Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-04-24
Completed:
2026-04-24
Words:
29,635
Chapters:
2/2
Comments:
3
Kudos:
65
Bookmarks:
4
Hits:
1,682

Yupi & Hengky

Summary:

Terjebak di antara dua cowok manipulatif.

Chapter 1

Notes:

Yupi : RJ
Hengky : JN
Alam : JM
Aqil: HC

Chapter Text

Sejujurnya, niat Yupi itu sederhana banget. Dia cuma mau jujur. Dia cuma mau beban di dadanya terangkat setelah bertahun-tahun menyimpan nama Hengky rapat-rapat. Dia nggak pernah minta dibalas, apalagi sampai membayangkan akan jadi penghalang buat kebahagiaan cowok itu.

Tapi ternyata, kejujuran itu menjadi beban.

Yupi mulai merasa kalau pengakuannya waktu itu justru jadi rantai tak kasat mata buat Hengky. Dia merasa perasaannya kini berubah jadi beban yang harus dipikul Hengky ke mana-mana. Perasaan bersalah itu makin menjadi-jadi waktu dia menyadari satu hal.. Hengky sudah punya seseorang yang disukai.

Semuanya berawal dari omongan Aqil, teman nongkrong mereka, obrolan ini terjadi saat mereka sedang berdua. "Yupi, lu sadar nggak sih? Hengky kalau di depan Larisa tuh beda banget. Kayak... Kelihatan banget naksirnya," kata Aqil santai sore itu, tanpa tahu kalau kalimatnya barusan kayak hantaman keras di hati Yupi.

Awalnya Yupi nggak mau percaya. Tapi, namanya juga hati yang sudah terbiasa memperhatikan, Yupi akhirnya nggak tahan buat nggak membuktikannya sendiri.

Dia mulai jadi pengamat dalam diam. Setiao kali mereka kumpul bareng, mata Yupi nggak bisa lepas dari interaksi Hengky dan Larisa. Dan benar saja, bahasa tubuh nggak pernah bohong.

Cara Hengky memiringkan tubuhnya saat Larisa bicara, caranya tertawa kecil meski Larisa cuma melempar candaan garing, sampai cara matanya yang selalu otomatis mencari keberadaan cewek itu di tengah keramaian—semuanya jelas banget. Nggak perlu penjelasan panjang lebar, semua orang yang jeli pasti bakal langsung tahu kalau Hengky sedang jatuh cinta kepada Larisa.

Dan Yupi cuma bisa diam sambil meremas ujung bajunya.

Rasa nggak enak itu mulai menggerogoti Yupi setiap harinya. Dia merasa seperti orang jahat yang menahan langkah seseorang menuju kebahagiaan.

Yupi ingin menghapus jejak pengakuannya. Dia ingin menarik kembali beban yang tanpa sengaja dia letakkan di pundak Hengky, supaya laki-laki itu bisa mengejar Larisa dengan bebas.

Apapun bakal Yupi lakukan. Termasuk jika dia harus mengarang cerita, membohongi teman-temannya, atau menempuh cara yang sebenarnya salah.

Di tengah kalutnya pikiran itu, muncul sosok Alamanda Putra—atau yang akrab dipanggil Alam. Alam adalah tipe orang yang ekspresif dan sangat peka. Mungkin karena rasa kasihan atau sekadar empati, Alam setuju untuk masuk ke dalam rencana Yupi.

Alam itu yang paling sering melihat bagaimana raut wajah Yupi bisa mendadak cerah, seolah ada lampu yang menyala di matanya tiap kali Hengky mulai bercerita. Namun Alam juga yang paling sering melihat lampu itu redup seketika saat Larisa tiba-tiba muncul dan duduk di meja yang sama dengan mereka di kantin.

Pemandangan itu selalu sama, Hengky yang mendadak fokus ke Larisa, Aqil yang asyik menimpali dan Yupi yang mendadak layu, berusaha keras menyembunyikan luka di balik senyum tipis yang dipaksakan.

Melihat Yupi yang tampak begitu putus asa sampai rela melakukan apa saja, Alam akhirnya setuju. Dia menyambut uluran tangan Yupi, mengangguk mantap, dan menyatakan kesediaannya untuk membantu skenario yang sedang disusun Yupi.

Apapun risikonya, sekarang Yupi nggak sendirian lagi. Ada Alam yang siap berdiri di sampingnya untuk memulai kebohongan ini.

Suasana UKS siang itu terasa lebih tenang dibandingkan bisingnya kantin, meski udara di dalamnya terasa sedikit canggung karena rencana gila yang baru saja mereka sepakati.

“Jadi mulai besok kalau ada yang nanya, gue bilang kalau gue pacar lu, gitu?” Alam bertanya dengan nada menggoda. Dia menyandarkan punggungnya di salah satu ranjang UKS, menatap Yupi dengan senyum miring yang sulit diartikan.

Yupi hanya bisa tertawa kecil, tawa yang terdengar lebih seperti bentuk kepasrahan. Dia mengembuskan napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa keraguan yang masih menyangkut di dadanya, lalu mengangguk mantap. “Iya, gitu.”

“Batas yang gak boleh gue lewatin pas lagi akting di depan orang gimana?” Alam kembali bertanya, kali ini nadanya sedikit lebih serius. “Takutnya gue tanpa sadar terlalu lancang ngelakuin sesuatu yang lu gak suka.” Alam mengedikkan bahu di akhir kalimat, seolah memberi ruang bagi Yupi untuk menentukan garis privasinya sendiri.

Yupi terdiam sejenak. Dia memutar otak, mencoba membayangkan bagaimana rasanya memiliki seseorang yang statusnya—meski bohong-bohongan—adalah kekasihnya.

“Apa ya, jujur bingung Lam. Gue gak pernah pacaran,” jawab Yupi jujur sambil menggaruk belakang kepalanya yang nggak gatal. Wajahnya sedikit memerah karena malu. “Yang jelas... nggak ada ciuman.”

Mendengar persyaratan pertama itu, Alam spontan menyemburkan tawa geli. Dia menutup mulutnya dengan punggung telapak tangan, bahunya terguncang mendengar kepolosan cowok manis di depannya.

Setelah tawanya mereda, Alam mengangguk-angguk paham. “Oke oke, gue ngerti. Walau gue nggak keberatan sih kalau sewaktu-waktu lu mau inisiatif duluan,” celetuknya, kembali menjahili Yupi.

“Gak akan!” Yupi berdecak kesal, meski dalam hati dia merasa sedikit lega karena Alam bisa membawa suasana jadi lebih santai.

Satu-satunya motivasi yang membuat Yupi berani melangkah sejauh ini adalah bayangan tentang senyum bebas Hengky. Yupi hanya ingin kabar hubungannya dengan Alam segera menyebar, menjadi pengumuman bahwa “Hengky, lu udah bebas. Gue udah punya orang lain.”

Yupi berharap, dengan adanya Alam di sisinya, Hengky nggak akan lagi merasa sungkan atau ragu untuk melangkah mendekati Larisa. Yupi ingin laki-laki itu mengejar cintanya tanpa perlu menoleh ke belakang hanya karena rasa kasihan pada perasaan Yupi yang lama.

Meski jujur, membayangkannya saja sudah membuat hati Yupi terasa ngilu. Melihat Hengky dan Larisa bersatu di depan matanya sendiri jelas bukan perkara mudah. Yupi tahu dia belum cukup siap. Namun, Yupi mencoba menanamkan satu keyakinan kuat pada dirinya sendiri, jika Hengky bahagia maka dia juga harus turut bahagia. Bukankah itu esensi dari mencintai?

Sandiwara itu resmi dimulai keesokan harinya, tapi persiapannya sudah menguras energi Yupi sejak malam sebelumnya.

Sesuai kesepakatan, Alam akan menjemput Yupi untuk berangkat sekolah bersama. Artinya, Alam secara resmi akan mengambil alih tugas yang selama bertahun-tahun menjadi milik Hengky. Jok motor Hengky, yang sudah seperti tempat tetap untuk Yupi, besok akan kosong. Atau mungkin saja nanti akan ada orang baru yang mengisinya.

Malam itu, dengan jemari yang sedikit gemetar, Yupi harus mengirim pesan pada Hengky. Sebenarnya, dia bisa saja keluar sebentar, berjalan beberapa langkah ke rumah tepat di sebelah kanannya dan bicara langsung pada Hengky. Tapi Yupi nggak sanggup. Dia nggak siap melihat wajah cowok itu. Dia takut pertahanannya runtuh atau dia akan bertingkah aneh yang malah memicu kecurigaan.

'Tumben?' Begitu respons singkat Hengky melalui pesan Line.

Yupi menatap layar ponselnya dengan tatapan sendu. Dadanya mulai terasa sesak, tapi dia tetap mengetik balasan.

'Hehe, pokoknya mulai besok lu gak usah nunggu gue di teras lagi ya,' balas Yupi, mencoba tetap terdengar ceria lewat tulisan.

Tak butuh waktu lama, balasan Hengky muncul lagi.

'Mulai besok? Maksudnya ke depannya gak bareng juga?'

Pertanyaan itu terasa seperti hantaman telak. Yupi memejamkan mata sejenak sebelum membalas dengan tegas, 'YUP!'

Setelah itu, jarinya langsung bergerak cepat menutup aplikasi chat. Dia nggak mau dan nggak berani melihat balasan apa pun lagi dari Hengky.

Yupi kemudian berbaring terlentang, menatap langit-langit kamarnya. Di sana tertempel stiker bintang-bintang (glow in the dark) yang seharusnya terlihat cantik dan menenangkan. Namun malam ini cahaya redup dari bintang-bintang plastik itu sama sekali nggak bisa menetralkan denyut nyeri yang kian terasa di dadanya.

Lelaki mungil itu meringis pelan. Tangannya meraih guling, memeluknya seerat mungkin. Sambil memejamkan mata rapat-rapat Yupi berdoa agar dia bisa segera terlelap, berharap tidur akan membawanya pergi sejenak dari kenyataan pahit yang sedang dia susun sendiri.

📝

Pagi itu, suara gahar mesin Suzuki Satria F150 milik Alam membelah suasana gerbang sekolah. Alam sedikit menundukkan kepalanya, menyapa Pak Satpam yang berjaga dengan sopan sebelum akhirnya membelokkan motor ke arah lahan parkir yang mulai ramai.

Begitu motor berhenti sempurna, Yupi langsung turun. Dia melepas helm yang dipinjamkan Alam. Katanya sih itu helm lama milik kakak perempuannya yang sudah lama menganggur di gudang, makanya ukurannya terasa pas di kepala Yupi yang mungil. Sementara itu, Alam mematikan mesin, melepas helmnya sendiri, lalu menyangkutkannya di spion.

Yupi menyerahkan kembali helm pinjamannya kepada Alam. Dengan telaten Alam menyelipkan helm itu di antara ujung jok dan stang motor agar aman. Sambil menunggu Alam selesai merapikan segalanya, Yupi refleks merentangkan kedua tangannya ke atas, melakukan peregangan kecil.

Duh, punggungnya terasa agak pegal. Jujur saja, posisi duduk di motor ‘laki’ seperti milik Alam ini kurang nyaman untuknya. Sangat berbeda dengan motor matic milik Hengky yang biasa menjemputnya. Motor yang joknya empuk dan datar, sangat ramah buat punggung Yupi yang gampang lelah.

Sambil membenarkan posisi tali Drafting Tube hitam di bahunya, mata Yupi mulai berkelana menyisir deretan motor yang berjejer rapi di parkiran. Dia sedang mencari satu motor yang sangat familier di matanya.

Dan benar saja, pandangannya terhenti pada sebuah motor matic dengan plat yang sudah dia hafal di luar kepala. Itu motor Hengky. Ternyata laki-laki itu sudah sampai lebih dulu. Nggak heran sih, karena biasanya mereka memang selalu berangkat jauh lebih pagi daripada jam keberangkatan Yupi dan Alam hari ini.

"Pacarnya di sini tapi malah asyik liatin motor si doi," ledek Alam yang sudah turun dari motor dan sekarang berdiri tepat di sampingnya.

Yupi tersentak, lalu dengan wajah sedikit memerah, dia mendorong bahu Alam sebelum melangkah pergi. Alam hanya cengengesan, nggak merasa terganggu sama sekali. Dengan langkah lebar, dia menyusul Yupi dan berjalan beriringan. Tanpa izin tangannya dengan santai mendarat di bahu sempit Yupi, merangkulnya.

Alam menundukkan kepala, mendekatkan bibirnya ke telinga Yupi. "Mulai sekarang tahan diri lu, Pi. Naksirnya jangan keliatan banget," bisiknya menggoda.

Yupi menoleh dengan tatapan sebal. "Diem ah!" Pelan tapi penuh penekanan.

Tawa Alam lolos. Dia kemudian mempercepat langkahnya hingga berada di hadapan Yupi, lalu mulai berjalan mundur supaya tetap bisa menatap lawan bicaranya itu. "Jangan sampai kerja keras gue sia-sia, loh. Karena kalau lagi berbuat baik ke orang gue tuh bakal totalitas banget."

Mata Alam yang semula memandang wajah imut Yupi perlahan turun ke arah wearpack jurusan yang dikenakan lelaki manis itu. Dia menyadari ada sesuatu yang nggak rapi. "Eh, tunggu," gumam Alam.

Alam berhenti melangkah yang otomatis membuat Yupi ikut berhenti karena bingung. Tanpa aba-aba tangan Alam terulur ke arah perut Yupi. Ternyata ada salah satu kancing wearpack Yupi yang terlepas dari lubangnya. Dengan telaten Alam membantu mengancingkannya kembali. Yupi pun hanya bisa diam dan menunduk, memperhatikan jemari Alam yang sibuk di bajunya.

"Baru sampe?"

Suara berat yang sangat familier itu terdengar tepat dari arah punggung Alam. Sontak Alam dan Yupi mengalihkan atensi mereka. Di sana, Hengky berdiri sambil memegang sebuah map dokumen. Pandangan Hengky sempat tertahan sejenak, tertuju lurus ke arah tangan Alam yang masih berada di depan perut Yupi.

"Loh, biasanya gue dateng jam segini," respons Alam santai sambil menarik tangannya menjauh setelah memastikan kancing wearpack Yupi sudah kembali ke posisi yang benar.

Hengky sempat terdiam sebelum akhirnya dia seolah teringat sesuatu. Benar, Yupi berangkat bareng Alam pagi ini, jadi otomatis jam sampai sekolahnya pun harus mengikuti jadwal Alam. Hengky menganggukkan kepalanya pelan, tanda dia paham.

"Mau ke parkiran, Ky?" tanya Alam, sekadar basa-basi untuk mencairkan suasana.

"Ini," Hengky mengangkat map di tangannya, "mau ke fotokopian dulu."

Namun bukannya langsung pergi, mata Hengky beralih ke arah Yupi. Sejak tadi Yupi hanya diam, matanya bolak-balik menatap dua orang di depannya itu. Tiba-tiba, tangan Hengky terulur ke arah kerah wearpack Yupi yang terlihat sedikit tertekuk nggak rapi. Dengan gerakan yang sangat santat dia merapikannya.

Tahu nggak bagaimana keadaan jantung Yupi saat itu? Rasanya benar-benar berisik! Degupannya seolah mau mendobrak keluar, apalagi jarak Hengky yang begitu dekat membuat aroma parfum cowok itu tercium jelas di indra penciumannya.

Setelah merasa kerah Yupi sudah sempurna, Hengky menoleh kembali ke arah Alam. Senyum tipis terukir di wajahnya tapi ada nada yang sulit diartikan saat dia berucap, "Yang totalitas kalau bantuin orang, Lam."

Hengky kemudian menepuk bahu Alam dua kali, lalu melangkah menjauh meninggalkan mereka, berjalan melewati gerbang menuju tempat fotokopi yang ada di luar area sekolah. Yupi cuma bisa memandangi punggung itu dengan perasaan yang makin nggak karuan.

📝

Di dalam ruang gambar yang dipenuhi meja-meja ala arsitek yang permukaanya sengaja dibuat miring, Yupi sedang tenggelam dalam konsentrasi penuh.

Sebenarnya bukan cuma Yupi, suasana kelas memang mendadak sunyi dan serius setiap kali tugas jurusan turun. Kursi-kursi di ruangan itu seolah hanya berfungsi sebagai pajangan atau tempat menaruh tas, karena hampir semua orang memilih untuk berdiri demi mendapatkan sudut pandang dan jangkauan tangan yang lebih luas saat menggoreskan garis.

Dengan cekatan Yupi mengatur dua penggaris segitiga di atas kertas A3 miliknya. Kedua alat itu bekerja sama secara presisi, menentukan titik jarak dan kemiringan garis agar tidak meleset satu milimeter pun. Pensil Staedtler 2B dengan ujung yang baru saja diruncingkan terus menari, menorehkan garis-garis yang perlahan membentuk sebuah bangunan rumah melalui metode perspektif dua titik hilang.

Hampir dua jam Yupi berada dalam posisi berdiri dan membungkuk, fokus pada setiap detail. Akhirnya dia menegakkan tubuh. Yupi mendesah pelan sambil merenggangkan punggungnya yang terasa kaku dan pegal.

Setelah meletakkan penggaris dan pensilnya, dia melangkah mundur sedikit untuk memandangi hasil karyanya. Ada rasa puas yang terselip di hatinya melihat garis-garis itu bertemu dengan sempurna. Yupi kemudian membawa kertas gambarnya dan menyerahkannya kepada guru yang sudah menunggu di depan kelas.

Sambil berjalan kembali menuju mejanya untuk membereskan alat tulis, mata Yupi menyisir ke arah meja-meja lain. Dia melihat-lihat hasil gambar teman-temannya yang tidak kalah detail dan rapi, mengagumi bagaimana masing-masing dari mereka punya cara unik dalam menghidupkan sebuah desain bangunan di atas kertas putih.

Langkah kaki Yupi terhenti tepat di samping meja yang ditempati Hengky. Secara refleks matanya memindai detail bangunan yang sedang dikerjakan cowok itu. "Wih, keren," puji Yupi jujur. Gambar milik Hengky memang selalu punya karakter yang tegas.

Hengky yang tadinya membungkuk dalam segera menegakkan punggungnya. Dia menoleh ke arah Yupi dengan sisa-sisa konsentrasi yang masih tertinggal di matanya. "Punya lu udah selesai, Pi?" tanya Hengky, lalu kembali sibuk menggoreskan pensilnya untuk menyelesaikan detail terakhir.

"Iya, baru aja ngumpulin ke depan. Eh ini garis tepinya agak miring loh," sahut Yupi sambil menjulurkan jari mungilnya menunjuk ke bagian sudut kertas gambar Hengky.

Hengky menghentikan gerakannya sejenak, memperhatikan titik yang ditunjuk Yupi, lalu mangut-mangut setuju. "Iya juga ya. Ntar gue benerin kalau ini udah beres," jawabnya. Sambil tangannya kembali lincah menggerakkan dua penggaris segitiga di atas meja miring itu, Hengky bertanya dengan nada kasual namun cukup untuk membuat Yupi membeku. "Ngomong-ngomong, kenapa tiba-tiba diantar jemput sama si Alam?"

Yupi yang awalnya sedang asyik menonton gerakan pensil Hengky, kini justru terdiam sambil menatap wajah ganteng sahabatnya itu. Hengky masih fokus pada tugasnya, seolah pertanyaan itu hanyalah obrolan ringan biasa antar teman.

Dada Yupi mendadak bergemuruh. Lidahnya terasa kelu. Nggak mungkin kan dia langsung bilang yang sejujurnya sekarang? Atau sebenarnya inilah saatnya skenario itu dijalankan? Masalahnya Yupi mendadak merasa nggak siap untuk berbohong, apalagi saat menatap mata Hengky yang begitu jernih.

"Itu... Sebenernya gue sama dia—"

Kalimat Yupi menggantung di udara. Lidahnya terasa kelu, seolah ada batu yang menyumbat tenggorokannya tepat saat dia ingin meluncurkan kebohongan.

Tuk tuk tuk

Untungnya—atau mungkin malah sialnya—suara ketukan pelan di jendela kaca memecah ketegangan itu. Ketukan itu terdengar ringan, hanya suara kuku yang beradu dengan kaca. Di balik jendela, terlihat Aqil yang berdiri dengan gaya santainya. "Gue sama Alam nunggu di kantin!" teriaknya sedikit teredam kaca, sambil jarinya menunjuk asal ke arah lain.

Yupi spontan mengacungkan jempol sebagai tanda dia mengerti, sementara Hengky hanya mengangguk singkat.

Sebenarnya meskipun mereka sering nongkrong bareng, ada perbedaan kecil di antara mereka.

Di sekolah ini, jurusan Teknik Gambar Bangunan dibagi menjadi dua kelas, yaitu BB dan BC (Bangunan B dan Bangunan C). Yupi dan Hengky berada di kelas BC, sedangkan Alam dan Aqil di kelas BB. Lalu ada kelas BA untuk jurusan Teknik Konstruksi Kayu. Materi TKK masih berhubungan dengan TGB, bahkan bengkel Jurusannya pun sama, saling bergantian, maka jika disatukan dinamakan Teknik Bangunan. Yeay! Ngerti kan?

Balik lagi, karena perbedaan kelas itulah jadwal mata pelajaran mereka tidak selalu sama. Hari ini, ruang gambar memang sedang dikuasai penuh oleh anak-anak BC, itulah sebabnya Aqil dan Alam tidak memakai wearpack Jurusan, berbeda dengan Yupi dan Hengky yang masih lengkap dengan seragam praktik tersebut.

Setelah Aqil menghilang dari balik jendela Hengky kembali fokus menyelesaikan garis-garis terakhirnya. Sementara itu Yupi memutuskan untuk kembali ke mejanya sendiri.

Dia mulai merapikan alat-alat gambarnya yang masih berserakan di besi penyokong di bagian bawah sisi permukaan meja. Meja gambar yang miring memang punya risiko tinggi, kalau kamu ceroboh menaruh pensil atau penghapus di atas permukaannya, benda-benda itu pasti bakal meluncur jatuh ke lantai dalam sekejap.

📝

Hengky dan Yupi berjalan menyusuri koridor sekolah menuju kantin yang terletak di area pojok belakang. Biasanya perjalanan dua menit ini akan diisi dengan celotehan Yupi tentang apa saja, atau perdebatan kecil yang nggak penting. Namun hari ini suasana terasa berbeda. Ada keheningan yang canggung, seperti ada dinding transparan yang mendadak berdiri di antara mereka.

"Katanya hari ini Mami sama papi mau ke Bandung buat ngehadirin acara pernikahan. Siapa yang nikah?" Hengky akhirnya memecah keheningan itu.

Yupi menoleh sedikit terkejut. "Tau dari siapa?"

"Bunda. Tadi pagi ngasih tau pas lagi sarapan," jawab Hengky santai. Panggilan 'Bunda' untuk ibu Hengky dan 'Mami-Papi' untuk orang tua Yupi sudah menjadi hal yang lumrah bagi mereka yang tumbuh besar berdampingan sebagai tetangga.

Yupi mangut-mangut paham. Tangannya bergerak membenarkan letak jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sepupu gue, anak dari kakak perempuan Mami," jelasnya singkat.

"Ntar malam mau ditemenin nggak?" Hengky menawarkan diri. Seperti tawaran yang sudah-sudah selama bertahun-tahun ini.

"Ya?" Yupi mendongak, menatap wajah Hengky yang tampak tenang. Dia tahu maksud Hengky. Hengky sangat paham kalau Yupi itu tipe orang yang tidak bisa dan paling takut jika harus sendirian di rumah saat malam hari. Biasanya, Hengky akan datang membawa camilan atau sekadar main game di kamar Yupi sampai orang tua Yupi pulang.

Tapi Yupi teringat kembali pada tujuannya. Kalau dia terus-terusan bergantung pada kehadiran Hengky, kapan beban itu akan hilang?

Yupi menelan ludah, lalu menggeleng pelan. "Kayaknya nggak usah, Ky."

Jawaban itu keluar begitu saja, membuat langkah Hengky sempat melambat sebelum akhirnya kembali normal. Yupi membuang muka, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa menolak bantuan Hengky adalah langkah pertama yang benar dalam sandiwara ini, meski hatinya mencelos membayangkan rumah yang sepi nanti malam.

Hap!

Semuanya terjadi begitu cepat. Dalam sepersekian detik Hengky sudah berpindah posisi, melangkah lebar tepat ke hadapan Yupi. Tangan cowok itu terangkat cepat, menepis sebuah bola voli yang melesat kencang dan nyaris saja menghantam sisi wajah Yupi.

Yupi tersentak kaget. Langkahnya terhenti mendadak sampai dia hampir menabrak dada Hengky. Bahkan ujung hidungnya sempat mencium aroma samar dari kaus yang dikenakan Hengky karena jarak mereka yang sangat dekat.

"Eh sorry ya, temen gue dongo banget nembak bolanya!" Seorang siswa dengan seragam olahraga yang basah kuyup oleh keringat berlari menghampiri mereka. Tanpa permisi, dia langsung meraih tangan Yupi dan menyalaminya sebagai tanda permintaan maaf yang tulus namun agak terlalu bersemangat.

"Iya, nggak apa-apa kok," balas Yupi sambil meringis pelan. Dia bisa merasakan telapak tangan siswa itu yang lembap dan lengket karena keringat, membuatnya merasa sedikit risi.

"Tangan lu kotor, bro," potong Hengky dengan suara rendah yang terdengar dingin. Tanpa menunggu lama Hengky memotong paksa jabatan tangan itu sampai terlepas. "Lain kali hati-hati mainnya. Jangan terlalu pinggir, lapangan kan luas, lu pada mainnya di tengahan," lanjut Hengky memberi peringatan tegas. Matanya menatap tajam siswa tersebut, sementara tangannya kini justru berpindah menggenggam pergelangan tangan Yupi. Memastikan Yupi tetap berada dalam jangkauan amannya.

"Iya, iya, ampun. Sekali lagi sorry ya." Siswa itu kembali meminta maaf kepada Yupi sebelum akhirnya lari menyusul teman-temannya kembali ke lapangan.

Hengky kembali melangkah tanpa melepaskan genggamannya pada lengan Yupi. Mau tidak mau Yupi harus berjalan sedikit lebih cepat untuk menyelaraskan langkah dengan Hengky. Yupi menunduk menatap jemari Hengky yang melingkar erat di lengannya. Padahal Yupi baru saja berniat menjauh, tapi kenapa perlakuan Hengky yang seperti ini justru makin membuatnya sulit untuk lepas?

"Alam lagi?" Tanya Hengky tiba-tiba. Pertanyaan itu sukses membuat Yupi menghentikan langkah dan mengerutkan kening dalam-dalam, merasa bingung dengan arah pembicaraan ini.

Melihat ekspresi bingung Yupi, Hengky melanjutkan kalimatnya. "Lu nggak mau gue temenin karena nanti bakal ditemenin Alam? Gitu?"

Sontak Yupi mengibaskan kedua tangannya di depan dada, sebuah gestur 'bukan', sampai genggaman tangan Hengky di lengannya terlepas. "Enggak kok! Bahkan gue belum ngomong apa-apa soal Mami Papi ke Alam," jawab Yupi jujur.

"Belum? Berarti akan, ya 'kan?" pancing Hengky lagi. Dia menyipitkan mata, seolah sedang menginterogasi Yupi.

"Gue pun nggak kepikiran buat bilang," bantah Yupi lagi, meski suaranya mulai terdengar ragu.

"Tapi setelah ini lu jadi ada pikiran buat bilang ke Alam dan minta ditemenin, kan?" Hengky terus mendesak, tidak membiarkan Yupi bernapas lega.

Mata Yupi mulai bergerak gelisah memandang ke segala arah asal tidak beradu langsung dengan tatapan tajam Hengky. "Gak tahu... Gue nggak tahu," gumamnya pelan.

Dalam hati, Yupi mulai bimbang. Benar juga kata Hengky, ide itu baru saja terlintas di kepalanya. Kalau dia memang sedang bersandiwara jadi pacar Alam, bukankah seharusnya dia meminta bantuan Alam saja? Tapi apa Alam bakal mau direpotkan sampai harus menjaganya di rumah?

Belum sempat Yupi menyelesaikan pergulatan batinnya, Hengky sudah mengambil keputusan sepihak.

"Gak usah. Biar gue yang temenin. Ntar abis maghrib gue ke rumah lu," tegas Hengky. Dia langsung kembali berjalan setelah mengatakan itu seolah tidak mau memberi celah sedikit pun bagi Yupi untuk melayangkan penolakan.

Yupi hanya bisa berdeham pelan sebagai tanda mengiyakan yang sangat pasrah. Rencananya untuk menjauh dari Hengky hari ini sepertinya baru saja gagal total.

Begitu sampai di kantin suasana di sana sudah cukup ramai. Mereka langsung menuju meja panjang yang biasa mereka tempati. Di sana sudah ada Aqil dan Alam, tapi ada satu sosok lagi yang membuat Yupi harus menarik napas dalam-dalam. Larisa. Akhir-akhir ini kehadiran Larisa di meja mereka seolah sudah jadi pemandangan hampir biasa.

Sadar akan kehadiran Yupi, Alam langsung tersenyum lebar. Dia menepuk bagian kosong di kursi panjang kayu yang dia duduki, memberi isyarat agar Yupi duduk di sampingnya. Tanpa banyak bicara, Yupi mendekat dan duduk di sana. Sementara itu, Hengky memilih duduk di samping Aqil, yang berarti Aqil kini sedang diapit oleh Hengky dan Larisa.

"Tadi ngegambar ya?" tanya Alam sambil meraih tangan Yupi tanpa ragu. Dia memperhatikan telapak tangan Yupi yang ternoda abu-abu sisa gesekan pensil 2B. Alam mengusap noda itu pelan dengan jempolnya, mencoba membersihkannya meski malah makin melebar. "Kayaknya harus cuci tangan dulu, nih."

Yupi mengangguk setuju. Cowok mungil itu berdiri lagi dan melangkah menuju sudut kantin.

Melihat Yupi bergerak, Alam ikut bangkit dari duduknya. "Mau pesan apa? Nitip ke gue aja biar sekalian gue yang pesan," tawarnya kepada orang-orang di meja.

"Kayak biasa deh, mie ayam bakso tapi jangan pakai bihun!" seru Aqil semangat.

"Walau ada baksonya, bukan berarti mie ayam itu standar pakai bihun!" Alam melempar tusuk gigi ke arah Aqil. "Kalau lu mau apa, Sa? Ky?"

"Sama, gue juga mie ayam, tapi nggak usah pakai bakso ya," sahut Larisa dengan senyum manisnya.

"Ky?" tanya Alam pada Hengky.

"Kayak biasa," jawab Hengky singkat.

"Oke!" Alam melangkah menjauh. Namun sebelum benar-benar menuju stan makanan, dia menyusul Yupi yang masih berada di depan wastafel.

Pemandangan itu tidak lepas dari pantauan Hengky. Matanya terus mengikuti gerak-gerik Alam yang menghampiri Yupi. Hengky melihat bagaimana Alam dengan santai menyenggol bahu Yupi, membisikkan sesuatu—mungkin menanyakan pesanan Yupi—lalu dengan usil menyipratkan air ke wajah Yupi.

Yupi tampak kaget, wajahnya menunjukkan ekspresi kesal yang lucu sambil mencoba mengelap wajahnya, sementara Alam tertawa lepas dan berlari kecil menjauh menuju penjual mie ayam. Hengky hanya diam memperhatikan interaksi itu dengan tatapan yang sulit diartikan, sementara tangannya tanpa sadar meremas botol saus di depannya.

"Tadi lu gambar pake dua titik hilang ya? Ntar bantuin gue dong. Kemarin gue juga dapet tugas itu, terus karena belum kelar akhirnya dilanjut di rumah," celetuk Aqil kepada Hengky. Rupanya diam-diam Aqil tadi sempat mengintip progres gambar Hengky dari balik kaca jendela ruang gambar.

"Emang boleh dibantuin tangan orang lain?" Larisa menanggapi dengan nada bertanya, matanya bergantian menatap Aqil dan Hengky.

"Ya nggak boleh," sahut Hengky, terdengar patuh pada aturan.

Aqil berdecak kesal. "Duh, lu nggak ngerti susahnya gimana sih, Sa. Rumit banget desainnya."

"Lu juga nggak ngerti susahnya matpel jurusan TKJ, Qil," balas Hengky telak, yang langsung disambut tawa renyah dari Larisa.

"Tapi kalau minta saran desain sih kayaknya nggak apa-apa, kan Ky? Asal gambar finalnya jangan dibantuin," kata Larisa sambil menatap Hengky, seolah mencari dukungan atas pendapatnya.

Hengky terkekeh. "Ya ayo kalau cuma saran mah. Tapi kalau Aqil yang minta tolong, rasa-rasanya nggak bakal berhenti di saran doang."

Setelah mengatakan itu Hengky tertawa bareng Larisa. Keduanya seolah sedang bersekongkol menyerang Aqil, membuat Aqil merasa terkepung di antara dua orang itu. Saking asyiknya mereka bercanda dan saling lempar argumen, mereka sampai nggak sadar kalau Yupi sudah kembali dari wastafel.

Yupi duduk dalam diam, kembali ke posisinya di bagian kosong kursi panjangnya bersama Alam. Dia hanya memperhatikan interaksi di depannya tanpa suara.

Lagi-lagi Yupi harus menyaksikan pemandangan itu. Dia mendapati binar di mata Hengky yang begitu hidup saat cowok itu tertawa bersama Larisa.

Nggak lama kemudian Alam datang membawa nampan kayu besar berisi lima mangkuk mie ayam yang uapnya masih mengepul.

"Wush, wush! Air panas, air panassss!" seru Alam heboh. Dia menaruh nampan itu di tengah meja, dan satu per satu temannya langsung sigap mengambil mangkuk sesuai pesanan masing-masing.

Melihat tingkah lebay Alam, Yupi tertawa pelan. "Kuat banget langsung bawa sekaligus lima mangkuk."

Alam yang masih berdiri menunduk sedikit ke arah Yupi. "Makanya, lu nggak bakal rugi kalau sama gue, Yang," sahutnya sambil memainkan kedua alisnya naik-turun dengan ekspresi jenaka.

"Yang? yang mana tuh?" Aqil mengerutkan kening, merasa ada yang aneh dengan pendengarannya.

Alam akhirnya duduk di samping Yupi, lalu berbisik pelan tepat di telinga lelaki manis itu. "Belum ngomong ke siapa-siapa?" Yupi hanya berdeham singkat tanpa menoleh, malah mendadak sibuk memisahkan sumpit kayu dan mengaduk mie ayamnya. Melihat sikap Yupi yang tampak kaku, Alam menghela napas panjang. "Bisa-bisanya..." gumamnya. Tangannya tiba-tiba melayang, mengusak rambut Yupi dengan gerakan yang sangat santai.

Gerakan itu sukses mengalihkan atensi tiga orang lainnya di meja.

"Weh, apaan sih? Geli gue liatnya," komentar Aqil sambil merenyitkan dahi, merasa janggal melihat sikap Alam yang mendadak semanis itu pada Yupi.

"Yailah, jomblo mana ngerti," timpal Alam santai sambil mulai menyuap mienya.

"Ngaca! Kayak situ bukan jomblo aja," balas Aqil sebal.

"Ups, sorry ya, kita nggak level. Gue udah punya gandengan. Anjayyyy!" Alam menaruh sela ibu jari dan telunjuknya di bawah dagu, berpose jumawa yang sangat menyebalkan.

Yupi yang sedang mengaduk mie ayam langsung memejamkan mata erat-erat. Jadi Alam mau memulai sandiwara ini sekarang? Duh, rasanya Yupi ingin menghilang saja.

"Anjir? Siapa? Siapa orang yang nggak beruntung itu? Sial banget dapet modelan kayak lu. Pasti lu main santet, kan?!" Cecaran Aqil itu membuat Larisa dan Hengky hampir menyemburkan tawa mereka.

"Si monyet! Lu jangan gitu lah. Sama saja lu lagi merendahkan selera pacar gue," protes Alam tak terima. Dia kemudian menoleh ke arah Yupi yang masih menunduk. "Jangan diem aja, belain pacar sendiri dong."

"HAH??!" Aqil spontan menggebrak meja, membuat mangkuk-mangkuk di atasnya bergetar. "YUPI, LU NYIMENG APAAN SEMALEM?! YANG BENER AJA!"

Suasana meja yang tadinya ramai dengan candaan mendadak hening karena syok, sementara Yupi hanya bisa menelan ludah dengan susah payah, tidak berani melirik ke arah Hengky yang kini tengah membeku.

📝

Mata pelajaran Sejarah Indonesia resmi berakhir, menutup jadwal sekolah hari ini. Yupi segera membereskan buku dan alat tulisnya ke dalam tas dengan gerakan cepat. Setelah menyalami tangan guru di depan kelas, dia berdiri di ambang pintu, menunggu Hengky. Rasanya sudah jadi refleks tubuh meskipun nanti dia akan pulang bersama Alam, senggaknya perjalanan menuju parkiran masih bisa dia habiskan bersama sahabatnya itu.

"Pi, kebiasaan lupaan mulu," tegur Hengky yang baru saja keluar kelas sambil menyodorkan Drafting Tube hitam milik Yupi. Pemiliknya benar-benar lupa kalau tabung gambar itu masih tertinggal menggantung di sandaran kursi.

"Eh, iya. Makasih ya," sahut Yupi. Dia meraih Tube itu dan menyampirkannya di satu bahu.

Keduanya mulai berjalan beriringan menyusuri koridor menuju parkiran. Keheningan sempat menyelimuti mereka beberapa saat sampai akhirnya Hengky membuka suara.

"Jujur gue kaget sih. Apalagi lu nggak pernah cerita soal ketertarikan lu ke Alam."

Yupi menoleh sebentar, mencoba membaca raut wajah Hengky. Dia mencari-cari apakah ada sedikit saja ganjalan di sana. Namun wajah Hengky tampak biasa saja—tenang, datar, dan matanya lurus menatap ke depan. Melihat itu ada rasa sedih yang menyelinap di hati Yupi. Rupanya Hengky benar-benar tidak terpengaruh. Ternyata semudah itu bagi Hengky menerima kenyataan bahwa perasaan Yupi yang dulunya hanya untuk dia, kini sudah berganti haluan.

Yupi kembali menatap ke depan, berusaha menyembunyikan kekecewaannya. "Agak malu aja kalau harus cerita gue naksir dia," jawabnya asal. Dia cuma berusaha menjawab, dia sendiri bingung harus bicara apa karena hubungannya dengan Alam kan cuma karangan.

"Malu?" Kali ini Hengky menoleh sepenuhnya ke arah Yupi, langkahnya sedikit melambat. "Kenapa malu? Dulu lu kelihatan nggak malu waktu bilang kalau lu suka gue."

Seketika Yupi membuang wajah ke arah lain. Pipinya memanas, merona merah sampai ke telinga. Rasanya seperti baru saja disiram air dingin di pagi hari. Kenapa Hengky harus membahas itu sekarang? Memori satu tahun yang lalu di perpustakaan, saat mereka sedang menukar buku paket semester lama ke semester baru, tiba-tiba terputar jelas di kepalanya.

Yupi meremas tali tasnya kuat-kuat, bingung harus membalas apa tanpa membuat pertahanannya runtuh. Skenario yang dia buat bersama Alam seharusnya mempermudah segalanya, tapi kenapa rasanya malah makin memusingkan? Sebab setelah melakukan kebohongan tersebut Yupi dipaksa harus membuat kebohongan-kebohongan lainnya.

"Tapi serius ini, Pi?" Hengky bertanya lagi, nadanya kali ini penuh keraguan yang tidak bisa dia tutupi. "Maksud gue, dari sisi lu-nya. Karena kalau dari Alam, gue sendiri bisa ngerti."

Yupi mendadak berhenti berjalan. Dia memutar tubuh sepenuhnya menghadap Hengky, membuat laki-laki itu ikut terhenti. Mereka berdiri berhadapan di tengah koridor yang mulai sepi. Kening Yupi berkerut dalam, merasa ada yang aneh dengan kalimat terakhir Hengky.

"Maksudnya? Emang apa bedanya gue sama Alam?" tanya Yupi menuntut penjelasan.

"Karena baru setahun yang lalu lu bilang suka sama gue," balas Hengky sambil bersedekap dada. Matanya menatap Yupi lekat-lekat. "Itu bikin gue ragu. Gue juga nggak nyium-nyium sikap lu yang nunjukin kalau lu emang demen sama Alam."

Yupi merasa tersudut, tapi dia tidak boleh kalah sekarang. Dia harus menjaga benteng pertahanannya. "Perasaan setiap orang bisa berubah, Ky," dia mencoba terdengar setegas mungkin meski hatinya gemetar.

Hengky termenung sebentar, matanya seolah sedang membedah isi kepala Yupi. "Oh, ya?" gumamnya pelan. Dia menganggukkan kepala berkali-kali. Tipe anggukan yang di mata Yupi terasa sangat menyebalkan karena seolah-olah Hengky sedang meremehkannya. "Gue harap lu nggak ngecewain Alam."

Setelah mengatakan itu, Hengky kembali berjalan begitu saja.

Rasa kesal mendadak menyulut emosi Yupi. Dia segera menyusul dan menahan lengan Hengky dengan kuat. "Maksudnya apa?" seru Yupi, suaranya naik satu oktav. "Kenapa lu khawatir banget Alam bakal gue kecewain? Dan kenapa lu yakin banget dia bakal kecewa?"

Hengky melangkah maju, memperpendek jarak hingga Yupi terpaksa sedikit mendongak. Atmosfer di antara mereka mendadak terasa berat.

"Karena Alam beneran suka sama lu, Pi," bisik Hengky rendah. "Gue yang jadi telinga dari semua kejujurannya selama ini."

Detik itu juga telinga Yupi serasa berdengung. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Dunia di sekelilingnya mendadak hening. Fakta itu menghantamnya seperti ombak besar yang tak terduga. Alam? Suka padanya? Jadi, bantuan Alam selama ini bukan cuma karena kasihan?

Yupi terpaku. Raut wajahnya berubah pias, bingung, dan ada rasa bersalah yang tercampur jadi satu. Dia tidak tahu harus membalas apa. Lidahnya benar-benar kelu.

Hengky mundur selangkah, memberi jarak lagi. Sudut bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti saat melihat reaksi Yupi yang tampak sangat terkejut. Dari sana Hengky seolah baru saja mendapatkan jawaban yang dia cari tanpa perlu Yupi bicara.

Tanpa berkata apa-apa lagi Hengky menarik lembut lengan Yupi, menuntunnya untuk kembali berjalan menuju parkiran. Dia tahu kalau nggak ditarik seperti ini Yupi pasti bakal tetap mematung di sana sampai sekolah dikunci satpam.

Langkah kaki mereka akhirnya membawa keduanya sampai di area parkiran motor yang mulai lengang.

"Tuh, udah ditungguin," ucap Hengky datar sambil menunjuk ke satu arah. Di sana, Alam sudah bertengger santai di atas jok motor Satria miliknya, tampak sedang memainkan ponsel sambil menunggu kedatangan Yupi.

Hengky berjalan lebih dulu melewati Alam menuju motor matic-nya sendiri yang terparkir tak jauh dari sana. Namun tepat saat melewati Alam, Hengky melambatkan langkah. Dia mencondongkan tubuh sedikit lalu berbisik cukup rendah namun tajam di telinga Alam.

"Btw, dia nggak suka naik motor kayak gini," ucap Hengky sambil menepuk pelan jok belakang motor Satria milik Alam, seolah sedang memamerkan betapa dia jauh lebih mengenal Yupi.

Alam terdiam sejenak, matanya mengikuti punggung Hengky yang menjauh dengan langkah tenang. Ada aura tidak biasa yang terpancar dari sahabatnya itu. Terasa seperti provokasi halus. Alam berdecih pelan, menyadari ada sesuatu yang sedang dimainkan Hengky.

Begitu Yupi sampai di dekatnya, Alam langsung turun dari motor. Dia menyadari perubahan drastis pada Yupi, lelaki mungil itu menatapnya dengan tatapan yang luar biasa kikuk, bahkan gerakan tangannya saat membetulkan tali tas tampak kaku dan tampak serba salah.

Alam kembali menoleh ke arah Hengky yang kini sedang memakai helmnya. Ada yang aneh.

"Pi?" panggil Alam pelan, mencoba memecah kekakuan Yupi. "Lu... nggak apa-apa?"

Yupi hanya mengerjap cepat, pikirannya masih dipenuhi oleh kalimat Hengky di koridor tadi.

“Karena Alam beneran suka sama lu, Pi”

Sementara di sisi lain, Alam mulai menyadari bahwa Hengky mungkin sudah tahu sesuatu yang seharusnya nggak dia ketahui.

📝

Yupi keluar dari kamar mandi dengan aroma sabun yang segar, jemarinya sibuk menggosok rambut yang basah sebelum akhirnya mendarat di depan meja rias. Di depan pendar lampu meja rias yang terang, dia mulai melakukan rutinitas yang sudah menjadi kebiasaan sejak menginjak usia remaja. Menepuk-nepuk hydrating toner ke wajah, menggunaksn pelembab, lalu mengoleskan lip balm aroma apel yang manis—semuanya adalah pilihan Mami.

Yupi memang dibesarkan dalam balutan perhatian yang berbeda. Meja rias cantik ini adalah buktinya. Di kamar Hengky, Aqil atau Alam tidak mungkin punya sudut seperti ini. Di mata orang tuanya, Yupi adalah permata yang harus dijaga dan Yupi tumbuh dengan menerima keistimewaan itu sebagai bagian dari dirinya.

Drrttt!

Ponsel di atas meja bergetar. Yupi segera meraihnya.

'Gue udah di depan rumah lu,' pesan singkat dari Hengky terpampang di layar.

Seketika dia melempar ponselnya ke kasur dan mendadak panik menatap pantulan dirinya di cermin. Handuk di atas kepalanya ditarik kasar, rambut disisir secepat mungkin agar tidak terlihat berantakan.

Dia ingin terlihat biasa saja, tapi tangannya yang sedikit gemetar tidak bisa berbohong.

Setelah menarik napas panjang untuk menenangkan debar jantung yang bertalu-talu, Yupi melangkah menuju pintu utama. Dia berhenti sejenak di balik pintu, memejamkan mata, lalu perlahan memutar kunci.

Begitu pintu terbuka, sosok Hengky langsung menyapa indra penglihatannya. Cowok itu berdiri santai mengenakan kaus abu-abu tua yang membungkus bahu tegapnya dengan pas, dipadukan dengan celana cargo hitam. Sederhana, tapi di mata Yupi Hengky selalu punya cara untuk terlihat berkali-kali lipat lebih tampan dari biasanya.

Ganteng banget! Tahan diri lu, Yupi! jerit batinnya.

Yupi tidak sadar bahwa di sisi lain, Hengky juga sedang memperhatikannya. Mata Hengky sempat menyapu penampilan Yupi yang hanya mengenakan tanktop putih bergaris-garis hitam dan celana pendek di atas lutut. Hanya saja, Hengky terlalu ahli dalam menyembunyikan ekspresi melalui wajah datarnya.

"Masuk, Ky," ucap Yupi pelan.

Rasanya aneh. Sangat aneh. Padahal biasanya Hengky akan langsung nyelonong masuk tanpa perlu dipersilakan seperti tamu.

Setelah pintu tertutup rapat Yupi berjalan masuk lebih dalam ke dalam rumah dengan langkah yang terasa sedikit lebih berat dari biasanya, sementara Hengky mengekor tenang di belakang. Hengky langsung menghempaskan tubuhnya di sofa kulit hitam yang empuk di ruang tengah, sedangkan Yupi memilih untuk pergi ke dapur. Dia meraih botol soda ukuran besar dan dua gelas, lalu membawanya ke ruang tengah sebagai bentuk jamuan yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan karena biasanya Hengky akan langsung menggeledah kulkasnya sendiri.

Yupi duduk di sisi Hengky, tapi tidak terlalu dekat. Dia duduk dengan punggung tegak kaku, menatap lurus ke arah televisi yang bahkan belum menyala. Di sampingnya, Hengky diam-diam memperhatikan. Kening cowok itu berkerut tipis melihat betapa tegangnya Yupi malam ini. Tangan mungil itu bertaut erat di pangkuan, saling meremas kelihatan sekali sedang menahan kegugupan.

Sudut bibir Hengky menyunggingkan senyum tipis. Dia mencondongkan tubuh, meraih botol soda dan menuangkannya ke dalam gelas dengan gerakan tenang.

Atensi Yupi teralih. Matanya mengikuti setiap pergerakan tangan Hengky, lalu naik perlahan saat Hengky mulai menyesap minuman dingin tersebut. Pandangan Yupi terpaku pada satu titik, jakun Hengky yang bergerak naik-turun dengan tegas saat cowok itu menelan cairannya.

Gila, boleh gak sih kalau Yupi pegang jakun itu sebentar saja? Pikiran itu melintas begitu saja, liar dan tak terkendali, membuat wajah Yupi semakin memanas.

Hengky menyadari tatapan intens itu. Dia berhenti minum, menurunkan gelasnya, lalu menaruhnya kembali ke atas meja kaca. Hengky menoleh sepenuhnya ke arah Yupi, membuat Yupi terjebak dalam kontak mata yang tidak bisa dia hindari.

Mata Yupi membulat sempurna, jantungnya serasa berhenti berdetak saat menyadari dia tertangkap basah sedang memandangi jakun Hengky. Ingin rasanya dia membuang muka, tapi tatapan Hengky seolah memiliki daya magnet yang mengunci pergerakannya, membuatnya tetap terpaku di tempat.

Hengky tidak langsung bicara. Tatapannya justru mulai berkelana, menyisir setiap inci wajah Yupi dengan perlahan. Dia menatap mata Yupi yang selalu tampak bersinar seperti ada taburan bintang di dalamnya. Turun ke hidung kecil yang mancung namun memberikan kesan imut yang khas. Pandangannya bergeser ke pipi putih yang kini sudah dihiasi semburat merah muda yang semakin nyata, sebelum akhirnya berhenti di belah bibir merah muda yang sedikit terbuka karena terkejut.

Tanpa peringatan, Hengky menyerongkan tubuhnya. Dia mencondongkan leher, membawa wajahnya begitu dekat hingga Yupi bisa merasakan deru napasnya. Jarak yang terkikis itu membuat Yupi berkedip cepat, salah tingkah.

Hengky mengangkat tangan kanannya. Dengan gerakan yang sangat lembut, ibu jarinya mengusap bibir bawah Yupi, menghapus sedikit sisa lip balm yang tadi dioleskan lelaki manis itu. Hengky kemudian menarik tangannya kembali, memandangi ibu jarinya yang kini mengkilat dan bernoda merah muda tipis.

Melihat noda di ibu jari Hengky, Yupi bereaksi tanpa berpikir panjang. Dia segera meraih tangan Hengky lalu menariknya ke arah perutnya sendiri. Yupi mengangkat sedikit bagian bawah tanktop putihnya, menggunakan kain tersebut untuk mengelap sisa lip balm di jari Hengky sampai bersih.

Hengky membeku, napasnya tertahan sesaat. Dia tidak menyangka Yupi akan seberani itu. Punggung jari-jarinya yang lain secara tidak sengaja bersentuhan langsung dengan kulit perut Yupi yang halus, putih bersih dan terasa hangat. Sentuhan yang tidak direncanakan itu menciptakan sengatan listrik untuk Hengky.

Hengky sadar sudah lancang, tapi sensasi kulit halus di bawah jemarinya terlalu sulit untuk diabaikan begitu saja. Bukannya menjauh, jemari Hengky justru sengaja bergerak pelan, mengelus permukaan perut Yupi dengan gerakan melingkar yang lembut.

Merasakan sentuhan itu, gerakan tangan Yupi yang tadi sibuk mengelap ibu jari Hengky seketika terhenti. Dia perlahan mengangkat wajahnya yang sempat tertunduk, kembali beradu tatap dengan Hengky. Ruangan itu mendadak sunyi, hanya menyisakan deru napas yang saling bersahutan. Yupi tidak menolak, dia membiarkan jari-jari Hengky terus menjelajahi kulitnya, menciptakan sensasi menggelitik yang menjalar ke seluruh tubuh.

Seolah tak mau kalah, tangan Yupi sendiri kini mulai terangkat. Dengan jari telunjuk yang teracung ragu namun pasti, dia mendekatkan tangannya ke leher Hengky. Jantungnya berdebar kencang saat ujung jarinya akhirnya mendarat di titik tujuan yaitu jakun Hengky yang menonjol tegas.

Yupi menekankan jarinya dengan sangat pelan di sana. Dia bisa merasakan getaran kuat di bawah kulit itu saat Hengky meneguk ludahnya sendiri dengan susah payah.

"Impas, kan?" gumam Yupi pelan, suaranya hampir menyerupai bisikan.

"Impas?" Hengky sempat tertegun, menatap Yupi dengan ekspresi bingung sejenak sebelum akhirnya tawa kecil meluncur dari bibirnya. "Oh, iya... ini impas."

Hengky tertawa pelan, sebuah tawa yang meruntuhkan ketegangan dingin di antara mereka tadi sore. Yupi ikut tersenyum lebar melihat tawa Hengky yang begitu merdu. Mata Hengky melengkung seperti bulan sabit, juga terdapat mole di samping mata kanannya, sebuah detail yang selalu menjadi favorit Yupi.

Jari-jari Yupi yang tadinya mengepal kini terbuka. Sentuhannya perlahan naik dari jakun menuju rahang tegas Hengky. Dia meraba garis rahang itu dengan penuh kekaguman, sebuah garis wajah maskulin yang sangat kontras dengan miliknya sendiri. Kalau sudah begini, Yupi merasa rencananya untuk menghapus perasaan terhadap Hengky hanyalah omong kosong. Bagaimana bisa dia menjauh jika setiap inci dari cowok ini adalah alasan baginya untuk terus jatuh cinta?

Tatapan Yupi beralih terpaku pada bibir Hengky. Dia tanpa sadar menggigit bibir bawahnya sendiri, mencoba meredam gejolak di dadanya.

“Hengky...”

“Hm?”

Hening... Yupi sedang memertimbangkan untuk mengucapkan keinginannya.

“Boleh?” tanya Yupi dengan suara yang hampir menghilang.

Hengky sangat mengerti arah mata yang berkilau itu. Dia bisa merasakan napas Yupi yang mulai memburu. Dengan sebuah dehaman rendah, Hengky memberikan izinnya.

Yupi menggeser duduknya, merapat hingga tak ada lagi celah di antara mereka. Tangan Hengky perlahan melingkar di pinggang ramping Yupi, menariknya lembut untuk semakin mendekat. Kedua tangan Yupi kini menangkup rahang Hengky dengan pasti, tidak lagi sekadar meraba, melainkan memegang penuh dengan perasaan yang membuncah.

Hembusan napas mereka bertabrakan, hangat dan memabukkan. Yupi memiringkan wajahnya, perlahan mencoba menggapai bibir Hengky. Ujung hidung mereka sempat bersenggolan, membuat Yupi semakin memiringkan kepalanya untuk mencari posisi yang pas. Jantungnya berdebar kencang saat jarak di antara bibir mereka perlahan-lahan terkikis habis.

Mata Yupi perlahan menutup, menyerahkan seluruh dirinya pada momen itu. Hengky sendiri masih membuka mata, menyaksikan wajah feminin yang cantik itu berada begitu dekat dengannya.

Namun tepat saat cupid’s bow kedua bibir itu nyaris bersentuhan, seluruh ruangan tiba-tiba gelap gulita. Bersamaan dengan itu, suara petir menggelegar dahsyat di luar rumah, memecah kesunyian malam.

Duar!

Yupi tersentak kaget, matanya terbuka lebar. Refleks ketakutannya mengalahkan segalanya, apalagi ketika melihat seisi ruangan gelap gulita, dia langsung melompat ke arah Hengky dan melingkarkan tangannya erat di leher cowok itu. Gerakan tiba-tiba itu membuat tubuh Hengky sedikit terdorong ke sandaran sofa.

“H—Hengky..” Yupi bergumam gemetar.

Hengky segera merogoh saku celana cargonya. Dia meraih ponsel, membuka kunci dan menyalakan fitur senter untuk menerangi kegelapan pekat yang melanda.

“Sstt, tenang. Ini udah nyalain senter,” bisik Hengky tenang. Tangannya yang bebas bergerak mengelus punggung Yupi.

Perlahan Yupi melepaskan pelukannya. Dalam temaram cahaya senter yang tidak terlalu terang, dia bisa melihat wajah Hengky yang masih berada di depannya. Hengky menaruh ponselnya di atas meja dengan posisi layar menghadap ke bawah, membuat cahaya senter memantul ke langit-langit dan memberikan penerangan remang-remang di ruang tengah.

Menyadari betapa intimnya posisi mereka barusan, Yupi merasa wajahnya kembali memanas. Dia sedikit menggeser bokongnya untuk memberi jarak.

“Nggak mau dilanjut?” celetuk Hengky tiba-tiba dengan nada menggoda.

Yupi spontan menoleh dan memukul bahu Hengky cukup keras. “Ish!”

Hengky tertawa renyah, merasa sukses menggoda Yupi yang kini mengerucutkan bibirnya dalam kegelapan.

📝

Pagi ini udara terasa sejuk saat jam pelajaran olahraga dimulai sebagai sesi pembuka. Setelah berpisah dengan Alam di parkiran, Yupi melangkah menuju lapangan basket. Di sana ada beberapa teman sekelasnya yang sudah berkumpul menciptakan keriuhan kecil khas murid-murid.

Yupi mendekat ke arah sudut lapangan yang dibatasi jaring-jaring besi, menyapa teman laki-laki dengan tos akrab sebelum akhirnya ikut duduk bersila di semen lapangan yang dingin. Namun fokus Yupi tidak bertahan lama pada obrolan tentang game atau hasil pertandingan bola semalam. Matanya tanpa sengaja menangkap dua sosok yang berjalan beriringan di kejauhan, melintasi pinggir lapangan.

Hengky dan Larisa.

Mereka tampak sangat serasi. Sesekali Larisa tertawa sambil menepuk bahu Hengky dan Hengky menanggapi dengan senyum lebar yang terlihat cerah.

Seketika memori tadi malam berputar kembali di kepala Yupi. Sentuhan jari Hengky di perutnya, jemari Yupi di jakun Hengky, hingga momen nyaris ciuman yang digagalkan oleh suara guntur. Yupi merasa hatinya mencelos. Melihat pemandangan di depannya, dia sadar bahwa apa yang terjadi semalam mungkin karena Hengky terbawa suasana saja.

Yupi menunduk menatap ujung sepatunya sendiri. Dia merasa bodoh karena sudah terlalu senang, bahkan sampai membiarkan wajah tampan Hengky menghiasi mimpinya semalam.

Bahkan tadinya Yupi sempat berpikir untuk bicara pada Alam dan mengakhiri kebohongan hubungan mereka karena merasa ada harapan dengan Hengky. Tapi sekarang, melihat kedekatan Hengky dan Larisa yang begitu asyik keyakinan itu runtuh seketika. Yupi menarik napas panjang, mencoba memantapkan hatinya kembali. Sepertinya sandiwara ini memang harus terus berlanjut. Dia harus tetap menjadi pacar Alam sampai Hengky dan Larisa benar-benar bersatu, demi memastikan sahabatnya itu mendapatkan kebahagiaan yang diinginkannya, meski itu bukan bersamanya.

Seluruh siswa dan siswi segera berbaris rapi saat guru olahraga melangkah memasuki area lapangan basket dengan buku absen di tangannya. Setelah sesi absensi selesai, perintah untuk berdiri pun diberikan, menandakan dimulainya sesi pemanasan wajib sebelum masuk ke materi inti.

Guru berdiri di barisan paling depan, memimpin gerakan demi gerakan yang diikuti dengan hitungan serempak oleh para murid. Di tengah riuhnya suara hitungan itu, Hengky yang berada di posisi agak jauh secara tidak sadar terus melayangkan pandangannya ke arah Yupi. Sejak menginjakkan kaki di sekolah pagi ini, belum ada satu pun kata yang terucap di antara mereka. Yupi tampak lebih diam, bahkan tidak sekali pun melirik ke arahnya.

Instruksi berganti. Guru meminta semua murid untuk mengangkat satu kaki dan menekuknya ke belakang, sebuah gerakan klasik untuk melatih keseimbangan. Hengky melakukan gerakan itu dengan mudah, namun matanya tetap tertuju pada sosok Yupi. Dia menonton bagaimana tubuh mungil di seberang sana mulai goyah, bergerak-gerak lucu demi menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh.

Sayangnya Yupi gagal bertahan. Si manis itu kehilangan tumpuannya dan jatuh terduduk di atas kerasnya lantai semen lapangan. Sontak gelak tawa pecah dari beberapa murid di sekitarnya. Bukannya marah Yupi justru ikut tertawa kecil sambil meringis pelan, mengusap bagian belakangnya yang terasa sedikit berdenyut.

Saat hendak bangkit untuk berdiri kembali mata Yupi secara tidak sengaja bersirobok dengan mata Hengky. Selama beberapa detik tatapan mereka terkunci. Sadar akan tatapan intens sahabatnya itu, Yupi dengan gerakan cepat langsung membuang muka. Dia segera berdiri tegak merapikan barisannya dan kembali mengikuti gerakan pemanasan dengan sisa wajah yang mulai memerah, menyisakan Hengky yang masih mematung menatap tempat di mana Yupi tadi terjatuh.

“Sekarang semuanya cari teman buat bantu nahan kaki salah satu dari kalian saat bergantian sit up!” Perintah guru olahraga lantang sambil menepuk tangan berkali-kali, mengisyaratkan agar semua bergerak cepat.

Yupi langsung menoleh ke kanan dan kiri dengan sedikit panik. Dia mencari-cari kawan yang sekiranya masih belum punya pasangan, tapi setiap kali matanya menangkap satu orang, orang itu sudah lebih dulu ditarik oleh teman yang lain. Saat matanya melihat salah satu cowok yang masih berdiri sendirian di barisan depan, Yupi merasa lega.

Baru saja dia melangkah dua kali untuk mendekati cowok itu, tiba-tiba pergelangan tangannya ditarik dengan kuat dari belakang. Secara refleks Yupi memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang berani menghalangi langkahnya.

Ternyata itu Hengky.

“Sama gue aja,” ucap Hengky singkat, dari nadanya tidak menerima bantahan. Yupi sempat membuka mulutnya hendak menolak atau setidaknya memberikan alasan tapi pikirannya mendadak buntu. Bukankah akan terlihat sangat aneh kalau dia tiba-tiba menolak bantuan sahabatnya sendiri tanpa alasan yang jelas? Akhirnya Yupi kembali menutup mulut dan pasrah mengikuti tarikan tangan Hengky menuju area yang kosong.

“Semuanya duduk berhadapan!” Seru guru olahraga lagi.

Seluruh murid segera menurut, membentuk dua baris panjang yang saling berhadapan satu sama lain. Suasana lapangan kini penuh dengan keriuhan kecil saat mereka mengatur posisi.

“Barisan sebelah kiri tangan Bapak, silakan berbaring dengan dua kaki ditekuk. Barisan sebelah kanan, pegang kaki atau sepatu teman kalian. Tahan kaki mereka sekuat mungkin.”

Yupi yang kebetulan berada di barisan sebelah kiri, mulai membaringkan tubuhnya di atas semen lapangan. Dia menekuk kedua lututnya, dan sedetik kemudian sepasang tangan besar Hengky langsung mengunci sepatunya dengan kuat.

“Barisan kiri mulai sit up! Temannya bantu hitung. Mulai!”

Yupi menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan tenaga. Setiap kali dia mengangkat tubuhnya untuk melakukan satu gerakan sit up, wajahnya akan naik dan berakhir tepat di depan wajah Hengky yang sedang menatapnya lekat dari posisi jongkok. Aroma parfum Hengky yang samar bercampur keringat tipis mendadak memenuhi indra penciumannya, membuat fokus Yupi buyar di hitungan pertama.

Olahraga memang bukan kegiatan favorit Yupi, dan itu terlihat jelas sekarang. Tubuhnya tampak kepayahan setiap kali harus mengangkat beban tubuh ke atas. Matanya terpejam erat dengan dahi berkerut, sesekali mengeluarkan erangan kecil yang terdengar lucu di telinga Hengky. Dia berjuang mati-matian untuk bangun, namun jatuh berbaring kembali dengan sangat mudah seolah gravitasi sedang mengerjainya.

Di hadapannya Hengky menonton setiap pergerakan itu dengan saksama. Sudut bibirnya terangkat tipis. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum melihat ekspresi payah namun menggemaskan dari sahabatnya itu.

“Delapan belas... sembilan belas... dua puluh...” Hengky menghitung dengan nada santai, matanya tidak lepas dari wajah Yupi yang memerah.

Setelah hitungan kedua puluh, Yupi memutuskan untuk berhenti. Dia tetap pada posisi duduk, mencoba mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Keringat mulai mengucur dari pelipisnya dan tangannya refleks memegangi perut yang terasa sedikit kram karena otot-ototnya dipaksa bekerja keras.

Melihat itu Hengky mengulurkan punggung tangannya, mengusap pelan keringat yang mengalir di kening Yupi. “Mau udahan?” tanya Hengky dengan nada yang jauh lebih lembut, merasa agak kasihan melihat Yupi yang sudah hampir kehabisan napas.

Yupi mengangguk cepat sambil meringis pelan. Dia mengubah posisi duduknya menjadi bersila, menunggu durasi waktu untuk barisannya selesai. Tangannya meraba punggung baju olahraganya yang terasa tidak nyaman, mencoba menepis kerikil-kerikil kecil yang menempel di sana.

Sementara itu, tangan Hengky kembali bergerak. Kali ini dia menyingkirkan helaian rambut Yupi yang menggumpal karena peluh dan menempel berantakan di kening. Dengan gerakan telaten, Hengky menyisir rambut itu ke samping, lalu menyelipkan helaian di dekat telinga Yupi ke belakang daun telinganya.

“Rambut lu udah panjang,” gumam Hengky.

Yupi tertegun sejenak sebelum menjauhkan tangan Hengky dari rambutnya. “Kemarin-kemarin sempat kepikiran mau potong,” sahutnya kikuk.

“Kayaknya potong sedikit aja deh, Pi. Abis itu tinggal dirapiin doang. Gue pikir... bakalan cantik,” saran Hengky tanpa beban.

Yupi berdebar. Kata terakhir itu bergema di kepalanya. Cantik? Hengky baru saja membayangkan dirinya dengan potongan rambut baru dan menyebutnya cantik? Bukan tampan, bukan keren, tapi cantik.

Blush!

Seketika semburat merah muda menjalar cepat di pipi Yupi. Jantungnya berdebar sangat kencang sampai dia merasa ngeri kalau-kalau suaranya bisa terdengar oleh Hengky yang duduk tepat di depannya. Yupi menunduk dalam, mencoba menyembunyikan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus.

“Stop! Sekarang gantian!” Seru guru olahraga memecah suasana.

Yupi menarik napas lega, bersyukur karena instruksi itu datang tepat waktu sebelum dia benar-benar meledak karena salah tingkah.

Kini giliran Hengky yang berbaring dengan kedua kaki tertekuk. Yupi segera mengambil posisi, mencoba menahan sepatu Hengky dengan kedua tangannya. Namun begitu guru meneriakkan tanda mulai dan Hengky melakukan sit up pertamanya, tubuh Yupi langsung goyah. Kekuatan otot perut Hengky yang besar membuat Yupi kesulitan menjaga kuncian. Tangannya bergetar hebat menahan dorongan kaki sahabatnya itu, kurang memberi beban.

Hengky berhenti sejenak, mendongak menatap Yupi. “Duduk aja di atas sepatu gue,” saran Hengky sebelum kembali membaringkan punggungnya.

“Hah? Tapi... serius nggak apa-apa? Berat loh, nanti kaki lu sakit,” tanya Yupi ragu.

“Justru harus berat biar kaki gue nggak keangkat-angkat,” sahut Hengky santai.

Akhirnya Yupi menurut saja. Dia membuka kakinya lebar-lebar sehingga kedua kakinya berada di sisi tubuh Hengky sementara pantatnya dia dudukkan tepat di atas sepatu Hengky. Tangannya memeluk betis Hengky dengan erat untuk menambah beban kuncian.

Hengky mulai bergerak kembali. Berbeda jauh dengan Yupi, cowok itu tampak sama sekali tidak kesulitan. Gerakannya sangat stabil dan temponya cukup cepat—dari posisi berbaring ke duduk dilakukan dengan mulus tanpa ada satu pun ringisan atau erangan payah.

Yupi memandanginya dengan perasaan iri yang bercampur kagum. Mulutnya mulai membantu menghitung, namun matanya tak bisa berhenti menonton wajah tampan di depannya yang tengah berkonsentrasi penuh. Dari jarak sedekat ini, Yupi kembali terbuai menikmati paras yang sangat ia sukai itu. Garis wajahnya, sorot matanya yang fokus... semuanya terasa sempurna.

Huee Mama, andai Hengky nggak cuma satu, ratap batin Yupi. Setidaknya kalau dia gagal mendapatkan Hengky yang ini, dia bisa mencoba berjuang untuk Hengky versi lainnya.

WUSH!

Tiba-tiba, semburan napas kencang sengaja ditiupkan Hengky dari mulutnya, menghantam tepat di wajah Yupi yang sedang melamun dengan ekspresi memuja. Mata Yupi berkedip cepat saat kesadarannya kembali ditarik.

“Udah yang ke berapa?” tanya Hengky sambil berhenti sejenak di posisi duduk.

“A—anu...” Sial, Yupi benar-benar lupa hitungannya karena terlalu asyik memandangi wajah Hengky.

Hengky mendengus, lalu tawa pelannya pecah. “Hadeuh, bengong sih lu,” ucapnya. Tanpa peringatan jari telunjuk Hengky mendaratkan jitakan pelan di kening Yupi, membuat si empu meringis sambil terkekeh malu. “Tadi gue hitung sendiri udah sampe empat puluh dua. Ayo, lanjut hitung lagi.”

Sebelum kembali membaringkan tubuh untuk melanjutkan sesi sit up-nya, Hengky sempat mengulurkan tangan dan mencubit pipi Yupi dengan gemas. Sentuhan singkat itu sukses membuat jantung Yupi kembali berdisko, sementara Hengky sudah kembali sibuk dengan latihan fisiknya seolah tidak terjadi apa-apa.

📝

Setelah menyelesaikan urusannya di ruang Kurikulum, Hengky melangkah keluar dan menutup kembali pintu kaca itu dengan hati-hati. Dia sempat berhenti sejenak di depan pintu, merapikan kerah seragamnya dan memasukkan bagian bawah kemeja putihnya agar lebih rapi. Tadi salah satu guru di dalam sempat melirik penampilannya yang agak berantakan karena dia memang buru-buru kemari setelah berganti pakaian dari seragam olahraga.

"Abis dari dalem, Ky?"

Suara berat yang familier itu membuat Hengky mengangkat wajah, itu Alam.

"Iya, lu mau ke dalem?" sahut Hengky sambil menggeser posisinya, memberi ruang agar Alam bisa lewat jika ingin masuk ke ruang Kurikulum.

Alam mengibaskan tangannya cepat. "Kagak kok, cuma lewat doang. Tadi abis dari ruang guru ngurusin remedial," jelasnya sambil mengarahkan telunjuk ke arah ruang guru yang berada di ujung koridor.

"Oh, lancar?" tanya Hengky basa-basi.

Bahu Alam menggidik ke atas, bibirnya mencebik masam sebelum akhirnya sebuah tawa ringan lolos dari mulutnya. "Bu Pia," ucapnya singkat.

Mendengar nama itu disebut, Hengky langsung paham tanpa perlu penjelasan lebih lanjut. Bu Pia memang dikenal sebagai salah satu guru paling sulit jika menyangkut urusan nilai dan remedial.

Hengky tertawa pelan, bersimpati atas nasib temannya itu. "Kimia emang ter-taik," gumamnya sambil menepuk bahu Alam dengan gerakan akrab. "Sabar dah, yang penting udah diurus, kan."

Alam menganggukkan kepala.

“Ngomong-ngomong...” Alam mengusak hidungnya sebentar. Perubahan nada bicaranya membuat suasana di antara mereka mendadak berubah menjadi serius. “Gue nggak keberatan ngambil alih kebiasaan lu itu.”

Keduanya berpadu tatap. Satu alis Hengky terangkat naik, menuntut penjelasan. “Maksudnya?”

“Lu bisa lepasin Yupi ke gue, Ky.” Alam memasukkan kedua tangannya ke saku celana dengan gaya santai. “Contohnya kayak yang semalem.”

Alam tahu? Apa Yupi yang ngasih tahu? Pikirannya langsung berputar liar.

Di lain sisi Alam mengetahuinya karena pesan yang dia kirim semalam tidak dibalas sampai pagi. Saat perjalanan ke sekolah tadi, Alam sempat bertanya, dan Yupi meminta maaf dengan polosnya. Yupi menjelaskan kalau ponselnya tertinggal di kamar sementara dia berada di ruang tengah. Apalagi saat itu sedang ada pemadaman listrik karena cuaca buruk.

“Gue nggak kepikiran buat ambil hp. Mungkin kalau gue sendirian bakal kepikiran ambil buat pakai senternya. Tapi udah ada hp Hengky, jadi gue pikir itu udah cukup,” begitu penjelasan jujur Yupi tadi pagi, yang tanpa sadar membongkar keberadaan Hengky di rumahnya.

“Kalau dia bilang ke gue tiap butuh apa pun, gue pastiin sanggup buat bantuin dia,” lanjut Alam mantap. “Mulai sekarang, lu nggak perlu direpotin lagi sama dia.”

“Nggak ada yang bilang gue ngerasa direpotin,” potong Hengky cepat. Tatapan matanya lurus menabrak mata Alam, tajam dan dingin. “pernah gak gue bilang kalau dia ngerepotin gue?”

Alam terdiam sebentar, menelusuri kedua bola mata Hengky sebelum akhirnya mendengus dengan tawa pelan yang terdengar meremehkan. “Oke, lu bener.” Alam mengangguk-angguk. Dia memang tidak pernah mendengar keluhan itu keluar dari mulut Hengky. “Maksud gue gini, Ky. Lu tahu kan seberapa sukanya gue sama dia?” Alam memukul pelan lengan Hengky, seolah sedang bercanda antar teman. “Di momen ini, gue udah punya alasan kuat buat gantiin lu.”

“Momen?” kening Hengky semakin mengerut dalam.

“Ya... gue sebagai pacar bisa gantiin posisi lu. Kalau Yupi butuh sesuatu, dia cuma perlu datang ke gue. Kalau lagi sendirian di rumah, dia bisa minta gue buat nemenin. Ya, kan?” Alam memiringkan kepalanya sedikit dengan sudut bibir yang tersungging naik. Ekspresi pongah yang terlihat sangat menyebalkan di mata Hengky.

Ada hantaman rasa tidak terima yang mulai bergemuruh di dada Hengky. Rasa posesif yang selama ini dia tekan mendadak meronta melihat kepercayaan diri Alam.

“Pacar?” tanya Hengky dengan nada skeptis, terang-terangan meragukan status yang baru saja dideklarasikan Alam. “Kalau emang begitu, kenapa saat gue bilang soal perasaan lu ke dia kemarin, dia malah kaget?”

Kini giliran Hengky yang mengambil alih dominasi. Dia melangkah maju, memangkas jarak hingga wajahnya berada tepat di samping telinga Alam.

“Dia kelihatan...” Hengky sengaja memberi jeda, membiarkan suaranya terdengar sangat rendah. “...terguncang.”

Hengky menjauhkan wajahnya, kembali mengunci tatapan Alam. Kali ini sebuah smirk dingin di bibir Hengky sukses melunturkan wajah pongah Alam.

Alam menengadah sebentar, menarik napas panjang untuk menetralkan rasa kesal yang mulai merayap di dadanya sebelum kembali menatap tajam lawan bicaranya.

“Cuy, kok lu rakus begini?” tanya Alam kemudian. Melihat raut bingung sekaligus tak suka di wajah Hengky, ia pun melanjutkan dengan nada yang lebih menusuk. “Kalau Larisa ya Larisa aja, Ky. Yupinya jangan lu tahan juga.”

Mendengar nama Larisa disebut dalam konteks seperti itu, tangan Hengky otomatis mengepal kuat di samping tubuhnya. Rahangnya mengatup rapat, menahan emosi yang nyaris tumpah.

“Lu kasihlah Yupi ke gue. Nggak bakal rugi juga si Yupi kalau sama gue,” lanjut Alam tanpa rasa takut, seolah sedang melakukan negosiasi atas sesuatu yang sangat berharga. “Apa lu butuh garansi buat mastiin dia bakal tetap aman sama gue? Bakal gue kasih, Ky. Apapun, asal lu berhenti jadi penghalang di antara gue sama Yupi.”

Suasana di koridor depan ruang kurikulum itu mendadak terasa mencekam. Di antara dua sahabat itu kini terbangun sebuah ego dan perasaan yang selama ini terpendam mulai saling berbenturan.

“Gak bakal gue rusakin, Ky,” ucap Alam, suaranya tenang namun penuh penekanan.

Hengky masih bergeming, napasnya mulai memberat mendengar janji dari mulut Alam. Namun, belum sempat Hengky membalas, Alam condong ke depan.

“Kecuali... kalau dia sendiri yang minta gue rusakin,” bisiknya dengan suara yang sangat pelan namun cukup tajam untuk membuat telinga Hengky berdengung.

Setelah kalimat itu terlontar, Alam tersenyum tipis—tipe senyum yang membuat Hengky ingin melayangkan tinju saat itu juga—lalu berbalik pergi meninggalkan Hengky sendirian di depan ruang kurikulum dengan kepalan tangan yang semakin mengeras dan pikiran yang berkecamuk hebat.

Bersambung.