Work Text:
Angin berhembus pelan, menari lembut di antara helai rambut milik sesosok perampas jiwa. Iris birunya berkilat memandangi kastil besar di hadapan, tangan terkepal kuat.
Kakinya melangkah masuk ke dalam kastil tersebut. Ia merasa penasaran, seperti apa entitas sang pemegang tahta? Sampai-sampai isi kastil sebesar ini seperti tak memiliki penghuni. Atmosfer terasa sangat mencengkam seolah-olah dapat menusuk ke dalam tulang.
Tibalah Aamon—Soul Reaver—di depan pintu kembar yang menjulang gagah. Aamon yakin bahwa "Raja" itu ada di dalam ruangan ini.
Kedua tangan Aamon mendorong pintu tersebut. Suara berderit berdengung di seluruh penjuru kediaman.
Ssesuai seperti dugaan Aamon—Sang Raja tengah duduk di singgasananya. Begitu tenang namun menyeramkan.
"Pulanglah, Anak Muda. Kau tidak akan bisa menyingkirkanku dari tahta ini." Suara berat sedikit serak keluar dari bibir sang raja.
Kepala Aamon mengadah agar dapat melihat langsung, alisnya tertukik ke bawah.
"Alpha, Revenant of Roses?" tetap sunyi, "...dan Lord of Greed." Shards merah-biru berdatangan dari belakang Aamon, menyelimuti di sekitar tubuh empunya.
Sang Raja tak menjawab. Dia hanya berdiri, lalu melangkah turun dari bangku kekuasaan. Tapak sepatu menggema di ruangan bagai mengancam Aamon.
"Sudah banyak orang yang berusaha melengserkanku, wahai Anak Muda. Selama lima abad, akulah pemegang semua kemenangan." Alpha memutar tombaknya di tangan, bersiap jika langsung diserang.
Aamon menatap Alpha, tangan kanannya merentang ke samping. Shards itu melingkar di sekeliling lengannya. "Aku tahu bahwa kau bersatu dengan dewa itu agar dapat hidup kekal."
"Lalu? Apa yang akan kau lakukan?" Sekarang Alpha telah berdiri tegap di hadapan Aamon, masih ada jarak yang jauh di antara keduanya.
"Demi ritual, aku akan mengambil jiwamu." Tanpa ragu, Aamon berlari—melancarkan serangan.
Alpha menangkis tebasan Aamon, lalu dengan mudah mendorongnya jauh. Giliran Alpha yang balas menerjang.
Pertarungan antar keduanya begitu tegang, hingga dinding kastil retak, kaca-kaca jendela pecah berhamburan.
Aamon berancang-ancang sebelum melompat tinggi dan menendang Sang Rana. Alpha dengan mudah menahan kekuatan kaki dengan tombaknya. Lalu ia melempar Aamon begitu jauh—menubruk jendela hingga terpental ke luar, ke hamparan bunga mawar berwarna merah maroon.
Tak ada yang mengalah, tak ada yang kewalahan. Alpha tersenyum, akhirnya muncul juga seseorang yang berpotensi.
"Siapa namamu, Anak Muda?" Alpha bertanya di sela kesengitan.
"Aamon," jawabnya tenang. Lalu tubuhnya mendadak menghilang
Terdiam di tempat, Alpha memasang kuda-kuda. Matanya menyipit, manik biru itu bergulir ke segala arah.
Tiba-tiba Aamon muncul dari belakang, shards-nya sudah menyebar di sekeliling Alpha. "Jadilah pengorbananku!" Dan tubuhnya kembali menghilang.
Hal tak terduga terjadi. Sebelum shards itu mengiris kepalanya, Alpha tahu di mana sang Soul Reaver berkamuflase. Ia langsung melabrak—mengakibatkan Aamon terhimpit ke dinding kastil, Alpha menahan badan langsing itu dengan tongkat tombak miliknya.
Tidak semua kepingan shards mengenai Alpha. Lagi pula, lukanya langsung sembuh karena kekuatan regenerasi.
Tanpa memberi jeda, Alpha mencekik leher Aamon. "Inilah akibatnya." Wajahnya mendekat, netra mereka saling memincing.
Tangan Aamon naik, mencengkram lengan Alpha yang masih mencekiknya. Iris biru terang itu semakin menyarak.
Memerhatikan seksama tiap senti wajah Aamon, sang raja menyadari luka di area mata cantik tersebut.
"Oh, rupanya kau si "Ular" itu."
Napas Aamon perlahan tersendat, bahkan cengkramannya melemah.
"Jawab aku. Apa yang kau hendaki dariku?" Kuku Alpha perlahan menancap. "Atau kau mau... perjuanganmu selama ini sia-sia?" Suaranya menggeram rendah, mengancam.
Mulut Aamon terbuka, dengan susah payah mengeluarkan suara. "Jiwa...." Hanya satu kata itu saja, Alpha langsung paham. Ia melepas cengkraman.
Kakinya lunglai, Aamon otomatis berlutut. Ia terbatuk, tangannya menyentuh bekas cekikan.
"Lalu, jiwaku akan kau gunakan untuk apa?"
"Kekuatan dan persembahan," menyahut lemas—entah mengapa Aamon merasa pusing. Kewaspadaannya meningkat.
Dengan tatapan dingin, Alpha memandang ke bawah. Aamon mendongak, memandangi dengan dua manik menyala biru dipenuhi amarah. Ia berusaha berdiri, namun kehilangan keseimbangan. Tangannya di dinding, berusaha menopang diri.
Napas Aamon memberat. "Apa yang kau lakukan padaku—" tubuh Aamon pun tersungkur. Sebelum benar-benar menyentuh tanah, Alpha menangkapnya.
Tangan kiri Alpha menopang punggung Aamon dan yang lain menyangga lututnya. Dengan satu gerakan gampang, ia mengangkat tubuh itu. Kini, Aamon berbaring di dekapan Alpha, tanpa kesadaran, tanpa kewaspadaan.
Kaki Alpha melangkah gagah, membawa mainan menarik ke dalam kastil besar miliknya. Dibawa ke kamar pribadinya.
"Hah!" Tubuh Aamon langsung bangkit terduduk. Netranya mengamati sekitar, merasa asing. Tangannya meraba kasur, dahinya berkerut bingung.
Kasur king-size dengan aroma mawar di kamar. Suasananya sungguh... tak dapat diidentifikasikan.
Ingatan Aamon kembali, instingnya langsung siaga. Kemana si Raja Songong itu?
Kaki Aamon melipir ke pinggir kasur. Belum sempat berdiri, sang pemilik kastil telah menampakkan diri dari balik ambang pintu.
"Oh, sudah sadar?" Alpha mempernyatakan dengan tenang. Aamon merapal magis, hendak memanggil shards-nya. Akan tetapi, usahanya nihil—seakan ia tak memiliki kekuatan yang begitu besar sebelumnya.
Langkah Alpha menghampiri. Aamon perlahan mundur, merasa terancam.
"Magismu telah ku segel untuk sementara waktu." Tangannya jatuh di samping paha Aamon—melanggar ruang personalnya. Ia membungkukkan badan, mensejajarkan pandangan mereka yang sama-sama dingin.
"Kalau kau menginginkannya kembali..." Bibir Alpha mendekat, napas hangatnya menerpa telinga Aamon. "...bergabunglah denganku."
"Lebih baik aku mati keji di tanganmu," suara Aamon rendah, hampir menggeram. Tawa Alpha meledak, menggema di ruangan.
Tangan kanan Alpha menyentuh wajah Aamon. Kuku jempol yang panjang dan tajam meraba luka di area mata sana, meggoresnya sedikit. Tak gentir, Aamon bahkan tak mendesis sama sekali.
Tangan itu beralih, mencengkram pipi Aamon. "Ular... sang Perampas Jiwa—Aamon." Dengan dingin, Raja memanggil julukan beserta namanya.
"Tiga hari kau tidak sadarkan diri, terbaring lemah di atas kasurku," suaranya rendah dan menusuk. Alis Aamon tertukik ke bawah, ia tak suka.
"Namun, kau sungguh menarik, Aamon. Aku menginginkan segalanya darimu," ucapnya simpel. Lalu berdiri tegap, berjalan keluar dari kamar.
Aamon salah langkah, salah sasaran. Sedari awal, ia tak diberi kesempatan untuk kembali bebas. Tak akan dapat bernapas lega. Sudah tidak ada pilihan lain selain patuh ke Sang Penguasa—Revenant of Roses.
Soul Reaver sedang berdiri di balkon, melihat hamparan mawar di bawah. Ia telah mencoba berbagai cara untuk angkat kaki. Sayangnya, untuk sekedar melangkah ke luar kamar saja—ada sesuatu yang transparan menghalangi. Mencoba melompat dari jendela dan balkoni juga sama sia-sianya.
Pintu yang memisahkan kamar dan balkon terbuka. Aamon membalikkan badan, menghadap pada Alpha.
Dia bersandar di bingkai pintu, kedua tangannya menyilang. "Jadi?"
Pertanyaan konyol. Aamon mendecak, memalingkan pandangan.
"Dari awal aku tidak punya pilihan, kan?" Aamon menyahut, nadanya hampir sinis.
Alpha mendekat, langkahnya tenang namun penuh otoritas. Kini mereka hanya terpisah beberapa inci. Tangannya meraih pinggang Aamon—mengikis jarak. Aamon bertumpu di dada bidang Raja, berusaha menetapkan garis batas.
"Kau ingin kekuatanmu terbebas?" Alpha berucap pelan. Jemarinya berpindah ke punggung Aamon agar mereka semakin menempel, mengindahkan dua tangan yang menahannya.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku, hah?" Aamon mendesis dongkol.
"Segala yang ada di dirimu, Aamon." Jawaban singkat namun penuh penegasan.
Mendengus geli. Aamon memalingkan pandangan. "Omong kosong."
Alpha mendekatkan bibirnya ke telinga Aamon. "Tapi yang paling kuinginkan..." napasnya hangat menerpa kulit—membuat empunya merinding, "...adalah saat kau akhirnya menyerah padaku."
Terdiam seribu bahasa, Aamon menatap dengan penuh kebencian. Tangannya masih berusaha menjaga jarak antara mereka. Telapak tangannya tak dapat merasakan detak jantung Alpha—seakan Raja tersebut telah "mati" sejak lama.
"Jadi, apa jawabanmu, Soul Reavrt?" Alpha tersenyum, menikmati pandangan jengkel milik Soul Reaver.
Lidah Aamon berdecak. "Ya."
Puas. Alpha melepas pinggang Aamon dan berbalik badan. "Lakukan apa saja sesukamu di istana ini." Kemudian ia menjauhi Aamon.
"Oh." Langkah Alpha terhenti di daun pintu. "Jangan coba-coba melompat dari jendela atau balkon lagi." Setelahnya, bayangan Alpha pun hilang dari pandangan.
Semenjak hari itu, Alpha maupun Aamon tidak menemukan entitas satu sama lain. Entah karena kastilnya yang seluas itu, atau hanya mereka yang berusaha saling menghindar. Aamon tak protes, ia lebih suka diabaikan oleh Raja Keserakahan itu.
Kini, ia berada di perpustakaan, tenggelam dengan bacaan buku di tangan.
Tiba-tiba pintu perpustakaan terbuka, Aamon mengabaikannya. Tanpa sadar, makhluk yang telah membuka pintu tadi, sekarang berada di hadapannya. Kepala Aamon terangkat, melihat wajah Alpha.
"Apa?" tanya Aamon sinis.
Bukannya menjawab, tangan Alpha menyelip ke bawah pahanya. Ia mengangkat tubuh Aamon dengan mudah sebelum mendudukannya di atas meja terdekat. Wajah mereka kini telah sejajar.
Kepalanya jatuh bersandar pada bahu Aamon. Helaan napasnya berat dan kasar. Dua pasang tangan besar itu melingkar di pinggang Aamon, membuatnya terkejut.
"Kau ini tersambar apa?" sindir Aamon geli. Tetapi, ia tak mendorong jauh tubuh beratnya.
Yang ditanya mengabaikan pertanyaan. Malah semakin mengeratkan dekapan, membuat tubuh mereka sepenuhnya menempel.
Napasnya yang hangat menegangkan bulu kuduk Aamon. Kedua tangannya merayap naik, mendekap wujud ini semakin erat. Hingga tak lagi tersisa jarak sedikitpun di antara dada mereka. Aamon bisa merasakan setiap tonjolan otot-otot milik Revenant of Roses.
Dahulu, saat Alpha masih menjadi manusia, ia adalah pemimpin yang tak tersentuh. Takkan ada yang bisa menyaingi Alpha hingga saat ini. Yang ia takutkan saat itu hanyalah umurnya yang memendek. Namun, semenjak bersatu dengan Lord of Greed, umur Alpha kini menjadi tak terbatas. Sikapnya menjadi lebih dingin san serakah.
Lima abad bagi seorang mantan manusia adalah waktu yang cukup lama 'tuk hidup dalam kesepian. Dalam lima abad, satu-satunya badai yang berhasil menggertak hati Alpha hanyalah entitas di dekapannya ini.
Entah sudah berapa bulan terlewat semenjak pertarungan terakhir mereka. Keduanya sekarang sudah semakin dekat—tetapi tidak semanis itu untuk dianggap sebagai hubungan romantis.
Alpha tak pernah mengutarakannya, dan Aamon juga tak ingin mencari tahu.
Kegiatan mereka sederhana. Seperti berjalan beriringan di hamparan mawar, atau bahkan minum teh bersama di gazebo dekat istana. Mereka hampir selalu berada di satu ruangan yang sama; makan malam bersama, membaca buku bersama, bahkan tidur-pun berdampingan.
Tanpa kata-kata manis. Tindakan dan afeksi mereka lebih dari cukup untuk saling mengunci satu sama lain. Alpha mengklaim Aamon dalam diam, dan yang bersangkutan setuju-setuju saja.
Suatu malam, Aamon merenung di balkon. Pikirannya lapar—hendak memakan jiwa. Alpha memang tak lagi menyegel magisnya, tetapi Aamon merasa sesuatu yang... kurang.
Suara tapak sepatu terdengar, ia tahu bahwa itu adalah Alpha. Yang bersangkutan berdiri di samping Aamon, melingkarkan tangannya di pinggang ramping tersebut.
"Sesuatu mengganggumu?"
Sejenak, hening mengisi ruang sebelum Aamon menjawab, "Aku lapar akan jiwa. Aku haus kekuatan," jawaban yang transparan sekali.
Mendengus, Alpha memandangi Aamon. "Mau jiwa jenis apa yang kau hendaki? Aku akan membawakannya untukmu."
Netra biru itu memandangi Alpha, satu alis terangkat—bingung dengan penawaran tersebut. Lalu ia tergelak, menghasilkan desiran asing di diri Alpha.
"Kalau aku bilang aku ingin jiwamu..." Wajah Aamon mendekat, bibirnya beberapa inci dari telinga Alpha. Ia berbisik, "...apa yang akan kau lakukan, hm?"
Tanpa diduga, sudut bibir Raja itu naik. Ia... tersenyum. Sungguh kejadian langka.
"Kau betulan menghendaki jiwaku?" Alpha bertanya balik. Tangannya naik ke wajah Aamon, mengelus pipinya.
Soul Reaver mengangguk tanda balasan. Tiba-tiba, Alpha mengangkat tubuhnya dengan enteng.
"Akan ku tunjukkan caranya." Alpha membawanya masuk ke kamar, kemudian menghempasnya ke atas kasur.
Kini Revenant of Roses mendominasi di atas, menahan berat badannya sendiri.
Dia membungkuk, menunduk agar wajahnya dekat pada Aamon. Dengan gerakan lambat—yang memberi Aamon kesempatan untuk menolak—Alpha menutup sisa jarak, bibir mereka menyatu.
Mata Aamon membelalak, membeku di tempat. Tanpa sadar, tubuhnya merespon dengan sebuah penerimaan. Netra biru Aamon tertutup, lengannya melingkar di leher Alpha. Dirinya seakan tak ingin merelakan jiwa di depan. Ia menginginkannya.
Ketika akhirnya berpisah untuk bernapas, kening mereka bersentuhan. Mengagumi iris masing-masing—walau warnanya kembar.
"Jadi?"
Aamon menarik napas dalam. "Ya... aku akan mengambil jiwamu itu."
Tanpa basa basi, Aamon inisiasi duluan. Ia meraup bibir Alpha, penuh dengan keputusasaan dan gairah.
Tangan Alpha menyentuh tiap lekukan seksi pada tubuh Aamon. Membuat keduanya semakin terbakar.
Ketika akhirnya Alpha masuk ke dalamnya, Aamon mendesis dengan matanya terpejam. Rasa penyatuan ini sungguh candu, membuat mereka berdua tak dapat berhenti.
"Rileks, Aamon..." tangan Alpha membelai wajah cantik berpeluh itu. Menyingkirkan helaian rambut lepek yang menutupinya. "Lihat aku."
Perlahan, kelopak mata Aamon terbuka, sepasang manik biru menyala tersebut memandangi Raja di atasnya. Kaki Aamon mengunci pinggang Alpha, menariknya lebih dalam.
Gerakan mereka kini saling menuntut dan panas, dengan napas yang memburu. Aamon hampir menjerit setiap kali gerakan itu menjadi terlalu dalam. Sesekali kepalanya tengadah, bibir bawah tergigit—dan Alpha akan langsung melumat bibirnya.
Tidakkah Aamon sadari bahwa sekarang ia terlihat begitu manis dan indah? Keringat yang mengucur di pelipis, wajah memerah, bibir mendesah menyebut nama sang Raja, bahkan berkedip pelan karena merasakan kegagahan pria di atasnya. Alpha sangat menikmati pemandangan tersebut.
"Jadilah milikku sepenuhnya, Aamon!" Puncak itu mendatangi mereka. Alpha menggeram hampir melolong—nyaris seperti binatang buas. Sedangkan Aamon merintih sembari memeluknya erat, menerima semua jiwa yang telah Alpha berikan padanya.
Mereka terbaring lemas di atas seprai yang berantakan. Aamon meletakkan kepalanya di atas dada Alpha yang sedang mendekapnya erat.
Tangan Aamon meraba otot dada milik Alpha- begitu kokoh dan lebar. Alpha menangkap tangannya, lalu menautkan jemari mereka.
"Kau seperti menyukai dadaku saja."
"Kalau aku bilang iya, memang kenapa?"
Alpha mendengus. Ia mengecup rambut Aamon yang lembab akibat keringat atas aktivitas mereka.
"Tak masalah. Karena aku menyukai segala sesuatu yang ada di dirimu, Aamon," sahutnya santai. Bibir Aamon naik, ia tersenyum.
Tanpa sadar, keduanya terbawa alam mimpi. Kastil menjadi begitu hening, namun kali ini tanpa nuasa yang mencengkam.
Kala fajar akhirnya menyingsing, menerangi kamar yang berisi dua insan. Mereka masih terlelap, begitu nyaman dengan posisi mereka sekarang.
