Work Text:
Perusahaan swasta yang sudah menaungi Jaemin selama beberapa tahun terakhir ini memang sudah sering kedatangan karyawan baru. Sebagian datang untuk magang selama beberapa minggu hingga bulan, sebagian datang untuk menjadi management trainee yang nantinya akan ditempatkan di beberapa cabang yang berbeda, atau bahkan sebagian datang menjadi karyawan kontrak hingga tetap. Jaemin sudah terbiasa melihat wajah-wajah baru mereka-mereka yang lebih muda beberapa tahun darinya, melihat mereka silih berganti dari satu ke satu lainnya.
“Nama saya Jeno, dan saya salah satu karyawan yang masih dalam tahap probation tiga bulan kedepan, Pak Jaemin.”
Meski begitu, ini kali pertama bagi Jaemin menatap salah satu karyawannya lebih lama dari yang seharusnya.
Rambutnya ditata rapi ke atas dengan bantuan pomade hingga terlihat mengkilap, matanya yang sipit dan menghilang ketika tersenyum itu pun ditutupi oleh kacamata dengan bingkai yang cukup tebal. Bentuk wajah yang tegas dengan hidung bangir dilengkapi tulang hidung yang tinggi dan besar itu menahan bingkai kacamatanya dengan baik. Bibirnya tipis, dan tubuhnya terlihat sangat pas di balik balutan pakaian kerjanya. Pinggangnya sangat kecil meski pundaknya lebar. Perfect. He looks like a nerd, a HOT nerd.
Jaemin tidak mendengarkan perkenalan dua karyawan lainnya karena adanya kehadiran Jeno di depannya. Tangannya menengadah meminta map berisikan CV para karyawan baru, lalu meminta mereka keluar dan kembali bekerja lagi.
“Not bad.” Jaemin tersenyum setelah memisahkan CV Jeno dan memasukkannya ke dalam laci kerjanya.
Jeno yang baru saja keluar dari ruangan kerja Jaemin bersama dua teman barunya pun merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Kakinya merapat tepat ketika ia kembali duduk di kursi kerjanya. Beruntungnya ia mendapatkan tempat duduk yang menghadap ke arah ruang kerja direktur divisnya itu. Di balik wajah tegasnya, Jeno menahan senyumnya. Jaemin terlalu menawan untuk tidak mendapatkan perhatian lebih darinya. Tidak sedikit dari para karyawan yang menyimpan rasa tertarik untuk Jaemin, dan kini, Jeno menjadi salah satunya.
Bagaimana tidak? Laki-laki yang mungkin saja sepuluh tahun lebih tua darinya itu memiliki wajah yang tampan, kulitnya putih bersih, bulu matanya terlihat lentik meski ditatap dari jarak yang cukup jauh, bahunya sangat lebar, dadanya bidang, sangat bidang sampai-sampai Jeno kesulitan untuk mengalihkan pandangannya dari dada Jaemin. Jeno menghela nafasnya, berusaha kembali fokus pada data-data yang perlu diminta oleh atasannya.
Memiliki ruang kerja dengan kaca besar yang menghadap ke ruangan kerja bawahannya akhirnya bisa Jaemin nikmati setelah bertahun-tahun bekerja dalam ruangan ini. Biasanya Jaemin memilih untuk menutup kaca itu dengan roller blind, dan kali ini, ia lebih memilih untuk membukanya. Kaca ini memang hanya bekerja satu arah, sehingga Jaemin bisa memantau karyawannya, dan tidak ada yang bisa melihat pergerakan Jaemin dari luar sana.
Jaemin terkekeh pelan mendapati Jeno yang terus melirik ke arah ruangannya. Rupanya, gayung itu bersambut. Bukan hanya Jaemin yang merasa, mungkin si brondong cupu yang tampan itu juga sama tertariknya.
“I’ll fuck him or let him fuck me, i think i win either ways. Let’s just make this more fun, shall we, Jeno Mahendra?”
Hari-hari berikutnya, Jeno tanpa sadar selalu merapikan rambut dan kacamatanya setiap kali jam menuju ke angka 10 pagi. Biasanya, direkturnya yang kelewat tampan itu akan datang ke kantor dengan asistennya. Jika beruntung, Jeno mungkin akan bertatapan dengan Jaemin ketika mereka tidak sengaja berpapasan saat Jaemin datang dan Jeno baru saja kembali dari mengisi air mineral di gelasnya. Jeno menunduk menyapa, dan Jaemin tersenyum kecil sebelum meninggalkan Jeno yang kegirangan dengan interaksi kecil yang tak sengaja ia ciptakan.
Lain halnya dengan Jaemin, ia tentu sadar, si brondong itu berusaha mencari interaksi kecil dengannya. Maka dengan sengaja, ia masukkan nama Jeno ke dalam tim yang akan ia bawa untuk pergi ke project-project besar yang akan ia kerjakan.
Terlibat langsung dalam satu project yang sama tentu membuat Jaemin memiliki banyak kesempatan untuk memiliki interaksi lebih dengan brondong culunnya yang selalu tampil rapi, dan panas. Jaemin seringkali sengaja meminta Jeno untuk mengerjakan beberapa pekerjaan ringan, membuat laki-laki berusia dua puluh dua tahun itu keluar masuk dari ruangannya.
“Ini untuk update progres laporannya, Pak.”
Jaemin tak langsung mengambil lembaran laporan itu, ia lebih memilih untuk menjauhkan kursi dari mejanya, bergeser sedikit dan memanggil Jeno untuk mendekat.
“Coba jelasin ke saya progres laporan dan revisi yang kamu kerjakan.”
Jeno merapikan letak kacamata tebalnya sebelum berjalan mendekat, matanya tanpa sengaja tertuju pada dada Jaemin yang terlihat lebih besar dari sebelumnya. 'Godain gua ya, pake kemeja ngetat gini?' pikiran kotor Jeno rasanya begitu susah untuk ditahan ketika ia akhirnya berdiri di samping Jaemin. Wanginya yang lembut dan sopan dengan kerlingan mata yang rasanya menggoda seluruh kewarasan Jeno, membuat materi pekerjaannya yang harusnya bisa Jeno jelaskan dengan tegas, jadi ia jelaskan dengan perlahan dan kesulitan untuk lebih fokus.
Jangan salahkan Jeno jika ia hanya terus berfokus pada kancing yang hampir terlepas karena dada direkturnya yang sangat besar. Bukan salah Jeno juga jika celananya kini terasa sesak hanya karena menghirup wangi atasannya yang terkesan sengaja menggodanya. Jaemin terkekeh.
“Nggak bisa fokus, Jen?”
Jeno yang dipotong di tengah ucapannya yang terbata pun menghela napas. Sementara Jaemin berdiri dan mendekatkan diri ke bawahannya.
“Sange, ya?” Jaemin meremas kemaluan Jeno yang sudah menggembung besar di balik celana kerjanya.
“Pak!” Jeno sedikit menyentak, kakinya melangkah mundur dengan kedua tangan yang mengepal kencang hingga urat-urat di tangannya menyembul dan menarik perhatian Jaemin lebih jauh lagi.
“Why? Are you mad?” Jaemin melangkah mendekat, sengaja memojokkan bawahannya yang sering kali melirik dada dan bibirnya berulang.
“Kok diem?” Kali ini salah satu kaki Jaemin berada di tengah kaki Jeno, sedikit demi sedikit ia melangkah hingga Jeno bersandar ke lemari meja di sisi ruangan. Mata Jeno menatap Jaemin was-was.
“Pak, jangan kelewatan!” nadanya cukup mengancam, tapi Jaemin justru tersenyum.
“Oh, am I?” Kali ini lututnya sedikit terangkat, lalu menekan hingga Jeno mendesis dan menahan lutut atasannya yang dengan sengaja menekan kemaluannya.
“What are you gonna do, Jeno? Kamu mau apa kalau saya kelewatan?” Mata Jaemin berkedip cantik dengan jarak mereka yang kelewat dekat. Tangan Jeno yang mengepal di samping tubuhnya sudah bersusah payah menahan diri untuk tidak mencekik atasannya hingga memohon ampun.
“I know you.”
Alis tebal Jeno mengerut bingung ketika Jaemin berucap sambil menggerakkan satu jarinya mengambang dari pundak hingga pergelangan tangannya. Tiba-tiba tangan Jeno ditarik menyentuh dada Jaemin, dibuat meraba dari kanan ke kiri. Bibir Jaemin membentuk senyuman puas ketika merasakan tangan Jeno yang dengan refleks meremas dadanya ketika ia membawa tangan itu menggerayangi dadanya sendiri.
“I know you like this. You keep staring like you want to eat me.”
“I want–.”
Jaemin tersenyum.
“But you can not.”
Jaemin lantas bergerak mundur, melepaskan tangan dan menjauhkan lututnya dari kemaluan Jeno yang sudah menegang sempurna. He smiles.
“And you won't use the bathroom, stay here, work on your project report. I have a zoom meeting and I need you to stay quiet.”
Jeno ingin memaki, menampar, atau bahkan menggauli lelaki yang kini tertawa selagi membuka laptopnya hingga ia tak bisa berjalan! Jaemin mengabaikan Jeno dan ereksinya yang sengaja ia pancing dengan tingkah dan sentuhannya.
“Bangsat!”
Tersiksa sudah pasti, dan buruknya, Jeno malah semakin terangsang dengan permainan ini. He likes it too much, and it hurts. Mungkin jika sekarang Jeno membuka celananya, kedua bola kembarnya sudah membiru.
“Tebakan saya bener ya, hidung kamu yang besar itu nggak ngebohongin saya kalau kontol kamu juga besar.” Jaemin tersenyum sambil menatap Jeno yang masih duduk di hadapannya. Laki-laki muda itu menatap Jaemin dari balik kacamatanya. Ada tatapan mengejek yang dirasakan Jaemin dari si brondong tampan di depannya.
“You won’t get that dick, tho, Pak Jaemin.”
Jaemin tertawa lepas. “Why? Kamu nggak mau ngewein saya?”
Bibir Jeno rasanya cukup kering menghadapi atasan gilanya, ia menjilat bibirnya, dan itu sudah cukup untuk membuat Jaemin terkekeh dan salah paham. “Oh, look at you. Bilangnya nggak mau kasih kontol kamu. Tapi tetep jilat bibir dan liatin dada saya.”
Oh. Mata Jeno memang masih susah lepas dari dada besar atasannya. Ya bagaimana? ia bahkan sudah meremasnya, dan bayangan ia menghisap puting atasannya sampai membiru itu sudah terus berputar di kepalanya sejak siang tadi.
“It’s not my fault, you wear that slutty shirt, and you expect me to not look at your tits, sir?”
Kini Jaemin yang menelan ludahnya, ia yang masih duduk di kursinya pun kini merapatkan kaki, saling bertumpu hingga kemaluan dan analnya bisa sedikit mendapatkan gesekan. Jeno sadar pergerakan itu, bibir tipisnya tersenyum.
“Gatel ya, Pak, lubangnya? You won’t get fucked tonight, so may use your dildo at home and send me the footage, ya Pak?”
Jam pulang akhirnya tiba ketika mereka masih saling menyerang, Jeno tak butuh untuk diizinkan keluar dari ruangan Jaemin, dan meskipun rasa tak nyaman dari kemaluannya masih menguasai, tapi Jeno cukup tau diri di depan asisten Jaemin—yang baru saja memasuki ruangan, untuk berterimakasih pada atasannya itu. Seolah Jeno tidak baru saja terbebas dari siksaan atasannya, dan membalas ucapan gila lelaki itu tanpa banyak berpikir.
Hari-hari setelahnya, hubungan Jeno dan Jaemin semakin berantakan. Saling menggoda dengan tatapan, senyuman, bahkan sentuhan; yang lebih dominan diberikan oleh Jaemin.
Jaemin sudah membayangkan bagaimana ia akan dibuat kacau oleh bawahannya yang sudah cukup sering mengatainya pelacur; setiap kali Jaemin menggoda dan menyentuh kemaluan Jeno dari balik celananya. Iya, Jeno membiarkan atasannya itu menyentuh gundukan kemaluannya, bukan hanya sekali, tapi berkali-kali selama masa pendekatan mereka, kadang ia berharap Jaemin akan mencium tangannya sendiri setelah menggerayangi selangkangan Jeno. Membaui kejantanannya dan mungkin Jaemin akan langsung berlutut minta dijamah, setidaknya, itulah pikiran kotor Jeno setiap melihat Jaemin, berlutut dan memohon digauli.
Waktu itu kantor sudah sepi, satu persatu daripada penghuni kantor mulai pulang, hingga asisten Jaemin pamit untuk pulang, di sanalah Jeno memasuki ruangan atasannya.
“It tooks you three weeks to asked me to fuck you, huh?”
Jaemin tersenyum, masih menempatkan diri lebih tinggi dari Jeno yang merasa menang karena akhirnya, apa yang ia bayangkan dan mimpikan beberapa minggu terakhir, akhirnya akan terwujud.
“I'll let you enjoy this moment. Siapa tau besok-besok kamu yang desperate dan mohon-mohon untuk dipakai lagi sama saya.” Jeno mendecak, ia berjalan menghampiri kursi atasannya, menekan satu tangannya di kursi Jaemin hingga kursi itu sedikit mundur dan mengayun ke belakang karena beban tubuh keduanya. Jarak wajah mereka menipis, dan Jaemin tidak bergeming meski Jeno terus mempertipis jarak mereka.
“Don't play dominance with me, kamu masih anak lahir kemarin, Jeno.”
Jeno terkekeh, lalu tanpa basa basi ia melumat bibir Jaemin, menggigit dan menjamah mulut atasannya yang selalu punya cara untuk merendahkan dan meremehkannya. Jaemin yang cukup terkejut dengan cumbuan Jeno, sempat kelabakan sebelum ikut menyeimbangkan tempo ciuman Jeno yang sangat… menggairahkan. Jaemin sampai tak sadar mendesah di antara ciuman mereka, melahirkan senyuman kemenangan dari Jeno di sela-sela ciuman yang semakin basah.
Ketika tangan Jeno yang semula menahan pundak Jaemin kini mulai bergerak ingin menyentuh dadanya, Jaemin langsung menahan pergelangan tangan Jeno. Bibirnya menyungging tipis sebelum menggigit kencang bibir bawah brondong tampannya. Tatapan marah tak terima dengan nafas yang ngos-ngosan, bibir yang mengkilap dan sedikit lebih tebal dari biasanya itu membuat Jaemin semakin menggebu untuk bermain dengan brondongnya. Ia berdiri, melangkah hingga dada mereka bersentuhan. Jika dulu Jeno selalu mengambil langkah mundur, kali ini ia dengan berani melangkahkan kakinya maju, berusaha mendorong dan menempatkan kembali Jaemin di posisinya.
They tried to dominate each other. Jaemin with his years of experience, and Jeno with all of his might and gut to make his director submit to him.
Jeno menang dengan tinggi badannya yang lebih tinggi sedikit dari Jaemin, namun, ia kalah dalam pengalaman. Langkahnya langsung terhenti ketika lagi-lagi Jaemin meremas gundukan kemaluannya. Seringai puas jelas tergambar di wajah cantik Jaemin, apalagi ketika Jeno menenggak dan memamerkan jakunnya yang bergerak turun setiap kali Jeno menelan ludahnya karena remasan tangan Jaemin yang memijat kemaluannya dari luar celana kerjanya.
“You can fuck me, but…” Jaemin menekan tubuh Jeno hingga pantat Jeno bersandar di meja kerja Jaemin. Jari lentik si direktur bergerak dari kemaluan, menyentuh ikat pinggang, meraba perut bergaris dan keras milik Jeno, melewati dada hingga jakun Jeno yang kembali bergerak menelan ludahnya. Jaemin tersenyum sebelum tangannya mencengkram leher Jeno, memberikan tekanan hingga wajah tampan brondongnya itu sedikit memerah.
“Ask nicely, Jeno.”
Jaemin menikmati bagaimana mata sipit Jeno membesar, rasa tak terima pada ucapan Jaemin jelas tergambar di wajah tampannya.
“The fuck?” Jeno menyentak tangan Jaemin, mendorong tubuh lelaki yang lebih tua dengan amarah yang jelas menguar. Jeno merasa dipermainkan, bagaimana tidak? Jaemin yang minta disetubuhi, kenapa harus Jeno pula yang meminta Jaemin untuk bersedia disetubuhi olehnya.
“Nggak mau?” Jaemin mengedikkan bahunya, tangannya terlipat di depan dada sebelum melangkah mengelilingi Jeno dengan kedipan centil dan senyuman yang meremehkan. Jeno terganggu dengan senyuman itu, dan ketika jari lentik Jaemin menyentuh dagu dan leher Jeno dengan sensual, tangan Jeno mengepal lebih kencang, menahan diri untuk tidak menanggalkan pakaian Jaemin dengan paksa dan menggaulinya tanpa ampun. Giginya sudah saling bergemeletuk menahan amarah, dan Jaemin cukup puas dengan respon itu.
“Kalau lo nggak mau, nggak apa-apa. You can go home now, adik.” Jaemin menepuk puncak kepala Jeno sambil tersenyum, seolah ia tidak baru saja meremas kontol Jeno dengan sensual beberapa menit yang lalu. Mempermainkan Jeno rasanya menjadi hal yang mudah bagi Jaemin. Karena Jeno kini berusaha keras menahan amarahnya yang menggebu.
‘Fuck, kalau gua mundur, dia bisa aja ngewe sama yang lain. He is evil, and I need to fuck him now or he will never give me a chance again…’
Jeno benar-benar bimbang, di satu sisi, ia merasa Jaemin gila karena memintanya untuk “meminta” diizinkan menyetubuhinya, padahal kenyataannya, Jaemin juga menginginkannya! Tapi jika Jeno tidak menuruti keinginan Jaemin, kesempatan ini mungkin akan lepas begitu saja dari tangannya. Jeno harus menggauli Jaemin malam ini. That's the goal. Jeno bahkan sudah berencana membalas perlakuan Jaemin ketika mereka berhubungan badan nanti.
“Oke…” Jeno akhirnya menjawab dengan suaranya yang serak dengan segala emosinya yang tertahan. Jaemin tersenyum, satu alisnya bergerak naik menunggu lelaki yang lebih muda untuk melanjutkan ucapannya.
“Let me fuck you, please.”
Jeno berucap pelan, tapi cukup untuk Jaemin dengar hingga ia tertawa.
“Apa?”
“Please, let me fuck you.”
Jaemin tersenyum, mereka masih berhadapan dan kini bibir keduanya hanya berjarak beberapa sentimeter. Jaemin is a tease and Jeno tried so hard to keep his hand on himself.
“I’ll fuck you good until you cry and asking for more. I’ll fuck you good until you only see stars on your eyes. I’ll fuck you good until you forgot yourself, and I’ll fuck you so hard you cant walk the next morning, Sir.” Jeno berucap pelan dan penuh penekanan, seolah berbisik di atas bibir atasannya yang kini melebarkan senyumnya. Jaemin memang tidak pernah salah menilai. Biar tampilannya nerd seperti ini, Jeno sepertinya memang benar mahir urusan ranjang. A HOT nerd, indeed.
Jaemin mengangguk, “Let’s see how you prove your words, baby.”
Jeno tidak membutuhkan waktu lebih untuk menekan bibirnya dengan bibir Jaemin yang sudah mengganggunya sejak tadi. Badannya bergerak menekan leher Jaemin, dan sebelum Jaemin menyadari kondisinya, kemejanya sudah terlepas dari tubuhnya, ikat pinggangnya sudah dilempar entah kemana, dan kini tangan Jeno sudah mengangkat tubuh Jaemin untuk duduk di atas meja kerjanya. Ciumannya terlepas, Jaemin mengais nafas dan Jeno melepaskan kacamatanya sebelum kembali menjamah mulut Jaemin yang bibirnya sudah semakin memerah.
Jaemin melenguh ketika tangan dingin Jeno menggerayangi punggung dan dadanya, jemari dingin itu mulai bergerak mengambang di atas dada Jaemin, bermain di atas putingnya sebelum mencubit dan menariknya tanpa belas kasih. Jaemin hampir melepaskan ciuman mereka untuk berteriak kesakitan, tapi segala suara yang Jaemin ciptakan Jeno tekan dengan ciumannya yang semakin dalam. Membalas apa yang pernah Jaemin lakukan padanya, Jeno melebarkan kaki Jaemin dengan menendangnya, menyelipkan kaki di antara kedua paha Jaemin, dan menekan kemaluan Jaemin dengan lututnya.
“Oh, lo punya kontol juga, ya, Mas? Gua kira isinya memek, sampe lo kegatelan dan megang punya gua terus.”
Mas. Jaemin melenguh dengan matanya yang berusaha menatap Jeno yang tersenyum meremehkan ke arahnya. He never knew he likes to be called Mas, di saat-saat seperti ini.
“Just fuck me.”
Jeno tertawa.
“Lepas dulu celananya. Nggak usah lepas dasi sama sepatunya, Mas.”
Jaemin tidak suka disuruh.
“You give me permission to fuck you, dont be a dick lah, Mas. Telanjang aja dulu depan gua.”
Jaemin tetap menuruti pinta Jeno yang hanya berdiri menatapnya menelanjangi diri. It’s humiliating, menurunkan celana kerja dan celana dalamnya sendiri ketika ia mau disetubuhi.
“Oh, a big dick, Mas?” Jeno tertawa. “And you can’t use it?” Jeno menyentil kepala penis Jaemin yang berdiri tegak di antara kakinya yang mengangkang.
“I can fuck- ah!” Jeno menampar penis Jaemin dengan kencang.
“I don’t fuck a bitch who talks back, Mas Jaemin.”
Jaemin langsung mengatupkan bibirnya. Masa bodoh dengan dirinya yang jual mahal di awal sesi ini, lubangnya sudah sangat gatal ingin digauli karyawan barunya yang tampan ini! Biar saja segala egonya ia tekan, yang penting Jaemin harus merasakan penis besar Jeno, hari ini juga!
Jeno menahan senyumnya melihat patuhnya sang direktur yang sudah telanjang di depannya. Ia kembali melangkah, kali ini kedua tangannya bertumpu di meja kerja Jaemin sambil mengukung tubuh yang lebih besar darinya itu. Jeno mencium bibir Jaemin lagi dengan mata keduanya yang sama-sama terpejam. Jaemin menahan desahnya ketika bibir tipis Jeno meninggalkan bibirnya, dan mulai menjamah leher dengan menjilat dan menggigitnya hingga keunguan di berbagai titik.
“Desah aja, Mas. Semua orang juga paham kalau pelacur gila kaya lo, mulutnya berisik.”
Jaemin benar-benar langsung mendesah. Jeno yang selama ini dinilai tidak banyak bicara, lebih banyak diam di antara rekanan kantornya, terlihat culun dibalik kacamata besar dan tebalnya, tapi mulutnya begitu lancar untuk merendahkan Jaemin, selama beberapa minggu terakhir. Jaemin likes it a little too much. Sampai tanpa bisa Jaemin kontrol, penisnya bergerak setiap kali kalimat merendahkan itu keluar dari mulut Jeno.
Jeno tentu menyadarinya. Tapi daripada terus melayani apa yang Jaemin sukai, Jeno lebih memilih untuk menikmati apa yang ada di depan matanya. Rasa frustasi selama berminggu-minggu karena dada montok milik Jaemin ini akhirnya tersalurkan. Jaemin mendesah semakin menggila ketika tubuhnya sampai terdorong berbaring di atas meja, tangan Jeno meremas, memilin, dan menarik putingnya, sementara mulutnya menggigiti kulit dada Jaemin hingga jejak merah keunguan mendominasi kulit dada Jaemin.
Tangan Jaemin yang semula menggaruk punggung Jeno yang masih tertutup kemeja itu akhirnya menyelinap di antara rambut-rambut Jeno yang disisir rapi. Tangannya menjambak kuat ketika gigi Jeno bermain di putingnya dengan kasar. Sakit, tentu, Jaemin berteriak dan menarik rambut Jeno hingga kepala lelaki yang lebih muda itu menjauh dari putingnya yang terasa perih.
“S-sakit… nghhh…”
Jeno tertawa, ia menjauhkan wajahnya dari dada Jaemin yang sudah dipenuhi banyak bercak merah keunguan, ia melepaskan dasinya sendiri, lalu menarik kedua tangan Jaemin dari kepalanya.
“Gua nggak suka, kegiatan gua nyusu diganggu, Mas.”
Jaemin berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari cengkraman Jeno, tapi posisinya yang sudah dibuat lemas dan tenaga Jeno yang mempertahankan makan malamnya hari ini jelas membuat Jaemin kalah dengan tangannya yang kini terikat kuat oleh dasi Jeno. Jeno menahan kedua tangan Jaemin yang terikat ke atas kepala Jaemin, mengikat sisa dasinya ke leher Jaemin.
“Let me have my dinner, slut.”
Jeno lantas menenggelamkan wajahnya lagi di dada Jaemin, menjamah dari kanan ke kiri, menggigit dan menarik puting kecil coklat Jaemin hingga membengkak.
Jaemin kewalahan, tubuhnya begitu lemas meski permainan masih jauh dari kata selesai.
“Oh look at you, drooling like a toddler, Mas.” Jeno yang kini berdiri di antara kaki Jaemin yang dibuat mengangkang pun tertawa sambil memainkan penis Jaemin yang sudah meneteskan pre-cum ke perut berototnya.
“S-shut up!” Jaemin berencana menghempaskan tangan Jeno dari penisnya, namun naas, tangan yang masih terikat ke lehernya itu membuat Jaemin tercekik cukup kencang.
Jeno terkekeh, ia cium pipi atasannya itu sebelum berbisik, “Gua udah boleh masuk ke sini, belum, Mas cantik?”
Mata Jaemin terpejam kuat dengan dadanya yang membusung ketika kuku Jeno menggaruk lubang analnya perlahan dan sedikit mengambang. Kepalanya mengangguk dengan cepat, seolah sebuah kata pun tak bisa keluar dari mulutnya yang kini hanya bisa mendesah dengan garukan jari Jeno di lubang analnya yang mulai merespon dengan gerakan refleks otot analnya yang mengembang dan mengempis.
“Boleh?” Tanya Jeno lagi, kali ini lidahnya ikut menjilat cuping telinga Jaemin hingga si direktur itu menjawab berteriak—sambil mendesah.
“B-boooleehh… ngghhh… masukiinn…”
“Hmm?” Suara rendah Jeno di telinga Jaemin benar-benar meluruhkan kewarasannya.
“Pleaseeehhhh…”
Maka Jeno kabulkan dengan memulainya dari memasukkan tiga jarinya ke dalam mulut Jaemin.
“Basahin dulu jari guanya, Mas.”
Jaemin dengan patuh menjilat tiga jari Jeno, melamut, menjilat, dan akhirnya tersedak ketika Jeno tiba-tiba menekan masuk jarinya hingga menabrak pangkal mulut Jaemin. Mulut yang biasa merendahkan dan meremehkan Jeno selama tiga minggu terakhir itu akhirnya dikuasai tiga jari Jeno, hanya untuk membuat dari itu basah, dan—“Ahhhh!” menekan satu jarinya masuk ke lubang anal Jaemin yang memijat jari Jeno dengan kencang.
“Ngghhh…”
Jeno menarik jarinya keluar masuk, bergerak memutar, ia buat melengkung di dalam, sebelum menambahkan satu jarinya lagi yang sudah mulai kering.
“Ahhhh… ngghhh… lu-lubee…”
Jeno terkekeh, “Nih lube buat lo, Mas.” ia meludah tepat ke lubang anal Jaemin, melihat liurnya yang ditelan lubang anal Jaemin yang mulai melebar, Jeno akhirnya mengerang puas.
“Jangan minta apa yang gak gua kasih. You’ll get what you deserve, Mas, dan itu bukan lube.”
Jaemin mengangguk sebelum kembali memekik ketika tiga jari Jeno akhirnya masuk ke dalam analnya, bergerak cepat melebarkan otot lubang analnya yang terus mengetat memijat tiga jari Jeno.
“nggghhh… ahhh…”
“Enak?”
Jaemin mengangguk.
“Enak nggak, Mas?”
“Ngaaahhhh… e-naakk… ahhh!!”
Jeno dengan sengaja mengurut penis besar Jaemin yang sejak tadi ia abaikan. Responnya memuaskan, tubuh Jaemin langsung mengejang dan menghentak ke atas meja kerjanya, dadanya membusung, badannya berusaha menjauhi stimulus yang berlebihan dari anal dan penisnya yang dipompa bersamaan oleh dua tangan Jeno yang bergerak lihai.
“dahhh!!! aahh… Jen… plis… duhhh…”
Dengan tangan yang terikat, tubuh yang sepenuhnya di bawah kontrol Jeno, Jaemin benar-benar kehilangan kontrol akan tubuhnya, ia hanya bisa mendesah dan berteriak dengan stimulasi yang Jeno berikan pada tubuhnya.
Putih Jaemin mendekat, tubuhnya semakin menggeliat dan matanya hampir juling ketika ejakulasi pertamanya sudah di depan mata hanya dengan dikocok anal dan penisnya oleh jari-jari tangan Jeno. Jaemin sudah mendesah, dan ketika putih itu benar-benar hampir keluar, Jeno menarik jarinya dari anal Jaemin. Melepaskan kocokannya pada penis Jaemin, dan melangkah mundur menjauhi tubuh Jaemin yang langsung kelojotan di atas meja kerjanya.
“AAAHHH!!!”
Putih itu tak pernah sampai. Klimaks yang di depan mata itu tak bisa keluar. Tubuh Jaemin mengejang dengan matanya yang juling sepenuhnya ke atas sebelum ia menangis karena Jeno dengan sengaja mengacaukan pelepasan pertamanya.
“Gua belum make lu, Mas. Masa udah ngecrot duluan?”
It's only 10 PM, and Jaemin is already a mess in his own work desk.
Jeno kembali mengukung tubuh Jaemin, mendekatkan mulutnya ke telinga Jaemin yang sudah merah padam.
“Lo maunya basah apa kering, Mas?”
“Basah… please…”
Jeno tersenyum, bicara dengan Jaemin yang sudah desperate seperti ini ternyata lebih mudah. Ia tak perlu menyuruh Jaemin untuk memohon, Jaemin sudah bicara dengan lembut dan memohon padanya.
“Gua mau pake ludah lu buat jadi lube nya, jadi, make sure you give me enough of spit ya, Mas?”
Di kondisi warasnya, Jaemin pasti akan memaki Jeno, tapi Jaemin ingin segera digauli dan mencapai puncak klimaks secepatnya! Jaemin tak membantah, yang ia lakukan sekarang adalah mengumpulkan air liur di mulutnya, dan menganga dengan patuh meskipun Jeno hanya menatap wajahnya dari dekat.
“Cantik banget Mas kalau lo udah berantakan begini padahal belum diapa-apain.”
Jeno melumat bibir Jaemin, ia benar-benar mengambil liur Jaemin dari mulutnya sebelum berjongkok di depan anal Jaemin, dan memasukkan liur itu ke lubang anal Jaemin yang sudah sedikit longgar dari tiga jarinya. Jaemin mendesah merasakan hangat yang masuk ke tubuhnya, dan itu, air liurnya sendiri.
Jeno melepaskan ikat pinggangnya, melepaskan kaitan celananya sebelum membiarkannya jatuh begitu saja ke lantai. Ia cukup mengocok penisnya sebentar, membasahi batang penisnya dengan ludahnya sendiri. Tangannya menekan kaki Jaemin yang sudah mengangkang sebelum menekan kepala penisnya ke liang senggama Jaemin. Lubang anal yang belum terbuka selebar tebal penis Jeno itu tentu membuat Jaemin menjerit kencang ketika sedikit demi sedikit penis Jeno ditekan masuk ke dalam tubuh Jaemin yang tidak cukup basah! Tubuh yang terbaring di atas meja kerja itu membusung, tangannya yang terikat tanpa sadar juga ditarik hingga lehernya tercekik.
“Ah, fuck!!” Bukan hanya Jaemin yang menggila dengan sensasi tubuhnya yang terbelah dengan besarnya penis Jeno memasuki tubuhnya. Kaki Jeno juga langsung bergetar begitu penisnya akhirnya memasuki anal Jaemin dan dipijat begitu kuat dengan lubangnya yang ternyata masih sangat sempit.
“Aduh anjing enak banget lo, Mas.” Jeno menghentakkan pinggulnya lebih dalam.
“ahhh!”
“Sempit banget Mas, kayak lubang perawan.” Lagi, Jeno hentakkan penisnya hingga masuk sempurna, sampai mata Jaemin memutih dan mulutnya menganga mendesah begitu kencang.
Kata-kata merendahkan dari lelaki yang lebih muda bersahutan dengan desahan yang lama-lama menjadi tangisan keenakan. Suara kulit yang bertumbuk terdengar begitu nyaring di ruang kerja Jaemin yang terasa lebih panas dari biasanya. Meja kerja yang dipenuhi tumpukan map sudah berjatuhan dan basah dengan keringat tubuh direktur mereka.
“Fuck, enak banget.”
Jeno terus menggoyangkan pinggulnya maju dan mundur, sesekali ia putar pinggulnya dan hentak lebih dalam hingga ujung penisnya tercetak di perut bagian bawah Jaemin. Yang digauli hanya bisa mendesah dan menangis keenakan, lubangnya terus meremas penis Jeno yang semakin licin untuk bergerak keluar masuk.
Merasa sedikit bosan dengan posisi Jaemin yang hanya terus berbaring, Jeno akhirnya menarik penisnya keluar dari lubang senggama Jaemin, menarik kaki si direktur hingga turun dari meja kerjanya sebelum kembali menekan tubuh telanjang Jaemin dengan posisi menungging. Jaemin yang tubuhnya diatur tanpa kontrolnya sendiri pun hanya bisa merengek, dan baru kembali mendesah keenakan ketika lubangnya yang kosong kembali digempur penis besar brondongnya.
“Ahh!!” Pekikan Jaemin semakin melengking begitu Jeno menggaulinya dari belakang seperti ini, dadanya yang bertumpu di meja rasanya begitu panas karena terus bergesekan di setiap hentakan pinggul Jeno di analnya. Penisnya yang menggantung pun kini terus bergelayut dan terpental-pental ke meja kerjanya. It hurts, and Jaemin just keeps moaning until his throat dries.
“Fuck, seenak ini make lo, Mas!” satu tangan Jeno mencengkram pinggang Jaemin, satu tangannya yang lain meremas pantat Jaemin sebelum menamparnya cukup keras. Pukulan itu ternyata membuat Jaemin menegakkan kepalanya, tangannya yang masih diikat juga mengepal di belakang lehernya, Jaemin mengerang, dan kembali berteriak ketika Jeno menampar pantatnya lagi.
“Goyang Mas, jangan mau enaknya doang.” titah Jeno yang masih memukuli pantat Jaemin hingga memerah.
Jaemin, yang menungging di atas meja kerjanya, yang tangannya terikat kencang ke lehernya sendiri, yang hanya bisa melihat pantulan mereka di kaca ruangannya, menuruti Jeno untuk ikut menggoyangkan tubuhnya, bergerak mundur dan memutar, sampai desah dan geram keduanya saling bersahutan. Penis panjang dan besar Jeno rasanya terus menggaruk dinding analnya, terus menekan prostatnya, dan mengikis kewarasannya. Penisnya yang menggantung dan terus membentur meja rasanya semakin berat. Mulut Jaemin terus menganga sampai liurnya menetes ke meja, matanya mulai kesulitan untuk fokus, gerakan pinggulnya semakin berantakan, dan ketika Jaemin merasa berat di kemaluannya akan pecah, mulutnya menganga semakin lebar—dan nafasnya tercekat.
Tangan Jeno melingkar di leher tebal Jaemin, menekannya secara tiba-tiba bersamaan dengan satu tangannya yang lain, yang sengaja menutup lubang kencing Jaemin yang hampir saja mengeluarkan pelepasannya.
Suara nafas yang tercekat, tubuh Jaemin yang bergelinjangan, lubang anal yang sangat mengetat, disusul teriakan frustasi Jaemin, mengiringi hentakan pinggul Jeno yang semakin kasar. Geraman frustasi Jaemin pada akhirnya menjadi desah dengan kedua matanya yang juling total ketika merasakan prostatnya ditumbuk sangat kencang dan hangat memenuhi tubuhnya.
“Fuck, enak banget, Mas.” Jeno mendesah tepat di telinga Jaemin yang tubuhnya ditarik mendekat ke dadanya. Tubuh Jaemin yang membusung jelas membuat penis Jeno terasa menusuk jauh lebih dalam. Sementara pelepasan Jaemin kembali digagalkan, Jeno terus menikmati pijatan anal Jaemin yang masih kencang meremas penisnya. Tubuh Jaemin bergetar hebat dengan segala stimulus di tubuhnya dan klimaks yang kembali ditahan paksa oleh brondongnya.
Anal Jaemin rasanya begitu penuh. Penuh dengan penis Jeno yang god knows how thick and long his dick is, dan penuh dengan sperma Jeno yang rasanya tak kunjung berhenti keluar memenuhi analnya.
Tangan Jeno yang semula meremas penis dan leher Jaemin, kini beralih memeluk perut rata Jaemin yang menggembung. Ia tersenyum, tangannya bisa merasakan penisnya sendiri saat ia menekan perut bawah direkturnya. Jaemin merengek kesakitan setiap kali Jeno menekan perutnya, apalagi ketika Jeno duduk di kursi kerja Jaemin tanpa melepaskan penyatuan tubuh mereka. Jaemin menjerit merasakan penis besar Jeno masuk jauh lebih dalam meski penis itu belum kembali ereksi setelah pelepasannya.
Frustasi dengan segala rangsangan di tubuhnya, Jaemin hanya bisa merengek bersandar pada tubuh Jeno yang hanya terkekeh menikmati rasa frustasi Jaemin.
“Lo kurang ajar.” Suara Jaemin sudah sangat serak ketika ia berbisik sambil melirik Jeno yang ada di belakang punggungnya. Tangannya yang terikat di belakang leher membuatnya sulit bergerak untuk menatap si brondong, dan Jaemin tidak menyangka, Jeno akan menggerakkan siku tangan Jaemin ke belakang kepala Jeno, sebelum membubuhkan ciuman ke ketiak Jaemin yang dipenuhi bulu ketiak.
“Besar ya, Mas.”
Jeno mengabaikan ucapan Jaemin, dan memilih untuk memainkan penis Jaemin yang sudah terlihat memerah karena ejakulasinya yang sudah digagalkan dua kali oleh Jeno. Jaemin mendesis ketika Jeno membuatnya duduk mengangkang di atas pangkuan, memainkan penis yang ukurannya memang besar.
“Bisa dipake nggak, Mas?”
Kepala Jaemin menenggak bersandar ke pundak Jeno yang terkekeh meremehkan.
“I can fuck you with it, Jen.”
Ada ancaman halus dari cara Jaemin berbisik di telinganya. Tapi Jeno hanya membalasnya dengan kekehan seolah ucapan Jaemin hanya mimpi bocah ingusan.
“Enak nggak dudukin gua, Mas?”
Tangan Jeno yang masih memainkan penis dan testis Jaemin mulai memberikan remasan pelan, kembali memberikan rangsangan pada penis sensitif yang langsung berdiri tegak.
“Mmhhmm…” Jaemin mulai menahan desahannya.
“Kayanya lo bakalan ngarepin duduk di kontol gua setiap lo duduk di sini ya, Mas?”
“Nghhh…” gerakan tangan Jeno semakin cepat mengocok penis tegang Jaemin.
“Apalagi lo bisa mantau gua dari sini, coba liat ke sana, Mas. Nanti lo bakalan inget gua ngocokin kontol lo, lo dudukin kontol gua, sambil ngeliat gua kerja di sana.”
Satu tangan bergerak mengocok penis Jaemin, satu tangannya lagi, menggerakkan dagu Jaemin, mengarah ke sudut kiri di mana meja kerja Jeno bisa terlihat langsung dari tempat mereka bersenggama saat ini—kursi kerja sang direktur.
“Aaahhh…” Jaemin tak bisa lagi menahan desah, apalagi tubuhnya juga tanpa sadar mengambil kontrol untuk bergerak naik turun, yang ternyata pilihan yang salah karena bukan hanya mengejar gesekan pada penisnya di tangan Jeno, ia melupakan penis Jeno yang masih bersarang di dalam tubuhnya.
“Fuck…” Jeno ikut mendesah keenakan dengan goyangan tubuh Jaemin yang kini bergerak sendiri naik turun di atas pangkuannya dengan tempo cepat. Penisnya yang semula sudah lemas di dalam anal Jaemin, kini kembali ereksi, dengan penisnya yang kembali membesar dan mengeras, Jaemin mendesah semakin gila, gerakannya juga semakin berantakan.
“Ahhh fuck, enak banget goyangannya, Mas. Nggak salah gua sebut lu pelacur selama ini ya Mas?”
“ngaahhh… ahhh”
Bukan hanya memainkan batang penis Jaemin yang sudah basah dengan tetesan pre-cumnya, kini Jeno mulai memainkan kepala penis Jaemin, menggesekkannya dengan telapak tangannya dalam tempo yang cepat. Jaemin berteriak, tubuhnya gelinjangan dengan rangsangan kasar di penisnya dan refleks gerakannya yang menghindar dari telapak tangan Jeno, membuat penis Jeno menekan prostatnya dengan sangat kencang. Mata Jaemin memutih lagi, tubuhnya gemetaran, dan ia menjerit frustasi ketika lagi-lagi Jeno menutup lubang kencingnya.
“Please… pleasee… ngghhhhh aahhh… jen… pleasee…”
He is desperate. He needs to cum.
Penisnya rasanya mau pecah! Tubuh Jaemin masih kelojotan di atas tubuh Jeno, belum selesai respon tubuh Jaemin pada ejakulasi yang digagalkan tadi, Jeno sudah menyelipkan kedua tangannya di bawah lutut Jaemin. Ia menarik lutut Jaemin ke atas, membuatnya mengangkang lebar dan menggerakkan tubuh atletis Jaemin dengan mudahnya. Desah Jaemin memenuhi seisi ruangan, tubuhnya dikontrol naik turun semaunya Jeno di atas penisnya yang dipijat kuat oleh anal Jaemin.
“aahhh… jen… skit… please….ngaaahhhh!!”
Jeno menggeram dengan gerakannya yang semakin menggila mencari nikmat dengan tubuh direkturnya.
“Enak banget pijetan lo, Mas, fuck!!”
Semakin terangsang dengan kenikmatan, Jeno semakin menggila menggauli tubuh telanjang atasannya. Seolah tidak puas pada posisi duduk ditunggangi sang direktur, Jeno dengan mudah berdiri dan mengangkat tubuh Jaemin tanpa melepaskan penyatuan mereka. Jaemin digendong dengan tangan Jeno yang berada di bawah kedua lututnya, berjalan menjauhi meja kerja, sebelum berhenti tepat di depan jendela ruangan kerja Jaemin yang menghadap ke meja kerja Jeno.
“Liat pantulan lo di kaca, Mas. Rusak banget, fuck! cantik banget, ahhhh…”
Jaemin langsung membuang wajahnya ke samping begitu melihat bagaimana kondisi tubuhnya dari pantulan kaca. Desahannya tak bisa ia tahan setiap kali Jeno menghentakkan penisnya lebih dalam. Jaemin tidak punya kontrol atas tubuhnya, belum lagi, dengan dasi yang sudah basah penuh keringat dan sepatu juga kaos kaki yang masih Jaemin kenakan, ia justru merasa jauh lebih telanjang dan memalukan.
Jaemin merengek, tubuhnya gemetar dan terus gelinjangan hingga ikut membuat Jeno mendesah kencang karena anal Jaemin yang terus mengetat dan memijatnya dengan cepat.
“ahhhh”
“ahhh enak mas?”
Jaemin menganggukkan kepalanya, prostatnya terus digempur tanpa ampun, dan penisnya yang mulai membiru terus memuncratkan pre-cum ke perut dan pahanya setiap kali penisnya membentur kulitnya sendiri. Jaemin kewalahan. Matanya yang sayu sudah terus terpejam, dan Jeno yang melihatnya kembali mengubah posisi tubuh Jaemin. It looks too easy to manhandle Jaemin, and Jaemin finds it too hot to handle, he moaned.
Jaemin kini dibuat berdiri, dan Jeno sudah lebih daripada tau untuk langsung melingkarkan tangannya di perut sang direktur. Jaemin tentu tak akan bisa berdiri dengan kondisi hancurnya saat ini. Kaki Jaemin gemetar hebat, tangannya juga masih dalam kondisi diikat, jadi tumpuannya hanyalah lengan Jeno yang melingkar di perut Jaemin. Sengaja sesekali Jeno menekan perut bawah Jaemin hingga penisnya terasa lebih mentok sana-sini, dan semakin mengikis kewarasan Jaemin yang hanya bisa mendesah dengan mulut menganga.
“Ahh… ngahhh… iss…”
Jeno menekan kepala Jaemin ke jendela ruang kerjanya, membuat wajah cantik Jaemin langsung bergesekan dengan kaca selagi tubuhnya digempur tanpa ampun. Satu tangan yang semula berada di pinggang kini menggerayangi dada besar Jaemin, memilin puting yang sudah ia buat bengkak hingga Jaemin menangis di bawah kuasanya.
It’s too much.
Semua rangsangan di tubuhnya yang sudah kewalahan itu tentu membuat rasa berat di kemaluan Jaemin yang sudah membiru semakin terasa sakit ketika rasanya sudah hampir keluar. Kepalanya kopong, ia tak punya ekspektasi apa-apa karena yang tubuhnya inginkan hanyalah pelepasan!! Jaemin terus mendesah, sesekali ia menjerit dan menangis saat Jeno menekan perutnya, atau menyiksa putingnya. Mulutnya yang tak henti bersuara itu juga terus meneteskan liur ke lantai atau bahkan ke kaca jendela kerjanya.
Knowing his boss already gone to this state, Jeno tertawa di tengah desahannya, ia kembali memainkan penis biru Jaemin, mengocoknya cepat sampai si empunya berteriak dan mencoba menghindar. Jeno terus menggauli dan mengocok penis Jaemin, memaksa tubuh gemetar itu untuk lebih cepat mendekati klimaksnya.
Matanya juling, mulutnya menganga, dan peju putih kental itu akhirnya keluar hebat dari penis Jaemin hingga mengotori lantai, tembok, sepatu dan kaos kakinya, bahkan pejunya yang terus muncrat dari penisnya itu sampai mengotori kaca jendela. He comes so hard, and Jeno following spilled everything inside his boss.
“aaahhhh, enak banget anjiiiiing!” Jeno menghentak pinggulnya jauh lebih kuat, menghasilkan jerit melengking dari bossnya yang masih terus memuncratkan lagi pejunya yang tak kunjung habis.
Mata Jaemin masih juling ketika Jeno melepaskan penisnya dari lubang anal Jaemin yang agak membengkak. Mulut Jaemin pun masih menganga ketika Jeno membaringkan tubuh telanjangnya di atas lantai tepat di depan pintu masuk ruang kerja.
“Lo cantik banget, Mas, mode tolol gini.” Jeno yang berjongkok di depan wajah Jaemin, menepukkan penisnya di depan mulut Jaemin. Sebuah ide bersarang di kepalanya, dan ia buru-buru mencari ponselnya sebelum kembali jongkok di depan wajah Jaemin yang masih teler.
“Keluarin lidahnya, Mas.”
Merasa masih di bawah kontrol Jeno, Jaemin dengan patuh menjulurkan lidahnya, menyapa kepala penis Jeno yang masih berlumur peju dari lubang anal Jaemin sendiri.
Click.
Foto pertama yang dengan jelas menampilkan wajah si direktur yang menjulurkan lidahnya di bawah penis karyawan barunya. Jeno tersenyum, sebelum kembali berdiri dan mengambil gambar kondisi Jaemin yang ia geletakkan di atas lantai dengan kondisi kotor.
Click.
Foto kedua dengan kondisi Jaemin yang masih terlihat tolol dan hanya mengenakan sepatu, kaus kaki, dasi di leher, dan dasi yang mengikat tangan ke lehernya. Ada banyak jejak peju di tubuh Jaemin, and it looks beautiful.
Jeno kembali berjongkok di depan kaki Jaemin, kali ini dia menggerakkan kedua kaki Jaemin untuk menekuk dan mengangkang, memamerkan lubang analnya yang agak bengkak dan mengeluarkan peju Jeno dari dalamnya. It looks yummy. Refleks ototnya membuat lubang itu terus meneteskan cairan putih kental keluar dari pantat ke lantai di bawahnya. Jeno menjulurkan jarinya, membersihkan lelehan peju yang keluar dari anal direkturnya, dan memasukkannya kembali ke tempat seharusnya. Semuanya ia abadikan dalam video 30 detik. Berisi lubang anal Jaemin dan Jeno arahkan kamera itu ke wajah Jaemin yang masih kewalahan.
Melihat lubang anal Jaemin yang terus meneteskan pejunya keluar, Jeno menarik paha Jaemin yang mengangkang hingga bersandar ke pundaknya, wajahnya kini berhadapan dengan lubang anal Jaemin yang mengkerut dan mengembang setiap kali terkena hembusan nafas Jeno membuat Jaemin berusaha menghindar; dan sia-sia.
Jaemin melenguh, posisinya benar-benar canggung dengan pusat tubuhnya yang berada di wajah tampan Jeno. Desahannya mengalun ketika hidung bangir Jeno menekan lubang analnya. Jaemin mulai merengek, ketika lidah Jeno mulai bergerak melingkar di lubang analnya.
“ahhh… jen… aaahhh…”
Permainan lidah Jeno di dalam lubang anal Jaemin kembali membangunkan ereksi penis mereka. Jaemin yang sudah kelewat lemas hanya bisa mendesah pasrah menikmati Jeno mengacak lubang analnya yang masih dipenuhi peju.
Jeno tersenyum sambil menikmati kegiatannya, ia menjilati, dan mulai mengambil peju yang didorong keluar dari anal Jaemin. Mengumpulkannya di dalam mulut, sebelum menurunkan paha Jaemin, merangkak ke atas tubuh telanjangnya, dan mencumbu mulut Jaemin yang hanya pasrah menerima. Menerima cumbuan panas Jeno, dan menerima peju yang Jeno lepehkan ke dalam mulut Jaemin.
“Telen dong, Mas. Rasain peju gua dari memek lo.”
Jaemin masih tidak mau menuruti Jeno. Tatapan matanya yang sayu itu merasa tak terima, dan Jeno terkekeh masih dengan posisinya yang berada di atas tubuh Jaemin. Ia merendahkan tubuhnya, ia gesekkan kedua penis mereka. Jaemin menenggak, mendesah begitu kencang dan Jeno langsung mencumbu mulut Jaemin hingga peju miliknya benar-benar ditelan Jaemin tanpa tersisa.
“Fuck, enak mulu lo mas, mau dipake kaya gimana pun. Abis ini mulutnya juga boleh nggak, Mas?”
Jaemin tidak tau obrolan kotor dari mulut Jeno, gesekan penis mereka yang semakin kencang, dan cumbuan mulut Jeno di tubuhnya bisa secepat itu mengantarkan keduanya ke klimaks yang berantakan. Belum puas membuat Jaemin gagal ejakulasi berkali-kali, membuatnya melepaskan ejakulasinya dalam waktu berdekatan, Jeno kembali memainkan penis Jaemin dengan seenaknya. Mengocoknya asal, menggesekkan kepala penisnya dengan telapak tangan, membuat Jaemin menangis dan menjerit mohon ampun, sampai akhirnya, klimaks Jaemin sampai begitu cepat ke atas perutnya.
Belum, belum cukup.
Jeno berdiri, dan kini menginjak penis Jaemin dengan sepatunya. Jaemin menggeram sampai urat-urat di tangan hingga dadanya bermunculan, tubuhnya selalu menghianati Jaemin dengan segala respon terhadap sikap merendahkan yang Jeno lakukan padanya, karena penisnya lagi-lagi ereksi. Lagi-lagi dalam waktu yang cukup singkat, penis yang sudah membiru bekas ejakulasi gagal berkali-kali tadi kembali memuncratkan cairannya. Bukan lagi putih kental. Penis Jaemin kini mengeluarkan cairan kekuningan yang Jeno tunggu-tunggu. Jaemin kencing. Ia mengencingi diri sendiri sambil mendesah dan menghentakkan pinggulnya hingga kencingnya muncrat hingga ke wajahnya sendiri, tubuhnya terlalu oversensitif.
Jeno terkekeh.
Perut Jaemin sangat kotor. Peju Jeno dan Jaemin menyatu di atas perutnya yang juga dipenuhi merah keunguan sisa jejak yang Jeno tinggalkan. Kini, Jaemin juga basah karena dimandikan air kencingnya sendiri. It’s perfect, maka Jeno abadikan semua prosesnya dalam rekaman video di handphonenya.
“Gua kencingin juga, ya, Mas?”
Jaemin yang sudah kepalang tolol itu malah mengangguk. Untung saja Jeno masih merekam, jadi ia punya bukti jika Jaemin juga mengizinkan.
Jeno tidak segan-segan mengencingi Jaemin yang terkapar di lantai, dari kencing di atas penisnya, ke dadanya, sampai akhirnya memandikan wajah cantik Jaemin yang sudah diambang kesadarannya. Mungkin, Jaemin juga tak sadar sudah menelan air kencing Jeno yang sengaja diarahkan ke mulutnya yang menganga.
Jaemin kira, Jeno akan segera membantunya membersihkan diri. Dari posisinya yang sudah tak bertenaga di atas lantai ruang kerjanya, Jaemin memperhatikan Jeno yang mulai membersihkan penisnya sendiri dengan kemeja Jaemin, lalu memakai pakaian dalam dan celana kerjanya lagi.
Jaemin baru sadar, hanya dirinya sendiri yang telanjang bulat. Sementara Jeno bahkan masih mengenakan kemeja kerjanya sampai mereka selesai bersenggama berkali-kali malam ini. Tidak adil. Jaemin ingin memaki, tapi tubuhnya terlalu lelah hingga ia hanya bisa memperhatikan Jeno yang kini duduk di sofa yang ia tarik ke depan Jaemin. Memperhatikan Jaemin yang terkapar di lantai, dari atas sofa milik Jaemin sendiri.
“Nunggu gua urusin lu, ya, Mas?”
Jaemin hanya bisa mengedipkan matanya.
“Gua istirahat dulu ya, Mas.”
Itu adalah ucapan terakhir Jeno yang bisa ia dengar sebelum ia tak sadarkan diri. Jeno terkekeh, ia bersihkan tubuh Jaemin, ia lepaskan ikatan tangannya yang menyisakan merah, sebelum membawa atasannya itu pulang ke apartemennya.
It’s a long night, and Jeno loves every part of it.
Jaemin bangun dalam kondisi tubuhnya yang sudah bersih, berada di dalam pelukan Jeno yang memeluknya posesif.
Jaemin berdeham, mulutnya terlalu kering setelah mendesah dan menjerit sepanjang malam. Memang tidak salah ia menilai Jeno, he know he is HOT, tapi Jaemin tidak menaruh ekspektasi kalau hot nerd ini akan mendominasi dan menyiksanya sepanjang malam seperti tadi malam.
“You are gross, Jeno.”
Mengingat bagaimana Jeno membuatnya menelan peju yang sudah diaduk penis Jeno di dalam lubang analnya, mengingat bagaimana Jeno mengencinginya. Jeno memang sangat kotor!
Jeno terkekeh.
“Tapi, suka kan, Pak?”
Jaemin ikut terkekeh.
“Saya kira mulutmu bakalan tetep nggak sopan kalau udah sadar.”
Jeno menarik tubuh Jaemin untuk dipeluk lebih erat.
“Sadar nggak semua ucapan dan kelakuan kamu semalam kaya apa? Nggak saya lulusin probation kamu, tau rasa.”
Jeno tertawa.
“Kontol saya semalem emang nggak cukup untuk jadi nilai plus, Pak?”
Jaemin yang kepalang lelah hanya mendengus, tubuhnya sakit, dan ketika ia merasakan ada yang berbeda dengan lubang pantatnya, matanya melotot.
“Peju kamu masih belum dikeluarin, ya?!”
Jeno tersenyum sebelum mencium pipi Jaemin.
“Saya sange deh bayangin Pak Jaemin masih nyimpen peju saya semalaman.”
Jaemin langsung mendorong tubuh Jeno menjauh, tapi tentu Jeno dengan mudah kembali mengukung tubuh Jaemin.
“Nggak! Badan saya sakit!”
Bibir Jeno memble, layaknya anak kecil kehilangan permennya, ia merajuk.
“Pakai mulut ya Pak, Bapak cantik banget pasti kalau ngemutin kontol saya. Semalem kan saya belum pake mulut Bapak.”
Jaemin melenguh jengah, tapi ucapan kotor Jeno juga tentu membangunkan penisnya yang kini diduduki Jeno.
“Saya sepongin juga deh, kontol Bapak. Ya?”
Jeno menggesekkan pantatnya di atas penis Jaemin yang perlahan mulai ereksi, Jaemin mendesah sebelum akhirnya kembali terjebak meladeni hormon tinggi Jeno yang tidak cukup untuk keluar sekali di mulutnya.
Jaemin kembali kewalahan dengan wajah penuh peju siang itu, dan Jeno membersihkannya seperti anak baik dengan mulutnya sendiri, sebelum kembali mencumbu mulut Jaemin, memaksa lelaki yang lebih tua menelan peju dari mulutnya, dan kembali tidur siang bersama.
Jeno tidak akan menyangka, hari-hari setelahnya, Jaemin malah bersikap cuek seolah Jeno tidak pernah menggaulinya dengan dahsyat di ruang kerjanya.
Jeno tak terima.
Jeno masih mau lagi.
Jeno mau Jaemin menginginkannya lagi!
"Pak Jaemin-"
Jaemin mengangkat tangannya, mengayunkan tangannya untuk menyuruh Jeno kembali keluar ketika Jeno baru saja membuka pintu ruangannya.
Jeno frustasi! Bagaimana bisa Jaemin tidak menginginkannya lagi?
Dan Jaemin, akan memastikan, that little demon will come to him again, begging like a little dog crying for attention.
