Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-05-17
Completed:
2026-05-24
Words:
6,793
Chapters:
2/2
Comments:
1
Kudos:
49
Bookmarks:
2
Hits:
428

(you are) the wind at my back

Summary:

Sadewa tahu amarah Nakula belum mereda dari cara ia menjawab manajer mereka.

Bukan dari volumenya. Nakula tidak pernah perlu meninggikan suara untuk terdengar tajam. Justru karena ia tetap lembut, tetap tertata, tetap terdengar seperti orang yang bisa diminta sabar oleh siapa pun yang tidak mengenalnya cukup dekat.

Sadewa mengenalnya terlalu dekat untuk dapat tertipu oleh intonasi itu.

Chapter Text

Sadewa tahu amarah Nakula belum mereda dari cara ia menjawab manajer mereka.

Bukan dari volumenya. Nakula tidak pernah perlu meninggikan suara untuk terdengar tajam. Justru karena suaranya terjaga tetap lembut, tetap tertata, tetap terdengar seperti orang yang bisa diminta sabar oleh siapa pun yang tidak mengenalnya cukup dekat.

Sadewa mengenalnya terlalu dekat untuk dapat tertipu oleh intonasi itu.

Jadwal manggung mereka datang kurang lebih sebulan sebelumnya.

Manajer mereka menyampaikan undangan itu dengan mata berbinar, cukup mendadak untuk mengganggu susunan jadwal yang sebelumnya sudah disusun baik-baik. Rupanya—Sadewa belajar—ada hal-hal yang memang bisa membongkar tatanan serapi apa pun. Kata-kata seperti popularitas meroket dan sedang jadi buah bibir ternyata cukup untuk membuat undangan dari salah satu event terbesar di Indonesia mendarat di depan pintu mereka.

Jadwal yang tadinya sudah tersusun digeser.

Rilis cover dimajukan.

Lalu, tentu saja, ada insiden itu.

Setelahnya, mereka segera memencar untuk rembuk. Jatah satu cover solo untuk masing-masing. Lagu-lagu gembira yang lahir dari livestream, pendek, ringan, tidak terlalu menuntut teknik. Beberapa segmen interaksi. Lalu duet.

Pada kata duet, sebagaimana disarankan manajer mereka, Sadewa menahan senyum dan melirik Nakula.

Nakula sedang berbaring terbalik di tempat tidur Sadewa. Kepalanya berada di bagian kaki ranjang, dekat Sadewa, dekat juga dengan mikrofon laptop yang masih menyala untuk panggilan Discord bersama seluruh tim. Ia terlalu malas menerima panggilan itu dari ponselnya sendiri, apalagi untuk bangkit dan mengambil laptop dari kamarnya.

Tidak apa-apa.

Sadewa yang tergusur ke karpet kamar memilih duduk lesehan, bersandar pada rangka ranjang, sementara Nakula melingkar malas di atas bedcovernya yang baru diganti.

“...Aku ada beberapa usulan lagu untuk duet kalian, karena tekstur suara kalian ini cukup challenging, ya, di dua register yang berbeda…”

“ ‘Nggak usah,” potong Nakula.

Sadewa meliriknya.

Nakula masih menatap langit-langit, kakinya disilangkan, salah satunya diayun-ayunkan dengan bosan. “Aku dan Sadewa punya stok lagu duet.”

“Oh? Lagu apa?”

“Lagu jadul, pokoknya.”

Manajer mereka terdiam sejenak. Dari jeda itu saja, Sadewa bisa merasakannya sedang meraba-raba mood Nakula dari seberang sambungan. Bukan hanya karena Nakula sedang menumpang saluran milik Sadewa, tetapi juga karena sikapnya yang tidak sekooperatif biasanya.

Yang pertama sebetulnya sudah sering terjadi. Arjuna kadang muncul lewat saluran Yudhis. Bima bisa saja mendadak menyahut dari Discord Arjuna, atau bahkan ikut nimbrung dari sambungan manajer mereka. Mereka terbiasa saling mengunjungi, berpindah kamar, berpindah perangkat, berpindah suara.

Hampir tidak ada dari mereka yang pernah mengunjungi rumah Sadewa.

Lebih tepatnya, Sadewa belum pernah membuka pintu apartemen tempat ia tinggal bersama Nakula sebagai bagi orang lain. Nakula pun juga belum pernah menawarkannya sendiri. 

Sadewa sudah cukup mengenal tabiat Nakula untuk tidak menawar pernyataan pendek-pendek seperti itu tanpa consent. Terlebih setelah insiden tersebut.

“...Oke, oke. Nanti ditulis aja, ya, di grup. Kalau perlu transpose atau mixing khusus, bisa langsung hubungi aku atau Juna. Tapi harus segera, biar bisa disiapkan.”

Nakula merentangkan tangan ke atas, menciptakan gerhana kecil bagi wajahnya pada lampu langit-langit kamar yang belum dimatikan. Ia tidak berkata apa-apa lagi.

Sadewa menatapnya sekali lagi sebelum mendekatkan mulut ke mikrofon laptop.

“Oke. Nanti aku langsung ketik di grup. Thanks, ya. Aman, kok. Kami sudah sering nyanyi lagu ini. Tinggal latihan beberapa kali buat refresh. Sehari juga bisa.”

Ia sengaja menyelipkan sedikit kehangatan dalam suaranya. Sedikit kompensasi untuk nada Nakula yang terlalu dingin.

Yang lain, seperti biasa, membaca mood Nakula seperti ramalan cuaca dan melanjutkan diskusi tanpa memaksanya masuk. Sadewa menjawab sebisanya. Ia tidak mewakili Nakula kecuali terpaksa. Setelah semua hal teknis selesai, ia mengucapkan selamat tinggal. Tepat sebelum panggilan ditutup, Nakula ikut mengucapkan pamit dengan satu kalimat pendek, lalu Sadewa menekan tombol mengakhiri panggilan.

Ia mengetikkan judul lagu yang sudah ia tahu ke dalam chat Discord manajer mereka. Ia juga mengirimkan sampel iringan yang tersimpan di salah satu folder paling tua di laptopnya, folder yang sejak lama juga telah ikut dicadangkan di cloud. Selama ia melakukan semua itu, Nakula tidak mengatakan apa-apa.

Tidak juga bersenandung, seperti yang biasanya ia lakukan diiringi suara lembut keyboard macbook Sadewa ketika mood-nya sedang baik.

Baru setelah laptop itu dimasukkan ke mode sleep dan diletakkan di nakas dekat kepala ranjang, Sadewa mengalihkan seluruh perhatiannya kembali kepada Nakula.

“■■■■■■,” tegurnya lembut.

Selalu lembut. Sadewa tahu, Nakula akan terpancing kalau nama aslinya dipanggil dengan sedikit saja nada tajam.

“Manajer tadi berusaha bantu kita, lho. Kenapa masih jutek begitu? ‘Kan enggak enak didengar.”

Garis mulut Nakula masih turun di kedua sudutnya. Masih tidak senang. Apa pun yang berhubungan dengan enforced hiatus mendadak selama seminggu terakhir, yang entah bagaimana tetap tidak berhasil mengurangi intensitas Nakula menelusuri X lewat akun pribadi, masih berbekas di wajahnya.

Beberapa malam terakhir, ketika Sadewa terbangun pukul dua atau tiga pagi dan menemukan Nakula masih menatap layar di sebelahnya, Sadewa sudah beberapa kali merebut ponsel itu dari tangannya. Nakula tentu protes. Sadewa tetap menggunakan hak veto-nya sebagai pacar untuk menyita perangkat tersebut, lalu memeluk Nakula lebih erat sampai ia tidak punya pilihan selain diam dan kembali tidur.

Pertengkaran-pertengkaran kecil.

Harganya tetap sepadan, meskipun kantung mata kekasihnya makin gelap dan hadir, hingga hari ini.

“Dia ‘kan sebenarnya sudah tahu kita mau nyanyi lagu apa,” tukas Nakula, defensif.

Sadewa menahan diri untuk tidak menghela napas. “Dia mungkin miss. Atau lupa. Lagipula, nggak ada salahnya dia mengompilasi daftar usulan. Dia pasti riset range suara kita dulu, terus dicarikan lagu yang cocok. Itu nggak sejam-dua jam ngerjainnya.”

As if banyak lagu yang cocok dengan range suara kita.” Nakula mendengus, lalu bergeser memunggungi Sadewa yang masih duduk di karpet. Ia menatap dinding. “Nggak usah latihan. Nanti langsung nyanyi hari-H aja.”

“■■■■■■.”

Masih lembut. Masih persisten. Sadewa tahu betul bahwa di bawah sikap defensif itu, nama aslinya dalam register suara Sadewa selalu punya cara untuk menggerus pertahanan Nakula, sedikit demi sedikit.

“Jangan begitu. Kita ini sudah diundang. Itu privilese. Kita harus kasih yang terbaik.”

“Kita sudah nyanyi lagu itu lebih dari satu dekade.” Nakula meraih ponselnya dan membuka layar dengan gerakan kesal. “They deserve less, not better.”

Aplikasi X lagi.

Sadewa berkedip beberapa kali sebelum mengangkat tubuhnya ke pinggir ranjang. Satu tangannya bertumpu pada bedcover, tepat di belakang kepala Nakula. Tubuhnya menciptakan bayangan di atas kekasihnya.

“Kamu masih marah sama mereka?”

Nakula mencibir.

“Kita sudah beberapa kali bahas ini. Apa lagi yang mau dibahas?”

Tangan Sadewa yang lain bertumpu di dekat ponsel yang masih terus digulirkan Nakula. Ia tidak mengambilnya.

Belum.

“Kalau begitu,” katanya, “kamu yakin mau bawain lagu ini?”

Pertanyaan itu akhirnya membuat Nakula mengalihkan pandangan dari layar. Matanya tajam.

“Kenapa memangnya?”

“Kamu sendiri yang bilang. Lagu ini sudah sering kita bawakan dari sepuluh tahun lalu. Ennichisai. GJUI. Lomba karaoke. Ada kenangannya.” Sadewa menjaga suaranya tetap datar, tetap lembut. “Kamu yakin mau ngasih lagu ini ke orang-orang yang masih belum kamu maafin?”

Nakula memincingkan mata. Bahkan di bawah bayangan Sadewa, matanya tetap terang. Bersinar oleh amarah.

“Kenapa? Terlalu personal? Kamu maunya lagu yang nggak personal?”

Untungnya, Sadewa tidak terpancing.

“Personal nggak apa-apa. Dinyanyikan untuk mereka juga nggak apa-apa.”

Sebelum Nakula bisa membantah lagi, Sadewa mengambil tangan kosongnya yang terkulai di kasur. Telapak tangan Nakula dingin, seperti biasa. Sadewa menempelkannya ke bibirnya sendiri, dekat pergelangan, di dekat arteri tempat detak jantungnya beriringan berdegup, intim.

“Tapi aku nggak mau dengar kamu nyanyi dalam keadaan marah.”

Nakula membiarkannya sesaat. Membiarkan Sadewa mencium pergelangan tangannya, mungkin mengendus sisa parfum, sabun, atau aroma apa pun yang masih tertinggal setelah seharian bekerja.

Lalu ia menarik tangannya.

Sadewa membiarkannya.

“Aku udah pernah nyanyi dalam mood yang lebih jelek,” katanya. Ia kembali menghadap dinding, tetapi tidak membuka layar ponselnya lagi.

Bagus.

“Aku yakin kamu bisa,” jawab Sadewa. “Tapi karena lagu ini punya kita, mungkin rasanya akan sedikit terasa personal, besok.”

Nakula meliriknya kesal.

Bagus.  Kesal berarti Sadewa mengatakan sesuatu yang belum bisa ia bantah.

Nakula terdiam lama, menatap dinding. Sadewa membiarkannya. Ia juga tidak mengalihkan perhatian ke layar lain. Tidak ketika Nakula sedang tidur-tiduran di ranjangnya seperti ini, yang sering kali berarti ia sedang meminta comfort tanpa benar-benar mau meminta.

“Fine,” kata Nakula akhirnya. “Kita latihan besok setelah aku pulang ngantor. Jangan malam ini. Aku capek.”

Ada sedikit tuduhan pada konsonan terakhirnya.

Sadewa menggumam, mengiyakan. Setelah mengamati Nakula yang masih merajuk, ia bangkit dari tepi ranjang. Mata Nakula langsung mengikutinya dengan tajam, sedikit tidak terima ketika Sadewa menjauh.

Sadewa hanya berdiri, lalu mengulurkan tangan untuk mendorong pinggul Nakula pelan agar ia bergeser.

Ayo. Kepalanya di bantal. Putar badan dulu, biar aku bisa buka bedcover-nya.”

Nakula tampak tersinggung. “Aku nggak mau tidur di sini. Enak aja.”

“Terus mau tidur di mana? Kamarmu yang kayak kapal pecah itu?”

Nakula mengerucutkan bibir, mendumel, tetapi tetap menurut. Ia sudah mandi dan sudah mengenakan pakaian rumah. Sadewa mematikan lampu utama dan menyisakan lampu kuning kecil di atas nakas. Ia sempat mempertimbangkan untuk mengecek kunci pintu apartemen, lalu mengurungkan niat karena yakin sistem otomatisnya sudah bekerja.

Ia naik ke tempat tidur setelah menyibak bedcover. Nakula beringsut masuk ke bawah selimut, di tengah remang kamar.

Sadewa menghadap dinding.

Nakula juga.

Punggung Nakula yang sedikit lebih kecil terdorong ke dada Sadewa, menemukan tempatnya dengan leluasa. Lengan Sadewa otomatis melingkar di pinggangnya, sementara tangan yang lain menarik selimut sampai menutup tubuh mereka.

Tanpa melepaskan pelukan, Sadewa meraih remote AC dari nakas, mengecek suhunya, lalu meletakkannya kembali.

Sesaat ia berpikir harus menegur Nakula soal doomscrolling sebelum tidur. Namun kekasihnya masih diam seribu bahasa, menatap dinding, dan membiarkan dirinya dipeluk.

Sadewa memilih teknik yang lebih ia percayai daripada dorongan verbal. Ia bergerak mendekat, membentuk tubuhnya menjadi dinding protektif di belakang Nakula; sesuatu yang bisa disandari, dikelilingi, dihangatkan.

Bibir Sadewa mendarat refleks di pelipis dan rambut Nakula. Ia mencium lembut, lalu menempelkan bibir ke daun telinganya yang dingin.

“Mas,” kata Nakula, sedikit memberi peringatan. Telinganya menghangat. Sensitif.

Tapi peringatannya lemah. Sadewa merasakan kakinya bergerak, bukan karena tidak nyaman, hanya sedikit geli. Ia bisa menendangnya kalau Sadewa tidak berhenti.

“Tidur.” kata Sadewa, seperti mantra. “Jangan mikir macam-macam. Kalau masih kepikiran, besok kita bahas lagi berdua. Semua uneg-uneg kamu. Di mobil. Mas antar ke Kuningan. Tapi sekarang sudah tengah malam, besok kamu ada meeting, jadi kamu tidur.”

Nakula terdiam. Lalu menghela napas berat.

Terlalu lelah untuk merangkai kata-kata, ia memejamkan mata pada gelap dan membiarkan hangat tubuh Sadewa menyelimutinya.

____

Livestream sore itu ditemani langit mendung dan menjanjikan hujan badai.

Di lantai tiga puluh apartemen mereka, sinyal kadang-kadang punya kehendaknya sendiri. Namun Sadewa sudah memasang internet supercepat sejak mereka debut. Jauh sebelumnya, sebetulnya, karena video call pada jam-jam tidak masuk akal tidak pernah membuat pengalaman customer service menyenangkan kalau ada gangguan.

Tetap saja, cuaca adalah faktor di luar kendali. 

Ia dan Nakula sudah bersiap di battle station masing-masing.

Apartemen itu sebetulnya dirancang untuk memberi mereka cukup ruang. Dua kamar, dua station, dua pintu yang bisa ditutup kalau salah satu dari mereka perlu merekam, mixing, atau sekadar menyendiri. Ada satu ruang kerja bersama, tetapi PC station mereka tidak dibangun di sana. Ruangan itu hanya berisi dua meja untuk membuka laptop, menyimpan berkas, memajang koleksi, juga sebuah sofa yang lebih sering berfungsi sebagai tempat transit barang daripada tempat duduk.

Kamar Sadewa cenderung cozy, elegan, sedikit rustic, dan bersih karena pengalaman semi-militernya di dapur membuatnya punya refleks membereskan benda sebelum benda-benda berceceran menjadi masalah. Kamar Nakula, sebaliknya, membawa karakter artistiknya: keteraturan adalah sebuah opsi, bukan kewajiban.

Masing-masing dari mereka selalu punya ruang personal. Privasi untuk sesi rekaman. Privasi untuk mixing. Privasi untuk menjadi diri sendiri tanpa perlu disaksikan terus-menerus.

Hari itu, Sadewa membenci desainnya sedikit.

Nakula hanya berjarak satu dinding, tetapi satu dinding tetap saja terlalu jauh ketika mood-nya masih segelap langit di luar jendela.

Meski begitu, tempat tidur queen size Sadewa sudah secara de facto menjadi retreat mereka hampir setiap malam, kecuali ketika Nakula sedang ingin tidur sendiri.

Kadang, ketika Sadewa streaming atau bekerja di PC, Nakula akan berbaring di ranjangnya. Kadang mengganggu. Kadang diam saja. Sadewa membiarkannya. Kadang Nakula menonton drama di televisi. Kadang anime lama. Kalau Sadewa sedang on call, Nakula akan memakai TWS yang tersambung ke televisi dan memastikan dirinya tetap berada di luar jangkauan webcam.

Ia terbiasa menjadi kehadiran konstan di latar belakang Sadewa sembari bekerja.

Kalau Sadewa pindah ke dapur, Nakula biasanya menonton di ruang utama sambil menunggu makanan dihidangkan di kitchen island yang berfungsi sekaligus sebagai partisi dapur dan ruang keluarga.

Kadang, ketika mereka livestream bersamaan, Sadewa bisa mendengar gema samar suara Nakula dari kamar sebelah, satu milisekon lebih cepat daripada suara yang sampai ke in-ear monitor-nya.

Akrab.

Familiar.

Membuat dadanya bergetar sedikit.

Suasana mendung sore itu membuat Sadewa sempat berandai-andai apakah sebaiknya mereka memindahkan working station ke satu kamar saja, bukan terpisah begini. Setidaknya ia bisa berada di dekat Nakula. Setidaknya ia bisa meraih tangannya, menggenggamnya, lalu mencium keningnya tanpa kata, sekadar membuat manyunnya mundur sedikit kalau ia sedang tidak senang.

Sadewa sudah melakukan itu tadi, sesaat sebelum briefing terakhir sebelum onstage. Ia juga memastikan bahwa ya, Nakula punya stok air putih di meja, bukan kopi, serta beberapa biskuit.

Baru setelah itu ia kembali ke streaming set-nya dan duduk, membiarkan partisi apartemen memisahkan mereka.

Manajer mereka dan beberapa staf tambahan yang sudah berjuang satu setengah hari di ICE untuk urusan booth dan crowd control terus mengirim update. Booth mereka ramai sekali. Mereka pun bisa melihat sendiri di X; ribuan unggahan muncul dan tenggelam setiap menit. Haul. Foto. Tag. Cosplayer. Merch.

Kemarin, di H-1, Sadewa sudah sempat menawarkan dengan hati-hati kalau-kalau Nakula berubah pikiran dan ingin datang ke convention pada hari pertama sebelum tampil.

“Kalau macet dan pulangnya kemalaman, nanti kita bisa pesan kamar di Santika. Atau di mana, ‘gitu,” tawarnya. Hati-hati. Strategis. “Bisa juga datang agak siang biar antreannya sudah nggak terlalu parah.”

Nakula menatapnya sekilas.

Sadewa tahu, ia hampir berkomentar. Mungkin hendak merespons godaan terselubung dari tawaran check-in yang kadang menjadi private joke mereka.

Namun Nakula kemudian mengatupkan mulut rapat-rapat.

“Nggak mau.” jawabnya. “Aku capek.”

Sadewa mengangguk dan tidak menekan lagi. Ia hanya mendorong piring berisi tambahan french toast bertabur potongan stroberi ke tengah meja sarapan.

“Mau Supergrain buat makan siang nanti, atau aku masak? GoFood? Mau keluar atau nanti aku mampir?”

“...GoFood aja.”

Nakula tampak kesulitan konsisten dengan argumen awalnya sendiri. Sadewa mengerti, sedikit banyak, bahwa hari-hari kerja yang berat ditambah drama online memang menguras tenaganya. Nakula membutuhkan setidaknya tiga puluh persen energi emosional agar bisa tetap bernyanyi.

Itu kemarin.

Hari ini, energinya masih berkisar di ambang tiga puluh lima persen, dirundung cuaca, sekalipun koneksi internet mereka stabil.

Sadewa tidak memberi briefing apa pun kepada kekasihnya karena ia sudah bisa menebak: Nakula tidak akan bicara banyak dalam penampilan kali ini, walaupun ini panggung besar pertama mereka. Tawa dan celotehannya tidak keluar. Begitu pula lafal refleks dari pelatihan vokal dan pengalaman membawakan acara yang biasanya bocor setiap kali ia mulai merasa nyaman.

Manajer mereka sudah menyiapkan skrip yang padat dan profesional, sampai ke hitungan menit. Mereka sempat berdebat soal lip-sync atau live. Nakula, mengejutkan semua orang kecuali Sadewa, bersikeras bahwa ia akan bernyanyi live. Ia berargumen bahwa kecepatan internet tidak akan menjadi penghalang untuknya dan Sadewa.

Sadewa memperhatikan linimasa X satu jam sebelum acara, lalu menutup layar ponselnya. Ia membuka semua aplikasi yang diperlukan. Discord standby di layar kedua. Mixer siap. Monitor panggung hidup.

Nakula profesional. Ia menjawab padat, ringkas, seperlunya, melalui saluran dan group chat, ketika mereka semua masuk posisi.

Lalu mereka live.

Dari channel feedback yang disediakan, terdengar teriakan membahana begitu model mereka muncul di layar venue.

Mereka semua mengikuti skrip. Apa yang boleh dikatakan. Apa yang sengaja tidak disebutkan. Juna, Yudhis, dan Bima berimprovisasi di beberapa bagian. Sadewa mencoba masuk sekali dua kali.

Nakula diam seribu bahasa.

Ketika tiba gilirannya dan besar teriakan fans bergerilya dari venue, Nakula memulai tanpa jeda sepersekian detik pun. Lagu solonya langsung menjadi gong pembuka untuk suara yang selama seminggu terakhir hanya ditunggu-tunggu orang.

Setiap kali Nakula bernyanyi, selalu ada tabir baru dalam diri Sadewa yang tersingkap.

Ada getir yang familiar dalam setiap cengkok suara Nakula; ketika ia melengking, turun, lalu menjadi syahdu dengan kepedihan yang tertahan. Suaranya mengaduk-aduk perasaan. Membuat siapa pun yang mendengar—kecuali mungkin fans mereka yang hadir langsung dan terlalu sibuk menjerit sekuat tenaga—tidak bisa mengalihkan perhatian.

Vibrato itu membuat Sadewa, yang sudah ribuan kali mendengarnya saat mereka berlatih tengah malam di ruangan-ruangan yang bukan apartemen ini, memejamkan mata.

Flawless.

Indah—begitu indahnya, sampai menyakitkan.

Penampilan Nakula selesai sepersekian detik lebih cepat dari balik dinding kamar sebelah daripada dari headphone Sadewa.

Ketika tiba gilirannya bernyanyi, Sadewa menekan konsonan dengan sengaja, mengaksentuasi perasaan yang baru saja ditarik naik ke permukaan oleh suara Nakula. Ia memilih register yang lebih dalam, geraman yang terkontrol, vibrato yang tidak terlalu manis.

Di luar, hujan mulai turun deras, berderu di kaca jendela bersama awan abu-abu yang menggulung.

Bagus.

Mood-nya sendiri sebetulnya juga tidak terlalu baik.

Ia menyelesaikan lagunya dengan rapi.

Lalu tibalah bagian duet mereka.

Dari layar, Sadewa menatap model VTuber Nakula. Ada sedikit kemiripan di sana-sini: senyumnya yang miring, sorot matanya yang tajam, liveliness yang tampak seperti percikan api. Namun perangkap dimensi itu tetap tidak bisa menangkap bagaimana bentuk rengutan di bibir Nakula sesaat sebelum ia cium; kerut di dahinya yang selalu mengundang Sadewa untuk dihaluskan juga dengan cium; perasaan kala membelai rambutnya yang gelap dan halus, yang masih sedikit lembap setelah keramas.

Tetap saja, semua itu bagian dari dia.

Masih dirinya. 

Sadewa menekan tombol mulai setelah mendengar aba-aba dari Nakula bahwa ia sudah siap.

Bukan di channel Discord. Di jalur pribadi mereka.

Sadewa membuka dengan rap yang tajam dan pasti. Napasnya panjang. Nakula masuk pada beberapa aksentuasi frasa, seperti bayangan yang sudah hafal tempatnya sendiri.

Lalu lagu itu benar-benar terbuka, dibawa suara Nakula yang terdengar seperti kepakan sayap; seperti langit badai yang akhirnya mulai reda, sekalipun anginnya masih menghantam rangka apartemen mereka dari luar.

Guntur yang menggelegar di luar membaur dengan bass.

Sadewa mengisi suara dua untuk melapisinya.

Seperti lagu lama.

Dansa lama.

Panggung yang lain, yang panas, ketika mereka berdua masih malu bertatap-tatapan di atas panggung dan masih berjuang dengan suara masing-masing. Sadewa yang belum sekolah kuliner, baru mulai serius masuk ke rap. Nakula dengan training choir-boy-nya yang indah dan mimpi-mimpi yang tersimpan rapat di balik rusuk, belum ia utarakan kepada siapapun. Sadewa, sekalipun. 

Masih dengan nama yang lama.

Di bawah nama yang baru, mereka menciptakan kembali sihir yang sudah ada sejak lama.

Lagu itu selalu punya cara sendiri untuk membuka pintu yang sudah lama mereka pura-pura tidak lihat.

Begitu intro masuk, Sadewa bukan lagi Sadewa sepenuhnya. Nakula juga bukan hanya Nakula. Nama-nama baru itu tetap melekat di layar, bergerak manis mengikuti rigging dan ekspresi model, tetapi di bawahnya ada dua anak yang pernah berdiri di panggung kecil dengan mikrofon pinjaman, lampu terlalu panas, suara monitor buruk, dan keyakinan yang belum punya tempat untuk bersama.

Dulu, mereka belum tahu akan jadi apa.

Dulu, Nakula belum berani mengatakan bahwa ia ingin hidup dengan suaranya.

Dulu, Sadewa belum tahu bahwa tugasnya, bertahun-tahun kemudian, masih akan sama: masuk tepat waktu, menahan tempo, menyediakan pijakan agar Nakula bisa terbang tanpa takut jatuh.

Pada bait kedua, Sadewa menerabas dengan steady.

Steady.

Persis seperti yang disukai Nakula.

Tidak terburu-buru. Memberikan batu titian agar Nakula bisa melompat dan membuka sayapnya lagi.

Sayup-sayup teriakan.

Sayup-sayup guntur.

Sayup-sayup deru hujan yang deras.

Tangan Sadewa bergerak di atas mouse, jari-jarinya menegang oleh keinginan untuk menggenggam tangan yang sejak satu dekade lalu terbiasa ia raih tiap kali mereka menyanyikan lagu ini.

Nakula take off dengan sempurna.

Ia terdengar lebih baik setiap kali bernyanyi. Itu salah satu alasan Sadewa tahu ia akan selalu lebih dulu jatuh cinta, lebih dalam daripada kemarin, lebih helpless daripada hari sebelumnya.

Menjelang refrain, dahi Sadewa berkerut oleh konsentrasi. Ia menjaga tempo agar tetap sinkron dengan Nakula, sekalipun samar-samar ia mendengar suara asli kekasihnya dari kamar sebelah, mendahului sedikit suara yang masuk ke telinganya dari monitor.

Penonton gegap gempita.

Sadewa memejamkan mata, karena pada baris terakhir bagian itu, ia merasakan cengkok dan getaran suara Nakula sedikit goyah. Bukan karena teknik. Bukan karena kurang latihan. Melainkan karena perasaan yang mendadak naik terlalu dekat ke permukaan.

Tetap indah.

Selalu indah.

Mereka menghabiskan lagu itu sampai akhir.

Pada jeda berikutnya, Sadewa melepas satu sisi headphone agar bisa mendengar dunia di luar komputer dan monitor panggung. Ia meneguk air putih yang sudah disiapkan. Break. Chatter. Pergantian segmen.

Tanpa sepenuhnya melepas headphone, ia berdiri, bergerak cepat mengitari pintu, lalu berhenti di ambang kamar Nakula yang setengah terbuka.

Penerangan kamar Nakula jauh lebih redup daripada kamar Sadewa. Beberapa barang masih berserakan di separuh permadani. Nakula meliriknya dan mengangkat satu alis, walau ekspresinya tetap dijaga hati-hati.

Sadewa menggerakkan bibir tanpa suara.

“Aman?”

Nakula mendengus kecil dan kembali menatap layar. “Memangnya pernah lebih buruk dari ini?”

Sadewa mengangguk, menerima jawaban itu, lalu segera kembali ke kursinya.

Tidak ada salahnya mengecek.

Kalau Nakula belum mau bicara, Sadewa akan mengurusnya nanti.

Setlist berikutnya berisi lagu-lagu konyol mereka. Commentary. Skrip yang sudah disediakan ditambah improvisasi Juna dan Yudhis. Sadewa dan Bima sesekali menimpali. Nakula memberi jawaban sepotong-sepotong untuk basa-basi.

Hujan di luar, yang tadi badai, kini berubah menjadi hujan lurus yang membentuk genangan di kaca. Langit masih gelap. Guntur masih sesekali terdengar. Tetapi setidaknya badai mulai reda.

Sadewa melirik jendela sebentar sebelum kembali pada greeting penutup mereka.

Dari monitor yang volumenya sudah ia kecilkan, suara teriakan dan jeritan dari venue masih menembus layar. Senyum kecil terlengkung di wajah Sadewa.

Livestream off.

Grup Discord mereka langsung berdenting-denting oleh ucapan selamat dan otsu yang gegap gempita dalam bentuk piksel. Penampilan perdana mereka di panggung sebesar itu selesai. Wrapped up. Berhasil.

Sadewa baru mengetik satu kata ketika dari sudut matanya ia melihat Nakula berdiri di ambang pintu.

“Hmm?” Ia menoleh, melepas headphone, lalu mengangkat tangan dari keyboard.

Ia membuka lengannya.

Nakula menghampirinya tanpa mengatakan apa-apa dan mendudukkan diri di pangkuan Sadewa.

Untuk waktu yang cukup lama, ia tetap diam.

Sadewa memeluknya. Satu tangannya mengusap rambut Nakula perlahan. Sesekali matanya melirik layar, melihat chatroom mereka yang masih melaju kencang, live update dari venue, dan feed lain yang masih menyala di monitor kedua.

Lalu samar-samar, ia merasakan titik-titik basah di bahunya, meresap ke kaus yang ia pakai.

Sadewa tidak mengomentarinya. Ia hanya memeluk Nakula lebih erat.

Ia tahu Nakula tidak suka fussing. Tidak suka dikasihani. Maka Sadewa menjaga wajahnya tetap netral sampai Nakula selesai, sampai beberapa menit kemudian ia mengangkat kepala lagi dengan mata yang sudah kembali kering.

“Sudah?” tanya Sadewa pelan. “Gimana perasaanmu sekarang?”

“Aku masih kesal,” kata Nakula. Ia menyeka matanya dengan marah. Satu tangannya meremas kaus Sadewa, dan Sadewa membiarkannya. “Tapi tadi aku senang. Terus kesal lagi. Apalagi pas mereka bilang kita harus tweet sesuatu habis ini.”

Sadewa mengangkat tangan untuk menyeka sisa basah di pipinya, lalu menyisipkan helai rambut Nakula ke belakang telinga.

Lembut, lembut sekali.

Setelah itu ia menangkup wajahnya.

“Mereka maksudnya baik. Cuma formalitas.”

“Aku nggak mau.” Nada Nakula masih pahit. Marah.

“Kalau begitu jangan.” Sadewa mengusap pipinya dengan ibu jari. “Biar aku saja nanti. Kalau kamu mau diwakilkan, bilang. Kalau nggak, ya sudah. ‘Nggak apa-apa.”

Nakula masih tersengal kecil. Residu emosi masih tersisa, karena lagu itu memang selalu mengaduk dan membangkitkan sesuatu dalam diri mereka berdua.

“Nggak mau.”

“Oke, sayang. Aku manut.”

Ucapannya sedikit terbata karena itu bukan dialek aslinya. Mungkin justru itulah yang membuat Nakula tertawa kecil, bahkan di tengah napasnya yang belum sepenuhnya teratur.

Tweet nanti,” putus Nakula, seperti ultimatum.

Ia menarik Sadewa agar berdiri. Sadewa menurut, lalu mereka berdua berjalan terseok ke arah ranjang.

“Jangan buka Discord,” gumam Nakula ke bahu Sadewa ketika mereka akhirnya mendarat lagi di atas bedcover.

“Mmm.” Sadewa mengiyakan.

Tangannya menyisir rambut Nakula ke belakang, lalu menempelkan ciuman di hairline yang ia tahu selalu menenangkannya.

Tidak biru.

Tidak datar.

Bukan sekadar imaji. Nyata.

Ada di dalam pelukannya. Bernapas. Menangis setelah bernyanyi semerdu itu untuk ribuan orang.

Sadewa merasa sangat beruntung bisa menjadi saksi pribadi untuk semuanya.

Lagi-lagi ia terperosok lebih dalam.

Atau mungkin kali ini bentuknya adalah devosi.

Nakula tertidur sebelum grup berhenti berdenting.

Satu tangannya masih mencengkeram bagian depan kaus Sadewa, seolah-olah dunia bisa menerobos masuk kalau ia melepaskannya sedikit saja. Sadewa menatap layar yang terus berkedip. Ucapan selamat. Otsu. Instruksi untuk tweet. Potongan video pertama yang sudah mulai beredar. Nama mereka naik, turun, naik lagi di linimasa.

Ia baru ingat bahwa Nakula belum minum setelah bernyanyi.

Botol airnya ada di meja, hanya beberapa langkah dari ranjang.

Dekat sekali.

Terlalu jauh.

Sadewa tidak bergerak.

Di luar, hujan tinggal garis-garis tipis di kaca. Badai sudah lewat, tetapi udara masih berat, seperti sesuatu yang belum selesai benar. Nakula bernapas pelan di dadanya, nyata, hangat, bukan lagi sekadar model di layar besar untuk diteriaki ribuan orang.

Satu jam, pikir Sadewa.

Satu jam saja, ia tidak akan membagi Nakula dengan siapa pun.

Setelah itu mereka boleh kembali menjadi profesional. Setelah itu ia boleh buka Discord, mengetik terima kasih, menulis tweet yang cukup manis untuk dibaca orang banyak dan cukup kosong untuk tidak menyentuh luka Nakula.

Tapi sekarang, dunia berhenti di ambang pintu kamar.

Dan Sadewa tetap di sana, dengan badai di belakang punggungnya dan Nakula aman dalam pelukannya.