Work Text:
Nakula itu sudah centil sejak dirinya masih kanak-kanak. Sewaktu kecil, Nakula gemar sekali berdandan dan pinjam pakaian mama hanya untuk dipamerkan kepada kakak kembarnya—Sadewa.
Sadewa sebenarnya sempat terheran akan perbuatan adik kembarnya itu. Memangnya, apa serunya sih, pinjam pakaian mama dan didandani seperti boneka oleh mama? Bukannya main masak-masak sambil nontonin koki di televisi lebih seru, ya?
Tapi, pikiran Sadewa kecil berhasil dibungkam kala matanya menangkap sosok kecil saudara kembarnya yang berlarian keluar dari kamar orang tua mereka dengan mengenakan gaun berwarna lembut itu. Perhatian Sadewa yang semula fokus pada mainan masak-masakannya berhasil dicuri oleh sosok Nakula yang mulai berpose di hadapannya, rok dari gaunnya menyapu lantai, sebagian sempat menyeret beberapa mainan Sadewa sampai beratakan. Tapi Sadewa tak peduli. Nakula di depannya ... berputar-putar sambil tertawa bahagia sampai pipi bulatnya merona.
"Mas Dewa, aku cantik, nggak?"
Nakula masih berada di depan Sadewa, mengibas-ngibaskan gaun cantiknya.
"Cantik ..."
Mendengar pujian dari saudaranya, senyum di wajah Nakula semakin lebar.
Melihat reaksinya saja, entah mengapa Sadewa kecil merasa tersipu. Sejenak, Sadewa mengalihkan perhatiannya pada mainan masak-masakan di tangannya lalu kembali mengamati Nakula. "Kenapa adek pakai baju mama?"
Nakula melepas pegangannya pada gaun kepanjangannya, dengan senang hati ia kembali berputar sampai ujung gaunnya mengenai Sadewa. "Soalnya mama cantik! Aku mau cantik kayak mama!"
Sadewa terdiam, dia menatap hidangan tak layak makan di tangannya lalu melepaskannya. Ia menatap Nakula lagi. "Oh, kalau gitu, waktu sudah besar nanti, mas akan belikan adek pakaian cantik."
Terkesiap, mata Nakula membulat antusias, mulut kecilnya turut terbuka lebar dan mengeluarkan bunyi-bunyi kebahagiaan. Bocah itu mulai melompat kecil dan merengkuh saudara kembarnya erat-erat.
"Makasih, Mas Dewa! Aku jadi nggak sabar mau cepat besar!"
Sadewa adalah lelaki yang menepati janjinya. Gaun cantik pertama yang Nakula miliki, adalah pemberian Sadewa—didapatkannya dari hasil menabung sejak kecil.
Di perayaan ulang tahun ke-17 mereka, tepat setelah mereka meniup lilin kecil yang mereka beli di minimarket, Sadewa tiba-tiba menyerahkan kotak besar ke hadapan Nakula. Tentu saja, Nakula dibuat keheranan akan tindakan Sadewa.
"Ini apaan, Sadewa?"
"Ya hadiah buatmu, lah."
Nakula masih melongo melihat kotak hadiah di depannya, dia tatap bolak-balik saudara kembarnya dan kotak hadiah di hadapannya tak percaya. Pasalnya, untuk merayakan ulang tahun, mereka biasanya merayakannya kecil-kecilan dengan makan bersama di ruang tengah rumah mereka sambil bawa lilin kecil untuk melengkapi perayaan mereka, tidak sampai memberi hadiah seperti ini!
"Kamu curang, ah!" Nakula cemberut, dia menggeser kotak hadiahnya menjauh.
Sadewa jelas bingung akan tindakan Nakula, apalagi saat melihat mata jernihnya mulai berlinang air mata. Dengan panik, Sadewa meraih tisu dan mulai mendekati saudara kembarnya.
"Saya curang gimana, Nakula?"
Yang ditanya menunduk, menghindari Sadewa yang mencoba menghapus air matanya. "Gak bilang mau tukar hadiah! Aku jadinya gak beli, kan!"
Sadewa ketawa dengar gerutuan saudaranya, "Ya ini saya kasih kamu hadiah karena saya ada niat!"
Nakula mencebik, "Oh, jadi menurut kamu aku ini nggak ada niat? Begitu?"
Alih-alih membalas ucapan Nakula, Sadewa mendorong kotak hadiahnya ke hadapan Nakula, menyuruh Nakula untuk segera membuka hadiahnya.
Meski cemberut, Nakula tetap menuruti perintah kembarannya. Ia dengan kesal membuka hadiahnya, omelan-omelan kecil keluar dari mulutnya kala mencoba membuka hadiahnya. Gerutuannya terhenti ketika matanya menangkap kain yang berada di dalam kotak itu.
Sadewa yang perhatiannya sedari tadi tak pernah lepas dari Nakula segera menegakkan punggungnya—sedikit was-was.
"Gimana? Kamu suka, nggak?"
Nakula terdiam.
Dengan heningnya reaksi Nakula, Sadewa mulanya berpikiran Nakula mungkin tak menyukai hadiahnya. Akan tetapi, saat mendapati rona di wajah Nakula, pikiran negatif di kepala Sadewa melayang begitu saja.
"Kok kamu ingat, sih?"
"Hm?"
Nakula mengeluarkan gaun dari kotak hadiah itu, mengamati dari ujung ke ujung, meraba tekstur kain yang menurutnya sedikit familiar. Tatapan Nakula kini beralih menatap saudaranya.
"Aku suka gaun cantik."
"Aku kan, sudah pernah bilang," Sadewa berdiri dari duduknya, dia berjalan memutar lalu berhenti tepat di belakang Nakula, ia lalu mengambil alih gaun cantik yang berada di tangan Nakula, membuat tubuh kembarannya yang lebih kecil tenggelam dalam peluknya. "Kalau sudah besar nanti, aku 'kan belikan kamu gaun cantik."
Merasakan hembusan napas Sadewa, Nakula menelan ludah. Dia menatap wajah Sadewa yang tepat berada di sisinya. Rona merah kembali menjalar di wajahnya.
"Kamu suka, kan?" bisik Sadewa, suaranya yang sudah semakin dalam akibat pubersitas berhasil membuat Nakula meremang.
Nakula segera mengalihkan tatapannya pada gaun cantik di depannya, tangannya meraba kembali kain gaunnya, merasakan tekstur lembutnya.
"Aku suka..."
"Kalau suka, dipakai, dong."
"Ah, malu aku."
Sadewa tertawa, dia meletakan gaun pemberiannya di sofa. "Kenapa malu? Kamu sejak kecil hampir setiap hari lenggak-lenggok tunjukkin karya mama dan kamu ke saya."
"Itu kan, waktu kecil!"
"Sekarang juga masih kecil, ah."
"Sadewa!"
Sang pemilik nama tertawa keras mendengar rengekan saudaranya. Dia tanpa peduli lebih banyak segera membereskan makanan mereka yang tentunya tidak akan termakan sekarang.
Nakula yang ditinggal sendirian di ruang tamu masih memerah, dia tatap lekat-lekat gaun cantik yang mirip dengan gaun milik mama yang dikenakannya pertama kali.
Melihat Sadewa yang masih sibuk di dapur, Nakula membawa pergi gaun yang terus menatapnya. Dia putuskan untuk mencoba mengenakan pakaian cantik barunya.
Saat menutup resleting, Nakula tatap pantulan dirinya di cermin. Pergerakan tangannya tiba-tiba terhenti saat mengingat momen terakhir dia mengenakan gaun cantik milik sang mama.
Mungkin ada empat tahun lalu. Seperti sebelumnya, mama mendandani Nakula. Gaun cantik dipasangkannya di tubuh kecil Nakula yang belum tersentuh pubertas, lalu pupur dan perona merah diaplikasikan pada wajahnya yang masih mulus.
Mama dengan senang hati mengambil gambar Nakula, menyimpannya dengan apik di ponselnya.
Nakula senang mama menerima Nakula yang menyukai hal-hal cantik dan feminim. Nakula juga senang sekali saat mama tersenyum dan mengambil gambarnya lalu memanggil Sadewa untuk memamerkan hasil karya mereka.
Namun, Nakula mulai merasa takut dalam hatinya. Pasalnya, teman-teman lelaki seusia Nakula, mereka tampaknya tidak ada yang menyukai hal-hal cantik sepertinya. Sadewa juga sama saja.
Entah mengapa, Nakula merasa bersalah.
Maka keesokan harinya, Nakula berhenti meminta mama untuk mendandaninya. Mama sempat bertanya dan keheranan akan sikap Nakula, akan tetapi mama tetap tersenyum dan memakluminya.
Nakula ingat ucapan mama saat itu.
"Kalau Nakula ingin berdandan lagi, bilang mama saja, ya?"
Nakula menghela napas. Sambil menatap pantulan dirinya di cermin, Nakula berbisik, "Mama, Nakula mau berdandan lagi, ya?"
Setelah memastikan penampilannya, Nakula berjalan keluar dari kamarnya, dia menghampiri Sadewa yang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
"Sadewa."
"Hm?"
"Aku cantik, gak?"
Sadewa buru-buru menoleh, menemukan saudaranya berdiri dalam balutan gaun cantik berwarna mutiara pemberiannya. Sosoknya yang tinggi dan ramping berpadu dengan cocok dalam gaun itu. Melihatnya, Sadewa merasakan hatinya berdenyut, darahnya mengalir ke wajahnya sampai Sadewa sendiri yakin wajahnya kini telah memerah.
Melihat senyum malu-malu di wajah cantik yang Nakula tunjukan padanya, Sadewa tersenyum.
"Kamu cantik. Paling cantik di alam semesta ini."
Semenjak kejadian itu, Nakula semakin sering memakai pakaian lucu dan berdandan mempercantik diri. Lama-kelamaaan merawat diri dan berdandan menjadi kebiasaannya, bahkan sampai ia lulus sekolah menengah atas.
"Nakula, kamu dandan cantik gini sebenarnya untuk siapa, sih?"
Nakula menghentikan langkahnya, berbalik untuk menatap Sadewa yang berdiri beberapa langkah darinya.
"Ya untuk aku, lah. Masa untuk kamu?"
Sadewa mendengus kesal, dia mendekati Nakula lalu membawanya ke dalam pelukannya, "Bukannya dulu kamu cuma dandan buat mas?"
Nakula terdiam, pipinya tiba-tiba memerah.
Tak kunjung mendapati respon dari saudaranya, Sadewa memanggil, "Nakula?"
"Iya, kenapa, mas?"
Sadewa mengeratkan pelukannya di pinggang ramping Nakula, "Saya sedikit gak rela kamu keluar cantik begini, nanti orang-orang lihat kamu, loh."
Segera, Nakula coba lepaskan pelukan Sadewa, dia menatap Sadewa kesal begitu pelukan mereka terlepas, "Ya bagus, lah! Nanti aku dipuji-puji cantik. Emang mas gak suka, ya? punya adek cantik begini?"
Ah, Nakula ini pertanyaannya suka kemana-mana! Jelas Sadewa suka, lah!
"Mas, suka ..."
"Ya diam makanya!"
Nakula melepaskan pegangan Sadewa dari tubuhnya, lelaki yang lebih muda beberapa menit itu melangkah menuju pintu utama dan memegang kenopnya.
"Mas," Panggil Nakula.
"Iya, kenapa adek?"
"Cantikku untuk mas itu beda. Beda rasanya saat aku berdandan cantik untuk mas sama diriku," Nakula meremat gagang pintu erat, telapak tangannya mulai berkeringat.
"Bedanya apa, Nakula?"
Nakula terkesiap, dia secara tiba-tiba merasakan hembusan napas Sadewa di lehernya, dibarengi dengan tangan besar yang mulai mengerayangi pinggangnya. Bernapas pun kini sulit bagi Nakula.
Apalagi, saat bibir panas kakaknya mulai menyentuh tengkuknya, membubuhkan kecupan-demi kecupan yang mendebarkan.
Nakula menarik napas, "Untuk mas, aku pakai gaun cantikku."
Sadewa bersenandung membalas, menolak melepaskan bibirnya dari permukaan leher Nakula—sementara tangannya kini sudah mulai berani menyingkap kemeja ketat yang dikenakan saudara serahimnya itu.
Lenguhan mulai keluar dari mulut Nakula, pegangannya pada kenop pintu mengendur.
"Mas Dewa—"
"Mmmh, iya, dek?"
"M–mas Dewa ...." Nakula mencicit, dia perlahan berbalik menghadap sang kakak, memaksa Sadewa melepas ciuman di lehernya—tangannya kini berpindah memegang tangan Sadewa yang sudah berpindah memegangi dadanya, merasakan degup jantungnya yang kian menggebu.
Dengan tatapan sayu, Nakula menatap lurus ke netra Sadewa yang sudah menggelap.
"Mas, di mata mas, aku masih paling cantik, kan?"
Sadewa mengangguk mantap, tangannya yang lain segera meraih wajah Nakula, mengusap lembut wajah cantik itu dengan jari jempolnya.
"Paling cantik sejagat raya."
Maka, tanpa mau menunggu lagi, Sadewa menyatukan ranum mereka, dihisapnya ranum yang diidamkannya sejak lama, tak rela dilepaskan meski napas hampir hampir habis.
"Mas, mas Dewaaa~" rengek Nakula begitu Sadewa beralih mencium rahangnya.
"Iya, adek? Mau mas cium lagi bibirnya?"
Nakula mengangguk ribut, buru-buru ia kalungkan tangannya di leher Sadewa, menggerakkan kepalanya mencari sudut untuk memperdalam ciuman mereka sampai rintihan dan lenguhan hanya bisa ditelannya kembali.
Siang itu, Nakula memutuskan untuk berdandan lebih cantik lagi setiap harinya. Keinginannya untuk dihujami pujian semakin tinggi setiap kali kecupan mampir di tubuhnya.
Nakula akan selamanya menjadi yang paling cantik di mata Sadewa.
