Work Text:
“Ngh… Mas, pelan-pel—ahh,” Nakula dengan cepat membekap mulutnya sendiri, menahan desahan-desahan yang hendak keluar dari mulutnya. Sementara kembarannya di belakang, masih sibuk menghentak-hentakkan pinggulnya mendorong masuk-keluar penisnya ke dalam vagina Nakula.
Bunyi shower yang mengalir di atas mereka tidak cukup besar untuk menutupi bunyi benturan antar kulit yang terjadi di dalam kamar mandi ruang ganti tersebut. Nakula sudah berkali-kali mengeluh dan mengingatkan Sadewa untuk memperlambat temponya, namun pria berkulit tan itu tak acuh. Pandangannya terlalu fokus dengan bokong sintal milik adiknya tersebut, memperhatikan bagaimana kejantanannya seperti dilahap oleh liang nikmat Nakula.
“Mas Dew! Lu masih mandi, kah?” Suara Bima tiba-tiba terdengar dari luar bilik. Sadewa dengan cepat menghentikan gerakan pinggulnya, sementara Nakula bersusah payah membekap mulutnya sendiri untuk menahan desahannya yang nyaris lolos.
Satu hal yang Sadewa sadari di kala itu, yaitu bagaimana vagina Nakula yang tiba-tiba meremas penisnya dengan nikmat. Yang lahir lebih dulu itu menyeringai, menyadari sesuatu hal yang sebelumnya sudah lama ia fantasikan. Menggantikan tangan Nakula, tangan besar Sadewa lah yang kini membekap mulut kembarannya itu. “Iya, Bim. Kenapa emang?” Tanya Sadewa yang mulai menghentak-hentakkan pinggulnya lagi, memaksa penisnya masuk semakin dalam.
“Ditanya pelatih tuh, kita mau briefing dulu sebelum selesai latihan,” Jawab Bima yang suaranya terdengar lebih jelas.
Nakula merasa dirinya hampir mati detik itu juga. Rahimnya terus-menerus ditekan semakin dalam oleh penis besar kakaknya itu, sementara ia harus menahan suaranya. Malu, takut, dan anehnya… perasaan seru, semakin membuat Nakula kepayahan. Tubuhnya melenting, kepalanya bertemu dengan pundak Sadewa, sementara matanya menatap ke langit-langit.
Kaki Nakula bergetar, tangan Sadewa sudah basah dengan air liurnya. Sadewa sadar Nakula sebentar lagi akan sampai di puncaknya dan ia tidak ingin menyia-nyiakan momen tersebut. Alih-alih memperlambat ataupun berhenti, Sadewa justru menyentuh klitoris Nakula dan memutar-mutarnya sesuai dengan yang Nakula suka. “Lu tahu nggak pelatih mau briefing tentang apa?” Sadewa berbasa-basi, masih ingin mengulik lebih dalam reaksi sang kembaran.
Kini bahkan dari bawah pintu bisa terlihat bayang-bayang Bima yang mungkin hanya berdiri sekitar satu meter dari bilik mereka. Sadewa tetap tidak memberi ampun. Walaupun lengannya kini sudah memiliki bekas cakaran Nakula yang meminta ampun.
“Ya mana gua tahu. Udahlah cepetan aja lu mandinya. Gue mau balik nih, capek. Biar cepet selesai juga,” Ucap Bima yang kini suaranya menjauh.
“Oke, Bim.” Jawab Sadewa.
Setelah terdengar pintu luar tertutup, barulah di saat itu Sadewa melihat keadaan adiknya yang sudah bergetar hebat dengan cairan bening menetes membasahi penis dan lantai di bawahnya. “Ngga disangka, ternyata adeknya mas suka dipake di depan orang lain ya?” Sadewa tertawa mengejek, apalagi setelah dia melihat keadaan Nakula yang masih menyemburkan cairan kenikmatannya.
“Tuh lihat, memek kamu kayanya suka banget sampe kencing-kencing begini,” Sadewa menepuk-nepuk vagina Nakula membuat sang empunya tak lagi bisa menahan erangan dan desahnya. “Mau ya kalau Mas pake di depan teman-teman Mas? Biar yang lain bisa lihat gimana lacurnya memek kau ini. Disumpelin kontol setiap hari tetep masih sempit.” Lanjut Sadewa.
Nakula yang masih berusaha turun dari euforianya, menggelengkan kepalanya lemah, “Nggak… Aku nggak mau, Mas. Aku maunya sama Mas aja.”
Namun perkataannya tidak sejalan dengan respon tubuhnya sendiri. Sadewa bisa merasakan bagaimana vagina Nakula berkedut setelah dia mengeluarkan ide ekstrim tersebut. “Bohong kamu. Ini memek kamu buktinya remes kontol Mas. Atau kamu maunya digilir rame-rame? Memek, pantat, dan mulut kamu jadi bisa disumpel kontol bareng-bareng, penuhin kamu sama peju biar cepet-cepet hamil. Mau, adek?” Tanya Sadewa, sembari mengelus-ngelus perut bagian bawah Nakula.
Lagi-lagi Nakula menggelengkan kepalanya. Kali ini lebih kencang. “Nggak mau, Mas… Adek kan punya Mas aja. Nggak mau…” Rengek pria bersurai biru tersebut. Namun alih-alih menjawab, tubuhnya malah didorong mendekati tembok kamar mandi yang licin dan Sadewa melanjutkan aksinya untuk menghantam titik sensitif Nakula berkali-kali.
“Siapa sih yang ngajarin kamu bohong? Memek kamu lebih jujur dari mulut kamu rupanya. Kontol saya diremes habis pas saya bilang mau pake kamu rame-rame. Lacur kamu.” Ucap Sadewa, sesekali meringis nikmat karena rasa hangat dan basah dari liang senggama Nakula.
Sementara pria bersurai biru itu hanya bisa pasrah tubuhnya diperlakukan seenaknya oleh sang kembaran. Toh, Nakula sudah terbiasa. Mereka sudah melakukan ini sejak mereka berumur 20 tahun. Desahannya terus keluar, erangan tak terbendung, ia hanya berharap tidak ada lagi teman satu tim Sadewa yang akan masuk menginterupsi mereka.
Kegiatan itu berlangsung selama kurang lebih lima menit sebelum akhirnya Sadewa mencapai pelepasannya. Nakula terengah-engah dan tubuhnya seketika lemas. Beruntung Sadewa dengan sigap menahan tubuh adiknya tersebut dan menciumi tengkuk Nakula. “Maaf Mas nggak bisa peluk cium lama seperti biasa, kamu nggak apa-apa nunggu di mobil dulu?” Tanya Sadewa sembari membantu Nakula untuk membersihkan sisa-sisa sperma dari vaginanya.
Nakula yang kini perlahan-lahan mendapatkan Kembali kesadarannya itu mengangguk. “Nggak apa-apa, Mas. Tapi aku minjem jersey punya Mas ya. Tadi kan baju cheers aku malah dirobekin Mas Dewa,” Pria itu merengut, masih menyayangkan bajunya yang sudah naas menjadi korban ketidaksabaran seorang Sadewa.
Sadewa terkekeh, ia mengecup kening Nakula sayang, “Oke, nanti Mas pake yang ada di loker aja kalau gitu.”
Hari itu berakhir dengan normal bagi Nakula. Hal ini bukan kali pertama mereka untuk mencuri-curi kesempatan bercinta di ruang ganti. Namun bagi Sadewa… hari ini merupakan momen penting dimana dia menyadari dirinya memiliki fantasi liar yang kini mungkin bisa ia jadikan nyata.
Rencana Sadewa dimulai dari memancing percakapan di antara teman-temannya tentang Nakula. “Dari para cheers yang lain, menurut lu pada body-nya Nakula, gimana?” Pertanyaan itu dipantik oleh Sadewa sendiri. Pada mulanya, reaksi teman-teman dekatnya—Bima, Arjuna, dan Yudis—masih sama-sama ragu. Bahkan untuk Bima, pertanyaan tersebut membuat pipinya merona merah.
“Lu lagi interogasi kita kah, bang?” Tanya Arjuna setelah keheningan menyelimuti mereka selama beberapa saat.
“Nggak, beneran gue tanya aja. Anggap lah Nakula bukan kembaran gue, pandangan objektif lu terhadap dia gimana?” Jelas Sadewa.
Ketiga lelaki itu kembali terdiam hingga akhirnya Yudis yang pertama kali berani untuk memecahkan keheningan tersebut. “Jangan pukulin gue tapi ya, bang. Cuman karena lu yang nanya nih. Jujur, setiap gue lihat Nakula tuh gue heran.” Yudis berhenti sejenak, mengamati reaksi Sadewa yang justru tampak tertarik dengan ucapannya. Tidak melihat ada amarah, akhirnya Yudis melanjutkan. “Celana cheers cowok tuh kan ketat banget ya. Selama ini gue ngelihat Nakula tuh… aduh gimana ya… dadanya montok banget terus ya bang… ini yang bikin gue penasaran. Dia tuh nggak punya kontol ya? Nggak pernah kelihatan ada gundukan soalnya. Punya lu kan jelas banget tuh. FYI aja sih bang, satu tim ini selalu gibahin lu, gosipin lu hobi nggak pake celana dalem.”
Sadewa tidak bisa lagi menahan tawanya begitu Yudis menyelesaikan ucapannya. Sementara itu Arjuna menepuk keras bagian kepala belakang Yudis, “Bisa nggak yang normal-normal aja komentarnya? Astaga itu abangnya anjir! Filter dikit kek!” Bima hanya bisa diam-diam bergeser tempat duduk, merencanakan jalur pelarian jika suatu saat Sadewa akan marah besar.
Namun lelaki itu justru menggelengkan kepalanya, “Nggak-nggak. Justru itu yang gue mau, udah bener kok Yudis.” Reaksi Sadewa tersebut tidak sesuai dengan ekspektasi yang lain, sehingga butuh waktu bagi mereka untuk mencernanya. “Dan iya, Nakula punya memek,” Lanjutan Sadewa justru semakin membuat ketiga pria tersebut terbelalak. Seperti tidak mau memberikan ketiga temannya untuk mengambil nafas, Sadewa kembali melanjutkan, “Mau coba nggak? Enak loh, masih sempit walau gue pake hampir tiap hari.”
Bima dengan cepat bangkit dari tempat duduknya. “BISA NGGAK DROP BOMNYA SATU-SATU DULU BANG??” Pekik Bima.
Sementara itu Yudis dengan polosnya hanya bertanya, “Boleh? Mau.”
Obrolan pada hari itu lah yang akhirnya menentukan nasib Nakula. Yudis lah yang pertama kali meng-iyakan ajakan Sadewa, diikuti dengan Arjuna yang akhirnya kalah dengan rasa penasarannya, dan diikuti oleh Bima yang sebenarnya masih merasa maju mundur dengan keputusannya tersebut. Namun bukan Sadewa namanya jika ia tidak bisa membujuk temannya untuk mengikuti keinginannya.
“Tapi ini dengan consent Mas Nakula, kan?” Tanya Bima.
“Dia nanti akan nolak dan bilang enggak, tapi sebenernya dia mau dan akan minta lebih. Lihat aja nanti.” Jawab Sadewa. Walaupun Bima masih ragu, akhirnya ia menurutinya.
Mereka memutuskan untuk melaksanakan rencana mereka itu pada hari Sabtu setelah keempatnya selesai melaksanakan latihan rutin mereka. Sementara itu seperti hari-hari lainnya, latihan mereka selalu berbarengan dengan para cheerleaders. Nakula sudah menunggu di kursi penonton ketika Sadewa dan timnya selesai latihan. Hari ini pria bersurai biru itu mengenakan baju lengan pendek dan celana ketat berwarna biru. Sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih.
“Nanti lu semua jangan pulang dulu habis selesai mandi. Kita tunggu sampai sepi dan gue suruh Nakula masuk,” Ucap Sadewa, sedikit berbisik agar tidak terdengar dengan teman satu timnya yang lain.
Arjuna sedikit mencuri pandang ke arah Nakula yang perhatiannya tertuju pada ponsel di tangannya. “Lu yakin bang mau… share Nakula?” Tanya Arjuna sekali lagi memastikan.
Sadewa hanya mengedikkan bahunya, “Gak masalah kalau sama lu bertiga. Kalau sama yang lain baru gue nggak terima.”
“Kita harus ngumpet dulu nggak? Biar surprise?” Tanya Yudis.
“Boleh,” Ucap Sadewa.
Setelah mereka selesai membersihkan diri, Sadewa mengirimkan pesan singkat kepada Nakula. Sudah terlalu sering keduanya bersetubuh di ruang ganti, Sadewa yakin bahwa Nakula juga sudah memikirkan hal yang sama. Tak butuh waktu yang lama sampai Nakula membuka pintu ruang ganti tersebut dan hanya melihat Sadewa yang terduduk di atas bangku panjang. Sadewa menepuk pahanya memberikan sinyal kepada Nakula, “Duduk.”
Nakula langsung memerah, tak peduli sudah berapa kali mereka melakukannya, Nakula masih merasakan malu setiap kali ingin memulai. Namun pria tersebut tetap menuruti permintaan sang kakak dan mendudukkan dirinya di atas pangkuan Sadewa dan dengan refleks melingkarkan tangannya ke leher. Sadewa tidak menyia-nyiakan waktu dan langsung mendekapnya, bibirnya mengecup leher adik kembarnya sambil berbisik, “Mas udah sange banget. Siapa yang suruh kamu pake celana seketat ini sih?” Sadewa meremas bongkos sintal Nakula membuat yang lebih muda melenguh.
“Kan ini emang seragamku, Mas,” Ucap Nakula, namun membiarkan Sadewa meraba tubuhnya dengan tak senonoh.
“Tapi kamu juga suka kan dengan bajumu ini berhasil bikin Mas, bahkan orang lain, sange sama kamu?” Tanya Sadewa, tangannya kini mulai memilin puting Nakula dari luar bajunya.
Alih-alih menjawab, Nakula yang badannya sudah terasa panas akibat stimulasi tersebut dengan tidak sadar menggesek-gesekkan vaginanya yang sudah basah ke paha Sadewa. Mencari-cari kenikmatan yang ternyata ia butuhkan. “Ahh… Mas Dewa,” Lenguh Nakula.
“Lihat kan guys, dimainin doang pentilnya udah becek begini. Mana ada dia nggak mau di-gangbang.” Ucapan Sadewa yang tiba-tiba itu membuat tubuh Nakula menegang. Sadewa mengeratkan dekapannya, menahan Nakula untuk tetap berada di posisinya.
Nakula mencoba melepaskan diri meski tubuhnya sudah gemetar, matanya kini mulai menyadari kehadiran ketiga orang lain di ruangan tersebut. “Mas! Apa sih Mas, kok tiba-tiba ada temen-temenmu? Nggak, nggak, ini gila. Lepasin aku!” Protesnya, suaraya kecil tapi napasnya sudah mulai berat.
Mendengar protes dari saudaranya itu, Sadewa hanya tertawa pelan. Tangannya menyusup ke bawah kaos Nakula dan meremas dada montok yang menjadi bahan pembicaraan mereka beberapa hari yang lalu. Sementara di belakang mereka, Arjuna, Yudis, dan Bima muncul dengan hanya mengenakan boxer ketat. “Angkat,” Perintah Sadewa yang dituruti oleh ketiga orang tersebut.
Mereka membawa Nakula ke matras yang sudah disiapkan oleh Sadewa sebelumnya, tangan-tangan kasar mulai menelusuri tubuhnya. Nakula meronta dan menendang-nendang kakinya, berusaha untuk melepaskan diri dari keempat predator di hadapannya tersebut. “Nggak mau, Mas! Mas!” Rontanya kepada sang kakak.
“Shh, nggak apa-apa Nakula sayang. Ada Mas kok di sini,” Sadewa mengusap rambut sang adik. Nakula terdiam ketika mereka berhasil memindahkan tubuhnya untuk terlentang di atas matras. “Lihat Mas,” Sadewa mengapit dagu Nakula dengan jari-jarinya, “Lihat baik-baik siapa aja yang ada di sini. Kamu tahu mereka, kan? Apa kamu pikir mereka akan nyakitin kamu atau Mas biarin mereka nyakitin kamu?” Tanya Sadewa.
Untuk pertama kalinya, Nakula mulai melihat sekelilingnya tanpa rasa panik. Matanya bertemu dengan Yudis, lelaki itu tersenyum kepadanya. “Lu cantik banget, Nakul. Sayang aja kalau tawaran Dewa nggak gue iyain,” Ucap Yudis. Nakula juga tahu bahwa dari sekian banyak teman-teman Sadewa, Yudis merupakan salah satu yang bisa ia percaya.
Lalu Nakula menatap ke arah Arjuna yang tidak bisa menyembunyikan rasa laparnya. “Kalau lu nggak mau gue di sini, gue keluar, atau… boleh nggak kalau lihat aja?” Tanya Arjuna.
Nakula tidak langsung menjawab, ia kini beralih untuk melihat Bima. Pipi lelaki itu merah. Otot-otot di lengan dan dadanya menyembul. “Mas Nakula, sama kaya Mas Arjuna, kalau Mas nggak mau aku di sini… aku keluar aja. Nunggu di depan, jagain,” Ucapnya. Kali ini pandangan Nakula turun ke bawah, tepat di boxer ketat Bima yang menunjukkan betapa besar kejantanannya itu.
Mampus, kontolnya lebih gede dari Mas Dewa. Habis aku. Pikir Nakula.
Sadewa menepuk pipinya, membuat perhatian Nakula kembali kepadanya. “Gimana, sayang? Kapan lagi loh, lubang-lubang kamu semuanya bisa disumpelin kontol dalam waktu bersamaan,” Sadewa mengusap vagina Nakula yang sudah membasahi celananya itu. “Memek kamu udah siap banget ini. Mas juga bawa kondom, tapi susah nyari ukuran Bima. Dia nanti pake mulutmu aja, ya? Boleh ya, sayang?” Lanjut Sadewa.
“Nonton aja gimana, Mas? Aku takut perih Mas…” Lirih Nakula, matanya berbinar-binar.
Sadewa yang sudah mengenal betul kembarannya itu, sudah tahu bahwa Nakula bukan benar-benar takut. Ia hanya butuh waktu saja. Jadi, Sadewa menyetujuinya. Memberikan sinyal bagi teman-temannya untuk mencari tempat duduk.
“Oke kalau gitu, kamu buka baju dan celanamu. Menghadap mereka,” Titah Sadewa. Pipi Nakula merona namun ia menuruti perintah sang kakak. Lelaki itu berdiri membelakangi Sadewa dan menghadap Yudis, Bima, juga Arjuna. Dengan perlahan, Nakula mulai mengangkat baju yang ia kenakan, memperlihatkan puting merah muda yang sudah menyembul keras.
“Gila, beneran montok banget dadanya,” Komentar Yudis yang dengan cepat disanggah Arjuna.
“Diem lu anjir. Ngerusak suasana aja,” Desis Arjuna.
Nakula semakin merasa malu, namun pujian tidak sengaja yang terlontar itu membuat Nakula merasa…puas dengan tubuhnya sendiri. Sehingga pria itu melanjutkan, ia menarik celana pendeknya turun. Memperlihatkan dalaman wanita berenda yang ia pakai. Panties kesukaan Sadewa, berwarna hitam.
“Fuck,” Gumam Bima. Pandangannya tidak bisa beralih dari celana dalam itu.
Dengan perlahan Nakula juga menarik turun celana dalamnya, menunjukkan vagina yang bersih dari segala bulu. Seakan-akan terhipnotis, ketiga lelaki itu hanya bisa terpaku terdiam menatapi vagina tembam itu. Bahkan Arjuna berkali-kali meneguk salivanya sendiri.
“Dah gue bilang, cantik kan memek Nakula?” Tanya sadewa yang dibalas anggukan serentak dari ketiga teman-temannya.
“Mas, ih! Malu tahu…” Rengek Nakula.
Sadewa tidak menggubris protes dari kembarannya itu. Ia menarik Nakula untuk kembali duduk di antara kedua kakinya. Punggung Nakula bertabrakan dengan dada bidangnya dan Sadewa melebarkan kaki Nakula. Seolah-olah ingin memberi pertunjukkan yang lebih detail kepada Yudis, Bima, dan Arjuna.
Nakula yang masih malu itu berusaha untuk menutup liang senggamanya yang terekspos bebas, namun Sadewa dengan cepat menepis tangannya. Ia justru melebarkan labia milik Nakula untuk menunjukkan lubang kecil yang berkedut dan cairan vagina yang keluar. “Lihat, sesempit ini padahal gue sumpelin kontol gue hampir setiap hari,” Ucap Sadewa.
Sementara itu, Nakula melenguh. Ia sangat terangsang dengan aksi sang Kakak tersebut. Apalagi ketika jari Sadewa tak sengaja mengusap klitorisnya yang membengkak.
“Fuck, gue boleh buka celana, kan? Please, nggak kuat lagi gue sesek. Ngaceng banget, cok!” Pinta Yudis.
Sadewa tertawa kecil, jari telunjuknya melesak masuk ke dalam liang senggama Nakula membuat dirinya mendesah nikmat. Ibu jarinya ia gunakan untuk menekan-nekan klitoris Nakula yang membesar. “Sok aja, toh Nakula nggak bilang nggak boleh sambil coli. Iya kan, sayang?” Sadewa dengan lihat menemukan titik nikmat Nakula, membuat pria bersurai biru itu hanya bisa mengangguk.
Mendapatkan lampu hijau, bukan hanya Yudis, namun Arjuna dan Bima juga melepaskann boxer nya dan mengeluarkan penis mereka yang sudah setengah mengeras. Sadewa berbisik di telinga Nakula, “Lihat punya mereka, sayang. Bayangin jari Mas diganti sama kontolnya Bima. Pasti memek kamu ini penuh banget. Nyampe itu ke rahim kamu ujung kontolnya.”
Kedua jarinya yang lain melesak masuk, membuat Nakula merasa penuh hanya dengan tiga jari panjang milik Sadewa. Pandangannya terpaku kepada tiga penis yang terpampang di hadapannya.
Milik Yudis yang paling pendek, namun ia lebar. Pas untuk membuat Nakula nikmat tanpa merasa sakit.
Penis Arjuna panjang, terlihat paling keras. Nakula nyaris meracau membayangkan penis itu melesak masuk di anusnya, menyentuh prostat.
Sedangkan milik Bima, yang paling besar dan panjang, sesuai dengan betapa masifnya tubuh lelaki itu. Vagina Nakula berkedut membayangkan tubuh mungilnya itu diperlakukan seenaknya ibarat boneka.
“Mas… Mas Dewa…” Racau Nakula. Kepalanya pusing. Stimulasi dari jari Sadewa dan bayangan-bayangan itu membuat cairan kenikmatan terus keluar dari vaginanya. Seperti tubuhnya sendiri sudah memberikan sinyal.
“Anus kamu boleh dimainin Arjuna nggak, sayang? Pake tangan aja kok,” Ucap sadewa. Tangan yang satunya kini dengan lihai memilin puting Nakula.
Arjuna yang disebut namanya itu sempat terkejut. Namun melihat sinyal Sadewa, ia mengambil botol pelumas yang sudah mereka siapkan sebelumnya. Nakula kali ini sudah tidak bisa berpikir jernih. Melihat Arjuna yang menatapnya dengan lapar, Nakula mengangguk.
Sadewa menyeringai menang dan memperbaiki posisi Nakula agar Arjuna bisa dengan mudah menyentuh anusnya.
Arjuna membasahkan jari telunjuknya dengan pelumas. Tatapannya bergantian antara vagina Nakula yang sudah penuh dengan tangan Sadewa dan juga lubang anal Nakula yang berkedut seolah-olah sedang memanggil dirinya.
"Udah pernah dimasukin di sini belum, Nakul?” Tanya Arjuna sembari melesakkan jari telunjuknya perlahan. Hangat, sempit dan sedikit kering. Itu yang Arjuna rasakan. Ia mulai menggerak-gerakan jarinya memutar untuk mengoleskan pelumas di dinding rektum Nakula.
Kedua lubangnya secara bersamaan diberi stimulasi membuat Nakula seakan-akan dimabuk kepayang. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Dewa. Too much, it’s too much. Pikir Nakula. Dadanya, vaginanya, dan sekarang lubang anusnya, dimainkan bersamaan.
“Ditanya tuh jawab, Nakula,” Tegur Sadewa, menampar vagina basah Nakula membuat sang empunya melenguh nikmat.
Nakula mengangguk cepat. “Udah, udah pernah dipake mas… Mas Dewa,” Jawab Nakula, berusaha untuk tetap membuka matanya menatap Arjuna.
Mendapatkan jawaban itu, merubah perlakuan Arjuna padanya. Terdengar Arjuna bergumam, “Persetan, kalau begitu.” Dan tanpa aba-aba memasukkan ketiga jarinya ke dalam anus Nakula, menyiramkan pelumas di luar lubang Nakula. Sang empunya tak henti-henti meracau. Vaginanya kosong, sebab Sadewa kini fokus memainkan putingnya, namun lubang anusnya penuh dengan tiga jari Arjuna.
Tanpa ampun, Arjuna mengobrak-abrik dinding rektum Nakula. Tangannya yang bebas ia gunakan untuk mengocok penisnya. Membayangkan hangat dan sempit yang ia rasakan di tangannya itu justru ia dapatkan di penisnya.
Bima dan Yudis di belakang yang memperhatikan aksi ketiganya itu juga tak tahan. Mereka masing-masing mengocok penisnya sendiri, sama-sama terangsang dengan pertunjukkan teman-temannya.
“Fuck, fuck,” Gumam Bima. Peluh membasahi dahinya.
“Bim, bim, tukeran tangan please,” Ajak Yudis.
Kepalang terangsang, tanpa babibu, Bima mengiyakan. Penis Yudis terlihat kecil di genggamannya, membuat Yudis melenguh keras. Berbanding terbalik, Yudis membutuhkan dua tangannya untuk bisa membalas kenikmatannya. Bima mengerang ketika ibu jari Yudis menekan-nekan lubang pipis miliknya.
Melihat seluruh orang di dalam ruangan tersebut sudah tenggelam dalam nikmat, Sadewa menitahkan Arjuna untuk berhenti. Ia membalikkan tubuh Nakula untuk menghadapnya. Diperhatikannya wajah sang adik yang sudah memerah itu, pandangannya sudah tak fokus, dan Sadewa menyeringai. “Udah pusing ya?” Tanya Sadewa sembari mengeluarkan penis miliknya dan tanpa aba-aba menusuknya masuk ke dalam vagina Nakula.
Stimulasi-stimulasi tanpa ampun itu membuat Nakula seketika melepaskan cairan nikmatnya ketika penis Sadewa menyentuh titik nikmatnya. “Ahh! Mas-- mas!" Cairan bening menyembur, membasahi penis Sadewa yang masih berdiri tegak di dalam vagina Nakula.
“Loh, udah squirt aja, padahal belum mulai.” Sadewa terkekeh, membiarkan Nakula turun dari euforianya. Kaki Nakula masih bergetar hebat ketika Sadewa memberikan sinyal kepada Arjuna. Tak ada keraguan kali ini, seperti Arjuna lupa cara berpikir menggunakan kepala jernih.
Sadewa mengusap-usap kepala Nakula yang bersandar di pundaknya, mencoba mengalihkan perhatiannya untuk hal… besar yang akan memasuki lubang anusnya. Arjuna dengan hati-hati mengarahkan penisnya menuju lubang anus Nakula, perlahan-lahan supaya tidak menyentuh Nakula dan membuat lelaki itu menolak kaget.
Ketika ujung penisnya berhasil masuk, tubuh Nakula menegang. Lelaki yang sedang lemas itu tiba-tiba menjadi awas dan membalikkan tubuhnya sedikit untuk melihat siapa yang memasukinya dari belakang. “Sorry, gue sange banget, Na,” Ucap Arjuna. Tidak memberikan waktu untuk Nakula merespon, Arjuna menghentakkan pinggulnya, memaksa penisnya itu masuk seutuhnya ke dalam Nakula.
“Ahhh! M—MAS!” Jerit Nakula.
Penetrasi mendadak itu membuat Nakula dengan refleks mengetatkan semua lubangnya membuat baik Sadewa juga Arjuna mengerang nikmat. Nakula meringis, jarinya mencakar punggung Sadewa, dan ia bisa merasakan pundaknya basah. Sadewa mengusap-usap punggung Nakula perlahan, meninggalkan kecupan-kecupan di pundak Nakula berharap hal itu bisa membuat Nakula rileks. Tangannya menyelinap untuk mengusap-usap klitoris Nakula.
“Nakula, sayang, aman?” Tanya Sadewa lembut. Menahan mati-matian untuk tidak langsung menggunakan tubuh adiknya itu. Sebuah keajaiban karena nikmat yang dirasakan penisnya itu jauh lebih dari biasanya.
“Penuh, lubang aku penuh banget, Mas. Mas Dewa…” Isak Nakula. Sadewa memaksa adiknya itu untuk menatapnya. Dan ia mendapati pipi Nakula sudah basah, hidungnya memerah menggemaskan, namun Sadewa tidak menemukan tanda-tanda kesakitan atau tidak nyaman dari wajahnya.
“Habis ini bakal lebih enak banget. Diem aja dan nurut kata Mas, oke?” Ucap Sadewa, tangannya menyampirkan surai rambut Nakula ke belakang telinganya.
Nakula mengangguk dan itu menjadi sinyal bagi Arjuna yang memang sudah tidak tahan itu untuk bergerak. Kedua tangannya mencengkram pinggang ramping Nakula dan mulai menggerakkan pinggulnya, membuat penisnya keluar-masuk.
Sadewa tidak mau kalah, ia melebarkan kakinya sebelum ia mulai menggerakan pinggulnya maju mundur. Berlainan arah dengan gerakan Arjuna. Sehingga lubang Nakula tidak pernah kosong, selalu penuh dengan penis keduanya.
Pusing. Pusing sekali rasanya dipenetrasi secara bersamaan. Penis Sadewa mengisi liang senggamanya, beberapa kali menggaruk titik kenikmatan Nakula yang gatal. Sementara Arjuna masih mencari-cari dimana prostat Nakula berada.
Berada di tengah-tengah keduanya hanya bisa membuat Nakula meracau nikmat. Tangisannya kini berubah menjadi tangis penuh nikmat. Apalagi ketika Arjuna menemukan titik nikmatnya juga, membuat tubuh Nakula mengejan. “Ahh di—di situ, please, please,” Desah Nakula. Tangannya mencengkram kuat pundak Sadewa.
“Kan, keenakan juga orangnya. Kalau udah disumpelin kontol baru tuh, keluar sifat lacurnya.” Kekeh Sadewa, dengan sengaja menghentakkan penisnya di gspot Nakula.
“Fuck, Mas Dewa. Adek lu enak banget, shit.” Erang Arjuna, memejamkan matanya untuk menikmati bagaimana lubang anus Nakula memijat-mijat penisnya.
Mendengar hinaan Sadewa dan Arjuna justru membuat Nakula semakin meremas penis keduanya. Mulutnya menganga, tak henti-hentinya mengeluarkan desahan demi desahan yang bisa mengalahkan bintang porno sekalipun.
“Enak, Nakula?” Tanya Arjuna. Didekatkannya bibirnya untuk mengulum telinga Nakula.
Bulu kuduk Nakula merinding dan pria itu hanya bisa mengangguk. “Enak—enak, Mas… lagi, mau lagi,” Racaunya.
Jawaban Nakula itu membuat Sadewa dan Arjuna semakin memperdalam hentakannya. Rahimnya seperti ditusuk-tusuk oleh Sadewa sementara itu Arjuna terus menghentakkan penisnya semakin dalam.
“Mau ahh… mau pipis, Mas! Mau pipis!” Isak Nakula, seluruh tubuhnya bergetar dari usahanya menahan puncak kenikmatannya.
Mendengar hal itu, dengan sigap Sadewa mengusap-usap klitoris Nakula dengan kasar. Memancing klimaks Nakula untuk datang lebih cepat.“Keluarin aja sayang, tapi badanmu masih harus dipake. Itu Bima sama Yudis belum kebagian,” Jawab Sadewa, sembari melirik ke arah Bima dan Yudis yang masih saling membantu satu sama lain memberikan kenikmatan. “Habis ini dihamilin Bima, mau?” Bisik Sadewa, menggoda Nakula.
Bima mengerang mendengarnya dan tanpa sadar mengeluarkan spermanya membasahi Yudis. “Anjir, bang! Gila lu ya?” Keluh Bima yang terkejut namun juga ingin.
Sementara itu, Nakula memberikan reaksi yang sama. Sesaat Sadewa selesai mengucapkan kalimatnya, cairan bening menyembur dari vagina Nakula. Tubuhnya bergetar hebat saat ia mencapai klimaksnya. Sadewa yang menyukai reaksi adiknya itu kini tanpa ampun menggagahi adiknya diikuti juga dengan Arjuna. Tanpa memberikan waktu bagi Nakula untuk memproses klimaksnya, kedua lelaki itu masih menggunakan tubuhnya bagai boneka seks.
Nakula hanya bisa pasrah dan berkali-kali meracau, “Udah—udah! Mas… Juna… Ahhh udah!” Namun tentu saja hal tersebut tidak digubris oleh Sadewa.
Tak butuh waktu lama bagi Arjuna untuk melepaskan spermanya ke dalam lubang anus Nakula. Lelaki itu mengerang nikmat dan memejamkan matanya ketika ia berhasil mencapai klimaksnya. Sadewa menyusul setelah beberapa hentakan, memenuhi rahim Nakula dengan benihnya.
Nakula terkulai lemas di atas tubuh Sadewa. Benih-benih sperma yang terlalu banyak itu perlahan keluar dari sela-sela penis mereka yang masih memenuhi lubang-lubang Nakula. Arjuna lah yang pertama kali mengeluarkan penisnya. Perlahan-lahan, sebab ia menyukai bagaimana lubang itu mengerut membentuk ukuran penisnya sampai akhirnya menganga lebar dengan cairan putih menghiasinya.
“Fuck, pantes aja lo dipake Dewa setiap hari. Gue juga nggak bisa tahan lihat beginian depan mata gue.” Komentar Arjuna, memasukan ibu jarinya ke dalam anus Nakula membuat sang empunya melenguh.
Sadewa melepaskan penisnya, membuat Nakula merengek karena rasa kosong dari kedua lubangnya.
Click.
Suara kamera membuat perhatian mereka kembali pada Yudis yang mengenggam ponselnya. “Sayang banget kalau nggak diabadikan. Memek sama pantatnya Nakula dipenuhin peju? Gue bisa coli pake foto ini sebulan penuh,” Jelas Yudis.
“Eh astaga, gue lupa pake kondom!” Ucap Arjuna ketika ia menyadari bungkus kondom yang terletak tak berguna di lantai.
“Santai aja. Gue beli itu cuman buat bujuk Nakula. Gue tahu sebenernya dia lebih suka diisi pake peju. Ya kan, sayang?” Tanya Sadewa, sembari mengecup kening Nakula yang masih berbaring lemas. Nakula mengangguk, hilang sudah rasa malunya yang coba ia pertahankan itu. Persetan, ternyata disetubuhi dua orang bersamaan nikmatnya tak bisa dijelaskan.
“Udah keras lagi aja tuh, Bim.” Ledek Sadewa, ketika menyadari penis Bima kembali terangsang.
Mendengar hal tersebut, Nakula menolehkan kepalanya. Pandangannya menuju pada penis Bima yang secara perlahan sang empunya kocok. “Ya gimana bang, masih muda gue,” Tukas Bima.
Nakula yang sedari awal memang kepalang terangsang melihat ukuran penis Bima itu, beranjak dari tubuh Sadewa dan merangkak menuju Bima yang sedang terduduk. “Bima… mau dimasukin Bima…” Lirih Nakula, matanya lapar menatap penis besar Bima.
Bima terbelalak kaget. Pandangan di hadapannya seperti mimpi basah menjadi kenyataan. Nakula yang telanjang, kedua lubangnya menganga lebar dengan cairan sperma yang masih menetes keluar, mata sayu memohon untuk penisnya menggauli tubuh indah itu.
“Tanya mau dimasukin kemana, Bim,” Titah sadewa yang tersenyum senang itu.
Bima menelan liurnya, ibu jarinya mengusap bibir ranum Nakula. “Mau dimasukkin kemana, Mas Kula?” Tanya Bima.
Sebelum menjawab, Nakula mengulum ibu jari Bima, membuat yang lebih muda itu semakin terpancing. “Memek, mau dipenuhin rahimnya. Mau kontolnya Bima di memek… Kosong banget, Bim… Mau dipenuhin,” Rengek Nakula.
Bima yang mendapati permintaan tersebut tidak bisa menolak—tidak mau juga sih. Tanpa peringatan, Bima mengangkat tubuh Nakula dengan mudah, melingkarkan kaki lelaki yang lebih tua itu di pinggangnya. Dengan satu tangan, Bima menahan tubuh Nakula, sementara tangannya satu lagi ia gunakan untuk mengarahkan penisnya ke vagina Nakula, menghentakkannya ke dalam tanpa aba-aba.
Besarnya ukuran penis Bima itu membuat Nakula menjerit sakit sekaligus nikmat. Vaginanya dengan refleks mengetat, membuat Bima juga meringis.
“AHHH! BIM!” Jerit Nakula, mengeratkan lingkaran tangannya di leher Bima.
“Ngh, Mas Kula… Mas Kula longgarin dikit, fuck. Sempit banget ini,” Pinta Bima.
Penis Bima bahkan belum masuk keseluruhannya, namun Bima sudah bisa merasakan bagaimana bagian dalam Nakula menolak penisnya masuk. Sesak, rasanya sesak sekali berada di dalam Nakula. Namun juga nikmat tiada tara yang membuat Bima nyaris kehilangan kekuatannya untuk menahan tubuh Nakula.
Nakula yang tidak memberikan respon itu, membuat Bima khawatir. “Mas? Mas Kula? Rileks, Mas. Ini belum masuk semuanya…” Panggil Bima.
Melihat hal itu, Sadewa beranjak dari tempatnya untuk mengecek keadaan Nakula. Ia mengusap kepala Nakula, membuat sang adik membuka matanya perlahan. “Nakula, masih inget safe word kamu? Kamu boleh sebut itu kapan aja,” Ucap Sadewa.
Nakula mengangguk lemah, “Tahu kok, Mas. Kontol Bima aja kegedean. Aku… aku mau dicium Mas dulu, boleh?” Pinta Nakula. Siapa Sadewa yang bisa menolak permintaan sang adiknya itu? Sadewa menarik kepala Nakula untuk mengulum bibir ranumnya itu. Sementara Bima mati-matian menahan pinggulnya untuk tidak melesak masuk. Ingin memberikan waktu untuk Nakula menyesuaikan diri.
Yudis kini juga bergabung dengan mereka. Tangannya bergerak mengelus lubang anus Nakula yang masih terbuka. Jarinya melesak masuk, hanya jari telunjuk, namun untuk Nakula yang kepalang sensitif hal tersebut mampu merangsang tubuhnya. Stimulasi-stimulasi itu berhasil membuat otot-otot vagina Nakula rileks sehingga Bima bisa perlahan-lahan memasuki sisa penisnya.
Nakula melenguh, antara sakit dan nikmat, namun Sadewa tidak membiarkannya melepas pagutan mereka. Air liur saling tertukar, vagina penuh oleh penis besar Bima, dan anusnya dimainkan jari-jari Yudis yang lentik. Nakula tenggelam dalam nikmat, sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa penis Bima kini sudah masuk seutuhnya. Nakula bisa merasakan rahimnya tertekan, bahkan Bima belum bergerak. Bahkan sepertinya Bima tidak perlu berusaha untuk menyentuh gspotnya, seluruh dalamnya sudah tersentuh oleh Bima.
Bima menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, urat-urat di lehernya menonjol saat ia berusaha mengendalikan napas yang sudah memburu. Panas. Begitu panas dan sempit di dalam Nakula hingga ia merasa setiap denyut jantungnya ikut terjepit di sana. “Mas… aku gerak ya? Nggak tahan banget sumpah,” bisiknya parau, suaranya hampir pecah.
Nakula mengangguk, mendesah dalam pagutan bibir Sadewa, tubuhnya bergetar mengalami kenikmatan demi kenikmatan tanpa henti. Lidah Sadewa menari lembut di dalam mulutnya, menelan setiap erangan kecil yang lolos, sementara tangan Yudis terus bergerak pelan. Dua jari kini sudah berada di dalam lubang belakang Nakula, mengorek dengan ritme yang disengaja, membuka dan merangsang dinding-dinding sensitif itu tanpa ampun.
Perlahan, Bima mulai menggerakkan pinggulnya mundur sedikit, hanya beberapa senti, lalu kembali mendorong masuk dengan hati-hati. Bunyi basah yang pelan terdengar saat daging mereka saling bergesekan. Nakula menggeliat, punggungnya melengkung, dan Sadewa pun melepaskan ciuman mereka agar adiknya bisa menarik napas.
“Ahh… Bim… Bima… penuh banget memek aku,” keluh Nakula, matanya berkaca-kaca tapi penuh kabut kenikmatan. Wajahnya merah padam, bibirnya bengkak karena ciuman Sadewa.
Yudis tersenyum tipis sambil mencondongkan tubuhnya lebih dekat. Bibirnya menyapu telinga Nakula. “Memek kamu banjir banget, Kula. Lebar banget lagi ini gara-gara kontol gedenya Bima. Kalau dikeluarin pasti nganga lebar,” Jarinya menekan lebih dalam, tepat di titik yang membuat Nakula tersentak keras hingga otot-otot dalamnya menjepit Bima lebih kuat.
Bima mengerang rendah, tangannya mencengkeram pinggul Nakula lebih erat. Dirinya pun mengikuti ucapan Yudis, menarik penisnya keluar sepenuhnya. Nakula yang merasa kosong secara tiba-tiba itu merengek, “Kenapa dilepas, Bima… masukin lagi. Mau, mau diisi kontol,” Rengek Nakula. “Bimaa…” Racau Nakula.
Yudis tak menyia-nyiakan kesempatan itu dan memotret vagina Nakula yang terbuka lebar pasca penetrasi penis Bima. Ia pun menunjukkan fotonya kepada Bima. “Lihat, beruntung dia dipakenya sama Mas Dewa. Dipake lu setiap hari, lower itu memek lama-lama,” Kekeh Yudis.
Sudah kadung tak tahan, Bima kembali kembali menghentakkan penisnya masuk, kini dalam satu gerakan. Membuat Nakula melentingkan tubuhnya, matanya menatap ke atas sehingga yang terlihat hanya bagian putihnya. Tanpa ampun, Bima mengayunkan pinggulnya. Kali ini tanpa ragu, lebih dalam, lebih cepat, hingga tubuh Nakula terhentak-hentak persis seperti boneka seks.
Mulut Nakula terbuka lebar, tidak ada suara desahan yang keluar karena gerakan bima yang terlalu intens. Nakula sudah tidak bisa berpikir. Kepalanya hanya dipenuhi dengan penis besar Bima yang terus menghujami rahimnya tanpa ampun. Matanya juling, liur mulai menetes dari mulutnya. Dan Nakula hanya bisa pasrah tubuh dan liang senggamanya digunakan Bima seenaknya.
“Bim, mau juga dong,” Ucap Yudis menarik perhatian Bima yang kala itu terlalu fokus menatap ekspresi keenakan Nakula. “Nggak bisa nunduk dikit, kah? Gue mau pake belakangnya ini, sayang banget gak diisi,” Lanjut Yudis.
Sadewa yang menyaksikan keduanya kesulitan untuk memposisikan Nakula akhirnya menyarankan Bima untuk berbaring di atas matras. Nakula menggunakan tangannya yang lemas untuk bertumpu di atas perut bima. Sementara itu Yudis ikut berbaring, kakinya ia satukan dengan Bima, membuat penisnya berdiri tepat di atas lubang anal Nakula.
Nakula yang menyadari ide kakaknya itu menatapnya memohon. “Mas… tapi aku nggak kuat gerak sendiri,” Keluh Nakula.
“Arjuna, berdiri depan Nakula, mau masukin mulutnya juga boleh.” Titah Sadewa.
Arjuna yang ikut terangsang lagi pun tidak menolak. Ia berdiri di antara tubuh Bima, penisnya ia arahkan ke wajah Nakula. Sementara itu, tangan Nakula berpegangan pada pinggang Arjuna.
“Gerak, Nakula. Nanti dibantuin Juna,” Suruh Sadewa.
Sebelum itu, Yudis melesakkan penisnya masuk ke dalam Nakula. Nakula yang merasa semakin penuh itu mendesah. Namun belum sempat ia menikmati kedua lubangnya terisi, Arjuna sudah terlebih dahulu menepuk-nepuk penisnya di pipi Nakula.
“Remes pake tanganmu, pegangannya di kontol aja,” Ejek Arjuna, mengusap surai rambut Nakula yang sudah lepek oleh keringat.
Nakula menurut dengan mata setengah terpejam. Bibirnya membuka, lidahnya menyentuh ujung Arjuna yang panas sebelum akhirnya mengulumnya perlahan. Tangannya yang gemetar meremas batang Arjuna yang tak muat masuk seluruhnya ke dalam mulutnya, menggerakkan naik turun dengan irama yang tak beraturan.
Sadewa berdiri di samping, mengawasi semuanya dengan tatapan gelap penuh hasrat. Tangannya menyusuri punggung Nakula yang berkeringat, lalu turun ke bokongnya, membuka celah itu lebih lebar agar Yudis bisa masuk lebih dalam. “Bagus. Gerakkan pinggulmu pelan-pelan, Nakula. Naik-turun di kontol Bima sambil dorong ke belakang buat Yudis.” Ucap Sadewa memberikan intruksi.
Nakula mencoba. Tubuhnya naik sedikit, melepaskan sebagian Bima yang langsung licin oleh cairannya sendiri, lalu turun lagi sambil mendorong pinggul ke belakang. Gerakan itu membuatnya mendesah keras di sekeliling penis Arjuna, getaran suaranya ikut merambat ke batang yang sedang ia hisap. Ketiga lubangnya diisi secara bersamaan. Nakula hanya bisa melihat putih.
Yudis mengerang pelan, tangannya mencengkeram pinggang Nakula dari samping. Ia mulai ikut bergerak, menyinkronkan hantaman kecilnya dengan gerakan Nakula. Setiap kali Nakula turun, Yudis mendorong maju, membuat kedua batang itu bergesekan tipis hanya dibatasi oleh dinding tipis di dalam tubuh Nakula. Sedangkan untuk Bima, pria itu hanya bisa pasrah. Menahan mati-matian untuk tidak mencapai klimaksnya lebih dulu dari Nakula.
Inikah surga dunia itu? Pikir Bima. Merasakan bagaimana penisnya dipijat kuat oleh vagina Nakula juga gesekkan penis Yudis yang hanya dibatasi dinding tipis.
Sementara di atas, Arjuna menahan kepala Nakula dengan serampangan, kadung tenggelam dalam kenikmatan sehingga ia tidak bisa berpikir jernih. Arjuna mendorong pinggulnya, memaksa penisnya masuk lebih dalam. “Pake lidahnya, Nakula. Fuck, yeah… kaya gitu, pinter,” pujinya sambil mendesah ketika lidah Nakula menekan urat-urat sensitif di bawah kepala penisnya.
Keringat semakin banyak mengalir di tubuh Nakula. Napasnya tersengal di sela-sela mulut yang penuh, matanya berkaca-kaca penuh air mata kenikmatan yang meluap-luap. Setiap gerakan kecil membuatnya merasakan gesekan di dua titik kenikmatannya sekaligus. Yudis yang menyentuh prostatnya, juga Bima yang memenuhi seluruh dinding vaginanya.
Penuh, sesak, panas… dan nikmat. Nikmat tiada tara sampai Nakula kehilangan akalnya.
Di sisi lain, Sadewa mengambil ponselnya. Ia sibuk merekam aksi ketiga temannya menggunakan tubuh adiknya dengan serampangan. Ponselnya ia bawa lebih dekat, memperlihatkan mulut Nakula yang penuh sesak oleh penis Arjuna, matanya sayu seolah-olah Nakula hanya hidup untuk digunakan sebebasnya.
Lalu ia alihkan kamera tersebut, memperlihatkan bagaimana penis besar Bima memaksa masuk vagina Nakula dan penis Yudis yang menghujami anusnya tanpa ampun. Lubang-lubang senggama itu terlihat sangat lapar, meremas dan memijat penis teman-temannya.
“Dew, pegangin badannya Nakula. Tolong gue udah nggak tahan,” Pinta Bima yang sudah terlihat kewalahan.
Sadewa memposisikan kameranya di sudut ruangan, memastikan bahwa kegiatan mereka masih terekam jelas. Barulah setelah itu ia berjalan mendekat, membantu Nakula untuk bertumpu pada lututnya dan menahan pinggang Nakula untuk tetap diam di posisinya.
Baik Bima dan Yudis, tak lagi terlentang. Mereka duduk, tangannya tersandar di belakang, sementara kakinya dibuka lebar. Mengayunkan pinggulnya ke atas, menubruk vagina juga lubang anus Nakula bergantian.
Hentakan itu cepat dan dalam, jika bukan karena tangan Sadewa yang menahan tubuhnya, Nakula sudah jatuh lemas. Ia melenguh, memberikan getaran pada batang penis yang masih tersumpal di dalam mulutnya. Arjuna mengerang, ia juga memanfaatkan kesempatan itu untuk menggunakan mulut Nakula tanpa ampun.
Kali ini, Nakula benar-benar seperti boneka seks. Tiga lubang yang digunakan tanpa ampun, sebebasnya.
Nakula lah yang pertama kali mencapai klimaksnya. Bagaimana tidak, sensasi ketiga lubangnya digauli secara bersamaan terlalu berlebihan. Bahkan kali ini squirt yang dikeluarkan Nakula tampak tiada henti, membasahi penis Bima, bahkan juga mengenai matras yang mereka gunakan.
“Ahhh fuck fuck fuck! Hamil kau, Mas. Aku hamilin sama pejuku kau.” Racau Bima. Ia tidak lagi bisa menahan nafsunya, apalagi ketika ia melihat perut Nakula yang sedikit menonjol. Ia menekan dengan tangannya dan merasakan bahwa itu adalah penisnya.
Nakula kembali mengeluarkan cairan bening begitu Bima menekan tonjolan itu. Dan hal itu lah yang menyebabkan Bima mencapai klimaksnya, membenamkan penis itu sedalam-dalamnya, hampir melesak masuk ke dalam rahim Nakula.
Di saat yang bersamaan, Arjuna menekan kepala Nakula, juga ikut menyemburkan spermanya ke dalam kerongkongannya.
Hangat dan panas. Itu yang Nakula rasakan. Rahimnya penuh terisi oleh benih-benih Bima, banyak sekali. Bahkan ketika Arjuna melepaskan kepalanya dan Nakula terbatuk-batuk oleh cairan sperma yang ia berusaha telan, Bima masih belum selesai ejakulasi di dalam rahimnya. Bahkan Bima tidak berhenti mengayunkan pinggulnya.
Sadewa melepaskan pegangannya pada Nakula. Membiarkan adiknya itu masih tersumpal dengan penis Bima juga Yudis. Sadewa melihat ke belakang dan mendapati Yudis yang meringis dan terengah-engah.
“Kenapa kau, Yudis?” Tanya Sadewa.
“Ngilu. Gue udah keluar dari tadi tapi digesek terus sama Bima, fuck. Gini ternyata rasanya diremes sampe kering,” Keluh Yudis.
Bima yang mendengarnya menghentikkan gerakannya, sperma masih menyembur dari penisnya. “Sorry, Yud. Gue masih keluar ini masalahnya,” Jelas Bima.
Nakula yang sudah lemas itu berbaring di atas dada bidang Bima, membuat penis Yudis keluar dari anusnya.
Yang lain menyaksikan bagaimana vagina Nakula yang masih terisi penuh namun cairan putih mulai mengalir turun dan lubang analnya yang seperti menganga permanen. Seakan-akan meminta untuk kembali disumpal.
“Gila lu, beneran hamil itu Nakula,” Tukas Yudis.
Sadewa terkekeh, ia mengusap punggung Nakula sayang. “Color, Nakula?” Tanya Sadewa.
Nakula tidak langsung menjawab. Ia masih sibuk mengatur nafasnya dan menikmati hangat sperma yang diberikan Bima ke dalam rahimnya. “Green, Mas,” Ucap Nakula, suaranya parau akibat perbuatan Arjuna.
“Siapa mau lagi?” Tanya Sadewa setelah mendengar pernyataan Nakula.
Yudis yang pertama kali menggelengkan kepala. “Engga, gue kering banget ini. Tahu gitu gue gak coli kemaren,” Tolak Yudis.
“Gue juga, bang. Ini gue baru selesai crotnya. Butuh waktu buat banguninnya lagi,” Jawab Bima, sembari menarik keluar penisnya secara perlahan. Bunyi sensual terdengar ketika penis Bima keluar dari liang basah milik Nakula.
Kini, tak hanya lubang anusnya, vagina Nakula juga menganga lebar. Memberikan bukti bahwa vaginanya berusaha menyesuaikan dengan bentuk penis Bima.
“Lagi nggak, Jun?” Tanya Sadewa.
“Mau, tapi gue mau nyoba sesuatu, boleh nggak?” Tanya Arjuna kembali.
“Boleh nggak, Nakula?” Tanya Sadewa, mengusap kepala sang adik lembut.
Nakula mengangguk. Ia sudah tak bisa berpikir. Fokusnya hanya betapa kosong lubang senggamanya saat ini. Ia hanya ingin dipenuhi. Ramai-ramai.
Mendapatkan sinyal itu, Arjuna memindahkan tubuh Nakula ke atas tubuhnya. Ia memasukkan penisnya yang—ajaibnya—kembali mengeras ke dalam vagina Nakula. Sang empu kembali mendesah, suaranya kini parau akibat dipakai berkali-kali.
“Juna… ahh, masih sensitif,” keluhnya, kuku-kukunya menancap di bahu Arjuna.
Sadewa pikir Arjuna hanya ingin berganti posisi dari ronde pertama mereka. Namun sebelum Sadewa sempat memasukkan penisnya ke dalam anus Nakula, Arjuna menahannya.
“Di memeknya juga, Mas Dew. Ini memeknya udah longgar banget gara-gara Bima, muat kalau bareng,” Ucap Arjuna sambil menggerakkan pinggulnya pelan ke atas, membuat Nakula menggeliat di atasnya. Tangannya memegang pantat Nakula, membukanya lebar-lebar sebagai undangan.
Sadewa tidak membuang waktu lagi. Ia naik ke atas matras, lututnya menekan di samping pinggul Arjuna. Kepala penisnya yang sudah basah oleh precum ia gesekkan di celah vagina Nakula yang sudah terisi Arjuna. Perlahan ia mendorong, merasakan dinding-dinding yang meregang luar biasa untuk menampung dua batang penis sekaligus.
Nakula tersentak keras, matanya melebar. “Mas… Jangan! Terlalu… penuh—nggh! Ahhh!” Suaranya pecah menjadi erangan yang dalam saat Sadewa berhasil memasukkan kepalanya penisnya.
Rasanya seperti terbelah, tekanan yang menyiksa sekaligus memabukkan. Dua penis bergesekan di dalamnya, urat-urat mereka saling menekan, membuat setiap inci dinding dalamnya terstimulasi secara berlebihan. Kepala Nakula benar-benar kosong kali ini. Yang ia rasakan hanya nikmat dan sensasi penuh di dalam vaginanya.
“Mas… mas… enak mas… penuh banget…” Racau Nakula.
Arjuna mendesah panjang di bawahnya, rahangnya menegang. “Sempit lagi sekarang… sial, enak banget buset.” Ia mengangkat pinggulnya sedikit, membantu Sadewa masuk lebih dalam.
Sadewa mengerang rendah saat setengah batangnya akhirnya tenggelam. Keringat menetes dari dahinya. “Nakula… lacurnya mas. Mau ya, habis ini kita pake terus memeknya rame-rame? Buktinya ini kamu mau, kamu bilang enak.” bisiknya serak sambil mengecup bahu adiknya yang gemetar. Tangan kirinya memegang pinggul Nakula, tangan kanannya meremas dadanya yang bergoyang-goyang pelan.
Nakula mengangguk. Sudah tidak ada lagi akal sehat. “Mau! Mau dipake rame-rame lagi mas—ahh! Mau dientotin mas sama temen-temennya. Yang lama, yang banyak… Digilir, dipake sepuasnya! Ahhh mas!”
Nakula hanya bisa terengah-engah, mulutnya terbuka lebar tanpa suara yang keluar utuh. Air mata kenikmatan mengalir di sudut matanya. Tubuhnya bergetar hebat, otot-otot dalamnya berkontraksi liar di sekeliling dua penis yang memenuhinya hingga penuh sesak. Setiap denyut jantung terasa di dalam sana.
Yudis yang menyaksikan dari samping tersenyum lebar, tangannya mengusap punggung Nakula yang licin oleh keringat. “Lihat itu… memeknya nganga banget. Bisa muat berdua. Penasaran, bisa nggak ya dia disumpelin Bima sama Mas Dewa bareng-bareng. Kan gede dua-duanya tuh,” Ucap Yudis. Tangannya merogoh ponselnya, tidak ingin menyia-nyiakan pemandangan ini.
Perkataan Yudis membuat Nakula kembali mencapai klimaksnya. Semburan cairan bening kembali membasah matras. Nakula hanya bisa pasrah, menyerah pada kenikmatan yang menghujaninya.
Tanpa mengindahkan fakta bahwa tubuh Nakula masih bergetar pasca klimaks, Sadewa mulai bergerak mundur-maju, sinkron dengan Arjuna yang mengayun dari bawah. Gerakan mereka belum cepat, tapi sudah cukup untuk membuat Nakula kehilangan kendali suaranya—erangan panjang dan parau keluar tanpa henti setiap kali kedua ujung penis itu menekan rahimnya bergantian.
“Lacur kamu,” Ucap Sadewa terengah-engah. “Dibilang mau dikontolin mas sama Bima langsung kencing-kencing,” Lanjut Sadewa, kini meninggalkan gigitan di leher sang adik.
“Sialan lu Dewa, beruntung banget punya adek sebinal ini.” Perengut Arjuna, namun pinggulnya tidak berhenti menghentak-hentak. Suara tamparan antar kulit menggema di dalam ruangan itu.
Sadewa menyeringai, ia menari surai rambut Nakula, memaksa lelaki itu untuk melentingkan tubuhnya. “Siapanya Mas, kamu? Jawab.” Titah Sadewa.
Nakula yang sudah kosong isi kepalanya itu hanya mendesah. Matanya dominan putih akibat nikmat yang bertubi-tubi. Sadewa yang tidak mendapatkan respon melingkarkan tangannya di leher Nakula. “Kalau ditanya tuh, dijawab.” Desak Sadewa.
“Nggh… ahhh… la—lacurnya mas. Punya Mas. Ahh, ahh, mainannya Mas!” Jawab Nakula, entah untuk ke berapa kalinya kembali squirting. Kakinya gemetar hebat dan tubuhnya menggelinjang. Namun Arjuna dan Sadewa masih tidak memberi ampun.
“Selain Mas, siapa lagi yang boleh pake memek kamu sekarang?” Tanya sadewa.
Mata Nakula basah. Oleh air mata nikmat yang terus menerus mengucur. “Mmh.. Ahhh Ju—Juna, Bima, sama nggh… Yudis!” Suara Nakula serak, namun ia tetap berusaha menjawab pertanyaan sang kakak.
Sadewa menyeringai puas mendengar jawaban Nakula yang terputus-putus. Tangannya masih melingkari leher adiknya dengan tekanan yang pas, tidak sampai mencekik, tapi cukup untuk mengingatkan siapa yang memegang kendali. “Bagus… jawaban yang benar,” pujinya sebelum melepas pegangan dan kembali mencengkeram pinggul Nakula dengan kedua tangan.
Di dalam vagina Nakula yang sudah terlalu penuh, dua penis tebal Sadewa dan Arjuna saling menekan dengan kuat. Setiap gerakan kecil membuat batang mereka bergesekan langsung—urat-urat panas yang licin oleh cairan Nakula yang melimpah. Tekanan dinding-dinding dalam yang berkontraksi liar itu seperti ribuan tangan kecil yang meremas dan memijat keduanya secara bersamaan.
“Fuck… memeknya kedutan enak banget,” erang Arjuna dari bawah, suaranya parau. Ia bisa merasakan setiap denyut otot Nakula yang memeluk kedua kepala penis mereka dengan rakus. Gesekan dengan Sadewa menambah sensasi yang gila; ujung penisnya terus terstimulasi oleh gesekan yang panas dan basah itu.
Sadewa menggigit rahangnya keras. Nikmatnya luar biasa. Vagina Nakula yang sudah longgar karena Bima tadi kini kembali menyempit karena kontraksi hebat, mencengkeram kedua batang mereka begitu kuat hingga terasa nyaris menyakitkan. Setiap kali ia mendorong masuk, ia merasakan gesekan langsung dengan Arjuna—kulit halus yang licin saling bergesek, ujung sensitif mereka saling menekan di dekat rahim Nakula.
Nakula sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Tubuhnya menggelinjang hebat, squirting kecil terus keluar menyemprot di sekeliling dua penis yang memenuhinya. Air matanya mengalir deras, mulutnya terbuka lebar mengeluarkan erangan serak yang sudah habis-habisan.
“Mas… enak… penuh… aku penuh banget… nggh… enak, mas…” Racau Nakula.
Sadewa dan Arjuna mulai bergerak lebih cepat, sinkron. Sadewa menghantam dari atas dengan hantaman dalam, sementara Arjuna mengayun pinggulnya dari bawah. Dua batang besar itu saling gesek tanpa henti di dalam terowongan sempit yang panas dan basah. Sensasi gesekan itu membuat mereka berdua semakin gila—nikmat yang tajam, panas, dan hampir menyiksa.
“Siap-siap… gue nggak tahan lagi,” desis Arjuna. Otot perutnya menegang, bola-bolanya mengejang. Sadewa pun menyadari bahwa ia sudah di ujung, napasnya memburu liar.
Dengan beberapa hantaman akhir yang kuat dan dalam, keduanya mengerang bersamaan. Sadewa menekan tubuhnya rapat ke Nakula, sementara Arjuna menarik tubuh Nakula mendekat. Panas pekat menyembur deras dari kedua ujung penis mereka hampir bersamaan, membanjiri rahim Nakula dengan cairan kental yang meluap-luap. Semprotan demi semprotan panjang, deras, dan panas memenuhi ruang yang sudah sesak itu hingga kelebihan cairan memaksa keluar dari celah vagina yang teregang lebar, menetes deras membasahi pangkal penis mereka dan paha Nakula.
Sadewa menggigil hebat, rahangnya mengeras menahan gelombang kenikmatan yang menyengat hingga ke tulang punggung. Arjuna di bawahnya mendesah panjang, tubuhnya kejang-kejang saat sperma terus menyembur keluar, bercampur dengan cairan Nakula yang terus berkontraksi.
Nakula hanya bisa menjerit parau, tubuhnya kaku sejenak sebelum ambruk lemas di atas dada Arjuna, napasnya tersengal-sengal seperti habis berlari maraton. Dalamnya masih berdenyut-denyut hebat, meremas sisa-sisa ejakulasi yang masih tertanam dalam.
“Kuning, Mas… Kuning…” Parau Nakula yang sudah kehilangan seluruh energinya itu.
Sadewa sempat tidak menyadari apa yang Nakula katakana sampai Arjuna menepuk pundaknya. “Lepas, yellow, katanya.” Desak Arjuna.
Walau masih linglung akibat ejakulasi hebatnya, Sadewa tetap memprioritaskan Nakula. Dengan perlahan, ia melepas penis miliknya disusul oleh Arjuna.
Nakula meringis kemudian dia terisak. Badannya sangat lemah. Lubang senggamanya ngilu dan nyeri. Pikirannya mulai terisi dengan hal-hal sedih. Ia hanya ingin dipeluk dan disayang oleh sang kembaran, juga teman-temannya.
“Siapin air angetnya di bath up, Bim. Cepet.” Titah Sadewa, sembari merengkuh tubuh Nakula di dekapannya. Dengan lembut ia mengusap surai rambut sang kembaran dan meninggalkan kecupan-kecupan hangat di wajahnya. Tak lupa, Sadewa juga membantu Nakula untuk minum. Membasuh tenggorokannya yang kering akibat aktivitas mereka.
Bima dengan segera menuruti perintah Sadewa, sementara Arjuna dan Yudis kini mendekati Nakula yang masih terisak di dalam dekapan Sadewa. Tangan Arjuna mulai memijit pelan kaki Nakula, berharap otot-otot tegangnya perlahan-lahan bisa ikut rileks. Sementara itu Yudis bersenandung, lagu yang ia tahu disukai oleh Nakula.
“Sudah siap, Mas Dew.” Ucap Bima beberapa saat setelahnya.
Sadewa beranjak, menggendong Nakula ala bridal style untuk menuju ke kamar mandi. Namun Nakula menahannya. Matanya menatap Yudis, Bima, lalu Arjuna. “Maunya mandi sama Mas dewa, tapi… minta cium dulu, boleh?” Tanya Nakula malu-malu.
Hening, sebelum Yudis memecahnya, “Anjir lucu banget lagi. Sini ta cium sampai gabisa nafas kamu, mas.”
Yudis langsung mendekat dengan senyum lebar yang penuh nafsu juga kasih sayang. Ia menangkup wajah Nakula yang masih memerah dan berkeringat, lalu menciumnya dalam-dalam tanpa ragu. Lidahnya menyusup masuk, menari dengan rakus, menghisap setiap erangan kecil yang lolos dari bibir Nakula. Ciuman itu basah, berisik, dan penuh nafsu hingga Nakula kehabisan napas dan hanya bisa menggeliat lemah dalam gendongan Sadewa.
“Mmhh… Yudis…” desah Nakula saat Yudis akhirnya melepaskan pagutan mereka, seutas air liur tipis masih menghubungkan bibir keduanya.
Bima yang berdiri di samping segera menggantikan. Ciumannya lebih lembut tapi tetap dalam, lidahnya menyapu pelan di dalam mulut Nakula seolah menenangkan sekaligus menggoda. Tangan besarnya mengusap punggung Nakula yang licin, turun sampai ke bokong yang masih berdenyut-denyut. “Mas Kula manis banget pas minta begini,” bisik Bima di sela ciuman sebelum menggigit pelan bibir bawah Nakula.
Arjuna tidak mau ketinggalan. Ia mendekat dari sisi lain, menarik dagu Nakula ke arahnya dan langsung menyerbu dengan ciuman yang panas dan posesif. Giginya menggesek bibir Nakula, lidahnya menekan kuat hingga Nakula mendesah panjang. Tangan Arjuna menyelinap ke antara paha Nakula, jarinya menyentuh sekilas lubang vagina yang masih mengeluarkan sisa cairan kental dari ejakulasi Sadewa dan dirinya tadi.
“Masih netes-netes gini,” ejek Arjuna sambil tersenyum di bibir Nakula. “Memek kamu benar-benar nggak mau berhenti ya.”
Nakula hanya bisa mengangguk lemah, matanya sudah sayu lagi. Tubuhnya yang lelah masih bereaksi tajam setiap kali disentuh. “Cukup… cukup dulu,” pintanya terengah, suaranya serak habis.
Sadewa yang sejak tadi sabar menggendongnya hanya tersenyum tipis. Ia mengecup kening Nakula yang basah oleh keringat, lalu membawa tubuh ringkih itu lebih erat ke dada bidangnya. “Sekarang giliran Mas yang urus kamu.”
Dengan langkah mantap, Sadewa membawa Nakula menuju kamar mandi. Tubuh Nakula masih sesekali bergetar pelan di pelukannya, cairan putih kental masih menetes pelan dari pahanya yang licin, meninggalkan jejak tipis di lantai.
Dengan perlahan Sadewa terlebih dahulu meletakkan tubuh Nakula di dalam bath up berisi air hangat itu. Ia mempersiapkan sabun dan shampoo sebelum akhirnya ikut masuk dan duduk tepat di belakang Nakula, mendekap pria bersurai bitu itu dari belakang.
Jarang-jarang Nakula menyebutkan warna kuning saat mereka bercinta, jadi sejujurnya saat ini Sadewa merasa khawatir. Ia takut kelewat batas, takut tanpa sengaja menyakiti yang tersayang. Gerakannya menjadi hati-hati karena hal itu.
“Mas Dewa…” Panggil Nakula lirih. Sadewa meringis mendengar betapa paraunya suara sang adik tersebut.
“Iya, kenapa sayang? Ada yang sakit?” Tanya Sadewa, mengusap-usap lengan Nakula.
Nakula membalikkan tubuhnya dengan susah payah, ingin mendekap saudaranya itu secara berhadapan. Sadewa membantu Nakula untuk terduduk di atas pangkuannya.
Nakula lebih dulu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Sadewa sebelum ia menjawab, “Mas masih sayang aku, kan? Walau tubuhku udah… digilir gitu?” Tanya Nakula, suaranya pelan, seperti berusaha menyakinkan dirinya sendiri.
Sadewa membawa Nakula lebih erat ke dalam dekapannya. Ia meninggalkan kecupan-kecupan di kening, pipi, bibir, sampai ke leher dan pundak sang adik. “Tentu dong, sayang. Rasa sayang Mas nggak berubah. Justru Mas mau tanya, tatap mata Mas, sayang.” Bujuk Sadewa yang dengan cepat dituruti oleh Nakula. “Gimana perasaan kamu hari ini? Jujur aja, Mas nggak akan marah.” Tanya Sadewa.
Nakula menggigit bibirnya, lalu dengan malu-malu menjawab. “Aku… aku suka. Aku nggak bohong waktu aku meracau rasanya enak.” Nakula menghela nafas, kini ia merengut, bibirnya dimajukan sedih. “Tapi di akhir itu, aku tiba-tiba masuk subspace, aku langsung kepikiran Mas nggak sayang aku lagi. Soalnya badanku udah kotor, udah diisi sama orang lain selain Mas. Makanya aku… tiba-tiba ngerasa udah nggak disayang lagi.”
Sadewa menghentikan gerakan tangannya yangs sedari tadi mengusap punggung Nakula dengan sayang. Ada sedikit rasa nyeri mendengar pengakuan Nakula yang begitu rapuh.
“Nakula,” panggil Sadewa lembut, suaranya rendah dan dalam. Satu tangannya naik, menangkup pipi Nakula yang masih memerah, ibu jarinya mengusap lembut sudut mata yang masih basah. “Lihat Mas lagi, sayang.” Pinta Sadewa.
Nakula ragu-ragu, tapi akhirnya menatap ke atas. Matanya berkaca-kaca lagi, campuran malu dan sisa subspace yang belum sepenuhnya hilang.
Sadewa menunduk, menempelkan keningnya ke kening Nakula. “Kamu bukan kotor. Kamu nggak pernah kotor di mata Mas,” ucapnya tegas namun nada suaranya lembut. “Badan kamu yang Mas peluk sekarang ini tetap milik Mas. Yang tadi diisi orang lain? Itu juga Mas yang izinin, Mas yang suruh, dan Mas yang pengen lihat kamu hancur karena kenikmatan yang Mas kasih lewat mereka.”
Nakula menggigit bibirnya lebih kuat, air matanya jatuh pelan. “Tapi… aku rasanya… udah nggak suci lagi buat Mas.”
“Hei,” Sadewa menarik dagu Nakula pelan agar kembali menatapnya. “Kamu suci buat Mas bukan karena lubang kamu belum disentuh orang lain. Kamu suci karena kamu milik Mas. Karena kamu percaya Mas sepenuhnya sampai rela diacak-acak sama yang lain demi Mas. Itu bukan bikin Mas jijik. Justru itu bikin Mas semakin sayang.”
Sadewa mengecup bibir Nakula dengan lembut, lama, penuh kasih sayang—bukan nafsu. Lalu ia berbisik di depan bibir yang masih gemetar itu, “Subspace kamu tadi… itu normal. Kamu udah kasih segalanya. Tubuh, pikiran, bahkan harga diri kamu. Mas bangga banget sama kamu. Dan Mas nggak akan ninggalin kamu cuma karena kamu menikmati apa yang Mas kasih.”
Nakula terisak pelan, tubuhnya ambruk ke dalam pelukan Sadewa. “Aku takut… Mas bakal lihat aku beda setelah ini.”
Sadewa mengusap punggung Nakula naik turun dengan gerakan menenangkan, sesekali mengecup puncak kepalanya. “Mas tetap lihat kamu sama. Tetap adik Mas yang manja, yang suka merengek minta cium, yang nangis pas overstimulated. Cuma sekarang Mas tahu kamu juga suka ketika disentuh orang-orang yang Mas percaya.” Ia mengangkat wajah Nakula lagi, tersenyum kecil dengan tatapan hangat. “Bersih-bersih dulu, habis itu pulang ya? Mas yang bersihin tiap inci tubuh kamu. Pelan-pelan. Sampai kamu ngerasa bersih dan milik Mas lagi. Boleh?”
Nakula mengangguk lemah, wajahnya kembali bersembunyi di dada Sadewa. “Boleh… Mas peluk terus ya tapi.”
“Pasti,” jawab Sadewa sambil memeluknya kembali, kali ini lebih erat dari sebelumnya. “Mas nggak akan lepas kamu malam ini.”
