Actions

Work Header

The Price of Being Seen

Summary:

For a child shaped by loneliness, even the slightest attention can feel like everything. Yet the first time he was ever truly seen and wanted came through pain —something that he gradually mistook for happiness.

So, what is left when that feeling no longer feels true?

Notes:

I pour my heart out in this work so I hope the message could reach you ⁠♡

I hope this 5k+ words fic is worth your time!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Some people are never truly seen, only desired. He learned to survive by becoming whatever others wanted—until wanting stopped feeling like survival and started feeling like loss. Now, he is trying to become someone new, even if it means unlearning the only way he has ever been loved.

 

Aku tak pernah benar-benar memahami arti lapar hingga rasa itu melahapku hidup-hidup.

Aku Renjun. Dan di usia dua puluh tiga tahun, aku masih sering terbangun di tengah malam dengan tanganku bergerak sendiri di antara selangkangan, mengejar bayang-bayang akan sentuhan. Tak peduli seberapa keras aku mencoba berhenti, rasa nyeri itu tak pernah hilang. Kulit bergesekan dengan kulit, napas di telinga, gesekan basah milik seorang pria yang masuk ke dalamku hingga aku lupa semua ruangan kosong tempat aku dibesarkan. Tentang siapa diriku sebenarnya sebelum ini semua.

Hal itu sudah seperti sebuah kebutuhan bagiku — bagi tubuh dan pikiranku yang tak bisa berjalan normal jika tak disentuh dan diberi perhatian dalam interval waktu tertentu. Aku menyukainya, sekaligus membencinya. 

Rasa jijik selalu menyertai setelahnya. Tapi itu kebutuhanku, seakan merambat dalam darahku. Dan rasa lapar akan kebutuhan itu, selalu menang lebih dulu. Selalu. 

Orang tuaku seperti hantu. Bukan karena mereka mati — mereka masih panjang umur hingga saat ini — sejauh yang kutahu.

Sepasang insan gila kerja dan penuh ego yang pada suatu malam memutuskan untuk memiliki satu perpanjangan dari hubungan mereka yang sudah seharusnya diakhiri. Workaholic yang membayar dan menyediakan segalanya, kecuali satu hal yang paling kubutuhkan: kehadiran mereka. 

Aku punya asisten pribadi, bukan ibu. Sopir pribadi, bukan ayah. Mereka membelikan ku ponsel terbaru, tutor terbaik, kendaraan keren, pakaian terbaik, tapi tak pernah sekali pun bertanya bagaimana perasaanku di penghujung hari. 

Hanya aku satu. Dan meskipun hanya satu, mereka tak mampu menghadirkan diri mereka untukku. 

"Mama, aku dipukul dan dipalak teman sekelasku. Mereka mengataiku banci dan lemah." Aku ingat sore itu — ketika di sebuah momen yang langka, ibuku pulang lebih awal dan memasak untuk keluarga. Dan aku mengadu padanya, akhirnya, setelah sekian lama menahannya.

Ibuku tak memberi reaksi dramatis. Ia hanya mengangkat kepala dari telpon yang terjepit di antara bahu dan kepalanya, menjauhkannya sebentar, dan mengangguk-angguk. "Iya, nanti mama urus."

Bukan ibu atau ayahku yang datang ke sekolah. Mereka membayar orang lain untuk mengurusnya. Di detik itu aku menyadari, tiada guna mengadu pada mereka.

 

Perundungan itu tidak berhenti. Tentu saja.

 

Absennya orangtuaku dari masalah itu membuatku makin dihina — aku mungkin anak yang tak mereka inginkan, katanya. 

Mungkin benar.

Aku juga sepemikiran dengan Dimas — si ketua perundungan yang tak pernah absen menghina dan menggangguku di setiap kesempatan yang ia punya.

Mungkin memang bukan diinginkan sebagai seorang individu — hanya sebagai syarat.

Makanya aku tak lagi melawan ataupun melaporkannya.


Mereka mencegatku dan menyeretku ke gudang belakang sekolah ketika aku membuang sampah, suatu hari sehabis piket sore sekolah. 

Mulutku disumpal dengan kaus kaki bau dan tanganku diikat kencang oleh kabel tile yang entah mereka dapat dari mana. Sebuah layar dengan gambar bergerak disodorkan ke depan mukaku yang mereka tahan dengan kasar agar tak bergerak. Kedua tangan dan kakiku dicengkeram tangan-tangan yang lebih kuat dan besar.

Tiga manusia dewasa tanpa busana, bergerak liar dengan suara-suara yang membuatku tak nyaman. "Lihat ini princess, kamu pasti suka diginiin, ya?"

Mataku menyala panik, air mata berderai seketika. Aku menggeleng-geleng kuat, berusaha berteriak di sela mulutku yang tersumpal. Tapi suaraku teredam, dan gerakanku tak mengakibatkan apa-apa yang signifikan.

Aku menggerakkan segala bagian tubuh yang bisa kugerakkan ketika mereka mulai membaringkan ku di permukaan berdebu gudang sekolah. Tapi nihil gunanya, kalah telak oleh perbedaan fisik yang nyata dari 3 orang yang melihatku bukan sebagai manusia.

Aku berusaha membuang muka ketika kurasakan wajahnya mendekat — namun Adi mencengkram rahang ku dengan kekuatan absolut. Ketika aku tetap melawan, Dimas menamparku hingga bibirku robek dan berdarah.

 

Anak laki-laki yang sering menghinaku karena mirip perempuan itu — adalah manusia pertama yang menyentuh bibirku — juga seluruh tubuhku. 

 

Anak miskin dan bodoh seperti mereka, tahu apa soal memperlakukan orang lain seperti manusia?

 

Anus ku lecet, sedikit berdarah. Rasa perih itu bertahan hingga berhari-hari lamanya — aku absen lebih dari 2 hari karena tak bisa berjalan dengan benar — dan kedua orangtuaku tak mengetahuinya. 

Tapi ada satu hal yang lebih mengerikan dari fakta aku dirudapaksa — aku mengalami pelepasan berlimpah. Tubuhku gemetaran, bagian bawahku kesakitan, tapi anehnya, otak ku yang parah terus memanggil-memanggil memori sore itu di kepalaku — seakan menginginkan itu terjadi lagi. 

Dimas ternyata tidak salah saat ia menjambak rambutku setelah penisnya menyirami dalam ku sore itu, "Lihat jalang ini!" serunya pada 2 temannya yang lain. "Banyak keluarnya — hei, kau suka sekali, ya, tuan putri? Ayo lakukan lagi lain kali."

Semua orang di sana tertawa. Kecuali aku yang berderai air mata dengan siraman rasa malu memenuhi dada. 

Seharusnya aku menceritakan pada seseorang. Tapi tidak kulakukan. Karena sebagian diriku — ya Tuhan, tolong ampuni aku — ingin merasakannya lagi. Cara ia memandangku seolah aku benar-benar ada. 

 

Seolah aku diinginkan. 

Meski hanya untuk digunakan asal-asalan. 

 

Sejak hari itu, obsesiku bertumbuh liar. Aku menyerahkan diri pada siapa saja yang menginginkanku. 

Baik anak laki-laki seusiaku, kakak kelasku, maupun pria-pria dua sampai tiga kali lipat usiaku. 

Aku merasa dilihat dan ada setiap kali bercinta. Dan maafkan aku, Ya Tuhan, perasaan itu sangat menyenangkan bagiku. Untuk melihat seseorang akhirnya memfokuskan dirinya hanya padaku, dan mendapatkan kesenangan dari diriku. 

Ada perasaan bangga.

Meskipun itu hanya sejenaknya durasi. 

Setiap tetes yang kutelan atau yang tumpah di kulitku, mengisi kekosongan yang ditinggalkan orang tuaku.

Aku belajar mendesah dengan indah, melengkungkan punggung dengan sempurna, memohon dengan nada yang membuat mereka menggila. Aku belajar betapa nikmatnya merasa diinginkan, meski keinginan itu hanya nafsu belaka. 

Sejak usia 19, aku menjadikannya usaha. Tak perlu waktu lama bagiku untuk mendapatkan pria-pria royal yang siap membayar mahal. 

Aku tak lagi merasa terbebani dengan kata 'cantik', 'princess', dan 'banci' yang mula-mula mereka sematkan dengan niat merendahkan. Aku mengubahnya ke dalam bentuk uang.

Kata-kata seperti jalang dan murahan hanya ejekan ringan bagiku sekarang. 

Orangtuaku mengetahui kebenarannya di ulang tahunku yang ke-dua puluh, ketika salah satu penikmat servis ku mengirimkan rekamannya ke mereka secara sengaja dikarenakan aku menolak memberinya 'bonusan' setelah berlangganan sebanyak 3x dan tak mampu membayar lagi level tarifku karena ia kalah telak di investasi bodong. 

Mereka dengan mudah mengusir dan mencabut semua hak ku sebagai buah hatinya. Mereka sepertinya sama sekali tak penasaran sebab dan alasan semua ini terjadi. Hanya peduli dengan fakta bahwa aku mempermalukan keluarga dan harus disingkirkan secepatnya.

"Baguslah. Diusir berarti kebebasan." Gumanku ringan saat menyeret koper yang hanya diizinkan berisi beberapa lembar pakaian. 

Aku tertawa sepanjang perjalanan. 

Tawa yang ternyata, saking lucunya, meninggalkan jejak air di sudut mata.


Waktu itu, aku ditampung seorang teman lama. Yang karena aku tak bisa membayarnya dengan material — dan ia mengetahui aku orangnya seperti apa — aku menyerahkan tubuhku juga padanya. Dia hanya seorang yang penasaran dan ingin mencoba — tapi toh ia klimaks parah juga. “Anjing, jadi gini rasanya ngewein lanang?”

“Itu karena sama aku. Belum tentu cowok lain bisa kasih rasa yang sama.” Ucapku menggoda. Entah kenapa aku bicara sebegitunya — aku menyesalinya. Menggelikan juga kalau diingat.

Sepertinya jiwa-jiwa menggoda itu memang sudah tertanam terlalu dalam — efek melayani banyak pria — dan aku mengeluarkannya begitu saja secara tidak sadar. 

Dia termasuk beruntung. Satu-satunya pria sejak umur 20 yang aku izinkan menyentuh tubuhku tanpa penerapan tarif mahal.


Di usia dua puluh tiga, dua sisi kehidupan berbeda ada di tanganku. Berjalan dengan rapi dan terkendali. 

Di siang hari, aku adalah mahasiswa jurusan bisnis yang berpakaian rapi dan berpikiran tajam, dengan segala jenis presentasi yang kusiapkan dengan matang, tulisan tangan yang hampir menyerupai font komputer tersendiri, dan pemilik argumen-argumen kritis ketika waktunya bertanya dan memperdebatkan.

Sedangkan saat malam, aku adalah jalang. 

Benar, jalang. 

Aku tak perlu memperhalus bahasanya. Aku terima, itu fakta soal diriku.

Pria muda yang menjajakan dirinya untuk pria lainnya; yang jauh lebih kuat dan kaya. Aku berhasil menaikkan kelasku — dan klien berpenghasilan ratusan juta sampai miliaran sudah menjadi langganan. 

Di antara banyaknya pria yang menginginkan, aku paling ingat Mark si produser musik ternama yang berhasil mengantarkan para artis pemakai rakitan nadanya untuk menjadi terkenal, Jaemin si dokter bedah yang akan mengundangku setiap kali ia punya sedikit saja waktu luang, dan Jaehyun si aktor box office yang sering memintaku berperan sebagai kekasih rahasianya di malam-malam gelap hotel bintang 5 kesukaannya. 

 

Tapi Jeno… 

Jeno berbeda.

 

Miliarder 40 tahun dengan perusahaan teknologinya — seorang yang masih gagah dan tampan untuk seusianya — bahkan ia lebih seksi semakin bertambahnya usia. Aku tahu karena ia pernah menunjukkan foto masa mudanya. 

Ia tak hanya membeli waktuku sejam dua jam seperti yang lainnya. 

Ia lebih suka seharian — atau minimal semalam penuh — dia bukan tipe pria yang memikirkan soal rugi-untungnya sebuah pengeluaran yang diniatkan untuk bersenang-senang. 

Lelaki sepertinya bahkan rela membayar mahal hanya karena seseorang bisa menyeimbangi obrolannya. 

Ia bahkan pernah menyewaku seminggu penuh — aku hampir nyaris tak pernah memakai celana dengan tenang. Kapal Yacht itu miliknya, dia memiliki kebebasan untuk menyetubuhiku di setiap sudut kapal; di kamar, kolam renang, dek kapal, dan bagian-bagian lain kapal yang tak bisa aku hafal.

 

Ada satu kebiasaan yang kuingat tentang dirinya.

Dia suka merekam. 

Bukan hanya video soal aku bergoyang duduk di atas penisnya yang keras — ia bahkan suka merekam sekedar obrolan kami saat makan bersama. 

Aku tak tahu mengapa dia melakukannya.

Dan dia, adalah klien paling setia selama dua tahun belakangan. 

Setiap kali dirinya mengirim pesan, aku tahu daftar keinginan ku akan segera terkabul. 

Karena ia selalu membayar paling mahal, meski masih bukan yang terkaya dari semua pria yang pernah meniduriku. 

Ia suka kalau aku berisik, suka aku menangis karena stimulasi berlebih, suka aku memanggilnya “sir” saat ia memenuhiku dalam-dalam dan pelan. 

Setelahnya, ia memelukku seolah aku sesuatu yang berharga, mengelus rambutku, menyuapiku buah, dan bilang aku cantik. Aku meyakinkan diri bahwa itu hanya kemurahan hatinya — miliarder juga bisa berbuat baik pada mainan favoritnya, kan?

 

Tapi aku mengingat ini bukan untuk memujinya. 

 

Ini karena… sesuatu berubah. 

Aku merasakannya sendiri dari dalam diriku.

 

Semua diawali dengan kehadiran anak magang baru — lebih junior dariku yang sudah 3 bulan berkecimpung di perusahaan ini.

Wanita dengan senyum manis, tawa ceria, dan punya banyak rasa penasarannya. 

Sosok yang memendingkan bimbingan dariku dari semua anggota lainnya. 

Wanita itu memandangku dengan cara yang berbeda. Seakan ia melihat sesuatu yang selama ini tak dipedulikan orang lain.

Kerja keras dan kedisiplinan ku di tempat magang dan caraku menyeimbangkan antara kehidupan kuliah dan pekerjaan membuatnya kagum, katanya.

Fakta bahwa kami berkuliah di universitas yang sama, semakin menambah faktor senasib sepenanggungan. 

Kami, entah sejak kapan, mulai mentraktir kopi dan makanan ke satu sama lain — dan sejak bulan lalu, gadis itu untuk pertama kalinya mengajakku belajar bersama di perpustakaan.

 

Dan aku menemukan satu hal mencengangkan yang baru berani kuakui setelah berminggu-minggu.

 

Dia memunculkan hal yang sudah lama terkubur dalam diriku.

 

Bahwa aku… ingin menjadi orang baik.

 

Orang yang berhak dihargai.

Orang yang pantas dicintai.

 

Lelaki yang baik. 

Lelaki yang bisa menjadi pemimpin.

 

Dan disitu aku menyadari, aku ingin berubah. 

 

Ini pertama kalinya seseorang membuatku merasa begini.

 

Aku ingin, suatu hari nanti, bisa menjadi pria yang ia andalkan seumur hidupnya.

Wanita itu membuatku mulai membayangkan memiliki hal-hal yang selama ini aku benci — pernikahan dan keluarga. 

Aku mulai membayangkan wajahnya di malam-malam setelah Mark menumpahkan calon bakal anak-anaknya di atas perutku yang rata. 

Kadang aku melamun saat dokter tampan itu mencekik ku sambil mendesahkan namaku dengan tergesa. 

Malam itu, Jaemin sampai mengutarakan rasa penasarannya setelah ia mengembalikan bawahanku sesuai dengan posisi semula, “Are you even here, cantik? Mikirin apa sih, sampai segitunya tadi?” 

Dia sedang bersiap untuk berangkat lagi. Seragam residensi birunya sudah kembali terpasang, dan matanya mencari dimana gerangan jas medis dan kacamatanya. 

Realita hidup dokter memang tiada sepi-sepinya, tapi Jaemin selalu bisa menyisipkan sedikit waktu luangnya demi mengundangku ke tempatnya — atau ke ruang jaganya — jika dia sedang cukup nekat.

 

Aku menggeliat malas di kasurnya, tak peduli pahaku yang basah dan lengket meski sudah sempat diseka, “Nggak… cuma capek aja. Biasa.”

 

Dia tertawa, “Kamu diem aja waktu dicekik, masa. Gak nikmatin ya?”

 

“Gak gitu—”

“Sorry, lagi banyak pikiran, Pak Dok, hehe. Susah seimbangin waktu kuliah sama pekerjaan.”

 

“Capek ya? Tidur di sini aja, cantik. Jangan nyetir malam-malam.” ucapnya, mengelus pipi dan dahiku dengan punggung tangannya.

 

“Nggak, hehe. Besok ada kelas pagi, soalnya.”

 

“Oalah… aku suruh supir ayah antar kamu, ya? Mobil mu parkir di bawah aja, aman.”

 

“Boleh. Makasih, ya.”

 

Jaemin baik, Mark juga, begitupun Jaehyun dan Jeno. Aku memang cuma bersedia dijadikan langganan oleh pria-pria yang memperlakukan ku seperti manusia.

Tapi ingatan-ingatan soal mereka, sekarang menjadi bayang-bayang.

Bayang-bayang yang… berubah menjadi rasa bersalah. Pekerjaan sampinganku ini bertentangan dengan sesuatu yang mulai tumbuh dalam hatiku—keinginan untuk berubah. Untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Aku tidak ingat bagaimana persisnya — tapi suatu hari — aku mulai berdoa lagi. Melakukan kegiatan religius yang sudah bertahun-tahun tak aku praktekkan. 

Doa-doa yang meski sudah banyak ku lupa, ternyata terasa pas di lidah ku.

 

Suaraku ternyata juga bisa indah saat bukan mendesah. 

 

Kucoba membaca-baca lembaran yang dulu pernah diajarkan oleh nenekku sebelum meninggal, meninggalkanku dengan dua orang tua yang tak mempedulikan.

 

Aku, akhirnya, meneteskan air mata ke kertas usang dengan aksara indah itu.


Aku baru menyentuh ponsel kedua ku untuk pertama kalinya malam itu menjelang waktu tidur.

Alat perantara antara aku dan klien ku.

Sudah tertera banyak pesan di sana. 

 

Mark Produser: Mau ketemu waktu yg sama minggu depan, baby?

Jaemin the Surgeon: Main lagi yuk sayang besok lusa aku selesai shift pagi. Cuddle seharian kitaaa.

Pak Arif Nusafibre: Are u available tomorrow at 13.00-15.00? Need some company at hotel Alexandria. 

Jeno CEO Lee Tech: I'll be in town on April 20th, let's meet, shall we? I've missed you unbearably. Be my best gift. 

 

Jeno menambahkan beberapa detik setelahnya, "Be my best gift. You know the date right?"

 

Panggilan-panggilan dari pria kaya itu biasanya menyenangkan ku. Tapi entah mengapa, malam ini, aku justru merasa terbebani. 

Perasaan aneh itu muncul lagi. 


Aku secara perlahan mulai sering menolak ajakan-ajakan mereka. Tidak sekaligus — kubangun alasan-alasan yang masuk akal terlebih dahulu, dan menyatakannya dengan sopan santun.

Banyak diantaranya menawarkan harga lebih tinggi — dua sampai tiga kali lipat dari tarif biasa — namun aku tetap menolak. 

“Saya ingin fokus dengan kuliah dan magang saya dulu, Pak.” Adalah alasan terklasik ku namun paling masuk akal.

Tapi kepada yang sudah dekat — pelanggan tetap — aku sampaikan dengan jujur pada akhirnya — bahwa aku ingin pensiun dari pekerjaan ini.

 

Aku ingin berhenti menjual diri.

 

Mayoritas mereka menerima dan tak memaksa lebih jauh. Mark mengirimi paket wine dengan kartu ucapan ‘Semoga sukses’. 

Jaemin memujiku dan ikut senang atas keputusanku — meski ia sempatkan bercanda, “Kapan-kapan boleh lah kita ngopi santai ya, cantik?” 

Jaehyun mengirimi hadiah dengan sebuah catatan “Be happy, My Princess ♡”

Bahkan ada yang menawarkan bantuan untuk mencarikan ku pekerjaan dengan legitimasi yang tak bisa diremehkan. 

 

Hanya satu, yang terlihat jelas tak puas dengan keputusan itu.

 

Dan orang itu sudah menghubungiku berkali-kali sejak aku menolak bertemu dengannya sejak 2 minggu lalu. 

Ia terus mengirim pesan dan melakukan panggilan, meski telah kuminta untuknya berhenti.

Untungnya, akhirnya ia berhenti setelah kublokir 5 hari lalu. Tak ada terdengar pesan dari nomor asing yang sudah bisa kutebak pengirimnya lagi — Jeno pasti sudah berhenti, pikirku.

 

Itu yang ingin aku percayai.

 

Padahal aku tahu sendiri Jeno tipe pria yang seperti apa. 


Malam ini, aku berdoa lagi. Memohon pada Tuhan yang mungkin masih mau mendengar agar membantuku berhenti membutuhkan sentuhan untuk merasa nyata.  Yang mungkin masih mau membantuku keluar dari lingkaran ini. Yang mungkin masih mau memaafkan ku atas semua dosa-dosa terkotor ku.

Aku ingin cinta yang tulus. Ingin menjadi pria yang pantas untuk Mentari — gadis yang senyumnya secerah matahari dan membuatku ingin menjadi lebih baik lagi.

Mentari yang tetap menjaga kontak denganku bahkan setelah aku selesai dengan program magang ku. Wanita pertama yang cukup peduli untuk memberi perhatian lebih tanpa menilai seberapa ‘jantan’ diriku.

Dia membuatku menyadari… rasa lapar ku kini telah berubah menjadi haus. 

Haus akan kehadiran seseorang yang bisa memelukku tanpa bayang-bayang ratusan tangan lain di kulitku.

 

“Maaf, Pak Jeno. Bagian hidupku yang itu sudah selesai. Tolong hormati itu.” Adalah kalimat terakhir yang kukirim sebelum memblokirnya berhari-hari lalu.

 


 

Bel pintu berbunyi seperti letusan gunung di tengah hutan yang tentram, mengejutkanku yang baru menyelesaikan makanan pertamaku hari ini. Aku membuka pintu tanpa banyak berpikir — karena aku memang sedang menunggu paket delivery.

Siang itu, aku hanya memakai kaos oversized putih dan celana pendek hitam di atas lutut, dengan rambut acak-acakan karena baru bangun tidur dan tak peduli soal penampilan di akhir pekan. 

Namun, pemandangan yang kudapati ketika membuka pintu, membuat jantungku serasa jatuh. 

 

Jeno berdiri di ambang pintu seperti badai yang sudah memutuskan untuk menghancurkan segalanya. Matanya gelap, dengan rahang yang mengeras. 

 

Ia tak berkata apa-apa. Langsung melangkah masuk, menendang pintu hingga tertutup dengan tumitnya, lalu mendorongku ke dinding begitu keras hingga pigura di samping kepalaku bergoyang.

Mulutnya langsung menghantam mulutku dengan penuh amarah dan rasa lapar. 

Lumatannya tak melibatkan kelembutan, hanya pemaksaan kepemilikan. Lidahnya memaksa masuk, menandai ku dengan kasar, seolah aku masih miliknya. Satu tangan besar mencengkram rahang, tangan satunya lagi menyusup ke bawah kemeja, meremas dada, memilin puting, hingga rasa sakit dan panas yang tak diinginkan menjalari tubuh ku di hadapannya. 

Bisa kurasakan, milik Jeno sudah keras sekali, menggesek perutku. Sesaat yang memalukan, karena tubuhku menjawab secara naluriah—pinggul ku yang otomatis bergerak, dan erangan kecil lolos ke dalam mulutnya—sebelum akal sehatku berteriak kembali.

Kucoba mendorong dada Jeno sekuat tenaga. “Jeno—berhenti!” Namun pria itu malah mencium ku lebih keras — tangan besar dan berurat itu menahan rahang ku dengan tenaga tak sepadan denganku, giginya menggores bibir bawahku, sedangkan pinggulnya menahan tubuh ku tetap menempel di dinding — aku kesulitan bernafas. 

Aku sampai harus menendang pahanya dan memutar tubuh dengan kasar agar bisa lepas. Aku punl terhuyung ke samping, dengan dada naik-turun dan bibir yang bengkak dan basah.

“Apa-apaan sih kamu?!” sergahnya terengah-engah. “Aku sudah bilang tidak. Kita sudah selesai. Aku mau berhenti!”

Ia menatapku seolah aku baru saja mencabut hatinya dengan tangan kosong. Kesunyian menggantung, pekat dan mencekik. 

Kemudian ia mendekatkan kembali wajahnya, “Kamu pikir kamu bisa seenaknya berhenti begitu saja?” Suaranya rendah dan terdengar berbahaya. 

“Dua tahun, Renjun. Dua tahun aku punya kamu. Aku sudah masuk ke dalam tubuhmu lebih sering daripada yang bisa kuhitung. Aku sudah melihatmu hancur lebur di atas penis ku, menangis memanggil namaku seolah aku satu-satunya yang membuatmu tetap hidup. Dan sekarang kamu mau membuang semuanya hanya karena seorang wanita tersenyum padamu di tempat magang sialan itu?”

Aku menyeka mulut dengan punggung tangan, “Ini bukan tentang dia! Ini tentang aku.” Kutatap balik matanya yang menajam, suaraku tetap kuatur agar tak terlalu gemetaran. 

“Aku sudah selesai menjual diriku. Aku sudah muak selalu membenci diriku sendiri setelah setiap hubungan badan.”

 

Ia tertawa pahit, “Kamu tidak berhak memutuskan itu. Tidak ketika aku membutuhkanmu.”

 

Pernyataan itu mendidihkan darahku. 

Aku menaikkan nada suaraku, “Ini tubuhku sendiri, Jeno! Itu hak ku!”

“Kau milikku!!!”

“Aku tidak pernah menjadi milik siapa-siapa!” aku berteriak juga pada akhirnya. “Aku… hanya menjual waktu dan pelayanan… aku tidak pernah memberikan diriku sepenuhnya pada siapapun.”

“Aku membayarmu paling mahal.”

“Lalu? Aku tetap pelacur yang hanya disewa untuk durasi tertentu. Aku tetap bukan milikmu — atau siapapun itu!”

 

Pertengkaran itu berlanjut cepat dan buruk. Setiap kata semakin dalam dan menusuk. Aku bilang aku ingin menjadi seseorang yang bisa kuhormati saat melihat cermin. Ia bilang aku sedang lari dari satu-satunya hal yang pernah membuatku merasa hidup.

Hingga akhirnya, sesuatu di dalam dirinya benar-benar pecah.

Ia tak lagi membalas argumen ku dengan nada tinggi.

 

Jeno—miliarder yang kuat dan tak tersentuh—jatuh berlutut di lantai kayu apartemenku seperti orang yang kehilangan segalanya. 

Aku membeku.

“Renjun…” Suaranya pecah. Ia memeluk kedua kakiku, wajahnya menempel putus asa di antara lutut dan betis ku.

Tak lama, ia makin merendah. 

Ia membungkuk dan mencium punggung kakiku yang telanjang, pelan dan penuh hormat. Berkali-kali. Hingga air matanya yang panas membasahi kulitku. 

Secara refleks kucoba menjauhkan kakiku, namun ia memeluknya makin erat.

“Berdiri,” ucapku, mencoba bersikap keras — namun suara yang bergetar ini mengkhianati ku. 

Aku masih menolak menatap matanya bahkan ketika ia mengangkat pandangannya dengan kepala masih berada di bawah. Matanya merah dan basah.

“Jeno, tolong berdiri.” 

Ia menggeleng keras, menolak. Bibirnya terus menempel di kakiku—mata kaki, jari-jari, lengkungan telapak—berulang-ulang seperti doa. Seperti penyembahan. Seolah jika ia berhenti menciumku sebentar saja, aku akan lenyap selamanya.

“Aku akan mengajakmu berkencan,” katanya parau, suaranya teredam di kulitku. “Aku akan memperlakukanmu seperti kekasih yang pantas kamu dapatkan. Aku mencintaimu, Renjun. Aku belum pernah bilang ini sebelumnya, tapi… aku mencintaimu. Aku merasa lebih hidup bersamamu daripada puluhan tahun hidupku sebelumnya."

 

Hati ku berdenyut sakit, “Kencan?” Suaraku ternyata keluar lebih tajam dari yang kuinginkan. “Kamu sudah menikah, Jeno.”

Ia mendongak, matanya makin merah dan basah. 

Namun kini wajahnya penuh ketidak-terimaan. “Aku tidak mencintainya! Itu hanya perjanjian!” teriaknya, kata-kata itu menggelegar di apartemen ku yang seharusnya sepi. “Aku dan dia cuma kesepakatan bisnis antar keluarga. Dia punya hidupnya, aku punya hidupku sendiri. Dia tidak melihatku. Tidak ada yang melihatku kecuali kamu.”

Ia kembali menyembunyikan wajah di kakiku, lengannya menguatkan pelukannya seperti besi. Ia tetap tak mau melepasku. 

Setiap kali aku mencoba mundur, ia semakin erat memeluk, menggeleng panik, dan mencium kakiku lagi dan lagi—ciuman putus asa yang basah oleh air mata.

“Tolong, Renjun… jangan berhenti. Jangan tinggalkan aku.”

Di detik itu, aku tak melihat sosok yang kuat dan percaya dirinya seperti biasanya. Dan entah mengapa, itu malah terlihat seperti versi terjujurnya.

 

“Jangan berhenti menjadi bintang dalam hidupku. Aku butuh kamu. Demi Tuhan, Renjun. Aku butuh kamu. Kamu satu-satunya yang melihat aku. Yang membuatku merasa utuh. Kamu tidak cuma melihat uangku seperti orang lain—”

 

“Aku juga melihat uangmu, kok.” potongku. “Kamu membayarku sangat mahal, Jeno. Begitulah kita memulai segalanya.”

 

Dia terdiam sejenak, seolah pernyataan itu baru terdaftar di sistem kognitifnya sedetik lalu.

 

Ia mengusap kasar wajahnya dan menggeleng, “Aku tidak peduli! Kamu bisa memiliki segalanya dengan aku. Aku akan berikan segalanya untukmu. Apa yang kamu mau? Apartemen mewah, mobil, seluruh dunia — asal jangan pernah menghilang dariku.” Tubuhnya gemetar sekarang. Pria berkuasa yang bernilai miliaran ini sedang berlutut di depanku, menangis tersedu di kakiku, mencium telapak kakiku seolah itu sesuatu yang suci. 

Pemandangan itu merobek sesuatu di dadaku.

Aku meraih ke bawah, jemariku menyusup ke rambut hitamnya. “Jeno… berdirilah. Tolong.” Ia menggeleng lagi, lebih keras kepala.

“Aku tidak bisa. Tidak mau.” ucapnya, sambil terus mencium permukaan punggung kakiku. 

 

Pemandangan itu menghancurkan ku. Kenapa dia harus memohon sebegininya untuk pelacur sepertiku?

 

Akhirnya, aku berjongkok bersamanya. Aku mencoba mengangkat wajahnya, tapi ia tetap memeluk kakiku erat, tak mau melepasku sepenuhnya. Wajah kami hanya berjarak beberapa senti sekarang.

Ada kehancuran di matanya, air mata mengalir deras di wajah tampannya yang mulai menua. 

 

Tanpa kusadari, air mataku pun mulai jatuh.

 

“Kamu cinta aku?” tanyaku dengan suara bergetar. 

Ia mengangguk cepat.

“No, you don't.” bantahku.

“I do.” dan ia menegaskan.

Tapi, aku tak ingin mudah tergoyahkan. 

Ku ulurkan tanganku, meraih rahang tajamnya yang kini melemah di bawah tangisannya.

j

“Kamu tidak mencintaiku jika kamu tidak mau aku bertumbuh,” kataku, suara pecah karena lelah. “Kamu tidak benar-benar mencintaiku. Kamu hanya mencintai versi diriku yang ada di kepalamu — atau bahkan, hanya tubuhku?”

 

Kesunyian yang menyusul terasa lebih berat dari apa pun yang pernah kurasakan. Napas Jeno tersendat. Akhirnya ia melonggarkan pegangannya di kakiku cukup untuk berdiri. 

Ia memegang wajah kecilku dengan kedua tangan besarnya yang gemetar. Ibu jarinya menyeka air mataku, meski air matanya sendiri terus jatuh.

Ia tampak hancur—sangat, sangat hancur, dan indah dalam kehancurannya.

Ia mendekat dan mencoba menciumku lagi, kali ini lembut. Hampir memohon. Bibirnya menyentuh bibirku dengan ringan, terasa asin dan putus asa. Aku memalingkan wajah di detik terakhir. Dahinya pun jatuh ke dahiku.

“Aku mencintaimu,” bisiknya, suara serak dan remuk. “Bukan hanya tubuhmu. Bukan hanya cara kamu mendesah atau hancur di bawahku. Aku mencintai cara kamu tertawa saat setengah tertidur. Aku mencintai cara kamu menggambar lingkaran di dadaku setelah aku meniduri sampai lemas. Aku mencintai cara kamu memandangku seolah aku manusia, bukan hanya dompet atau nama besar. Kamu membuatku merasa hidup lagi, Renjun. Apa kamu tahu apa artinya itu bagi orang sepertiku?”

Dadaku begitu sakit hingga sulit bernapas. “Aku lelah, Jeno,” bisikku. Air mata terus jatuh. “Aku sangat lelah diinginkan hanya saat aku telanjang dan mau melayani. Aku ingin dicintai saat aku berpakaian. Saat aku diam. Saat aku berusaha menjadi lebih baik. Aku ingin suatu hari bangun tanpa merasa jijik karena hal-hal yang pernah kulakukan hanya agar terasa dilihat. Dan jika kamu benar-benar mencintaiku… kamu harus membiarkan aku berusaha.”

Ia menekankan dahinya lebih kuat ke dahiku, mata terpejam rapat. “Aku takut,” akunya, suaranya hampir tak terdengar. “Aku sangat takut jika kamu meninggalkan ini, kamu juga akan meninggalkan aku. Aku akan kembali tak terlihat. Tak ada yang akan menyentuhku seperti kamu. Bukan hanya tubuhku—jiwaku. Kamu meraih ke dalam diriku dan memegang bagian-bagian yang kukira sudah mati." Ia menarik pinggangku kini, "Kamu tahu? Kamu hal besar pertama yang kupilih sendiri. Yang ku pertahankan. Yang terus kuinginkan tanpa henti.”

“Kamu bisa terus memilih.” Jawabku dingin. “Untuk kedepannya.”

“Kamu memiliki segalanya. Kamu bisa dapatkan apapun. Termasuk seseorang untuk menghiburmu. Aku bukan yang terbaik, Jeno — cobalah membuka diri dan cari yang baru — kamu akan tahu ada banyak yang lebih baik daripada aku.”

“Tak peduli. Tidak mau.”

 

Aku hanya bisa menghela nafas akan jawabannya. Kini, apalagi yang bisa kukatakan untuk membujuknya?

 

Ini satu sisi yang baru aku ketahui juga — bahwa Jeno si miliarder dan jagonya urusan bisnis ini, bisa bersikap bebal dan kekanakan juga.

 

Aku kelelahan. Kakiku lemas. Hatiku memar dan berdarah. Pria yang dulu membayarku untuk menghabiskan seminggu penuh telanjang di tempat tidurnya, kini menangis di pelukanku, memohon agar aku tidak meninggalkan versi diriku yang paling kubenci.

Aku kini merintih pelan, sembari mengusap kedua mataku dengan punggung tangan. 

Jeno menarikku ke dalam dekapannya. 

Dan aku tak lagi melawan.

Meski tahu, seharusnya aku tak membiarkannya menyentuh bahkan se-inci lagi tubuh ini.

Kami diam seperti itu lama sekali—tangan besarnya memegang wajahku, tanganku mencengkram pergelangan tangannya, berdua menangis pelan di tengah ruang tamu yang disinari matahari.

 

“Aku lelah… aku tak mau lagi jadi pelacur…”

“Jadi milikku, kalau begitu.”

“Tidak bisa! Kamu mikir tidak, sebelum bicara?”

“Kenapa? Karena aku masih menikah? Aku bisa ceraikan dia—”

"Jangan lakukan hal seperti itu!" Aku secara refleks memukul dadanya. “Aku tidak mau… kamu lakukan itu untukku.”

“Terus gimana?”

“Ya aku mau berhenti! Aku gak mau lagi jual diri!”

“Aku… gimana?”

“Apanya?”

“Tanpa kamu, aku gimana?”

 

Tangisku kembali pecah.

 

“Gak tahu… aku gak tahu.” Aku merengek frustasi, menjambak rambutku sendiri. “Aku pusing — jangan persulit aku, Jeno. Aku mau jadi orang baik!”

Jeno meraih tangan di kepalaku, memaksaku melepas tarikan di rambutku.

“Kamu baik, kok." jawabnya mantap, seolah itu hal yang tak perlu ia pikirkan — sudah tertanam di sistem kognitifnya. "Kamu suka sedekah, kamu kasih makan kucing jalanan, kamu bantu temanmu yang nyaris bunuh diri terlilit hutang, kamu—”

Aku menghempas tangannya, “Gak cukup! Semua itu gak menghapus fakta bahwa aku pelacur.”

Jeno mengernyit tak terima, “Stop bilang begitu.”

“Itu faktanya, kok!”

“Kamu gak kekurangan apapun, sayang. Kamu orang baik. Kamu cuma… memanfaatkan yang kamu punya sebaik mungkin.” Ia mencoba meraih wajahku lagi, tapi aku berhasil menghindar secara refleks sebelum telunjuknya sempat menyentuh bahkan sehelai lagi rambutku. 

“Jual diri bukan hal baik.”

“Tapi kamu—”

“Sudahlah, Jeno! Pergi!” aku mendorong tubuhnya, meski itu tak memberikan efek pergerakan yang berarti di tubuhnya.

 

Tapi, pada akhirnya, Jeno mundur juga. Ia menyeka wajahnya kasar dengan punggung tangan, berusaha menguatkan diri. Topeng miliarder perlahan kembali terpasang, tapi tak lagi pas. Matanya masih merah, masih hancur.

Ia memandangku lama sekali, seolah sedang mengingat setiap inci wajahku.

Lalu, ia berbalik ke pintu. Punggungnya yang lebar terlihat berat, langkahnya lambat. Seolah menungguku mengatakan sesuatu untuk meringankan, dan mengundangnya berbalik. 

Ia meraih kenop pintu, berhenti sebentar, Menoleh ke arahku selama beberapa detik, sebelum akhirnya membukanya.

Sesaat sebelum ia benar-benar melangkah keluar tadi, aku mendengarnya bergumam pelan, “I won't giving up on you.”

 

Pintu berklik tertutup, dan apartemen kembali sunyi.

 

Aku berdiri di sana, gemetar, dengan air mata yang masih mengalir di pipi, merasakan bayang-bayang tangannya di wajahku dan kehangatan air matanya di kakiku. 

Kakiku terasa masih tertanda oleh setiap ciuman putus asanya.

Tubuhku meluncur lemas ke lantai, duduk tepat di tempat ia tadi berlutut sebelumnya. Tempat itu masih hangat oleh tubuhnya.

Aku menangis lebih keras daripada yang pernah kulakukan bertahun-tahun hidupku — bukan hanya untuk Jeno, tapi untuk anak kecil kesepian di masa lalu, untuk wujud pria yang sedang kuusahakan menjadi diriku, dan untuk kesadaran menakutkan bahwa mungkin, hanya mungkin, ada seseorang yang benar-benar mencintai bagian-bagian rusak ku. 

Dan aku justru memintanya melepaskan bagian itu.


Setelah ia pergi, salah satu ponselku bergetar.

Aku hanya mengabaikannya dan lanjut menangisi apapun itu — hari ini terlalu banyak hal untuk ditangisi — namun getarannya tak berhenti hanya sekali, sehingga mustahil untuk diabaikan.

Aku menyeret tubuhku yang lemas, dengan berpegangan pada dinding untuk berdiri dan meraih batangan elektronik itu ke tangan.

Beberapa tangkapan layar mendeklarasikan jumlah angka yang… di luar nalar.

Nominal itu memaksa mata ku membuka lebih lebar.

Jumlahnya jauh lebih besar dari yang pernah kuterima — bahkan di hari-hari termurah hati Jeno — bahkan di hari-hari terbahagia kami.

Pesan teks mengikuti setelahnya, "I wouldn't say thank you because it means I'm letting you go. But this is the only thing I could give you."

“Don't think of this amount of money as a symbol of how much I value you. You're worth more than the world." 

Kutatap pesan itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Aku sampai terdiam membeku. 

Hingga pesan susulan kembali datang satu menit setelahnya, "Kalau kamu mungkin berubah pikiran atau butuh bantuan, kamu tahu harus kemana. Aku tidak akan pernah mengubah nomorku. Jangan kirim balik uangnya."

 

Demi Tuhan… aku akan merasa lebih baik jika dia bersumpah serapah dan mengutukku saja. 

 

“You're worth more than the world.” 

 

Kenapa dia harus mengatakan itu?

Air mataku mengalir semakin deras, dan kini aku tak lagi bisa mengontrol pernafasan ku dengan benar.

 

Sesak sekali.

Kenapa dia harus mengatakannya seperti itu?

 

“You're worth more than the world.” 

 

Jeno — orang yang barusan berlutut di hadapanku, mencium kakiku sambil menangis — memilih mengucapkan selamat tinggal dengan satu-satunya bahasa yang paling dia pahami: uang. Tapi dia juga berusaha, begitu keras, untuk memastikan aku tahu bahwa ini bukan sekadar bayaran. Bahwa ini bukan dirinya yang berusaha menenangkan ku dengan uangnya lagi.

Sebuah simbol kesadarannya, bahwa dari besarnya materiil yang ia punya, uangnya kini tak bisa membeli keputusanku untuk mengakhiri. 

Dan justru itu yang membuat semuanya terasa jauh lebih menyakitkan.

Aku perlahan jatuh ke sofa, tubuhku tak lagi kuat menyangga diri. Ponsel itu masih di tanganku, bergetar halus seiring tangisku yang tak berhenti. Layar yang terang itu berubah kabur oleh air mata. Aku mengusap mata dengan kasar, tapi tak ada gunanya. Kata-katanya sudah terlanjur merasuk, meresap ke dalam setiap bagian diriku yang selama ini berusaha kukunci. 

 

Dia mencintaiku.

 

Bukan hanya tubuhku. Bukan hanya suara eranganku, atau cara aku menyerah di bawahnya. Dia sedang bilang — dengan caranya sendiri — bahwa aku berarti… lebih dari semua itu. Lebih dari malam-malam penuh dosa yang kami lalui. Lebih dari uang yang selama ini menjadi batas di antara kami.

Seorang pria sepertinya… yang bisa membeli apa saja… mengatakan bahwa aku lebih berharga dari segalanya.

 

“You're worth more than the world.” 

Kenapa dia harus mengatakannya seperti itu?

Tidak pernah ada yang bilang seperti itu padaku sebelumnya. Tidak siapapun, bahkan orang tuaku.

 

Kenapa… kenapa bahkan saat aku berusaha meninggalkannya, dia masih mencoba membuatku merasa berharga?

Notes:

Kalau kalian suka atau merasa cerita ini meninggalkan kesan, boleh banget tinggalkan jejak lewat komentar—entah di quote tweets atau di AO3. Itu akan sangat berarti. Soalnya… kalau nggak ada yang bilang apa-apa, aku juga nggak akan tahu tulisanku ini bagus atau nggak, wkwk. Ingat, “Unspoken love doesn’t feel like love at all. And for a writer, silence can make you overthink—wondering whether the work is actually good, or if people simply read and left without feeling anything.”