Work Text:
Mulanya pesta perayaan album kedua mereka berjalan dengan baik, ada sedikit canda dan tawa. Martin, Juhoon dan James duduk di barisan depan sementara Keonho dan Seonghyeon di barisan belakang.
Di depan, Martin tiba-tiba tertawa keras sampai Juhoon menepuk bahunya. Beberapa orang ikut bersorak, membuat ruangan kembali riuh. Keonho memanfaatkan momen itu. Jarinya bergeser sedikit, lalu menyelip di antara jari Seonghyeon membuat Seonghyeon menghela napas pelan.
“Berani banget,” gumamnya hampir tak terdengar.
“Aman,” balas Keonho.
“Kalo ada yang liat gimana?”
Keonho menoleh padanya, jarak wajah mereka hanya beberapa puluh sentimeter karena mereka duduk berdekatan.
“Gak ada yang liat, ketutupan bang Martin.”
Seonghyeon menatapnya beberapa detik, seperti menimbang sesuatu. Lalu akhirnya ia mengencangkan genggaman tangannya. Beberapa detik berlalu, Keonho melepas kaitan itu. Tangannya berpindah meraba paha Seonghyeon yang memakai celana di atas lutut. Sentuhan itu datang perlahan, nyaris seperti tidak sengaja. Ujung jari Keonho hanya berhenti di sana beberapa detik, hangat di atas kulit Seonghyeon yang terbuka di bawah ujung celana pendeknya.
Seonghyeon langsung menegang.
Ia tidak menoleh, matanya tetap menghadap ke depan seolah sedang memperhatikan acara. Tapi bahunya naik sedikit saat ia menarik napas.
“Keonho,” bisiknya pelan, hampir seperti peringatan.
Namun tangan itu tidak langsung pergi.
Keonho justru menggeser ibu jarinya sedikit, gerakan kecil yang terasa jelas sekali bagi Seonghyeon meskipun hampir tak terlihat bagi orang lain.
Di depan, James kembali melontarkan sesuatu yang membuat ruangan meledak dengan tawa. Martin sampai menepuk meja, sementara Juhoon bersandar ke kursinya sambil tertawa.
Suasana yang ramai itu membuat sudut tempat mereka duduk terasa seperti dunia kecil yang terpisah.
Seonghyeon akhirnya menoleh sedikit.
Tatapan mereka bertemu.
Keonho terlihat tenang, bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang sedang melakukan sesuatu yang jelas-jelas berisiko.
“Serius Ken,” gumam Seonghyeon pelan. “Lepasin.”
Keonho hanya mengangkat alis tipis.
“Kenapa?”
“Ini di depan kamera.”
“Aku tau.”
“Keonho.”
Alih-alih menjauh, tangannya justru naik sedikit. Tidak jauh, hanya cukup untuk membuat Seonghyeon menarik napas lebih dalam. Seonghyeon langsung menepuk tangan itu cepat di bawah meja. “Jangan aneh-aneh.”
Keonho akhirnya menarik tangannya mundur, tapi senyum kecil muncul di sudut bibirnya.
Beberapa detik mereka kembali duduk diam, menonton orang-orang di depan berbicara.
Lalu tanpa menoleh, Keonho berbisik pelan. “Nanti kita lanjut di kamar, boleh?”
Seonghyeon tidak langsung menjawab.
Matanya masih menghadap ke depan, seolah benar-benar memperhatikan apa yang sedang dibicarakan Martin. Tawa orang-orang kembali pecah, tepuk tangan menyusul, lampu kamera sesekali berkedip dari sisi ruangan.
Tapi rahangnya sedikit mengeras. “Mulai lagi,” gumamnya pelan.
Keonho menahan senyum.
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, mencoba terlihat sama santainya dengan anggota lain yang duduk di belakang. Tangannya sekarang sudah kembali di pangkuannya sendiri, seolah beberapa detik yang lalu tidak terjadi apa-apa.
Seonghyeon akhirnya melirik sekilas ke samping dan menghela napas, “bang, aku cabut duluan ke kamar lah. Ngantuk.”
Seonghyeon berjalan lebih dulu, pergi meninggalkan rekan satu grupnya yang masih ada di siaran kamera. Ia pergi ke dapur untuk mengambil minum sebelum pergi ke kamar. Namun saat ia sedang meneguk air di botol, ia merasa pinggangnya dipeluk dari belakang. Sudah jelas pelakunya Ahn Keonho. Seonghyeon selalu hafal tabiatnya.
Tangan Keonho yang tadinya hanya memeluk dari luar kaos kini bergerak masuk menyelipkan jari-jarinya. Tangannya bergerak liar mengelus perut Seonghyeon. Dan perlahan naik ke dadanya, jari telunjuk Keonho memainkan pentil Seonghyeon. Ditekan, dicubit dan dipilin pentil laki-laki tersebut.
“Ken— hahhh—”
“Sssh… nanti kedengeran yang lain.”
Keonho berucap sambil memberi kecupan basah pada tengkuk Seonghyeon. Tangan kanannya masih tetap memberi stimulasi pada dada Seonghyeon. Dan tangan kirinya turun ke bawah. Jari-jarinya mencari belahan spesial yang ada di tubuh Seonghyeon. Vagina Seonghyeon yang selalu Keonho sukai. Di grup hanya Keonho yang tau kalau Seonghyeon punya vagina molek dan berwarna merah muda.
Dan itu merupakan suatu kebanggaan untuk Keonho.
Jarinya masuk lewat atas celana Seonghyeon. Saat menemukan hal yang ia cari, Keonho menggerakan jari telunjuk dan tengahnya ke atas dan ke bawah pada bibir vagina Seonghyeon yang masih tertutup celana dalam itu. “Kok basah Sen? Suka ya aku cabulin gini?”
“Ken— hnghhh— udah—”
Keonho menyeringai, “udah apa? Kita aja belum mulai.”
Keonho membalikkan tubuh Seonghyeon. Mulai melumat bibirnya. Menggigit bibir bawahnya hingga si empunya memberi celah. Dengan itu, lidahnya melesak masuk. Dua tangan merambat melingkari lehernya, menariknya untuk memperdalam ciuman. Keonho memiringkan kepalanya, memudahkannya untuk melumat lebih dalam. Lenguhan kecil terdengar, membuat deru napasnya meningkat.
“Kita pindah ke kamar ya?”
Tanpa melepas ciumannya, Keonho mendorong menuntun Seonghyeon menuju kamar mereka bersama—bertiga dengan Martin. Lalu ia mendorong bahu Seonghyeon hingga jatuh terbaring di kasur tanpa melepaskan ciuman. Tangannya masuk ke dalam kaos abu yang dikenakan Seonghyeon, mengelus pinggangnya lalu naik ke atas. Ia merasakan sebuah tangan di rambutnya, meremasnya pelan. Jarinya bergesekan dengan puting yang mengeras, desahan tertahan ia telan.
“Ken— pintunya…” Resah Seonghyeon, tapi Keonho tidak peduli. Tidak ada yang akan datang, Keonho yakin.
Keonho melepaskan ciumannya, menatap Seonghyeon dalam keadaan terengah-engah, matanya sayu setengah terbuka. Kemudian ia menegakkan tubuhnya dan menanggalkan kemeja flanel kotak-kotak kebanggaannya, kaos hitamnya ia biarkan. Lalu ia langsung menerjang leher putih itu, menggigitnya kecil-kecil.
“Ken— susah nutupin bekasnya.”
Rengekan itu membuatnya berhenti. Ia mendongak.
“Oke.”
Ia melucuti kaos abu Seonghyeon dan melemparnya asal. Kini telanjang bulat, hanya bagian bawahnya saja yang ditutupi selimut. Namun, itu tidak bertahan lama karena Keonho langsung membuangnya sembarang arah. Ia menunduk dan langsung menangkap puting dada, menggigit dan mengenyotnya. Sedangkan yang satu ia mainkan dengan jari, membuat Seonghyeon menjambak rambutnya. Keonho berpindah untuk memberi perlakuan adil pada puting dada yang satunya.
“Hahhh— Keonho…”
Keonho melepaskan puting itu. Ia membubuhi perut Seonghyeon dengan kecupan, turun ke paha dan memberinya gigitan hingga meninggalkan ruam merah. Tangannya diletakkan di belakang lutut lalu mengangkatnya. Direntangkannya lebar-lebar paha Seonghyeon yang bisa ia lingkari hanya dengan satu tangan. Seonghyeon mengerang, merasa malu. Terus ia cium dan gigit paha dalam Seonghyeon sampai wajahnya berada tepat di depan vagina yang masih basah. Keonho memandangnya dengan lapar, liur sudah berkumpul di dalam mulutnya, sudah siap untuk melahapnya. Ia menghela napas gugup, membuat Seonghyeon berkedut.
Lidah Keonho mulai menyentuh bibirnya yang sudah basah dari tadi, Seonghyeon menarik napas tajam. Keonho menjilat menghindari lubang dan klitorisnya. Sengaja hanya menggodanya. Lidahnya hanya bermain di bibir dan lipatannya saja, mengakibatkan Seonghyeon mengerang frustasi.
“Ken… yang bener— hnghhh…”
“Yang bener gimana? Bilang.” Ucap Keonho tepat di depan vagina Seonghyeon yang membuatnya semakin berkedut karena hembusan napas Keonho.
“Jilat memek aku yang bener Ken…”
Rengekannya membuat Keonho terkekeh. Ia kemudian memusatkan perhatiannya pada lubang Seonghyeon yang menegang dan berkilau dan sangat bocor. Lidahnya menjilat kecil lubang itu, merasa si empunya mengejang dengan napas tertahan. Terus ia jelajahi ke atas, ke atas, ke atas, hingga tiba di klitorisnya. Keonho mengecupnya, sebelum kemudian mengisapnya dengan kencang.
“Hnghhh!”
Kepalanya diapit oleh kedua paha, rambutnya kembali dijambak dengan kasar. Kembali ia jilati klitoris dan lipatannya, bergerak ke bawah. Saat lidahnya meluncur masuk ke dalam lubang, Seonghyeon menjerit seperti kesetanan.
“Kalo kamu gak bisa nahan suara nanti ketauan yang lain.”
“Hahhh— Keonho…”
Keonho terus bergumam, memberikan getaran pada vagina Seonghyeon dan menyebabkan si empunya menggelinjang hebat. Ia menjamah dengan serakah, mengulumnya seperti sedang mengemut permen, mencoba memeras cairan manis yang akan keluar. Saat lidahnya masuk terlampau dalam, Seonghyeon menjepitnya hingga ia rasa lidahnya bisa saja putus.
Pinggul Seonghyeon menggeliat gelisah, ingin merasakan lidah Keonho lebih dalam. Dengan segera, Keonho menahannya dengan kedua tangan agar tetap ajek. Lidah digerakkan dengan gesit, mengisap dan menyedot bak anjing kelaparan. Hidungnya menggesek klitoris Seonghyeon yang sangat sensitif. Cairan putih muncrat, ia reguk dengan cepat. Rambutnya dijenggut kian kuat.
“Ken… Keonho! Hahhh— Aku mau keluar—”
Mendengarnya, Keonho makin semangat mencumbu dan menyesap vaginanya lebih dalam.
“Ken! Tunggu benta— Ahhh!”
Seonghyeon menyemburkan nektarnya yang langsung ia teguk dengan rakus tanpa setetes pun yang tersisa. Keonho menjauhkan paha Seonghyeon dari kepalanya. Terasa sedikit pusing dan mabuk karena cairan Seonghyeon. Ia menatap teman satu grupnya yang sedang bergetar hebat, lalu ia usap keningnya yang penuh peluh.
“Cantik.” Ucapan Keonho membuat Seonghyeon memerah hingga ke leher. Keonho tersenyum.
Sembari menunggu Seonghyeon pulih dari gelombang nikmatnya, Keonho menelusuri lipatan Seonghyeon yang sudah membengkak dengan jari telunjuk dan jari tengahnya, berhasil membuatnya terkesiap.
Tanpa peringatan, kedua jari Keonho melesak masuk ke dalam lubang vagina Seonghyeon. Hanya sepanjang satu ruas jari, ia menunggu reaksi Seonghyeon. Saat dirinya tidak menangkap ekspresi ketidaknyamanan, ia kembali mendorong jarinya kemudian membuat gerakan menggunting.
“Hahhh…”
Keonho memasukkan satu jari lagi ke dalam, mendorong tangannya dengan cepat. Seonghyeon megap-megap. Bola matanya ke belakang. Saat telapak tangan Keonho bergesekan dengan klitorisnya, Seonghyeon mendesah keras sambil melengkungkan punggungnya.
“Sen, kamu berisik banget dari tadi. Nanti yang lain denger,” ucap Keonho tanpa menghentikan gerakan tangannya. Ia mengangkat paha Seonghyeon lebih tinggi untuk disandarkan di bahunya.
“Udah— Ken udah… hnghhh—”
Teriakannya makin menjadi. Vaginanya makin becek. Keonho menyimpulkan bahwa Seonghyeon senang ketika orang lain tahu dirinya sedang melakukan kegiatan cabul. Sebenarnya ia senang-senang saja mendengarnya, ia hanya takut digerebek teman satu grupnya yang lain.
“Kok makin kenceng? Kamu pengen diliat orang lain lagi kayak gini ya Sen? Lagi aku ubek-ubek gini memeknya?”
“Nghhh– enggak…”
“Kamu suka diliat orang lain, makanya desah kenceng gini? Liat muka kamu udah kayak lonte.”
Seonghyeon menggeleng kuat-kuat. “Enggak, Ken…”
Keonho tertawa. Ia kemudian memutar jarinya, mengorek-orek mencari sesuatu.
“Aku— AHHH!”
Dapat.
“Tadi kamu mau ngomong apa, Sen?”
“Nghhh– itu– ahhh!”
Kalimatnya terputus setiap Keonho menumbuk titik itu bertubi-tubi. Matanya terpejam, punggungnya melengkung indah. Tangannya yang gemetar mencengkram bantal erat-erat.
“Apa? Aku nggak denger.”
Seonghyeon tidak bisa menjawab pertanyaannya. Mulutnya sibuk mengeluarkan desah nikmat. Keonho kian menambah temponya. Mengobok-obok Seonghyeon hingga kelojotan, hingga air matanya tumpah ruah, hingga keringat mengucur tiada henti. Rangkaian desah, jerit, dan pekik yang memenuhi ruangan, ia nikmati setiap detiknya. Penisnya yang mengeras di bawah sana bisa ia rasakan.
“Keonho, aku… mau… keluar lagi,” ucapnya terbata-bata.
“Keluarin aja.”
Orgasme kembali melanda tubuh Seonghyeon, kenikmatan itu meledak sekali lagi, membanjiri tangan Keonho. Keonho menarik jari-jarinya keluar, menjilatnya tanpa mau menyia-nyiakan cairan manis itu. Lantas ia lepaskan kaos hitamnya dengan terburu-buru, kemudian menarik resleting celananya. Penisnya berdiri setengah keras, ia mendesah lega karena akhirnya bisa bebas dari celana menyesakkan itu.
“Liat gak? Ini karena memek kamu aku jadi gini.” Keonho menatap Seonghyeon yang sangat kelelahan sedang menggigit bibirnya dan tak mau melepas pandangannya dari penisnya membuat Keonho tertawa.
Netranya menangkap Seonghyeon yang masih menggigit bibirnya. Barangkali Keonho sudah mabuk kepayang sampai-sampai ia memimpikan Seonghyeon melebarkan kakinya sendiri, mempersembahkan lubangnya yang sudah basah kuyup. Keonho mempercepat pompaannya, sudah mengeluarkan cairan sedikit. Akan tetapi, ia berhenti karena tersadar sesuatu.
“Aku gak punya kondom.”
Seonghyeon mengernyitkan dahinya. Sudah sejauh ini dan tiba-tiba Keonho berpikir untuk memakai kondom? Kedua tangannya melebarkan bibir vaginanya, menggoda Keonho agar segera dimasuki olehnya. “Gak apa-apa…”
Keonho tersenyum penuh kemenangan, lalu ia memposisikan ereksinya di depan lubang Seonghyeon, memasukkannya perlahan. Baru kepalanya yang masuk, ia mendongak untuk melihat reaksinya. Seonghyeon memejamkan mata dan menggigit bibirnya, namun, tidak ada tanda-tanda ia merasa kesakitan. Keonho terus bergerak lebih dalam.
Setengahnya sudah masuk saat kedua tangan mencengkram bahunya kuat. “Ahhh!”
Jeritan itu membuat Keonho berhenti. “Sakit?”
Seonghyeon hanya melingkarkan kedua lengannya pada relung bahu Keonho, menariknya mendekat. “Ken… cium…”
Keonho mengabulkannya. Ia lanjut mendorong pinggulnya perlahan. Meski tidak mengatakan apa-apa, Keonho tahu Seonghyeon sedang tegang. Maka tangan kanannya memainkan puting dada Seonghyeon, merangsangnya agar tetap rileks.
Desah rintih teredam dan diganti dengan cakaran di punggungnya. Keonho melepas ciuman dan berdesis pelan. Dengan kuku sepanjang itu Seonghyeon berlagak mau memainkan vaginanya sendiri? Ia tak paham akan pemikirannya.
“Keonho… hahhh…” Air mata kembali menetes membasahi bantal.
Kini ia sudah tertanam penuh di dalam lubang Seonghyeon. Ia membuang napasnya lewat mulut. “Sen, kamu sempit banget, apa harus kita ngewe tiap hari biar lobang kamu longgar?”
Ia mundur untuk memulai permainan, namun terhenti saat Seonghyeon menahannya dengan kaki yang dibelitkan ke pinggang. “Nghhh… jangan gerak dulu…”
Keonho mengelus pinggangnya sambil menciumi wajah Seonghyeon yang penuh air mata dan keringat, tangan satunya ia letakkan di atas bantal, di samping kepala Seonghyeon.
"Sen, coba pegang ini.”
Keonho mengambil satu tangan Seonghyeon dan membawanya ke perut yang—ia ingat betul, sebelumnya masih rata. Namun, sekarang perut itu terdapat sesuatu yang membuatnya agak menonjol.
Dan itu adalah penis Keonho.
"Aku sodok sampe hamil boleh gak?" ucap Keonho sambil tersenyum.
Sial. Keonho rasanya gila karena ucapannya sendiri. Ia harus mencengkram bantal yang dipakai Seonghyeon hingga urat nadinya keluar agar tidak langsung menyetubuhi Seonghyeon hingga hilang akal, atau hingga hamil betulan.
“Aku udah boleh gerak?” Ucap Keonho sambil mengecup lembut dahi Seonghyeon dan di balas anggukan kaku dari Seonghyeon.
Keonho mengecup sekilas bibir Seonghyeon, melepas cengkramannya dan meletakkan kedua tangan pada pinggang ramping Seonghyeon. Ia mundur hingga menyisakan ujungnya, dan kembali mendorong dalam satu hentakan kuat.
“Ahh!” Seonghyeon tidak bisa menahan desahannya karena hentakkan Keonho. Yang ia yakin langsung menggores titik nikmat Seonghyeon.
“Anjing— enak banget Sen… memek kamu ngenyotin kontol aku gini… sempit banget sayang…”
Mata dengan binar bintang membulat, mulut kecilnya menganga, dan punggungnya ia lengkungkan. Tambahan dengan wajahnya yang memerah, air mata merembes dan keringat membuat tubuhnya mengkilap.
Cantik. Eom Seonghyeon benar-benar cantik, apalagi dengan keadaan dicabuli oleh Keonho seperti ini.
Ia kembali mengulangi gerakan, mendapat erangan cabul yang menggema. Bunyi kulit yang beradu menyeruak di dalam ruangan. Keonho membenturkan penisnya dengan brutal, mengenai titik yang membuat Seonghyeon gelagapan. Cengkeraman Seonghyeon di bahu Keonho kian terasa perih. Punggungnya kembali dicakar saat ia menghentak tanpa ampun. Ia sangat yakin itu menghasilkan goresan merah panjang dan ia akan memamerkannya nanti.
Seonghyeon mulai meracau tak jelas. Keonho tidak dapat menangkap satupun kata yang keluar dari mulutnya. Jantungnya berdebar terlalu kuat hingga telinganya berdenging. Namun, ia tahu betul Seonghyeon meneriakkan namanya yang menyatu dengan desahan. Ia terus bergerak, mengejar pelepasannya.
“Sen, aku keluar di dalem boleh?”
“Nghhh—jangan… Nanti–ahh—aku hamil…” Kalimatnya tersendat bersamaan dengan penis Keonho menabrak titik nikmatnya.
“Enggak bakal hamil. Boleh ya?” Keonho merayu Seonghyeon sebisa mungkin, perkataannya berbalik dengan isi hatinya. Ia membayangkan jika Seonghyeon akan mengandung bayinya.
Keonho menghapus air mata yang meleleh di pipi Seonghyeon. Ia senang melihat teman satu grupnya itu merengek, itu menjadi hiburan tersendiri baginya. Seperti saat memohon padanya untuk sekalian dibelikan acai bowl karena anak satu itu malas keluar kamar. Walau begitu, ia akan tetap mendengarkan permintaannya dan membelikannya, walaupun bukan acai bowl karena Seonghyeon sudah empat hari berturut-turut makan itu. Maka dari itu, kini pun ia memutuskan untuk tidak mengeluarkan air maninya di dalam.
Saat ia memundurkan pinggulnya, ingin mengeluarkan penisnya dari lubang hangat Seonghyeon, saat itu juga Seonghyeon melilitkan kakinya pada pinggang Keonho, mendorongnya masuk kembali ke dalam. Ditambah dengan Seonghyeon yang malah mengetatkan dindingnya pada penisnya, membuat Keonho menggertakkan gigi dan memejamkan matanya kuat-kuat.
Anjing.
"Nghhh… jangan dilepas," ucap Seonghyeon sambil merengek.
Keonho menghela napas kasar. "Katanya gak mau aku keluar di dalem." Suaranya bergetar, jelas sudah di ambang batas.
Seonghyeon mengalihkan pandangannya, menatap apapun selain mata Keonho.
“Seonghyeon.” Pinggulnya mulai bergerak lagi dengan perlahan. Seonghyeon masih belum mau menatapnya, kini menggigit bibirnya. Keonho mengelus pipinya. “Mau aku keluar di dalem atau enggak?”
“Enggak mau… Keonho…”
Air mata bertumpuk di pelupuknya, wajahnya luar biasa merah, memelas menatap Keonho, seperti anak kucing tersesat. Keonho mengerahkan seluruh kesadarannya agar tidak keluar saat itu juga. Kemudian Seonghyeon menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Keonho.
“Kalo gak mau, jangan diketatin, sayang.”
Pada panggilan manis itu, Seonghyeon menggigit bahunya dan makin mengencangkan lubangnya. Keonho tercekik napasnya sendiri. Sial, lubang hangat Eom Seonghyeon memang yang terbaik.
“Ken…”
“Seonghyeon, aku nggak bisa gerak.”
“Di dalem aja…”
“Iya, di dalem.”
“Keluar di dalem aja, Ken...”
Keonho bisa meninggal saat ini juga. Ia lalu mengecup kening Seonghyeon lembut. "Iya sayang, aku keluarin di dalem. Sekarang longgarin dikit, ya?”
Saat dirasa dinding itu tidak lagi begitu menjepitnya, ia mengangkat paha Seonghyeon dan menekuknya, kakinya berada di samping kepala Seonghyeon sendiri. Lalu ia kembali memaju mundurkan pinggulnya, mengejar orgasmenya yang tertunda. Dengan posisi ini, ia bisa menjangkau Seonghyeon ke bagian yang lebih dalam.
Di ujung kendalinya, Keonho merapal nama Seonghyeon layaknya mantra. Pikirannya kalut diselimuti kabut gairah. Napasnya kembang kempis, paru-parunya menjerit. Ia menunduk mendapati Seonghyeon dengan ekspresi paling erotis. Mata berkedip cepat setiap kali Keonho menghantam titik itu lagi dan mulutnya sedikit terbuka antara desahan dan menahannya. Benar-benar cabul.
"Keonho…"
Dengan itu, rasa hangat menyelimuti penisnya, ia semakin cepat menggenjot tubuhnya.
"Sayang, aku keluar, ya."
"Iyahhh..."
Keonho menyemburkannya di dalam, memenuhi lubang Seonghyeon dan menyebabkan ia menjerit. Ia kembali merasakan sesuatu mengapitnya lagi. Keonho benar-benar bisa gila sekarang. Ia tersengal-sengal dengan peluh membanjiri tubuhnya yang bergetar hebat, sebelum akhirnya ambruk di atas Seonghyeon.
Ia baru ingat seharian ini ia (sok) sibuk sekali di selama acara. Ia tidak sadar dirinya sebegitu penat.
"Ken, cium…"
Kendati demikian, ia mendapati dirinya kesulitan untuk menolak laki-laki cantik ini. Keonho memaksa dirinya bangkit dan langsung melahap bibir yang sudah bengkak itu. Ciumannya berantakan walau Seonghyeon mencoba memimpinnya. Ia sudah terlampau lelah, pikirannya melanglang buana.
