Chapter Text
1 — macet, macet, macet!
Gawin Caskey as Aldi Fahreza, HRD, 26.
Joss Wayar as Caleb Damian, karyawan keuangan, 27.
_______________
MALAM ini Caleb malas menyetir. Bahkan, membayangkan dirinya harus tetap tegak di balik kemudi menghadapi kemacetan ibu kota saja sudah cukup membuatnya getir.
Pukul sembilan sewaktu Caleb berdiri di bahu jalan dengan suasana hati yang berantakan. Bahkan setelah bergulat dengan lembur yang tak berkesudahan, dia masih harus menyimak pertikaian antar klakson dan deru kendaraan yang saling bersahutan.
Ibu kota bukan untuk orang lemah. Kini Caleb tahu kalimat itu hanya sebentuk romantisime dari penderitaan, supaya pekerja yang tak punya banyak pilihan sepertinya bisa bertahan walau ditekan.
Sialan.
Tapi omong-omong, taksi daring yang dia pesan datang lebih cepat dari dugaan. Setidaknya Caleb bisa temukan alasan untuk bernafas lebih lega.
"Malam, mas Caleb Damian, ya?" tanya supir.
Yang kemudian Caleb konfirmasi dengan anggukan pelan, seraya merebahkan punggungnya di kursi dengan gelagat canggung. Dia bukan orang yang suka menilai, tapi dia tak bisa menahan diri kala melihat seberapa bersih keseluruhan interior mobil tipe V yang dia tumpangi, ditandai dengan tidak adanya aroma aneh atau barang-barang tidak perlu.
Lalu penelusurannya dilanjut dengan melirik sang supir dari kaca rear-view; masih muda, necis. Dan senyumnya membuatnya lebih cocok menjadi eksekutif bank biru alih-alih berjibaku dengan pendapatan yang tak menentu. Hanya di masa seperti ini, sungguh naif jika hanya bergantung pada yang pasti.
"Agak macet, mas. Malem Sabtu."
Si supir terkekeh sendiri setelah 10 menit berlalu dan mereka nyaris belum bergerak; seolah dialah yang bertanggungjawab atas kenyataan bahwa malam ini Caleb akan terlambat sampai ke rumah.
Tapi Caleb biarkan ramah-tamah itu menguap di udara. Dirinya sibuk melihat ke luar jendela, meratapi barisan pedagang kaki lima yang bergelut dengan puluhan pelanggan yang berebut nomor antrian. Otaknya berputar, mengkalkulasi pendapatan pedagang itu secara kasar, hanya untuk temukan angka jutaan dalam semalam.
Potret kestabilan finansial yang berkelanjutan.
Air mata Caleb tumpah tanpa terasa di tengah segar parfum mobil idaman dan gambaran pedagang kaki lima yang tampak lebih jauh mapan. Dia kulik ulang hidupnya yang sepi, yang setiap hari masih bangun pagi hanya untuk menghadapi instruksi atasan yang setengah-setengah, juga barisan deadline yang tak kunjung sudah. Maka jangan anggap dia salah jika sekarang dia hanya ingin berhenti, mengidamkan kehidupan yang lebih lambat di pelosok negeri.
Jadi lihat saja tiga bulan lagi saat campaign yang tengah kantornya bangun ini sukses berjalan. Entah dengan donat J.co atau Pizza Hut, yang penting ia bisa rehat.
"Mas, tolong kerasin aja radionya, ya? Terimakasih," kata Caleb, hanya agar dia bisa menghela ingusnya.
Habis lebaran resign, terus buka pecel ayam sebelum mati. Bisik Caleb pada dirinya sendiri.
. . .
Sisa satu kilometer sebelum sampai ke kediaman Caleb, mobil yang mereka tumpangi melipir sejenak ke Indomaret yang kursi di terasnya penuh dengan pengunjung yang mencari waktu sendiri sebelum dicecar tanggung jawab lagi.
"Nggak papa, Mas. Saya juga mau beli kopi," kata Caleb sewaktu si supir izin untuk ke toilet sebentar.
Maka di teras Indomaret, Caleb menunggu dengan ditemani sebotol kopi yang didominasi krimer dan gula. Orang-orang di sekitarnya menghisap sigaret, sedang dia hanya perlu menyesap kopi dan seluruh seluk-beluk pikirannya pun dia selami.
Kali ini lebih dengan kesadaran, dan izin untuk tenang walau sebentar.
Tak lama, sekotak biru susu Ultra menemani kopinya di meja. Hentakan kecilnya mencuri perhatian Caleb, untuk kemudian menoleh pada sebaris senyum dari pemuda yang semula menjadi supirnya. Senyum yang buatnya terasa akrab.
"Pulang kerja, ya, Mas?" tanyanya retoris.
Caleb terkekeh. "Iya, Mas."
"Emang ngantor di sana apa gimana?"
"Iya." Caleb lanjut menyesap kopi. "Kebetulan hari ini lagi males nyetir, Mas. Pas liat jalan macet, langsung pesimis sendiri."
Pemuda itu ikut tertawa.
"Kalau maksa nyetir, yang ada nanti malah saya tubrukin semua," lanjut Caleb.
Sadar tidak sadar.
Senyum pemuda itu berangsur mereda, tapi kehangatannya masih sama. Sambil terus memperhatikan Caleb yang kembali beradu pandang dengan jalanan, tangannya bermain-main di kotak susunya sendiri.
"Lagi ada masalah di kantor, Mas?"
"Yah..." Caleb sekalian menghela nafas. "Gimana, ya, Mas? Namanya juga orang kerja, hari-hari ada aja. Soal atasan sih, Mas."
"Ngapain atasannya? Ngamuk?"
"Biasalah. Saya di-call out karena kerjaan saya nggak sesuai ekspektasi, katanya. Padahal awalnya dia bilang, terserah saya aja nanti nyusun laporannya gimana. Dia percaya sama saya. Tai lah —eh, maaf, Mas."
"Nggak, nggak papa. Tai emang." Pemuda ikut mengumpat, lantas meminum susunya.
Caleb mengangkat alis, matanya melebar antusias kala menatap lawan bicaranya.
"Orang-orang tuh sekarang menormalkan komunikasi jelek. Padahal, kerjaan jelek itu karena komunikasi jelek. Mau atasan atau karyawan, kalo nggak mau mendengar aja ya sama aja. Makanya, saya tipe orang yang nurut aja. Jadi kalo misal saya salah, itu 'kan karena saya ngikutin arahannya bukan karena saya sendiri."
"Iya ya."
"Baru nanti waktu pulang, anjing-anjingin aja nggak papa, Mas. Tenang aja, waktu atasan Mas pulang juga dia anjing-anjingin Mas juga kok, udah impas."
Caleb sepakat, ditandai dengan tawanya yang lepas landas setelah pemuda itu menyelesaikan kalimatnya. Meskipun fakta itu pahit untuk ditelan, tapi tak bisa dia pungkiri kebenarannya. Mereka lanjut terlibat canda pada pembahasan yang sama, melarung dalam waktu yang sekaligus melepaskan batas di antara mereka satu-persatu.
Hingga saat mereka cukup puas mengolah pembahasan yang sama, keduanya terdiam sejenak mengatur nafas. Caleb bersandar ke kursi, merenggangkan punggungnya.
"Saya sebenarnya pengen resign, Mas. Dari bulan Oktober kemaren."
"Oh, iya? Gara-gara itu juga, Mas?"
"Bisa jadi. Tapi, saya cuma mikir apa worth it saya hidup begini terus. Sampai tua?"
Tatapannya pemuda itu masih stabil, penuh perhatian. "Hidup kayak apa, Mas, maksudnya?"
"Bangun pagi, kerja, pulang, tidur. Lanjut begitu terus. Stagnan. Gak ada perkembangan."
"Terus menurut mas, yang worth it itu kayak gimana?"
"Yah, kalo itu sih kebetulan saya sampe nggak punya waktu buat nyari tahu yang worth it itu sebenarnya gimana. Mencari 'kan butuh waktu, ya, Mas?"
Pemuda itu mengangguk.
"Dan saya jarang punya waktu," jujur Caleb.
Hening. Keduanya mengambil jeda bagi diri masing-masing untuk mencerna ulang obrolan mereka.
"Jadi, Mas belum resign karena belum nemu?"
"Sepintas ada sih, Mas, saya udah kepikiran sesuatu."
"Apa itu, Mas?"
"Wirausaha. Pecel ayam."
Kepala pemuda itu mundur sedikit, seolah mencari jarak dari hayalan dan kenyataan. "Ini bukan karena Mas lagi laper aja 'kan?"
"Lah? Bukan lah." Caleb tertawa lagi. Menyadari betapa idenya jadi terdengar konyol sekarang. "Yah, tapi yaudah lah, Mas. Saya juga belum tahu. Cuman... Usahanya lebih menjanjikan, modalnya juga nggak seberapa. Tapi berkelanjutan."
"Menurut mas gimana?" tanya Caleb, mencuri pandang pada pemuda yang kini memijat-mijat pergelangan kakinya yang terangkat.
"Kalo menurut saya, marginnya tipis sih, Mas. Effort-nya besar."
Caleb menoleh termangu. Pernyataan itu terdengar serius untuk bisa keluar dari 'seseorang' seperti ini.
Sadar ditatap dengan sedemikian dalam, si pemuda menyeringai. "Saya juga pernah kerja di FnB, Mas."
"Oh iya?"
"Iya. Jelas owner-nya bukan saya, soalnya saya pun kerja sambil nyambi kuliah waktu itu. Bagian masukin data aja."
"Terus, menurut, Mas?" Caleb menarik tubuhnya maju, menyimak lebih dekat dan lekat.
"Yah... Mas pernah denger kata-kata yang bilang kalau jadi karyawan kita bekerja sembilan jam, tapi kalau jadi pengusaha kita kerja 24 jam?"
Caleb tidak pernah dengar, terlihat dari seberapa cepat dia menggeleng.
"Kurang lebih kata-kata itu ada benernya, Mas. Apalagi kalo masih merintis, kayak owner saya waktu itu. Padahal owner saya tuh katanya jenius bisnis, outlet franchise ayam goreng satu kota dia pegang sendiri waktu masih di perusahaannya dulu. Tapi pas buka bisnis sendiri, behhh... Saya nggak ikutan aja, pingin ikut angkat tangan."
Tapi setelahnya pemuda itu terkekeh sendiri, sebelah kakinya turun. "Tapi saya bukan lagi mau nakut-nakutin loh, Mas."
Peringatan itu melelehkan ketegangan di raut Caleb yang ganti menertawakan dirinya sendiri. Sadar bagaimana dia terlalu hanyut. "Nggak, saya cuma lagi mikir."
"Dipikir-pikir dulu aja boleh, Mas. Siapa tau yang ini lebih worth it buat Mas jalani."
Mendengar ungkapan itu kembali dibawa ke permukaan, Caleb diam-diam kembali menimang seberapa sepadan jika dia harus meninggalkan pekerjaannya demi membangun usahanya sendiri. Karena tetap di kantor ataupun membuka usaha, kedua hal itu tak lepas dari resiko yang sama.
"Mas sendiri sebenarnya punya jiwa-jiwa wirausaha gitu, ya?" tanya si pemuda yang kini bibirnya memucat, terpoles susu yang dia minum.
"Jujur lagi ya, Mas?" balas Caleb hati-hati. "Saya nggak pernah kepikiran buat buka usaha. Baru akhir-akhir ini aja. Dari dulu ya saya pinginnya kerja di kantor, dapet uang, naik jabatan, sukses. Tapi ya mas tau sendiri, hidup masa berhenti cuma sampai di situ?"
Pemuda itu mendengarkan.
"Saya takut aja."
"Takut apa, Mas?"
"Gimana kalo 10 tahun saya masih di sini? Saya rasa saya udah menyia-nyiakan hidup saya aja sih, Mas." Pundak Caleb berjingkat sekali, mengiringi tawanya yang lebih hambar dari udara malam.
Sebagai pendengar, mata pemuda itu kemudian bergulir lambat ke sembarang arah. Setengah melamun di sisi Caleb yang sabar menunggu tanggapan, lalu lanjut menyesap kopinya.
"Saya juga nggak tau sih, Mas, 10 tahun lagi bakal kayak gimana," kata pemuda itu. Matanya masih menilik ubin sementara kalimatnya mengembalikan atensi Caleb kembali ke arahnya. "Tapi buat saya, semisal ada orang yang udah punya rencana 10 tahun ke depan pun, bakal tetep ngerasain yang namanya takut. Karena gimanapun, nggak ada yang pasti 'kan, Mas?"
Kepala pemuda itu terangkat. "Perasaan takut itu ada kayaknya bukan karena kita nggak pinter bikin rencana, atau karena kita nggak bisa buru-buru bikin keputusan buat rubah keadaan sih, Mas. Kalo menurut saya, itu karena 10 tahun ke depan itu masih di luar kendali kita. Intinya kayak, besok aja belum kejadian tapi kitanya udah mikir kejauhan."
Tangan Caleb yang menggantung kemudian mengetuk-ngetuk pantat botolnya ke permukaan meja, mencari irama untuk mengiringi otaknya memproses ungkapan si pemuda. Membuka satu jalur pikirannya.
"Sekarang saya tanya deh. Semisal Mas ditawarin kerjaan lain biar bisa keluar dari kantor besok, Mas mau?"
Sudut bibir Caleb terangkat, pipinya hangat nyaris memerah karena dia tak sanggup menahan senyumnya. "Mas lagi mempengaruhi otak saya biar nggak resign, ya?" tanyanya penuh selidik menggoda.
"Loh? Kok gitu? Nggak, Mas! Sumpah!" Pemuda itu salah tingkah karena pertanyaan itu, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Wah, diem-diem ternyata Masnya penyelundup paham kapitalis. Ngaku aja, Mas? Selain pernah di FnB, mas pernah jadi sales juga 'kan?"
"Loh, nggak, Mas." Pemuda itu melayangkan tangannya, tak sanggup membagi peran antara nafas; atau tawa; atau penjelasan yang harus keluar duluan. "Saya cuma nanya, urusan Masnya emang nggak jadi resign 'kan bukan urusan saya."
Caleb melirik lawannya puas, memperhatikan bagaiman bibir pemuda itu sampai mencucu membuatnya tampak lucu. Semakin menyemangati Caleb untuk lanjut melemparkan kelakar ringan yang cukup untuk mengisi meja mereka berdua dengan segenap suka cita. Dan saat tawa kembali reda, mereka teguk minuman masing-masing sebagai pelega. Disusul diam sebagai tanda tenang, membagi ruang bagi siapapun untuk kembali bersuara.
"Tapi kalo saya boleh saran ya, Mas," ucap si pemuda lagi. Wajahnya terlihat lebih muda, tapi entah bagaimana selalu punya banyak hal untuk dikatakan. "Banting setir sebaiknya bukan dijadikan jalan keluar utama. Apalagi kalo alasannya bukan karena kinerja Mas di kantor jelek, atau karena Mas nggak bisa ngerjainnya."
Lagi-lagi Caleb tenggelam dalam mode menyimak. Pemuda ini seolah tahu caranya menarik atensi lawan bicara.
"Dari yang Mas ceritain, ini soal atasan. Dan berhubung Mas sudah punya kemampuan yang bagus di bidang itu, jalan keluarnya menurut saya ya cari tempat kerja yang lingkungannya sesuai sama Mas. Lingkungan yang lebih tau caranya menghargai apa yang udah Mas kerjain buat mereka," lanjutnya dengan begitu luwes. Seakan dia hanya mengulang apa yang telah tertulis di pengalaman hidupnya. "Ya... Karena kalo yang saya liat, Masnya kalo sekedar punya uang buat buka usaha mah pasti ada aja. Tapi biasanya ini bukan soal uang aja 'kan Mas? Kayak tempatnya aja yang nggak pas, kerjanya ya sama aja. Dan dengan lingkungan yang bagus aja, saya yakin apa yang Mas tekuni bisa tetep berkelanjutan."
Lalu-lalang kehidupan dan serangga di bola penerangan, Caleb lupa caranya bersuara saat kalimat itu menggapai titik terdalamnya. Salur-salur neuronnya merenggang, Caleb bahkan tidak lagi ingat apa yang sempat buatnya tegang.
Dia tenang, karena didengar.
Dan tak hanya didengar, dia dipahami dengan cara-cara yang buatnya tahu bahwa nyatanya dia tidak berlebihan.
"Iya ya," balas Caleb. Tahu-tahu kopinya sisa seteguk, langsung dia habiskan bersama sisa keresahan yang tinggal sekali telan. "Saya juga nggak tahu, saya bisa apa lagi selain apa yang saya kerjakan sekarang, Mas. Kalo saya banting setir, saya mulai dari awal?"
"Tapi Mas udah punya bekal kegigihan. Saya yakin kok di manapun tempatnya, Mas bakal ngasih yang terbaik."
Senyum Caleb terbit untuk kesekian kalinya. Sumringah kala lawan bicaranya tepat menebak apa yang sedang butuh dia dengar.
"Jujur aja rasanya aneh denger saya mendadak dipuji-puji. Takut tiba-tiba ditawarin ikut MLM," ucap Caleb.
"Curiga mulu sama saya, Mas?" Pemuda itu memicing. "Yang itu bukan pujian, itu tuh beneran apa yang beneran saya lihat dari Masnya, dan itu beda."
"Makin yakin habis ini saya disodorin brosur suplemen ginseng Korea," tukas Caleb, masih kuat menggoda hingga lawannya berdecak jengah.
"Yaudah, saya jujur aja sekalian kalo Mas itu sebenarnya kurang main!" kata pemuda itu, lantas beranjak dari kursi.
Caleb langsung terserang panik ringan. Tangannya mencoba meraih lengan pemuda itu meskipun dirinya tetap tak bisa menahan tawa.
"Gitu aja pundung, Mas. Masa udah pingin pulang aja? Maaf, Mas. Saya bercanda doang," katanya.
"Lah? Orang saya mau beli minuman lagi," balas pemuda itu, tetap tidak menyembunyikan wajah kesalnya. "Mumpung malam Sabtu, saya beliin kopi lagi ya, Mas?"
Seolah peka dengan botol Caleb yang telah kosong, pemuda itu melirik ke botol milik Caleb. Akhirnya, Caleb yang tak punya alasan untuk menolak pun mengangguk. Sekembalinya pemuda itu dari membeli sebotol kopi dingin dan sekotak susu lagi, obrolan mereka bermuara menuju sembarang hulu. Caleb izinkan dirinya untuk lebih terbuka, melepas segelnya dan mengatakan apa-apa yang sebenarnya dia suka juga apa yang dia ingin lakukan.
Dia ceritakan semuanya, karena itu sejak awal dia mengizinkan pemuda itu duduk di sisinya. Dia butuh seseorang untuk diajak bicara, dan pemuda itu lihai dalam menyajikan ruang untuknya.
Untungnya, pikir Caleb. Hari ini dia malas menyetir.
. . .
