Actions

Work Header

Idol Rafayel; Scandals

Summary:

Kamu, seorang idol, menyamar sebagai antifan Rafayel dengan membocorkan banyak privasinya di media sosial. Mengetahui bahwa kamu adalah oknum di balik akun antifan itu, ia menyenggamaimu di toilet sebelum tampil.

Work Text:

Socmed Fic. Klik di sini!


Acara penghargaan bagi para idol digelar megah. Kamu dan Rafayel kedapatan tampil dalam satu stage. Berhubung kalian masih memiliki waktu beristirahat sebelum tampil di depan lautan penonton, kamu memutuskan untuk bergabung dengan bintang tamu lain di ruang VIP.

Lelaki berambut ungu itu menunggumu di lorong menuju ruang VIP. Menyandarkan punggung di dinding. Malam ini ia mengenakan setelan kemeja dengan harness hitam, menekan dada bidangnya yang tampak sesak di balik kancing.

Bola matamu berputar kesal. Kamu berniat memutar badan, tetapi Rafayel melangkah gesit mengejar. Pergelangan tanganmu dicengkeram dan ditarik menuju toilet perempuan yang kosong.

Sesampainya di dalam, pria itu menangkup wajahmu, menyatukan bibir kalian dalam ciuman panjang. Dahimu mengernyit kaget merasakan pagutan cepat itu. Kedua tanganmu meremas pergelangan tangannya, berusaha menghentikan.

Rafayel berhenti sejenak. Sepasang alisnya menyatu. Wajahmu diperhatikan dengan saksama, sebelum ditangkup lagi untuk melanjutkan ciuman.

“Raf, stop!” Kamu berseru keras, mendorong dadanya.

Alih-alih berhenti, ia mendorongmu memasuki salah satu bilik tanpa melepas pagutan bibir kalian. Lantas mengunci dalam sekali gerakan.

Ibu jari Rafayel menekan pipimu, memaksa rahangmu terbuka untuk menerima lidahnya yang berusaha melesak. Baru saling bersentuhan, kamu gigit bibir bawahnya keras, membuat pria itu seketika terenyak kaget dan melepas koneksi bibir kalian. Dahinya mengernyit dalam. Disentuhnya bibir bekas gigitanmu itu.

Are you out of your mind?!” serumu dengan nada tertahan.

Yes. I’m out of my mind.” Rafayel memutar tubuhmu cepat, membuat punggungmu menekan pintu bilik toilet. Kamu mengerjap beberapa kali. Bahumu ditekan dengan kedua tangannya. “Kenapa kamu lakukan itu?”

“Apa? Nyebarin foto kita?”

Tak ada balasan selama beberapa saat. Hanya helaan napas panjang yang diembuskan Rafayel.

“Aku bahkan nggak tahu alasan kamu tiba-tiba menjauh.”

Kamu mendengus, mencoba melepas tangannya di sekitar bahumu.

We're both into this, yeah?” Iris mata bluish-pink Rafayel menatap lekat wajahmu.

Kamu menggeleng. “Gue nggak ada rasa sama lo.”

Stop lying.” Pandangan lelaki itu semakin putus asa. Ia sangat yakin kamu memiliki perasaan sama dengannya walaupun industri hiburan seperti ini cukup keras dalam menghadapi berita kencan. “Lalu, kenapa kamu sebar foto-foto itu?”

Bibirmu merapat membentuk garis lurus. “Karena lo nyebelin!”

It’s not enough. Bukan alasan yang aku mau. Jawab.”

Helaan napasmu terasa berat. “Kenapa? Lo takut ya karier lo bakal hancur kalau ada berita dating? Makanya takut fotonya gue sebar?”

“Huh?” Sebelah alis Rafayel terangkat. Ia tak mengerti maksudmu.

“Atau… takut kehilangan fans karena tahu cewek yang deket sama lo bukan kapal mereka??”

Mendengar penuturanmu, Rafayel menyeringai, mulai memahami perkataanmu.

“Kamu jealous karena aku di-ship sama idol lain?”

“Idih, nggak!”

Kedua alis Rafayel terangkat mencemooh. “Jadi, itu alasannya tiba-tiba ngejauh? Kamu bikin akun haters, nge-leak project-ku sama idol itu, dan nyebarin foto-foto kita… karena jealous? Hahaha.” Tawa Rafayel menggelegak.

Wajahmu merengut kesal. Namun tak dipungkiri, ucapan Rafayel ada benarnya. Kamu terdiam di hadapan pria itu.

Rafayel menarik dagumu, memaksa netramu berserobok dengannya. Ia menangkup wajahmu lembut.

“Jangan jauh-jauh lagi, please,” tukasnya perlahan. Jemarinya menyusuri wajahmu. Matanya menatap lekat pada bibirmu. Lipstikmu tercoreng sedikit. Ia menyeka melenyapkan coretan di sudut bibirmu, sebelum memagutmu.

Matamu memejam. Kali ini menerima dirinya, membiarkan seisi rahangmu dijelajahinya. Ciuman Rafayel berpindah ke pipi, rahang, lalu turun ke leher. Kamu memiringkan kepala memberi ruang lebih leluasa. Kelopak matamu bergetar. Bibirmu terbuka. Desahan sensual lolos dari sana. Jemarimu menyusup di helaian rambut ungu Rafayel. Pria itu mencumbu tanpa henti. Bibirnya menyapu kulit sensitifmu, bergerak ke tulang selangka, lalu berhenti di dada. Ia menurunkan tali gaun pinkmu, memelorotkannya untuk memamerkan payudara yang terselubung di balik bra. Bagian atas bra diturunkan sampai di bawah payudaramu, mengeksposmu.

Lelaki itu menarik pinggangmu, membuat tubuhmu terhuyung merapat padanya. Ia mengisap kulit payudaramu yang lembut. Terlampau digulung renjana yang meletup-letup, kamu membuka mata, memandang Rafayel yang mencoba meninggalkan bekas gigitannya di payudaramu.

“Raf! Nanti kelihatan di tv!”

“Bodo amat…” Gumaman Rafayel mengantar getaran di dadamu. Tangannya meremas salah satunya.

“Raf… ayelhh… jangan di sini…” Keningmu mengernyit, berusaha menjauhkan lelaki itu agar tak menambah masalah dengan meninggalkan cupang.

Melepas dadamu, Rafayel menyeringai. Bibirmu dibungkam dengan ciuman. Ia menggumam menikmatinya di antara lumatan. Badanmu dibalik dengan gerakan gesit, membuatmu tersentak. Dadamu yang polos menekan pintu bilik.

Kepalamu menoleh ke belakang, melihat lelaki itu telah melonggarkan ikat pinggang, menurunkan celana dan dalamannya. Ereksinya yang menegang telah basah oleh cairan precum. Penis itu berayun pelan di udara.

I missed you.” Rafayel mengangkat salah satu kakimu, mengaitkan tungkaimu di tangannya. Ia mengendus dan menggesekkan hidung di bahumu. Pinggiran dalamanmu disingkirkan ke samping untuk memberi akses. Dengan bibir menempel pada bahu telanjangmu, ia mendesakkan penisnya ke liang senggamamu.

“Ahh… Raf… hhhah!” Kamu merintih tertahan. Tubuhmu disentak hingga payudaramu terimpit di bilik.

Pinggul Rafayel menyentak ke depan berkali-kali, menyodok serviksmu tanpa mengurangi kecepatan. Erangan sensual penuh nikmat meluncur baik dari bibirnya maupun dirimu.

Tanganmu menekan bilik. Pipimu menempel. Matamu menyipit. Pinggangmu terentak-entak ke depan. Kamu menengok ke bawah, pada koneksi intim yang terjalin. Dengan mata mengkabut oleh gairah, kamu amati penis panjang lelaki itu menumbuk serviksmu.

Pinggangmu ditarik erat, tubuhmu dipeluk dari belakang. Kamu membalas pelukannya dengan meremas tangannya di depan dadamu yang bergetar di sepanjang sodokannya.

Badanmu diputar, dipaksa membungkuk di depan toilet duduk. Kakimu dilebarkan. Rafayel memelorotkan dalamanmu sampai tungkai. Pinggangmu ditarik, membawa vaginamu untuk bersua kembali dengan penisnya. Membenamkannya sangat dalam hingga menyentuh g-spot. Kepalamu tertunduk, rambutmu berjatuhan ke bawah, bergoyangan mengikuti tempo genjotan lelaki itu. Badanmu terdorong-dorong ke depan. Payudaramu yang menggantung bebas bergetar, bergelantungan kian-kemari.

“Ahh.. ahh.. ahh… Raf… ay.. mhmm…”

Mulutmu dibungkam dari belakang, menahanmu agar tak merintih keras. Sebab, pintu toilet dibuka oleh beberapa perempuan yang mengobrol dengan iringan tawa. Salah satunya memasuki bilik di sebelah.

Tubuhmu diputar menghadap dirinya. Matamu mengarah lekat pada Rafayel yang mendekatkan telunjuk ke bibir, memintamu tak berisik.

Rafayel duduk di atas toilet. Ia menarikmu sampai terduduk di pangkuan. Kedua kaki jenjang lelaki itu diangkat untuk menahan pintu bilik. Agar, orang di samping tak menyadari ada dua pasang kaki.

“Ada tisu, nggak?” Penghuni di bilik sebelahmu bertanya. Rafayel mengangsurkan tisu padamu. Kamu memutar bola mata dan mengalihkan tisu itu ke bawah bilik. “Makasih, ya.”

Tak membalas, bibirmu malah dibungkam dengan ciuman. Lelaki itu tak peduli eksistensi seorang pun. Tangannya menjamah punggungmu. Ia menekan pinggul ke atas, memintamu menggenjot penisnya yang tak sabar untuk masuk lagi.

Bokongmu naik sedikit. Perlahan, kamu masukkan penisnya ke liang senggamamu, menelannya penuh. Wajah dan telinga Rafayel kian memerah. Rintihan nafsu nan sensual dari bibir kalian berusaha tak lepas. Bibir kalian berkelindan satu sama lain, terengah-engah.

Pinggulmu bergerak memutar, depan-belakang, melumat penis lelaki yang kamu duduki.

“Mmhm… hhh…” Kepalamu terangkat menahan rintih.

“Kamu nggak apa?”

“Hmm.. iy-iya.” Kamu menggigit bibir bawah.

Tak ada suara lagi. Sunyi. Segalanya terasa kian menyiksa. Rafayel membungkammu lagi dengan bibirnya. Tanganmu mengalung erat di lehernya, memeluk, bergerak naik-turun.

Pada akhirnya, orang di sebelah menuntaskan buang air dan melangkah meninggalkan toilet yang kini sunyi kembali.

Adrenalin yang tertahan tadi mulai lepas, membuatmu menggenjot semakin cepat di atas pangkuan Rafayel. Lelaki itu mengerang tak sudah-sudah.

“Ahh… fuck… mhmm…”

Bunyi kecipak basah nektarmu dari vagina yang ditumbuk testisnya berpadu dengan tepukan kulit. Menggaung di toilet.

Orgasme mulai mendekat. Pacuanmu mengencang dan keras hingga bisa kamu rasakan ujung penis panjang itu di dinding rahimmu. Kalian saling berpelukan erat. Tubuhmu bergetar disapu gelombang pelepasan.

“Raf… ayel… ahh… sialan.” Kamu membenamkan wajah di leher lelaki itu. Denyut vaginamu menjalar sampai kaki.

Badanmu bergetar mendapatkan puncak kenikmatan itu. Di antara deru napas cepat, kamu berdiri, melepas koneksi intim kalian.

Rafayel mengocok penisnya dan memuntahkan sperma di lantai toilet. Tubuhnya terasa rileks. Ia menyandarkan punggung pada sandaran toilet.

Pandangan mata kalian bertemu.

“Kita belum selesai,” tukas Rafayel seraya menaikkan celana dan merapikan bajunya kembali.

Kamu telah menaikkan tali gaun, bra dan dalamanmu. “Hmm?”

“Setelah acara ini…” Lelaki itu bangkit, menarik pinggangmu. Ia mendaratkan ciuman singkat di bibirmu. “Kita lanjutkan di hotelku.”

Namamu dan Rafayel diteriakkan dari luar. Pintu bilik toilet dibuka Rafayel. Kamu keluar lebih dulu diikuti olehnya dari belakang. Agak menjaga jarak.

Suara sorak-sorai penonton semakin terdengar. Kalian diminta segera bersiap di panggung.

Series this work belongs to: