Work Text:
Hari ini paaanas sekali. Kalau aku lihat ke langit dan hitung jumlah mataharinya, mungkin ada lima, tepat di atas kepalaku. Rasanya seperti mau pingsan, sumpah. Memangnya nggak bisa, ya, pasang kanopi yang lebih teduh di halte bus? Aku yang masih muda saja lama-lama nggak kuat. Coba bayangkan kalau yang duduk di sini lansia. Kasihan, nggak, sih?!
Sebentar, aku memang kepanasan dan mandi keringat ... tapi nggak seekstra bocah yang baru saja duduk di sampingku ini! Badannya basah kuyup, seragamnya nggak ada yang luput dari basah—aku yakin pakaian dalamnya juga. Itu jelas-jelas bukan mandi keringat, deh. Mandi betulan!
Bersyukur laki-laki itu nggak sadar kalau baru saja kutertawai sedikit. Nggak sengaja, suer. Lagipula apa-apaan ... bukannya kelihatan segar, dia malah mirip anjing yang habis kecebur di selokan.
Dia tiba-tiba bergeser agak menjauh, baru setelah itu membuka mulut, “Maaf, aku bau, ya?”
Hah?
“Ini air kolam sekolah, yang di taman itu,” jelasnya sambil menunjuk seragamnya.
Ternyata memang kecebur—tapi bukan selokan.
“Sepanas itu, kah?” tanyaku. Aku tertawa lagi.
Dia ikut tertawa, kemudian menggeleng pelan. "Bukan, aku didorong ke kolam soalnya hari ini aku ulang tahun.”
Oh. Sialan, aku jadi nggak enak.
Kenapa, sih, sejumlah orang kesannya anti banget merayakan ulang tahun secara normal? Kalau kasus seperti ini, aku rasanya bersyukur karena nggak punya banyak teman. Membayangkan diriku dilempari telur, mandi tepung, atau dilempar ke kolam kotor saja sudah membuatku bergidik ngeri.
“Emm ... selamat ulang tahun, ya,” ucapku kepada anak itu, anggaplah sebagai kompensasi karena telah menertawakan. “Ganti bajumu, nanti masuk angin.”
Dia unjuk gigi lagi. “Nggak bawa baju ganti.”
Perlu satu menit penuh sampai akhirnya dia menerima jaket milikku untuk dipinjam. Aku juga harus beberapa kali meyakinkannya kalau aku nggak keberatan. Toh, nggak akan kupakai juga nanti saat di dalam trans.
Detik berikutnya, ia mempertontonkan tubuh bagian atasnya tanpa busana kepadaku. Tentu saja bukan aku yang minta—jangan menduga yang aneh-aneh! Aku tahu hal itu lazim dilakukan oleh anak laki-laki selepas mata pelajaran PJOK di ruang ganti, tapi ingatlah bahwa aku nggak melakukan itu dengan teman-teman sekelasku. Jadi ... wajar, 'kan, kalau aku terkejut? Apalagi ini di halte, bukan ruang ganti.
“Oh, iya, Kak. Namaku Samuel. Aku kelas sebelas IPS-1.” Ia memperkenalkan dirinya di sela-sela kegiatannya memeras kemeja.
“Kita seangkatan. Aku Leon, jurusan Bahasa,” sahutku. “Sorry, aku nggak bisa bantu celanamu.”
Respon yang kudapat hanya anggukan dengan senyum lebar, seperti mengisyaratkan 'nggak masalah' karena aku nggak punya celana cadangan untuk dipinjamkan. Kebetulan jadwal pelajaran PJOK di kelasku bukan hari ini.
Selanjutnya, nggak ada kejutan atau hal aneh lagi. Kami hanya ngobrol-ngobrol kecil sambil menunggu bus trans rute kami masing-masing datang.
Samuel—benar, 'kan, namanya Samuel? Hmm ...
Ini sudah lebih dari seminggu sejak Samuel menjanjikan kembalinya jaket kesayanganku secepatnya dalam keadaan bersih dan wangi. Nyatanya, hingga hari ini, dia belum datang untuk memulangkan jaketku. Laki-laki memang nggak bisa dipercaya—kecuali aku, hehe.
Aku seperti baru saja mendapatkan momen ‘new character unlocked’ di video game. Sejak hari kami bertukar nama di halte itu, aku hampir selalu melihat Samuel bersama teman-temannya di seluruh penjuru sekolah. Meski begitu, dia nggak selalu menemukan aku. Mungkin karena terlalu banyak orang di sekelilingnya.
Aku bisa menemukan sosoknya di kantin, di taman, di koridor, di lapangan, bahkan di parkiran sekalipun secara nggak disengaja. Tapi yang paling absurd, aku juga mendapati Samuel menempati kursi belakang di ruangan yang sama denganku saat ini.
Rupanya dia datang terlambat. Aku bahkan nggak sadar kapan dia masuk karena terlalu fokus. Oh, iya, ngomong-ngomong, sebentar lagi akan ada pentas seni tutup tahun dan kami akan tampil sebagai tim paduan suara sekolah. Karena alasan itulah Kak Harsa, pelatih kami, nggak membiarkan setiap anggota ekstrakurikuler berlatih untuk main-main saja.
Seusai latihan, aku menunggu Samuel menyelesaikan sesi empat mata dengan Kak Harsa. Menurutmu, mereka membicarakan apa?
“Leon, hai!”
Aku berbalik ketika mendengar namaku dipanggil.
Samuel baru saja keluar dari ruangan. Ia menyerahkan jaket ungu dari tasnya kepadaku. Akhirnya...
“Wangi, sesuai janji,” pamernya sambil tertawa kecil, kemudian mengutarakan klarifikasi. “Maaf, ya, lama. Ketinggalan terus di lemari.”
Aku balas cibiran kecil sebagai candaan. Jujur, ada hal lain yang lebih menarik untuk dibahas. Nggak apa-apa, 'kan, kalau aku tanyakan saja?
“Kamu kenal pelatih kami?”
Samuel menggaruk tengkuk—aku nggak yakin tengkuknya gatal sungguhan. Seperti biasa, ekspresi meringisnya nggak lepas dari wajah.
“Aku memang terdaftar di ekstrakurikuler ini,” ujarnya sambil menggiring langkah kami ke luar gedung sekolah, berjalan ke arah halte. “Tapi nggak pernah berangkat. Hehehe.”
“Jadi kamu tadi ... sama Kak Harsa, bahas absen, kah?”
Samuel memberikan jempol, artinya tebakanku tepat.
“Seratus buat kamu! Aku udah ketinggalan jauh. Jadi, ya ... disuruh pilih aja. Aku mau kejar atau nggak usah datang lagi sekalian.”
“Terus?”
Samuel mengajakku duduk di sampingnya. Sore ini halte sedikit ramai, tidak seperti minggu yang lalu, jadi kami perlu berhimpit sedikit.
“Aku pilih buat nggak datang lagi. Nggak enak sama kamu, sama yang lain. Nanti performanya kacau kalau aku maksa ikut tampil.”
Alisku bertaut mendengar jawabannya. “Lagian, kenapa kamu nggak pernah datang?”
“Singkatnya, karena aku nggak suka nyanyi.” Samuel langsung menimpal enteng. “Eh, nggak segitunya juga, deh! Aku suka nyanyi, tapi nggak sebanyak aku suka menari—tari modern! Keren, nggak?”
Masuk akal, sih. Di sekolah kami belum ada ekstrakurikuler tari modern, jadi mungkin Samuel ikut saja apa yang ada, mengingat bahwa seluruh siswa wajib mengikuti minimal satu ekstrakurikuler.
“Kalau gitu, kenapa kamu datang hari ini?”
“Soalnya aku baru tau kamu ikut paduan suara,” katanya setelah berpikir sebentar. “Tapi langsung diusir sama Kak Harsa. Hehehe.”
Kelihatannya Samuel nggak butuh respon dariku. Dia langsung menyambung dialognya lagi sebelum aku sempat bereaksi.
“Berhubung aku udah di sini ...” Samuel memberi jeda singkat di kalimatnya. “Boleh pulang bareng?”
Kebetulan sekali, bus trans yang bertanda nomor rute ke arah rumahku berhenti di depan kami—seperti ikut mengamini idenya itu.
“Kamu mau ikut ruteku?” tanyaku ragu. “Bukannya mutar lumayan jauh?”
“Jauhnya didiskon kalau kita ngobrol lebih lama. Kamu sendiri gimana? Keberatan, nggak?”
Alah, modusnya …
