Chapter Text
Ini kelas terakhir kami. Sensei mengumumkan begitu kemarin. Kami tidak mengerti kenapa dia berkata demikian. Kenapa tiba-tiba? Apakah Sensei akan berhenti jadi guru? Memangnya Sensei mau kemana? Tapi katanya tidak ada apa-apa dan kelas hari ini akan diadakan seperti biasa. Hela napas kami lega. Kami sudah mengira akan berpisah dengan Sensei.
Ini kelas terakhir kami. Kelas kali ini sangat berbeda. Tidak ada suara bel berdentang. Yang ada hanya suara burung gagak untuk memulai pembelajaran. Kelas dimulai saat waktu sudah akan menyentuh siang. Saat Sensei memulai kelas, tidak ada salam selamat pagi. Kami pun tak membalas salam sebagai tanggapan dari diamnya Sensei, hanya sekedar berdiri untuk membungkuk lalu kembali duduk di bangku masing-masing. Pembacaan absen pun tidak ada. Kelas dimulai dengan sunyi. Suasana di dalam jadi tegang.
Ini kelas terakhir kami. Sensei hari ini tidak mengajar di kelas. Dia sedang pergi ke Shinjuku, jadi dia mengajar lewat layar monitor. Pelajaran kali ini tentang bagaimana menghadapi Raja Kutukan, entitas berusia ribuan tahun yang kini membersamai Sensei. Tidak ada aktivitas menulis di papan tulis ataupun penjelasan lisan. Sensei hanya bertarung, bertaruh nyawa di setiap serangannya. Kami hanya disuruh menyimak dan berdiskusi untuk memahami pelajaran yang Sensei sedang bawakan.
Ini kelas terakhir kami. Sensei tampil begitu keren dari layar monitor. Kami belum pernah melihat dia beraksi seperti itu selama kita bersama di sekolah. Bela dirinya, penerapan teknik kutukannya, strateginya, dan pertahanannya. Seluruh kemampuan yang dia kerahkan menjadikan Sensei orang yang berbeda dari sosok guru konyol yang selama ini kami kenal. Keringat kami dingin. Jantung berdegup kencang. Tangan diremas berkali-kali. Kami merasa tidak nyaman, khawatir Sensei kenapa-napa. Tapi, Sensei berbalik ke layar monitor dan berkata “aku baik-baik saja” sambil tersenyum, jadi kami merasa lebih baik. Pembelajaran pun dilanjutkan. Kami kembali fokus memperhatikan sembari menaruh keyakinan dan harapan untuk Sensei.
Ini kelas terakhir kami. Suara burung gagak kembali terdengar, menandakan kelas sudah berakhir. Pembelajaran ditutup dengan Sensei mengucapkan selamat tinggal untuk selamanya kepada kami. Sensei mati terbunuh di tangan Raja Kutukan. Selimut salju menyelimuti jasadnya, putihnya menyerap merah darah yang berlumuran di kulitnya. Dia tersenyum sebelum menghembuskan napas terakhir. Kami menyaksikan pemandangan horor itu, lalu akhirnya memahami kenapa kemarin Sensei bilang ini adalah kelas terakhir. Kami menerima pelajarannya hari ini dengan duka yang menyakitkan pada hati.
Ini kelas terakhir kami. Kami termenung pilu di ruang kelas, tapi kami tahu kalau kami tidak boleh terus larut dalam kesedihan, sebab masih ada ujian di jam pelajaran kedua. Ujian yang dimana pelajaran yang dibawakan Sensei tadi akan menjadi bahan tes. Sensei juga pasti tidak akan suka melihat kita bersedih seperti ini.
Ini kelas terakhir kami, dan kami berterima kasih kepada Sensei. Kami lalu meninggalkan bangku dan berjalan menuju kelas sebelah untuk mengikuti ujian, di saat kami bahkan belum mampu meredam tangis.
