Work Text:
dohoon berlari menaiki anak tangga secepat mungkin seperti di kejar oleh seseorang, tas ransel setia menemai dirinya. entah untuk apa ransel itu padahal ia pergi ke gym. suara tepak sepatu terdengar di lorong yang gelap, apa memang sesepi ini di dekat tempat gym jika malam. bahkan dohoon tidak menjumpai satu orang pun yang berjalan di lorong tersebut, keringat mengucur deras dari pelipisnya.
suasana gym malam itu tenang lampu redup, hanya suara alat-alat olahraga yang sesekali terdengar. shin junghwan, dengan kaus tanpa lengan itu sedang fokus melakukan bench press sendirian. lampu-lampu redup menyinari ruangan, menciptakan bayangan-bayangan samar di lantai matras.
suara pintu otomatis terbuka. dohoon dengan kaus abu-abu dan celana hitam pendek, senyum khasnya terpampang jelas. dohoon berjalan dan menaruh ranselnya di samping handphone serta earphone junghwan yang asal tergeletak di lantai.
"dorr," dohoon menepuk perut junghwan kencang, pria itu menoleh kebelakang dengan wajah terkejut. "katanya males datang?" tanya junghwan. sebabnya dohoon mengatakan dia tidak ingin datang karena malas yang melanda dirinya itu.
"apapun untuk dirimu sayang kuu,"
perkataan dohoon di abaikan oleh junghwan, ia pun mengerutkan keningnya. lelaki bertubuh besar itu fokus menatap lurus ke depan dengan salah satu earphone di telinganya. disini lah dohoon berdiri di samping tubuh junghwan dan di tangannya sebotol air yang ia sodorkan ke junghwan.
“lo terlalu keras sama diri sendiri,” ucap dohoon sambil menyeka peluh di dahi junghwan dengan handuk kecil. seketika menatapnya sejenak, lalu tersenyum tipis. “gue cuma nggak mau kalah.”
dohoon mengangkat alis. “kalah dari siapa?”
“dari diri gue sendiri,” jawab junghwan singkat.
"anjai semangat lo membara bara"
hening sebentar, hanya terdengar suara napas keduanya yang berat. kemudian pandangan dohoon beralih ke alat bench press di samping junghwan yang kosong, kakinya melangkah dan dohoon melakukan bench press seperti yang tadi dilakukan oleh junghwan dan juga di bantu olehnya, kekasihnya itu bersiaga di dekat dohoon ketika selesai.
“napas… tiga hitungan. gue di sini kok,” bisiknya.
dohoon menatap wajah junghwan dari posisi bawah dan detik itu segalanya terasa lebih pelan. detak jantungnya bukan hanya karena latihan, ada sesuatu yang lebih berat dari barbel yang sedang ia angkat—perasaannya sendiri. setelah sesi latihan, mereka duduk berdua di bangku gym, berdua dalam keheningan, keringat bercampur dengan udara hangat.
gym sudah semakin sunyi, lampu ruangan cardio setengah mati, menyisakan bayangan samar yang memeluk sudut-sudut ruangan.
“ayo sparring, lo bisa kan? yang kalah nyerahin diri.” bisik dohoon pada telinga junghwan, pria itu sontak terdiam di tempat mendengar lontaran perkataan dohoon yang begitu tiba tiba. junghwan menerima ajakan dohoon dengan senang hati.
mereka berdiri saling berhadapan. tangan yang terkepal terangkat, mata saling terkunci tapi gerakan mereka lambat. dohoon menangkis pukulan ringan junghwan, lalu dengan cepat memutar tubuhnya dan menahan junghwan dari belakang. napas mereka menyatu.
“gue bisa ngerasain detak jantung lo.” bisik dohoon di telinga junghwan lagi, suaranya rendah dan dalam. junghwan membalikkan badan, menatap wajah dohoon dari dekat. keringat menetes dari pelipisnya. mata mereka bertemu, dan waktu seperti berhenti.
"wanna kiss me?"
tanpa kata, dohoon meraih tengkuk junghwan dan mendekatkan wajahnya. bibir mereka bertemu, hanya kecupan singkat. setelahnya dohoon tersenyum menantang ke arah junghwan, "kalah, satu kosong." ucap dohoon dengan gestur jari nya yang menunjukkan angka satu dan bulat seperti angka nol.
kini giliran junghwan, junghwan kembali mempertemukan bibir mereka dalam ciuman yang hangat, pelan, namun penuh tekanan perasaan yang sudah lama terpendam. jari-jari dohoon mencengkeram sisi lengan junghwan, seolah ingin memastikan ini nyata.
ciuman itu semakin dalam, di tengah napas yang memburu, di tengah alat berat di sekitar mereka. ketika akhirnya mereka saling melepaskan, dohoon menempelkan dahinya ke dahi junghwan.
“sekarang, kita satu sama.” bisik junghwan.
“shit,” umpat dohoon pelan, kali ini detak jantung junghwan benar benar terdengar. cepat namun membuat nya nyaman. kegiatan sparring yang di minta dohoon berhenti begitu saja seolah hanya angin lalu bagi mereka.
dohoon berdiri di depan cermin handuk kecil menempel di leher, napasnya masih terengah, keringat membasahi tubuh kecilnya yang di tutupi dengan kaus. junghwan memperhatikannya dari belakang sambil bersandar di alat leg extension, matanya tak bisa lepas. "apa memang lo sekecil ini? sering nge-gym masih segini aja badannya " gumam seseorang pemilik suara berat.
ia menatap junghwan lewat cermin, lalu perlahan berbalik. "ini gue mau nyoba latihan keras soalnya... ada yang harus gue kejar," katanya pelan, sambil melangkah mendekat. tubuh mereka kini hanya sejengkal. nafasnya menyatu dengan udara hangat yang mengisi ruangan. "siapa?" tanya junghwan, walau ia tahu jawabannya.
"lo." jawabnya tanpa ragu. dohoon semakin mendekat ke arah junghwan yang badannya masih bertengger di alat leg extension, ia naik dan duduk di atas pangkuan itu. lelaki yang berukuran lebih besar tidak menolak perlakuan dohoon, nafas dohoon menghembus perlahan di wajah halus milik junghwan.
di sentuhnya pelan wajah junghwan, jarinya menyusuri garis rahang yang tegas dan lembab karena keringat. "rasa bibir lo gimana hwan?"
"tadi kurang lama."
tanpa banyak kata, dohoon mendekatkan wajahnya lagi. bibir mereka bersentuhan—pelan, ragu sebentar tetapi langsung berubah jadi lebih dalam. ciuman yang dipendam lama, penuh hasrat tapi juga hati. tangan besar junghwan di taruh di pinggang nya yang ramping dan tak lama dari situ ia menarik kaus dohoon, lalu meraba punggungnya yang basah oleh keringat. mereka saling tarik, saling dorong, tubuh saling mencari kehangatan yang bukan cuma karena olahraga.
dohoon membisik di antara ciuman, "kita kayaknya butuh latihan pendinginan yang beda."
hanya tawa kecil yang dapat diringi dengar kemudian di gendong seperti koala lalu mendorong tubuh kurus dohoon ke matras. ia ikut menimpa tubuh itu, lalu mendekap dohoon dari depan, tangannya melingkar di pinggang. keningnya menyentuh leher yang hangat. "ini pendinginan," terdengar bisikan suara berat junghwan yang membuat seluruh bulu kuduk dohoon berdiri sendirinya.
mereka diam, hanya terdengar detak jantung yang cepat dan napas yang mulai melambat. lelukannya bukan sekadar hasrat, tapi penegasan mereka saling memiliki sekarang. gym itu malam itu jadi ruang yang lebih dari sekadar tempat latihan. ia menjadi tempat pertama di mana tubuh dan perasaan mereka menyatu. udara di dalam gym makin panas, bukan karena alat treadmill atau kardio, tapi karena jarak antara mereka yang sudah tak ada batas.
kini dohoon terduduk kausnya setengah basah, nempel di badannya. tubuh itu beralih yang tadinya ia terduduk di matras kini dirinya yang berada di atas tubuh junghwan, dan ada depan dia, lutut bertemu lutut lalu maju perlahan sampai dia duduk di pangkuan junghwan, tangannya melingkari leher jenjang junghwan juga rambut berwarna pink yang memudar itu ditarik rambutnya.
"lo gak kangen gue hwan?" bisik suaranya rendah disertai desahan. junghwan diam, tangannya melingkar ke pinggang dohoon yang kecil kurus dan menariknua untuk semakin dekat. "rindu."
"diam di tempat seharusnya, sayang." junghwan kembali ke posisi sebelum nya, di dorongnya pelan sosok berperawakan indah itu. punggungnya menyentuh matras yang terasa sedikit dingin. junghwan menunduk, bibir itu mencari leher dohoon, mencium pelan—panas dan basah. suara yang dohoon keluar kan sangat kecil masih terdnegar jelas, tangan junghwan naik turun di punggung menawan dohoon, merasakan setiap lekuk yang sudah lama ingin ia sentuh.
"lo ganteng kalau gini hwan, gue gak tahan." gumam dohoon, napasnya berat, matanya tertutup nikmat saat junghwan mengigit kecil kulit lehernya.
"lo pikir gue tahan?" balas junghwan sambil melepas kausnya sendiri, membiarkan tubuhnya bebas, keringat menyatu dengan hawa panas ruangan. cahaya lampu yang remang-remang membuat bayangan otot mereka bermain di tembok—dua sosok yang menyatu dalam satu ritme.
tangannya turun, nyusuri dada dohoon yang tiap sentuhan membuat dohoon menahan napas. tangan kanan junghwan menekan tengkuk lehernya sedangkan yang lainnyamemilin puting dohoon. puting kecoklatan itu ia cubit. mereka saling peluk, saling hisap udara satu sama lain, saling jujur lewat tubuh.
dohoon duduk, lelaki yang lebih tua darinya mulai gerak pelan di atas pangkuan dirinya gerakan lambat tapi dalam. ciuman mereka semakin liar, semakin dalam, mengeluarkan hasrat, rindu, dan cinta yang selama ini mereka pendam. ciuman itu berlangsung lama, terlalu lama, sampai keduanya terengah.
perlahan junghwan menaikkan celana pendek dohoon, menyisakan ruang yang langsung diisi junghwan dengan wajahnya. ciumannya mendarat di sisi pada dalam dekat dengan ujung celana. hangat, lembut tapi juga membuat lutut dohoon nyaris lemas.
junghwan melanjutkan nya, mencium setiap sisi paha dari atas sampai ke bawah, terkadang menjilat serta mengigit kecil. dohoon mulai meremas pundak junghwan, tubuh nya memanas, celana dalam nya mulai basah.
"junghwan.. please.."
junghwan tidak bertanya 'apa'. dia tahu tubuh dohoon sudah meminta lebih. tetapi dia tidak terburu-buru, ciumannya semakin dekat ke pangkal paha tetapi tak menyentuh tempat pribadi itu.
setiap napas, setiap gerakan, terasa seperti penyiksaan yang nikmat bagi dohoon. dohoon mulai mendesah, matanya menutup, kakinya gemetar karena rangsangan yang terlalu intens tapi tidak tuntas.
"basah. dua satu, lo kalah lagi." junghwan mengecup lipatan paling dalam antara paha dan selangkangan.
"gue udah gak tahan shin.." dohoon berseru pelan. lelaki itu kembali menciumi setiap sudut wajah dohoon dan kembali ke bibir kenyal milik si kecil di bawah nya ini.
"gue punya lo sekarang, ya?" suara berat bercampur dengan deru nafas terdengar di antara ciuman mereka. junghwan menatap dalam, matanya agak basah karena campur aduk rasa. "dari dulu lo udah punya gue, kim dohoon."
"bukan nya lo gak mau sama gue?"
tangan junghwan tak tinggal diam, ia semakin menekan tengkuk leher yang mulai berkeringat lebih untuk memperdalam ciuman mereka. lidah menyusuri setiap rongga mulut menyapa setiap permukaan gigi, lidah kedua nya bertemu dan saling beradu. "apa boleh gue minta lebih?" tanya dohoon.
hembusan nafas terdengar jelas, nafas dohoon tak beraturan. "hungry for tonight?" kini kaus milik dohoon di buka oleh junghwan. terlihat lekukan tubuh dohoon, pinggang yang ramping itu menggoda dirinya. perlahan celana keduanya terbuka, tak ada sehelai benang pun di antara mereka. hanya cucuran keringat yang ada di antaranya.
"ada cctv, gimana sama cctvnya nanti?"
"bisa gue hapus rekamannya."
junghwan mulai menyelipkan tubuhnya ditengah kedua kaki dohoon, dirinya pun mengalungkan lengannya pada leher junghwan. seiring lumatan itu semakin panas, di lepas nya perlahan juntaian saliva terlihat jelas. ia kemudian mengulurkan dua jarinya tepat di depan bibir dohoon yang masih basah oleh air liur.
"jilat." perintah junghwan tegas
dohoon, dengan wajah yang masih memerah dan napas tersengal ia menurut. ia menjulurkan lidahnya, perlahan meski sedikit ragu, kedua jari itu di jilat dan di hisapnya, hangat dan basah menjadi satu disana. melilit kedua jari panjang milik junghwan.
begitu dirasa sudah cukup basah, junghwan menarik jarinya dari mulut dohoon dan langsung menekannya ke lubang dibawah sana. "akhh shin!" dohoon berjengit saat merasakan satu jari telunjuk junghwan masuk tanpa peringatan.
tak berlangsung lama sejak di masukkan nya jari jenjang itu dan kemeudia ia menambah jari kedua, melakukan gerakan cepat dan kasar di dalam sana. tangan junghwanyang lain menekan perut bawah dohoon, membuat dohoon merasa terhimpit dari dalam dan luar. "panggil nama gue kayak gitu terus," desis junghwan di telinga yang sudah semerah tomat.
"nghh jarinya dalem banget." dohoon meracau, tubuhnya melengkung ke atas membuat dada keduanya bertemu, kakinya gemetar hebat karena rangsangan jari junghwan yang menusuk titik sensitifnya.
gerakan menarik dan mendorong cepat, suara basah dari dalam lubang dohoon terdengar semakin nyaring. dohoon sudah benar-benar tidak tahan lagi—menikmati rasa penuh dari jari jari itu. ia sengaja narik leher junghwan agar semakin mendekat, lalu kedua tangannya merayap naik, mencengkeram dan meremas rambut merah muda junghwan yang penuh akan keringat.
"shin nhh, terus lebih dalem.." dohoon merintih sambil narik rambut junghwan kuat-kuat, membuat kepala yang lebih tua mendongak keatas.
junghwan melengkungkan jari-jarinya lebih dalam, memijat dinding yang sensitif dengan gerakan yang disengaja, ibu jarinya menggosok lingkaran kuat di atas tepi yang mengerut untuk meredakan ketegangan. tubuh dohoon licin dengan lapisan tipis keringat yang membuat kulitnya berkilau di bawah cahaya lampu yang sedikit redup dalam ruangan itu.
"ahh.. shin itu di situ ngh," dohoon merintih, tangannya mencengkeram kuat rambut junghwan, buku-buku jarinya memutih. rambutnya menempel di dahinya, basah karena keringat tadi dan sekarang karena panas yang membara di antara mereka. suara basah jari-jari yang menusuk masuk dan keluar memenuhi ruangan yang sunyi, cabul dan intim, bercampur dengan napas dohoon yang tersengal-sengal.
junghwan memperhatikannya dengan saksama, wajah pucatnya memerah, rambut merah mudanya jatuh ke matanya saat dia mendekat. "calm down babe," gumamnya, suaranya serak karena menahan diri.
menarik jarinya perlahan, tarikan itu memunculkan rintihan manja dari tenggorokan dohoon saat kekosongan menghantamnya seperti sebuah kehilangan. tak begitu lama terdengar pekikan dohoon ketika penis junghwan masuk kedalam lubang dohoon yang meminta lebih itu. junghwan juga mencium bibir dohoon lebih kuat dari sebelumnya.
"hwan ngh ahhh ah," lenguh dohoon merasakan penis junghwan didalamnya. ciuman itu seketika terlepas, dohoon menarik tubuh junghwan kedalam peluknya. nafas tebal kedua pria itu bersahutan saat junghwan mulai menggerakan pinggulnya. dohoon menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher junghwan juga menggigit leher jenjang junghwan, dengan sesekali mencengkram surai merah muda kekasihnya tiap kali gairahnya mencuat naik.
dohoon di gendong kembali oleh junghwan mendudukkan dohoon di alat leg extension tadi, junghwan merengkuh dohoon lalu membawa naik diatas. kini kedua pria itu duduk berpangku, saat ini dohoon ada di atas junghwan. digerakan tubuh dohoon naik turun, sebari melumat satu sama lain. disesapnya bibir mereka penuh gairah.
dohoon meraba tengkuk dan kepala junghwan, sementara junghwan menggerayahi punggung lebar dohoon lalu turun pada pinggangnya. sampai kedua tangannya bertengger pada pinggang kekasihnya itu dan membantu gerak tubuhnya, membuat penis nya masuk lebih dalam pada dohoon.
"nghh hwanh mmmhm,"
lenguhan dohoon keras. keringat mengucur disekujur tubuh mereka. dohoon yang belum puas dengan itu, ia menghentikan gerak pinggul junghwan dan menarik tubuhnya terlepas dari penis junghwan. kini penis dohoon berada di dekat wajah junghwan, junghwan menghisap penis dohoon. tangan dohoon menjambak rambut junghwan kala penis nya mengenai gigi junghwan. "ahh hwan sakith pelann."
gila.
junghwan kembali menciuminya, perlahan lidah junghwan masuk menyusuri setiap sudut yang ada di dalam mulut dohoon. mengabsen setiap gigi di dalam mulut dohoon dan juga lidah mereka beradu. di bawah sana penis junghwan kembali masuk tanpa permisi.
setiap ritmenya dohoon terus mendesah, merasakan penis junghwan menyentuh titik nikmat di sana. mata nya tertutup, rasa sakit seakan akan menjalar ke punggung. "shin, kali ini gue beneran gak tahan nghh.."
"terlalu penuh, gue ngaku kalah buat ini," ungkap dohoon.
“ahh kita.. di gym, nanti ketauan satpam disini gimananhh.”
junghwan menatapnya dalam. “biarin, gue gak perduli kalau di gerebek sama satpam disini.”
ciuman kedua lebih pelan. lebih dalam. jari-jari junghwan menyusuri punggung dohoon kadang menekan, kadang hanya menyentuh seperti menggambar sesuatu. di naik turun kan tubuh dohoon yang membuat penis nya semakin dalam.
dohoon mengangkat dagu junghwan dengan satu jari, menyapu keringat di pelipisnya, lalu menempelkan bibirnya lagi. kali ini lebih perlahan. lebih dalam seperti menghafal bentuk dan rasa. salah satu tangan junghwan berpindah dari pinggang ke dekat puting dohoon, lalu memainkan puting dohoon
suasana gym malam itu jadi ruang mereka berdua. dunia di luar seperti mati. yang tersisa hanya suara napas, gesekan kulit, dan isakan halus di sela-sela ciuman. "ngh shinn faster.."
tubuh dohoon semakin naik turun dengan kecepatan yang lumayan tinggi di buat oleh junghwan, suara desahan keduanya tak tertahankan dan juga suara decit kulit mereka semakin keras, menunjukan seberapa kuat juga permainan mereka malam ini.
mereka kembali seperti sebelumnya, ciuman mereka tak lepas. mereka berpindah tempat tidak lagi di atas leg extension, kini junghwan membawa tubuh dohoon ke meja yang tidak tinggi di dekat salah satu ruangan.
dohoon terbaring di atas meja itu, setiap benda entah apapun itu terjatuh di bawah lantai. "wanna try missionary?" suara serak dan berat junghwan terdengar samar-samar, hawa panas seakan semakin naik.
junghwan membawa kaki kanan dohoon ke atas pundaknya, membuat dohoon terlihat sedang mengangkang—lidah junghwan menjilati setiap sisi lubang dohoon. junghwan pun kembali memasukan perlahan penisnya lalu mulai bergerak. "enak hwanhh,"
"lo beneran kayak lonte sekarang, berantakan dan gue suka."
junghwan berucap pelan, tiap tetes keringat jatuh di atas tubuh dohoon. gairahnya semakin besar. ia bangkit, merubah posisi mereka. lelaki bertubuh kecil itu berlutut dengan bertumpu pada kedua kaki dan kedua tangan. dohoon mengigit bibir bawah saat junghwan menyesap lehernya dengan kedua lengan yang merengkuh tubuh dan meraba pinggangnya.
"shitt ahh."
"do!"
desah junghwan merasakan penis nya masuk lebih dalam. kedua tangannya bertengger pada pinggul dohoon, membantu pergerakan lelaki itu agar tak kelelahan. "mentok hwanhh sakit hmphh,"
"sssttt nghh pelan pelan hwanh sakitth.."
junghwan menatap dohoon ujung rambutnya yang basah, wajahnya yang memerah, dengan bercak merah di beberapa spot lehernya, membuat dohoon terlihat begitu sexy dimatanya. "kontol kamu gede banget hwan, terlalu penuh ngh," bisik dohoon diakhiri lenguhan pelan di depan hidung mancung junghwan.
"junghwan,"
"kenapa sayang?" tanya junghwan, ia masih terus menghisap pinggul milik dohoon.
"hwanhh faster mphh," masih dengan posisi yang sama, junghwan kembali mempercepat apa yang sedang ia lakukan. tangan kiri junghwan mengocok penis dohoon agar keduanya cepat sampai pelepasan.
suara pertemuan kulit itu terdengar kencang dalam ruangan latihan fisik itu di sertai desahan keduanya, siapa yang akan menyangka bahwa lelaki yang ia suka juga menginginkan nya.
"AHHH"
"ARGHH!"
keduanya sampai pada puncaknya.
junghwan ambruk menindihi dohoon, tubuh kedua pria itu bergetar melepas klimaks. junghwan merengkuh tubuh dohoon dengan sesekali mengecup tengkuk dan bahunya. kegiatan panas itu di tutup dengan lumatan yang mendalam, hawa panas kembali.
permainan malam itu lebih hebat dari yang pernah ada, tak ada yang bisa memberhentikan mereka kali ini. kecuali jika satpam yang dohoon bilang tadinya benar benar memergoki mereka, dan sekarang gym bukan hanya tempat latihan fisik.
