Actions

Work Header

missing you too much.

Summary:

omegyu lagi kangen sama suaminya, begitu.

Notes:

halo maaf adminnya sibuk ngelab dan ngerjain tugas akhir (huh-hah), semoga enjoy dengan ini ya ok. kapan-kapan kita kembali dg gyu centric ya hehehe.

ps. sepertinya i use too much “-nya” di sini tapi siapa peduli soalnya aku suka aja sih nanti kalo nunggu direvisi bisa-bisa baru aku post bulan depan. tidak dibeta juga dengan alasan yang sama. namaste.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

jauh sebelum menikah dengan jeonghan—tidak sejauh itu juga, sih, mereka kan dijodohkan, mingyu sudah tahu kalau suaminya itu orang sibuk. ada banyak urusan yang harus jeonghan lakukan saat bekerja. apabila dalam keadaan normal, maka jeonghan akan bisa jumpai mingyu setiap hari. tapi dalam beberapa kasus spesial, jeonghan terkadang harus meninggalkan omega cantiknya itu untuk beberapa hari.

mereka baru saja kembali dari bulan madu, dan jeonghan langsung disibukkan dengan urusan ini itu. mingyu, sebagai suami yang baik, tak ingin protes. toh, mingyu juga yang di kemudian hari akan habiskan uang suaminya. namun, jika boleh jujur, mingyu akui, dia rindu dengan eksistensi yoon jeonghan yang biasanya mengorbit kemanapun mingyu berada.

selama bulan madu, tak pernah sehari pun mereka habiskan tanpa berduaan. alpha-nya akan selalu mengikuti kemana saja mingyu melangkah. bahkan ke tempat-tempat yang belum pernah dihampiri jeonghan. makanya, dengan kenihilan suaminya di sisinya belakangan ini, mingyu merasa sedikit sedih—sedikit saja, lebih banyak rindunya. makanya juga, ketika jeonghan katakan waktunya di akhir pekan adalah milik mingyu seorang, mingyu raih bahagia paling menyenangkan semenjak kepulangannya dari agenda bulan madu yang fantastis.

mingyu dan jeonghan memulai akhir pekan dengan agenda yang sangat menyenangkan. mingyu sudah sampaikan keinginannya, sih, semalam. kalau dia ingin berenang pagi ini dengan alpha-nya. dan jeonghan memenuhi keinginan itu, membangunkan mingyu dengan begitu lembut, penuh kecupan—hingga muka mingyu sedikit basah, tak apa, mingyu suka. lalu lengan kekar itu dengan mudah menggendong mingyu untuk hampiri kolam renang mereka.

sudah ada jus dan dua potong sandwich di meja tepi kolam. mingyu tersenyum, semakin senang—padahal nyawanya belum sepenuhnya terkumpul.

“itu kamu yang siapin?” katanya, menunjuk meja itu.

jeonghan mengangguk. “yes, mon beau. but you can eat it later setelah kita selesai berenang.”

mingyu kalungkan lengannya di leher jeonghan, mengajaknya bergerak ke tengah kolam dengan langkah cantik nan elegan. jeonghan akui itu salah satu hal yang membuatnya ingin memiliki mingyu. cahaya matahari pagi yang belum terlalu terik terpantul oleh riak air, jatuh pada wajah mingyu nan jelita. membuat jeonghan lagi-lagi mengagumi paras suaminya.

jeonghan tertawa pelan ketika mingyu otomatis melingkarkan kedua kaki di pinggangnya. air kolam yang dingin menyentuh betis mereka perlahan, menciptakan riak-riak kecil setiap kali jeonghan bergerak maju. tawa itu bersambut dengan delikan mingyu, ingin tahu kenapa suaminya tertawa padahal tidak ada hal lucu di sini.

you’re clingy,” kata jeonghan.

bibir mingyu sedikit mencebik, tapi dia tak mengelak. “i am,” balasnya. “aku kangen tahuuu. suami aku sibuk sekali habis bulan madu.”

“ohh, you miss me?”

“iyaa!” kata mingyu, antusias. “kangen banget banget banget,” matanya mengamati paras jeonghan yang tampak seperti dewa apollo kali ini. “kamunya makin ganteng gini juga. gimana aku gak kangen?”

“tambah ganteng soalnya suami aku kamu,” jeonghan mengayunkan tubuh mingyu—buat si omega terkekeh senang. they finally spend a really good time together.

tidak tahu seberapa lama mereka berenang, habiskan waktu dengan bermain air—mingyu tentu saja jadi yang pertama memancing, melemparkan segenggam air ke wajah suaminya hingga rambutnya basah—alpha jeonghan tambah seksi jika begitu. lalu jeonghan membalasnya dengan aneka trik lainnya.

tawa mereka menggema, menjadi simfoni cantik yang didamba orang-orang saat memikirkan pernikahan. mungkin, dijodohkan tidak selalu seburuk itu. mungkin, menikah bisa menjadi menyenangkan kalau bertemu dengan pasangan yang tepat. dan mingyu senang, orang tuanya jumpai yoon jeonghan yang bisa menjadi suami yang tepat untuk kim mingyu seorang.

sesi berenang itu berakhir saat mingyu rasakan kakinya mulai lemas. jadilah jeonghan yang menggendongnya untuk mandi, memandikannya pula. mingyu selalu bergidik setiap tangan jeonghan menyentuh tiap inchi tubuhnya, memijatnya lembut hingga mingyu rasakan rileks. mingyu bahkan keluarkan beberapa lenguhan—karena merasa nyaman—yang suaranya masih kalah dengan air shower di atas mereka.

jeonghan selalu merawat suaminya dengan telaten, memperlakukan mingyu bak barang pecah belah yang sangat langka keberadaannya. well, mingyu memang cuma ada satu di dunia, sih. kecupan-kecupan selalu dibubuhkan di setiap sentuhan yang jeonghan berikan. hingga terakhir saat jeonghan pakaikan bathrobe mereka, jeonghan mulai mencium feromon mingyu yang memabukkan. tapi jeonghan sudah kenali ini sebagai pertanda jika suaminya tengah sangat bahagia sekali. makanya, jeonghan tak terlalu memikirkan itu.

akan tetapi, mingyu tahu, something is going on with his body. area bawahnya terasa lebih sensitif, perlahan terasa hangat, dan basah. terlebih saat jeonghan menggendongnya, lalu mencium bibirnya lama hingga mingyu kehabisan napas.

“sayang,” kata mingyu pelan.

jeonghan menatap penuh kasih. “ya?”

“i think i'm leaking down there,” ujar mingyu. “kayak anget, terus basah.”

“oh?” jeonghan furrowed his eyebrow. “does it feel uncomfortable?”

“makes me feel needy, alpha …,” bisik mingyu kali ini. suaranya mengeci, namun mengalun apik di telinga jeonghan. lebih-lebih ketika mingyu menanggilnya alpha.

jeonghan mengecup kening mingyu, mendesis pelan selagi membaringkan suaminya itu di ranjang empuk mereka. “do you want me to help you?”

mingyu mengangguk pelan. “please, alpha?”

“i’d be so grateful to help you, my omega,” said jeonghan. “tiduran yang nyaman aja,” imbuhnya.

maka mingyu menurut, bathrobe-nya sudah dilepas—rasanya gerah jika terus dia kenakan. diambilnya bantal, ditumpuk hingga mingyu dapatkan tinggi yang tepat untuknya menyamankan diri. mingyu menoleh pada suaminya yang menunggu, tersenyum mengawasi mingyu yang manis.

“all done,” bisik mingyu.

“ma belle,” gumam jeonghan.

sang alpha beralih, sedikit memiringkan tubuhnya sehingga jeonghan dapat mencapai area bawah mingyu yang sudah basah. aromanya wangi—memabukkan, buat tubuh jeonghan terpancing dan perlahan berdiri pula. jeonghan semakin mendekat, menjulurkan lidahnya, menyentuh cincin rektum yang berkedut dengan cairan kental terus mengalir keluar.

“ahn!” pekik mingyu, merespons kegiatan suaminya di bawah. “ah … sayang,” rengeknya.

jeonghan tidak terganggu. dia tetap melanjutkan apa yang dia lakukan sekarang—kegiatan favoritnya, omong-omong. memakan mingyu hingga suaminya gemetar di bawahnya. diciumnya anal mingyu, disesap setiap omega slick yang keluar, diminum bak bayi kehausan yang belum minum sejak semalam. sengaja diarahkan tangan mingyu untuk menjambak rambutnya—buat jeonghan lama-lama merasa ikut eror*,* sama seperti suaminya.

“enak, sayang?” tanya jeonghan.

mingyu mengangguk—si alpha tak bisa melihatnya. “iy—ah, enak … lagi …,” pintanya dengan begitu cantik.

jeonghan tidak bisa melihat bagaimana wajah mingyu sekarang, tapi memikirkan dari ingatan yang dia punya. mingyu pasti tampak begitu cantik sekarang—bibirnya terkuak, dwimaniknya meneteskan air mata perlahan—dengan netra yang sesekali bergulir, menyisakan putih saja di mata cantiknya. tangannya mengepal menarik rambut jeonghan, sesekali memukul pelan meminta jeonghan untuk berhenti sejenak.

desahan mingyu menjadi simfoni cantik lain yang jeonghan dengar pagi ini, selain tawa mereka yang menyenangkan di kolam renang tadi. jeonghan putuskan untuk membantu mingyu lagi. diraihnya tubuh mingyu, dipijat perlahan—diurut dengan lembut sehingga cairan mingyu semakin deras keluar—yang semakin disesap jeonghan dengan senang hati.

“anh! al—alpha, i think—ohh! i want to cum!” pekik mingyu, bersusah payah di sela lenguhan yang tak bisa dia hentikan.

mendengar itu, jeonghan justru semakin senang. kini tak hanya mulutnya, jemarinya pun dia masukkan ke dalam liang mingyu. membuat suaminya berjengit, terdiam untuk sepersekian detik, lalu gemetar—kelonjotan. tak butuh waktu lama sampai jeonghan sadari mingyu semburkan putihnya di antara genggaman tangan sang suami.

jeonghan merunduk, mencium bibir mingyu tepat sebelum mingyu minta jeonghan untuk mencumbunya. jeonghan sudah hafal dengan tabiat itu, mingyu akan selalu meminta kecupan lama di bibir ranumnya saat sesi bercinta mereka tiba di titik putihnya. tangan mingyu tidak lagi menjambak rambut jeonghan, namun menahan jeonghan—mengalungi tengkuknya sehingga jeonghan tak bisa beralih dari posisinya sekarang.

“good pup,” bisik jeonghan—saat mencium cuping telinga mingyu. “you did great, such a good pup for your alpha, right?”

mingyu mengangguk lemah. napasnya masih tak beraturan, maka jeonghan membantu mengingatkan. menuntun mingyu untuk bernapas dengan benar, sebelum kemudian mengecup keningnya lama.

“i want it too, mon beau,” lirih jeonghan. “boleh?”

si omega menatap bingung, pupilnya bahkan tak fokus jumpai milik jeonghan. “you want me to suck your dick?”

kekehan pelan terdengar. “sounds tempting,” kata jeonghan, kini pipi mingyu menjadi sasaran dari kecupan basahnya. “but i want to fuck you now,” ditatapnya mingyu lembut. “mumpung masih basah,” goda jeonghan. “boleh, sayang?”

mingyu tampak seperti hilang di antara pikirannya sendiri. tangannya memegang lengan jeonghan erat, mengelus-elus perlahan seperti meyakinkan diri jika jeonghan memang sedang bersamanya.

“sayang?” panggil jeonghan. “you’re here?”

tentu, jeonghan tak akan memaksakan diri pada mingyu-nya. terlebih saat mereka di luar heat dan rut yang terkadang menyiksa—karena jeonghan terkadang kehilangan kendali atas alpha-nya, membuat mingyu bisa berakhir tak dapat berjalan selama satu minggu penuh.

“i’m here,” balas mingyu setelah satu menit—mungkin lebih. “boleh, please …, fuck me, alpha?”

jeonghan yakin, mingyu sempat lihat senyum miring di bibirnya sebelum kemudian merunduk, mengecup mingyu—mencumbunya hingga saliva mereka saling mengait, selagi jeonghan mulai mempenetrasi milik mingyu. memasukkannya perlahan karena tak ingin omeganya kesakitan—which is useless, karena mingyu akan selalu terkesiap bilamana tubuh jeonghan berhasil masuk. seperti sekarang.

“ooh!” dwimaniknya membola, mencari-cari jeonghan padahal suaminya itu tak kemana-mana. “uh—so … fucking—big!”

“but you loves it, right?”

jeonghan juga yakin, otak mingyu tak bisa berfungsi seperti sebelumnya—baru akan kembali berjalan seperti sediakala bila mereka selesai dengan sesi sanggama mereka. tapi jeonghan senang, setiap mingyu iyakan segala ucapan kotornya. memancing nafsunya semakin membara, mengungkung mingyu yang kini tak ubahnya omega tak berdaya di bawah jeonghan.

“this won’t last long,” bisik jeonghan. “sayang enak sekali, i think i’m about to cum.”

mingyu is long gone. tak ada balasan selain desahan—makanya jeonghan ingin segera selesaikan sesi ini, tidak ingin mingyu-nya semakin hilang dan masuk ke dalam space yang tak bisa dia jangkau.

cengkeraman tangan mingyu di lengan jeonghan mengerat saat jeonghan tumpahkan putihnya di dalam mingyu. miliknya membesar, knotting him for good. menahan agar tak ada setetes pun spermanya terbawa keluar nantinya.

jeonghan mengembuskan napas panjang di sela bahu mingyu, mencoba menstabilkan dirinya sendiri sebelum memastikan omega di bawahnya baik-baik saja. tubuh mereka masih saling menempel erat, knot jeonghan menahan keduanya dalam posisi intim yang membuat mingyu hanya bisa meringkuk lemas di pelukan alpha-nya.

“hey,” panggil jeonghan lembut.

mingyu hanya mengeluarkan suara kecil sebagai jawaban. wajahnya memerah sampai ke telinga, napasnya belum sepenuhnya teratur. tubuhnya terasa hangat sekali—lebih hangat dari biasanya—terlebih dengan feromon jeonghan yang memenuhi kamar mereka sekarang.

jeonghan mengusap pelan pinggang mingyu, jemarinya bergerak perlahan menenangkan.

“too much?” tanyanya hati-hati.

mingyu menggeleng kecil, rambutnya bergesekan dengan bantal empuk di bawah kepala. “no … feels good,” balasnya malu-malu.

jawaban itu membuat jeonghan tersenyum tipis. diciuminya pipi mingyu lama, lalu keningnya. ditatapnya mingyu lamat-lamat. “good,” bisik jeonghan sayang.

untuk beberapa saat, mereka hanya diam. menikmati keheningan pagi yang nyaman, ditemani suara napas satu sama lain dan sinar matahari yang masuk melalui tirai kamar setengah terbuka. jeonghan menyukai momen seperti ini—saat mingyu tampak paling lembut di hadapannya. so exquisitely, seperti saat jeonghan jumpai mingyu pertama kali. omega itu selalu cantik, tak pernah sedetik pun mingyu tampak biasa saja di mata jeonghan, selalu cantik, mempesona—indah jelita kalau jeonghan harus sedikit hiperbola. tapi setelah dicintai seperti tadi, mingyu terlihat semakin indah di mata jeonghan.

terutama ketika mingyu perlahan mendekat lagi, menyembunyikan wajahnya di leher sang alpha sambil mengeluh kecil—dengan bibir mengerucut gemas, buat jeonghan tak tahan untuk kembali menciumnya. “lengket …”

jeonghan terkekeh pelan. “whose fault?”

“yours.”

“hm, true.”

mingyu mencubit pelan lengan jeonghan, membuat alpha itu tertawa kecil lagi. lalu tanpa peringatan, jeonghan menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua, membiarkan mingyu tetap hangat dalam pelukannya.

“sleepy?” tanya jeonghan.

“a little …”

“tidur lagi aja.”

“nanti sandwich-nya gak dimakan.”

“i can make another one.”

mingyu mendongak sedikit, menatap jeonghan dengan mata setengah terbuka yang masih tampak berkabut. “you love me that much, ya?”

it’s actually impossible to not loving you, loh, ya,” kata jeonghan. “you’re my husband, of course i love you that much.”

jawaban sederhana itu sukses membuat dada mingyu menghangat. jeonghan selalu seperti ini—bahkan sejak sebelum pernikahan mereka resmi dilangsungkan. alpha di sisinya selalu berhasil membuat mingyu merasa dipilih, diutamakan, dicintai dengan sepenuh hati. padahal di luar sana, mungkin ada ratusan hal yang menunggu perhatian yoon jeonghan. pekerjaan, bisnis, orang-orang penting yang terus mencarinya. tapi saat bersama mingyu, pria itu seolah mampu menyingkirkan semuanya hanya untuk fokus pada satu orang.

dan jujur saja, mingyu sangat menyukai itu. mingyu suka bagaimana suaminya akan selalu menaruh mingyu di tier paling atas saat berkaitan dengan prioritas.

“alpha …” panggilnya lirih lagi.

yes, mon beau?”

“thank you.”

jeonghan menatapnya sebentar, sorot matanya langsung melembut. “you don’t need to thank me for loving you.”

mingyu tersenyum kecil. lalu jeonghan mengecup bibirnya sekali lagi—pelan, manis, penuh rasa sayang—sementara tangannya terus mengusap punggung mingyu sampai omega itu perlahan tertidur di dalam dekapan hangatnya.

jeonghan bisa kesampingkan soal bersih-bersih, bisa kesampingkan pula perihal mingyu belum makan. diliriknya jam di atas nakas, mingyu bisa tidur setidaknya selama satu jam, sebelum kemudian harus bebersih dan makan. dikecupnya kening mingyu, dipeluknya erat, lalu jeonghan putuskan untuk memejamkan mata. menyusul mingyu mendatangi bunga tidur—karena bahkan di dalam tidurnya pun, jeonghan akan terus mencari dan mencintai mingyu seutuhnya.[]

Notes:

kolom pengaduan: mond-how .