Actions

Work Header

The Judge of Justitia

Summary:

Timbangan keadilan yang Soobin tentukan dengan caranya sendiri.

Notes:

hello again! so actually i've released this fanfic around oct-nov last year, but i put it behind a paywall (trakteer). since i decide to stop using any paywall, i decide to re-upload the fanfic for free here. enjoy reading, much love from lucie <3

feel free to ask me anything here —>(https://alterspring.org/@luuucien)

Work Text:

Suara hantaman keras ke dinding beton itu menggema di sel tersebut, tubuhnya lalu terjatuh ke lantai bersama rintihan sakit. Rambut pirang itu mencolok walau berantakan, sama seperti pakaiannya yang nyaris robek. Wajahnya memar, nampak sehabis dihajar oleh lebih dari satu orang, bahkan sudut bibirnya berdarah. Si pirang beranjak bangkit, sedikit terhuyung tapi wajahnya tetap sangatlah congkak. Seringai tengil itu semacam tak bisa dihapus, entah oleh tinjuan atau tamparan. Ia terlihat bangga, terlihat sangat percaya diri akan posisinya saat itu. Tentu, semua polisi yang ada disana mengutuknya dalam hati, tapi ada juga yang langsung meludahinya dengan hinaan pedas.

Semua hinaan pedas dan pukulan keras itu tak memengaruhi Kamal, ia tetap bersikap sok hebat dan sombong. Dengan punggung tangannya, ia menyeka darah dari sudut bibir, rasa besi dari darah itu mengenai lidahnya. Pakaiannya yang berantakan dan hampir robek ia rapikan, secara santai sembari bersiul. Ah, sikap itu, membuat semua polisi yang melihat ingin masuk ke dalam sel dan memukulinya lagi sampai tak sadarkan diri. Akan tetapi, aksi tersebut akan menimbulkan masalah besar bagi semuanya, karena Kamal, bukanlah orang sembarangan.

Semua sikap dan perilaku buruk Kamal itu berasal dari pemahamannya, bahwa ia akan selalu dilindungi, karena berasal dari keluarga petinggi besar di Korea Selatan. Sang ayah adalah anggota dewan, lalu sang ibu adalah ketua lembaga perlindungan wanita dan anak. Tak kalah juga, Lea, kakaknya, saat ini sedang bekerja sebagai pengacara. Selain kakak, sebagian anggota keluarga Kamal rata-rata memiliki profesi di bidang hukum, tapi tidak semuanya berada di Korea Selatan. Fakta itu membuat Kamal selalu lolos dari jeratan hukum yang ingin menghentikan aksi-aksi bejatnya. Jarang ada yang berani menuntutnya ke meja hijau, bahkan jikalau beritanya besar, mereka akan mengancam korban.

Benar, Kamal adalah orang yang busuk, dari dalam, karena ia terlalu menawan dari luar. Sayang sekali, wajah menawan seperti malaikat itu memiliki hati busuk penuh duri, tapi Kamal tidak peduli. Kamal berjalan ke hadapan tiang sel besi itu, memandang tiap polisi yang bekerja. Si pirang sadar, mereka akan sesekali meliriknya sinis atau tajam, walau sambil bekerja melayani orang lain. Tapi saat itu, mereka membatasi pelayanan dan mengalihkannya ke kantor polisi terdekat lainnya, karena adanya Kamal disana. Jika ada Kamal, mereka tahu, akan ada kekacauan terjadi. Hari itu, hanya ada dua atau tiga orang yang masuk, Kamal memantau.

"Kalian bermacam-macam dengan orang yang salah, Tuan-tuan." Ucap Kamal lantang, tepat setelah orang terakhir di pelayanan melangkah keluar. Para polisi menoleh ke arahnya, sangat penuh amarah ingin mematikannya. Salah seorang polisi menghampirinya, mereka berhadap-hadapan, dihalangi tiang besi sel itu.
"Cara bicaramu itu tinggi sekali ya? Hanya karena keluargamu orang hukum." Singgung polisi tersebut, tentang fakta yang begitu terang.
"Hanya karena? Pft. Malah, karena keluargaku orang hukum, kalian semua akan terancam dipecat." Lanjut si pirang itu, menunjukkan jari kepada tiap kepala polisi yang ada. Ia memang selalu kurang ajar.
"Kau barusan melecehkan seorang perempuan, dan sekarang bicaramu seperti itu? Apa akal sehatmu sudah hilang?" Bentak polisi yang ada di hadapannya itu kasar. Korban yang duduk jauh dari sana mendengar, ia tak bisa melihat Kamal tapi ia mendengar. Perempuan itu gemetar, ketakutan, teringat akan kejadian dimana Kamal mendadak menyentuh area intimnya dan berusaha membuka rok sekolahnya di kereta yang ramai.
"Hey, perempuan itu yang mengenakan rok sekolah yang terlalu pendek, ia pasti sengaja mengundang pria untuk menyentuhnya, kan?" Perkataan Kamal mengundang amarah semua orang yang ada disana, tak terkecuali siapapun. Mereka siap membunuhnya.
"Kau—" Tak sempat polisi itu memaki, seorang pria paruh baya mendorongnya ke samping dan langsung mencengkram kerah jaket Kamal. Para polisi langsung panik menghampirinya.
"Bocah bangsat! Aku akan menghajarmu!" Maki pria paruh baya itu, matanya berkaca-kaca usai menangis, ia terlihat sangat menyedihkan. Itu adalah Tuan Hong, ayah dari korban pelecehan yang Kamal lakukan. Ia baru tiba di kantor polisi tersebut dan menggila karena mendengar perkataan Kamal.
"Tuan Hong! Hentikan! Jangan lakukan ini!" Ujar polisi-polisi yang berusaha menghentikan Tuan Hong agar tak memukul Kamal. Karena mereka tahu, kejadian itu bisa berbalik buruk kepada Tuan Hong dan keluarganya.
"Ayolah, pukul aku. Satu pukulan tak akan sakit, tapi akan merusak seluruh hidupmu, dan putrimu." Tambah Kamal, menyemburkan bensin ke api yang sudah membara sampai ke atas gedung. Tentu, bersama seringai tengilnya itu.
"Bocah sepertimu pantas dipukuli sampai mati! Kau tak pantas hidup!" Teriak Tuan Hong, mengguncang-guncang Kamal lewat kerah jaket yang ia cengkram. Keributan itu menuai tangis dari korban, ia meringkuk ketakutan bersama polisi wanita yang menemani. Di tengah semua keributan, seorang pria berseragam polisi juga, tiba ke dalam kantor. Dari pangkat yang terpampang, ia bukanlah polisi biasa. Satu lirikan pada arah sel penjara sementara yang ramai, satu lirikan pada korban di sudut ruangan jauh. Para polisi di kantor ini memang kurang pintar, pelaku dan korban tak dipisahkan di ruangan berbeda. Kakinya melangkah ke arah sel yang ramai, mereka tak sadar akan kemunculannya, karena berusaha memisahkan Tuan Hong dari Kamal. Satu tangan mendarat, di atas tangan Tuan Hong, mendadak semua terkejut.
"Tuan Hong. Lepaskan tanganmu." Titah pria itu, bernada tak terbantahkan. Polisi-polisi lain yang mengerubungi itu segera memberi ruang, mereka tahu siapa yang datang.
"Soobin... Tapi dia, bocah ini, bocah ini melecehkan putriku dan mengatainya? Aku tidak bisa..." Lirih Tuan Hong, menangisi anaknya sambil menguatkan cengkraman pada kerah jaket Kamal. Soobin melirik si pirang sekilas, tatapannya seolah tak sudi.
"Tuan Hong, ini tak sepadan dengan konsekuensinya. Jangan dengarkan ucapannya, ia memang selalu berusaha mengusik orang." Peringat Soobin soal tabiat Kamal. Mendengar itu, Tuan Hong melepaskan tangannya, ia terduduk sambil menangis tersedu-sedu. Lagipula, ayah waras mana yang tak gila jika putrinya dilecehkan lalu dipermalukan?
"Malangnya putriku..." Racau Tuan Hong di sela tangisnya. Para polisi lain membantunya berdiri perlahan.
"Segera pindahkan Tuan Hong dan putrinya ke ruangan lain." Titah Soobin pada para polisi itu.
"Siap laksanakan. Ayo, Tuan Hong, ayo, Eunchae." Sahut salah satu dari mereka, membawa Tuan Hong pindah, sekaligus memanggilnya putrinya.

Sepeninggal Tuan Hong dan putrinya, tersisa Kamal dan Soobin, saling berhadapan, dengan dua pancaran mata yang berbeda. Mereka saling kenal, sudah sejak sangat lama, Kamal maupun Soobin mengingat masa lalu itu. Karena jalan yang keduanya pijak berbeda, komunikasi mereka tak berlanjut setelah Soobin berangkat ke akademi kepolisian. Sewaktu Soobin lulus, mereka bertemu lagi, tapi untuk berurusan dengan aksi tercela Kamal yang tak ada habisnya. Tidak, Soobin bukan orang yang menyelesaikan kasus-kasus Kamal, tapi Tuan Huening yang melakukannya. Soobin hanya selalu digunakan sebagai pion pelindung anak tengahnya itu, agar terus berada di belakang bayangan tegapnya. Soobin benci itu.

Apalagi, kali ini, Soobin menggigit lidahnya di dalam mulut, agak kencang, menahan kesal yang terasa mampu menggetarkan tanah. Selain mengenal Kamal, secara kebetulan, Soobin juga mengenal Tuan Hong serta putrinya. Walau ini secara tak langsung adalah pertemuan pertama Soobin dengan Eunchae, putri Tuan Hong. Karena sebelumnya, Eunchae tak pernah terlihat tapi Tuan Hong sering menceritakannya. Sungguh situasi yang buruk. Tuan Hong mengelola sebuah rumah makan sederhana di arah jalan pulang Soobin, ia sering sekali mampir, sampai akrab dengannya. Merasa sangat iba melihat pria itu menangisi putrinya yang terkena pelecehan, dan terasa sangat menyebalkan karena ia belum bisa berbuat banyak. Terutama, karena orang dihadapannya saat ini.

"Kita selalu bertemu ya, Hyung? Bagaimana kabarmu?" Tanya Kamal, diiringi nada yang sok manis seolah mengejeknya. Wajah Soobin datar, tatapannya menetap sedingin es. Diam-diam, Soobin memperhatikan luka dan lebam di wajah Kamal. Cukup banyak dan cukup pantas.
"Tak baik, karena harus bertemu denganmu." Balas si jangkung itu singkat, merasa pahit karena mesti bertemu Kamal, lagi.
"Aw, jangan begitu. Kau suka bertemu denganku, kan? Katamu, aku cantik?" Celetuk Kamal, membuat Soobin menggigit lidahnya sendiri, untuk menahan diri lagi. Benar, si pirang selalu mengujinya. Soobin berdehem.
"Ayahmu akan tiba sebentar lagi." Umum Soobin, tak berniat membalas usikan Kamal barusan. Mendengar kedatangan sang ayah, si pirang sedikit terkejut, tapi wajahnya kembali normal. Sejujurnya, ayahnya tak pernah sampai tiba langsung di kantor polisi. Pria itu seringnya akan mengirimkan perwakilan atau pengacaranya, tak pernah dirinya sendiri. Kamal memiliki firasat aneh, tapi ia menyapunya jauh.
"Ayah akan kemari? Tumben sekali. Paling, ia hanya akan menyerahkan amplop tebal pada kalian." Ujar Kamal, menyentil tentang cara bagaimana keluarganya menyelesaikan masalah. Wajah Soobin tetap datar, ia tak ingin mudah dibaca oleh si pirang.
"Jangan terlalu banyak bicara." Timpal Soobin, bermaksud membungkamnya.
"Memangnya kena— Hey! Kenapa kau pergi begitu saja, Hyung? Hyung! Hey! Cih." Protes Kamal ketika Soobin melenggang pergi seenaknya ketika ia belum sempat bertanya.

Melihat Soobin benar-benar tak memedulikannya, Kamal berdecak kesal seraya mendudukkan diri di lantai. Dulu, Soobin tak seperti itu, sikap, cara bicara dan tatapannya sangat manis kepada Kamal. Namun, semua itu terjadi jauh sebelum Kamal berubah menjadi kriminal yang tidak terkontrol. Setelahnya, Soobin memang memperlakukannya dengan berbeda, sangat berbeda. Memikirkan itu, Kamal merasa sangat kesal, tapi tak heran juga, karena Soobin adalah seorang polisi. Memang sudah menjadi tugas Soobin untuk membencinya yang seorang kriminal. Apakah Kamal peduli? Jelas tidak, ia hanya memedulikan dirinya sendiri. Kamal mengitari dirinya sendiri, sebagai pusat dari tata suryanya.

Satu jam setengah berlalu, Kamal mendekam di sel sementara itu, dan korban masih berada di ruangan lain. Soobin tak nampak lagi, mungkin bersama korban. Kesendirian itu membuat Kamal sangat bosan, hanya ada beberapa polisi yang diutus keluar untuk berjaga. Sesekali, si pirang akan bersiul, lalu mondar-mandir di dalam sel. Ponselnya ikut rusak sewaktu ia tertangkap basah melecehkan dan dipukuli oleh beberapa orang. Sekedar ponsel tak pernah masalah bagi Kamal, ia bisa membeli pabriknya sekalian jika mau, saking kaya raya keluarganya.

Setelah lama menunggu, lima belas menit kemudian, pintu kantor itu dibuka oleh seorang pria kekar berjas hitam. Oh, ayahanda telah tiba. Sesuai dugaan, Tuan Huening melangkah masuk, diikuti oleh satu orang kekar lainnya. Melihat kedatangan sang ayah, seringai Kamal semakin lebar, sebentar lagi, ia akan bebas. Para polisi yang berjaga segera memberi memberi salam tersopan yang pernah ada, karena Tuan Huening adalah orang penting.

Mendengar adanya suara-suara dari luar, Soobin tahu siapa yang telah tiba. Kakinya melangkah keluar dari ruangan sebelah, menuju ke hadapan Tuan Huening yang nampak mencari seseorang. Tidak, ia bukan mencari Kamal. Ia tahu sosok putranya itu tak pantas untuk ia pandang jika sudah terkena masalah. Hampir setiap hari, Tuan Huening akan dibuat pening karena ulah Kamal. Reputasi publik terkikis perlahan-lahan, berkat Kamal yang tak tahu diri. Dan, di saat-saat seperti itu, hanya ada satu orang yang mampu membantunya.

"Selamat sore, Tuan Huening. Senang bertemu denganmu hari ini. Maaf mengganggu, tapi kami telah menangkap putramu dan menjebloskannya ke sel sementara di kantor ini." Sambar Soobin ketika sampai di hadapan Tuan Huening, tanpa basa-basi. Tak perlu banyak bicara juga, mereka berdua tahu apa yang ingin dibicarakan.
"Oh, Soobin, senang melihatmu disini. Apa yang anak iblis itu lakukan lagi? Aku kemari karena katamu sangat genting." Balas Tuan Huening, wajahnya agak pucat karena khawatir. Soobin mengulum bibirnya sesaat, tapi ekspresinya tetap tak berubah.
"Kamal melakukan tindak pelecehan seksual pertamanya, ke anak dibawah umur hari ini, Tuan." Mendengar semua itu dari mulut Soobin, Tuan Huening ingin mendadak pingsan. Ya, ia tahu anaknya liar, tak terkontrol, tapi melecehkan? Anak dibawah umur? Itu terlampau buruk dari yang ia kira. Kamal pernah mencuri, menyebarkan ujaran kebencian, mengancam akan membunuh, memukul seseorang, dan bahkan memprovokasi perkelahian. Dipikirnya, batas kejahatan Kamal akan berhenti sampai disitu. Nyatanya, si pirang sudah gila.
"Dibawah umur? Sial, bunuh saja aku. Anak itu, argh, anak itu benar-benar akan menghancurkan hidupku. Apa korban masih ada disini?" Kutuknya lalu bertanya pada Soobin, terlihat sangat frustasi.
"Korban ada di ruang sebelah, Kamal terus memprovokasi orang tua korban." Terang Soobin, tanpa meninggalkan satu detail pun.
"Mulut anak itu perlu dirobek. Apa yang harus aku lakukan Soobin? Aku sangat bingung, aku tak ingin berita ini naik ke publik, karierku akan hancur." Tutur Tuan Huening. Nampak jelas pria itu sangat frustasi, bingung dan linglung, seperti barusan ditimpa reruntuhan bangunan.
"Apa kau tak ingin memenjarakan putramu?" Usul Soobin, yang sudah geram sejak lama.
"Jika saja bisa tanpa menyeret namaku, aku sudah menjebloskan anak itu dan menelantarkannya di penjara. Namaku akan terbawa oleh keburukannya." Ungkap Tuan Huening. Hal yang menghalanginya memenjarakan anak sendiri adalah reputasi. Reputasinya akan hancur sepenuhnya, jika anaknya di penjara karena kasus pelecehan seksual. Ia akan dicap sebagai orangtua yang tak becus, lalu kasus suapnya untuk menutupi perbuatan Kamal akan terungkap. Semua tindakan si pirang memang bagaikan bom waktu. Soobin mengangguk-angguk pelan, memahami kebingungan Tuan Huening. Sekilas, sepersekian detik, sudut bibir Soobin terangkat naik, sebelum kembali semula.
"Aku punya satu cara yang sederhana tanpa perlu melibatkanmu, tapi pihak korban harus setuju, Tuan Huening." Celetuk Soobin, setengah berbisik kepada pria itu.
"Apa idemu, Soobin? Bantu aku, kepalaku sangat pusing memikirkan ini. Apalagi istriku adalah ketua lembaga perlindungan wanita dan anak. Sangat kacau." Lontar Tuan Huening yang pikirannya sangat tak tertata saat itu.
"Baik, ayo kita temui pihak korban terlebih dahulu untuk berdiskusi." Ajak si jangkung seraya mempersilahkan Tuan Huening ke arah dimana korban berada.
"Oke, oke, ayo kita bertemu mereka, Soobin." Ucap Tuan Huening yang mengikuti arahan Soobin tanpa ragu.

Soobin dan Tuan Huening masuk ke dalam ruangan dimana Tuan Hong bersama putrinya berada, dua pria kekar tadi berjaga di kedua sisi pintu. Menghilangnya sang ayah dan Soobin, membuat Kamal agak gelisah. Sangat aneh, apa yang mereka bicarakan tadi? Kamal tak bisa menguping karena jarak. Lalu, apakah Kamal sudah benar-benar berbuat diluar batas sampai sang ayah perlu turun ke kantor polisi itu? Kamal sadar tingkahnya sangat bejat, tapi, biasanya, ayahnya tidak begitu peduli. Jelasnya, tidak sepeduli ini.

Rasa cemas mulai menggerogoti jiwanya untuk pertama kali, karena si pirang selama ini hidup sesukanya tanpa bisa dicegah. Kamal kembali mondar-mandir di dalam sel tak luas itu, pikirannya berlarian kesana kemari, memikirkan skenario terburuk. Jikalau memang ia masuk penjara, Kamal mampu melaluinya, apalagi ia pasti akan diberi hukuman ringan. Tak mungkin keluarganya tega memberi hukuman berat padanya. Seburuk apapun ia, keluarganya masih sangat menyayanginya, Kamal yakin soal itu.

Lalu, Kamal pasti akan dapat perlindungan dari kuasa keluarganya di dalam penjara. Mereka tak setega itu membiarkan Kamal dipukuli di penjara, karena sudah sewajarnya pelaku pelecehan seksual dipandang rendah dan hina disana. Lagipula, keluarganya memang pernah melindungi kerabat dekat yang terjerat kasus korupsi dan masuk penjara. Kamal merasa hatinya mulai tenang, ia hampir lupa bahwa keluarga yang ia miliki bukan sembarangan. Mereka punya uang, mereka punya kekuasaan, mereka punya segalanya dari segala aspek. Kamal seharusnya aman, tidak ada satu jeratan hukum yang mampu membelenggunya.

Kamal akhirnya bisa duduk dengan perasaan damai di dalam sel tersebut, sembari menunggu Soobin dan ayahnya muncul. Selang satu jam pas, ada suara pintu terbuka yang menyadarkan Kamal dari kantuk dan lelahnya. Beberapa suara langkah kaki terdengar melangkah keluar, lalu diselingi perbincangan. Kamal sangat penasaran ingin mendengarkan mereka, tapi tak begitu jelas, ia hanya mampu menggerutu. Tak lama, Kamal melihat Tuan Hong dan putrinya melangkah keluar dari kantor polisi tersebut. Nampaknya, permasalahan sudah terselesaikan, tapi, ada rasa janggal yang tak bisa Kamal usir dari benaknya.

"Aku tak menyangka idemu akan diterima oleh mereka, tapi akui, masuk akal saja jika diterima." Sambar Tuan Huening seraya berkacak pinggang dan helaan nafasnya. Ia nampak lega, tapi juga seolah takjub akan sesuatu.
"Seorang ayah pasti akan menginginkan balasan yang setimpal, Tuan Huening. Bagaimanapun caranya, walau tak dengan tangannya sendiri." Balas Soobin, pandangannya terarah pada pintu kantor itu, tak berpindah bahkan setelah memperhatikan Tuan Hong dan putrinya pergi.
"Kau benar, aku merasa sangat malu ada di posisi ini, Soobin." Tutur pria itu bernada sangat kecewa. Kekecewaan yang mungkin sudah ia pendam lama.
"Tidak apa, Tuan. Kau sudah meminta maaf dan memberi kompensasi yang mereka setujui. Selanjutnya, serahkan padaku." Hibur Soobin, tangannya menepuk-nepuk pelan bahu Tuan Huening, layaknya mereka rekan kerja. Hubungan Soobin dan Tuan Huening cukup dekat, jadi tak ada kecanggungan dari interaksi macam itu.
"Aku tak biasanya setuju pada hal yang bejat, tapi kali ini, aku tidak akan menghalangi kesepakatan tadi. Aku mengandalkanmu." Ujar Tuan Huening, senyumnya terbentuk dengan pandangan penuh kepercayaan yang ia sorotkan kepada Soobin.
"Terima kasih, sudah mempercayaiku, Tuan. Aku akan menghubungimu besok pagi agar ia bisa dijemput." Sahut si jangkung, senyumnya singkat tapi manis. Sangat karismatik.
"Baiklah, sampai jumpa lagi, Soobin." Pamit Tuan Huening seraya melangkah ke arah pintu, diikuti oleh dua penjaganya.
"Sampai jumpa, Tuan. Berhati-hatilah di jalan." Kata Soobin, sebelum membungkuk penuh kepada Tuan Huening yang beranjak keluar, meninggalkan kantor polisi tersebut dengan agak bergegas. Soobin yakin pria itu akan sibuk menyuap beberapa pihak, demi menutupi kasus ini.

Masalah besar yang membuat kantor terasa tegang sudah berhasil Soobin redakan, sisanya, adalah kutu kecil yang memicu segalanya. Soobin berdiri tegap kembali, ia berdehem singkat sambil merapikan seragamnya yang kusut karena terlalu lama duduk berdiskusi barusan. Sadar akan banyak mata yang memandang, lirikan Soobin membubarkan kumpulan polisi yang sibuk menonton interaksi mereka barusan. Para polisi tersebut berpura-pura sibuk, sebagian memang kembali bekerja agar pelayanan masyarakat melalui daring tidak terhambat. Sudah seharusnya mereka bekerja sejak tadi, tapi nampaknya, interaksi Soobin dan Tuan Huening terlampau menarik untuk diabaikan.

Dengusan kesal Soobin yang singkat terdengar, membuat seisi kantor yang mendengar jadi merinding. Isi kantor kepolisian daerah ini sangat tak tertata, apalagi pegawainya yang agak lalai, komplit sudah. Pimpinan kantor ini pasti sibuk melakukan hal yang tak penting, Soobin harus menemuinya, demi melancarkan kesepakatan yang ia setujui. Si jangkung menyelipkan ponselnya keluar dari saku celananya, ia nampak sibuk mengotak-atik ponsel tersebut. Tak lama, Soobin terlihat sedang menelepon seseorang, pembicaraan yang terkesan misterius itu dibawanya ke dalam ruang kerja pimpinan yang kosong.

Kamal menonton semua itu dari balik selnya, memegangi jeruji besi sambil menghela nafas jenuh. Apa ia benar-benar ditelantarkan begitu saja, tanpa ada informasi apapun? Tapi, bisa saja, mereka perlu waktu untuk mengeluarkannya. Ini adalah kasus pelecehan pertama yang Kamal lakukan, ia paham prosesnya tidak semudah kasus lain yang diperbuatnya. Sebelum ini, Kamal seringkali keluar dan masuk kantor polisi karena kasus seperti penganiayaan dan pengeroyokan, pencemaran nama baik, pengancaman, tabrak-lari, penipuan dan perusakan barang, dan banyak lagi. Kasus-kasus itu bisa diselesaikan dengan mudah oleh keluarganya, tapi reputasi mereka jelas akan menurun sedikit demi sedikit.

Celaka. Kamal tersadar, ia telah berbuat kesalahan yang cukup fatal kali ini, lebih dari sebelumnya. Kasus pelecehan seksual sangat sensitif bagi masyarakat umum, sang ayah pasti akan kesulitan mengurusnya sampai selesai. Semua terjadi cuma karena Kamal tak mampu berdiam diri, ketika melihat rok anak sekolah. Padahal, rok yang dikenakan gadis tadi tidak sependek para wanita yang menemaninya di klub tiap malam. Tidak, Kamal tidak terangsang melihat paha gadis tadi, roknya tidak menggugah birahi karena warnanya jelek, lalu ia tak suka anak di bawah umur.

Jika dipikir lagi, alasan Kamal melakukan pelecehan seksual itu hampir tak ada, selain hanya karena ingin melakukannya. Kamal merasa ia perlu menggerakkan tangan ke arah area kemaluan gadis tadi, tanpa ada niat yang jelas. Ia melecehkan seseorang cuma karena ingin saja, dengan mudahnya Kamal menaruh trauma kepada seseorang. Si pirang bersiul-siul santai, sembari mendudukan diri di lantai, matanya memperhatikan para polisi yang berlalu lalang bekerja. Membosankan, tak ada hiburan baginya di dalam sel kosong tersebut. Semoga ada orang lain yang dijebloskan kemari, Kamal perlu teman untuk diusik.

Selama menunggu, Kamal sempat tertidur dalam posisi duduk beberapa kali, tubuhnya yang nyeri karena pukulan dan tendangan itu sudah lelah. Tubuhnya sudah sangat merindukan kasur yang empuk berbantal yang diisi bulu angsa. Membayangkannya, membuat nyeri tubuh makin terasa, Kamal meringis pelan saat berusaha merubah posisi. Lama kelamaan, si pirang benar-benar merebahkan diri, lalu tidur meringkuk di lantai. Memang dingin, tapi lelahnya sudah tak bisa ditahan lagi, Kamal berujung memejang. Dengkuran halusnya teredam oleh berisiknya suasana kantor itu ketika bekerja.

Tendangan yang membuka pintu kantor itu menyentak Kamal bangun dari tidur manisnya, ia sontak terduduk dan berusaha mencari apa yang terjadi. Setelah mengusak-usak kedua matanya, Kamal melihat Soobin bersama seorang pria berseragam polisi, pangkat pria itu nampak tinggi, tapi tak lebih dari si jangkung. Soobin memaki-makinya dengan tegas, membuat pria itu menunduk malu ke sepatunya. Suasana kantor tersebut menjadi sangat tegang, agak mencekam karena adanya Soobin disana. Menurut tebakan Kamal, pria yang sedang dimaki itu adalah pimpinan kantor kepolisian cabang daerah ini.

Entah kenapa pria itu dimaki-maki, tapi Kamal memang tak melihatnya sejak awal ia dijebloskan kemari, sampai sang ayah tiba lalu pergi. Pasti, pimpinan kantor itu sedang berleha-leha di tempat lain, menelantarkan kantor menyedihkan ini. Sudah tak heran jika ada pimpinan kepolisian semacam itu, biasanya, lebih mudah disuap oleh uang. Akan tetapi, ada Soobin disini hari ini, jadi tidak pakai uang, tapi menggunakan intimidasi. Pangkat Soobin cukup tinggi untuk berbuat sesukanya, maka dari itu, ia sering diandalkan oleh Tuan Huening.

Melihat pimpinan kantor itu ketakutan dan tertekan, Kamal menyembunyikan cekikikannya walau setengah sadar karena masih mengantuk. Si pirang meregangkan tubuhnya sebentar, sebelum bangkit berdiri untuk memantau sekitar. Tak berbeda jauh, situasi kantor itu masih sangat diramaikan oleh kesibukan, hanya ada tambahan Soobin di sana. Pimpinan kantor ini barusan pergi, nampaknya didepak keluar oleh Soobin, entah selamanya atau untuk sementara. Keroncongan perut Kamal membuatnya terkejut sesaat, ia tak sempat makan siang sama sekali. Aksinya tadi ia lakukan ketika hendak makan siang di sebuah kafe populer, ia keduluan dipukuli orang-orang tanpa sempat memesan apa-apa.

"Hyung. Soobin Hyung. Soobin Hyung!" Panggil Kamal secara lantang kepada si jangkung, tapi ia dengan sengaja diabaikan. Soobin tak menoleh, apalagi meliriknya sama sekali, seolah Kamal benar-benar tak ada. Tindakan itu membuatnya kesal, alhasil, ia berulang kali memanggil Soobin tanpa henti, dengan sangat keras. Polisi di kantor itu mulai merasa bising, walau Soobin terlihat tak terpengaruh. Si jangkung terlalu sibuk mengotak-atik ponselnya, sampai, salah seorang polisi mendekat.
"Komisaris Choi, bocah itu memanggilmu terus." Ujar polisi tersebut, sangat menjaga jarak dan bernada yang sangat sopan. Tentu, Soobin tak tuli, ia mendengar. Helaan nafasnya kasar, ponsel itu ia selipkan ke saku celana. Tubuhnya berbalik ke arah polisi itu.
"Suaranya se-berisik nyamuk. Kembali bekerja." Titah Soobin, bersama selipan keluhan.
"B-Baik, Tuan." Patuh polisi tersebut, ia melesat ke meja kerjanya tanpa perlu dipantau. Melihat amarah Soobin sudah cukup baginya untuk menjaga sikap. Mau tak mau, Soobin melangkah ke arah sel penjara tersebut. Suara Kamal mengganggu pekerjaan di kantor itu, membuat beberapa pekerja tak fokus. Saat sampai saling berhadapan, Kamal tersenyum miring, agak remeh.
"Choi Soobin. Apa kau hanya akan terus mengabaikanku?" Celetuk Kamal, nada bicaranya sangat sewot tapi si jangkung tak ingin terpengaruh. Emosinya harus stabil, karena ini belum saatnya.
"Apa maumu?" Sambar Soobin langsung. Si pirang itu tersenyum sumringah, ia merogoh saku belakang celana untuk mengeluarkan dompetnya.
"Aku lapar, belikan makanan untukku." Kata Kamal seraya mengeluarkan salah satu kartu kredit dari dompet tebal berhiaskan uang serta kartu kredit tersebut. Soobin menatap sinis juluran kartu kredit Kamal.
"Kami punya makanan disini." Tegas Soobin, bermaksud sebagai penolakan.
"Makanan apa? Aku ingin caviar— Hey, kenapa kau mengambilnya? Kembalikan dompetku!" Soobin merampas dompet serta kartu kredit yang Kamal pegang dalam sekali gerakan, sampai membuat si pirang merengek. Tangannya sangat gesit.
"Kau tak perlu ini." Sahut Soobin, ia memasukkan kartu kredit yang dikeluarkan Kamal ke dalam dompet. Dompet itu lalu ia simpan ke dalam saku celananya. Kamal menatapnya kesal.
"Apa? Kau ingin membelanjakan isi dompetku? Silahkan. Isinya mampu membeli kantor ini." Celoteh si pirang, tak henti memamerkan kekayaan yang bukan miliknya itu. Sudut mata kanan Soobin berkedut sekilas, ingin mendadak meninju Kamal. Cara bicara si pirang sangat tak sopan, bahkan saat ini tanpa embel-embel "hyung".
"Mulutmu memang tak pernah diam, ya? Aku lebih tua darimu." Sindir Soobin secara terang-terangan padanya.
"Apa peduliku soal itu?" Lawan Kamal lagi. Tanpa berniat lanjut melawan, Soobin melangkah mundur dan menghampiri meja salah satu pegawai disana. Tangannya mengambil sesuatu dari meja tersebut lalu kembali pada Kamal. Belum sempat si pirang bertanya, Soobin melempar sesuatu ke arah lantai, tepat di depan Kamal.
"Makanan untukmu. Aku belum bisa membiarkanmu mati kelaparan walau ingin." Terang Soobin setelah melempar makanan itu. Kamal memungut dua benda yang si jangkung lemparkan, ia mengamatinya perlahan sebelum merasa ingin mengamuk.
"Biskuit jahe? Sebotol teh gandum? Apa-apaan ini! Aku tak ingin makanan aneh seperti ini!" Protes Kamal dengan kencang, seperti anak kecil. Soobin berdecak singkat, lalu ia menarik nafas. Sabar. Ia harus sabar.
"Jangan banyak protes. Jika kau tak mau, maka tak usah dimakan. Aku punya urusan yang lebih penting selain kau." Itu ucapan terakhir Soobin sebelum melenggang pergi tanpa ingin mendengar apa lagi Kamal akan keluhkan padanya.

Si pirang itu kehabisan kata-kata saat Soobin pergi begitu saja, ia kepalang kesal tapi tak bisa berbuat banyak dibalik jeruji besi tersebut. Karena keroncong perut terdengar lagi, Kamal menggerutu pelan sambil menggenggam bungkus biskuit jahe itu, serta sebotol teh gandum. Parahnya lagi, biskuit jahe itu sudah terbuka, kelihatannya Soobin asal mengambilnya dari meja pegawai untuk diberikan pada Kamal. Sangat merendahkan sekali, si pirang ingin melayangkan tinju ke wajah Soobin tapi ia tak berani. Kamal tidak sebodoh itu, si jangkung bukanlah orang biasa.

Tangan Soobin cukup besar untuk membuatnya tumbang hanya pakai satu tamparan kuat. Dengan penuh rasa kesal sekaligus enggan, Kamal memasukkan biskuit jahe itu ke dalam mulut dan mengunyahnya. Ugh. Terasa jauh lebih aneh dari yang ia bayangkan, wajah Kamal terlihat masam tapi ia tetap mengunyah dan menelan. Setidaknya, teh gandum itu akan mencuci lidahnya dari rasa aneh biskuit tersebut. Kamal benar-benar menghabiskan seluruh biskuit jahe yang diberi, bersama sebotol teh gandumnya. Perut Kamal sudah terisi, walau tak banyak tapi ia tidak akan rewel seperti sebelumnya.

Secara asal, bungkus biskuit tak tersisa dan botol kosong itu Kamal buang tanpa memikirkan apa-apa. Toh, nanti setelah ia keluar juga akan dibersihkan oleh mereka, sampah-sampah itu bukan urusannya. Kamal yang sudah kenyang, memutuskan untuk berbaring di lantai, ia kembali mengantuk usai mengisi perutnya sedikit. Melanjutkan tidur nampaknya menjadi pilihan terbaik saat ini, sementara ia menunggu dikeluarkan dari sel penjara itu. Tanpa memikir keributan dan kesibukan dari masalah yang ia buat, Kamal memejamkan mata, membiarkan dadanya kembang kempis perlahan ke dalam ayunan kantuk.

Dunia berjalan cukup cepat selama ia tertidur, para polisi memutuskan untuk mengabaikannya agar bisa fokus bekerja. Jelas, mereka masih sangat geram kepada si pirang itu, tapi jika satu jari dari mereka menyentuh Kamal, bisa dipastikan hidup mereka akan hancur. Maka dari itu, biarkan saja ia terlelap sendirian di dalam sel penjara tersebut, di lantai yang dingin. Soobin yang tidak terlihat itu, ternyata berada di dalam ruang pimpinan kantor. Si jangkung mendekam di sana sendirian duduk di kursi utama sembari menenggelamkan diri pada benaknya.

Oh, bulu romanya bangkit sekilas. Ada hembusan rasa antusias yang datang dari dirinya, Soobin tak bisa menahan senyuman. Senyumannya terlihat aneh. Terlihat tidak manis, tapi nampaknya memiliki arti yang lain. Pria itu mengambil sebilah rokok yang ada di atas meja, ia menghidupkan lalu menghisapnya penuh nikmat. Asap rokok mengepul di ruangan itu, nyaris menutupi Soobin yang sibuk merancang sebuah rencana spesial di kepalanya. Malam akan tiba, dan Soobin akan menjalankan janjinya pada Eunchae.

—————————

Dengan satu putaran ke samping, Soobin mengunci pintu masuk utama dari kantor polisi itu, setelah mengunci yang lain. Ada helaan nafas lega yang keluar dari mulutnya, kunci itu ia tarik lalu selipkan ke dalam saku pakaiannya. Setelah memastikan benar-benar terkunci, Soobin berbalik, memandangi kantor polisi yang benar-benar kosong melompong itu. Sebuah pemandangan yang aneh, karena seharusnya, kantor polisi memang tidak pernah tutup. Jika tutup, kemana lagi masyarakat setempat akan meminta bantuan, kan? Kantor polisi merupakan tempat pertama yang dipikirkan orang jika perlu bantuan.

Namun, tidak untuk malam ini, Soobin mengusir tiap petugas yang bekerja, mengunci seluruh pintu dan jendela, demi janji yang akan tepati. Si jangkung itu merasa, ia sudah cukup memohon-mohon kepada Komisaris Jenderal Kang— Ah, tidak, kepada Baekho hyung, agar permintaan untuk menutup kantor polisi daerah itu dikabulkan. Soobin memang memiliki koneksi yang luas, serta erat dengan banyak petinggi. Sangat tak heran jika ia seringkali digunakan sebagai pion oleh Tuan Huening, demi anak tak tahu diri itu. Malam ini, Soobin akan membalas dendam banyak orang, terutama untuk Eunchae.

Suara mobil terakhir dari parkiran sudah terdengar menjauh, menghilang perlahan-lahan, Soobin memutuskan untuk segera memulai apa yang sudah membara di dalam dirinya. Si jangkung itu melepaskan kaos kaki lalu sepatunya terlebih dahulu, dilanjutkan oleh ikat pinggang tapi tidak dengan celana. Jaket gelap dihiasi pangkat, lencana dan medali tersebut ikut Soobin lepaskan, secara berhati-hati ia baringkan di atas meja yang kosong. Ponselnya juga ikut ia taruh, demi kelancaran tugas yang ia laksanakan. Beberapa kancing atas kemeja putihnya Soobin buka, yang sudah jelas dasinya terlepas sebelum itu.

Amarah ini, kekesalan ini, kebencian ini, lalu, nafsu ini, mengalir deras di tubuh Soobin, bak air terjun yang sumbernya tak bisa ditutup. Dengan itu, Soobin mengambil satu kunci khusus yang sudah diletakkan tersendiri disamping jaketnya. Kakinya melangkah ke arah sel penjara yang terkesan kosong itu, namun saat tiba di depannya, ada Kamal yang meringkuk tidur di lantai. Si pirang pasti kedinginan, Soobin punya cara yang pantas untuk menghangatkan tubuhnya. Satu kunci yang ia pegang itu, Soobin gunakan membuka pintu sel tersebut, ia membukanya menggunakan satu dorongan saja.

Kamal yang terlalu nyenyak itu, sama sekali tak mendengar terbukanya pintu sel, membuat Soobin geram. Pintu sel ditutupnya kembali, ia menguncinya dari luar, melalui tangannya yang menyelip di antara jeruji besi. Kunci itu ia biarkan berada pada bolongan kunci di sisi luar pintu, akan lebih mudah begitu baginya dan bagi Kamal. Jikalau si pirang ingin kabur, ia tidak bisa langsung melesat pergi. Kunci itu harus ia putar dari luar, seperti cara Soobin mengunci barusan, akan memakan waktu baginya yang tak gesit. Sebuah strategi yang cerdik bagi Soobin yang bisa dengan mudah menginjaknya.

Sangat kotor, selain bejat, Kamal juga tak bisa menjaga kebersihan sebuah tempat, berbanding terbalik pada wajahnya yang cantik. Huh, ternyata orang cantik bisa seperti ini, ya? Benar, Soobin tak pernah menyangkal pesona alami wajah Kamal yang terlihat tak nyata itu. Si pirang sangatlah menawan, wajahnya seolah keluar dari lukisan. Sayangnya, hanya itu yang baik darinya, Kamal tetap sangatlah bejat dan memiliki kepribadian yang asam seperti perasan jeruk nipis. Tak enak. Soobin membencinya.

Amarah si jangkung mencakar-cakar dadanya yang mulai kembang kempis secara agresif. Sudah lama, ia menahan semua ini. Sudah lama, ia membiarkan semaunya terjadi. Sudah lama, ia menjadi boneka demi melindungi anak itu. Demi Kamal, demi seorang Kai Kamal Huening yang tak tahu diri. Malam penghakiman sudah tiba, Soobin yang menjadi hakim dari apa yang telah terjadi. Ikat pinggang yang sedari ia genggam itu terlepas ke lantai, akan ia gunakan nanti.

Tanpa aba-aba, kaki Soobin melayangkan sebuah tendangan hebat, tepat ke perut si pirang itu, sampai ia terbelalak bangun. Satu tendangan hanya diberi jeda satu kedipan mata, Soobin melayangkan beberapa kali tendangan lagi secara beruntun. Ia dapat merasa ujung jempolnya akan menyentuh bagian lunak dari perut Kamal, lalu bagian yang keras, yaitu tulang rusuk. Semua amarah itu mengalir seperti sungai jernih, berpacu laju dan menabrak bebatuan kecil yang menghalang. Terkadang, Soobin sengaja memindahkan kakinya ke area bawah perut si pirang, ingin menambahkan rasa sakit.

Kamal mati-matian berusaha bernafas, mengelola rasa sakit yang silih berganti menghantamnya dan memproses situasi. Ia terbangun paksa dari tidur nyenyaknya, jelas otak Kamal masih sangat kosong serta lamban. Koordinasi tubuhnya yang ingin melindungi diri dari tendangan Soobin juga sangat buruk. Rentetan tendangan itu terus mengenai tubuhnya, Kamal sempat terbatuk kesakitan, salivanya sempat muncrat dan menetes-netes. Tubuhnya sangat syok, kebingungan harus melakukan apa saat itu.

Akan tetapi, dengan sedikit kesadaran yang terbentuk, si pirang memaksa tubuhnya bangkit lalu melemparnya menjauh dari Soobin. Tubuh Kamal menabrak jeruji besi ketika ia menjauh, terasa sakit juga tapi lebih baik dari tendangan beruntun barusan. Melihat si pirang sudah sadar, Soobin mengambil nafasnya sejenak, ia terengah-engah saking bersemangatnya. Perlahan dan secara menyedihkan, Kamal mulai bangkit bersama tangan yang menggenggam kencang jeruji besi sel itu sebagai pegangan. Ribuan rasa nyeri menjamah tubuhnya yang belum benar pulih dari nyeri sebelumnya.

"Argh! Si-Sialh! Hentikan! Kenapa kau lakukan itu, Hyung? Sakit!" Bentak Kamal seraya menyeka salivanya yang menetes di dagu. Ugh. Kepala Kamal terasa pusing karena sakitnya.
"Tidurmu terlalu nyenyak. Aku tak suka melihatnya." Ujar Soobin tanpa rasa bersalah. Benar, lagipula, untuk apa ia merasa bersalah, ia seharusnya merasa bangga.
"Apa kau sudah gila? Kau bicara aph— Buh!" Sebuah tinjuan mendarat ke perut Kamal dalam sekelebat mata, membungkam mulutnya yang suka membual. Si pirang itu tersungkur di lantai sambil memegangi perutnya. Dia memang lemah, Soobin tahu itu.
"Aku bicara apa yang aku inginkan, seperti dirimu, Kamal." Lontar Soobin, sedikit terkekeh. Ada rasa puas melihatnya kesakitan.
"U-Uhk... Sah-kit... Kau ti-tidak akan bisa kabur set-seth-setelah ini... Ayah akan m-m-memecatmu!" Balas Kamal di sela ringisan sakitnya yang tak berkesudahan. Selalu mengandalkan ayah, sungguh lucu.
"Oh, ya? Mana ayahmu itu sekarang, Kamal?" Celetuk Soobin lagi, mengirimkan sebuah rasa sadar kepada si pirang itu. Sekilas, Kamal melihat sekitarnya dan terkejut saat tak ada seorangpun di kantor tersebut. Ayahnya juga tidak ada disana, ia pikir akan dijemput. Ia benar-benar sendirian.
"Kemana semua orang? Apa yang sebenarnya sedang terjadi?" Sambar Kamal, rasa panik bangkit pada dirinya.
"Tidak ada ayahmu disini, hanya aku dan kau. Aku yang akan menjadi hakim atasmu, malam ini." Kata Soobin tanpa berpikir untuk menjawab pertanyaan Kamal. Itu tak penting baginya. Nampaknya, si jangkung sudah kehilangan akal sehatnya, menurut Kamal. Ia tahu Soobin agak tak waras, tapi ini sangat menyeramkan. Baru kali ini, Kamal lihat.
"Kau sudah gila." Sahut Kamal, wajah penuh kebencian itu terpampang di sela rasa sakit yang ia tahan. Ia tak pantas membenci.
"Orang macam mana yang tak gila jika harus berurusan denganmu, huh?" Tutur Soobin setelah helaan nafasnya. Memang sudah terlalu lama ia berurusan dengan Kamal.
"Kau—" Tak sempat si pirang berucap, Soobin sudah meninju wajahnya terlebih dahulu.

Bicara membuat Soobin muak, karena Kamal seperti tembok yang enggan untuk diruntuhkan. Selalu bisa menjawab, selalu bisa melawan, selalu bisa meracau, Soobin benci itu. Hanya kepala tangan dan tendangan yang mampu melawan anak tersebut. Alhasil, Soobin benar-benar melepaskan diri, ia meninju dan menendang tubuh Kamal berkali-kali, nyaris tanpa jeda. Wajah cantik itu juga tak luput dari kepalan tangannya yang besar, walau tak ia tendang. Soobin takut akan merusak wajah Kamal jika ia menggunakan kaki, kepala tangan saja cukup.

Saking mendadak dan ramainya serangan itu, Kamal tak bisa membentuk sebuah perlawanan atau sekedar menghindar. Ia cuma mampu memejam dan terkesiap sakit ketika tubuhnya dihajar. Suara pukulan dan tendangan itu menggema di kantor yang kosong, menonton amukan Soobin dalam bisu. Di tiap sela nafas, sakit dari tinjuan dan tendangan itu semakin terasa, air mara Kamal sudah berlinangan tanpa sempat ditampung. Erangan kesakitannya tertutupi oleh kerasnya suara amarah Soobin, tidak akan ada yang bisa menolong Kamal. Makanya, Soobin sengaja mengusir semua orang dari kantor itu. Keadilan keras tidak akan berjalan jika empati yang salah muncul. Kamal memang manusia, tapi tidak memanusiakan orang lain.

"Ini untuk seorang nenek yang kau tabrak sampai meninggal karena mabuk." Ucap Soobin bersama tinjuan ke mulut si pirang. Sudut bibirnya robek, mulai menggumpalkan darah yang menetes setelahnya. Sekilas, ia juga melihat ada gigi Kamal yang berdarah. Hanya berdarah, belum lepas.
"Agh- Tolh—"
"Ini untuk seorang lelaki tak bersalah yang kau pukuli sampai cacat." Lanjut Soobin lagi, tinjuan selanjutnya mendarat keras di pipi si pirang sampai lebam.
"Ah-Akuh—"
"Ini untuk seorang ibu putus asa yang kau tipu sampai dia terpaksa ikut prostitusi." Semakin diingat, semakin kuat hantaman kepal tangan Soobin itu ke kepala Kamal. Si pirang memuntahkan isi perutnya ke lantai itu, berupa cairan sedikit kecoklatan bening, berkat biskuit jahe dan teh gandum yang dikonsumsinya tadi.
"Ukh..."
"Ini untuk seorang ayah yang tuduh mencuri sampai hidupnya hancur." Satu kepalan lagi, bertemu dengan mata kiri Kamal yang, untungnya, sempat memejam.
"Hyh...ung..h...hyu..."
"Ini untuk semua orang yang kau rugikan, termasuk ayahmu!" Lalu, kepalan terakhir menumbuk hidung mancung Kamal, yang diam-diam Soobin pikirkan setiap malam.

Entah sudah tinjuan kesekian, Kamal sudah mulai mengeluarkan darah, tujuan yang Soobin raih. Hidung si pirang itu mimisan, ditemani sedikit batuk darah ke lantai, sudut bibirnya juga robek. Tak cuma darah, wajah Kamal dipenuhi lebam dan goresan, sebelah pipinya agak bengkak, seperti tupai yang menyimpan kacang di mulut. Memuaskan, Soobin merasa ada rasa bersemangat yang tambah membara, dan celana yang makin sempit. Kepala tangannya dihiasi darah Kamal, tapi Soobin terasa tak bisa berhenti. Karena takut membuat Kamal pingsan terlebih dahulu sebelum semuanya benar-benar dimulai, ia memindahkan tinjuannya ke tubuh si pirang. Bahu, perut, dan pinggang, semua yang jauh dari kepala, Soobin menargetkannya.

"Terasa sangat menyenangkan bisa melakukan ini, tanpa dihentikan oleh siapa-siapa. Bagaimana perasaanmu? Masih bertahan?" Tanya Soobin, berdiri di atas tubuh yang meringkuk dan meringkih itu. Saliva bercampur muntah dan darah menggenang di sisi wajah Kamal.
"K-kah...kukh..." Sungguh payah, si pirang yang sok jago itu, kini terbaring sekarat di lantai. Tidak benar juga sekarat, tapi hampir, sekarat. Tangan Soobin terarah turun, meraih rambut pirang itu lalu menjambaknya kasar.
"Apa kau ingat bagaimana waktu itu kau jambak dan seret wanita malam di klub Hongdae itu? Seperti ini, kan?" Sembari berbicara, Soobin menarik rambut Kamal sampai kepalanya ke atas.
"Ack!" Erang Kamal bersama wajah kesakitan. Soobin menyeringai sekilas, ia menyeret si pirang ke arah dinding lalu membenturkan wajahnya kesitu dua kali dengan teramat keras. Satu gigi depan Kamal berujung lepas dan jatuh ke lantai, bersama tetesan darah.
"Kau membenturkan wajahnya dua kali ke dinding, seperti tadi, apa kau suka rasanya, Kamal?" Lanjut Soobin, menerapkan Kamal rasa sakit yang ia pernah berikan pada orang lain. Tak lama, ia melepas cengkramannya pada rambut itu, membiarkan wajah Kamal mengenai lantai dengan keras.
"Uh..." Si pirang melenguh, tubuhnya terasa sangat lelah mengelola semua rasa sakit yang dahsyat itu. Lidahnya mencicipi rasa mirip besi yang khas dari darah, berkat giginya yang lepas. Soobin memungut gigi yang terlepas itu, ia memandangnya, diselingi sedikit tawa. Gigi Kamal nampak menawan, ia menaruhnya lagi di lantai. Melihat Kamal yang gemetar tak berdaya dibawah, Soobin berdecak.
"Kau sudah mau menyerah? Padahal kita baru saja membuat malam ini terasa lebih indah, Kamal." Kata Soobin, berjongkok di hadapan si pirang itu.
"Kh..Ken-n...Kenapa?" Sekuat sisa tenaga yang ada, Kamal kerahkan untuk bersuara. Ia bahkan tak sanggup menatap Soobin.
"Apa? Aku tak dengar? Bicara dengan keras." Sahut Soobin, nadanya seolah mengolok suara serak dan lemah Kamal.
"Keh-n-Kena-pa...?" Balas si pirang itu, kali ini agak keras dari sebelumnya. Aslinya, Soobin mendengar apa yang Kamal ucapkan di awal. Ia cuma ingin mempermainkannya saja.
"Tak ada alasan spesifik. Aku hanya ingin melakukannya seperti yang kau katakan biasa. Menyakiti orang kiri dan kanan, tanpa merasa bersalah, sangat menyenangkan, bukan? Kau tak punya hak mempertanyakan itu, Kamal." Jawaban Soobin membuat percikan amarah di mata Kamal itu kembali, terlepas wajah yang berada di ujung kehancuran.
"Kepa-a-rat!" Kutuk si pirang terbata-bata. Suaranya sudah lebih jelas, tapi Soobin tak senang akan hal tersebut.
"Mulutmu masih kotor ternyata. Aku harus berbuat sesuatu tentang itu." Celetuk Soobin yang raut wajahnya nampak seram. Tapi, Kamal tak melihat hal itu, karena untuk menggerakan mata saja ia sudah tak mampu.

Soobin mulai melepas kancing celana yang ia kenakan, lalu berpindah ke resleting yang ditarik turun. Setelah semua itu, ia membiarkan celananya terjun bebas ke lantai, memperlihatkan tubuh bagian bawahnya dan kemaluan yang masih ditutupi celana dalam hitam. Ada sebuah gundukan besar yang terbentuk di balik celana dalam hitam tersebut, besar dan keras. Perlahan, Soobin mengeluarkan penisnya yang berukuran besar, nampak seperti raksasa. Penis itu sangat tegak, berurat serta dihiasi precum di ujungnya, bukti bahwa Soobin terangsang sejak awal melakukan aktivitas kejinya itu.

Biasanya, Soobin tidak terangsang jika sedang menyiksa orang lain, dia juga yakin bukan sosok yang sadistik. Akan tetapi, sebuah pengecualian untuk Kamal. Soobin sangat terobsesi padanya sejak dulu, secara diam-diam. Alasan kenapa ia tidak mendekati Kamal lagi, adalah karena si pirang itu tak pernah punya perasaan kepada siapapun selain diri sendiri. Yang Kamal pandang setiap hari, hanyalah pantulan dirinya di cermin besar, tak pernah sekalipun ke orang lain. Bahkan kepada keluarga, teman atau orang terdekat, Kamal kemungkinan besar menganggap mereka seperti sesuatu yang bisa dimanfaatkan.

Kamal adalah sebuah cangkang yang kosong, tidak ada isinya, seseorang yang tidak akan pernah peduli pada orang lain. Maka dari itu, Soobin merasa akan lebih baik jika hanya terobsesi dari jauh, ia tak perlu merasa frustasi karena tak bisa meraihnya, karena memang tak mungkin. Walau begitu, tak bisa dipungkiri kalau Soobin selalu ingin menembus kulit yang melindungi tubuh si pirang itu. Lalu, kesempatan ia dapatkan dalam situasi yang buruk. Sungguh licik, namun, sebuah kesempatan tetaplah kesempatan, tak bisa ia lewatkan dengan begitu saja. Apalagi, Tuan Huening menyetujui hal ini, Soobin semakin bebas dari apa yang mencengkramnya.

Secara kasar, Soobin membalik tubuh Kamal agar wajahnya tak menghadap ke samping, melainkan ke atas. Memandangi langit-langit sel penjara sempit itu bersama pandangan yang berkunang-kunang. Di antara pandangan itu, Kamal melihat sebuah benda lonjong yang besar. Anehnya, benda itu semakin mendekati wajahnya, bersama bayangan yang besar. Sewaktu hanya sisa sejengkal dari wajahnya, pandangan Kamal menjadi jelas dan ia sadar apa yang akan Soobin lakukan padanya. Ketika satu tangan Kamal hendak mendorong, si jangkung sudah terlebih dahulu menahannya di lantai.

"Penisku akan mengajarimu cara berbicara dengan benar." Ucap Soobin, dengan santai semakin mendekatkan penis itu. Kamal tambah panik, ia berusaha bergerak lepas dari Soobin.
"Tidak! Menj-j-jauh dariku!" Seru Kamal seraya memberi perlawanan. Keduanya saling kejar tangkap tangan, Soobin geram karena tangan si pirang masih cukup lincah menghindarinya. Kepalang kesal, Soobin menghentak belakang kepala si pirang ke lantai, membuatnya linglung dan lengah sebentar. Dengan celah itu, Soobin membuka paksa lebar, mulut Kamal. Kedua tangannya menahan mulut tersebut agar tetap terbuka, selagi penis itu terarah tepat kesana. Kamal terbelalak horor melihat penis berukuran abnormal tersebut, karena terlalu besar. Penis itu tak akan muat, Kamal ketakutan.
"Jangan banyak bergerak, Kamal." Peringat Soobin, tanpa aba-aba langsung menurunkan penisnya. Kamal memejam pasrah, sekaligus takut walau masih berusaha melawan. Ia merasa putus asa, karena Soobin seperti baru yang tak bisa diangkat..
"Ukh!" Ujungnya, kepala penis Soobin sudah terlanjur memenuhi mulut si pirang itu, membiarkan precum segarnya mengenai lidah. Rasa dari precum tersebut sangat aneh, membuat mual. Wajah si pirang terlihat sangat jijik, air matanya berlinangan, diiringi nafas yang tak tenang.

Baru kepala penis yang masuk, tapi bulu roma Soobin sudah berdiri tegak semua saking nikmatnya. Ah, ini jauh lebih nikmat, dari dihisap oleh seorang perempuan atau lelaki lain, atau pelacur atau waria, atau siapapun. Bagi Soobin, ini teramat nikmat, ia tahu tak akan bisa mengontrol diri, tapi memang tak ia tahan lagi. Apalagi, bersama rupa si pirang yang begitu menyedihkan, didihan nafsu itu menguasai seluruh kinerja otak Soobin. Sesekali, kepala penis itu ia gesek-gesekkan ke lidah lalu pipi dalam Kamal. Lenguhan si jangkung dapat terdengar, seraya ia mendongak sekilas.

Tanpa pikir panjang, Soobin mendorong seluruh penis besar itu masuk ke dalam mulut Kamal, lalu ke tenggorokan sampai selangkangannya benar-benar menimpa wajah si pirang. Nafas Soobin terengah, rangsangan menyengat tubuhnya seperti lebah karena mulut dan tenggorokan Kamal terasa sempit. Apalagi tenggorokan yang berongga itu, gesekannya akan terasa hebat nanti. Soobin juga dapat merasakan gigi-gigi si pirang yang mengenai penisnya, beserta seisi mulutnya. Suara tersedak Kamal dapat ia dengar, tapi Soobin tak ingin peduli, tak ingin dengar. Tangan lemas itu memukul-mukuli pahanya, bahkan berusaha mencakar tapi gagal.

Soobin beralih menahan kedua tangan Kamal menggunakan lututnya, tanpa membiarkan penis itu keluar. Saliva Kamal mengalir dari kedua sudut bibirnya, ia nampak sulit bernafas. Gundukan penis Soobin terlihat dari luar tenggorokan si pirang, nampak sangat abnormal. Soobin sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, ia menggunakan menumpuk kedua telapak di lantai, sebagai sumber tumpuannya. Dengan maksud, ia bisa menghentak penis itu sangat kuat, sampai Kamal hampir sekarat jika perlu. Pembalasan dendam seperti ini membuatnya merinding lagi akan rasa senang dan bersemangat.

Dan, dengan itu, Soobin menarik perlahan penis tersebut keluar, menyisakan cuma kepala penisnya lagi, lalu, ia hentak masuk dan pompa secara brutal. Suara tersedaknya Kamal muncul kembali, pandangannya kabur karena air mata, dadanya terasa sesak karena sumpalan penis. Soobin mendesah merdu, merasakan gesekan nikmat di mulut serta tenggorokan si pirang. Ini adalah sesuatu yang benar-benar ia perlukan selama ini, Soobin menghentak-hentak penis tersebut di tenggorokan itu, tanpa perduli Kamal yang terlihat akan tak sadarkan diri dalam waktu dekat. Penis tersebut dipompa keluar dan masuk seolah memperlakukan mulut Kamal seperti sebuah lubang nafsu.

Testis si jangkung itu menampar-nampar dagu Kamal sedikit keras, berkat tempo hentakan penisnya. Rahangnya terasa nyeri karena terbuka paksa dan dipenuhi penis, tenggorokannya seperti terbakar. Semua itu membuat kepala Kamal berputar-putar, apalagi oksigen yang masuk ke otaknya tidak begitu banyak. Sekilas, ketika pandangan Kamal menjadi jelas, ia dapat melihat wajah keenakan Soobin yang nyaris menduduki wajahnya itu. Wajah dari kebejatan seseorang yang ia kenal. Kamal tak pernah melihat ekspresi tersebut dari Soobin sebelumnya, tapi bukan berarti ia ingin melihatnya dalam situasi ini. Mungkin, dalam situasi lain.

Urat-urat penis Soobin bergesekkan dengan gigi sekaligus pipi dalam si pirang, tak jarang akan ia kenai lidah. Saliva Kamal memproduksi diri lebih banyak berkat rasa sakit, hal itu menjadikannya sebagai pelumas alami. Penis Soobin mengkilap berkat lengketnya saliva tersebut, ia menghujam ujung penisnya ke tenggorokan Kamal dengan santai. Kedua kalinya, si pirang itu memuntahkan salivanya setelah tersedak selama beberapa saat. Namun, kejadian tersebut tidak menghentikan Soobin sama sekali. Malah, hentakannya makin tak beraturan.

Kedua tangan Soobin yang tadinya bertumpu pada lantai itu, berpindah ke rambut Kamal yang mulai basah. Ia mencengkram rambut pirang yang indah itu, seperti kekang untuk mengontrol lajunya seekor kuda. Ada saatnya Soobin menggesek-gesek ujung penis itu di rongga tenggorokan si pirang, membasahinya dengan precum sambil mendesah. Di saat itu juga, Kamal akan kembali tersedak, akibat sundulan kepala penis tersebut. Kamal dapat merasakan pergerakan penis Soobin yang begitu laju, membuat mulut serta tenggorokannya terasa akan lepas.

Perlahan, hentakan tiap hentakan di tenggorokan yang ia rasakan, semakin mengantarkannya jauh dari kesadaran. Mata Kamal akan terpejam terkadang, nafasnya sangat minim serta kepalanya sudah terbentuk berkali-kali. Ada kemungkinan, Kamal sedang mengalami gegar otak ringan saat ini, seluruh tubuhnya mati rasa. Samar-samar, ia dapat mencicipi rasa aneh dari precum Soobin yang mengenai lidahnya. Kamal merasa mual, tapi tubuhnya tidak memberi respon, seolah benar-benar sudah berhenti bekerja. Tubuhnya sesaat merinding, ketika merasakan kedutan urat-urat penis Soobin yang tebal.

Apa Soobin benar-benar boleh melakukan ini, melecehkannya, melecehkan Kamal? Si pirang itu benar-benar tak menyangka Soobin akan melakukan ini padanya. Namun, Kamal memang tidak berhak mempertanyakan hal tersebut, setelah semua yang ia lakukan pada Eunchae, pada orang-orang yang ia sakiti. Ia hanya merasa terkejut, karena seumur hidup, tak seorangpun boleh atau bisa menyentuhnya. Lalu, malam ini, setelah memukuli sampai hampir pingsan, Soobin melecehkan mulutnya. Rasa takut, jijik dan terkejut itu memandikan jiwa Kamal seperti pengalaman baru yang tak ingin ia ingat. Sama apa yang seperti Eunchae rasakan.

Kedutan penis Soobin tambah terasa, ia tahu puncak dari kenikmatan tersebut sebentar lagi akan menghampirinya. Tentu, hentakan penis itu menjadi lebih brutal dari sebelumnya, sampai kepala Kamal bergetar. Soobin merasa ia perlu membayar biaya perawatan rumah sakit Kamal usai ini, karena ia hanya bermaksud menghukum anak itu, bukan membunuh. Tapi, ah, Soobin sangat menikmati prosesnya, ia merasa sangat terangsang keras, seperti batang kayu muda. Rasa kram yang tak asing mulai mendekat, cengkraman Soobin pada rambut pirang yang basah itu makin kencang.

Setelah melontarkan beberapa hentakan kuat, Soobin mencapai orgasme yang cukup menggelitik seluruh tubuh sampai gemetar. Penis si jangkung itu menembakkan sperma langsung ke tenggorokan Kamal, tanpa bisa ditahan sama sekali. Mau tak mau, si pirang menelan sperma tersebut, walau ia sangat ingin muntah. Hangat dan lengket, tekstur dari sperma itu membuat Kamal tersedak lagi. Dilihatnya tenggorokan yang disumpal gundukan penis itu bergerak menelan sampai habis, Soobin baru mencabut penisnya dengan mudah. Spontan, Kamal memuntahkan apa yang bisa ia muntahkan ke lantai. Saliva dan sisa sperma yang ada keluar, sebelum ia kembali tergeletak lemas di lantai bersama nafas lega. Oh, tapi semua itu baru permulaan, Soobin ingin segera ke hukuman inti.

Belum sempat Soobin bergerak, ia membeku karena mendengar isak tangis si pirang yang meringkuk di lantai. Tubuhnya gemetar, seperti orang kedinginan, Soobin dapat melihatnya. Seperti anak kecil yang ketakutan, Kamal tak berhenti menangis selama beberapa waktu, seraya menyeka wajah berantakannya. Soobin menatap sinis kejadian tersebut, lalu sekilas memandang penisnya yang ternyata sudah ereksi kembali dalam waktu singkat. Ia masih sangat terangsang, dan perlu sebuah lubang untuk memuaskan diri. Lubang yang ia maksud, adalah milik Kamal, dan mulut tidaklah cukup.

"Kau sudah tak mampu bertahan, Kamal?" Tanya Soobin, perlahan berjongkok di hadapan si pirang, ingin menyamakan pandangan mereka yang berbeda.
"Sah-k-sah-kit... Hyu..ng.. Sakit..." Rintih Kamal, mata yang penuh kesombongan dan kelicikan itu menghilang. Diisi oleh kekosongan yang menyakitkan, rasa takut yang dapat Soobin endus. Menarik.
"Aku bahkan belum selesai denganmu, dan kau sudah merengek sakit? Mana Kai Kamal Huening brengsek yang kau banggakan itu, huh? Sudah tak ada?" Celetuk Soobin secara sarkastik, menepuk-nepuk pipi bengkak si pirang.
"Sak-it... Maaf... Ak-k-u, maaf..." Mendengar ucapan tertatih-tatih itu dari Kamal, si jangkung merasa sesuatu yang mengguncang jiwanya. Ia terdiam sejenak, memandangi perbuatannya kepada Kamal. Sedikit, ada sedikit dari bagian hatinya yang meleleh karena iba.
"Tak pernah seumur hidupku akan mendengar kata itu darimu, Kai." Tutur Soobin, kali ini sorot matanya menjadi agak lembut. Kamal tambah terisak mendengarnya.
"Aku m-inhtah maaf, So-obinmh Hyung." Ulang si pirang lagi, ia mulai berbicara lebih jelas. Seperti waktu mereka kecil, Kamal akan meminta maaf seperti itu. Sontak, Soobin berlutut di hadapan Kamal, menangkup wajah yang sudah babak belur itu.
"Oh, Kai..." Ujar Soobin, terdengar sangat mengasihaninya. Kamal sudah lama tak mendengar si jangkung memanggilnya seperti itu. Terasa hangat, tapi asing.
"Aku minta maaf, Hyung." Kata Kamal, mulutnya yang terasa nyeri itu berhasil membentuk kalimat utuh yang sangat jelas. Kedua pupil mereka saling berpandangan, bertukar kode lama yang nyaris usang. Soobin menggigit pipi bagian dalamnya sekilas, muncul perasaan yang tak ingin ia genggam lagi dari lama. Soobin harus menelannya.
"Aku pasti memaafkanmu, tetapi, setelah aku menepati janjiku pada semua orang." Ucapan Soobin membuat harapan si pirang yang terbentuk perlahan itu hancur, lalu diganti oleh rasa bingung dan takut. Tangkupan Soobin secara tak langsung menguat, seakan mencengkramnya.
"Hyung, aku—" Tak sempat Kamal berucap banyak, sebuah tinjuan menumbuk wajahnya sampai ia terjatuh ke lantai. Tinjuan itu sedikit lagi melayangkan Kamal ke negeri dongeng, alias membuatnya hampir tak sadarkan diri. Si pirang itu menangis sesegukan, hidungnya agak bengkok karena patah dari tinjuan, darah kembali mengalir. Tak ada belas kasihan. Kehangatan itu telah hilang.

Dengan mudah, Soobin merobek pakaian si pirang, sampai memamerkan dada dan perutnya yang basah terkena darah. Sekilas, Soobin menjilat bibir bawahnya atas pemandangan itu. Celana Kamal adalah korban selanjutnya, ia menarik terbuka kancingnya sebelum merusak resletingnya. Lalu, Soobin tarik terlepas, menyisakan Kamal setengah telanjang dan kemaluannya masih ditutupi celana dalam. Si pirang yang sadar akan usaha pemerkosaan itu menjadi panik serta histeris, tapi ia tak mampu menjerit. Tangisnya sudah terlalu banyak sampai melelahkan pita suaranya.

Walau tak ada jalan keluar, Kamal merangkak menjauh dari si jangkung, kuku-kukunya mencakar lantai. Soobin menonton kelakuan Kamal dengan senyum yang ngeri, ia menariknya balik kepadanya menggunakan satu tarikan kaki. Agar Kamal berhenti melawan, Soobin mencekiknya menggunakan satu tangan. Dengan cara itu, si pirang benar-benar melemah, oksigennya terhambat drastis, ia tak bisa bernafas. Kamal berusaha mencakar-cakar tangan si jangkung yang menahannya itu, walau ia tahu tak akan memberi pengaruh apa-apa. Selagi Kamal masih berjuang, Soobin sudah melucuti celana dalam anak itu lalu membuangnya entah ke arah mana.

Melihat penis dan testis Kamal yang terekspos tanpa ditutupi sehelai benang lagi, si jangkung itu merasa ereksinya makin perkasa, makin meronta. Sambil sedikit melonggarkan cengkramannya pada tenggorokan itu, tangan Soobin yang lain beralih melebarkan paksa kedua paha Kamal. Jelas, si pirang langsung melawan lagi biarpun ia hampir pingsan karena dicekik. Soobin yang kepalang kesal itu, akhirnya melebarkan paksa kedua paha Kamal menggunakan lututnya. Karena tekanan dari lutut si jangkung sangat menyakitkan, Kamal dengan pasrah membiarkan kedua kakinya dilebarkan.

Ah, sial, Kamal yang mengangkang itu benar-benar membuat Soobin tak tahan lagi, tapi ia harus bisa menikmati apa yang ia impikan secara perlahan. Tak akan ada yang pernah tahu kapan kesempatan tersebut akan tiba untuk kedua kalinya, bahkan mungkin saja tidak ada. Pandangan Soobin bak predator yang mengintai mangsanya, ia membungkus satu tangannya ke batang penis si pirang itu. Tubuh Kamal tersentak akan sensasi aneh dari nikmat sentuhan dan kesulitan bernafas. Pada titik itu, Kamal sudah tak ingin melawan, karena ia tahu apapun usahanya tak akan membebaskannya dari situasi tersebut. Walau begitu, Kamal sangat tak rela ia dilecehkan.

Secara mendadak, penis Kamal dikocok dengan laju olehnya, bersamaan dengan tangannya yang ia lepas dari leher si pirang. Kamal terkesiap, tak lama terbatuk-batuk lalu berjuang untuk mendesah di sela nafasnya yang baru terkumpul. Tubuh Kamal menggeliat, bergerak gelisah karena kasarnya sentuhan Soobin. Sesekali, Kamal akan merasakan remasan di penisnya, dan ada juga jari yang memainkan lubang kencingnya. Kamal berujung kehabisan nafas karena terus mendesah, merintih dan mengerang keenakan. Ia tak ingin menikmati sentuhan itu, tapi nampak sangat tak mungkin. Tubuh akan memberi respon alami terhadap rangsangan, sulit dicegah.

Alhasil, penis Kamal ereksi penuh dalam waktu singkat, tujuan si jangkung yang utama. Merasakan kerasnya penis itu, Soobin memperlambat tempo kocokannya, tangan atau jarinya tak lagi bergerak lasak. Diam-diam, ia bersiap-siap mengarahkan penis raksasa itu kepada lubang pantat Kamal yang ia nantikan. Tak ada pemanasan untuk lubang itu, Soobin ingin melakukannya secara menyakitkan bagi Kamal. Memang, si pirang tak pernah melecehkan seseorang separah ini, malah, perlakuan Soobin ini sudah masuk ke ranah pemerkosaan. Tapi, pemerkosaan nampak sangat pas untuk membalas semua perbuatan anak itu.

Soobin meludahi telapak tangannya yang bebas itu, ia melumuri saliva itu ke penisnya. Karena ukuran penisnya besar, Soobin melumurinya tiga kali, sampai benar-benar dibungkus oleh saliva. Dirasa sudah siap, ia memposisikan kepala penis di permukaan lubang pantat perjaka Kamal. Si pirang saat itu sedang tak fokus, sinyal tubuhnya kehilangan arah jadi ia tak tahu apa-apa tentang lubang pantatnya yang akan dijadikan sasaran itu. Sebentar, Soobin menggesek-gesek kepala penisnya di permukaan tersebut, ia melenguh singkat akan sensasinya. Soobin tambah tak sabar merasakan lubang sempit itu, pasti akan menjepitnya kuat dengan rakus.

Masih sambil mengocok penis Kamal, si jangkung mulai bersiap-siap mendorong penisnya masuk. Sekilas, ia melirik si pirang yang masih terlena, wajah keenakan memang sangat pas untuknya. Bersama satu hembusan nafas, Soobin menjebloskan masuk penis raksasa itu, ke dalam lubang pantat Kamal. Dorongan penis besar yang memenuhi paksa lubangnya membuat Kamal tak sempat memberi banyak reaksi. Mulutnya terbuka dengan tangis yang diam, tubuhnya tersentak-sentak karena sakitnya, seperti orang yang mengalami kejang. Nafas Kamal tertahan, terlepas ia terlihat seperti orang yang berusaha bernafas.

Benar, sakitnya tiga kali lipat lebih tajam dari sebelumnya, dari tinjuan atau hantaman, Kamal merasa pantatnya sedang dirobek oleh penis tersebut. Sakit. Sakit yang luar biasa, Kamal mencakar-cakar lantai untuk melampiaskannya, salivanya menetes kesana kemari, bersaingan dengan air mata dan ingus. Tubuh Kamal terasa panas dan sensitif, sakit itu menyayat, membuat dirinya benar-benar tak bisa bereaksi secara benar. Ukuran penis tersebut dapat ia rasakan, besar dan berkedut, ia tak suka sensasinya.

Parahnya, karena tubuhnya sudah terlanjur menerima semua rasa sakit itu, jika Kamal bergerak sedikit saja, ia akan merasakan sakit tambahan. Si pirang terbujur kaku di lantai, terbaring dengan kaki mengangkang pasrah, sambil menangis sejadi-jadinya. Kedua tangan lemah itu masih meraba dan mencakar lantai, atau apapun yang bisa ia sentuh. Kepala Kamal mulai melayang-layang, pandangannya agak buram, nafas yang terengah-engah itu menjadi redup. Kesadarannya akan hilang sebentar lagi, Kamal tidak sanggup jika harus terus bertahan. Lebih baik ia pingsan sepenuhnya.

Hanya saja, Soobin punya rencana yang lain terkait kesadarannya, si pirang harus dalam keadaan sadar, atau semua tidak berjalan sesuai janji. Kedua tangan Soobin beralih mencengkram paha gemuk Kamal, lalu sedikit mengangkatnya ke atas. Posisi itu akan memudahkan gerakannya, karena, jujur, Soobin agak kewalahan berkat ombak nikmat yang tak berkesudahan itu. Lubang pantat Kamal sangat sempit dan panas, mencengkram penisnya kuat, membuat Soobin sempat kehilangan kendali sesaat.

Dengan kekuatan penuh, Soobin menggerakan penis raksasa itu keluar dan masuk di lubang pantat Kamal, ia menghentak dan menumbuk sampai ke ujung. Dan, Kamal melolong seperti serigala yang merindukan bulan, teriakannya menggema di kantor kosong itu. Seperti sebuah batang kayu besar yang masuk dan bergerak di lubangnya, itu yang Kamal rasakan. Tubuh Kamal terhentak berulang kali, ia tak tahu harus berpegangan kepada apa dan siapa agar tetap waras. Tiap kali penis Soobin terkubur penuh di dalamnya, si pirang akan merintih, meringis dan menangis sejadi-jadinya.

Tumbukan asal penis Soobin itu berhasil mengenai gundukan prostat si pirang, yang tak berniat ia cari. Sengatan nikmat bagaikan sambaran petir membuat Kamal mirip seperti orang yang mengalami kejang. Reaksi yang brutal itu memicu serta memacu nafsu Soobin agar makin ganas kepadanya. Tangan Soobin kembali mengocok penis Kamal, tapi kali ini dalam tempo yang sangat lambat, dengan sengaja. Dua rasa bertentangan itu menjepit Kamal serta kesadarannya, ia menggeliat di lantai diiringi nafas yang tak beraturan dan rintihan.

Di tahap itu, Kamal sudah sampai pada perasaan mengambang, saking banyaknya yang tubuhnya rasakan. Dibilang mati rasa juga tidak, ia masih mampu mencerna semua tapi tidak dengan baik. Pandangannya mulai meredup, Kamal sebentar lagi akan tergeletak pingsan sembari dilecehkan. Namun tak sempat ia memejam, Soobin sudah menampar wajahnya dengan sangat keras agar ia terbelalak sadar dan tidak pingsan. Saat kembali sadar secara terpaksa, Kamal melanjutkan raungan tangisnya, air mata si pirang itu bahkan sampai tidak mampu keluar lagi.

Soobin terlalu sibuk menari bersama nafsu, penisnya bergerak dengan stabil tetapi sangat laju serta kesar. Kocokannya pada penis Kamal tidak fokus, jadi terkadang hanya ia remas-remas saja. Lagipula, fokusnya memang bukan rasa nikmat Kamal, tapi dirinya. Sesekali, kepala penis itu menghentak kuat sampai ke ujung lubang, membuat seluruh penis dan testis Soobin hampir masuk ke lubang tersebut. Rasa nikmat itu membasuh tubuh Soobin, membuatnya, terutama kondisi lubang si pirang yang masih tidak longgar terlepas masuk penis berukuran sangat besar.

Prostat Kamal yang tak pernah tersentuh itu dianiaya olehnya, kebetulan tergesek oleh batang penis yang berurat. Dinding rektum Kamal ia garuk menggunakan urat-urat penisnya yang berkedut tanpa henti sejak awal. Lubang Kamal terasa sangat amat nikmat, Soobin tak mampu mengontrol diri terlalu lama. Gerak penisnya tambah cepat dan sedikit asal, hentakan kulit mereka berdua makin keras terdengar. Tempo penis Soobin berubah sangat tak berampun, tubuh Kamal terguncang hebat oleh temponya itu.

Mendadak, penis Kamal yang digenggam si jangkung itu mengucurkan air kencing bercampur sperma hangat yang banyak. Nampaknya, respon dari rasa sakit dan nikmat yang ia beri paksa, Kamal orgasme lebih dahulu darinya. Tapi, bukankah itu bagus? Karena rasa sakit dan nikmat yang belum ia selesai berikan tersebut, akan jadi lebih intens. Soobin menjauhkan tangannya dari penis Kamal, ia menjilati air kencing bercampur sperma yang mengenai tangannya itu dengan rakus. Lezat dan menjijikan. Lezat karena itu cairan cinta Kamal, menjijikan karena rasanya pahit. Kualitas sperma Kamal sangat buruk berkat pola hidup serampangnya.

Kedua tangan Soobin berpindah memegang dada berisi si pirang, ia meremasnya keras dan menggunakannya sebagai pegangan. Kedutan penis Soobin melaju, memberi sinyal yang lebih jelas dari sebelumnya, ini artinya ia sudah dekat dengan orgasme. Ia akan menanamkan sperma ke lubang si pirang sampai terisi penuh, sampai yang membersihkannya kelak akan menatap kejadian ini horor. Soobin memegangi kedua puting Kamal dan meremasnya, bersama hentakan penis yang liar. Kamal tidak banyak bergerak kali ini, usai orgasme dadakannya tadi, ia berada diambang kematian, rasanya.

Akan tetapi, Kamal masih bisa merasakan kedutan penis si jangkung yang bagai menggedor-gedor lubangnya terus. Sangat kuat. Sangat laju. Sangat panas. Sangat perih. Perih itu mula-mula tidak disadari olehnya, tapi Kamal yakin perihnya bukan hanya sementara. Kemungkinan, Kamal menduga, ada bagian dari lubang pantatnya yang luka karena lajunya gesekan penis Soobin yang seperti mesin itu. Dan, benar, tak lama, ada sebuah cairan menetes keluar dari lubangnya, disela seks yang bagaikan hewan di musim kawin itu. Cairan merah yang familiar.

Kedutan penis tersebut membuat Soobin hilang kendali, hentakannya hampir menusuk lubang pantat si pirang asal karena menguat. Soobin perlahan mengurangi tempo penis tersebut, tanpa mengurangi kuat hentakannya. Jika ingin orgasmenya bisa dinikmati, Soobin tetap harus memiliki sedikit kontrol. Kamal sudah tak terlalu banyak menggeliat atau bergerak, memudahkannya untuk mengejar orgasme yang ingin bertemu dengannya itu. Samar-samar, dinding rektum Kamal juga ikut berkedut, selaras bersama kedutan penis tersebut.

Setelah melancarkan beberapa hentakan lagi, Soobin akhirnya menjemput orgasme yang dinanti-nantikan itu. Kepalanya mendongak bersama lenguhan terbata, dadanya agak terbusung, lalu penisnya terdorong masuk penuh ke lubang itu, agar kehangatan Kamal tetap membungkusnya. Langsung, penis Soobin menembakkan sperma ke dalam lubang si pirang, bertumpahan sangat banyak sampai muncrat keluar. Tak disangka-sangka lagi, penis Kamal yang sedari lemas, malah mengeluarkan sperma untuk kedua kalinya, walau tidak terlalu banyak. Keduanya mencapai orgasme secara bersamaan, namun, hanya satu yang menikmati hasilnya.

Nafas terengah-engah Soobin mulai mereda, ia sudah mengaturnya dengan perlahan, sebelum beralih mencabut penis raksasa itu. Ketika penisnya dikeluarkan, sperma yang terkumpul penuh dan tertahan segera meleleh keluar. Mata Soobin menangkap sebuah keanehan dari warna sperma yang keluar, warnanya agak merah muda seolah sudah tercampur sesuatu. Soobin melirik ke arah penisnya yang terkena sperma, memang ada cairan kemerahan yang mencampuri sperma tersebut. Pikiran Soobin cuma menduga satu hal, yaitu darah. Jika dipikirkan lagi, tempo dan laju penisnya tadi sangat gila, ia pasti melukai dinding rektum Kamal

Ah, gawat. Soobin tidak sengaja melakukannya, ia mengusak wajahnya singkat sambil menyeringai. Tapi, ia tidak terlihat panik, melainkan bangga, sebuah wajah jumawa. Luka di rektum itu sebagai penanda untuk Kamal, agar ia ingat konsekuensi atas semua perbuatannya. Fokusnya beralih lagi kepada Kamal yang tergeletak dengan mata terbuka tapi kelihatan mati. Soobin mendekatkan jarinya ke bawah hidung si pirang, dan merasa tenang usai merasakan adanya hembusan nafas. Kamal tak sadarkan diri setelah melalui semua penyiksaan yang Soobin terapkan kepadanya, membalas semua perbuatan buruk, diselubungi dengan niat licik si jangkung juga.

Soobin memandangi lubang yang sudah melonggar itu, dikotori sperma dan darah, lalu tubuh Kamal yang sebagiannya bengkak, lebam dan penuh luka. Ketika naik memandang wajah, si pirang itu seolah telah ditabrak mobil bersama hidung yang patah, luka-luka berdarah dan wajah basah dari keringat, air mata, saliva dan ingus, sedikit darah pun ada. Di sekeliling tubuh si pirang itu, ada genangan sisa muntah, air kencing, sperma bercampur dan darah. Aroma di sel itu benar-benar unik, cukup mampu membuat Soobin sendiri merasa jijik walau tak mual. Kamal benar-benar dibantai olehnya, tiada ampun apalagi belas kasihan, akan tetapi semua ini sesuai kesepakatan.

Lalu, Soobin sudah memaafkan seluruh perbuatan Kamal, sesuai ucapannya barusan. Teringat akan sebuah hal, Soobin menatap ke atas, ke bagian sudut dari ruangan tersebut yang diam-diam ternyata dipasangi sebuah kamera kecil. Jelas, sel itu selalu memiliki kamera, Kamal memang tidak sadar karena tak pernah memperhatikan sekitarnya. Bersama seringai yang ngeri, Soobin tersenyum ke arah kamera, ia melambaikan tangannya beberapa kali, memberikan tanda bahwa semua telah terselesaikan tanpa satu kekurangan. Semua kejadian yang berlangsung di sel tersebut, terekam tanpa jeda oleh kamera yang terpasang.

Konfirmasi sudah selesai, Soobin membuka kunci pintu sel itu, sebelum melenggang keluar dengan santai, sembari membawa celananya. Langkah si jangkung berhenti di depan meja, dimana ia meletakkan pakaian dan ponselnya. Paling pertama, Soobin tidak langsung berpakaian, melainkan ia meraih ponselnya yang ada di atas meja itu. Soobin menekan beberapa tombol di layar ponsel, sebuah panggilan terhubung ke sebuah nomor yang ia kenali. Tak sampai satu deringan, panggilan tersebut dijawab oleh pihak seberang. Seringai Soobin tidak luntur bahkan semenjak ia melangkah keluar dari sel itu.

"Semuanya sudah terselesaikan dengan baik, Kamal sudah bisa dijemput sekarang. Oh, jangan lupa untuk membawanya dengan tandu khusus." Panggilan tersebut diputus sepihak olehnya tanpa basa-basi, Soobin menaruh ponsel itu lagi di atas meja lalu beranjak memakai pakaiannya. Sudah berpakaian dengan rapi dan lengkap sekaligus ponsel di saku, Soobin mengendus aroma seks di tubuhnya, tapi hal itu sangatlah wajar. Aroma seks memang harus diluruhkan dengan mandi, Soobin jadi ingin berendam di bak mandi berisikan air panas dan dikelilingi kepulan asap. Membayangkan kehangatan itu, membuat Soobin ingin segera kembali ke rumah.

Tentunya, Soobin tidak melupakan hal yang terpenting dalam tugas hari ini, ia berbalik lalu melangkah masuk ke dalam sel itu. Sekali lagi, ia ingin memandangi Kamal, membanggakan ulahnya yang bejat itu kepada dirinya sendiri. Soobin mengangkat ponselnya, ia arahkan kepada si pirang dan mengabadikan momen tersebut menggunakan foto. Satu foto saja cukup, lagipula Soobin tak punya banyak waktu. Ia tidak ingin masih berada disini ketika tim medis tiba, kerugian yang ia berikan pada Kamal akan sangat dipertanyakan.

Bersama helaan nafas singkat, Soobin meninggalkan si pirang yang masih pingsan itu di dalam sel, di kantor tak berorang itu sendirian. Lima belas menit usai kepergian Soobin, beberapa mobil tiba di depan kantor kepolisian tersebut. Mereka masuk ke dalam kantor melalui pintu belakang yang sengaja tak Soobin kunci. Secara berhati-hati serta berdiam-diam, Kamal di evakuasi dari sel ke dalam mobil, menggunakan tandu khusus, sesuai arahan si jangkung. Tidak boleh ada yang tahu soal kejadian itu, mereka bahkan ditugaskan untuk melenyapkan saksi mata kalau perlu. Karena semua kesepakatan itu, sangatlah ilegal di mata hukum.

Hanya saja, hukum di dunia ini tidak sepenuhnya selalu berbuat adil, kan? Setengah porsi besar, akan lebih memihak yang berkuasa dan beruang. Soobin melajukan mobilnya di jalan raya sunyi itu, menikmati dinginnya malam di tubuh yang lelah. Samar terdengar senandungnya, menyanyikan lagu kemenangan bak seorang pahlawan penyelamat. Soobin merasa ia telah melakukan hal yang baik, hal yang hebat dan patut disanjung. Mungkin dunia tak akan setuju, tapi keadilan memang tidak harus selalu menunduk kepada hukum.

————————

Adegan di video itu membuat Tuan Huening mengunyah pipi bagian dalamnya secara kuat, hampir membuat luka. Tubuhnya nampak tegang, bersama mata yang terkunci pada layar laptop tersebut. Sebuah earphone terpasang ke kedua telinganya, membiarkan suara-suara itu terdengar jelas untuknya. Sesekali, tangannya akan mengepal, seakan menahan amarah, atau menahan rasa jijik yang muncul. Semakin lama ditonton, Tuan Huening merasa tak mampu menelan pil pahit dari kesepakatan tersebut.

Lambaian tangan di dekat akhir video itu menjadi titik terakhir kesanggupannya. Sebagai penanda tertancapnya bendera putih, ia menutup layar laptop tersebut dan melepas earphone yang terpasang. Pria berumur itu segera menenggak segelas alkohol yang ada di atas meja, sampai habis. Efek dari alkohol itu perlahan membuat stabil perasaan berkecamuk dan pikiran tak tertata miliknya. Tapi rasanya tak cukup kuat, Tuan Huening ingin meminumnya sebotol penuh sampai mabuk.

Tatapan Tuan Huening beralih kepada Soobin yang berdiri dengan tegap di hadapannya, selama ia menonton tadi, bahkan sejak awal. Cuma mereka berdua di ruang kerja yang terhampar luas sekaligus mewah itu, bertukar rekaman rahasia. Ekspresi Soobin tetap datar, tidak berubah, ia menunggu respon dari Tuan Huening atas video tersebut. Selama beberapa waktu, keheningan mengerubungi keduanya, ditemani ekspresi wajah Tuan Huening yang terlihat syok. Pria itu menaikkan pandangan ke arah Soobin, matanya diisi oleh penuh perasaan yang saling tumpang tindih.

"Kau benar-benar mengerahkan seluruhnya dari dirimu, huh?" Tanya Tuan Huening, nadanya terdengar sarkastik dan agak sinis, sembari ia terburu-buru membuka laci mejanya. Dari dalam laci itu, sebuah cerutu dikeluarkan.
"Sesuai keinginan pihak korban, Tuan Huening." Jawab Soobin datar. Sebuah korek api terselip keluar dari saku celana Tuan Huening.
"Apa tanggapan dari mereka?" Lanjutnya, seraya menghidupkan cerutu tersebut. Saat hidup, ia menghisapnya sangat kuat sebelum menghembuskan asapnya. Nikotin berat dari cerutu itu, mengirimkan badai penenangan yang sementara. Semua yang ia rasakan terlalu banyak dan kuat, Tuan Huening perlu pengalih.
"Pihak korban memberi respon baik, mereka puas akan hasilnya dan membatalkan niat untuk melayangkan tuntutan kepada Kamal." Terang si jangkung secara detail, mengingat bahwa Tuan Hong dan Eunchae juga telah menyaksikan video tersebut.
"Tch. Puas? Tentu saja, puas. Sangat konyol, semua ini." Gerutu Tuan Huening disela hisapannya pada cerutu tersebut. Gumpalan asap menjadi dinding di antara keduanya.
"Apa kau kurang merasa adil dengan semua ini, Tuan Huening?" Celetukan Soobin itu menjadi pemicu terakhir, yang meledakkan bom amarah tertahan Tuan Huening.
"Adil? Soobin, lihat aku. Kau baru saja memperlihatkanku sebuah video, dimana kau menghajar putraku lalu memperkosanya sampai sekarat. Kau pikir ini semua adil?" Cecarnya kepada si jangkung itu, bersama jari yang menunjuk-nunjuk ke wajah lawan bicaranya. Soobin tetap terlihat tenang, tidak terpengaruh oleh situasi ataupun suasana.
"Aku melakukannya semua demi membayar perbuatan buruk Kamal, Tuan. Kau sudah menyetujui ini, agar Tuan Hong tidak menuntutmu dan membawa beritanya ke muka publik. Kau berkata reputasimu penting" Ucap Soobin, mengulang kembali apa yang pria itu katakan kepadanya sebelum semua terjadi.
"Tapi Kamal tidak memperkosa perempuan itu sampai rektumnya terluka! Dan kau— Ah, keparat." Tuan Huening menghisap cerutunya lagi, lebih sering dan lebih banyak asap yang keluar. Hatinya sangat gelisah, sangat marah, sangat malu dan sangat menyesal. Akan tetapi, semua sudah terjadi, atas kesepakatannya. Ia tak bisa mengelak.
"Kau harus tenangkan dirimu, Tuan Huening. Semua ini sesuai kesepakatan kita bersama pihak korban." Timpal Soobin, seakan sengaja menabur garam pada situasi yang sudah perih. Pria itu mencengkram cerutunya kesal.
"Akan lebih baik jika kau hanya menghajar Kamal sampai ia hampir mati, kau tahu? Memperkosanya bukan sesuatu yang aku duga, kau lebih rendah dari anjing di musim kawin." Maki Tuan Huening tanpa ragu, ia sudah kepalang kesal dengan Soobin dan kelakuannya. Lagi, si jangkung tetap terlihat tenang.
"Hanya dihajar tidak seganjar dengan semuanya, Tuan Huening." Sambung Soobin langsung. Ingin sekali mengamuk, tapi Tuan Huening merasa itu pasti tak akan berpengaruh apa-apa.
"Kau gila. Kau benar-benar gila, aku heran kenapa kau bisa lolos psikotes kepolisian, Soobin." Celoteh pedas pria itu sambil menabur abu cerutu di asbaknya.
"Semoga lekas sembuh untuk Kamal." Ucapan yang tulus dari Soobin itu nyaris membuat Tuan Huening membuka laci, mengambil pistol dan menembaknya mati dia di tempat. Sungguh kurang ajar. Tapi, ia sekuat tenaga menahan diri. Ucapan baik itu bagaikan belati ke luka yang masih segar baginya.
"Enyahlah kau dari hadapanku, keparat." Titah pria itu, sudah tak sanggup melangsungkan pembicaraan lain dengannya.
"Baik, aku permisi, Tuan Huening." Soobin membungkuk penuh kepadanya, sebelum berbalik dan melangkah pergi dari ruangan tersebut. Ia meninggalkan Tuan Huening dengan dampak yang hebat.

Soobin berjalan di lorong yang kosong itu, diiringi hati yang bermekaran seperti bunga harum, begitu bangga akan perbuatannya. Ketika hendak menuruni tangga dari rumah megah tersebut, mata Soobin menangkap sebuah foto besar yang terpajang di dinding. Foto keluarga Huening, dimana Kamal terlihat sangat sombong dengan ekspresi khasnya. Seringai Soobin membentuk di bibir, ia menuruni tangga itu sambil membelai pegangannya. Sampai di bawah, ia melesat keluar untuk masuk ke mobilnya dan pergi meninggalkan kediaman keluarga besar Huening.

Si jangkung singgah kesana, hanya untuk mengantarkan hasil dan laporan dari tugas yang ia selesaikan, setelah satu bulan lewat. Setelah kejadian malam dimana Kamal ia berikan hukuman, Soobin dilarang muncul di hadapan Huening sekeluarga. Tentu, mereka terkejut melihat kondisi Kamal yang mengerikan tapi masih hidup, maka dari itu, mereka tak ingin bertemu Soobin sementara dan hanya ingin fokus kepada si pirang. Lewat dari satu bulan, barulah Soobin diminta untuk bertemu dengan Tuan Huening secara pribadi. Permintaan itu, sekaligus untuk mengetahui apa saja yang Soobin lakukan kepada Kamal. Itulah yang terjadi barusan, Tuan Huening telah menyaksikan semuanya.

Kini, ekspresi sombong tidak akan pernah bisa terlukiskan di wajah si pirang itu lagi, mungkin seumur hidupnya. Pada malam usai kejadian, Kamal dirawat di rumah sakit ternama di Korea, lalu ditempatkan di ruangan khusus. Lebih dari satu dokter dikerahkan untuk mengobatinya, karena luka di tubuh Kamal sangat parah, ia juga kehabisan banyak cairan. Ketika sadar di rumah sakit dalam keadaan penuh perban atau jahit, terpasang infus dan monitor detak jantung, Kamal mengamuk ketakutan. Perawat terpaksa menyuntiknya dengan obat penenang, sampai ia pingsan di ranjangnya.

Namun, ketika ia kembali sadarkan diri, Kamal tetap mengamuk takut dan menangis bahkan hampir merobek infus di tangan. Hal itu sempat berulang, sampai akhirnya pihak rumah sakit sadar, bahwa Kamal takut melihat seorang pria di sekitarnya. Penemuan itu membuat pihak rumah sakit hanya mengutus dokter dan perawat wanita untuk mengurusnya. Psikolog dan psikiater dikerahkan kepada Kamal, ia di diagnosa terkena gangguan stres pasca-trauma yang cukup parah dan gangguan halusinasi. Si pirang mulai berhenti berkomunikasi hampir seluruhnya kepada orang lain.

Keluarga Huening memutuskan bahwa akan baik bagi Kamal jika ia dipindahkan ke tempat yang lebih dari Korea. Karena, memang, trauma yang terbentuk berada dan berasal dari negara itu, lalu, tidak ada kemajuan disana. Kamal diterbangkan ke negara Swiss dan dimasukan ke pusat rehabilitas kesehatan mental terbaik yang tersedia. Kamal membaik perlahan dengan sendirinya, tapi masih tertutup pada komunikasi verbal. Penganiayaan dan pemerkosaan brutal itu berdampak besar padanya, merubah hidup Kamal sepenuhnya. Dari seorang anak muda yang pembuat onar dan tak berempati, menjadi seseorang yang hidup dalam rasa takut dan dihantui masa lalu.

Ketika mobilnya berhenti di lampu merah, Soobin memutuskan untuk membuka ponselnya sejenak sambil menunggu. Jarinya bergerak cepat membalas pesan dan surel penting dari pekerjaan. Tetiba, saat hendak mengirim foto sebuah laporan yang ia simpan, sekilas Soobin melihat foto yang tidak familiar. Si jangkung memilih foto itu untuk dilihat, foto Kamal setelah kejadian malam tersebut, bersama kondisi yang mengerikan. Soobin tetap menyimpan foto itu, ia tak berniat menghapusnya sama sekali. Diam-diam, Soobin sering menggunakan foto itu sebagai bahan mastrubasinya. Bahkan saat sedang bercinta dengan orang lain, Soobin teringat akan foto itu.

Ah, Soobin benar-benar tahu bahwa Kamal memang tidak bisa tergantikan oleh siapapun. Lampu berubah menjadi hijau, mobil itu kembali melaju di jalanan yang tidak terlalu ramai pada siang ini. Soobin tidak punya jadwal pekerjaan setelahnya, jadi ia perlu pulang ke rumah untuk membereskan pakaian dan menyumpalnya ke dalam koper. Malam itu, ada jadwal keberangkatan menggunakan pesawat, ia tidak boleh terlambat dan harus mempersiapkan semua barang secara matang. Si jangkung melirik ke arah kertas yang ada di dasbor mobilnya itu, sebuah tiket pesawat kelas pertama, untuk satu orang, menuju ke Swiss. Soobin melajukan mobilnya lebih lagi, tak sabar ingin segera pulang ke rumah, tak sabar ingin menjadi hantu bagi Kamal.