Work Text:
“Kamu coba, deh, kalem sedikit. Kayak si Seungmin, tuh, ‘kan kalem; cool. Enak dilihatnya.”
“Kalem, cool,” Jisung merotasikan mata kala ia mengingat lagi keluhan Hyunjin di rumah tadi. Sejak kedatangan pasangan baru yang menempati rumah di sebelah miliknya, sepertinya agenda sehari-hari beta kesayangannya adalah membandingkan suaminya dengan Seungmin. “Semoga dia nggak ada di taman,” gerutu Jisung seiring langkahnya menghampiri taman langganan.
Kata orang, ketika kita mengharapkan sesuatu, biasanya yang terjadi justru adalah sebaliknya — dan sialnya, itulah yang terjadi padanya saat ini.
Jisung memasuki lahan taman dengan agak ogah-ogahan, berniat tak menyapa Seungmin dan langsung duduk di ayunan sebelah —
“Astaga! Darah! Ya Tuhan, Seungmin, darah!” pekiknya panik ketika Seungmin menengadah lantaran mendengar langkah seseorang mendekat. Darah benar-benar mengalir keluar dari lubang hidung pemuda itu — tidak banyak, memang, tapi tetap saja layak untuk membuat Jisung panik.
“Eh, nggak apa-apa, kok, Ji. Santai — udah biasa — ”
“Udah biasa?! Lo punya penyakit? Kok nggak pernah kasih tahu gue!” seru Jisung, masih sama paniknya. “Astaga, repot kalau lo mati di sini! Jeongin, Jeongin — kita perlu pang — ”
“Ji, duduk dulu. Gue nggak apa-apa.”
Jisung menatapnya sangsi. “Lo… beneran… nggak mau bilang Jeongin?”
“Jeongin tahu, kok.”
Mata alpha yang lebih tua membulat, antara kaget dan heran. “Terus… oh! Lo nggak mau bikin dia panik atau khawatir?”
“Dia nggak bakal khawatir — panik dikit sih iya. Tapi nggak bakal sampe khawatir, kecuali udah terlalu banyak,” kata Seungmin kalem sambil menyeka darahnya dengan tisu.
“… Lo nggak disayang Jeongin, ya? Pernikahan kalian selama ini… hubungan kalian yang kelihatan kecintaan banget itu… palsu?”
Seungmin mendelik padanya. “Dapet kesimpulan begitu dari mana, sih? Bukan.”
“Oh… terus?”
“Dia malah sebel kalau gue begini,” kekeh Seungmin.
“Astaga… Seungmin, lo sakit, tapi omega lo… Ya Tuhan, kok lo nggak pernah cerita soal masalah ini ke gue? Kalau gue tahu… harusnya dia nggak…”
Seungmin menoleh padanya dan mengernyit heran. “Kenapa lebay banget, sih?”
Jisung mengerjap. “Boy, hello! Lo mimisan, dan menurut lo, reaksi gue lebay? Justru Jeongin yang aneh — masa suaminya mimisan, dia malah sebel!”
Alpha yang lebih muda menghela napas panjang dan berdecak. “Coba lo tanya dulu, kenapa gue sampai bisa mimisan.”
“Eh… kecapekan kerja, mungkin?”
“Tanya.”
“Kenapa lo bisa sampai mimisa — Seungmin, darah! Darah!”
Seungmin menyeka darahnya lagi, tapi kali ini seulas senyum mekar di bibirnya dengan konyol.
“Anjir, kok malah senyam-senyum?!”
“Jeongin…” Seungmin menghela napas berkali-kali, lalu membenamkan kepalanya dalam telapak tangan. “Jeongin kirim foto.”
“Terus? Apa hubungannya sama gue?! ‘Kan gue tanya kenapa lo bisa sampai mimisan… oh.” Jisung mengerjap, tiba-tiba tampak paham.
Seungmin mengangguk, mengiyakan pemahaman itu. “Jeongin kirim foto tadi, dan setiap gue inget — gue — ”
Darah keluar lagi dari salah satu lubang hidungnya, membuat Jisung menatapnya horor. “Lo… cabul banget, nggak, sih?”
Kalimat yang agak terdengar seperti hinaan itu sama sekali tak memudarkan senyum yang bermain di wajahnya. “Jeongin kirim foto… lucu banget… manis banget… bisa gila… dia pakai…”
Lalu Seungmin mengerjap dan mendelik padanya.
“Apa?”
“Kenapa gue harus kasih tahu apa yang Jeongin pakai ke lo? Nggak mau! Jeongin punya gue!”
“Siapa juga yang mau tahu!” tandas Jisung sebal. “Aneh. Pantes — tumben-tumbenan lo nggak ngerokok.”
“Oh — kalau masih ada, harusnya sih gue nggak mimisan separah ini. Tapi habis — gue juga nggak nyangka Jeongin tiba-tiba — inilah kenapa gue nggak langsung pulang ke rumah… Gue — ”
Jisung meringis ngeri saat Seungmin tiba-tiba berteriak. Orang gila. Orang gila!
“Laki gue cakep banget, Ji!”
“Eh… oh… iya.”
“Oh… omong-omong kenapa lo ke sini?”
Jisung menengadah, lalu menghela napas. “Biasalah. Si Hyunjin — anjir! Gue sebel banget sama lo!”
“Hah?” kata Seungmin bingung. “Hyunjin — terus gue? Kenapa?”
“Lo tahu Hyunjin bilang apa?” Melihat Seungmin menggeleng, Jisung meneruskan, “Katanya gue harusnya jadi kayak lo: kalem, cool — ha! Cabul, kali!”
Seungmin meringis. “Eh, jangan kenceng-kenceng, kali, Ji…”
“Jangan sok keren di depan suami orang!”
“Mana pernah gue begitu! Gue cuma sok keren di depan Jeongin, kok! Eh — tapi Jeongin selalu bilang kalau gue keren; berarti gue nggak sok keren, ya? Jeongin — Jeongin — ”
Dan Seungmin sekali lagi berteriak setelah membenamkan wajahnya di telapak tangan, membuat Jisung ingin cepat-cepat kabur dari sana. ORANG GILA!
“Tapi, ya,” kata Jisung, menekan keinginannya untuk meninggalkan Seungmin sendirian, “Kenapa, deh, Seung — lo bisa se… gila itu sama Jeongin? Maksud gue, yah… waktu awal nikah, gue sama Hyunjin juga isinya manis-manisan aja, sih. Cuma…” Dia mengangkat bahu dengan lemah, “… beginilah pernikahan. Gimana, ya, biar rukun terus?”
“Ya… nurut?”
“Nurut?”
“Nurut,” angguk Seungmin. “Lo ngebantah terus, nggak, kalau Hyunjin marah-marah?”
“Iya, lah!” kata Jisung, meski setelahnya dia tampak agak malu. “Maksudnya, er… gue ‘kan sebel kalau dituding melulu. Memangnya lo nggak begitu?”
“Gue jarang berantem sama Jeongin.”
“Oh, ya? Kok bisa?”
Seungmin mengangkat bahu. “Gue suka ngikutin semua keputusan dia — jadi kami nggak berantem.”
Jisung mengernyitkan kening. “Tapi, bukannya kalau lo iya-iya aja terus, lama-lama bisa jadi masalah juga?”
“Oh, iya, kah? Nggak tahu, belum kepikiran,” kata Seungmin, kembali mengangkat bahu. “Tapi Jeongin aman aja, kok.”
Alpha yang lebih tua menimang-nimang sebentar, lalu dia putuskan untuk mengatakan hal yang ada di pikirannya, “Menurut gue, ya, Seung… kalau ngelihat lo sekarang, tuh… lo kayak… er, jangan tersinggung, ya. Ini ‘kan sudut pandang gue, nih, sebagai orang yang agak baru kenal…”
Seungmin mengangguk. “Bilang aja.”
“Lo kayak… sebelumnya maaf banget, nih, maaf… gue juga dulu bucin banget, kok, sama Hyunjin — sampai sekarang malah! Cuma dia yang paling gue cinta.”
“Jadi intinya apa, sih?” tanya Seungmin, mulai jemu.
Jisung menghela napas gusar. “Daripada sekedar bucin — budak cinta, lo tuh sepenuhnya kayak budaknya Jeongin!” katanya terus terang.
Ia kira Seungmin akan tersinggung atau marah, tapi alih-alih bertindak begitu, alpha yang lebih muda justru menatapnya dengan mata berbinar seakan baru mendapat pencerahan. “Astaga! Budak! Kok gue belum pernah kepikiran, ya!”
“… Lo nggak… marah?”
Seungmin menggeleng-geleng bak anjing mengeringkan bulu-bulunya saat kehujanan. “Gue mau banget jadi budaknya Jeongin!” katanya antusias. “Apa habis ini gue beli rantai sama borgol, ya — gila, ide bagus! Ji, makasih!”
Jisung hanya bisa melongo saat alpha yang lebih muda mengemasi barang-barangnya sambil bersenandung. Dia masih melongo saat Seungmin tahu-tahu sudah ada di area luar taman, melambai padanya dengan keriangan yang tidak dibuat-buat.
“Orang-orang di dunia ini… udah gila semua, kah?”
