Work Text:
Setelah kejadian menitipkan kunci rumah kepada tetangga sebelahnya, Ai jadi lebih sering mengobrol dengan Lina. Biasanya saat perempuan itu belanja sayur, tahu tempe atau bumbu masak. Ai sengaja sedikit mengulur waktunya untuk percakapan singkat dengan teh Lina, misalnya membahas pekerjaan Ai, harga bahan pokok di pasar hari ini, atau Galih yang tak lama lagi SMP. Awalnya pertanyaan basa basi hanya untuk memuaskan rasa penasaran keduanya, seperti bagaimana teh Lina biasanya mengobrol dengan ibu ibu lain. Yang durasinya singkat itu lama lama bertambah, yang awalnya hanya basa basi menjadi tumpahan keluh kesah, yang awalnya memanggil diri sendiri dengan 'saya' berganti jadi 'aku' untuk merasa lebih dekat.
Seperti yang terjadi pagi ini, Ai sampai melupakan tujuan utama dia hanya beli kangkung dan terasi. Biasanya mereka mengobrol sambil berdiri karena hanya sebentar, tapi hari ini Lina mempersilakan Ai untuk duduk di bangku plastik, duduk berhadapan dibatasi dengan meja dagangan Lina. Obrolan pagi ini ternyata tidak cukup hanya 30 menit. Ai akhirnya menumpahkan sesuatu yang mengendap di dadanya sejak kepindahannya ke sini kepada teh Lina. Tentang kesan buruk tatapan mata menusuk dari ibu ibu di sini.
"Aku juga dulu kayak neng. Dikatain janda gatel sama ibu ibu. Padahal suaminya yang godain.. malah pernah hampir dipegang sama suaminya bu haji." Lina mendengus sebelum melanjutkan "Percuma naik haji tapi kelakuan bejat. Cuma dapet gelar hajinya aja."
"Tapi sekarang mah aku udah biasa aja sih, ibu ibu sini juga udah ga begitu jahat bibirnya kalo ngomongin aku. Mungkin ngeliat ya aku harus lunasin hutang bertahun tahun gini gara gara lalaki kanjut."
Ai yang mendengar hanya mampu menghembuskan nafasnya kasar. Emosi tentu saja, hatinya panas karena Ai juga mengalami hal serupa. Dilecehkan oleh bapak bapak sini, menjadi korban, tapi dia pula yang kena ocehan istrinya.
"Makanya pas neng Ai ngalamin yang sama, aku teh jadi keinget pas baru ditinggal mati.” Hening setelahnya, masing masing sibuk dengan pikirannya. Sulit menjadi janda, tidak semudah menjadi duda. Ai tak pernah menemui ada yang mengucilkan duda, justru dipuji karena memerankan figur ayah dan ibu sekaligus. Ai pikir, memang dia kurang hebat apa, dia juga memerankan ayah dan ibu sekaligus untuk Galih.
“Teh Lina, ga ada niat nikah lagi?” Ai yang pertama kali memecah keheningan yang tercipta beberapa menit di antara keduanya dengan pertanyaan yang menurut teh Lina lucu sehingga perempuan itu tertawa sampai matanya membentuk bulan sabit.
“Dulu ada, sampe udah ta’aruf sama anak ustad Rahmat. Tapi keluarga besarnya nolak karena aku janda. Kata bibinya, ‘masa bidadari surgamu nanti yang udah janda, kayak udah ga ada perawan lain aja’”.
Ai tercengang dengan mulut menganga dan mata melotot tidak percaya akan yang didengarnya barusan.
“Teh, beneran keluarga ustad ngomongnya begitu?”
“Iya atuh beneran. Mau ustad, mau habib, ga menjamin dia atau keluarganya bisa jaga omongan neng. Orang sini mah gitu, padahal anaknya si Rahmat juga mokondo, masih ngumpet di ketek emak. Paling eta kanjut oge kencing acan lurus” di akhir kalimatnya suara Lina seperti bisikan yang disertai tawa kecil.
Beda dengan perempuan di depannya yang tawanya begitu pecah saat Lina berbicara seperti dia sedang bergosip. Tawa lepas Ai timbulkan senyuman di wajah Lina, ini kali pertamanya melihat Ai begitu bebas tampilkan ekspresinya. Saat mengingat tawa itu disebabkan ucapannya, Lina senang telah mampu bawa tawa bagi Ai.
Ketika suara tawa keduanya mereda, Ai perlahan mengangkat kepalanya untuk melihat perempuan di depannya. Mata bertemu mata, perlahan bibir terangkat ke atas membentuk senyum bagi satu sama lain, juga pipi yang mulai memanas. Enggan melepaskan pandangan pada satu sama lain sampai suara teh Muti menginterupsi.
"Teh, ada bumbu opor? Mau atuh sama masako ayam serenceng."
Kontak mata keduanya lebih dulu diputus oleh Lina, yang kemudian mengambil serenceng masako dan menggunting satu bungkus bumbu opor instan. Muti menolehkan pandangannya, kini fokus ke Ai yang masih duduk di atas bangku plastiknya. Akhir akhir ini Muti lihat Lina dan Ai seringkali sedang bersama.
"Neng, ga kerja?" Pertanyaan basa basi. Teh Muti ini memang sedikit bawel dan kepoan orangnya.
"Engga teh, udah libur mau puasa." Jawab Ai ala kadarnya.
Muti menyerahkan uang pas kepada Lina sebelum melanjutkan, "Teh Lina sama neng Ai bakal ikut munggahan ga? Ke rumah Bu RT aja katanya."
"Kapan itu, teh Muti?" Ai yang bertanya, sedikit penasaran.
"Besok, ba'da isya. Hari ini mah nyekar dulu orang orang sini. Dateng atuh hayu ngaliwet sebelum shaum." Lina mendengarnya agak ragu untuk mengiyakan, pasalnya Lina sudah memiliki batasan untuk para ibu ibu di sini sejak dirinya dicap sebagai janda gatel. Acara kumpulan seperti munggahan bukan untuk orang sepertinya.
Namun melihat Ai yang sepertinya ingin karena Ai pun baru pindah ke sini, Lina akhirnya menjawab
"Tetangga aja teh yang diundang?"
"Heeh, rt sini ajah da nu diundang. Bawa sambel atuh teh Lina, lagi pengen." Lina terkekeh mendengarnya, ia tau sambel bikinannya memang enak. Dengan itu, Lina mengangguk mengiyakan.
"Sip lah. Kalo gitu saya duluan ya neng Ai, teh Lina. Akang surya udah nunggu opor." Pamit Muti yang menjauh dengan cekikikan malu malunya.
Memang tidak semua orang di RT sini jahat sih sama Ai dan Lina. Contohnya pasangan teh Muti sama mang Surya atau sering dipanggil Ateng yang punya usaha cukur rambut. Entah darimana nama panggilan itu. Ai akhirnya menyadari terlalu lama dia berbincang dengan tetangganya hingga memutuskan untuk pamit dan memasak di rumahnya. Tapi sebelum itu, ucapan Lina menghentikan langkahnya.
"Neng Ai, mau ke pasar bareng buat munggahan? Nanti juga masaknya barengan aja."
Ai menoleh ke belakang kemudian senyum simpul ia beri sambil mengangguk setuju. "Boleh teh, besok ya."
Ternyata besok itu terhitung lama untuk Lina. Rasa tidak sabarnya bukan karena tidak sabar akan menghadiri kumpulan tetangga, tapi karena Lina ingin segera melihat Ai lebih lama lagi.
Dempet dempetan di angkot memang sudah biasa sih dialami sama Ai. Bau mesin yang bercampur dengan bau keringat seluruh penumpang, belum lagi ada ibu ibu yang membawa tas anyaman belanja yang sepertinya berisi ayam baru dipotong, sama sama baru pulang dari pasar seperti Ai. Supir angkot menyumbang polusi dengan rokoknya yang terselip di antara telunjuk dan jari tengah, asapnya dibuang keluar tapi tetap saja masuk ke dalam mobil. Seharusnya Ai sudah terbiasa dengan suasana sumpek dan panasnya angkutan umum. Perjalanan di angkot kali ini membuat Ai merasakan sesuatu seperti menusuk hidungnya dan tertahan di pangkalnya yang menyebabkan kepala Ai terasa berat. Ai menutup hidung dengan sebelah tangannya, agak bingung harus menutup hidung dan mulut atau memijat dahinya untuk meredakan pusing. Ai teringat mungkin mual mual ini datang sebab Ai belum makan pagi ini, masuk angin.
"Neng, kenapa? Pusing?" Perempuan dengan rambut hitam dikuncir satu di sampingnya menatap Ai dengan raut wajah khawatir. Ai menggeleng pelan, "Engga teh. Ai gapapa".
Lina melihat adanya buliran keringat menetes dari pelipis Ai, memang panas sekali hari ini. Sekitar pukul 10 pagi pulang dari pasar di satu hari sebelum memasuki bulan puasa, sudah resiko kepanasan dan berhimpitan seperti ini. Didorong oleh keinginannya membantu perempuan di sampingnya, Lina keluarkan satu karet rambut dari dalam kantong belanjaan, bekas mengikat plastik cabe. Kemudian rambut panjang Ai sedikit disisir ke belakang, Lina berniat untuk mengikat rambut Ai agar perempuan itu tidak terlalu kegerahan. Ai tersentak dengan sentuhan perempuan yang duduk di sampingnya dan menatap kebingungan
"Diiket aja neng rambutnya, gerah"
"Ohh.. sini teh, aku aja"
Lina menyerahkan karet di tangannya dan membiarkan Ai mengikat sendiri rambutnya. Agak kecewa sih, Lina masih mau menyentuh rambut hitam Ai yang halus dan wangi shampo yang biasa ia pakai juga. Lina masih memperhatikan Ai yang rambutnya sudah terkuncir rapi, anak rambut Ai bisa dibilang cukup banyak. Ai menyeka keringat dengan punggung tangannya, cantik. Aisyah sangat cantik bahkan saat kegerahan seperti ini.
Lina membetulkan tas selempang di pangkuannya, sampai posisinya bisa menutupi tangannya yang menggenggam tangan Ai di atas pahanya. Diberikan sedikit pijatan karena Lina lihat Ai masih juga meneguk ludahnya sambil mengernyitkan dahi, pertanda bahwa perempuan itu mual tapi ia juga tidak bisa melakukan apa apa karena ia juga tidak membawa obat mual. Usapan Lina memang tidak banyak membantu meredakan rasa mual, tapi setidaknya Ai merasakan tenang di antara suasana sumpek di dalam angkot. Ai membalas genggaman itu. Untungnya, ada teh Lina.
Hari sudah sore, setelah keduanya mengurusi pekerjaan rumah yang lain dan mengganti baju, Ai datangi rumah Lina untuk melanjutkan agenda dengan hari ini yaitu memasak makanan yang akan dibawa nanti malam.
Lina menghampiri Ai yang sedang memetik batang cabe di meja dapurnya
"Neng, goreng teri sama leunca dulu aja. Sini aku yang ngulek cabenya"
Ai menoleh ke si pemilik suara, Lina mengeluarkan cobek yang biasa dipakai untuk mengulek sambel, kemudian mengambil alih cabe cabe yang sudah dipetik di dalam baskom kecil.
Hari ini Lina dan Ai akan memasak sambel teri leunca dan pepes ikan. Sambelnya untuk dibawa ke rumah bu RT, sedangkan pepes ikan untuk lauk sahur puasa pertama mereka. Ai segera mengikuti arahan yang diberikan teh Lina, ia mengambil wajan untuk dituangkan minyak dan menggoreng teri serta leunca yang telah dicuci bersih. Saat Ai menggoreng dengan sodetnya, minyak panas tiba tiba meletup mengenai pergelangan tangannya. Tidak banyak namun cukup untuk membuatnya terkejut dan mundur beberapa langkah. Lina yang juga ikut terkejut akan itu langsung menghampiri Ai dan mematikan kompor. Dibawanya pergelangan tangan Ai untuk dilihat lebih dekat, gerakan selanjutnya dari teh Lina membuat Ai sedikit memekik karena perempuan itu mengecup dan menjilat pergelangan tangan Ai untuk meredakan panasnya. Biasanya Ai hanya akan langsung membasuhnya dengan air mengalir, tapi Ai biarkan Lina menjilatinya.
Lina kemudian menariknya ke wastafel kecil yang kucuran airnya agak kurang, tapi cukup untuk membasuh bekas cipratan minyak dengan air mengalir. Usainya Lina elus pergelangan tangan Ai yang masih basah, ditiup tiup sedikit. Ai mengedip beberapa kali, masih kebingungan dengan yang terjadi dan segala sentuhan Lina kepada dirinya.
"Sakit ga, neng? Apa panas?" Raut wajah teh Lina masih menunjukkan kekhawatiran, sedangkan Ai masih terbengong dengan kejadian barusan.
"Kalo berbekas, kasih tau ya neng. Aku ada salepnya."
Bolehkah tiap kali Ai terkena minyak panas, ia berlari ke teh Lina untuk disembuhkan. Dibubuhkan kecup dan diberi salep pada lukanya. Ai menggelengkan kepalanya mengusir bayang bayang di kepala tentang teh Lina.
"Gak apa apa teh.. cuma perih aja sedikit.." Ai turunkan tangannya, diikuti Lina. Pandangan turun ke bawah, ke lantai yang dialasi semen. Tubuh Lina mendekat kepada yang sedikit lebih pendek darinya, napas panas menerpa wajah Ai. Kemudian ia rasakan ada dahi lain yang menabrak miliknya, membuat Ai menahan napas disertai rasa degup jantungnya yang kencang. Ai pejamkan matanya saat hidung Lina bergesekan dengan miliknya. Ai kebingungan, Ai suka posisi seperti ini. Tapi apakah yang dia dan teh Lina lakukan ini normal.
Ai hendak memberi jarak untuk keduanya sebelum tangan Lina lebih dulu memeluk pinggangnya
"Sebentar aja neng.."
Maka Ai biarkan perempuan itu mendekap tubuhnya, dan dagu yang bersandar di bahu Ai biarkan.
Saat ini penerangan hanya mengandalkan lilin yang dibakar, aliran listrik tiba tiba saja padam sejak acara munggahan di rumah Bu RT selesai. Lina dan Ai berjalan bersama dengan senter dari hp Lina yang pinggirannya sudah retak. Begitu sampai, Lina dan Ai memasuki rumah masing masing. Ai menyalakan lilin dan mengecek kamar Galih, anaknya memang tidur dengan cepat, jam menunjukkan baru pukul 10 Galih sudah tertidur di kamarnya. Ai singkirkan buku sekolah dalam genggaman Galih dan membetulkan posisi tidurnya supaya anak itu tidak kesakitan saat bangun di pagi hari. Gorden berwarna abu sebagai pengganti pintu kamar Galih ditutup perlahan agar tak menimbulkan suara gesekan besi yang terlalu kencang. Pemadaman listrik yang tiba tiba membuatnya khawatir dengan Galih yang sendiri di rumah, Ai melupakan sebagian lauk sisa acara makan makan tadi untuk teh Lina malah terbawa olehnya. Ia pun belum membawa pepes ikan dari rumah teh Lina untuk makan sahurnya.
Ai mengetuk pintu rumah teh Lina dengan membawa rantang berisi makanan, serta mengatakan pada perempuan pemilik rumah ia lupa membawa pepes ikan miliknya. Maka Lina mempersilakan Ai masuk terlebih dahulu. Rantang diletakkan pada meja dapur, isinya dipindahkan ke piring dan digantikan dengan pepes ikan. Tak banyak percakapan diantara keduanya, cukup hening sampai Ai sudah berdiri di depan pintu untuk kembali ke rumahnya. Alih alih membukakan pintu, Lina menarik Ai ke dalam pelukannya.
"Neng.. ga mau di sini dulu sebentar?"
Ai membeku sambil masih memegangi rantang di tangannya.
"Ngapain teh..?"
"Temenin teteh, mati lampu. Nggak suka gelap gelap sendirian.. Galih udah tidur kan?"
Ai merasakan hembusan nafas, pelan tapi terasa berat dari perempuan di depannya. Ai mengelus elus bahu Lina, rambut Lina diusap pelan untuk menenangkan perempuan itu, harap harap sedikit usapan darinya bisa meringankan apapun yang menjadi beban di pundak teh Lina.
Lina kembali memutar ingatan beberapa jam lalu saat acara perkumpulan di rumah Bu RT. Kemudian menyesal setelah mendengar ide ibu ibu di situ untuk menikahkan Ai dan anaknya bu RT, Wildan. Mereka menganggap Ai masih butuh sosok kepala keluarga yang bisa melindunginya dan Galih. Namun yang menolak ide itu bu RT sendiri, bibirnya dengan gincu merah terus lontarkan kalimat pujian bagi anaknya yang berpendidikan tinggi dan tidak pantas bersanding dengan Ai yang seorang janda tidak tamat sekolah. Harapan Bu RT agar anaknya bisa membangun keluarga yang bahagia dan memiliki rumahnya sendiri,bukan di lingkungan ini. Kalau begitu Lina juga ingin bawa Ai keluar dari kampung ini untuk memiliki rumah mereka sendiri, tidak takut lagi sewaktu waktu kena gusur karena tanahnya punya pemerintah dan tidak takut lagi mendengar ucapan atau gosip tentang mereka lagi.
Lengan Lina membawa Ai lebih dekat dan mengeratkan pelukannya, usapan di pinggang membuat Ai agak sesak. Bukan karena terlalu kencang, tapi karena Ai merasa sentuhan Lina semacam belaian lembut yang lama tidak dia rasakan, entah kapan terakhir kalinya Ai tidak ingat.
Wajah Lina yang tadinya berada di bahu Ai perlahan pindah ke bagian lehernya, menghirup wangi Ai dengan hati hati seolah takut ada detail yang terlewat dari indera penciumannya. Ai masih menggenggam rantang di tangannya yang kini jadi pegangan kuat bagi Ai.
“Hh.. teh.. teh Lina ngapain..” kemudian suara lembut itu menjadi dorongan bagi Lina untuk berikan kecupan di lehernya. Tunik putih dengan bordiran bunga yang masih menempel di tubuh Ai disingkap oleh Lina, tangannya merasakan langsung halus lembut kulit perempuan di pelukannya. Lina rasakan jemari Ai yang menjambak rambutnya salurkan rasa nikmat akibat tangan Lina ke sana sini.
“Neng, teteh boleh cium?” Ucapan Lina sedikit tertahan karena enggan lepaskan leher Ai.
“Teh Lina udah cium aku dari tadi..”
Kekehan kecil Lina timbulkan getaran di ceruk leher Ai. Lina akhirnya menatap wajah perempuan di depannya, satu kecupan di bibir Ai, dua kecupan, tiga kecupan. Sampai Ai menahan tengkuk Lina dan membawa keduanya ke dalam ciuman saling melumat bibir satu sama lain.
Lina menuntun Ai berjalan memasuki kamarnya tanpa melepaskan cumbuan itu. Rantang diletakkan di meja kecil samping kasur lantai Lina, bersebelahan dengan lilin yang sudah meleleh satu perempatnya. Hampir menabrak lilin karena Ai menggigit bibir bawah Lina.
Tubuh keduanya terjatuh di atas kasur tipis Lina, Ai di bawah, Lina di atasnya dengan mengandalkan tangan agar tidak menindih perempuan di bawahnya. Ai duduk untuk melepaskan resleting tuniknya, agak kesusahan maka dibantu teh Lina untuk melepaskan seluruh pakaian bagian atas. Termasuk bra yang sudah dilepaskan pengaitnya oleh Lina, semua dilemparkan ke samping tempat tidur. Cepat cepat. Karena Lina sudah tidak sabar menciumi tubuh perempuan di depannya lagi. Tak ada keraguan bagi Lina untuk langsung ciumi payudara Ai dan hisap pentil kecoklatannya sampai mengacung tegang.
“Ahhh.. teh..t-teh Linaa.. jangan kenceng kenceng, memeknya jadi geli”
Lina sedikit terkejut dengan ungkapan Ai barusan. Ia dudukkan tubuhnya untuk melepas daster merah ati yang dikenakannya, saat mau tidur seperti ini Lina hanya pakai daster tanpa daleman lagi. Tapi sepertinya malam ini tidurnya agak telat.
Usai lepaskan dasternya, Lina tindih lagi perempuan di bawahnya. Pipi Ai yang mulus dielus pelan oleh jemarinya. Bulu mata Ai yang panjang dan lentik kini terlihat jelas bagi Lina yang diam diam memperhatikannya selama ini, mata yang sedang menatapnya pancarkan cahaya dari lilin berkedip sambil terus menatapnya. Rambut Ai tergerai jatuh di atas bantal Lina. Ai indah sekali dilihat dari atas sini.
Jika bidadari surga yang sering dijanjikan kepada laki-laki wujudnya seperti Ai, Lina juga menginginkannya. Untuk dirinya sendiri. Lina tidak yakin ada laki-laki yang pantas untuk mendapatkan perempuan berparas indah di bawahnya ini. Bolehkah perempuan memiliki bidadari surga juga seperti laki-laki?
“Neng memeknya geli, gara gara nenenin teteh ya?”
Ai mengangguk angguk, dengan bibir yang melengkung ke bawah. Lina dibuat gemas melihatnya, ia hadiahi bibir Ai dengan satu kecupan panjang. Posisi seperti ini membuat dada keduanya bertabrakan, pentil tegang saling menggesek.
Lina remas kedua belah tetek besar Ai, disatukan dengan miliknya, timbulkan desahan desahan dari bibir Ai. Lina menunduk lagi untuk menyedot pentil Ai hingga pipinya dikempotkan, gesekan yang terjadi antara lidah panas Lina dan pentil Ai berhasil loloskan desahan kencang dari Ai yang tak lama langsung menutup mulutnya karena takut suaranya akan keluar didengar tetangga.
“Tetehh.. teh Linaa enak, nenen Ai enak..”
Lina ciumi tetek montok Ai, sambil diremas remas. Kemudian turun menciumi perut Ai yang sedikit bergelambir. Rok panjang Ai bagian pinggangnya pakai karet, mudah bagi Lina untuk melepaskannya sehingga kini keduanya hanya memakai celana dalam. Perut bagian bawah Ai diciumi sampai ke bagian labia Ai dari luar celana dalam. Makin lembab karena memeknya sudah kedut kedut keluarkan lendir. Hidung teh Lina sengaja digesekkan di itil, kedua tangan Lina lebarkan paha Ai agar mengangkang lebih lebar. Lina gosok gosokkan jempolnya di belahan memek tembem Ai.
“Teh Lina.. enak, enak, enak.. gatel memeknya tehh. Lepasin ajaahh mau dijilatin memeknya sama teteh..”
“Neng ngomongnya jorok kalo keenakan”
“Teh Linaaa ih cepetan”
Bukannya menuruti perkataan Ai, Lina justru naik ke atas untuk pandangi wajah kemerahan Ai. Tangannya menelusup hingga jarinya dapat rasakan memek Ai yang sudah basah total. Jari tengahnya membelah lapisan labia Ai. Ditekan tekan dan digaruk lubangnya dengan kuku.
Ai cengkram kuat bahu dan rambut teh Lina, pahanya makin melebar, pinggulnya bergerak memutar seperti sedang mengulek, kejar jari jari Lina biar terus dienakkan memeknya. Lina jepit biji kelentit Ai dengan telunjuk dan jari tengahnya. Ai terisak dan menendang nendang udara dengan kakinya. Pinggulnya naik siap kucurkan cairan dari memeknya. Namun sebelum itu Lina hentikan pergerakannya, Ai mendesah kecewa dan pinggulnya turun lagi ke atas kasur.
“AHH.. Tehh.. kenapa udahan? Neng pengen bucat”
“ Jangan bucat dulu, katanya neng pengen teteh jilmekin?”
Ai dengan buru buru turunkan satu satunya yang tersisa di tubuhnya, dibuka lebar labianya dengan jari. Lina perhatian memek kemerahan Ai yang mengkilap basah.
“Mau, Ai mau di jilmek sama teh Lina..” mata sayu Ai tatap perempuan di atasnya. Tak ada satu menit, Lina langsung turun ke bawah, menunduk, cium memek Ai yang berlendir. Lina tidak punya pengalaman dalam menjilati memek, pengalaman seks yang dia miliki hanya saat bersama mantan suaminya dan tidak ada enak enaknya. Lina tidak pernah dijilati seperti ini, kalau sedang sange Lina hanya mengucek memeknya sendiri. Dengan cahaya temaram yang sedikit membatasi pandangan matanya, namun Lina masih bisa lihat kilap basah dan kemerahan dari labia perempuan yang memeknya sedang ia makan.
Lina lepaskan satu satunya yang tersisa di tubuhnya, celana dalam berwarna hitam ia lemparkan ke lantai. Samar terlihat garis garis putih di pantat hingga paha atasnya, sama seperti milik Ai. Lina cium lagi bilah bibir lembut Ai, pipinya juga diberi cium hingga pemiliknya merasa kegelian.
“Teh... tapi Ai ga pernah sama cewek”
“Teteh juga ga pernah ngewe sama cewek, neng…”
“Terus gimana? Diapain, teh?
“Dicoba coba aja ya, digesekin memeknya.”
Lina angkat kaki kanan Ai ke atas kaki kirinya, sedangkan kaki kiri Ai dibawa ke bawah kaki kanannya. Pinggul Ai dipegang erat oleh kedua tangannya, perlahan pinggulnya dimajukan sampai kedua memek perempuan itu bertabrakan. Keduanya sama sama mendongak, ternyata baru segini saja sudah nikmat mampus. Kalau tau rasanya ngewe sama perempuan senikmat ini, Ai sudah lakukan dari lama, tak sudi dia memeknya dimasuki kontol dengan kasar dan tidak memikirkan kenikmatannya, tak peduli sampai lecet.
Berbeda sekali dengan sodokan yang teh Lina berikan, berantakan dan tidak beraturan tapi enak sekali, sangat basah, becek, menabrak beceknya, buat suara suara nyaring kecipak akibat kegiatan berciuman memek itu yang sahut sahutan dengan desahan keduanya. Baik Lina maupun Ai sudah tenggelam dalam nikmatnya bercinta hebat gesekan antar itil yang mengacung.
Untuk pertama kalinya Ai merasakan nikmat bercinta sesungguhnya, bukan hanya diberi sodokan kasar di lubang rahimnya hingga rasakan perih di pagi hari, kemudian bukan maaf yang diterima malah tamparan entah keberapa kalinya karena Ai bangun siang.
Bersama teh Lina, Ai dibuat enak, dipikirkan bagaimana caranya supaya mereka sama sama rasakan enak. Saat cairan putih keduanya mengalir hangat, punggung Ai kembali terbaring di atas kasur Lina. Pelukan Lina disertai dengan kecupan kecupan. Lilin masih tersisa 8 sentimeter, maka Lina dan Ai lanjutkan gesekan pada memek, belum puas.
Nafas yang panas beradu sampai lilin mencair sepenuhnya, sampai pada tetes yang terakhir.
Ai pandangi bayangan dirinya dan Lina di dalam cermin kecil berbingkai plastik merah yang digantung dengan paku di dinding kamar Lina. Tubuhnya hanya memakai bra dan celana dalam, sama halnya dengan Lina yang memeluknya dari belakang. Listrik sudah menyala lagi saat jam menunjukkan pukul setengah dua subuh, kini mereka bisa melihat satu sama lain lebih jelas. Pelukan Lina digoyangkan ke kanan dan kiri perlahan sehingga tubuh Ai mengikutinya, berbarengan dengan suara jam dinding, cicak di atas langit langit kamar Lina, dan jangkrik yang bersahutan. Berisik, tapi perempuan yang sedang memeluknya seolah bawakan tenang.
Setelah memakai kembali bajunya, Ai diantarkan sampai depan rumahnya, Lina berikan kecupan di pipi Ai yang buat perempuan itu amat terkejut. Takut terlihat tetangga meskipun sekarang sudah jam dua subuh. Ai segera masuk ke dalam untuk letakkan rantangnya di dekat kompor, ikannya dipanaskan pakai penghangat nasi. Ai putuskan untuk tidak tidur lagi karena ia harus mengurusi makan sahur untuknya dan Galih. Selain itu, Ai juga tidak bisa tidur karena bayangan tubuh indah teh Lina masih ada dalam benaknya.
Galih sudah terbangun sebelum Ai ke kamarnya karena mendengar kucuran air keran. Anak itu kebingungan kenapa ibunya mandi subuh subuh begini, tidak biasanya.
