Actions

Work Header

obsessed

Summary:

Junghwan menjalin hubungan dengan Youngjae di belakang Dohoon, dan juga Youngjae adalah teman baik Dohoon. Sampai suatu hari mereka bertemu lagi dengan cara yang salah. Dohoon melihat Junghwan dan Youngjae berciuman, di tempat tinggal nya.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Terdengar suara pintu apartemen terbuka pelan, memecah sunyi malam yang sejak tadi hanya dipenuhi suara televisi dan hembusan napas Junghwan. Lelaki itu menoleh sekilas, mengira seseorang yang baru datang adalah Dohoon. Dengan langkah santai ia berjalan mendekat, namun langkahnya terhenti tepat saat melihat sosok yang sedikit lebih tinggi berdiri di ambang pintu sambil memasukkan kedua tangan ke saku hoodie hitamnya.

“Dari mana lo tau pin apart Dohoon?”

Youngjae tersenyum tipis, santai seolah tak merasa bersalah sedikit pun. “Tanggal lahir lo kan? Gue gak sebodoh itu.”

Junghwan terdiam. Tatapannya bergerak pelan memperhatikan wajah lelaki di depannya itu. Makin lama, makin terasa asing. Ada sesuatu dalam sorot mata Youngjae yang berubah akhir-akhir ini—sesuatu yang terlalu nekat, terlalu berani, terlalu berbahaya.

“Gila lo, jae.”

Kata itu lagi.

Entah sudah berapa kali Junghwan menyebutnya gila, tapi anehnya Youngjae selalu menyukai cara Junghwan mengatakannya. Seolah setiap ucapan itu menjadi bukti kalau Junghwan masih memikirkannya.

Youngjae melangkah mendekat perlahan.

“Gue bilang apa tadi di room chat?”

Junghwan mundur satu langkah kecil, tapi tubuhnya keburu tertahan meja dapur di belakangnya. “Gue gila karena lo.” Nada suara Youngjae rendah, nyaris seperti bisikan. Membuat dada junghwan terasa sesak sendiri.

Hubungan mereka memang salah sejak awal. Tidak jelas, tidak punya arah, tapi terus berlanjut seperti candu yang tak bisa diputus. Tanpa aba-aba, Youngjae menarik tengkuk Junghwan lalu mengecup bibirnya.

Junghwan membelalak kaget. Kedua tangannya spontan mencengkeram lengan Youngjae, berniat mendorong tubuh itu menjauh, tapi Youngjae justru menahan kepalanya agar tidak menghindar. Ciuman itu awalnya lembut, pelan, nyaris hati-hati. Namun semakin lama semakin dalam, membuat napas junghwan mulai tidak beraturan.

Dan sialnya—Junghwan membalas.

Youngjae tersenyum kecil di sela ciuman mereka.

“Pacar aneh lo pergi?”

Junghwan hanya mengangguk pelan, napasnya masih tersengal. Jawaban itu cukup untuk membuat Youngjae kembali menautkan bibir mereka. Kali ini lebih kasar, lebih penuh nafsu yang menggebu. Sehingga ciuman itu perlahan berubah menjadi lumatan, Youngjae mencari titik nyaman yang bisa ia nikmati.

Youngjae mendorong tubuh itu ke sofa, kepala Junghwan hampir saja mengenai ujung sofa tersebut. Tak ada kendala, wajah mereka bertemu satu sama lain, suhu tubuh yang makin naik membuat mereka tenggelam dalam nafsu.

Bibir yang bertaut lekat itu tak kunjung lepas, membuat keduanya sedikit terengah. Tangan Youngjae mulai meraba tubuh mangsanya. "Ugh!" pekik Junghwan, senyum seringai Youngjae berkembang saat melihat junghwan yang kewalahan di bawah sana semakin menambah gairahnya.

Aroma parfum Youngjae bercampur dengan udara dingin apartemen membuat kepala Junghwan makin kosong.Bibir mereka tak kunjung lepas. Napas keduanya mulai memburu. Jemari Youngjae menyusuri pinggang Junghwan perlahan, membuat Junghwan menggigit bibirnya sendiri demi menahan suara. Seringai tipis muncul di wajah Youngjae saat melihat Junghwan mulai kewalahan di bawahnya.

“Ngh jae nanti dohoon pulang,”

“Kenapa? Takut ketauan?” bisik youngjae pelan sambil mengusap pipi junghwan.

“Stop it.”

Alih-alih berhenti, youngjae kembali mencium junghwan. Kali ini lebih panas, lebih dalam. Posisi mereka berubah tanpa sadar. Junghwan mengambil alih, duduk di atas pangkuan youngjae sambil terus menciumi lelaki itu tanpa jeda. Jemarinya menyentuh perut Youngjae dari luar baju, merasakan otot yang menegang di balik kulit hangatnya.

Junghwan mencengkeram bahu youngjae kuat-kuat, Junghwan yang sudah tak tahan lagi mengangkat kaus Youngjae, hendak membukanya. Youngjae menyeringai melihat Junghwan yang masuk ke dalam permainannya.

Pertukaran saliva itu makin memanas. Junghwan terus mengeklaim posisinya dengan berada di atas Youngjae tangannya masuk kedalam baju Youngjae yang membuatnya terangkat sedikit. Jemarinya menyusuri tubuh Youngjae, menyeka petak-per pertak abs yang mulai terbentuk diperutnya.

"Diam di tempat lo seharusnya jae,"

Youngjae ingin menyudahi permainan itu, Junghwan menangkup dagu Youngjae dengan tangan kanannya lalu menarik wajah mangsanya itu untuk diciumnya lagi. "Ahh,"

"Fuck me,"

"Hmph.." lenguh Youngjae tak tertahan saat Junghwan menyesap titik sensitif di dadanya, sementara kedua tangannya sibuk membuka celana pendek Junghwan. Kecupan Junghwan turun dan terus turun menyusuri tubuh itu. Dadanya, sekat dadanya, hingga di perut bawahnya.

Junghwan menyeringai saat melihat milik Youngjae yang sudah menegang sedari tadi. Youngjae menarik tubuh Junghwan naik, menangkup wajah pria itu untuk kembali diciumnya.

Lelaki yang berada di atas itu membuka celananya dan mulai menyelipkan tubuhnya diantara kedua kaki Youngjae. Ciuman itu semakin panas, lidah mereka saling bertaut, menyapu isi mulut satu sama lain.

Junghwan melepas tautan bibirnya dari bibir Youngjae hingga saliva mengalir, pintu apartemen terbuka memperlihatkan seorang pria kecil tengah berdiri di ambang pintu apartemen, melihat apa yang keduanya lakukan.

Satu tangannya memegang semua kotak berukuran sedang dan yang satunya memegang totebag, totebag itu hampir terjatuh namun tangan Dohoon tak kalah cepatnya. Tatapannya kosong beberapa detik, seperti otaknya belum memproses apa yang sedang dilihat.

Junghwan langsung menjauh panik. Tangannya buru-buru memakai pakaian kusutnya sambil menyuruh Youngjae melakukan hal yang sama. Dohoon tak percaya apa yang ia lihat barusan.

"Kocak,"

Satu kata itu keluar datar, tapi justru terdengar lebih menyeramkan. Dohoon berjalan masuk perlahan. Kotak makanan di tangannya diletakkan kasar di meja tanpa memutus kontak mata sedikit pun dengan junghwan.

"Besok-besok kalau mau ngelakuin hal yang gak gak jangan di apart gue anjing." Dohoon mendekati Junghwan dan Youngjae, ia mendorong Junghwan pergi dari dalam apartemen. Junghwan membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar.

Youngjae berdiri di belakangnya sambil memegang pergelangan tangan junghwan pelan, seolah masih enggan melepaskan. Tatapan dohoon turun ke tangan itu, dan ekspresinya langsung berubah. Dohoon melihatnya.

"Lo gak perlu datang ke sini lagi, urusin selingkuhan bangsat lo itu." Pintu apartemen tertutup keras tepat di depan wajah mereka, Dohoon membiarkan kedua orang itu di luar dengan pakaian yang lusuh.

Meninggalkan Junghwan dan Youngjae berdiri diam di lorong apartemen dengan napas berantakan dan pakaian yang masih kusut, sementara dari balik pintu… tidak ada suara apa pun lagi.

Notes:

idk... first time make a narrative story about nidjaedo😬🙌🏻 yang penting hidup nidjaedo