Work Text:
Di balkon apartemen Juhoon, Seonghyeon menyalakan sebatang rokok.
Tembakau terbakar. Dihabisi kian dalam sekali duduk sampai pipi Seonghyeon tipis karena dia bolak-balik mengempiskan pipi. Asap rokok Seonghyeon pun bercampur bersama udara Jakarta yang mengepul dalam polusi dan hiruk-pikuk kepadatan.
Jakarta itu cuma untuk orang-orang yang kuat, katanya. Pulang kerja capek harus lebih capek lagi kena macet, belum lagi kalau gaji pas-pasan UMR tapi masih harus kasih makan dua tiga empat perut di kampung halaman–yo, nggak ada rasanya hasil kerja sendiri kecuali bukan karena cinta kepada keluarga kepalang sekali, maka naik KRL kejar-kejaran sama waktu dan kereta selanjutnya dan orang-orang yang sama saja lelahnya mungkin usaha paling keras yang bisa pemerintah berikan untuk mensejahterakan rakyat konon katanya walaupun bisa saja otak mereka dipergunakan untuk lebih banyak solusi efektif daripada memperpanjang rantai kemiskinan, tapi sekali lagi mungkin ini solusi cuma supaya enggak mati kelaparan merantau sendirian.
Tahu-tahu sembari berpikir lebih keras dari suara, Seonghyeon sudah habiskan dua batang rokoknya. Seonghyeon menjentikkan ujungnya supaya tidak ada sisa-sisa dan membuangnya ke tong sampah.
Tahu-tahu Juhoon sudah memasuki balkon. Dada Seonghyeon mulai terasa kebas. Ada getaran di jari kelingkingnya. Sampai Juhoon benar-benar berdiri di sampingnya, pun tidak hilang juga.
Sejak awal ini memang karena Juhoon. Tapi Seonghyeon tidak berbicara.
Juhoon sama saja. Dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana, bola mata Juhoon bergerak ke kanan dan ke kiri gelisah. Entah bagaimana ini titik yang sangat mereka hindari namun paling cepat datang. Mungkin Tuhan tidak mau menolong mereka lagi karena Juhoon tetap membisu sambil memperhatikan beberapa gedung pencakar langit dan pengendara motor yang menerobos trotoar, apapun kecuali Seonghyeon dan bau bekas rokoknya yang lebih tercium daripada asap knalpot, daripada dahaga Jakarta, daripada apapun yang sekiranya bisa Juhoon toleransi dan apa-apa yang bukan Seonghyeon.
Maka Seonghyeon yang pertama sekali membuka percakapan. "Aku bakal packing barangku malam ini." Nadanya kecil saja tapi Juhoon tahu isinya itu final maka Juhoon mengangguk selagi dia bisa, namun telapak kaki Juhoon dingin, mati rasa.
"Udah pamit juga sama orang kantor." Seonghyeon melanjutkan seolah masih banyak yang harus dibicarakan di antara mereka padahal seharusnya cukup.
Dengan kewarasan yang masih tersisa Juhoon akhirnya menatap. Tetap di tempat. Mencari-mencari ke mana agaknya mata Seonghyeon berada, tampaknya Seonghyeon masih mengerti dia karena tatapan itu sontak terjadi begitu saja.
"Jaga diri."
Mendengar itu, Seonghyeon tersenyum tipis. Terlampau tipis. Juhoon menggigit pipi bagian dalamnya. Udara entah mengapa menjadi lebih dingin.
"Kamu juga."
Meski dari mereka berdua tahu menjaga diri mungkin hal yang mustahil untuk dilakukan ketika besok menyapa.
Seonghyeon merapatkan jaketnya. Menggosok-gosok kedua tangan, menghangatkan diri–memperkuat hati. "Aku bawa baju kaos yang kamu custom itu ke Amsterdam, btw."
Juhoon tidak tampak terkejut namun matanya meneduh, ekspresinya melembut, hal lain yang Seonghyeon tangkap adalah bagaimana bisa Juhoon terlihat sangat kecil sekarang tapi mungkin membicarakan hal ini tidak begitu berarti karena mereka hanya perlu membahas hal-hal yang penting dan harus. Seonghyeon enggan terlihat bahwa seluruh jiwanya masih dibawa oleh Juhoon karena Amsterdam jauh dan Juhoon masih di sini.
"Kamu bawa aku berarti." Seonghyeon sejujurnya tidak mau mendengar ini karena Juhoon terdengar masih rapuh dan itu mengikis keberanian Seonghyeon.
Seonghyeon kembali takut.
Mungkin Juhoon juga sama takutnya.
Pipi Juhoon dielus oleh Seonghyeon sedemikianrupa. Pelan. Pelan. Pelan. Ibu jari Seonghyeon pertama sekali mendarat di pelipis lalu turun ke pangkal pipi dan berakhir diam di pipi, menetap. Seonghyeon harap sedikit banyak usapan ini terasa pulang karena, "Aku sayang kamu."
Juhoon mengangguk sekali lagi seolah banyak bahasa tubuh yang perlu dia pelajari kembali karena semuanya lenyap di hadapan Seonghyeon. Maka dia menangkup tangan Seonghyeon yang bertengger di pipinya, mengelus buku-buku jarinya. "Kamu pernah sayang aku."
Hati Seonghyeon mencelos.
Tangan Seonghyeon diremas. Juhoon masih berbicara seolah pasokan udara tidak kian menipis dan kepalanya yang dipaksa rasional walaupun kenyataannya ini semua tetap menyakitkan. "Aku juga sayang kamu. Pernah sayang kamu."
Seonghyeon mual. Seperti rasa rokoknya beberapa waktu lalu naik lagi sampai ke kerongkongan.
"Mimpi aku ke Amsterdam dan kamu nggak bawa aku." Bibir Juhoon bergetar, entah karena kedinginan atau di ambang tangis, Seonghyeon tidak bisa bedakan.
"....mimpi kita, ...kan?" Seonghyeon tidak tahu ini masih Juhoon yang bicara atau isi hatinya yang bocor dan sangat berisik namun yang pasti Juhoon sudah meneteskan air mata dan menghapusnya sebelum Seonghyeon sempat.
Oh, Juhoonku.
Seonghyeon ingin muntah di tempat rasanya. Seonghyeon mengharapkan mereka berdua berteriak. Seonghyeon mengharapkan dingin yang menjalari masing-masing temperamen seperti yang sudah-sudah. Seonghyeon mengharapkan apapun keadaan yang membuat mereka berakhir seperti ini masih berlanjut sampai akhirnya perpisahan tiba dan bukan ini. Bukan seperti ini.
Maka perpisahan tidak akan terasa terlalu menyakitkan.
Namun ini terjadi.
Jakarta tiba-tiba senyap karena air mata Juhoon yang tumpah-ruah sekarang. Seonghyeon lihat dia coba hapus berkali-kali namun mengalir lagi dan tangan Seonghyeon terasa kebas sekali beberapa saat lalu ditepis halus.
Seonghyeon menarik napasnya, lalu dia melihat Juhoon juga berusaha mengendalikan emosinya. Maka, jarak dibutuhkan dan Seonghyeon beringsut menjauh sedikit dari Juhoon.
"Kamu bisa pergi sendiri, nyusul aku kalau ada waktu, Ju. Nggak apa-apa. Nggak ada mimpi yang hancur tau?"
Seonghyeon berbohong. Mimpinya bukan Amsterdam. Mimpinya adalah membangun kebahagiaan bersama dengan Juhoon dan Juhoon suka Amsterdam. Juhoon yang paling suka Amsterdam. Juhoon yang ingin sekali ke Amsterdam. Seonghyeon cuma ingin dengan Juhoon dan hal itu tidak lagi sama sekarang dan rasanya sangat aneh.
Terkadang memilukan.
Seonghyeon tidak paham apa yang sangat keji membuat mereka begitu jauh ketika mereka pernah sangat saling mencintai.
Tapi Juhoon tahu Seonghyeon paham. Karena bagian terburuknya, mereka berdarah-darah untuk menerima fakta bahwa mereka tidak lagi bisa saling mencintai ketika itu terjadi.
Saat Juhoon kembali memungut napasnya yang stabil, dia tersenyum. "Aku harap aku bisa."
Kontak mata diputus sepihak oleh Seonghyeon, dia menyugar rambutnya ke belakang. "Flight aku jam 3."
Juhoon menunduk, tiba-tiba kakinya terlihat menarik untuk dilihat. "Aku usahakan datang."
Napas Seonghyeon memberat.
Dia melirik puntung rokoknya yang terbengkalai di tong sampah sekejap sebelum melihat Juhoon lagi. "Aku kurangin rokok, janji."
"Do what you want, Hyeon. Enggak perlu janji juga."
"And this is what I want, Ju. Komitmen aku sama kamu, untuk terakhir kali."
Juhoon mengulur hening. Dadanya tidak lebih ringan. Seonghyeon tidak membuat ini terasa mudah sama sekali. "Iya. Do it for your health, not for me."
Mungkin tepukan di bahu malam itu yang Juhoon dapatkan adalah gestur selamat tinggal terakhir dari keduanya karena Juhoon tidak datang saat penerbangan Seonghyeon.
