Actions

Work Header

Surat Cintaku yang Pertama

Summary:

Sugawara mungkin benar, cuman Tobio dan Shoyo yang paham dan bisa menangkap maksud dari satu sama lain.

Dalam kata lain, tidak ada gunanya Tobio bawa pulang semua surat dari penggemarnya cuman buat belajar nulis surat cinta buat Shoyo.

Notes:

Halooo, in the big 2026 aku baru nonton haikyuu dan kalo kata orang orang mah its altering my brain system. Kagehina salah satu ship kesukaanku, mungkin di kesempatan lain aku bakal tulis beberapa ship kesukaanku yang lainnya.

Semua karakter adalah milik Haruichi Furudate sensei, dan cerita yang akan kalian baca sama sekali tidak akan mengubah alur yang dibuat oleh beliau.

Work Text:

Menurut teman teman sekelasnya, aura Kageyama yang ketutupan dengan image tukang tidur di kelas (karena terlalu capek latihan voli) itu mulai terbuka sejak Karasuno kembali dari pertandingan nasional. Walaupun mereka kalah setelah menghadapi Kamomedai, bukan alasan buat berhentinya beredar potongan video yang menunjukkan performa Kageyama selama pertandingan nasional. 

Di pertandingan nasional pertamanya, para komentator memperkenalkan Kageyama Tobio sebagai salah satu dari peserta National Youth Camp. Kemudian seiring berjalannya pertandingan, performa Tobio mulai dari feint yang dilakukannya, lengkap dengan suara komentatorㅡthe audacity of first year Tobio Kageyama, no touch serve yang memberikan point pada pertandingan melawan Inarizaki, serta performa lainnya yang ramai beredar di sosial media. 

Selain orang orang professional di dunia voli yang menemukannya, siswa dan siswi Karasuno pun mulai menemukannya dan itu membuat banyak perubahan dalam kehidupan Tobio. Di mejanya selalu ada surat surat dan hadiah seperti coklat permen atau onigiri. Padahal Tobio bakal lebih senang kalau ada yang memberikannya susu kotak, lumayan menambah persediaannya dan juga bisa menghemat pengeluarannya. 

Belum lagi teman teman klubnya yang ketitipan hadiah, salam, semangat dan dijadikan batu loncatan buat mengenal Tobio lebih dekat. Ia banyak dengar hal seperti itu dari Hitoka dan Tadashi, sedangkan Kei bakal meledeknya dengan membawa titel "Raja" atau "Yang Mulia" (yang ingin sekali Tobio sumpal mulut Kei dengan coklat batangan). 

Sedangkan Shoyo? Tentu saja ia tidak dikecualikan buat jadi mak comblang atau wingman, akan tetapi berbeda dengan Hitoka dan Tadashi yang merespon dengan "iya iya dulu nantinya gimana belakangan", Shoyo malah membeberkan aib Tobio. 

Jujur Shoyo enggak mau kalah saing. Enggak mau kalah pamor juga dengan seorang Kageyama Tobio yang awalnya banyak dikenal sebagai sosok jutek yang padahal dia cuman lagi mikirin mau beli susu kotak varian apa. Shoyo pokoknya mau dikenal dan diidolakan banyak orang juga! 

*** 

"Hei, Baka-geyama!" 

"Hoi," 

"Surat-suratnya mau kamu bawa pulang?"

Manik mata Tobio mengikuti tatapan Shoyo yang terpaut pada tumpukan amplop dan kertas kertas dengan aksen lucu khas Valentine. 

Tobio mengangguk dan dengan eskpresi datar menjawab, "Ya. Kalau kutinggal di ruangan klub, yang ada aku diomelin Kak Ennoshita." 

"Oooh, mau kamu baca juga di rumah? Emangnya kamu bakal paham ya sama maksud dan tujuan suratnya?"  

Tobio mendelik, "kenapa banyak tanya sih? Kamu sendiri memangnya enggak dapat?" 

"Dapat juga sih," jawaban Hinata terdengar pelan, "tapi enggak sebanyak punyamu," dan mencucuㅡsupaya kalahnya enggak terlalu keliatan. Keduanya keluar dari ruangan klub setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal lalu berjalan menuruni tangga. 

Tobio sering mempertanyakan bagaimana orang orang selain anggota klub voli tidak bisa mengagumi Shoyo sebagaimana Tobio mengagumi "temannya" yang satu itu. Shoyo lebih banyak bicara darinya, kalimatnya juga selalu menjadi pemantik semangat orang di sekitarnya, bahkan bagi Hitoka sekalipun. Shoyo selalu tahu apa yang harus dilakukan dalam setiap hal, seperti waktu Tanaka merasa performanya belum memuaskan saat melawan Inarizaki, ketika di awal perjumpaan mereka dengan Nishinoya yang enggan kembali bergabung ke klub, waktu pertama kali bertemu dengan Ushijima. 

Bayangkan bagaimana kerennya Hinata melompat tinggi buat menangkap operan dari Ushijima buat kemudian bilang "Hinata Shoyo dari beton akan membuktikan......" 

Semua hal tentang Shoyo keren buat Tobio. 

Shoyo punya banyak teman di luar klub voli Karasuno, sebuah hal bagus sekalipun mengancam buat Tobio yang masih memutar otaknya buat menjadikan Shoyo punyanya seorang. 

***

Maka disinilah dia malam ini, duduk di meja belajarnya buat membuka satu per satu surat yang dia terima, mempelajari pola kalimatnya, kata kata apa saja yang biasanya dituliskan pada surat pengakuan cinta, dengan kalimat apa ia harus memulai dan bagaimana cara mengungkapkan perasaannya. 

Yaps, ia membawa pulang surat surat itu buat belajar bagaimana menulis surat cinta buat Hinata Shoyo. Sambil membuka beberapa surat, Tobio menuliskan beberapa detail yang mungkin dia bisa tambahkan. Dalam saat saat seperti ini, Tobio harap ia bisa sepandai saat menulis jurnal voli pribadinya. 

Karena ketika dirasa sudah merampungkan suratnya (yang merupakan tempelan kalimat dari kumpulan surat yang diterimanya itu selesai) Tobio malah bergidik ngeri. Orang bodoh sekalipun pasti bisa tahu ini bukan gaya Tobio sekali. Bukannya bakal terkesima atau luluh, yang ada Shoyo bakal meledeknya habis habisan. Buru buru, ia meremas kertas polos itu dan membuangnya ke tempat sampah. 

*** 

"Mmm, Hinata ya? Aku pikir cuman kalian yang paham bahasa satu sama lain." Suara Sugawara terdengar dari seberang sambungan telfon. "Karena yang penting itu cara dalam mengungkapkan perasaanmu, kalau kamu jujur pasti bakal kedengeran tulus kok. Coba kamu tulis apa apa yang membuat kamu suka Hinata, mulai dulu dari sana." 

Panggilan terputus setelah Tobio mengucapkan terima kasih dan Sugawara yang dengan ceria berkata buat jangan sungkan sungkan bertanya lagi kalau dirasa solusinya masih terlalu sulit. 

Ok, Tobio bisa saja menuliskan banyak alasan kenapa ia menyukai Shoyo. Tapi yang jadi masalahnya sekarang adalah bagaimana ia memulai suratnya? Apakah cukup dengan menuliskan keseluruhannya seperti ini: 

  1. Lompatanmu sudah berbunyi BBA-DUM! bagus 👍
  2. Receivemu mulai membaik, jangan lupa ejaan RECEIVE yang benar R-E-C-E-I-V-E.
  3. Kata-katamu selalu keren, ajari aku.


Dimana letak romantisnya? Apa Shoyo bakalan percaya dan enggak akan menuduhnya dengan alasan ini prank? Alih alih merasa senang, mungkin Shoyo bakalan merasa sedang disarkasi, dan niat tulus Tobio itu enggak bakalan sampai pada Shoyo.

****

"Oi Hinata." 

"Kageyama! Minggu depan sekolah kita ada jadwal latihan sama Nekoma! Aku enggak sabar lawan Kak Kenma lagi! Oh! Lawan Lev sama Inuoka juga!" 

Ah, Tobio keburu bete kalau gini terus. Beberapa hari kebelakang, Tobio ngide buat langsung aja menyatakan perasaannya tanpa perantara surat cinta yang malah bikin kepalanya lebih sakit dibanding kena service bola dari Shoyo. 

Tapi Tobio belum nemu momentum yang tepat.  Setiap mereka lagi berdua saat itulah Tobio berpikir ini waktu yang tepat, tapi selalu ada aja hambatannya! Mulai dari anggota kelas 1 yang minta diajari feint, Pelatih Ukai yang tiba-tiba memanggil Shoyo entah buat apa, atau Shoyo duluan yang sibuk berceloteh soal teman temannya yang seabrek dan dimana-mana itu. Kalau sudah begini, Tobio mempertimbangkan lagi opsi buat bikin surat cinta. 

***

"Jurnalmu keliatannya masih banyak halamannya ya, Kageyama. Jangan-jangan latihanmu belum ada banyak perkembangan jadinyaㅡ" 

"Mana ada." Yang ada, aku sibuk berkali-kali menulis banyak surat cinta buat kamu.

Selama kurang lebih 1 minggu ini, Tobio berencana buat enggak terburu buru menuliskan suratnya, selain karena ia masih perlu menyesuaikan diri untuk menerjemahkan perasaannya dalam bentuk kalimat, Tobio juga lagi mengumpulkan inspirasi yang hanya datang pada momen-momen tertentu. Gotcha!ㅡlayaknya momen dirinya dapat inspirasi kalimat apa yang cocok waktu berada di sekitar Shoyo, dan banyaknya sering muncul saat sedang kegiatan klub voli. 

Guna mencegah kalimat bagus itu kabur, Tobio kerap kali menuliskannya di halaman paling belakang jurnal pribadinya. Istilahnya, drafting

Tobio menghela napas, ia membungkukkan badan sambil membenarkan tali sepatunya. "Latihan lusaㅡ" 

Perhatian Shoyo terpecah waktu Kageyama membahas latihan melawan Date Tech, entah membahas soal dinding block Date Tech yang semakin susah ditembus atau apalah itu, kini matanya fokus pada sebuah sticky notes berwarna biru muda yang tertempel di halaman paling belakang jurnal. 

Ada nama aku! Pekik Shoyo dalam hati. Perasaan dan pikirannya was was hal apa yang membuatnya masuk ke dalam jurnal pribadi itu? Kesalahannya yang mana yang menembus dendam Tobio sehingga namanya masuk ke buku keramatnya itu (Hinata Shoyo, tolong ini cuman jurnal Tobio, bukan Death Note). 

"Hoi, kamu dari tadi dengar atau enggak, sih?" Suara Tobio terdengar lebih keras dari sebelumnya. Shoyo buru buru mengalihkan tatapannya dari halaman paling belakang jurnal dan menimpali, "ya, ya. Aku paham."

"Ya, pokoknya begitu. Jangan lupa beri tahu Yamaguchi juga besok. Kalian kan satu kelas." Tobio mulai membalikkan tubuhnya buat merapikan isi tasnya, dan saat itu pula Shoyo mencabut sticky note tersebut dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya. 

"Rompinya harus udah dikumpul di ruang klub loh, Yachi mulutnya udah berbusa ngingetin dari tadi siang." Shoyo menakut nakuti Tobio yang memunggunginya, mengulur waktu supaya dia masih punya waktu buat menutup jurnal dan mengembalikannya ke posisi semula. 

Keduanya kembali ke ruangan klub, dan menaruh rompi di keranjang cucian. Mengikuti saran cekikikan Shoyo, Tobio menaruh rompinya di tengah tumpukan alih alih tumpukan teratas.

"Ya sudah deh, sampai jumpa besok, Tobio." 

Shoyo menaiki sepedanya sebelum berpisah jalur pulang dengan Tobio di depan gerbang SMA Karasuno. Udara malam mulai menerpa, dan Shoyo masih butuh waktu sekitar setengah jam mengayuh sepeda buat sampai ke rumahnya. 

Shoyo mengayuh sepedanya kemudian berhenti setelah beberapa meter terpisah dari Tobio. Niatnya mau membaca dengan jelas tulisan dari sticky notes, akan tetapi ia buru buru tersentak waktu Tobio memanggil namanya. 

Jujur, dinginnya terpaan udara malam ini tidak ada tandingannya dibandingkan Tobio yang jalan menghampiri sepedanya. Tangan Shoyo buru buru masuk ke dalam saku jaketnya, terkepal. 

"Sho," 

"Apa?" 

Kalau saja mereka masih di ruangan klub, Shoyo mau mengambil termometer dan menaruhnya di leher Tobio, karena apa yang dilakukannya kali ini super aneh. Saking anehnya bisa jadi masuk 7 Keajaiban Kageyama versi On The Spot. 

Tobio mengulurkan sebatang coklat, yang Shoyo yakin itu hadiah dari penggemarnya. "Kenapa? Mau dibukain bungkusnya?"

"Ugh, boke! Cepet terima aja, supaya kamu enggak kedinginan. Dah, hati-hati." Tobio memasukkan coklat batangnya ke dalam keranjang sepeda Shoyo kemudian membalikkan badannya dan berjalan pulang, meninggalkan Shoyo yang mematung dan melongo dan mengerutkan dahi sambil berpikir keras sepanjang perjalanan rumah.

Apa jangan jangan yang dari tadi mengobrol dengannya itu legenda hantu yang menyerupai Tobio? Doppelganger? Jadi Shoyo baru aja mengalami aktivitas paranormal?

*** 

Tobio panik setengah mati! Niatnya malam ini adalah menyatukan draft inspirasi inspirasi surat cintanya buat Shoyoㅡyang berupa kalimat di sticky notes itu. Kini niatnya mengawang buyar karena sticky notesnya hilang. 

Kemungkinan kemungkinan terburuk muncul di kepalanya, gimana kalau anak anak klub yang menemukannya? Dia bakalan dijadiin bulan bulanan sama Kei, seluruh anggota klub bakal mencie cie kannya dengan Shoyo, dan gagasan kalau mereka bakal jadi canggung setelahnya adalah mimpi terburuk Tobio. 

Terakhir kali mereka berselisih dan jadi awkward sampai duduk berjauhan di bis itu, Tobio sampai merendah diri dan membungkuk di depan Oikawa Tooru. Memikirkan hal tersebut bakal terulang sukses bikin Tobio bergidik ngeri. Duh jangan sampai dong. 

Mana mungkin ia kembali ke SMA Karasuno cuman buat menyisir gymnasium dan ruangan klub. Ugh, mana kuncinya ada di Shoyo! 

Malam itu, Tobio menulis ulang dari sisa ingatannya, harap harap kalau sticky notesnya jatuh, siapapun yang melihatnya tidak perlu membukanya dan langsung memasukkannya ke tempat sampah. 

***

"Mana Shoyo?" 

"Tadi dipanggil Pak Takeda di kantor guru." 

"Kenapa?" 

"Entah, paling sebentar kok. Ngomong ngomong kenapa mukamu pucat ya, Kageyama?" 

"Aku ada permen nih," Hitoka menyodorkan kaleng berisi permen permen, Tobio dengan lesu mengambil 2 bungkus permen rasa jerukㅡyang mengingatkannya pada Shoyo dan sticky notes birunya lagi. Intinya, permen yang Hitoka tawarkan sama sekali tidak membantunya merasa lebih baik, apalagi lebih tenang.

"Waah kenapa umpan Raja kita jelek sekali yaaaa hari ini?"

Sambil menunggu senior kelas 3 datang, mereka memutuskan untuk latihan spike. Dikarenakan umpan yang Tobio berikan sulit untuk dipukulㅡkarena pikirannya sedang carut marut dan tidak fokus, mereka memutuskan untuk jeda sesaat. Bersamaan dengan itu, Tobio duduk di sudut gymnasium sesekali celingak celinguk mencari keberadaan sticky notes yang mungkin saja tertinggal di sini. 

"Oi Kageyama!!" 

Shoyo melambaikan tangan dari pintu gymnasium kemudian berlari menghampirinya. Wajahnya segar dan ceria sekali, seperti biasanya. Sangat berkebalikan dengan air muka Tobio yang muram dan masam. Hidup segan, mati tak mau karena belum memberikan surat cintanya buat Shoyo. 

Shoyo berjongkok di hadapan Tobio. Jarak mereka terlalu dekat, Tobio berusaha menahan napasㅡseolah olah dengan menghela napas bakal bikin Shoyo bisa dengar dentuman jantungnyaㅡwalaupun dengan jelas Shoyo bisa lihat telinga Tobio merah padam. 

"Tadi aku dengar dari Kak Tanaka kalau latihan hari ini bakal 3 lawan 3. Hari ini aku bakal menang dari tim kamu ya!" 

Shoyo mengeluarkan susu kotak varian kesukaan Tobio dan menaruhnya di samping Tobio, sebelum lari ngibrit karena Kei yang meneriakinya buat cepat cepat ganti baju sebelum anak kelas 3 datang. 

Tobio sama sekali enggak dikasih waktu buat merespon, bahkan buat menunjukkan dahinya yang berkerut dan matanya yang mendelik. Alih alih mengejar Shoyo, Tobio terpaku pada susu kotak yang ternyata ditempeli sticky notes dengan warna serupa dengan susu kotakㅡwarna biru muda. 

Rasanya seperti ada gong dipukul di dalam tubuhnya, dan sekarang tubuhnya panas dingin. Kebetulan macam apa ini? Apa jangan jangan malah Shoyo sendiri yang nemu sticky notesnya?

"Hari ini aku bakal berdiri lebih lama di lapangan dari pada kamu, mau 10 tahun atau 15 tahun berikutnya, aku enggak bakal kalah dari kamu, Baka-geyama!" 

lalu dibawahnya terdapat tulisan yang lebih kecil, hampir saja Tobio lewatkan kalau ia tidak berkali kali membaca isi sticky notes tersebut. 

"...jadi tolong terus ada disisiku, dan lihat kemampuanku buat mengalahkanmu!" 

"Habis menang dari Nekoma nanti, aku mau makan Pōkukarē Ontama Nose buatanmu."

Sugawara mungkin benar, cuman Tobio dan Shoyo yang paham dan bisa menangkap maksud dari satu sama lain. 

***

(Flashback

 Kemarin malam, kamar Shoyo...

Shoyo memegang coklat batang pemberian Tobio tinggi tinggi dengan kedua tangannya. Aneh sekali, pikirnya. Sejujurnya, Shoyo ada niatan buat mengirimi Tobio pesan buat memastikan kalau yang tadi bersamanya betulan Kageyama Tobio atau hantu Kageyama Tobio. Walaupun pesannya belum terketik, Shoyo sudah tahu duluan apa yang akan jadi balasan dari Tobio, boke

Teringat dengan sticky notes yang Shoyo ambil diam diam, ia mengaduk isi saku jaket dan merapikan kertas biru yang sudah teremas itu. Tulisannya jadi agak pudar, tapi masih bisa Shoyo baca. Namanya masih tertulis dengan jelas dan beberapa deret kalimat singkat yang ternyata bukan kritikan dari sesi latihan mereka.

Shoyo terkekeh pelan membacanya, super kaget karena Kageyama Tobio yang isi kepalanya hanya serba serbi voli dan susu vanilla itu bisa juga menuliskan hal hal yang kaitannya erat dengan perasaan. Shoyo akui kemampuan sosial Tobio sudah jauh membaik dibandingkan awal awal mereka kenal. 

"Sho, aku mau kita terus ada di lapangan yang sama, baik saling berhadapan atau sejajar di balik net yang sama."

"Lets keip scorign." 

"Ayo pergi kencan setelah latihan tanding dengan Nekoma. Pastikan tanganmu kamu enggak terluka, dan pukul semua umpanku!" 


Selama ini, Shoyo belum pernah dapat surat pengakuan cinta. Surat surat yang datang untuknya, seringkali ditujukan buat menyemangati Shoyo dalam aktivitas klub voliㅡ sebetulnya tanpa disemangati pun Shoyo selalu semangat menjalaninya, atau yang sebetulnya ditujukan untuk Tobio kemudian dititipkan melalui dirinya. 

Tapi hari ini, Shoyo dapat surat yang betulan ditujukan buat dirinya buat pertama kali. Surat cintanya yang pertama. Datang dari cinta pertamanya, Kageyama Tobio. Tanpa buang banyak waktu, Shoyo segera menuliskan balasannya.

Dengan cara komunikasi dan dinamika mereka yang unik, baik Shoyo dan Tobio mengerti maksud dari satu sama lain, serta menangkap tulus makna pada deretan kalimat pada sticky notes berwarna biru yang mereka terima.