Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-05-02
Words:
5,583
Chapters:
1/1
Comments:
29
Kudos:
163
Bookmarks:
19
Hits:
2,180

Balada Darah & Pijar

Notes:

cek sound dulu CIHUYYY

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

Sahya memejamkan mata seiring aroma dupa kamboja yang baru dibakar pesuruhnya akhirnya berhasil menembus anyirnya darah buaya. Ini bukan pertama kalinya ia mencium aroma darah makhluk hidup dalam jumlah banyak, tapi darah buaya benar-benar bau sampai mampu mengalahkan wanginya kembang tujuh rupa yang mengelilinginya. Ia menolehkan kepala untuk memeriksa jam yang sengaja dibawa ke dalam sini, sebentar lagi waktunya tiba. Salah satu anak buahnya, Ajo, bersiap-siap berlutut dengan pakaian rapi tak jauh dari lingkaran pemanggilan dengan lembaran kertas di tangannya. Dari jarak sejauh ini, Sahya memergok buliran keringat di dahi anak buahnya.

“Santai ajah, jangan tegang begitu,” sahutnya enteng sambil menghampiri Ajo. Pemuda awal dua puluhan tersebut tercekat sedikit ketika majikannya meraih tangannya yang memegang kertas berisi mantra-mantra dalam hanaracaka. “Tuh, sampai dingin gini tangannyah. Jangan gugup gitu ah, emang kamu mau kita ngulang ini semua lagi? Susah lho, nyari darah buaya lagi.”

Jika bukan karena beban sebagai putra sulung dengan tujuh orang adik yang masih kecil, ayah yang sakit-sakitan, dan apesnya menjadi satu-satunya bawahan Sahya Rahagi yang memiliki pengetahuan akan mantra-mantra gelap aneh nan sesat,  Ajo ogah berpatisipasi dalam ritual terkutuk ini. Namun mana mungkin ia menolak segepok gulden yang akan menjamin perut dan kesehatan keluarganya selama setahun ke depan? 

Ajo menelan ludah menerima kepasif agresifan tersebut, ia menunduk. “Eeh iya, Ndoro. Maaf, Ndoro. Saya siap kok, maaf—“

“Wes, sok, sok.” Sahya menoleh ke belakang untuk mengecek yang lain. “Kujangnya aman?”

Sita, salah satu wanita yang sudah bekerja cukup lama pada Sahya dan sebaya dengannya, mengangguk dengan dua buah senjata kelam di gendongannya, kujang dan keris yang telah dimantrai yang kebetulan merupakan senjata pusaka keluarganya. Ibunya tidak boleh sampai tahu bahwa ia akan menggunakan mereka untuk ritual ini. “Seharusnya begitu dipanggil, nanti dia langsung menghadap Ndoro. Nanti saya sama Mas Sena sung tusuk dari belakang.”

Sahya manggut-manggut, tangannya bergerak melonggarkan ikatan jariknya sedikit ketika adrenalin tiba-tiba mengalir di sekujur pembuluh darahnya. “Jangan sampai rusak lingkarannya saja ya, saya ndak mau ngulang lagi, awas saja.”

“Aman harusnya, Ndoro. Nanti saya dan Mas Sena berdiri di luar bunganya, tadi pembatas kapurnya sudah digambar sengaja lebih besar juga untuk mengantisipasi ini, Ndoro.”

Sahya kembali mengangguk sambil memperhatikan tiga buah lingkaran yang dibuat dari aliran darah buaya, bunga tujuh rupa, dan ditutup oleh lingkaran kapur sirih, ia tahu ia selalu bisa mengandalkan Sita yang selalu penuh pertimbangan. Aroma dupa kamboja menguat memenuhi udara, lilin-lilin di luar lingkaran mulai dinyalakan, tiga lembar bulu burung hantu sawah mulai basah setengah oleh darah buaya. Dan sekarang, satu-satunya kekhawatiran mereka adalah apakah Ajo akan berhasil menyanyikan kidung mantra pemanggil sang makhluk buas atau tidak.

Perut Sahya tiba-tiba seakan dipelintir, semua ini juga tergantung atas performanya sendiri. Apakah ia akan mampu mengikatnya menjadi miliknya? Ia bahkan tidak tahu bagaimana cara memerolehnya.

 

Hanya ada satu cara untuk mencari tahu, batinnya.

 

Jam akhirnya menunjukkan waktu sepertiga malam. Sahya Rahagi melangkah memasuki lingkaran pemanggilan, aroma dari dupa kamboja menguar dari kemeja putih yang ia kenakan, pelayannya sempat memberinya jampian sekaligus penyamaran. Lantunan suara Ajo yang merdu berayun, mengisi seisi ruang dengan kidungan halus. Dadanya seakan hendak robek saking brutalnya degupan jantungnya, bertalu-talu tanpa henti, Sahya merasa seekor kuda tengah berderap-derap di dalam dadanya dan sebentar lagi ia akan tewas oleh serangan jantung. Suhu udara rasanya merendah, Sahya melirik dari ekor matanya, bukan cuma dia yang keberaniannya meragu, Sita dan Mas Sena mengeratkan pegangan terhadap senjata pusaka. Mungkin senjata-senjata tersebut justru akan lolos dari pegangan mereka sebab keringat gugup yang keluar dari telapak tangan tanpa henti.

Di tengah nyanyian mistis Ajo, sempat-sempatnya Sahya Rahagi berpikir siapa orang gendeng pertama yang menemukan klenik-klenikan begini? Ya dia sih melakukan ini berdasarkan kitab yang ada, tapi pertanyaan besarnya siapa orang gelo pertama yang iseng menyanyikan mantra dan menemukan cara untuk mengikat sesosok entitas sebagai babunya?

Suara Ajo semakin lama semakin melengking, Sahya akan mengira ia kerasukan jika bukan karena tatapan matanya yang membara akan keyakinan sekaligus kegentaran. Mungkin sugestinya saja, tapi udara memang terasa berbeda.

Kehadirannya nyaris tidak disadari Sahya, jika saja ia tidak bersitatap langsung dengan sepasang titik merah menyala yang perlahan mengapung di udara. Rupa yang tadinya semi transparan mulai terbentuk, kulit langsat yang hidup, lembaran kain yang nyata, dan terakhir, nyalanya merah yang setajam silet. 

Bukan sekali atau dua kali Sahya melihat penampakan. Kemunculan wanita berambut panjang bergaun putih sampai sosok noni-noni asing bukanlah sesuatu yang asing. Pada hari-hari biasa, Sahya tidak peduli. Memangnya mereka bisa apa? Memangnya apa yang mereka akan lakukan padanya? Hal yang paling mungkin terjadi adalah mereka akan menakutinya saja dan hanya itu. Takut tidak akan membuatmu mati,

Namun Sahya tidak pernah merasakan urgensi untuk lari sekencang-kencangnya, sejauh-jauhnya seperti saat ini. Awalnya ia kira sosoknya besar, tapi ternyata itu hanya fatamorgana yang mengapung di sekitar bahunya. Sosok itu jauh lebih kecil dari dirinya, namun hanya ada satu kata yang terlintas di benaknya. Ini adalah sang iblis sendiri, pikirnya. 

Cendana. Aroma itu sangat kuat, belasan dupa kamboja yang dinyalakannya kini tak lagi tercium. Ia membaui secercah aroma kamboja, tapi aroma bunga kamboja segar yang bercampur dengan cendana yang kuat. Bukan aroma dari dupa kamboja. Sahya Rahagi menahan tumitnya agar tidak lagi melangkah mundur tatkala mata makhluk itu bergeser dari menerawang seisi ruangan, hingga tertuju ke arahnya.

 

Sulur-sulur kehitaman bak tengkorak di wajahnya mulai menyala. Jadi itu muasal namanya, batin Sahya. Cahyo. Yang berpijar.

 

Raungan menggema tatkala Sita dan Sena menancapkan kedua senjata pusaka ke pinggang sang lelembut, Suara desisan halus terdengar, tubuh Cahyo yang meleleh dari senjata yang sudah dijampi-jampi itu.

Sahya melangkah menghampiri sang lelembut yang kehilangan keseimbangan. Secercah kebimbangan muncul di benaknya. Bukan, bukan keraguan dalam mengikat sang calon peliharaan baru, tetapi keraguan manusiawi dalam menyakiti dirinya sendiri. Ia menepis kasar-kasar benak yang baru terbit itu, langsung menorehkan pisau kecil pada permukaan lengannya.

Sinta mengambil sebilah pisau lagi yang sudah dijampi-jampi dari ikatan pinggangnya, menancapkannya pada sisi mulut Cahyo, memaksa makhluk itu untuk membuka mulut bertaringnya di sela-sela raungan kesakitannya. Tangan Sahya menyengkram rahang Cahyo, menyekoki mulut Cahyo dengan lengannya sendiri.

Tetes demi tetes darah Sahya yang deras mengalir menuruni kerongkongan Cahyo. Sahya Rahagi meringis akan sebagian taring Cahyo yang menancap. Kedua abdinya bergegas melompat keluar lingkaran pemanggilan secepat mungkin untuk menyerahkan semuanya kepada Sahya untuk dituntaskan. 

Awalnya memberontak, tetapi setelah pupil mata merahnya bersinar, Cahyo secara naluriah menyengkram lengan Sahya. Tidak lagi terpaksa ketika haus mulai melandanya. Secercah cahaya terlihat bergerak dari bawah kulit lehernya. Sinta dan Sena meneriakkan sesuatu, mengingatkan bendoronya untuk bersiap. 

Di tengah-tengah nyeri yang melanda tangannya serta kaki yang melemas, Sahya menarik paksa lengannya sebelum mencengkeram tenggorokan Cahyo, menarik tubuhnya ke atas dan melahap mulut sang setan. Tepat sebelum cahaya tersebut kabur dari Cahyo.

Kerongkongannya seakan terbakar, sensasi tersebut berpindah sampai ke rongga dada dan perut. Jantungnya seakan diremas. Ia refleks mendorong Cahyo ke depan sementara dirinya sendiri terempas ke belakang.

Sementara Sahya menekan lengannya yang masih mengucurkan darah, Cahyo berlutut di hadapannya. Tangan sang lelembut terulur ke depan, kedua mata merahnya tak lagi membara, digantikan oleh tatapan kosong yang … tenang. Sahya membiarkan uluran tangannya menganggur selama beberapa saat, tidak yakin. Ia bertukar pandang satu-satu dengan Sita, Ajo, dan Sena yang sama piasnya. Ragu, Sahya pada akhirnya turut mengulurkan tangannya sendiri, telapaknya yang berkeringat bertemu dengan permukaan kulit sesejuk es. Ia ingat kapan terakhir kali merasakan sensasi yang sama, di pagi hari Wegi, anjing peliharaan semasa kecilnya mati, terbujur kaku di dapur kediamannya setelah sakit selama seminggu. Pandangan Cahyo hanya tertuju pada Sahya seorang, ia menunduk dan membawa tangan Sahya pada bibirnya. Bulu kuduk Sahya meremang.

Lidahnya kelu, namun ritual perlu ditutup dengan sebuah mantra; ada ijab yang harus dilaksanakan. “Esensiku milikmu, cahayamu milikku. Kepada siapa engkau berpulang?” 

Dua bola cahaya merah yang berpendar menatap menembus jiwanya begitu pemiliknya mendongak. Suara halus kemayu tersebut lantas menjawabnya. “Esensimu milikku, cahayaku milikmu. Kepada Tuan, aku berpulang.”

“Jiwaku jiwamu, di hadapan api dan purnama.” Perut Sahya mau dipelintir, nyalinya terbakar habis mendengar mantra yang diucapkannya sendiri bersamaan dengan sang lelembut yang mengikuti. “Dalam hidup, dalam mati.”

 

“Aku tuanmu.”

 

“Aku abdimu.”

 

Secercah kecil cahaya berpendar pada permukaan punggung tangan Sahya di bekas kecupan ringan Cahyo, tanda resmi bahwa sang lelembut telah menyerahkan setengah dari intinya untuk Sahya, sebuah ikatan kasat mata yang menggembok ruh keduanya. 

Cahaya adalah inti dari Cahyo, siapa pun yang melakukan ritual pengikatan bersamanya akan memperoleh sebagian dari intinya tersebut, dan hidup Cahyo terikat sepenuhnya pada Sang Tuan. 

"Saya milikmu, Gusti."

Diam. Hening. Cahyo cuma berdiri tegap di hadapannya. Tanpa wajah yang menyala, aroma yang tidak sekuat tadi, serta nyanyian mantra Ajo yang sudah berakhir, kini Sahya bisa memperhatikannya dengan lebih jelas. Jika dari jauh, Cahyo tidak ada bedanya dengan abdi-abdi pada umumnya. Namun meski demikian, Sahya rasa dia masih tidak mampu bersitatap lama-lama dengan wajah aneh makhluk itu. 

“Kalian boleh pergi.” Mata Sahya masih belum meninggalkan Cahyo, menghindari menatap langsung wajahnya. Setelah tidak lagi mendengar suara langkahan abdi-abdinya yang pergi di atas lantai berkayu, Sahya melanjutkan. “Gusti Katmijo.” Cuma sepatah nama yang disebutkan Sahya Rahagi. Bagaimanapun juga, ia harus … mencoba pembunuh pribadinya. “Telunjuknya, bawa ke sini sebagai bukti tumpasnya.”

Entah dari mana asalnya, yang jelas Sahya ingat tidak ada sarung senjata apa pun yang tersemat di belakang pinggang sang lelembut, tahu-tahu sebilah pedang sedang berbentuk spiral yang mengerucut sudah di tangannya. Cahyo membungkuk sekali lagi, membawa pedangnya ke dadanya. “Sebagaimana perintahmu, Ndoro.”

 

Dan malam itu diakhiri dengan Sahya Rahagi memuntahkan isi perutnya di jendela kamarnya di kala azan subuh berkumandang, sementara Cahyo berdiri beberapa meter di belakangnya, dengan sepotong jari di telapaknya.



 

***

 

 

Tiga hari dilaluinya tanpa tidur barang satu jam pun. Mau di pagi, siang, dan malam, cuma tidur ayam-ayam yang mampu diserapnya.

 

Bodoh, bodoh, rutuk Sahya Rahagi terhadap dirinya sendiri selama beberapa hari terakhir. Minggu lalu boleh saja ia betul-betul mantap akan melakukan ini, ia juga tahu semua konsekuensinya. Termasuk yang sedang dirasakannya kali ini, memang sudah ada peringatan bahwa sedikit ketidaknyamanan mungkin akan dirasakan jiwa sang tuan begitu ikatan disegel. Sedikit apanya? Sahya menggerutu dalam hati. Di samping kegusarannya setiap berupaya beristirahat, ia tidak siap dengan perubahan … energi di kediamannya.

Kesannya, Sahya Rahagi itu tuan rumah yang cuek. Tipikal orang banyak duit yang menyerahkan semuanya untuk diurus oleh abdi-abdinya. Ndak salah, tapi Sahya Rahagi juga serba tahu apa yang sedang berlangsung di rumahnya. Abdi-abdinya mungkin sudah berusaha sebaik mungkin untuk tetap profesional, namun bahasa tubuh mereka tidak pernah berbohong. Mereka juga merasakan daya asing tersebut.

Dan bau itu … tidak seperti bau dupa pada umumnya yang biasa dibeli di pasar. Ada jejak manis kamboja di aroma cendana pekat itu selama beberapa hari terakhir. Kamboja segar.

Seakan sakit kepalanya belum cukup untuk merusak harinya di pagi hari, suara berisik Lewu yang tengah heboh menggonggong diselingi lolongan di area teras yang luas. Semalam ia mendengar anjing peliharaannya sesekali menggonggong, tampaknya semua penghuni kediamannya, lintas spesies, tidak ada yang sempat beristirahat dengan layak. 

Biasanya, Lewu dibiarkan bebas berkeliaran di halaman dan diperbolehkan masuk ke dalam rumah sesuka hatinya. Pagi ini, Sahya menyuruh abdinya untuk merantainya di salah satu pilar teras. Bukan cuma Lewu, kemarin pun beberapa ekor kuda mengamuk berjemaah di istal yang terletak di sebelah timur wilayah kompleks kediamannya.

Untung si monster betul-betul sesuai apa kata kitab itu; menuruti apa pun yang keluar dari mulutnya. Tanpa repot-repot memanggilnya, enggan juga Sahya bertemu tatap muka dengan muka busuk itu, ia menyurun Cahyo untuk angkat kaki ke sayap bangunan bagian barat. Amukan kuda-kuda mereda, hawa di sayap timur juga membaik. Namun sama sekali tidak mempengaruhi kondisi yang tengah dihadapinya dengan Lewu hingga hari ini..

Bak anak asuhnya sendiri, kali ini Sahya membawa Lewu ke sisinya, dipikirnya barangkali anjing itu bisa lebih tenang jika ditemani. Keputusan salah, justru agresi yang semakin ditunjukkannya. Anjing ini teritorial dan tidak mau rumahnya terancam.

“Shhh shhh shh shh,” desis Sahya sambil menahan dada Lewu yang gonggongannya tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda, justru malah semakin menjadi-menjadi. Abdi-abdi di sekitar ruang makan menahan wajah mereka dari menunjukkan ekspresi tak nyaman. Ini hari keempat anjing kesayangannya menggonggong tanpa henti. Sudah dua pajangan pecah karena Lewu sempat menerjang udara kosong yang dianggapnya sebagai lawan. 

 

Pada akhirnya, anjing itu dibawa abdinya ke pojok paling timur tempat kebun kecil-kecilan berlokasi di wilayah kompleksnya. Sedikit ketenangan.




***



Satu minggu. Sahya Rahagi belum ada niatan sama sekali untuk melaksanakan ritual terhadap lelembut itu.

 

Boro-boro ritual, Sahya justru sengaja memerintahkan Cahyo untuk tidak usah muncul di hadapannya jika tidak dipanggil. Terserah mau ke mana, yang penting jangan muncul di hadapannya. Mereka cuma mampu mencium aroma kematian cendana terkutuk itu di sepenjuru rumahnya tanpa kehadiran sosok sumbernya. Sempat kemarin Cahyo muncul di pagi hari, mungkin tidak disengaja. Sahya memakinya, mengusirnya seketika.

Sebetulnya, bisa saja dia tidak perlu melakukan ritual yang satu itu. Pilihan lainnya ialah memberikan darahnya lagi seperti malam pertama pemanggilan. Namun Sahya ogah mengalami hal itu lagi, sensasi sekarat kurangnya darah. Kalau kata Sita, ritual tubuh yang konon lebih umum dilakukan oleh tuan-tuan terdahulu Cahyo. Semuanya karena alasan yang sama, risiko sekarat yang tinggi. Setidaknya, efek samping ritual tubuh tidak fatal sama sekali.


 

***

 

 

Entah sudah berapa jam Sahya duduk di kursi ruang makan selang jam makan malam berakhir, menunda-nunda pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Dua minggu sudah berlalu semenjak ritual pemanggilan Cahyo dilakukannya. Begitu mereka berdua terikat dalam sebuah kontrak, Cahyo adalah miliknya dan akan mengikuti semua titahnya. Selama dua minggu ini juga, Cahyo telah ... membereskan beberapa masalah yang dimiliki bisnisnya. 

Namun kini, kesetiaan makhluk itu berada di ambang yang tipis. Malam ini atau tidak sama sekali dan ia akan kehilangan senjata terkuatnya. 

Sahya tidak tahu harus merasa apa, ia tahu konsekuensi yang perlu dijalaninya dengan mengikat kontrak dengan lelembut itu. Dia sudah paham, paham sekali sejak awal ia mencari tahu mengenai Cahyo. Sebuah kuasa dan kekuatan yang diperoleh dengan syarat dan ritual yang sederhana.

Ia sendiri tidak merasa hal itu bukanlah perkara yang besar atau pun sulit. Sahya ingat apa yang membuatnya mantap untuk memelihara makhluk tersebut adalah karena syarat yang justru mudah itu. Lakukan dan lupakan , pikirnya. 

Namun semenjak malam itu ... hari pertama kalinya ia berhadapan langsung dengan Sang Makhluk Buas itu sendiri lewat ritual pemanggilan pertamanya, auranya lebih menyeramkan dari iblis sekalipun, dan ia benci mengakuinya, tetapi ia enggan menghadapi Cahyo sekarang karena naluriah takut. 

Selama nyaris dua minggu terakhir, ia telah menunda persyaratan ini selama mungkin dan langsung mengusir makhluk tersebut seusai memberinya perintah untuk membereskan perkara apa pun, Cahyo hanya ada di sekitarnya jika ia memang betul-betul butuh. Tolong, bawa jauh-jauh makhluk ini dariku , batinnya setiap kali Cahyo harus muncul di hadapannya untuk menerima titah.

Dan sekarang Sahya Rahagi terduduk kaku di ranjang, sang lelembut berdiri tak jauh dari hadapannya, menunggu perintah. Cahyo telah terikat dengan Sahya, hidupnya adalah milik Sahya, melakukan ritual ini untuk seterusnya untuk mempertahankan kesetiaannya seharusnya jauh lebih mudah dari pada upaya pertama kali Sahya untuk mengikatnya. Jika yang pertama disertai usaha penangkapan, kali ini Sahya cuma perlu mengangkat telunjuk dan mengucapkan sepatah perintah dan sang lelembut akan bertekuk lutut menurutinya. Perintah apa pun , termasuk untuk bersedia melakukan ritual ini.

Namun yang menjadi masalah sekarang justru adalah dirinya sendiri. Kedua tangan Sahya mencengkeram pinggiran kasur, bibirnya menipis. Bagaimana caranya ia bisa ... melakukan ritualnya bersama Cahyo jika ... ia tidak merasa ... yah.

 

Lagi pula, orang sinting mana yang bersedia tidur dengan makhluk gaib serupa tengkorak yang berbau seperti rumah duka setiap kali ia melintas?

 

Atau ... Ia bisa meminta sang lelembut untuk membantunya.

 

"Cahyo." Pada akhirnya kesunyian yang menyesakkan dipecahkannya.

"Nggih, Ndoro?" Mata Sahya mengerjap mendengar suara halus yang jarang didengarnya, ia masih tidak terbiasa dengan kenyataan bahwa makhluk dengan penampilan sekelam itu menyimpan suara selembut dan seringan bulu.

"Buat saya ... terangsang." Sahya menelan ludah mengucapkan perintah itu. "Lalu kita lakukan ritualnya."

Cahyo mengangguk kecil sebelum berlutut di depan Sahya. Darahnya berdesir ketika kedua tangan sang lelembut beranjak ke panggulnya, mulai menarik ke bawah jarik yang membalutnya dari pinggang ke kaki. Jemari kirinya yang sejuk menyentuhnya, sementara tangan kanannya yang bebas membelai ringan sisi dalam paha Sahya. 

Dalam jarak sedekat ini, ketika sang lelembut tak menatapnya langsung ke mata, Sahya bisa memperhatikannya dengan jauh lebih jelas. Ia sedikit tergoda untuk menyentuh rambut gelapnya yang terlihat lembut, tertata di ambang kerapian dan berantakan secara bersamaan. Sahya juga baru menyadari terdapat garis berpotongan tipis di sepanjang sulur-sulur hitam yang menghiasi pipi Cahyo di bawah temaram lilin di atas nakas. Pipinya robek? pikir Sahya. 

Lalu matanya mendarat pada bibir Cahyo yang terkatup. Untuk makhluk yang bertemperatur seperti mayat, bibirnya tergolong ... ranum. Sahya sekali lagi mengerjapkan mata.

"Cahyo," panggilnya sekali lagi. "Aku ... "

Tangan Cahyo tidak berhenti, ia mendongak untuk menatap Sahya—yang sekali lagi menelan ludah. Sahya Rahagi tidak melanjutkan kata-katanya. Tidak mampu. Dia cuma termangu, darahnya mengalir ke satu titik. Sahya mendapati rongga udara di dadanya seakan menyempit seiring tubuhnya mulai merespons semua sentuhan Cahyo sedari tadi. Ia ingin mempercepat semua ini. Mau kabur. Sahya ndak suka semua ini. Asing, aneh, ndak jelas. Pernah, tapi asing.

Cahyo yang menunggu ucapan Sahya pun menyahut.  "Ndoro boleh melakukan apa pun. Saya punya Ndoro."

"Kemari." Sahya mengulurkan tangan untuk menyentuh rahang Cahyo, menariknya untuk bangkit dari posisinya sekarang hingga membungkuk sampai wajahnya sejajar dengan kepala Sahya. 

Ranum bibirnya sama sekali tidak cocok dengan sensasi aslinya, itu yang muncul di benak Sahya pertama kali tatkala bibirnya menyapa mulut sang lelembut. Di luar banyak hal yang ia duga akan ia lakukan tahun ini, mencumbu makhluk gaib mungkin hal yang paling sinting yang tidak akan pernah ia pikirkan. Bibir Cahyo terasa sejuk di bawah sentuhannya, ia mengira setidaknya akan sedikit lebih hangat, ia nyaris percaya ada darah mengalir di pembuluh darah tipis yang mungkin terdapat di dalam sana. 

Sesuatu memelintir di dalam perutnya begitu ia mendapati Cahyo meresponsnya dalam cara terlembut yang pernah ia terima. Tanpa ia sendiri sadari, tangan Sahya bergerak menekan tengkuk peliharaannya mendekat sebelum menelusupkan lidahnya lewat sela-sela bibir Cahyo. Taring. Makhluk ini punya taring. Tidak cuma satu pasang, melainkan tiga pasang sekaligus. Dua di atas, satu di bawah. 

Cahyo terduduk di pangkuannya seiring pagutan ringan bibir mereka perlahan-lahan melonjak; bergolak. Decakan dan megapan napas mengisi seisi kamar yang luas dan sunyi. Dua tangan dingin menyambutnya, tetapi tubuh Sahya justru menghangat detik demi detik. Lenguhan lolos dari bibirnya tatkala bagian bawahnya menekan tubuh Cahyo.

Otaknya berkecamuk. Cahyo tidak sukses membantunya untuk melakukan ritual ini. Cahyo membuatnya kehilangan akal sehat detik ini juga. Rasa lapar yang mendidih menderanya seketika, salah satu tangannya bergerak menelusuri punggung hingga bawah.

Bibirnya sibuk melahap habis pasangannya, kecupannya mulai menjalar dari pipi hingga leher Cahyo sementara kedua tangannya aktif membuka satu persatu kancing beskap sang lelembut yang tunduk di bawahnya. Dengan napas yang memberat, Sahya membenamkan wajahnya di ceruk leher Cahyo. Aroma cendana yang kuat menusuk hidungnya, membuai kepalanya dalam sebuah ekstasi yang merayunya untuk mendekap makhluk buas tersebut dalam genggamannya selamanya.

Makhluk buas ... Sahya bertanya-tanya. Apakah bisa makhluk buas sejinak ini? Kedua manik merahnya kosong nan sendu, tangan dinginnya seakan penuh kasih, kakinya memberi ruang untuk Sahya.

Sahya kehilangan kesadaran akan waktu yang berlalu. Tubuh Cahyo dihimpitnya, tangan Sahya bergerak secara intuitif. Baju luaran hitam dan biru tua bercampur di lantai. Sulur-sulur hitam yang sama dengan yang tercetak di wajah Cahyo ternyata menjalar sampai ke tubuhnya yang terekspos. Tangan Sahya menyapa kulit di bawahnya, garis-garis serupa rusuk tersebut tercetak di sana, menjalar dari dada hingga pangkal paha. Telapak Sahya menelungkup tepat di atas simbol berbentuk bintang berkaki delapan di dada Cahyo, jemarinya menelusur ke bawah hingga berakhir di simbol yang sama yang tercetak tepat di bawah perutnya. 

Selama ini, yang ia tahu ia suka laki-laki, manusia. Namun—sepertinya? tampaknya?—ia tak akan menolak yang satu ini.

Dahi Sahya berkerut ketika ia tidak menemukan apa yang seharusnya di bawah sana begitu jarik yang Cahyo kenakan disingkirkan. Lanang … kan? Mata Sahya bergerak meratapi selangkangan dan wajah sang lelembut yang polos sekaligus kosong secara bergantian berkali-kali, namun pada akhirnya, ia mengangkat bahu. Mungkin mereka berbeda dengan kita, pikirnya.

Lalu akal sehatnya seakan lenyap. Napasnya tercekat, sedikit demi sedikit embusan lolos dari bibir Sahya begitu ia menenggelamkan dirinya. Panggulnya bergerak, tubuh Cahyo melingkupinya erat. Napas demi napas yang ia tarik terasa lebih berat di setiap gerakan. 

Dua lenguhan berbeda saling bersahutan, deru napas yang berat, dahi Cahyo menempel erat dengan dahi tuannya, jemarinya tenggelam dalam helaian ikal gelap Sahya, bibirnya menyambut tatkala Sang Tuan kembali menuntut afeksi. 

Rutinitas ini tadinya adalah sebuah konsekuensi. Namun cara makhluk itu mengalungkan kedua lengannya pada leher Sahya tatkala ia mendekat malam ini, betapa suaranya tidak hanya lembut dan ringan, Sahya mulai mendapatinya terdengar ... manis. Ini bukanlah sebuah konsekuensi lagi.

Ia ambruk dalam dekapan Cahyo. Jantungnya mulai kembali ke tempo normalnya setelah berpacu mengikuti ritme Sahya. Wajahnya tenggelam di bahu sang lelembut, tubuhnya serupa perangko yang enggan dilepas. Sahya mendongak, bibirnya kembali mengais kasih, dan Cahyo, Cahyo-nya yang berharga, mengasihinya.

Orang sinting mana yang bersedia tidur dengan makhluk gaib serupa tengkorak yang berbau seperti rumah duka setiap kali ia melintas? Saya orang sinting itu, pikir Sahya sebelum lelap mengambil alih kesadarannya dengan lengan yang terkunci di pinggang Cahyo. 



***

 

 

Pulas. Rasanya seperti tewas. Organ-organ tubuhnya seolah bersorak gembira akhirnya bisa istirahat total dengan benar untuk pertama kalinya dalam tiga minggu. Sahya membiarkan kepalanya bersandar jauh lebih lama, hidungnya mulai menangkap aroma itu lagi seiring kesadarannya berkumpul. Kulit lengannya mulai mengenali permukaan sejuk nan halus di bawahnya. Tidak ada kepanikan atau kengerian yang melandanya kali ini. Lama ia berdiam diri dalam posisi setengah tengkurap itu. 

Perlahan, ia menarik lengannya, berbaring di atas punggung sebelum meregang; mengulet bak kucing. Matanya mencuri-curi lirikan ke arah Cahyo yang masih polos sepertinya. Ia merasakan lelembut itu bangun dari posisi rebahnya begitu Sahya melepas rengkuhannya. 

Sahya mengangkat kepala sedikit, kliyengan langsung melandanya. Ruangan di pandangannya seperti berputar. Cahyo berdiri di samping ranjang, menyapa. “Pagi, Ndoro. Sudah menjelang siang,”

Kali ini, Sahya bisa menatap wajah bobrok itu tanpa usaha besar. Tanpa perlawanan. Ia tak menjawab apa-apa. Cahyo menunggu, tahu Sahya butuh sesuatu. “Ndoro mau teh?”

Sudah mulai hapal ternyata dia, pikir Sahya. Pergi ke kuil tehnya di dekat ruang makan memang rutinitasnya setiap baru bangun tidur. Namun jelas pagi ini Sahya Rahagi tidak ada energi untuk bangun, setidaknya selama beberapa jam ke depan. Badannya greges, seperti demam, tapi suhu tubuhnya normal. 

Sahya mengempaskan kepalanya kembali ke bantal. “Pakai cangkir biasaku, yang biru putih. Pakai yang di stoples nomor …,” ia mengingat-ingat sejenak urutan koleksi tehnya, “nomor tiga.”

Cahyo menunduk kecil. “Nggih, Ndoro. DItunggu.”

Mata Sahya kembali mencuri-curi lirik ke arah Cahyo yang sedang sibuk memunggunginya, mengenakan jarik sebelum memasang stagennya dengan teratur, dan terakhir mengancingkan beskapnya. Ternyata sulur-sulur dan bintang-bintang tersebut tertato sampai ke punggung.

 

***

 

Sahya memperhatikan Cahyo dari balik cangkir tehnya yang mengepul, makhluk itu berdiri tak jauh dari meja makan. Berarti jika tidak diusir, sepertinya memang nalurinya untuk selalu berada di sekitar majikannya, pikir Sahya. Cahyo berdiri tegap, sekilas terlihat tidak ada bedanya dengan abdi-abdi laki-laki lainnya jika dilihat dari jauh, jika pola di wajahnya, nihilnya hidung, dan absennya blangkon dari atributnya diabaikan.

Yah, kalau dipikir-pikir, sebetulnya Cahyo tidak semengintimidasi itu sih. Barangkali kemarin-kemarin ia betul-betul enggan bersinggungan dengan lelembut itu karena impresinya ketika pertama kali bertemu adalah siluman galak haus darah yang akan menebas kepala siapa pun yang mengganggunya. 

Di cahaya siang hari yang terang, sikap yang … jinak, dan naluri yang sedang kalem begini, menurutnya Cahyo cenderung manusiawi.

Sahya kali ini terang-terangan menatap mukanya. Kemarin-kemarin ia masih sungkan, tapi dipikirnya kan ia ini majikannya Cahyo, ngapain dia malu-malu dan tidak enakan begitu? 




***

 

 

Sambil menutup pintu di belakangnya, ekor mata Sahya mengawasi sosok yang masih setia duduk di salah satu sisi ranjangnya semenjak disuruh setengah jam yang lalu. Memang kegelapan adalah habitat yang paling cocok untuknya, pikir Sahya. Lampu minyak yang redup menyinari sebagian diri Cahyo, matanya tampak lebih terang di temaramnya ruang. 

Selama seminggu terakhir, Sahya tidak lagi cepat-cepat mengusir keberadaan Cahyo setiap kali ia membutuhkan makhluk itu. Semenjak malam dan pagi itu, entah mengapa aura mencekam Cahyo tidak lagi mencekik jiwanya sebagaimana dua minggu sebelumnya membuatnya merasa seperti itu.

Beberapa abdinya melapor tak nyaman dengan keberadaan sang lelembut yang berkeliaran bebas di rumah. Lewu, anjing peliharaan kesayangannya enggan masuk ke rumah dan jauh lebih agresif dari biasanya selama tiga minggu terakhir, tak henti-hentinya menggonggongi rumah sendiri. Ia bisa mencium desas-desus yang sebentar lagi sepertinya akan beredar di lingkungan sekitar rumahnya. Namun memangnya Sahya Rahagi peduli? Keluar rumah saja tidak gemar, untuk apa dia acuh?

Cahyo turut mendongak ketika Sahya mengulurkan tangan untuk menyentuh pipinya, sorot pandangannya yang sendu menatap kosong Sahya, seakan menunggu sesuatu. Bahkan, Lewu, yang bisa digolongkan sebagai anjing terlatih, tidak sepatuh ini. Cara Cahyo meletakkan sisi kepalanya sepenuhnya pada telapak Sahya yang menangkup sebelah pipinya justru mengingatkannya pada kucing, cuma keangkuhan kucing mana mungkin selembut ini.

Ia bergeser sedikit ketika Sahya beranjak naik ke ranjang untuk duduk di sampingnya. Cahyo merangkak menghampiri, setengah berdiri dengan kedua lutut mengapit paha Sahya ketika tuannya memberi kode untuk mendekat. Ia tidak bereaksi apa-apa tatkala tangan Sahya menyentuh sisi panggulnya, perlahan beranjak ke bokongnya, memberinya remasan kecil. 

"Duduk," sahut Sahya, seakan tahu maksud sebetulnya dari kata-katanya, Cahyo duduk jauh lebih dekat dari seharusnya, tepat di atas gundukan yang terasa kaku dan keras di balik jarik tuannya.

Ia menunduk, bibirnya menjamah Sahya, membuka untuk memberi jalan masuk untuk lidah sang tuan yang merindu. Cengkeraman pada bokongnya mengerat, sebelah tangan menarik paksa stagennya hingga lepas sebelum mengoyak ikatan yang mengamankan jarik yang membalutnya dari pinggang hingga betis. Tangan Sahya menelusup, menekan erat punggungnya dari dalam. 

Cahyo penurut, tapi bukan makhluk tolol. Dan merupakan takdirnya untuk memastikan yang terbaik untuk tuannya. Dan ia juga tidak sebodoh itu untuk tidak menyadari ketidak nyamanan Sahya di hari-hari pertama ikatan mereka. Di jeda pergelutan bibir mereka, ia berbisik, "Tuan tidak perlu melakukan ini."

"Memang tidak perlu." Sahya langsung menarik kembali kerah peliharaannya untuk menunduk. "Tapi aku mau," lanjutnya. Tidak memberi kesempatan Cahyo untuk balas menyahut, bibirnya kembali mengajak pasangannya untuk berseteru. 

Sahya menyumpah serapah dalam hati ketika matanya terpejam erat sementara Cahyo mengambil alih mengecupi lehernya. Si keparat ini, pikirnya. Sebetulnya mereka tidak perlu melakukan ini sampai minggu depan, ia masih menyimpan sebagian dari cahaya Cahyo. Itu yang membuat Cahyo setia kepada tuannya, siapa pun yang memiliki sebagian kecil kekuatannya akan ia anggap berhak berotorisasi atas dirinya, kekuatan yang ia serap setiap kali mereka terjalin bersama secara fisik. Dan kekuatan itu tidak akan hilang cepat, setidaknya ritual itu hanya diperlukan sewaktu-waktu saja. 

Namun Sahya mendamba... Sahya Rahagi sangat mendamba, jiwanya mengais-ngais, menjerit menginginkannya lagi, dan lagi, dan lagi. Satu minggu. Ia hanya tahan satu minggu. Sahya bukan tukang pengisap kretek seperti pria-pria pada umumnya di sekitarnya, namun beberapa hari terakhir ia mulai berandai-andai apakah begini rasanya menjadi mereka yang bergantung pada sebatang campuran tembakau cengkih itu? 

Kedua tangannya beralih menangkup pipi bergurat makhluk di pangkuannya, dengan napas tersendat, ia menitah, "Gesek."

Jariknya perlahan mulai terasa menyesakkan, lengket, gerah seiring Cahyo bergerak maju-mundur pendek-pendek di atasnya. Tangannya mulai membuka satu per satu kancing yang menghalangi tubuh Cahyo, punggung sang lelembut menekuk ke depan ketika ia menekannya, membenamkan wajahnya di dada makhluk itu sebelum kecupannya menjalar dari pangkal leher hingga dada. 

Aroma serupa dupa menusuk hidungnya, Sahya merasa sempoyongan setiap aroma tersebut hinggap di otaknya, membuat setiap indranya berdesir. Matanya menatap lekat-lekat sosok di hadapannya, agaknya ia mulai sinting untuk berpikir bahwa wajah itu terlalu rupawan untuk dilewati begitu saja. Rupawan, dengusnya. Rupawan penuh tanda tanya, makhluk satu ini bahkan tidak berhidung, dan Sahya mendapati dirinya—tidak.

Deretan pikiran demi pikiran yang berkecamuk di kepalanya sontak menghilang disusul dengan lenguhan yang lolos dari bibirnya ketika ia merasakan taring yang menancap kecil, tidak sampai menembus kulitnya, bersamaan dengan semakin tertekannya tonjolan di bawahnya. 

Menit selanjutnya Cahyo telah rebah di bawahnya, kaki mereka tersangkut satu sama lain, Sahya mengambil alih apa yang dilakukan Cahyo sedari tadi sementara panggul sang lelembut menggeliat kecil. 

"Ndoro—" Inti diri mereka masih bersinggungan satu sama lain, wajah Sahya terbenam di lekuk leher Cahyo.

"Ndoro, Gusti Sahya—" kecupan Sahya menjalar hingga ke pipi sebelum berakhir di bibir lagi. Namun pada akhirnya Cahyo berhasil mengatakannya. "Ndoro bisa langsung saja, saya ndak perlu ini. Majikan-majikan lama saya lebih sering—"

"Dan aku bukan majikan lama kamu, ya toh?" potong Sahya, pinggulnya semakin menempel dengan pinggul Cahyo, sekali lagi bersinggungan.

"Bukan, Ndoro."

"Bukan?"

"Bukan.”

Tanpa disadarinya, senyuman tipis tersungging di wajah Sahya. "Nah. Tuh, pinter." Ia berhenti sejenak, setengah tidak sadar. “Cantik…”

Cahyo terbiasa dengan lelaki-lelaki haus akan dendam dan kuasa yang senantiasa menyuruhnya untuk berbalik badan sementara mereka menuntaskan ritual semata untuk menjaga kesetiaannya. Ia terbiasa diperlakukan hanya sebagai senjata dan pesuruh, tidak lebih dari itu. 

Tidak pernah ada yang suka dengan keberadaan dirinya, atau lebih tepatnya, tahan dengan presensinya. Begitu ritual selesai, Cahyo akan langsung meninggalkan ruangan sambil masih mengikat jariknya karena diusir oleh orang-orang itu. 

Jadi wajar jika kini ia tak tahu harus melakukan apa ketika Sahya Rahagi justru menginginkannya menghadapnya sementara bibir sang tuan sibuk mengafeksi lehernya, kecupan-kecupan ringan tersebut menjalar hingga ke dada, bagian perut, dan pangkal pahanya; tempatnya berlama-lama di sana.

"Siapa yang nyuruh ngebelakangin?" Sahya menegurnya tatkala Cahyo hendak memunggunginya, sebuah naluri dan kebiasaan yang muncul selama berdekade-dekade setiap kali ia menyadari tanda bahwa majikannya hendak mengeksekusi bagian inti ritual. 

"Majikan-majikan lama saya lebih suka kalau saya ndak—"

"Siapa yang nyuruh?" potong Sahya.

"Saya pikir Ndoro ndak suka—"

"Siapa yang nyuruh?" Cahyo tidak membalasnya kali ini. Sahya menunduk, mencengkeram rahang peliharaannya hingga mendongak, melahap bibirnya sambil menenggelamkan dirinya dalam lingkupan Cahyo.

Sahya sama sekali tak bergerak, membiarkan dirinya terbenam di sana, memandangi baik-baik pemandangan berantakan di hadapannya. Rambut Cahyo yang lebih awut-awutan dari biasanya, merah matanya yang lebih menyala. Perlahan, panggulnya bergerak. Mata Cahyo mengernyit sesaat sementara cengkeraman Sahya pada rahangnya melonggar, suara sentakan napas yang tersendat-sendat terdengar ringan dari bibirnya. 

"Kamu pikir saya mau sia-siain ini? Kamu kaya begini?” Lagi cantik-cantiknya begini?, lanjut Sahya dalam hati. 

Bibir masih saling memadu kasih, remasan tangan Cahyo pada helaian ikal tuannya sedikit menguat sesaat tatkala Sahya Rahagi kembali menelusupkan dirinya. Kemudian ia tidak bergerak, sama sekali. Ranjang tak sedikit pun berdecit, wajah masih saling melahap satu sama lain. Namun Sahya Rahagi masih bergeming.

Dalam rengkuhan Cahyo, mereka berpandangan. Kendati air muka sang lelembut netral, Sahya mendapati keanehan yang melingkupinya, ketidak pahaman akan apa yang sebetulnya sang tuan inginkan. Mereka saling berhadap-hadapan sedari tadi. Cumbuan tanpa hentinya, dekapannya, semua hal baru nan asing yang dicurahkan tuannya kepadanya, Cahyo tidak akrab dengan pola ini. Tidak ada yang melakukan ini. Sekalipun ada yang menginginkan tubuhnya, tak sedikit pun afeksi pernah menyentuhnya. Untuk pertama kalinya, sang geni ayu tidak tahu apa yang majikannya inginkan.

Sahya memiringkan kepala, menyugar ke belakang ikal yang mulai berjatuhan di dahinya sebelum menyapu bibir bawah peliharaan barunya dengan ibu jari. "Aku mau lama-lamaan. Bisa?"

"... Bisa, Ndoro."

"Bagus," bisik Sahya. "Ndak akan saya lepas kamu."

 

 

***

 

 

Jari tengah Sahya memutari pinggiran gelas minumnya sementara mata cokelat gelapnya mengikuti siluet yang sedang sibuk di sampingnya. Ia menegakkan punggungnya, bersandar di kursi makan sementara Cahyo kembali dengan seteko air, menuangkan sebagian ke gelasnya sambil masih dengan mata Sahya yang mengekorinya, memindai sang lelembut dari kepala sampai kaki. 

Sahya tidak tahu banyak hal mengenai peliharaan yang sudah bersamanya selama lima tahun terakhir, tapi yang ia tahu pasti, semua orang perlu punya Cahyo-nya sendiri. Tidak pernah ia rasa, kehidupannya sesempurna sekarang. Orang-orang gendeng yang dia benci di kota ini suatu pagi akan dihabisi lewat perintahnya kepada hantu (atau setan? Dia yang terkutuk? Sahya tidak yakin sebetulnya Cahyo itu apa, sejujurnya) cantik miliknya, dan Cahyo akan kembali ke propertinya dengan pedang berlumuran darah. Dan di malam hari, dia menjadi pasangannya di kasur—bahkan bukan untuk kenikmatan biologis, tapi sekadar presensinya juga cukup.

Sahya Rahagi itu ndak benci perempuan, tapi sepertinya dia bakalan gila lama-lama jika punya istri. Namun tidak ada bedanya juga jika dia, entah bagaimana caranya, mungkin di mimpi terliarnya, bisa menikah dengan pria yang jelas memang ia sukai. Geli, pikirnya. Setidaknya perempuan itu lebih berkarakter dan lebih bersih. Perempuan itu sulit, pria itu jorok. Dia butuh dan lebih suka dengan yang … memenuhi kriteria tak masuk akalnya,

Dan sejauh ini sosok yang bisa dia toleransi adalah seseorang yang pendek dan jadul yang boro-boro manusiawi. Pernah, pernah ada masanya. Mungkin? Entahlah, Sahya agak menghindari memikirkannya. Intinya, Cahyo lebih seperti anjing pangkuan multifungsi yang bisa membantunya membasmi londo-londo rese di kota.

“Kamu cantik ya,” Sahya melirik ke pinggang sempurna yang dia rengkuh semalaman, “betulan, cantik. Kamu suka kalau aku panggil cantik?"

Cahyo ndak langsung jawab. Dia mundur selangkah seusai menuang air, berdiri tepat di samping kursi Ndoro Sahya-nya. Udara dipenuhi aroma cendananya. Lebih menusuk hidung Sahya dengan Cahyo yang kini lebih dekat. Sahya suka aroma itu. Kepala abdinya bilang bau rumahnya jadi seperti bau rumah duka, tapi bag Sahya Rahagi, ini surganya.

“Saya ndak mikir apa-apa, Ndoro. Ndoro kan tahu saya ndak bisa merasakan begituan,” jawab Cahyo pada akhirnya, 

“Yaah, aku kan ndoromu, jadi kamu harus nyenengin aku. Jadi kamu suka kalau aku panggil ayu?”

Mata merah menatap mata cokelat. Yang tak berkehidupan dengan yang manusiawi.

“Saya bisa, selama itu membuat Ndoro seneng. Apa pun untuk Ndoro.”

Suara itu lagi. Suara halus, sopan, kemayunya. Sahya ingat ada sesuatu yang tergelitik dalam dirinya ketika ia mendengar Cahyo berbicara untuk pertama kalinya setelah ritual pengikatan pertama mereka. Waktu itu, ia menduga Cahyo akan terdengar dingin dan kasar, barangkali berat dan membuat merinding. Kata-kata halus dan sopan yang diucapkan dalam bahasa Jawa krama merupakan hal terakhir yang bisa dia tebak dari sang hantu.

“Coba bilang lagi… apa pun untukku?” Sahya mencondongkan dirinya di kursi, tangannya meraih tangan Cahyo yang sejuk. Boleh dong, jika dia mau mendengar suara halus itu lagi da lagi?

“Iya, Ndoro. Saya akan melakukan dan merasakan apa pun semau Ndoro. Saya kan punya Ndoro.”

Dibawanya tangan Cahyo ke bawah hidungnya untuk dihidu. Aroma itu murni dari Cahyo, bukan dari pakaiannya. Sahya menarik napas dalam-dalam. “Bahkan kalau aku suruh kamu bunuh diri?”

“Apa pun yang Ndoro minta.”

“Lucu ya, aku itu bukan apa-apa sekaligus segalanya secara bersamaan bagi kamu.”

 

“Ndoro segalanya bagi saya, untuk sekarang.”

Notes:

Hiii thank you so much for stopping by untuk baca draft cek sound ini :] ini draft kasar dari Balada Darah & Pijar (TITLE REVEAL YEAAYY FINALLY NO LONGER TITLELESS SETELAH 2 TAHUN HIHI) final naskahnya def bakalan beda dari yang ini karena yang dipost ini banyaaak banget bagian yang sebenernya lompat-lompat.

so do let me know what u think so far!! toodles!