyatu. Tomoya menemukan konklusi sendiri bahwa ia takut Yu akan menerima pernyataan cinta orang tersebut dan berakhir dengan Tomoya kehilangan semua perhatian Yu padanya.
Tomoya tidak suka ada yang lebih unggul darinya di mata Yu.
“Yu — ”
“Aku cuma suka sama kamu, Moya.”
Aku cuma suka sama kamu.
Aku. Cuma. Suka. Sama. Kamu.
Ucapan Yu barusan secara tiba-tiba menghilangkan semua hal yang mengganjal pada perasaan Tomoya.
Yu tidak bilang ia menyukai Tomoya. Yu bilang ia hanya menyukai Tomoya.
Secara instan, kalimat itu meredakan semua kebingungan Tomoya sekaligus memberikan jawaban jujur untuk dirinya sendiri.
Yu meyakinkan Tomoya bahwa Yu hanya menyukai Tomoya, dan tak akan pernah menyukai siapapun selain dirinya.
“Yu.. cuma suka sama aku?” Tomoya membutuhkan konfirmasi, kalau-kalau semua itu hanya suara dari kepalanya.
“Iya, aku suka sama kamu, dan aku cuma suka sama kamu.”
Tomoya mengerti sekarang.
Ia berhambur ke pelukan Yu, merengkuhnya dengan erat.
“Aku suka sama kamu, Yu. Aku suka sekali sama kamu!”
Yu dan Tomoya berjanji dalam hati masing-masing kalau suka itu tak hanya akan menjadi sekadar kalimat, namun juga pembuktian atas seberapa besar perasaan yang mereka miliki untuk satu sama lain.
*****
Januari, 2026
“Selamat ulang tahun, Moya!”
“Makasih bunda, ayah, bunda Yu, ayah Yu, kakak-kakak semuanya!”
“Semoga panjang umur ya, Moya.”
“Sehat selalu, adek. Kalo sakit jangan males minum obat!”
“Iya iyaa. Amen, makasih buat doanya. Makasih juga kalian udah sempetin video call, padahal kayaknya lagi pada sibuk tuh.”
“Gak ada sibuk buat anak tersayang, selamat tambah umur ya anakku. Bunda titip Yu di sana, kalo nakal cubit aja ya?”
“Apa sih bundaa aku baik-baik aja loh.”
Gelak tawa terdengar saling bersahutan meskipun terhalang layar. Hari ini hari ulang tahun Tomoya yang ke-20. seperti yang selalu dilakukan sejak mereka kecil, setiap ulang tahun akan dirayakan. Namun, mengingat Yu dan Tomoya saat ini tengah menempuh kuliah di luar kota, ucapan ulang tahun hanya disampaikan melalui panggilan video. Meskipun begitu, kedua keluarga mereka tetap mengadakan perayaan dengan acara makan-makan seperti biasanya.
Setelah satu jam terlewati dan berbagai cerita telah dibagikan, panggilan ditutup. Senyum masih terukir di wajah Tomoya karena ia senang hari ulang tahunnya masih menjadi hari yang spesial baginya.
“Seneng banget, hm?” Yu mencubit pipinya, membuat Tomoya merengek.
“Ih sakit!”
“Kering tuh giginya nyengir terus.”
“Ah Yu mah nyebelin! Aku emang lagi seneng banget tau. Bunda bilang udah ngirimin kado, katanya kadonya yang aku pengen banget. Aku gak inget aku cerita apa aja yang aku pengenin ke bunda, tapi kata bunda ini bakal bikin aku seneng. Aku gak sabar nerima kadonya!”
Yu ikut tersenyum melihat Tomoya yang tak pernah berubah, masih semangat untuk menerima kado ulang tahun. Ia kemudian beranjak untuk membawa kue dengan lilin yang dinyalakan di atasnya.
“Sekarang rayainnya sama aku. Ayo berdoa terus tiup lilinnya.”
“Masa kamu gak nyanyi sih? Gak niat ya ngerayainnya?”
“Suara aku jelek, Moyaa.”
“Dari dulu juga jelek kok?”
Meskipun menghadiahi Tomoya cubitan di hidungnya, Yu tetap menyanyikan lagu selamat ulang tahun hingga selesai.
“Udah, ayo berdoa.”
Tomoya mengatupkan kedua tangannya di dada, menutup matanya. “Aku berdoa semoga aku sama Yu panjang umur supaya kita bisa pergi ke semua tempat yang ada di wishlist kita. Semoga Yu selalu sehat supaya bisa masakin aku setiap hari. Semoga Yu selalu sayang sama aku biar kita bisa bareng-bareng terus sampe rambut kita beruban. Semoga Yu jadi orang paling bahagia di dunia.”
Kemudian lilin ditiup bersamaan dengan amen di ujung doa.
“Kok doanya aku semua? Kamunya gimana?”
Tomoya tersenyum mendengar pertanyaan Yu. Senyum yang selalu membuat Yu jatuh cinta berkali-kali padanya. “Aku cukup doain kamu aja karena apapun yang kamu rasain akan selalu aku rasain juga. Bahagianya kamu, bahagianya aku juga, Yu.”
Tangan Yu terangkat untuk mengusap lembut pipi Tomoya. “Udah jago ya sekarang ngomongnya. Dulu cuma bisa ‘Yuu tolongin manjat pohon’ ‘Yuu anter ke warung disuruh bunda’, belum lagi kalo tiba-tiba nangis, tiba-tiba luka.”
Tomoya terkekeh mendengarnya. “Makanya kan, bisa apa aku kalo nggak ada kamu. Gak sama kamu bentar aja aku tiba-tiba jatoh, padahal depan rumah sendiri.”
“Ya itu mah kamu nakal banget manjat pagar. Padahal bunda ngelarang kamu main karena kamu lagi sakit, aku juga gak boleh jenguk biar gak ketularan. Tapi kamu maksa banget mau ketemu sama aku.”
“Itu kan aku meriangnya karena gak ketemu sama kamu.”
Yu tertawa terbahak-bahak. “Tau apa sih bocaaah.”
“Udahan ah ngetawain akunya. Mana kado aku?”
“Emang aku bilang mau ngasih kado?”
“Ah males nyebelin lagi kan!”
“Aku kasih kado, tapi kasih aku password dulu.”
“Itu mah kamu modus, Yu! kan aku lagi ulang tahun harusnya free password dong??”
Mengusili Tomoya selalu menyenangkan karena reaksinya. Tapi Tomoya tetap menurut, mendekati Yu untuk kemudian memberi satu kecupan di bibirnya.
Harusnya berakhir sampai di situ. Password yang dimaksud Yu adalah kecupan yang seharusnya selesai dengan singkat. Tapi Yu bergerak lebih cepat untuk menahan tengkuk Tomoya, menciumnya lebih dalam.
Tak ada ruang untuk Tomoya protes. Pada akhirnya, ia mengalungkan tangannya di leher Yu, mengikuti ritme ciuman Yu yang tak pernah gagal membuat Tomoya berdebar.
Satu tangan Yu bergerak ke belakang punggungnya, mengambil kado saat Tomoya tidak menyadarinya. Yu baru melepaskan ciumannya ketika kotak itu berhasil mendarat di pangkuan Tomoya.
“Itu namanya bukan password, itu kamu nyari kesempatan.” Tomoya menyempatkan untuk protes ketika ciuman itu berakhir.
“Tapi kamu juga gak nolak tuh?”
“Emang ada yang mau nolak kalo dicium sama pacarnya?”
Yu mengusak rambut Tomoya dengan gemas. “Buka gih kadonya.”
Tomoya membuka kado yang dibungkus rapi tersebut dengan hati-hati. Isinya bukan barang mewah, namun juga bukan barang yang bisa dibeli.
Sebuah scrapbook. Tomoya tidak tahu sejak kapan Yu menyiapkannya karena ia dan Yu hampir selalu bersama setiap harinya.
“Kapan kamu nyiapin ini…”
Halaman demi halaman Tomoya buka. Di sana terlampir foto-foto kenangan mereka sejak kecil, bahkan ditulis dengan detail momen di setiap fotonya oleh Yu.
“Kok ada foto jelek ini sih kamu dapet dari mana??” Tomoya menunjuk fotonya saat cemberut, hampir menangis yang diberi keterangan ‘2015, Moya katanya nangis karena kangen sama Yu yang pergi liburan satu minggu.’
Yu mengangkat bahu. “Bunda, kakak, semuanya punya foto imut itu.”
“Ini gak imut ini jelek!”
“Imut ah. Kamu cemberut karena kangen sama aku soalnya. Sekarang juga masih suka cemberut gitu kok.”
Tomoya tidak bisa mengelak. Ia membuka halaman-halaman lain dalam scrapbook itu. Menemukan foto yang tidak ada dirinya, tidak ada Yu, namun hanya sekotak cokelat yang diberi pita merah di atasnya.
‘2018, Yu bikin cokelat valentine buat Moya karena Yu sayang sama Moya. Tapi Yu malu kalo cuma ngasih ke Moya, Yu akhirnya ngasih cokelatnya ke semua keluarga Moya. Punya Moya yang dikasih pita.’
Tomoya menoleh ke arah Yu yang hanya menggaruk tengkuknya. “Serius…?”
“Apanya?”
“Ini.. cokelatnya?”
“Serius…”
Tomoya menutup scrapbook itu. Fokusnya sepenuhnya pada Yu. “Jadi kamu dari dulu udah suka sama aku? Dari SMP?”
Yu mengangguk. “Sebenernya aku juga dulu nggak begitu ngerti, Moya. Aku cuma tau apa yang aku rasain ke kamu itu sama kayak apa yang kakak kamu rasain ke pacarnya. Aku selalu deg-degan tiap sama kamu. Aku pengen ngelakuin banyak hal buat kamu, pengen jagain kamu, pengen terus sama kamu. Tapi karena aku nggak ngerti, kakakku bilang, paling itu cuma cinta monyet. Katanya juga mungkin aku ngerasain itu karena aku terlalu sering sama kamu. tapi perasaannya makin lama nggak berubah, bahkan rasanya makin besar, apalagi kita gak pernah kepisah sekalipun.”
Tomoya baru mengetahui hal ini. Dia memang sering menanyakan soal bagaimana Yu menyukainya, tapi mengetahui bahwa perasaan itu bahkan sudah timbul sejak mereka baru menginjak remaja membuat Tomoya terenyuh. Yu sudah menyukainya selama itu.
“Kenapa kamu gak pernah bilang.. Bahkan kita sampe diem-dieman dulu sebulan..”
“Aku takut hubungan kita berubah, Moya. Aku takut kamu nggak ngerasain apa yang aku rasain. Kamu juga gak pernah nunjukin interest lebih dari sekadar temen, makanya aku gak pernah berani. Aku cuma bisa cerita soal ini ke kakakmu sama kakakku, dan mereka selalu bilang kalo mau jujur, mungkin harus di waktu di mana aku juga rela kehilangan kamu.”
Yu menghela nafas sebelum melanjutkan. “Tapi aku gak pernah rela kehilangan kamu, Moya. Makanya aku tahan semua itu sampe akhirnya kamu diemin aku sebulan yang aku asumsiin kalo kamu mulai cemburu sama aku. Aku juga gak tau darimana keberanian itu, aku bahkan sempet nyesel setelah aku bilang aku suka sama kamu. Aku takut kamu ngejauhin aku. Rasanya waktu itu aku siap minta maaf seribu kali dan janji mau hapus perasaan aku asal kamu gak pergi dari aku. Aku — ”
Sebelum Yu menyelesaikan kalimatnya, Tomoya memeluknya dengan erat. “Maaf maaf maaf aku telat sadarnya, maaf bikin kamu ngerasain semuanya sendirian, maaf karena aku gak ngerti sama perasaanku sendiri, maaf udah bikin kamu sedih, maaf aku udah bikin kamu bingung sama sikapku dulu.”
“Moya — ”
“Yu, aku sayang banget sama kamu. Tolong jangan mikir kalo aku bakal pergi dari kamu. Aku gak akan pernah lakuin itu.”
“Moya.. liat aku dulu ya?” Yu berusaha melepaskan pelukan Tomoya, membuat Tomoya menatapnya tepat di mata. Rasa bersalah memancar di sana, membuat Yu memegang erat kedua tangan tomoya.
“Dengerin aku ya? Pertama, kamu nggak perlu minta maaf atas apapun. Kamu gak perlu minta maaf karena kamu telat sadar sama perasaan kamu, atau kamu minta maaf karena bikin aku ngerasain semuanya sendiri. Gak apa-apa, Moya. Aku sendiri yang milih buat diem gak ngasih tau kamu, jadi kamu gak salah kalo kamu gak ngerti apapun. Kedua, semuanya udah terjadi, yang penting sekarang kamu di sini sama aku, kan? Gak ada yang perlu disesali ya, kamu gak perlu ngerasa bersalah atas apapun. Terakhir, aku tau kamu gak akan pergi dari aku, karena aku juga sama, Moya. Aku gak akan pernah berani buat pergi dari kamu.”
Jari-jari Yu mengelus lembut punggung tangan Tomoya. “Aku gak mau ada sesal apapun di antara kita, aku cuma mau kita hidup bahagia. Jadi, ayo sama-sama terus sama aku, ya?”
Tomoya mengangguk berkali-kali. “Aku juga mau sama kamu terus. Aku mau bikin kamu selalu seneng. Makasih udah sayang sama aku, Yu.”
“Aku akan selalu sayang sama kamu, Moya. Selalu.”
*****
Di belakang sampul scrapbook yang Yu buat, ada catatan kecil yang terselip pada sebuah lipatan yang Tomoya kira hanya bagian dari dekorasi. Tomoya tidak pernah menyadarinya, dan Yu sengaja membuat Tomoya tidak mengetahuinya karena ini akan menjadi kejutan lainnya di waktu yang akan datang.
‘2030, Yu berjanji untuk selalu ada bagi Tomoya dalam suka atau duka, sehat maupun sakit. Yu akan selalu mencintai Tomoya. Dulu, sekarang, dan selamanya.’
SELESAI.
