Work Text:
Lantai 21 pada pukul sepuluh malam itu adalah sebuah altar kesepian. Hanya ada cahaya lampu koridor yang pucat dan ruangan kaca di dekat pantri yang masih menyimpan tanda kehidupan. Di sana, Arjuna menatap kosong angka-angka di layar monitor yang mulai menari, persis seperti gerakan pemuda di hadapannya yang tengah memetakan kehancuran fokusnya.
“Ada yang salah, Pak Juna?”
Suara lembut itu kembali. Suara yang sama seperti yang ia dengar setahun lalu, namun kali ini tanpa iringan debur ombak Seminyak atau aroma Don Julio 1942 yang memabukkan. Yang tertinggal hanya bau sisa kopi instan dari coffee maker dan aroma kertas dari tumpukan laporan pemeriksaan pajak yang belum dikoreksi.
Pria yang bernama asli Arjuna itu membetulkan letak kacamatanya, mencoba mengalihkan fokus dari rahang tegas pemuda di hadapannya ke arah gunungan dokumen di meja. “Koreksi fiskal kamu di bagian biaya representasi. Belum ada daftar nominatifnya. Kamu tau kan Yud, tanpa itu, biayanya bakal jadi non-deductible?”
Yudistira tak langsung menjawab. Ia justru bangkit, berjalan tenang ke arah mesin kopi, lalu kembali dengan dua cangkir. Salah satunya diletakkan di meja Arjuna, tepat di sebelah surat perintah pemeriksaan yang baru saja datang sore tadi.
“Saya sudah lampirkan, Pak. Kayaknya bapak udah ga fokus, deh,” ucap Yudistira tenang. Ia menyandarkan pinggulnya di tepi meja Arjuna. Sebuah posisi yang tidak sopan bagi seorang junior, namun Arjuna tahu ia tak akan keberatan. Ego senioritasnya terlalu lelah untuk sekadar tersinggung.
“Kamu selalu punya jawaban.”
“Saya disini kan fungsinya emang bantuin bapak? Berarti kalo ditanya, harus jawab, kan?” balas Yudistira. Ia mencondongkan tubuh, memangkas jarak hingga Arjuna bisa mencium aroma sabun mandi yang samar dari balik kemeja kerja bawahannya itu. Bau yang jauh lebih berbahaya daripada ancaman sanksi administrasi mana pun.
Yudistira menurunkan suaranya, nyaris berbisik hingga bulu kuduk Arjuna meremang. “Gausah pura-pura galak, Pak. Saya tau bapak sengaja minta saya lembur, biar saya ga pulang bareng sama anak audit itu, kan?”
Arjuna terdiam. Lidahnya kelu. Ia adalah senior konsultan yang disegani, yang mampu mematahkan argumen pemeriksa pajak dalam hitungan detik. Tapi di depan Yudistira, semua logikanya mendadak error. Mirip seperti website perpajakan milik pemerintah yang sering bermasalah di masa genting.
“Surat pemeriksaan udah masuk, Yudistira,” geram Arjuna, meski tangannya kini sudah merayap ke arah pergelangan tangan sang bawahan, mengusap pelan kulit di sana. “Kenapa saya harus mencampurkan kepentingan pribadi dengan pekerjaan?”
Yudistira tertawa kecil, tawa yang dulu membuat Arjuna rela menghabiskan jutaan rupiah hanya untuk memesan kamar terbaik di Bali. Ia menarik tangannya, lalu berputar menuju pintu ruangan Arjuna dan mengunci slotnya dengan bunyi klik yang halus. Ia kembali mendekat, kali ini masuk ke ruang di antara kedua kaki Arjuna yang duduk di kursi kebesarannya. Menundukkan badan hingga dirinya terkurung sempurna.
“Profesionalitas ya?” Yudistira perlahan menyentuh Arjuna dari ujung celana dan berhenti tepat beberapa jengkal dari pangkal paha. “Tapi kenapa saya lihat dari tadi Bapak yang nggak fokus?”
Yudistira sengaja menjeda kalimatnya, membiarkan nafasnya bersatu dengan nafas Arjuna yang mulai berantakan, sebelum akhirnya ia menjatuhkan bom atom yang paling Arjuna benci sekaligus cintai.
“...bener kan, Mas?”
Pertahanan Arjuna runtuh total. Ia menarik tangan Yudistira, memaksa si bawahan untuk terduduk di pangkuannya. Persetan dengan daftar nominatif. Baginya, Yudistira adalah satu-satunya aset yang tidak akan pernah ia biarkan menyusut nilainya.
“Kamu benar-benar mau saya hukum, ya?” bisik Arjuna tepat di bibir pria yang sedari tadi menggodanya.
Yudistira tersenyum simpul. “Loh, Bapak sendiri udah keras. Saya ngerasain tau.”
Arjuna mabuk kepayang saat pusat tubuhnya tertekan oleh berat badan Yudistira. Suara kecupan basah memantul di setiap sudut ruang kaca, menyisakan sedikit kadar oksigen untuk mereka hirup.
“Pak, di apartemen aja,” rintih Yudistira dengan wajah memerah dan bibir yang bengkak.
—
Jakarta di luar sana hanyalah lautan cahaya yang tidak peduli, namun di dalam lift menuju basement, dunia hanya seluas kotak logam yang bergerak turun. Arjuna berdiri kaku, jas tersampir di lengan, menutupi jemari Yudistira yang mulai kurang ajar meraba pahanya di balik saku celana.
"Yud, ada CCTV," desis Arjuna parau.
"CCTV ga punya kuping buat bisa denger suara deg-degan Bapak," balas Yudistira tanpa dosa.
Arjuna hanya pasrah, sembari mempertahankan raut wajahnya agar tidak terlihat siapapun, termasuk Yudistira yang pasti akan kegirangan dibuatnya.
Di perempatan, lampu merah menyala seperti peringatan yang diabaikan. Yudistira melepas sabuk pengaman, mencondongkan tubuhnya ke Arjuna. Kepalanya mendongak, menatap Arjuna yang sedang berjuang keras menguasai kemudi, sebelum mulai mencumbu apa yang sudah sejak tadi menegang di balik resleting sang senior.
Arjuna mengerang, mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih. "Yud... stop... rame..."
Tepat saat lampu berubah hijau dan Arjuna hampir mencapai batasnya, Yudistira menarik diri. Ia kembali duduk tegak, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, dan menatap jalanan seolah tak terjadi apa-apa. Arjuna ditinggalkan sendirian dengan detak jantung yang liar dan frustasi yang membakar.
Sesampainya di basement apartemen, Arjuna mematikan mesin dengan kasar. Ia merogoh laci dashboard, mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi plug silikon dingin.
"Pake ini," suara Arjuna tak lagi bergetar. Dingin dan absolut. "Jangan dilepas sampai kita masuk ke dalam."
Yudistira menerima benda itu dengan binar menantang. Langkah mereka di lorong apartemen lantai 35 terasa seperti berjalan di atas bara api. Setiap gesekan di dalam dirinya membuat Yudistira nyaris kehilangan keseimbangan, terpaksa bertumpu pada lengan kokoh Arjuna.
Begitu pintu apartemen tertutup dan slot kunci diputar, pertahanan mereka luruh layaknya gedung yang diledakkan dari dalam. Yudistira mendorong tubuh Arjuna ke pintu kayu yang dingin, menarik sabuk kulit pria itu dengan gerakan haus.
"Mas, lepasin... sekarang," rintihnya di sela pagutan yang berantakan.
Arjuna tidak lagi memberikan ruang untuk negosiasi. Ia memutar tubuh Yudistira, menekannya hingga wajah pemuda itu mencium dinginnya daun pintu. Dengan satu sentakan yang tak kenal ampun, ia mengganti dinginnya silikon dengan jari miliknya sendiri, sesuatu yang lebih panas, lebih keras, dan jauh lebih nyata.
Yudistira tersedak oleh napasnya sendiri. Sensasi invasi itu tajam, ofensif, dan sangat tidak sabar. Arjuna tidak menggunakan kelembutan yang ia pamerkan di Seminyak setahun lalu. Malam ini baginya kegiatan pelunasan piutang gairah yang sudah berbunga terlalu tinggi.
“Mas… hngggh, pelan-pelan…” rintih Yudistira,kuku-kukunya mencakar permukaan kayu pintu yang kasar, mencari pegangan pada realitas yang kian mengabur.
Arjuna tidak mendengarkan. Ia sudah terlalu lama berada di bawah derita profesionalitas yang mencekik. Ia menarik rambut Yudistira ke belakang, memaksa leher jenjang itu terekspos, lalu menancapkan gigitan di sana, meninggalkan jejak kepemilikan yang tidak akan bisa disembunyikan oleh kerah kemeja mana pun besok pagi.
“Kamu pengen ini, kan?” desis Arjuna, suaranya parau. “Jangan harap saya bakal kasih kamu ampun cuma gara-gara kamu ada deadline.”
Arjuna melepaskan kancing celananya dengan gerakan yang tidak lagi sistematis. Saat ia merangsek masuk, menyatukan dirinya dengan pemuda itu dalam satu hentakan dalam yang menuntut, dunia seolah berhenti berputar. Yudistira memekik tertahan, kepalanya terkulai lemas di atas kayu pintu, sementara Arjuna menghimpitnya tanpa ampun dari belakang.
Setiap hentakan dan tumbukan terasa konsisten dan pelan, seperti irama mesin yang tak kenal lelah membelah kesunyian apartemen. Yudistira merasa seolah organ tubuhnya sedang ditata ulang, harga dirinya dilebur menjadi satu dengan peluh dan aroma sandalwood yang menguar kuat dari tubuh Arjuna. Ia benci betapa tubuhnya berkhianat; bagaimana rasa sakit yang tajam itu perlahan berubah menjadi jenis kenikmatan yang paling menghinakan.
"Lihat saya, Yud," Arjuna memutar wajah Yudistira agar mereka bersitatap. Di dalam foyer apartemen yang remang yang minim cahaya, mata Arjuna berkilat penuh obsesi yang gelap. "Bilang siapa yang punya kamu malam ini. Bilang."
Yudistira tidak bisa menjawab dengan kalimat utuh. Bibirnya hanya mampu membentuk satu panggilan yang paling Arjuna benci sekaligus cintai. "Mas... Mas Arjuna..."
Mendengar nama itu disebut di tengah desahan yang pecah, Arjuna mempercepat temponya. Ia tidak lagi peduli pada etika atau estetika; ia hanya ingin menghancurkan sisa-sisa ketenangan Yudistira sampai pemuda itu tidak lagi sanggup berdiri.
Puncaknya datang seperti ledakan di tengah sunyinya meja audit. Yudistira melengkung hebat, kukunya meninggalkan jejak keputusasaan yang cantik di permukaan pintu saat ia melepaskan segalanya. Arjuna menyusul tak lama kemudian, mengerang rendah di ceruk leher Yudistira, mengisi kekosongan di dalam diri pemuda itu dengan kehangatan yang mencekik.
Hening kembali merayap, menyisakan deru napas yang patah-patah. Arjuna tidak langsung menjauh. Ia tetap memeluk tubuh Yudistira dari belakang, menyandarkan keningnya di pundak yang lembap itu, membiarkan detak jantung mereka yang liar saling berkomunikasi.
“Yud, jangan lupa laporan besok jam delapan pagi,” bisik Arjuna, suaranya sudah kembali tenang dan absolut meski tangannya masih enggan melepas pinggul Yudistira.
Arjuna tersenyum tipis, lalu mengecup bahu Yudistira sekali lagi; sebuah gestur lembut yang kontras dengan kekacauan yang baru saja mereka lalui. Di ruangan itu, bau peluh dan sisa gairah masih menggantung pekat di udara, menyatu dengan keheningan malam yang protektif.
“Mau bersih-bersih sekarang?” bisik Arjuna.
Tawaran itu hanya dijawab dengan anggukan lemas. Tanpa banyak bicara, Arjuna menyisipkan lengannya di bawah lutut dan punggung Yudistira, menggendong pemuda itu dengan posesif untuk dibawa masuk lebih dalam ke arah kamar mandi.
Mereka membiarkan area foyer berantakan begitu saja. Pakaian yang teronggok tak berdaya, sepatu yang terlempar, serta tas kerja berisi tumpukan dokumen yang tergeletak di lantai tanpa harga diri.
Malam ini, biarlah segala deadline dan urusan kantor tertunda. Sebab bagi Arjuna, kenikmatan yang berdenyut di dalam pelukannya jauh lebih krusial dibandingkan lembar surat pemeriksaan mana pun.
