Work Text:
Professor Rafayel - File 4 Socmed fic. Klik di sini!
Liburan semester yang biasanya kamu habiskan bersama teman-teman atau malah sendirian di rumah kini berganti ditemani Rafayel. Ditemani, karena ia lebih sering mendengarkan dirimu berceloteh, mengiyakan ajakanmu untuk berkeliling, dan sebagainya yang. Ia bagaikan gadun yang memenuhi setiap kebutuhanmu. Bagaikan? Agaknya kurang tepat, sebab hubungan di antara kalian memang seperti itu.
“Do you enjoy it?” Pertanyaan Rafayel mengalihkan perhatianmu dari sinar rembulan yang menerangi kolam pemandian.
“Mmm…” Kamu mengangguk. “Abis ujian, dikasih liburan jauh begini… hahh… rasanya kayak ngelepas beban.” Kamu memukul-mukul pundak pelan.
Rafayel tertawa kecil. “Bukan itu maksud saya.”
Spontan, kamu membalas tatapan lelaki di sebelahmu. Ia bergeser untuk merapat, menimbulkan bunyi kecipak air yang bergoyang di bawah. Tatapan lekat lelaki itu membuat matamu tak berkedip.
“Waktu kamu sama saya…” lanjutnya.
Perhatianmu berpindah ke air yang disinari cahaya keperakan. “Iya.” Wajahmu bersemu merah, malu-malu menjawabnya.
Rafayel memutar tubuhmu untuk menghadap luasnya danau yang gelap di dekat perahu kayu besar bermuatan bangunan kamar yang mereka gunakan untuk mengarungi malam. Ia merapat pada tubuhmu dari belakang hingga bisa kamu rasakan dadanya yang hangat di punggung telanjang. Kepalanya berdekatan denganmu dengan dagu menempel di pundak. Tangannya terulur menunjuk sesuatu nun jauh.
“Sebenarnya, saya mau nunjukin sesuatu di sana. Tapi kamu lebih excited nunggangin kuda.”
“Emangnya di sana ada apa?” tanyamu penasaran.
“Tempat yang cantik banget. Bekas reruntuhan kuil pemujaan di tengah padang bunga. Kamu pasti suka kalau ke sana.”
“Ya udah, besok ke sana. Selain itu, ada apa lagi?”
Rafayel tertawa. Ia menarik pinggangmu untuk menempel lebih erat padanya, lantas mengalihkan perhatianmu untuk berpaling padanya.
“Sekarang bukan waktu yang tepat untuk itu. Setelah seharian ini kamu fokus mulu nunggangin kuda, gantian kamu nunggangin saya, ya?”
“Profesor cabul!” Kamu memukul pelan dadanya, lantas ditangkap oleh lelaki itu. Ia terkekeh, sebelum merengkuh wajahmu dan memagutkan bibir.
Menyambut ciuman hangat itu, kamu memejam dan hendak memutar tubuh. Namun, lelaki itu malah menahan badanmu agar tak bergerak sedikit pun. Kedua pergelangan tanganmu ia jadikan satu untuk ditekan pada pinggiran perahu.
Koneksi di antara kalian terpisah.
“Kenapa kamu nggak takut sama saya?” Pertanyaan itu seketika membuatmu termangu.
“Karena… dibanding rasa takut, saya lebih nyaman sama Profesor.”
Jawaban itu sedikit menyentil hati Rafayel. Ia memosisikan dirinya di sebelahmu, membawamu merapat ke sisinya seolah-olah tak ingin kehilangan seinci pun kehangatan tubuhmu yang malam itu hanya tersembunyi di balik lingerie tipis.
“Udah mulai dingin?” tanyanya.
“Hmm…” Kamu mengangguk. Meskipun suhu air hangat di kolam pemandian itu masih mengepulkan uap membumbung, dinginnya malam tak sedikit membuat tubuh menggigil.
“Let me try something, yeah? I’ll warm you up.”
Ekor matamu mengikuti arah pergerakan tangannya yang menyusuri kakimu, lalu berhenti di antara paha. Jantung sudah bertalu-talu menyadari hal yang akan dilakukan profesormu itu.
Kedua pahamu dibuka sedikit. Jemari panjang nan lentik Rafayel mulai menari dan menyelip di balik dalaman tipis lingerie, menyambut kehangatan kemaluanmu.
Bulu roma di tubuh seketika meremang. Lelaki itu tak mengalihkan tatapan intens untuk memperhatikan wajahmu selama menggosok dan bermain-main di antara labia yang dibelah.
“Nghh—” Mulutmu seketika terbuka, mendesahkan lolongan sensual.
Lelaki itu memijat bundalan saraf sensitifmu, lantas menggosok lagi di antara belahan becekmu. Hangat air pemandian memasuki organ vitalmu.
Senyum kecil Rafayel mengukir di bibir merah jambunya. Tubuhmu spontan memggeliat. Tanganmu meraih ranting kecil yang menjorok di sampingmu, meremas kuat, sementara jemari lelaki itu mulai masuk secara perlahan ke dalam liang ketemu. Nektar dan air hangat seketika menelusup ke dalam.
“Hahh—” Kepalamu terangkat. Denyut klitoris di bawah sana semakin ritmis dan cepat. Badanmu menggeliat lebih keras, air berkecipak berisik, beradu dengan desah erotis yang merapal dari mulut mengangamu.
Lubangmu menjepit jemari Rafayel erat, membuat wajah dan daun telinga pria itu semakin memerah. Ia mendekatkan bibir pada dahimu, menyusuri wajah dengan cumbuan-cumbuan kecil penuh damba.
“Rafayel—” Desahan namanya tak mampu tertahan.
“Yeah…?” Lelaki itu semakin menyukai reaksimu. Ia mempercepat gerak jarinya yang menggali lubangmu. Suara kecipak air yang kian kencang memecah keheningan malam.
Matamu memejam erat. Rasa nikmat yang diantarkan Rafayel tak dapat kamu gambarkan dengan visual maupun kata-kata. Badanmu tak berhenti menggelinjang, semakin mencapai puncak pelepasan.
Genggaman tanganmu pada ranting menguat hingga dahan-dahan pohonnya ikutan bergoyang. Kelopak bebungaan rontok bersamaan tetesan air, mengalir bersama air mata nikmat yang turun membasahi pipi.
“Enak banget ya, Sayang?” bisik sialan lelaki itu menambah sensasi terbakar pada tubuhmu.
Rafayel menemukan setitik air mata yang terjebak di ujung, lantas mendekatkan wajah dan menjilat pelan. Lidahnya menari menyusuri wajahmu yang mengernyit. Darah berdesir sampai ke paha, mengalirkan getaran statistik di antara gelombang air hangat yang berkecipak.
Kelopak matamu bergetar. Kecepatan jari Rafayel mulai bertambah. Mulutmu yang terbuka disambut lelaki itu dengan lidah melesak bertautan dengan milikmu.
“Mhhm… mhmm…” gumaman tak koheren meluncur tanpa jeda.
Gelombang orgasme mengempas badanmu yang terentak dengan getaran. Lelaki itu menahan pinggangmu agar badanmu yang lemas tak merosot sampai ke bawah air. Kepalamu terkulai di atas dada bidangnya yang basah. Napasmu saling mengejar.
“Capek,” bisikmu, tak menyangka malah kehabisan energi hanya karena orgasme sekali. “Ngewenya besok aja ya, Prof?”
Rafayel tertawa pelan. Ia mengangkat tangannya dari selangkanganmu yang masih terbuka. Cairan kental esensimu yang diobok-obok olehnya menjuntai di antara jemari.
“Your body says otherwise. You need more, cutie…” Ia mendekatkan jemarinya yang lengket ke mulutmu yang terbuka. “Taste it.”
Tak menunggu balasanmu, Rafayel menjejalkan ketiga jemari beceknya ke dalam mulutmu. Bola matamu seketika membulat merasakan esensi besi yang asin bercampur dengan air hangat.
“Good girl.” Rafayel menarik kepalamu, mendaratkan kecupan sayang di puncak. “Let's move. I’ll teach you a few more lessons, Cutie.”
Bangkit dari dalam kolam pemandian diikuti suara percikan air yang berat, Rafayel meraih tubuhmu, membawamu ke dalam gendongannya. Praktis, kamu mengalungkan tangan ke lehernya untuk menjaga keseimbangan.
Langkah kaki Rafayel khidmat menyusuri lantai kayu, membawa masuk ke bilik kamar berukuran sedang. Tempatnya terlalu terbuka, tak ada privasi sama sekali. Namun, berhubung lokasi vila yang disewa Rafayel sangat luas dan pribadi, tak ada seorang pun yang bisa bebas mengakses tempat itu sehingga mereka bebas melakukan segala kegiatan cabul.
Rafayel meletakkan tubuhmu di atas ambin. Matrasnya yang lembut dan berpegas membuat badanmu memantul pelan. Lelaki itu merangkak ke atas ambin, lantas memutar tubuhmu untuk berada di atas pangkuannya dalam posisi berbalik. Punggungmu mengimpit dadanya. Pemandangan danau yang gelap membentang di hadapanmu
“Baju kamu basah, saya bantu buka daripada sakit.”
Kamu tertawa kecil mendengar ucapan itu.
Dari belakang, tangan Rafayel menjelajah lingerie tipis basah yang melekat di tubuhmu, jatuh lemas dan diloloskan melewati kedua tanganmu yang terangkat.
Tubuh polosmu kini tak berkain sehelai pun. Angin malam menyapa kulit telanjangmu. Lelaki itu mendaratkan kecupan-kecupan kecil di atas pundak, leher, lengan, lalu tangannya menyibak rambutmu lebih ke depan untuk mendapatkan akses di tengkuk. Kecupan lembut ia benamkan di sana, mengantarkan kehangatan yang menyublim.
Tonjolan ereksi keras menekan bokongmu. Hendak memutar kepala, Rafayel menahan badanmu agar tak bergerak sedikit pun.
“Kita mulai pelajaran selanjutnya,” tukasnya, sebelum menaikkan bokongmu dan mulai membebaskan ereksinya dari balik lilitan kain pendek yang mengekspos pahanya.
Tubuhmu dipeluk erat dari belakang, menahan beban tubuhmu yang sedikit terangkat. Pahamu dilebarkan di atas pangkuannya. Setiap gatal ingin menoleh, pria itu menegur keras di telingamu.
“Ssshh—tetap lihat depan.”
Tangannya yang bebas menggesekkan ujung penisnya ke kemaluanmu diikuti jemarinya yang sesekali menstimulasi. Nektar kental melubrikasi kembali organ intimmu. Memastikan liang yang akan disinggahi telah siap, ia mendorong masuk dengan perlahan, menyesai liangmu yang memeluk erat batang ereksinya.
“Good girl,” Rafayel berbisik pelan, menyisir rambutmu dengan jemarinya. “Now, ride me, Cutie.”
“H-huh?”
“Keep looking at the moon.”
Pandanganmu tertuju ke langit. Pada rembulan yang bergerak perlahan untuk mengarungi gelapnya malam. Rafayel menggerakkan pinggangmu naik-turun di atas pangkuannya. Mengikuti perintah lelaki itu, kamu menggoyang bokongmu, agak malu-malu karena tak langsung bersepandang dengan mata indahnya sehingga membuat dirimu penasaran dengan ekspresi yang diberikan.
Membiarkan tubuhmu memacu pelan di pangkuannya, Rafayel sedikit berbaring. Punggungnya menempel pada kepala ambin, menikmati pemandangan indah bulan yang bundar dan perempuan yang memacu di atas pangkuannya dalam posisi membelakangi.
Jemarinya menyusuri punggungmu, mengantarkan sinyal statis yang meremangkan bulu roma. Kepalamu terangkat, menggoyang pinggul berputar, depan-belakang, dan melumat di pangkuannya. Lelaki di belakangmu membantu mengangkat pantat.
“Mmm… so beautiful,” ia memuji, melihat vaginamu yang memerah menelan batang penisnya yang panjang. “Lebih enak nunggangin kuda apa nunggangin saya?”
“Profesor!” Kamu memekik malu.
Rafayel memukul pelan bokongmu.
Secara instingtif, kamu menggoyang pantat atas-bawah, mengurut batang tegang sang profesor yang dibasahi pelumas dan berbagai cairan lain.
Rafayel tak berhenti merintih. Nikmatnya goyanganmu ditambah pemandangan cabul yang mengotori matanya sungguh memabukkan. Penisnya telah berdenyut-denyut di dalam jepitan lubangmu.
“Ff–fuck!” umpatan keras meluncur dari mulut sang profesor. “Enak banget goyangan memek kamu.” Kata-kata cabul mulai berhamburan dari mulut kotornya.
Agak sangsi untuk menoleh, kamu hanya membayangkan wajah lelaki itu, menuruti perintah.
Rafayel menahan pinggangmu. Dalam sekali gerakan, tubuhmu dibanting pelan hingga berada di bawah kurungan tubuh. Otot-otot bisepnya yang mengeras mengungkung di kedua sisi.
Pandangan lelaki itu tak beranjak. Pipi dan daun telinga begitu merah merona. Senyum kecil mengukir di wajahnya yang bagai mabuk kepayang.
“Bagus… kamu bisa memahami pelajaran dengan sangat cepat dan baik.” Ia mencengkeram rahangmu, tidak kasar, cukup untuk menahan wajahmu agar tak berpaling. “Reverse cowgirl. Saya bisa lihat seberapa indah tubuh kamu saat menguasai tubuh saya.” Ia membungkuk menyisakan beberapa senti di depan wajahmu.
“Sekarang, memasuki pelajaran selanjutnya.” Kedua kakiku dilipat sampai lutut menempel pada pundak, membuat badanmu semakin mengecil dibandingkan dengan tubuhnya. Bisa kamu rasakan impitan sesak pada dadamu dalam posisi seperti ini. “Saya mau menyentuh sesuatu di dalam tubuh kamu. I want to do it properly.”
“Sesuatu?” tanyamu.
“G-spot.”
Mulutmu terbuka mengeluarkan desahan pendek. Kepalamu sedikit merunduk, melihat susah payah di antara lipatan kaki. Perlahan, pria itu mendorong masuk, menyesaki liangmu lebih dalam hingga testisnya menempel pada bokongmu. Melihat ekspresi yang tergambar di wajahmu, lelaki itu tersenyum puas.
“Is it good?” Ia lantas mengentak tanpa perhitungan lebih dulu, mengundang dengking panjang bagai anjing meluncur di mulutmu. “Mmm… it must be so good, yeah?”
“Raf—Rafayel—”
Mulutmu megap-megap. Rafayel melanjutkan dengan genjotan liar tanpa peduli tempo. Ia pastikan ujung kejantanannya menumbuk titik paling sensitif di dalam sana. Pinggulnya mengentak patah-patah diiringi erangan sensual tak berkesudahan darinya.
Kelopak matamu menyipit, bergetar samar dengan bola mata berputar. Pandangan mulai kabur oleha nikmatnya lelaki itu menumbuk serviksmu.
“Rafayel—” Nama sang profesor tak berhenti merapal bagai mantra. Begitu serampangan dan tidak koheren, semakin membakar tubuh Rafayel untuk memacu lebih cepat dan dalam.
“Yeah… moan my name… desah terus selagi memek kamu saya genjot. Enak, Sayang?”
“Angghh!” jerit kecil tertelan di kerongkongan. “Raf—ayelhh!”
Tubuhmu yang terlipat jadi kecil terentak-entak naik-turun dalam kecepatan liar. Payudara yang seharusnya bergoyangan tertahan oleh kakimu yang terlipat. Derit ambin bersinggungan dengan rengek keras dan tepuk kulit melantang.
Tak puas dengan dua posisi, lelaki itu segera melepas koneksi. Tubuhmu oleng ke samping, terengah-engah dengan keringat yang telah menganak sungai.
“Fuck it.” Mengabaikan rencana untuk memberikan sebatas dua pelajaran, lelaki itu memindahkan tubuhmu.
“Profesor, capek—” Kamu mengeluh dengan kepala pening. “Pelajarannya… udahan dulu…” Napasmu sudah panjang-pendek.
“Belum, Sayang. Saya aja belum klimaks.”
Badanmu yang telah lunglai mengikuti saja perintah sang profesor. Ia menggulingkan badanmu untuk tengkurap dengan bokong terangkat. Sebuah bantal diselipkan untuk menahan perutmu. Sisi wajahmu menempel pada bantal.
“Kamu tidur aja kalau capek,” tukas si berengsek enteng.
“Ngghh—” Tak ingin mengeluarkan energi lebih besar, kamu membalasnya dengan gumaman
Rafayel menekan belakang kepalamu, sementara tangannya yang lain menahan dinding kayu. Melihat dirimu begitu submisif di bawah kuasanya, ia tak ingin menundah lebih lama untuk mendesakkan kembali ereksinya. Tubuhmu digenjot lebih cepat, tanpa ampun, seakan-akan seluruh tenaga sang profesor dihabiskan detik itu juga.
Matamu memejam erat. Badanmu bergoyangan depan-belakang dengan payudara bergesekan di atas seprai. Tak mampu merapalkan namanya, kamu hanya bisa menggumam panjang, sedikit merengek. Meminta ampun tanpa sepatah kata.
Semakin keras suara tangismu, semakin cepat lelaki itu menumbukkan penisnya pada mulut serviksmu.
Entah seberapa besar tenaga lelaki itu menggenjot tubuhmu. Perahu yang seharusnya kuat menahan guncangan malah bergoyangan di atas air hingga menimbulkan suara derit berat. Kepalamu terasa pening, berputaran, tak mampu mengenali kesadaran.
“Ahh—saya ingin membuahi sel telur kamu…”
Kelopak matamu yang semula menyipit seketika terbuka. “Ngghh—hhgh—?” Namun, tak ada sedikit pun kata yang mampu keluar.
Rafayel tak memelankan pacuan. Ia menggoyang semakin liar nan brutal, tak memberimu waktu sekadar bernapas. Mulutmu yang terbuka telah meneteskan air liur sampai membasahi sarung bantal.
“Raf—” Bola matamu kembali berputar nyaris putih
“Jangan pingsan dulu.”
Badanmu dibalik kembali untuk berhadapan dengannya. Melihat wajahmu yang basah oleh peluh, Rafayel menyingkirkan anak rambut yang menempel di dahi. Ia menangkup wajahmu.
“Kamu dengar, kan?”
“Nggh?” Kamu yang sudah teler tak mengerti ucapannya.
Rafayel membenamkan wajah ke lehermu. Tak seperti sebelumnya, ia menggoyang pinggul lebih lembut seirama helaan napasnya yang teratur. Tubuhmu yang berada di tindihannya kini hanya mampu bergoyangan tanpa merespons.
Bibir lelaki itu menempel di daun telingamu. Telapak tangannya menekan andomenmu, merasakan tonjolan ereksinya yang naik-turun di bawah sana.
“Hamil anak saya, ya? Saya mau nikahin kamu.”
Kesadaran yang seharusnya telah lenyap timbul ke permukaan gara-gara kalimat itu. Namun, kamu tak membalas, mematung dengan napas memburu. Sementara lelaki itu telah menanamkan benihnya untuk menyentuh dinding rahimmu.
Ia ambruk di sebelahmu dengan napas tersengal-sengal, lantas meraih tubuhmu dalam dekapan hangatnya.
“Hah…?” Kamu masih mencoba mencerna ucapan baru saja.
Lubang senggama yang menganga setelah disinggahi itu mengalirkan benih kentalnya sebagai pengingat kalimat tadi.
