Actions

Work Header

A Home Made of Little Madnesses

Summary:

Hanya sepenggal kisah dari Junghwan dan Dohoon yang tengah berbagi kehangatan di pagi hari.

Work Text:


 

 

Hari ini, angin pagi menyentuh permukaan kulit dengan hangat. Di salah satu lantai atas bangunan tinggi, Junghwan duduk dengan kopi paginya. Di pangkuannya terdapat sebuah laptop yang belakangan tidak pernah jauh dari pandangan. Sesekali, lelaki November itu meneguk kopi yang sudah mulai dingin, lalu kembali terfokus pada deretan huruf dan juga suara yang keluar dari sebelah earphone di telinga kanan.

 

"Baik, pak. Jadi, untuk sementara hanya revisi pada kesimpulan, ya? Setelah itu saya bisa mengurus surat izin?"

 

Untuk beberapa saat, percakapan antara dirinya dan dosen penguji di seberang sana berlanjut. Kemudian, saat sambungan telepon sudah terputus, earphone kembali memutar lagu yang sebelumnya Junghwan dengarkan. Tak lama dari itu, sebuah suara familier memecah konsentrasinya.

 

"Kakak ...."

 

Panggilan lemah dan serak dari arah belakang berhasil membagi fokus Junghwan. Ia melepaskan earphone sebelum menengok ke arah suara. Dohoon, sang pacar tampak berdiri linglung di pintu yang menghubungkan antara kamar dan balkon. Kentara sekali wajah bangun tidurnya. Dengan mata yang belum terbuka sempurna, ia berjalan sempoyongan ke arah Junghwan.

 

Seolah sudah terkoneksi, tangan besar Junghwan terulur dan langsung disambut hangat oleh Dohoon. Dengan lembut ia arahkan kekasihnya itu untuk duduk di pangkuannya. Dohoon pun langsung mencari posisi paling nyaman dengan bantuan Junghwan. Kini kepalanya bersandar di antara bahu lebar dan ceruk leher yang lebih tinggi. "Kok udah bangun lagi, baby? Semalem kan tidur larut abis ngejar deadline."

 

Tangan besar Junghwan secara perlahan membelai surai pendek Dohoon. Yang dibelai kembali merasakan kantuk menerjang. "Dingin. Gak ada kamu," serunya pelan seraya mengusak kepalanya di perpotongan leher Junghwan.

 

"Yaudah, tidur lagi aja di sini. Aku mau sambil revisi dulu. Abis selesai kita pindah lagi ke kasur, ya?" ucap Junghwan penuh kelembutan. Dohoon merespons dengan anggukan kecil, terlalu mengantuk untuk sekadar menjawab.

 

Junghwan kembali pada laptopnya, menyelesaikan deretan huruf yang terpampang di sana. Ia harus benar-benar fokus agar tidak ada kesalahan dalam setiap ejaan.

 

Setelah hampir satu jam, akhirnya Junghwan menyelesaikan revisian tersebut. Cukup melelahkan karena otak dan fisiknya bekerja secara bersamaan. Badannya agak pegal sebab menahan beban Dohoon. Belum lagi ada penulisan yang harus diulang beberapa kali karena ternyata salah ejaan. Rasanya Junghwan ingin segera membaringkan diri di kasur empuknya, menjemput mimpi yang sempat tertunda.

 

Hembusan napas Dohoon terasa stabil di ceruk lehernya, menghantarkan rasa hangat yang sampai ke dalam hati. Karena tidak tega untuk membangunkan, Junghwan secara tidak sadar malah ikut tertidur dengan Dohoon yang setia berada di pangkuan. Padahal niatnya hanya memejamkan mata sebentar saja, tetapi ternyata peri tidur malah membawanya ke alam bawah sadar.

 

Tidak lama dari itu, mungkin tidak sampai dua puluh menit dari Junghwan memejamkan mata, tidur damainya terganggu dengan suara kecupan-kecupan kecil dan sensasi geli yang ia rasakan pada lehernya. Netra kelamnya perlahan terbuka, lalu pemandangan Dohoon yang tengah mengecupi lehernya langsung menyapa indra penglihat.

 

Merasakan pergerakan dari Junghwan, Dohoon mendongak dan tanpa merasa bersalah tersenyum lebar sebelum berganti posisi untuk memberikan kecupan di bibir Junghwan sekilas. "Jadi kebangun, deh. Maaf ya, kak. Kamu wangi bayi banget. Aku gak tahan mau ciumin."

 

Junghwan mana bisa marah jika begini. Maka yang ia hanya tersenyum dan mengusak surai hitam sang kekasih. "Iya, baby, gak apa. Jam berapa ini?" tanyanya dengan suara khas bangun tidur.

 

"Sembilan kayaknya. Tadi aku sempet cek laptop kamu. Hehe. Maaf lagi, soalnya aku gak sopan buka-buka."

 

Mendapat jawaban seperti itu tak lantas membuat Junghwan marah, malah semakin merasa gemas. Ia mendekatkan wajahnya pada Dohoon, lalu mengecup ujung hidungnya sebelum menekan dengan miliknya sendiri.

 

Awalnya Dohoon menyerngit mendapat perlakuan tersebut, tetapi akhirnya ia juga menekan hidungnya pada milik sang terkasih, kemudian menggeseknya pelan, dan berakhir dengan mengecup ranum kembar yang berada dekat dengan bibirnya. Selalu seperti ini. Meski tanpa sepatah kata yang terucap, Dohoon tahu betul bahwa Junghwan tengah melimpahkannya dengan cinta lewat ciuman dan sentuhannya.

 

Kecupan-kecupan singkat itu kini berubah menjadi kecupan lambat nan panjang. Bibir saling menggigit lawan bergantian. Temponya begitu pelan dan terkesan malas—seolah mereka memiliki seluruh waktu di dunia.

 

Kemudian, temponya sedikit berubah. Intensitas peperangan antar bibir itu frekuensinya bertambah, tetapi tetap sarat akan kelembutan dan penuh kasih. Sesekali kekehan terdengar saat gigi mereka secara tak sengaja bertabrakan.

 

Entah siapa yang memulai, ciuman manis itu sekarang telah menjelma menjadi ciuman yang dipenuhi gelora membara. Saat ini hanya ada mulut yang silih berganti melahap satu sama lain, seolah sedang berebut untuk memakan menu kesukaan mereka. Temponya tergesa-gesa—seperti mengejar waktu, seolah mereka tidak peduli bahwa esok masih menunggu.

 

Dengan mudah, tangan besar Junghwan kini telah menyelinap masuk di balik piyama Dohoon, sedang tangan mungil Dohoon hanya mampu mengacak rambut Junghwan asal dan menekan tengkuknya, memperdalam ciuman.

 

"Are you up for a quick morning sex, my little trouble maker?"

 

Ciuman terpaksa terhenti dengan benang saliva yang menjuntai sebagai penanda jarak tipis di antara Dohoon dan Junghwan.

 

Dohoon tidak langsung menjawab pertanyaan Junghwan. Tangannya membelai pipi Junghwan lembut, terkesan menggoda, lalu berlabuh di bibir yang menjadi santapan favoritnya—tidak memedulikan saliva yang masih menghias di sana. Jempol miliknya menekan bibir Junghwan, sedang matanya tak lepas dari pergerakannya sendiri sebelum berpindah ke manik gelap yang lebih tua. Seringai kecil menghias wajah Dohoon saat mendapati pacar besarnya itu sedang berusaha menahan gairah yang meletup-letup.

 

Jadi semakin gencar saja Dohoon ingin menggodanya.

 

"Aku dipanggil ke kampus bentar lagi. Gimana, ya?" 

 

Meski berkata begitu, Dohoon memberikan Junghwan sebuah ciuman dengan lidah yang terlebih dahulu menjilat bibir lelaki tersebut. Jelas-jelas sebuah ciuman penuh seduksi. Belum lagi pergerakan yang ia lakukan di bagian bokongnya terhadap kemaluan si besar. Lantas saja dua hal itu membuat Junghwan mengerang tertahan.

 

"Bohong. Aku inget semalem kamu bilang hari ini gak bakal kemana-mana," balas Junghwan diiringi satu gigitan main-main di pangkal hidung Dohoon, yang tentu saja membuat sang empunya meringis. 

 

"Oops, ketahuan, deh. Bercanda, ya!" Dohoon mendaratkan satu kecupan cukup lama di dahi Junghwan, berjaga-jaga kalau kakak pacarnya tersebut marah. "Sure, big baby. I'm yours to fuck and fill. Use me," lanjutnya dengan kerlingan nakal.

 

Junghwan sempatkan untuk tertawa kecil sebelum mengajak Dohoon untuk kembali bergulat lidah. Tangannya tak tinggal diam. Sepasang tangan yang tidak bisa dikatakan sedang itu segera bermuara di bongkahan pantat Dohoon. Membelainya pelan, lalu diberi sedikit remasan sebelum kemudian jari telunjuk dan jempolnya secara bergantian menggoda lubangnya dari luar celana yang Dohoon pakai. Jari tersebut menekan liang dengan akurat dan berhasil membuat Dohoon terperanjat. Sebuah desahan lolos dari bibir kecilnya.

 

Meski begitu, ciuman mereka tetap konsisten. Lembut dan penuh cinta. Jemari Dohoon membelai halus rambut Junghwan, memberi tahu sang kekasih akan perasaan yang membuncah lewat gestur tersebut.

 

Dohoon mulai kepayahan mengatur napasnya tatkala merasakan gundukan besar di belahan pantatnya. Hal tersebut tentu saja bukan sesuatu yang ringan untuk dihadapi. Dan bayangan saat gundukan itu mengisi dirinya membuat tubuh Dohoon menggelinjang pelan. "Oh, shit," desisnya pelan.

 

"Udah gak sabar, baby?" Junghwan yang menyadari gerak-gerik Dohoon lantas bertanya. Di pangkuannya, si kecil mengangguk, agak heboh.

 

"Mau kamu. Aku mau kamu. Mau. Mau. Mau cepetan diisi kamu."

 

Nadanya terdengar frustasi, tetapi wajahnya begitu lucu di mata Junghwan. Pemandangan itu mendatangkan tawa kecil di wajah lelaki dengan zodiak Scorpio tersebut. "Alright, baby. Tenang, ya."

 

Junghwan sempatkan untuk mengelus Dohoon sebelum membantu yang lebih kecil membuka celananya. Tak lupa ia juga menurunkan celananya sedikit sampai kebanggaannya berdiri gagah di antara selangkangannya dan juga beradu dengan milik Dohoon. Dalam hitungan detik, penisnya sekarang sudah ada dalam genggaman tangan kecil sang pacar dan sedang diberi sedikit urutan.

 

"Sshh, sabar, baby. Kamu belum siap, nanti sakit kalau dimasukin sekarang. Aku gak mau kamu kesakitan."

 

Ia genggam tangan kecil Dohoon yang tengah menggenggam kejantanannya, lalu membawa tangan tersebut untuk ia kecup sebelum menempatkannya guna melingkari leher. Kemudian ia kembali memposisikan dua tangannya pada pantat berisi milik Dohoon, mengulang kegiatan yang ia lakukan tadi dengan keadaan celana sang kekasih yang kini telah bebas menggantung di pergelangan kaki.

 

Ia mulai menekan jalan untuk kemaluannya bersinggah. Menekannya secara perlahan, sarat akan kehati-hatian, tak ingin menyakiti sang tercinta. Lubang itu dibuka jalannya dengan satu jari Junghwan, bagian tengah, yang sebelumnya telah dilumuri pelumas alami, yang tidak lain dan tidak bukan adalah air liurnya sendiri.

 

Remasan di sekitar leher Junghwan rasakan. Tatapannya tak lepas dari paras indah Dohoon. Begitu menawan dengan mata yang tertutup rapat dan bibirnya sedikit digigit. Raut yang begitu Junghwan hapal saat si kecil tengah menahan rasa sakit sebab aktivitas seksual mereka. Ini bukan kali pertama, pun kedua. Jelas kegiatan seperti sekarang sudah tak bisa dihitung dengan jari. Oleh karena itu, Junghwan tahu betul ukuran miliknya sering kali memberikan kesulitan, terutama untuk Dohoon.

 

"Sakit ya, baby?"

 

Gelengan Dohoon berikan sebagai jawaban. Ia membuka mata untuk menatap langsung ke arah netra kembar Junghwan. "Gak begitu sakit, masih bisa aku tahan. Lanjutin aja, kak. Ditambah lagi jarinya biar nanti punya kamu muat," katanya meyakinkan.

 

Junghwan hanya bisa mengangguk dan mengikuti instruksi yang Dohoon berikan. Kini dua jari bersarang di lubang si lelaki Januari. Gerakan menarik dan mendorong jari, serta gerakan menggaruk tak lupa Junghwan bubuhkan agar lubang tersebut tidak hanya lebih dari siap untuk menyapa penisnya di dalam sana, tetapi juga mendapat sensasi lain dan membuat Dohoon menggelinjang keenakan.

 

Napas Dohoon sudah tak karuan. Wajahnya tersembunyi di pipi Junghwan hingga si jangkung dengan jelas bisa mendengarkan tiap tarikan dan hembusan napas yang lelaki itu ambil. "Udah gak sakit?" tanyanya penuh perhatian.

 

Ia bisa merasakan anggukan kecil lewat pipinya. Senyum merekah sempurna. Dan Dohoon bisa merasakan senyum itu lewat pipi Junghwan yang sedikit naik. "Tiga, ya? Jaga-jaga kalau kurang." Kembali Dohoon mengangguk untuk pertanyaan Junghwan yang lain.

 

Setelah memastikan Dohoon siap sepenuhnya, dan tentu saja tanpa membuat Dohoon lebih dulu keluar—karena ia tak mau si kecil kelelahan dua kali, tentu saja.

 

"Aku yang masukin ya, kak."

 

Dohoon mengangkat bokongnya sedikit dan mendapat bantuan tambahan dari tangan besar Junghwan. Jemarinya menggenggam kejantanan Junghwan, membawa benda menegang itu ke lubangnya sendiri. Lenguhan keluar dari bibirnya saat ia merasakan kekosongan hilang dalam dirinya secara perlahan, terganti dengan sebuah perasaan tak asing yang mencoba memenuhinya. Itu tak jauh berbeda dengan Junghwan yang saat ini tengah menggeram tertahan begitu merasakan miliknya dihisap secara pelan oleh lubang sempit kepunyaan Dohoon.

 

Baru sebagian yang masuk, Dohoon sudah terlebih dahulu kewalahan. Ia lupa bahwa kejantanan Junghwan sebesar itu. Jelas saja pemanasan superkilat tadi tak begitu banyak membantu. Lagi, ia meringis tertahan saat mencoba melahap benda besar tersebut untuk masuk semakin dalam. Rasanya keras dan sulit. Ia pun berhenti sejenak. 

 

Junghwan yang mengerti membantu Dohoon menahan beban tubuhnya. Penyatuan mereka belum masuk sempurna, tetapi si kecil sudah kerepotan. "Sakit banget, baby? Tadi kurang ya pemanasannya?" Sebelah tangannya perlahan mengusap punggung Dohoon, memberi ketenangan, sedang yang satunya masih setia menahan beban tubuh lemas sang kekasih.

 

"Punya kamu gede kak Junghwan, tapi aku selalu lupa kamu segede itu. Aku selalu gak cukup."

 

"Gak gitu, baby. Ini pemanasannya kurang. Belum lagi udah lumayan lama semenjak kita main. Iya, kan? Kamu selalu cukup buat aku." Junghwan tak hentinya melafalkan mantra-mantra sebagai kata penenang untuk Dohoon.

 

"Apa kita gak jadi aja, ya? Nanti aja pas lagi senggang dan kondisi kita fit."

 

Dohoon menggeleng keras. "Gak mau," rengeknya. "Tunggu sebentar. Aku masih tegang."

 

Sebenarnya Junghwan juga tak mau berhenti di sini. Dia sudah lama merindukan momen ini. Belakangan Dohoon agak sibuk, karena lelaki muda itu harus bolak-balik ke kampus guna mengurus izin magangnya. Junghwan pun sama saja. Setelah lulus seminar proposal, kini ia disibukkan dengan berbagai revisi juga janji temu dengan dosen pembimbingnya.

 

"Sshhh, iya Dohoonie, kita lanjut, ya? Babyku hebat. Kamu bisa nampung aku. Babynya kakak hebat."

 

Junghwan kembali berujar guna menenangkan seraya melayangkan kecupan-kecupan sayang pada tubuh Dohoon. Mulai dari leher, bahu yang sedikit terekspos, sampai dada yang tersembunyi di balik piyama, membuat tubuh Dohoon bergetar karena sensasinya. Kakinya terasa semakin lemas saja dan makin sulit untuk menahan bebannya sendiri, sebelah tangan Junghwan tak lagi banyak membantu. Maka saat tenaga di kakinya sudah habis akibat rangsangan yang diterima, Dohoon jatuh terduduk dengan kebanggaan Junghwan yang menancap sempurna di dalam lubangnya.

 

"Eunggh!" teriak Dohoon tertahan karena mulutnya ia sumpal dengan mendaratkan gigitan di bahu lebar Junghwan. Sedang si tinggi menggeram rendah karena kejantannya yang sekarang terasa begitu hangat sebab disedot habis oleh lubang ketat milik sang terkasih, dan juga sedikit kesakitan karena gigitan Dohoon pada bahunya itu tidak bisa dibilang main-main.

 

"Penuh. Aku penuh. Kakak bikin aku penuh." Dohoon berucap dengan sedikit tersengal-sengal.

 

"Ughh, baby ...." Junghwan kembali menggeram. "That's it, baby. Tight and warm. Look, you're taking me so well. You're doing so good for me."

 

Mendapat pujian seperti itu menciptakan senyum bahagia di wajah Dohoon. Ia mendaratkan beberapa ciuman di bekas gigitan sebagai tanda maaf juga terima kasih untuk Junghwan dan segala afeksinya. Dohoon tidak bisa lebih bersyukur lagi memiliki Junghwan untuk menghabiskan hari-harinya seperti kemarin, sekarang, esok, dan seterusnya. Memikirkan itu membuatnya sedikit bersedih. Oh, tentu saja sedih yang diakibatkan oleh bahagia berlebih.

 

Junghwan tahu cara memperlakukannya dengan baik dan penuh kasih sayang. Junghwan juga tahu apa yang selalu ia butuhkan. Contohnya seperti saat ini, meski Dohoon yakin Junghwan sudah dipenuhi oleh nafsu, tetapi lelaki itu masih menahannya dengan baik dan tidak terburu-buru. Ia memberi waktu untuk Dohoon beradaptasi tanpa diminta.

 

Seseorang, tolong sebutkan, apa yang Dohoon lalukan di masa lampau sehingga ia mendapatkan orang terkasih seperti Junghwan. Seorang Shin Junghwan yang penuh dengan cinta.

 

Karena ia tahu Junghwan tak akan memulai, Dohoon berinisiatif untuk bergerak terlebih dahulu sebagai tanda bahwa ia sudah sepenuhnya siap. Pergerakan tersebut diterima dengan baik oleh Junghwan. Kembali tangannya membantu Dohoon, kali ini dengan memegang pinggul si mungil. Berjalan senada naik turun dengan gerakan yang lelaki itu lakukan, sedang pinggulnya sendiri bergerak berlawanan arah.

 

Geraman tak luput keluar dari mulut Junghwan, begitu juga dengan Dohoon. Lelaki Aquarius itu makin menyembunyikan wajahnya di bahu lebar yang lebih tua, kadang memberinya gigitan ringan, bentuk dari bungah yang dirasa. Selain itu ia juga memanjakan indra pendengar sang pacar dengan desahan kecil, juga bisikan kata-kata bahwa ia sangat mencintai lelaki tersebut, bahwa ia merasakan nikmat luar biasa, dan bahwa hanya dengan Junghwan ia merasakan hal-hal tersebut.

 

Junghwan dibuat gila. Kata-kata cinta, isapan di penisnya dalam lubang hangat dan lembap, dan gigitan serta kecupan kecil yang ia rasakan di bahunya. Sekali lagi, Junghwan perlu menegaskan, bahwa dirinya berhasil dibuat gila oleh Dohoon. Kembali ia menggeram rendah saat dengan mudahnya dirinya menemukan titik manis si kecil. Remasan di rambut Junghwan rasakan begitu kepunyaannya secara konstan menyapa di titik tersebut.

 

"Eunghh~ kaaaak!"

 

Dohoon sedikit menjauhkan wajahnya, menyejajarkannya dengan Junghwan. Kembali hidung mereka beradu dengan napas berat Dohoon yang langsung menerpa kulit. Air muka lelaki itu tampak elok di mata Junghwan. Beberapa bulir keringat membanjiri dahi juga pelipisnya. Mata sepenuhnya tertutup dengan pipi merah merona. Mulut sedikit terbuka dan tak pernah absen menyenandungkan desahan nikmat. Pemandangan paling indah dan Junghwan tak mau melewatkannya. Bahkan untuk sekedar berkedip saja ia tak rela.

 

Junghwan mendaratkan satu kecupan di pipi Dohoon, membuat sang empunya membuka mata. "Aku bikin kamu enak, baby? Hm. Enak, gak?" tanyanya begitu iris saling bertemu.

 

"Eung! Eung! En—nak," responsnya disertai anggukan cepat. Dohoon sudah kehilangan kemampuan berkata-kata. Kewarasannya sudah melenggang pergi entah kemana. Sekarang yang ia bisa lakukan hanyalah mengambil napas dan mendesah hebat. Memastikan dirinya tidak tersedak oleh kenikmatan yang tiada bandingan ini.

 

"Ka— Junghwan .... hahh, cepet, mau lebih cepet!"

 

Dohoon kembali berkomando ketika merasakan cairan precum miliknya sendiri keluar. Ia melihat puncaknya sendiri semakin mendekat. Beberapa bintang sudah mulai memenuhi pandangan.

 

"Hnggg! Kakaaaak!"

 

Tetesan miliknya perlahan membanjiri ujung piyamanya juga milik Junghwan. Meski begitu, dengan sisa tenaga yang ia punya, Dohoon mengendarai penis Junghwan lebih cepat. Ingin segera mencapai puncaknya. Ingin segera bertemu pelepasan. Mau menjemput bintang yang sama dengan Junghwan. Permukaan pantatnya terus-menerus bertemu dan memantul di kulit paha Junghwan. Menciptakan suara tamparan yang cukup keras dan konstan.

 

Sedang Junghwan tak banyak bicara, ia bergerak sesuai yang Dohoon minta. Semakin cepat, semakin banyak pula frekuensi kepala penisnya beradu dengan prostat Dohoon. Maka, semakin besar pula hasratnya untuk menyemburkan benih di dalam sana. Ia bisa merasakan miliknya membesar dan semakin sakit di dalam jepitan dinding lubang sempit Dohoon. Sungguh tak ada duanya. Junghwan menyukai sensasi ini. Sensasi seperti kembang api yang siap meluncur dan mekar di atas langit. Di waktu yang sama, Junghwan juga tak mau ini semua cepat berakhir.

 

"Dohoon, baby. Hhhaah .... cantik. Dohoonnya aku cantik banget."

 

Junghwan kesulitan dalam ucapannya, tetapi ia ingin sekali memuji sang terkasih bahwa Dohoon telah melakukan yang terbaik. Dohoon benar-benar membuat Junghwan di atas awan, bahkan sampai di langit ke tujuh. Dohoon indah. Ia lebih dari segala yang Junghwan inginkan. Dan Junghwan ingin Dohoon tahu akan semua hal itu.

 

Dohoon mencari bibir Junghwan untuk ia cium setelah mendengar pujian tersebut. Ciuman yang ia berikan kali ini berantakan, karena ia kewalahan dengan kenikmatan yang tiada hentinya menerjang. Bahkan secara tak sengaja Dohoon menggigit bibir Junghwan terlalu keras. Semoga saja tak terluka karena Dohoon tidak sempat melihat rupanya, sebab ia terlebih dulu menenggelamkan diri di perpotongan leher Junghwan dan mendesah keras menjemput bintangnya.

 

Saat tahu Dohoon telah sampai pada puncaknya, Junghwan tetap menghentikan pergerakan meski dirinya sendiri belum mencapai klimaks. Merasakan tubuh bergetar Dohoon yang bersandar sepenuhnya pada dirinya akibat dari euforia yang menghantam membuat Junghwan sedikit sungkan untuk meminta kepuasannya sendiri.

 

"Capek ya, baby?"

 

Dohoon mengangguk lemah. Ia tak dalam kondisi yang baik karena terlalu banyak beraktivitas kemarin dan kekurangan tidur pada malam harinya. "Tapi kamu belum keluar, kak." Ia masih bisa merasakan kejantanan besar Junghwan dalam dirinya. "Aku bantu, ya?"

 

Dohoon menatap Junghwan dengan mata berkilaunya. Belum sempat si jangkung menjawab, kembali ia merasakan dinding panas dari rektum itu menjepit penisnya, sukses membuat Junghwan melolongkan geraman rendah. Tentu saja ini semua karena ulah Dohoon yang sengaja mengetatkan lubangnya sendiri. Ia sudah akan mulai kembali bergerak sebelum kedua tangan besar Junghwan menahan pergerakannya.

 

"Kenapa?" tanya Dohoon heran.

 

"Gak usah, baby. Kamu pasti capek. Kurang tidur juga, kan? Udahan aja. Sekarang kita mandi. Nanti abis mandi langsung sarapan dan istirahat."

 

Ucapan Junghwan mengundang kerutan tak suka dari Dohoon. Namun, lelaki Januari itu tak mengelak. "Yaudah, ayo mandi bareng. Nanti aku bantu kamu keluar di sana, ya, ya?"

 

Kalau sudah begini, Junghwan mana bisa menolak. Ia pun memberi anggukan kecil sebagai jawaban. Dan raut bahagia Dohoon setelahnya mau tak mau membuat senyum terukir di wajah yang lebih tinggi. Ia mengusak hidungnya di hidung bangir yang muda sebelum mengangkatnya ke kamar mandi, dengan penyatuan yang belum terlepas.

 

Meski agak kesusahan karena celana yang melorot sampai pangkal kaki hingga menghalangi perjalanan, Junghwan tetap berhasil membawa Dohoon dalam gendongannya ke kamar mandi. Secara perlahan ia mulai menurunkan Dohoon ke dalam bathtub, dengan dirinya yang ikut masuk, tentu saja. Pelan, ia tarik penisnya dari lubang Dohoon, mengundang tangisan pelan dari sang empunya. Setelah terpisah, Junghwan langsung melepaskan pakaian yang tersisa di badan si mungil. Begitu selesai, ia beringsut ke sisi lain bathtub, mulai mengisinya dengan air setelah mengatur temperatur pada suhunya.

 

Belum ada tiga detik setelah air mulai mengisi bathup, Dohoon merangkak mendekati Junghwan. "Aku kan udah bilang mau bantu kamu." Dohoon berujar seraya menempatkan tangannya pada penis Junghwan yang masih membengkak besar dan uratnya menonjol, berisi benih yang belum sempat keluar. Ia memberikan urutan pelan dan disambut dengan erangan nikmat dari Junghwan.

 

Dohoon harus bergerak cepat, mematikan air sebelum benda tersebut menghalangi kegiatannya memberikan Junghwan kepuasan. Dohoon kemudian membungkuk, mendekatkan wajahnya dengan kepunyaan Junghwan. "Boleh?" tanyanya seraya menatap Junghwan dengan mata yang menyiratkan permohonan.

 

"Boleh, baby. Dia punya kamu."

 

Cengiran lebar Dohoon berikan, lalu kecupan ia daratkan di puncak kepala penis Junghwan dan berucap, "Makasih Junghwan besar dan Junghwan kecil!" Sedetik kemudian, dia sedikit melamun sebelum menatap lagi ke arah mata Junghwan. "Tapi dua-duanya besar."

 

Ucapan polos Dohoon lantas mengundang tawa kegemasan dari Junghwan. Berbanding terbalik dengan kejantanannya yang berkedut hebat akibat kata-kata lelaki tersebut. "Astaga, babynya aku. Gemes banget kenapa, sih!"

 

Junghwan tak tahu saja, bahwa Dohoon sengaja melakukannya untuk menggoda Junghwan. Jadi, begitu berhasil mendapat reaksi yang diinginkan, Dohoon kembali pada rencana awalnya; yakni memberi kepuasan pada sang terkasih, Shin Junghwan.

 

Dimulai dari Dohoon yang mengecup kepala penis milik Junghwan terlebih dahulu, sebelum melahapnya sampai setengah batang. Mulut kecil Dohoon tak sanggup menampung milik Junghwan, terkecuali saat dirinya dan Junghwan sedang menggila. Seperti saat mereka melakukan tindakan asusila di kamar mandi fakultas, omong-omong.

 

Dohoon mulai menggerakan kepalanya naik turun, menghisap kepala hingga setengah batang penis Junghwan ke dalam mulutnya. Tak lupa ia membiarkan lidahnya turut berpartisipasi, memberikan kenikmatan lebih untuk si besar. Telapak tangannya memberi pijatan lain di batang yang tak terjamah oleh mulutnya, atau kadang hanya sekedar bermain-main di bola kembar si jangkung. Tangan Junghwan terjulur untuk mengelus surai pendek Dohoon, beberapa kali ikut terlibat menggerakan kepala itu, mengatur tempo.

 

"Arghhh, baby .... shhh, jago banget. Ya, baby, kaya gitu—ngh.”

 

Hisapan di penisnya makin cepat dan Junghwan bisa merasakan dirinya siap melebur. Tanpa sadar ketika detik-detik menuju puncak, ia mendorong kepala Dohoon terlalu dalam sehingga yang ditekan terbatuk. Pertama, karena kepala kejantanan Junghwan menabrak tenggorokannya. Lalu, kedua, karena cairan sperma lelaki tersebut memenuhi mulutnya.

 

"Baby, maaf. Sakit gak?" Junghwan langsung menjauhkan kejantanannya, membawa wajah Dohoon untuk menghadapnya, memastikan ia baik-baik saja.

 

"Gakpapa, kak. Kaget aja kamu datengnya gak bilang. Udah lega?" Dohoon bertanya memastikan sembari menyeka mulutnya dari sisa-sisa semen milik sang pacar.

 

Junghwan mengangguk, jemarinya membelai wajah Dohoon penuh afeksi. "Iya, udah lega. Makasih ya, baby. Kamu selalu pinter banget. Sekarang kita bersih-bersih, terus nanti bobo seharian di kasur. Kita istirahat. Okay?"

 

Dohoon memberi tanda hormat. "Aye aye, Sir. Komando diterima," balasnya main-main. Setelah itu, keduanya benar membersihkan diri dan hanya bermalas-malasan di atas kasur seharian penuh, sesuai dengan apa yang Junghwan bilang.

 

Hari yang sulit untuk mereka temukan di kemudian hari karena Dohoon harus kembali mengurus izin magangnya, sedang Junghwan mulai pergi kesana-kesini demi sebuah gelar.

 


 

Series this work belongs to: