Work Text:
"Panas banget sih," keluhnya sambil mengipasi leher dengan tangan.
Udara di dalam apartemen terasa begitu menyesakkan. Sejak pagi, mesin pendingin ruangan di sudut kamar Yulia hanya mengeluarkan bunyi menderu yang berisik tanpa sedikit pun embusan hawa dingin. Gadis itu berkali-kali menyeka keringat yang menetes dari pelipisnya, membuat kaos tipis yang ia kenakan mulai melekat di kulit, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang gelisah.
Yulia akhirnya memutuskan untuk memanggil jasa servis AC. Lewat sebuah aplikasi, ia menemukan nama yang terdengar sederhana: Rusli. Di profilnya hanya ada foto samar seorang pria dengan seragam hitam, namun ulasannya sangat bagus—cekatan, rapi, dan profesional.
Tak butuh waktu lama, bel pintu berbunyi.
Saat Yulia membuka pintu, ia langsung disambut oleh sosok pria dengan bahu lebar yang memenuhi bingkai pintu. Pria itu mengenakan kaos hitam ketat yang membungkus otot lengannya dengan sempurna. Aroma maskulin yang bercampur sedikit bau matahari langsung menyapa indra penciuman Yulia.
"Selamat siang, apa benar ini kamar atas nama Yulia? Saya Rusli yang mau benerin AC," ucap pria itu dengan suara berat yang sopan namun terdengar sangat jantan di telinga Yulia.
"Oh, iya... Mas Rul, ya? Masuk, Mas. AC-nya ada di dalam," jawab Yulia sedikit gugup.
Pandangan Yulia seolah terkunci pada gerakan otot lengan Rusli saat pria itu mengangkat tas perkakasnya. Ada sesuatu dari cara pria itu berjalan dan menatapnya yang membuat suhu di ruangan yang sudah panas itu terasa semakin membara bagi Yulia.
Yulia mengekor di belakang, memperhatikan bagaimana punggung kokoh itu bergerak. Rusli sudah nangkring di atas tangga lipat, sibuk mengutak-atik indoor AC dengan tangan yang terlihat begitu ahli. Sementara itu, Yulia berdiri tepat di bawahnya, berpura-pura ingin membantu padahal matanya sibuk memindai setiap jengkal otot lengan Rusli yang menegang saat memutar obeng.
"Haus nggak, Mas? Mau aku ambilin minum yang dingin-dingin?" tanya Yulia dengan nada yang sengaja dilembutkan. Ia sedikit mendongak, iya ia juga sadar belahan sekal dadanya terpampang seperti sengaja pamer buat di lihat tukang acnya ini. Namun Rusli melirik sekilas dari balik bahunya.
"Boleh, Dek Yul. Air putih biasa aja, nggak perlu repot-repot."
Yulia kembali dengan segelas air es, tapi alih-alih menaruhnya di meja, ia justru menyodorkannya tepat di dekat tangan Rusli. "Ini, Mas. Pelan-pelan minumnya, nanti keselek."
Saat Rusli menerima gelas itu, Yulia sengaja membiarkan jemarinya bersentuhan lebih lama dengan punggung tangan Rusli yang kasar dan hangat. Ia bahkan berani mengusap ibu jarinya di sana selama satu-dua detik sebelum melepaskannya.
Rusli hanya berdehem pelan. Ia meneguk air itu sampai tandas, memperlihatkan jakunnya yang bergerak naik turun—pemandangan yang membuat Yulia menelan ludah.
"Makasih, Dek Yuk. Saya lanjut ya, ini bautnya agak keras," ucap Rusli tenang, kembali fokus pada mesin di depannya. Benar-benar profesional, seolah sentuhan Yulia tadi hanyalah ketidaksengajaan.
Tak menyerah, Yulia kini berpindah posisi ke samping tangga. "Kerjaan kayak gini capek banget ya, Mas? Padahal badannya Mas Rul kelihatan seger terus. Sering olahraga juga ya?"
"Tuntutan kerja, Dek. Harus kuat angkat-angkat," jawab Rusli singkat tanpa menoleh.
Yulia terkekeh kecil, tangannya kini menyentuh tiang tangga lipat, perlahan mendekat ke arah kaki Rusli yang terbungkus celana kerja. "Pantas aja... lengennya aja keras begini, apalagi yang lain ya, Mas?"
Gerakan tangan Ruslin sempat terhenti sesaat. Ia tahu persis ke mana arah pembicaraan ini. Sebagai pria dewasa, ia tidak bodoh; ia sadar tatapan lapar dan kode-kode yang dilempar pelanggan manisnya ini. Namun, Rusli hanya menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
"Mohon maaf, Dek Yulia saya ke sini buat benerin AC supaya nggak kepanasan lagi. Sayang kalau bayar mahal tapi kerjaan saya nggak beres-beres," ujar Mas Rul dengan suara rendah yang tegas, namun tetap sopan. Matanya menatap Yulia sekilas—sebuah tatapan yang seolah mengatakan, 'Sabar ya, Dek, Mas kerja dulu.'
Yulia bukannya menciut, malah semakin gemas. "Ya udah, Mas Rul fokus aja kerjanya. Aku tinggal ke kamar ya."
Mas Rul hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis, kembali bergulat dengan pipa dan kabel. Ia berusaha keras menjaga fokusnya, meski sebenarnya ia pun mulai merasa suhu di ruangan itu tidak hanya panas karena AC yang mati.
Yulia bergegas masuk ke kamarnya, menutup pintu dengan tergesa. Otaknya sudah tidak bisa dikontrol. Namun, baru saja ia menyentuh kenop pintu, sebuah ide nakal muncul. Ia tidak ingin hanya berfantasi sendirian; ia ingin pria itu melihatnya, atau setidaknya berada di dekatnya saat ia sedang kacau begini.
Yulia membuka kembali pintunya sedikit, melongokkan kepala dengan napas yang mulai pendek.
“Mas Rul...” panggilnya, suaranya agak serak dan manja.
Mas Rul menoleh dari atas tangga, tangannya masih memegang saringan AC yang basah. “Dalem, Dek Yul?”
“Itu... anu, AC yang di dalam kamar aku kayaknya juga bermasalah. Tiba-tiba suaranya aneh, kayak mau mati. Mas bisa sekalian cek nggak? Takutnya malah konslet kalau dibiarin,” bohong Yulia. Padahal, AC di kamarnya baru saja diservis bulan lalu dan masih sangat dingin.
Mas Rul mengernyitkan dahi sejenak, namun sebagai profesional, ia langsung mengangguk. “Oh, gitu? Oke, habis saya keringkan yang di luar, saya langsung cek ke kamar Adek ya.”
Jantungnya berdegup kencang. Ia sengaja tidak mengunci pintu itu dan dengan sengaja pula, ia menanggalkan celana pendeknya, menyisakan pakaian dalam yang tipis, Yulia merebahkan tubuhnya di atas kasur yang terasa sejuk, namun kulitnya justru terasa membara. Ia sengaja membiarkan pintu kamarnya tidak tertutup rapat, menyisakan celah kecil yang mengundang. Pikirannya sudah sepenuhnya dikuasai oleh bayangan tukang yang sedang bekerja di luar.
Ia mulai membayangkan bagaimana jika tangan-tangan kasar dan kapalan milik Mas Rul itu tidak lagi memegang obeng, melainkan meraba lekuk tubuhnya. Yulia perlahan menarik lepas kaosnya, melempar entah kemana bra busanya, membiarkan dada yang penuh dan kencang terekspos. Putingnya sudah mengeras, menegang dan terasa sangat sensitif sedari tadi setiap kali bergesekan dengan kain.
"Ahh... Mas Rul... nggh..."
Tangan kiri Yulia meremas payudaranya yang montok, sementara tangan kanannya menyelinap turun ke balik pakaian dalamnya yang sudah lembap. Ia membayangkan Mas Rul berdiri di depannya, menanggalkan kaos hitam ketat itu dan memperlihatkan dada bidang yang berotot.
Pikiran Yulia semakin liar. Ia membayangkan betapa kontrasnya tubuhnya yang berisi dan semok itu saat berada di bawah kungkungan tubuh kekar Mas Rul yang jantan. Ia mengusap pinggulnya yang lebar dan bokongnya yang padat, membayangkan tangan Mas Rul meremas bagian itu dengan kuat hingga meninggalkan bekas kemerahan.
Jari-jarinya mulai bergerak ritmis di bawah sana, menciptakan bunyi basah yang memicu adrenalin. Yulia melengkungkan punggungnya, membuat perut ratanya menegang dan dadanya semakin membusung. Setiap gerakan jarinya ia sinkronkan dengan bayangan Mas Rul yang sedang menatapnya lapar dari ambang pintu.
"Mas... Mas Rul... kerjain Yul, Mas... ngghh..."
Desahannya semakin berat dan tak beraturan. Keringat tipis mulai membasahi kulitnya yang putih bersih, membuatnya terlihat berkilau di bawah lampu kamar. Tubuh Yulia yang sintal itu bergetar hebat setiap kali bayangan bisep Mas Rul yang menegang melintas di kepalanya. Ia benar-benar tenggelam dalam fantasinya sendiri, memuja setiap jengkal bentuk tubuhnya yang ia siapkan khusus untuk memancing perhatian pria di luar sana.
Tepat saat ia merasa sensasi panas itu akan meledak, suara langkah kaki berat mendekat ke arah pintu kamar. Yulia bukannya berhenti, ia justru semakin mempercepat gerakan tangannya, memberikan pemandangan yang paling berani tepat saat Mas Rul akhirnya mendorong pintu tersebut.
Rusli membeku di ambang pintu. Matanya yang tajam langsung menangkap pemandangan yang sanggup meruntuhkan pertahanan pria mana pun. Di atas ranjang, Yulia tampak begitu kacau—atau mungkin terlalu sempurna di matanya. Tubuh Yulia yang sintal dan berisi terekspos berani, kulitnya yang putih bersih tampak berkilau karena keringat tipis, kontras dengan bayangan seprai yang berantakan.
"Dek Yul... astaga maaf saya ga sengaja," bisik Mas Rul, suaranya parau. Ia berusaha memalingkan wajah, mencengkeram tas perkakasnya hingga urat-urat di lengannya menegang. "Mas di sini mau kerja, Dek. Jangan begini, nggak enak kalau ada yang lihat."
Mendengar nada sok suci itu, Yulia justru semakin tertantang. Bukannya menutupi diri, ia malah menanggalkan kain yang tersisa dan semakin melebarkan kedua pahanya yang padat. Tangannya tidak berhenti, justru jari-jarinya bergerak semakin berani di area sensitifnya yang sudah sangat basah.
Suara becek yang dihasilkan dari gerakan jemari Yulia menggema di kamar yang sunyi itu. Bunyi itu seolah mengejek usaha Rusli untuk tetap teguh.
"Mas Rul nggak mau lihat? Masa tega biarin AC-nya dingin tapi aku kepanasan sendiri di sini?" goda Yulia dengan napas pendek. Ia menarik kaosnya lebih tinggi, membiarkan dadanya yang montok membusung dan berguncang mengikuti ritme tangannya. "Lihat deh, Mas... ini becek banget karna bayangin Mas Rul yang benerin."
Rusli menelan ludah kasar. Jakunnya bergerak naik turun. Meski mulutnya mencoba menolak, matanya tidak bisa berbohong. Ia melirik melalui sudut matanya, melihat bagaimana perut rata Yulia bergerak naik turun dan bagaimana pinggul semok itu meliuk-liuk mencari kepuasan.
"Adek... berhenti, Mas masih punya iman," geram Mas Rul, tapi suaranya sudah tidak setegas tadi. Langkah kakinya yang tadinya hendak berbalik arah justru tertahan, seolah kakinya sudah terpaku ke lantai kamar.
Yulia terkekeh kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat provokatif. Ia mengangkat jarinya yang berkilau karena cairan bening, menunjukkannya pada Mas Rul sebelum kembali memuaskan dirinya dengan suara yang lebih keras dan tempo yang lebih cepat.
"Ahh emanghh iya Massh Rul nghh kuat banget ya? Padahal punya aku udah mau meledak ini," rintih Yulia. Ia memejamkan mata, kepalanya mendongak memperlihatkan leher jenjangnya yang berkeringat. "Sini, Mas... bantu benerin. Pake tangan Mas yang kasar itu... jangan cuma pegang tang... ngghhh... ahh!"
Pertahanan Mas Rul akhirnya retak saat melihat Yulia mencapai puncak kecilnya tepat di depannya. Aroma tubuh Yulia yang memabukkan dan pemandangan provokatif itu benar-benar mematikan nalar profesionalnya.
Brak!
Mas Rul melempar tas perkakasnya ke lantai. Ia berbalik, menutup pintu kamar rapat-rapat, lalu menguncinya. Matanya yang tadi mencoba menghindar, kini menatap Yulia dengan lapar—seperti singa yang akhirnya menyerah pada instingnya.
"Adek loh yang minta," ucap Mas Rul sambil mulai membuka kancing bajunya dengan kasar, memperlihatkan dada bidangnya yang berotot.
Mas Rul tak lagi mampu membendung gejolak di dadanya. Pemandangan di depannya benar-benar di luar nalar—Yulia dengan tubuh semok yang begitu menggoda, kulit putih yang memerah, dan area sensitif yang tampak basah merona. Air liurnya hampir menetes, matanya menggelap, menatap lapar pada pusat kenikmatan Yulia yang sudah terpampang nyata.
Bukannya menutup diri karena malu, Yulia justru semakin berani. Ia melebarkan kangkangannya, memamerkan kemolekan tubuhnya yang padat berisi. Kedua tangannya kini sibuk memilin dan memainkan putingnya sendiri yang sudah mengeras, menciptakan pemandangan yang sanggup meruntuhkan iman paling kuat sekalipun.
"Sini Mas... Mas Rul mau kan? Garap Yul sekarang," rintihnya dengan suara serak yang memprovokasi.
Tanpa membuang waktu lagi, Mas Rul merangkak naik ke atas ranjang. Tubuh kekarnya yang berotot kini menaungi Yulia yang tampak mungil namun sintal di bawahnya. Aroma maskulin bercampur keringat kerja Mas Rul menyeruak, membuat Yulia semakin hilang kendali.
Mas Rul langsung membenamkan wajahnya di antara pangkal paha Yulia. Ia melahap area sensitif yang becek itu dengan rakus, seolah-olah ia adalah pria yang baru saja menemukan mata air di tengah padang pasir. Lidahnya yang kasar dan panas menyapu dengan lihai, menyesap setiap tetes kenikmatan yang keluar dari sana.
"AAAKHHH! MAS RULLL! NGGGHHH!"
Yulia memekik, kepalanya mendongak ke belakang hingga urat lehernya terlihat. Rasanya begitu luar biasa. Apalagi ketika kumis tipis Mas Rul bergesekan dengan kulit sensitifnya yang merona, memberikan sensasi geli yang menusuk hingga ke ubun-ubun. Sentuhan maskulin yang kasar namun presisi itu membuat Yulia merasa melayang.
"Gila... kamu enak banget, Dek," gumam Mas Rul di sela-sela kegiatannya, suaranya teredam namun terdengar sangat dalam.
Tangannya yang kapalan kini meremas bokong Yulia yang padat, menarik tubuh gadis itu agar semakin rapat ke wajahnya. Yulia terus berteriak, jemarinya menjambak rambut Mas Rul, mendorong pria itu agar bekerja lebih dalam dan lebih rakus lagi. Kamar yang dingin karena AC yang baru diperbaiki itu kini justru terasa seperti neraka yang membara karena gairah mereka yang meledak.
Mas Rul benar-benar kehilangan kendali diri. Rasa profesionalisme yang sedari tadi ia jaga runtuh total begitu lidahnya menyentuh kulit hangat dan basah di hadapannya. Ia membenamkan wajahnya lebih dalam, menyesap aroma alami tubuh Yulia yang bercampur gairah, membuat nalar lelakinya makin liar.
"Memeknya becek banget ini, Dek," geram Mas Rul dengan suara serak, napas panasnya menerpa area sensitif Yulia. "Cuma liat yang keker dikit langsung becek, apa emang aslinya gatel begini?"
Yulia tidak membantah, ia justru mendesah makin kencang saat lidah Mas Rul mulai menari-nari di sana. "Ahhh... iya Mas... nggh... Mas Rul sih... ototnya bikin sange... akhh!"
Mas Rul mulai memainkan lidahnya dengan lihai, menyesap bagian yang memerah merona itu dengan rakus. Ia mengincar bagian yang paling sensitif, memutar dan mengulumnya dengan hisapan yang kuat. Setiap kali lidah kasarnya menyapu, Yulia merasa seperti tersengat listrik. Belum lagi kumis tipis Mas Rul yang menggelitik dan menusuk-nusuk kulit paha bagian dalamnya, menambah sensasi geli yang tak tertahankan.
"Suka ya Mas emut begini? Liat nih, merah banget. Pasti tadi sambil bayangin Mas yang macem-macemin kamu, kan?" Mas Rul bicara tepat di depan area intim Yulia, suaranya teredam namun terdengar sangat frontal dan mendominasi.
“Nggak nyangka pelanggan Mas yang kelihatan anteng ternyata semurahan ini di depan tukang AC." Ucapan Mas Rul yang seolah melecehkan itu bukannya membuat Yulia marah, malah membuat gairahnya mendidih hingga ke puncak. Ia merasa benar-benar dijinakkan.
"Iya Mas... mmmh... ahhh... Yulia murahan buat Mas Rul... kerjain lagi Mas, jilat terus... nggggh!" rintih Yulia sambil meremas rambut Mas Rul, menekan kepala pria itu agar semakin dalam melumatnya.
Mas Rul semakin beringas. Ia mengulum pusat kenikmatan Yulia, menghisapnya sampai terdengar suara cap-cup yang becek dan nyaring di kamar yang sunyi itu. Tangannya yang kasar kini meremas bokong padat Yulia dengan kuat, meninggalkan bekas kemerahan di kulit putih yang mulus itu, memaksa kangkangannya terbuka lebih lebar lagi agar ia bisa melahap setiap jengkal kemolekan yang ada di depannya. Aroma gairah yang menyeruak di antara selangkangan Yulia benar-benar membuat nalarnya hilang.
“Liat nih, beceknya nggak masuk akal. Emang dasar memek lacur, baru dikelamotin aja udah banjir kayak gini,” geram Mas Rul dengan suara rendah yang sangat frontal. Ia menatap lekat area sensitif Yulia yang tembem dan merona sebelum kembali membenamkan wajahnya di sana.
Lidahnya yang kasar menyapu ke dalam, mengobok-obok mencari titik terdalam, sementara kumis tipisnya terus menusuk-nusuk kulit paha Yulia.
“Cewek sangean kayak kamu emang paling pantes diobok-obok sama tukang AC kayak saya, kan? Haus kontol ya kamu, Dek? Sampe AC nggak kenapa-napa aja dipanggil buat liat kamu colmek begini,” cecar Mas Rul lagi sambil terus menjilati area yang basah itu dengan rakus.
Yulia sudah kehilangan kata-kata, ia hanya bisa menggelengkan kepala dengan mata terpejam erat, menikmati setiap hinaan yang justru membuat gairahnya meledak. Tangannya menjambak rambut Mas Rul, menekan wajah pria itu agar semakin dalam melumatnya.
“AAAKHHH! MAS RULLL... IYAA... TERUSSS... NGGGHHH!”
Mas Rul mempercepat ritme lidahnya, mengulum pusat kenikmatan Yulia dengan tenaga penuh seolah ingin menghisap seluruh nyawa gadis itu. Ia juga terus mengobok-obok bagian dalam Yulia dengan dua jarinya yang kasar, beradu dengan lidahnya yang lihai.
“Ayo, keluarin semua di muka Mas! Makin ileran memek gatelnya.”
Seketika, tubuh Yulia menegang hebat. Pinggulnya melengkung tinggi ke atas seiring dengan teriakan yang pecah di seluruh kamar. Cairan kenikmatan menyembur hebat, membasahi wajah dan mulut Mas Rul yang masih menempel di sana. Yulia squirt deres banget, tubuhnya gemetar tanpa kendali karena pelepasan yang begitu dahsyat sampai-sampai ia merasa seperti mengompol karena tak sanggup lagi menahan saking nikmatnya.
Mas Rul tidak berhenti, ia justru semakin lahap menyesap sisa-sisa cairan yang meluap itu, membiarkan wajahnya basah kuyup oleh kenikmatan Yulia. Ia menatap Yulia yang sudah lemas tak berdaya dengan tatapan penuh dominasi.
"Baru digarap pake lidah aja udah begini... gimana kalau beneran Mas servis pake peralatan Mas yang lain, Dek?" bisik Mas Rul sambil menyeringai kotor.
Yulia yang sudah lemas dan basah kuyup bukannya menciut, ia justru menatap Mas Rul dengan tatapan yang jauh lebih berani. Napasnya masih memburu, namun senyum nakal terukir di bibirnya yang kemerahan. Ia menarik tangan Mas Rul, menuntunnya untuk kembali meremas dadanya yang montok.
"Mau, Mas... emang memek Yulia udah rusak parah, harus di benerin sama Mas Rul," bisik Yulia sambil mendesah di telinga pria itu.
"Bikin ngowoh aja sekalian, Mas... bikin lower. Aku udah nggak tahan, haus banget pengen diisi sama punya Mas Rul."
Yulia sengaja melengkungkan punggungnya, menonjolkan dadanya ke arah wajah Mas Rul. "Jangan cuma di bawah, Mas. Pentil aku juga mau diklamotin... dari tadi udah keras banget nungguin mulutnya Mas Rul."
Mas Rul nampak semakin gelap mata mendengarnya. Ia langsung menyambar salah satu payudara Yulia yang besar dan empuk, melahap putingnya yang menegang ke dalam mulutnya seolah ingin menelannya bulat-bulat. Sambil menyesap kuat-kuat, tangannya yang kasar kembali turun ke bawah, mengubek-ubek lubang Yulia yang sudah sangat becek dan terbuka lebar.
"Dasar jablay... minta disodok banget ya?" geram Mas Rul di sela kegiatannya mengulum dada Yulia. "Udah nggak sabar pengen ngerasain kontol tukang AC buat ngejebol memeknya, hah?"
"Iyahh Mas... hnggg mau disodok aja pake kontol Mas Rul ahhh... jebolin aku sekarang, Mas.. mau ngerasain punya kontol tukang," rintih Yulia sambil meremas paha kekar Mas Rul.
Mas Rul tak menunggu instruksi kedua. Ia segera melepaskan celana kerjanya dengan kasar, memamerkan kejantanannya yang sudah menegang sempurna dan berurat. Yulia hampir memekik melihat ukuran yang ada di depannya. Tanpa basa-basi, Mas Rul memposisikan dirinya di antara kaki Yulia yang sudah ngangkang lebar.
Mas Rul benar-benar sudah gelap mata. Ia merangkak naik, menindih tubuh semok Yulia yang sudah pasrah dan kegatalan di bawahnya. Aroma keringat jantan Mas Rul bercampur dengan wangi parfum Yulia yang mulai memudar, menciptakan suasana yang makin merangsang nalar kotor mereka.
Tanpa basa-basi, Mas Rul menyambar payudara Yulia yang montok dan berat itu. Mulutnya langsung mengulum habis salah satu puting Yulia yang sudah mengeras seperti batu.
"Slurrrp... mmmph..."
Suara ngenyotnya terdengar sangat nyaring. Mas Rul memutar lidahnya di sekitar pentil yang menegang, lalu menghisapnya kuat-kuat seolah ingin memerah sesuatu dari sana. Yulia langsung memekik, tubuhnya melengkung tinggi menempel pada dada bidang Mas Rul.
“AAAKHHH! Mas Rul... ngghhh... ngenyotnya jangan kuat-kuat... akhh tapi enak banget Mas... nggggh!”
Sambil mulutnya sibuk menyiksa dada Yulia, tangan kanan Mas Rul yang kasar dan kapalan turun ke bawah. Ia membuka lebar-lebar paha Yulia yang empuk, menampakkan memek tembem yang sudah merah merona dan sangat becek. Mas Rul tidak langsung menusuk, melainkan memberikan tamparan-tamparan kecil di sana.
Plak! Plak!
"Ini yang gatel ya? Memek tembem begini ternyata sangean banget," geram Mas Rul. Ia kembali melayangkan tamparan yang sedikit lebih keras ke permukaan memek Yulia yang kenyal, membuat area sensitif itu bergetar dan semakin merah.
"AWWW! Mas... akhh... sakit Mas, tapi Yul makin sange... ngghhh lagi Mas... akhh... biarin memek Yul kapok udah godain Mas Rul... ngggghhh!"
Mas Rul kemudian memasukkan tiga jarinya sekaligus ke dalam lubang Yulia yang sudah ngowoh menghujam masuk, mengobok-obok bagian terdalam rahim Yulia hingga menciptakan suara becek yang sangat kotor.
Plok-plok-plok-crrrrrt!
Cairan kenikmatan Yulia kembali meluap, kali ini benar-benar ngucur deras sampai membasahi sprei di bawah bokongnya yang semok. Memek tembemnya seolah bocor, tak lagi sanggup menahan banjir gairah yang terus dipicu oleh permainan tangan Mas Rul.
“AAAKHHH! Mas Rul... ngghhh... bocor Mas... memek Yul bocorrr... akhhh!” Yulia memekik dengan suara yang sudah serak, kepalanya menggeleng-geleng liar di atas bantal. “NGGGHHH! Banjir banget Mas... ahhh, ahhh... ucek terus itil Yul... enak bangettt, akhhh!”
Yulia benar-benar sudah tidak karuan. Kakinya yang mulus dan berisi menendang-nendang udara, jemari kakinya menekuk saking nikmatnya. Ia merasa seluruh tubuhnya bergetar hebat setiap kali jari Mas Rul menyentuh titik sensitifnya di dalam sana.
"Liat nih, bener-bener kayak keran bocor. Dasar cewek sangean, baru diobok-obok pake jari aja udah ngucur ke mana-mana begini," geram Mas Rul sambil terus memacu ritme tangannya. "Gimana kalau Mas sumpel pake kontol? Biar mampet sekalian itu memek kamu yang ngeces itu”
“IYAAA MASSS... sumpel aja Mas... akhhh... Yul udah nggak tahan... nggggh! Udah sange Mas... ahh, ahh... cepet sodok Yul sampe pingsan... akhhh, Mas Rulll cepettt!”
Desahan Yulia semakin pecah dan tidak beraturan, bercampur dengan isak tangis kenikmatan.
Mas Rul menarik jarinya keluar dengan kasar, meninggalkan suara plop yang becek karena cairan Yulia yang sudah meluap kemana-mana. Ia melihat memek tembem Yulia yang sudah merah merona, berkedut-kedut minta diisi, dan benar-benar ngowoh karena jarinya tadi.
"Liat nih, saking gatelnya sampe nggak bisa nutup lagi ini memek," geram Mas Rul sambil memegang kejantanannya yang sudah tegang sempurna, berurat, dan nampak sangat perkasa di bawah lampu kamar. "Udah siap kan memeknya Mas obrak-abrik pake kontol tukang?"
Yulia sudah tidak bisa berpikir jernih. Melihat ukuran Mas Rul yang luar biasa di depan matanya, ia justru makin membuka kangkangannya lebar-lebar, memamerkan lubangnya yang masih ngucur basah.
“AAAKHHH... Mas... gede banget... ngghhh... mauuhh Mas, jebolin Yul sekarang... akhhh!” desah Yulia sambil meremas payudaranya sendiri. “Sodok Mas... bikin Yul jadi lonte Mas Rul selamanya... ngggghhh!”
Tanpa banyak bicara lagi, Mas Rul memosisikan kepalanya tepat di bibir memek Yulia yang becek. Dengan satu hentakan kuat, ia melesakkan senjatanya masuk ke dalam.
Jleb!
“AAAAAKKKHHHHH! MAS RULLLL!”
Yulia memekik tinggi, matanya melotot dan tubuhnya menegang hebat. Rasanya sangat penuh, sesak, dan panas. Mas Rul tidak memberikan jeda, ia langsung menghajar Yulia dengan genjotan yang kasar dan bertenaga.
Plok! Plok! Plok!
Suara adu kulit paha Mas Rul dengan pantat semok Yulia menggema kencang, beradu dengan suara becek cairan yang muncrat ke mana-mana.
"Enak, hah?! Ini kan yang lonte kaya kamu mau? Kontol tukang AC yang nyodok kamu sampe mentok?!" Mas Rul terus memacu temponya, membuat kasur berderit kencang.
“IYAA MASSS... NGGHHH... dalem banget... akhhh, akhhh! Rodok terus Mas... nggggh... kocok terus memek Yul sampe rusak... akhhh, Mas Rulll enak bangettt!”
Yulia rontah-rantih, kepalanya terombang-ambing mengikuti ritme kasar Mas Rul. Ia benar-benar merasa sedang dihajar habis-habisan, setiap sodokan Mas Rul terasa menghantam titik terdalamnya, membuatnya terus-terusan mendesah kencang tanpa henti di kamar yang sudah banjir gairah itu.
Mas Rul benar-benar tidak memberikan ampun. Tenaga kuli yang ia miliki dikerahkan sepenuhnya untuk menghajar lubang Yulia yang sudah basah kuyup. Setiap kali panggulnya menghantam pantat semok Yulia, terdengar suara plok-plok-plok yang sangat nyaring dan kotor.
"Gila... sempit banget ini memek, padahal udah bocor kemana-mana," geram Mas Rul sambil terus ngerojok dengan ritme yang makin brutal. "Emang dasar lonte sangean, disodok kasar begini malah makin keceng ngejepitnya, hah?!"
Mas Rul sengaja menarik keluar hampir seluruhnya, lalu menghujamkannya lagi sampai mentok ke rahim Yulia. Ia tak henti-hentinya melontarkan kata-kata pedas yang makin merendahkan harga diri Yulia di atas ranjang.
"Enak ya, Dek? Seneng banget ya diewe sama tukang AC kayak Mas? Ngaku kamu, emang dari tadi udah gatel pengen banget kan ngerasain peju Mas muncrat di dalem memek kamu yang gatel ini?"
Yulia sudah tidak bisa lagi menjaga martabatnya. Matanya terpejam erat, lidahnya sedikit menjulur keluar karena saking nikmatnya dihajar habis-habisan. Setiap hinaan yang keluar dari mulut Mas Rul justru terasa seperti bahan bakar yang membuat gairahnya makin meledak.
“AAAKHHH! Iya Mas... ngghhh... ngerojoknya dalem banget... akhhh! Masukin terus Mas... nggggh... Yul emang lonte Mas Rul... akhh! Katain terus Mas... panggil Yul lonte... akhhh, akhhh!”
Yulia meronta-ronta, pinggulnya yang berisi bergerak liar berusaha mengimbangi sodokan Mas Rul yang makin tidak karuan. Ia merasa benar-benar dilecehkan secara fisik dan mental, namun itulah yang membuatnya merasa sangat puas.
"Dasar perempuan nggak bener! AC cuma alasan doang biar bisa dirojok kontol, kan?!" Mas Rul mencengkeram kedua tangan Yulia di atas kepalanya, lalu mempercepat genjotannya sampai kasur berderit seolah mau patah. "Rasain ini kontol Mas habisin kamu sekarang juga!"
“NGGHHH... MAS RULLL! Jebolin Mas... akhhh... keluarin di dalem... nggggh... penuhin memek Yul pake peju tukang... AAAKHHH, MASSS! TERUSSS!”
Kamar itu kini hanya dipenuhi suara desahan histeris Yulia dan makian kotor Mas Rul yang terus memacu tenaganya sampai puncak kenikmatan itu benar-benar di depan mata.
Mas Rul benar-benar sudah tidak memegang kendali atas lidah maupun tenaganya. Setiap kali panggulnya menghantam pantat semok Yulia yang kenyal, ia terus menyemburkan makian kotor yang langsung menusuk ke harga diri Yulia.
"Ayo, teriak yang kenceng, Dek! Biar tetangga tahu kalau kamu lagi dipake sama tukang AC," bentak Mas Rul sambil ngerojok lubang Yulia tanpa ampun.
“Gila, memek murahan kayak begini emang cocoknya dikasarin. Udah berapa banyak kontol yang mampir ke sini sampe kamu jadi segatel ini, hah?!"
Mas Rul mencengkeram rahang Yulia, memaksa gadis itu menatap matanya yang gelap karena nafsu. Ia meludah tepat di dada Yulia yang berkeringat, lalu meratakannya dengan tangan kasarnya.
"Liat nih, badan cakep tapi kelakuan kayak lonte kampung. Mas kasih tau biar kamu inget rasanya disodok kuli!"
Yulia bukannya merasa terhina, ia justru makin menggila. Napasnya tersengal-sengal, air matanya menetes bukan karena sedih, tapi karena rangsangan yang sudah melampaui batas kewajaran. Ia merasa sangat kecil dan tak berdaya di bawah kuasa Mas Rul, dan itu membuatnya semakin sange maksimal.
“AAAKHHH! Iya Mas... ngghhh... panggil aku lonte lagi Mas... akhhh! Emang memek Yul murahan buat Mas Rul... nggggh! Hajarrr terus Mas... jangan kasih Yul ampun... akhhh!”
"Oh, minta dihajar? Dasar jablay sagapung!" Mas Rul membalik tubuh Yulia hingga menungging, memamerkan bokongnya yang lebar dan semok. Tanpa basa-basi, ia kembali melesakkan kejantannya dari belakang dengan satu hentakan brutal.
Jleb!
“AAAAAKKKHHHH! MAS RULLL!”
Yulia menjerit histeris saat rahimnya terasa ditumbuk habis-habisan. Mas Rul memegang pinggul Yulia dengan kencang, jarinya membekas di kulit putih itu. Ia terus menghujam dengan ritme yang makin liar, suara plok-plok-plok dari gesekan kulit mereka terdengar makin menjijikkan namun nikmat di telinga mereka.
"Mas penuhin memek haus kamu pake peju tukang sampe kamu nggak bisa mikir lagi!" maki Mas Rul di telinga Yulia, membuat gadis itu semakin rontah-rantih dalam kenikmatan yang paling hina.
Mas Rul semakin kesetanan melihat Yulia yang sudah benar-benar pasrah dalam posisi menungging, memamerkan bokong semoknya yang terus bergetar hebat setiap kali dihantam sodokan kasar. Keringat mereka sudah bercampur aduk, menciptakan bau gairah yang memenuhi kamar yang dingin itu.
"Mas... Mas Rul... ngghhh... penuhin, Mas... penuhin rahim Yul!" racau Yulia dengan suara yang sudah hampir habis. Ia menoleh ke belakang, menatap Mas Rul dengan mata yang sayu dan penuh damba. "Hamilin Yul, Mas... Yul mau punya anak dari tukang AC kayak Mas Rul... akhhh!"
Mendengar permintaan gila itu, Mas Rul justru semakin beringas. Ia mencengkeram pinggul Yulia hingga kukunya membekas di kulit putih yang mulus itu.
"Gila kamu, Dek! Mau hamil dari kuli kasar kayak Mas, hah?!" bentak Mas Rul sambil terus ngerojok tanpa ampun. "Emang dasar lonte sangean, udah nggak cukup cuma diewe kasar, sekarang minta bibit Mas juga buat ngerusak masa depan kamu?!"
"Iya, Mas... ngghhh... tumpahin semuanya di dalem... akhhh... bikin Yul bunting sama anak Mas Rul... nggggh... biar semua orang tahu kalau Yul udah dipake dan dihamilin sama tukang!" Yulia terus meracau kotor, ia sengaja mendorong bokongnya ke belakang agar sodokan Mas Rul semakin dalam menghujam rahimnya.
Mas Rul mendengus kasar, napasnya sudah memburu di puncak pelepasan. "Lonte murahan sialan, Mas penuhin memek gatel kamu sampe tumpah-tumpah."
Mas Rul mempercepat genjotannya hingga ke tahap maksimal. Suara plok-plok-plok terdengar sangat brutal dan berantakan. Yulia menjerit histeris, tubuhnya menegang hebat, kakinya gemetar tak karuan.
“AAAKHHH! MASSS! SEKARANGGG! HAMILIN YULLL!”
Tepat saat itu, Mas Rul menghujamkan miliknya sedalam mungkin hingga menyentuh mulut rahim Yulia dan menyemburkan seluruh cairannya di sana. Ia menekan pinggul Yulia agar tidak ada satu tetes pun yang keluar, membiarkan benih panasnya membanjiri bagian dalam Yulia.
“NGGGHHH... AAAKKKHHHH!” Yulia lemas seketika, tubuhnya ambruk ke kasur sementara ia masih bisa merasakan denyutan kejantanan Mas Rul yang sedang memompakan seluruh isinya ke dalam dirinya.
"Puas kamu, Dek? Udah penuh itu memek kamu sama peju Mas," bisik Mas Rul parau sambil tetap menindih tubuh Yulia yang sudah benar-benar hancur dan pasrah dalam kenikmatan yang paling hina.
Yulia benar-benar sudah tidak berdaya. Tubuhnya terkulai lemas di atas kasur yang sudah basah kuyup oleh keringat dan cairan gairah. Mulutnya sedikit terbuka, dan air liur menetes pelan dari sudut bibirnya—ia benar-benar ngeces karena otaknya sudah kosong, hanya tersisa sisa-sisa sengatan nikmat yang luar biasa.
"Gila... Mas... ngghhh..." rintih Yulia dengan suara yang hampir hilang.
Ia bisa merasakan denyutan panas di dalam rahimnya. Benih Mas Rul yang melimpah terasa sangat hangat, membanjiri dinding-dinding bagian dalamnya yang baru saja dihajar habis-habisan. Rasanya sangat penuh dan memabukkan. Memek tembemnya terasa kebas, panas, dan berdenyut nyeri, tapi justru rasa sakit itulah yang membuatnya merasa sangat puas.
Mas Rul masih mengatur napasnya yang memburu, berat badannya yang kekar masih menindih bokong Yulia yang semok. Ia menyeringai kotor melihat kondisi pelanggannya yang sudah seperti rongsokan itu.
"Gimana, Dek? Udah puas memek gatelny?" bisik Mas Rul sambil menepuk pantat Yulia yang memerah bekas tamparan. "Liat tuh muka kamu, sampe ngeces gitu."
"Iya Mas... akhhh... ampun Mas Rul... nggggh," Yulia mencoba bicara meski lidahnya terasa kelu. "Enak banget... tenaga Mas Rul kenceng banget... rahim Yul sampe anget banget ini... ahh... puas banget diewe tukang..."
Mas Rul terkekeh rendah, ia menarik miliknya perlahan dari dalam lubang Yulia yang sekarang benar-benar ngowoh dan tidak bisa menutup lagi. Cairan putih kental mulai merembes keluar, mengalir di antara paha mulus Yulia yang gemetaran.
"Itu dapet bonus banyak di dalem. Rawat baik-baik itu benih Mas," ucap Mas Rul sambil mulai berdiri dan memunguti pakaian kerjanya yang berserakan. "Besok-besok kalau AC-nya rusak lagi, Mas siap dateng buat servis... atas bawah."
Yulia hanya bisa mendesah pasrah, matanya masih terpejam menikmati sisa kehangatan di rahimnya, benar-benar puas sudah menjadi tempat buang peju tukang AC.
