Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-05-18
Words:
2,795
Chapters:
1/1
Comments:
6
Kudos:
375
Bookmarks:
28
Hits:
11,603

Memek_Gatel_Dikobelin_Dokter.3gp

Summary:

Sudah dua hari lebih memek Anton terasa gatal, akhirnya ia memutuskan untuk ke dokter dengan niat agar diobati. Eh, diobatinnya malah disumpel pake kontol.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:


Sudah hampir dua hari terakhir, area intim Anton terasa gatal dan cukup mengganggu aktivitas hariannya. Sensasi tidak nyaman itu muncul terus-menerus yang membuatnya sulit berkonsentrasi bahkan pada hal-hal kecil. Padahal, Anton termasuk orang yang cukup teliti menjaga kebersihan dirinya, termasuk dalam urusan kebersihan area kelaminnya. Karena itu, rasa gatal yang muncul kali ini cukup mengganggu dirinya.

Sepulang dari kampus, Anton langsung bergegas menuju kamar kostnya dan mulai mencari informasi tentang gejala yang ia alami. Barangkali itu hanya masalah ringan yang bisa segera diatasi sendiri tanpa perlu repot pergi ke dokter. Namun, alih-alih merasa tenang, deretan artikel yang muncul justru membuat perasaannya semakin tidak karuan. Semakin ia membaca, semakin banyak kemungkinan penyakit yang terdengar serius dan membuatnya parno, seperti:

Gatal pada vagina? Hati-hati, itu adalah salah satu gejala dari Kanker Vulva. Kenali penyakitnya!

10 penyakit pada vagina yang berakibatkan kanker, gatal bisa jadi salah satunya!

Hah.

Masa iya sih dia punya penyakit begitu di usianya? Walaupun penyakit memang bisa menyerang orang-orang pada usia berapa saja, tapi Anton kaget kalau itu bisa terjadi sama dia. Karena dia selalu coba buat jaga pola makan dan kesehatannya.

Namun rasa penasarannya belum juga hilang. Anton kembali scroll layar ponselnya, membaca satu artikel demi artikel lain, sampai matanya berhenti pada sebuah penjelasan tentang iritasi area vagina yang bisa dipicu oleh paparan bahan kimia tertentu yang ada pada pembalut.

Anton langsung terdiam.

Ia baru teringat kalau akhir-akhir ini dirinya memang baru mengganti merek pembalut ke pilihan yang lebih murah. Sebagai anak rantau, ia harus pintar mengatur pengeluaran. Biaya makan, kebutuhan kos, tugas kuliah, sampai kebutuhan bulanan saja sudah cukup membuatnya harus berhitung setiap hari. Belum lagi nilai dolar yang sedang naik hingga menyentuh angka Rp17.500, membuat harga beberapa barang terasa ikut merangkak naik. Mau tidak mau, Anton mulai press budget di berbagai sisi supaya uang bulanannya tetap aman sampai akhir bulan.

Awalnya ia tidak terlalu memikirkan pergantian merek itu. Toh, pembalut tetap pembalut, pikirnya. Namun sekarang, setelah membaca berbagai artikel kesehatan, kepalanya mulai dipenuhi pertanyaan. Apa mungkin kulitnya ternyata sensitif terhadap kandungan tertentu? Semakin banyak membaca, semakin ia sadar bahwa menebak-nebak lewat internet tidak membuatnya merasa lebih baik. Kalau ada, ia justru makin cemas.

Anton menghela napas panjang sambil meletakkan ponselnya di atas kasur. Untungnya, besok ia sedang tidak punya jadwal kelas. Setelah berpikir beberapa saat, ia akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Daripada terus menerka-nerka kemungkinan terburuk dari hasil pencarian internet, lebih baik ia memeriksakan diri langsung pada dokter. Setidaknya, ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya. Juga kalau bisa, segera menghentikan rasa gatal yang sudah dua hari terakhir mengganggu kesehariannya.

Oke deh, besok ke dokter kelamin. Finalnya.

 


 

Keesokan harinya, Anton langsung menuju meja pendaftaran. Untungnya antrean belum terlalu mengular meskipun suasana lobi tetap ramai dengan suara nomor antrean, bunyi sandal rumah sakit, dan orang-orang yang sibuk menuju poli masing-masing. Anton mengambil nomor antrean, mengisi data diri, menunjukkan kartu identitas, lalu memilih poli yang sesuai dengan keluhannya.

Sebenarnya, ia sempat mempertimbangkan pakai BPJS. Tapi setelah dipikir-pikir, Anton memutuskan daftar jalur mandiri saja. Bukan karena BPJS jelek (walaupun enggak salah juga), melainkan karena ia tahu prosesnya bisa lebih panjang dan vaginanya sedang tidak dalam mood untuk ikut birokrasi.

Setelah urusan administrasi selesai, Anton kini duduk di ruang tunggu dengan map pendaftaran di pangkuannya. Kakinya bergerak kecil karena gugup, matanya sesekali melirik layar nomor antrean di depan. Ia hanya menunggu namanya dipanggil perawat untuk masuk ke ruang dokter.

Semoga dokternya jangan galak. Udah vagina gatal, isi dompet digaruk, jangan sampai akunya digaruk juga. Eh?

Pasien atas nama Anton Lee?” Panggilan dari perawat di sampingnya sukses membuat lamunannya buyar. Anton langsung berdiri dan mengikuti instruksi yang diberikan oleh sang perawat, lalu dia ditinggal berduaan dengan dokternya.

Namun, baru beberapa detik setelah duduk di kursi pemeriksaan, Anton langsung membelalakkan matanya.

Dokternya… cowok.

Oke, technically, Anton juga cowok. Tapi ini beda.

Tangannya refleks mencengkeram bajunya sambil menatap name tag dokter di depan sana, seolah berharap matanya salah baca. Bukan karena ia meragukan profesionalitas dokter laki-laki. Hanya saja, membicarakan keluhan di area intim saja sudah cukup bikin gugup, apalagi menjelaskannya pada dokter pria yang baru pertama kali ia temui.

Anton sendiri memiliki kondisi tubuh yang tidak selalu sesuai dengan asumsi kebanyakan orang. Secara medis, variasi perkembangan karakteristik seks dan anatomi seperti yang ia miliki memang ada dan telah diakui dalam dunia kesehatan, meskipun tidak banyak orang memahami atau bahkan mengetahuinya. Karena itulah, urusan pemeriksaan kesehatan tertentu selalu terasa sedikit lebih rumit baginya.

Baru kemudian Anton tersadar.

Pantas saja.

Selama proses pendaftaran tadi, petugas sempat menanyakan keluhan utamanya serta hal-hal yang dia rasakan. Anton yang lagi gugup cuma jawab, “kelamin saya terasa gatal, Kak.

Mampus.

Bener kan ya Anton? Keluhannya gatal pada kelamin, ya? Boleh dijelaskan lebih lanjut?” Tanya dokter di depannya dengan nametag Dr. Jung Sungchan Sp.Kk sambil membenarkan kacamata dan membaca data pasien miliknya. Anton dengan ragu-ragu memainkan ujung jarinya.

Betul, Dok. Akhir-akhir ini, kelamin saya terasa gatal dan mengganggu saya buat beraktivitas sehari-hari. Terus saya coba buat lihat di internet, tapi hasilnya bikin saya parno sendiri,” Anton menelan ludahnya, “Jujur aja, saya juga enggak terlalu paham soal kondisi kelamin saya sendiri. Saya bukan tipe orang yang… ya, eksplor atau sering memperhatikan bagian itu. Jadi pas ada gangguan begini, saya langsung bingung harus nganggep ini normal atau enggak. Makanya saya mutusin datang ke sini daripada makin overthinking sendiri.” Jawab Anton panjang lebar.

Dokter Sungchan hanya berdeham pelan sambil mengangguk, “saya juga enggak bisa kalau enggak saya lihat keadaannya langsung. Kalau kamu berkenan, boleh tiduran di bed pemeriksaan? Saya perlu lihat langsung supaya bisa tahu apa yang kemungkinan menyebabkan rasa gatalnya.

…Hah?

Tunggu. Lihat langsung?

Tangannya mulai memainkan ujung bajunya tanpa sadar.

G-gimana… tiduran, Dok? Celananya… dilepas?” tanyanya pelan, memastikan dirinya tidak salah dengar meskipun jelas-jelas dia mendengar dengan sangat baik. Dokter Sungchan hanya merespon dengan anggukan. “Iya, dilepas celananya. Biar saya bisa cek langsung.

Jujur, Anton mendadak panik.

Bukan karena dokternya laki-laki. Oke, mungkin sedikit karena itu juga, tapi lebih karena dia benar-benar tidak terbiasa dengan situasi seperti ini. Bahkan dirinya sendiri jarang memperhatikan area tersebut, apalagi sekarang harus membiarkan orang lain memeriksanya secara langsung di ruangan terang benderang beraroma antiseptik.

Anton yang belum memulai pergerakan apapun membuat dokter di depannya kembali berbicara, “kenapa, Anton? Ada yang belum jelas? Atau malu sama saya? Jangan malu, kan kita sama-sama cowok. Toh saya juga udah biasa lihat.” Jawabnya dengan maksud untuk menenangkan.

Yang justru bikin Anton tambah enggak tenang.

A-anu dok, tapi saya malu…” jawabnya kikuk. Dokter Sungchan membalas dengan kekehan pelan, “yaudah kalau malu. Kamu buka dulu aja celananya terus tiduran di bed, saya bakal balik badan buat prepare barang-barangnya biar kamu gak malu.

Ah, mati dia.

Tapi Anton takut malah menunda-nunda waktu dokternya, apalagi tadi antrean di depan cukup panjang. Jadinya, sekarang Anton udah di atas bed pasien dengan kondisi udah lepas celana serta dalamannya dan Anton malah reflek ngangkang karena AC ruangan yang bikin dia geli.

Lalu, Dokter Sungchan berbalik mengambil troli medis berisi peralatan pemeriksaan yang diperlukan. Roda kecil troli itu berdecit pelan saat didorong mendekat ke sisi bed.

Namun, ketika pandangannya jatuh pada Anton, ia sempat terdiam sepersekian detik.

Bukan karena jijik, tapi otaknya seketika menyesuaikan informasi medis yang ada di hadapannya dengan apa yang sebelumnya ia asumsikan dari data pendaftaran. Kasus laki-laki dengan anatomi seperti Anton bukanlah sesuatu yang asing dalam dunia medis. Sungchan tahu itu. Secara ilmiah, variasi karakteristik seks dan anatomi memang ada, meski tidak selalu dipahami masyarakat luas. Hanya saja sepanjang praktiknya, ia belum pernah menangani pasien dengan kondisi seperti Anton secara langsung. Mayoritas pasien yang datang ke polinya adalah laki-laki dengan keluhan yang lebih umum ia temui sehari-hari.

Sementara di sisi lain, Anton menangkap jeda kecil itu. Dan tentu saja otaknya langsung overthinking. Dia kaget. Fix, Dokter Sungchan kaget. Dirinya refleks merapatkan kedua pahanya sembari menutup kelaminnya.

Dokter Sungchan yang baru saja selesai menggunakan handscoon langsung terkekeh pelan melihat pandangan di depannya. “Oalah, ternyata tadi kamu takut karena yang keluar malah tempik, bukan kontol,” lalu, ia memegang paha Anton yang mukanya sudah memerah karena perkataan Dokter Sungchan barusan, “gapapa, wajar kok. Saya izin lebarin pahanya, ya, biar saya bisa lihat.” dan Anton hanya bisa mengeluarkan nafas beratnya sambil mengangguk.

Anton merasa geli ketika jari Dokter Sungchan mulai menyentuh bibir vaginanya menggunakan handscoon. Tekstur latex yang dirasakan kelaminnya membuat rasa geli menjalar ke seluruh tubuhnya hingga ia sempat mengejapkan matanya. Hal itu membuat dokter Sungchan gemas dan ingin menjahili Anton lebih.

Anggap saja dia penjahat kelamin. Karena dia malah sange sama kondisi pasien yang baru ia lihat sekarang. Sejak awal, Dokter Sungchan udah salfok sama Anton karena dia keliatan cantik waktu malu-malu. First impression dia ke Anton itu perawakannya emang kayak cowok, tapi ukuran dadanya terlalu besar buat ukuran cowok. Terus sekarang, dia malah tambah sange ketika mengetahui kalau Anton ternyata bermemek.

Jadinya dia iseng memainkan klitoris Anton yang membuat sang empunya reflex mendesah pelan, “mmmh, dokter – “ sambil menatap wajah Dokter Sungchan. Yang melakukan hal tersebut cuma tersenyum sambil menenangkan, “jangan takut, ya. Relax aja biar saya bisa lihat.” Dan Anton cuma bisa ngangguk dan gigit bibirnya.

Jujur, Anton ngerasa tambah gatel waktu lihat Dokter Sungchan lagi fokus periksa vaginanya. Belum lagi tangan dokter itu sibuk pegang-pegang memeknya bikin dia harus gigit bibir buat menahan desahannya. Dari sini, Dokter Sungchan kelihatan ganteng banget. Anton berusaha buat mengalihkan pikirannya biar enggak kelepasan mendesah.

Jangan ditahan,” kata dokter Sungchan memecah keheningan, “keluarin aja suaranya, biar saya tau letak gatelnya dimana.” Sambungnya. Anton yang daritadi sibuk gigit bibirnya memutuskan buat ikutin saran dokter Sungchan.

Ahh! Dokter! Ngh! Jangan dimainin itunya,” pekik Anton ketika tangan dokter tersebut dengan lihai memainkan bagian klitorisnya. Anton hampir reflek merapatkan pahanya kalau saja sang dokter tidak menahan salah satu pahanya.

Tangan Dokter Sungchan menepuk pelan memeknya, “Tenang, Anton. Ini bagian dari prosedur supaya tahu bagian sakitnya dimana,” Dokter Sungchan lanjut memutarkan jarinya di klitoris Anton dengan tempo pelan, “memek kamu bagus. Responnya cepet, itilnya langsung ngacung begitu saya mainin bentar.” Dan justru semakin memperparah keadaannya.

Karena sekarang, tempo yang diberikan jari Dokter Sungchan kepada klitorisnya semakin kencang, Anton reflek mendesah dan pahanya malah mengangkang semakin lebar.

Hng! Dokter… dokter Sungchanh! Ahh… jangan, jangan cepet-cepet, ngh!” Yang disebut namanya malah semakin mengencangkan kucekannya, membuat desahan semakin memenuhi ruangannya.

Becek nih memeknya, masih kerasa gatel emang?” Tanya Dokter Sungchan yang langsung direspon dengan anggukan oleh Anton. “Mmh! Iya, dokter… memeknya masih! Hng! Masih gatel, tambah gatel…

Dokter Sungchan langsung tersenyum culas. Rencana busuk di otaknya makin gampang buat diaplikasiin kalau gini ceritanya.

Berarti memeknya harus disumpel itu,” lalu jarinya turun ke lubang memek Anton yang sudah basah. Dua jarinya mencoba masuk ke vagina Anton membuat sang empu semakin berisik. Jarinya langsung digerakkan keluar masuk karena jalannya dipermudah oleh becek yang dikeluarkan dari memek Anton.

Dokter.. hng… enyak… memeknya enak dimasukin jari dokter…” Anton malah hilang akal duluan dan Dokter Sungchan makin kesenengan dan mulai memanfaatkan keadaan. “Panggil saya Mas Sungchan aja, Anton.” Yang diminta cuma ngangguk ngangguk sambil manggil sesuai yang diperintahkan.

Jari Sungchan semakin dalam merojok memek Anton yang membuat pemiliknya semakin berisik, “Ahh! Mmh! Enyaak! Disitu gatelnyah, iyah! Jari Mas Sungchan enak ngenain memek aku, ungh!” Sambil pinggulnya ikut gerak beriringan dengan jari Sungchan.

Sungchan semakin gemas, ternyata pasiennya satu ini enggak perlu diapa-apain lagi karena disumpel jari aja langsung tolol. Ini sih penyakitnya emang penyakit yang harus disumpel kontol. Dan kontolnya dengan senang hati mau menyumpel.

Jadinya dia percepat tempo gerakannya, tangan satunya dipakai buat mengucek klitoris Anton dan bikin pasiennya gemeteran. Pahanya enggak bisa diem, mulutnya apalagi. Desahan semakin memenuhi ruangan cuma karena memeknya disodok jari dokternya.

Angh! Mas, mmh! Mas Sungchanh, mmau… ada yang mau keluar… mmau pipish! Aku mau ke toilet – “ yang malah terus dilanjutkan oleh Sungchan. Klitorisnya dicubit dan ditepuk-tepuk sambil memeknya terus dicolok oleh jari Sungchan.

Anton betulan enggak tahan, ada yang mau keluar dari memeknya tapi Mas Sungchan enggak mau keluarin jarinya dan malah mempercepat gerakannya, “hngghh! Awash, uhhh! Awash! Mmmau muncrath! Ahhh!” Anton memajukan pinggulnya yang disusul oleh muncratan cairan dengan volume yang cukup banyak.

Anton baru saja squirting. Mengenai pakaian Sungchan hingga ke dagunya membuat tetesannya mengalir ke leher.

Yang disemprot malah terus memutarkan jarinya di klitoris Anton sehingga muncratan lain terus keluar sampai-sampai Anton harus memohon supaya dihentikan.

U-udah! Ampun! Mmas Sungchan! Hng! Geli! Udaah! Hiks…” isakan Anton membuat Sungchan berhenti. Bukan karena iba,

Tapi dia tambah sange. Anton sekarang seksi banget. Pahanya mengangkang lebar dengan cairan squirt yang membasahi kasurnya, mukanya memerah dengan matanya yang berlinang air mata karena overstimulated, belum lagi dadanya yang kembang kempis buat menarik nafas banyak-banyak setelah pelepasannya tadi.

Anjing, seksi banget.

Tanpa babibu, Sungchan menarik kaki Anton supaya semakin dekat dengan ujung ranjang, dilanjut dengan melepaskan celana beserta dalamannya yang kemudian menampilkan kejantanannya yang sudah mengacung dengan precum yang mengalir karena dia tahan-tahan.

Sekarang saya tahu penyakitnya kenapa, Anton.” Yang membuat sang empunya mengernyitkan dahinya lantaran dokter di depannya malah menggesekkan kelamin mereka.

Oh, Anton paham sekarang.

Sebetulnya dia bukan kenapa-kenapa, tapi dia sange yang bikin memeknya gatel. Iya, gatel pengen disumpel.

Karena udah terlanjur jauh juga, Anton kepikiran pengen godain Sungchan soalnya lumayan. Dokternya ganteng, jago mainin memek, kontolnya gede lagi. Dia buka seluruh kancing kemejanya, lalu dia mainkan putingnya sambil gigitin bibirnya dan lihatin Sungchan.

Mmmh, iya, Mas Sungchan,” lalu tangan Anton satunya memainkan klitorisnya, “hngh. Penyakitnya penyakit gatel di memek. Obatnya harus disumpel,” dan turun lagi untuk memegang kontol Sungchan dan dimainkan naik turun, “disumpel sama yang ini, hmmh!

Sungchan enggak kuat, dia langsung menyingkirkan tangan Anton dari kontolnya dan memasukkan kejantanannya sekali hentak yang bikin Anton mengerang hebat. Karena dia masih perawan, otot vaginanya reflek mengencang membuat kejantanan Sungchan terjepit, “ahh! Rapet banget sayangh,” lalu Sungchan bisa melihat bercak darah yang keluar setelah kejantanannya bergerak beberapa kali.

Membuat Sungchan semakin senyum kemenangan. Ternyata daritadi dia dijepit sama perawan. Pantesan berisik banget.

Ahhh! Hiks! Ngh! Mas Sungchanh sakit… pelanin! Mmh! Sakithh!” Racau Anton yang memenuhi seluruh ruangan. Sungchan yang iba akhirnya memelankan temponya sambil tangannya memainkan pentil Anton yang sudah mengacung. Mulutnya mengulum pentil sebelahnya sambil kontolnya terus-menerus menggenjot memek Anton.

Anton meremat rambut Sungchan supaya menyusunya semakin dalam, lalu desahan manja perlahan keluar dari mulut Anton, “hngh! Mmas Sungchan, kontolnya enak… aaangh! Kencengin lagih… mmh!” dan tak lama kemudian, genjotan yang dibuat Sungchan menjadi kencang dan Anton terhentak-hentak sehingga payudaranya ikut bergerak mengikuti gerakan Sungchan.

Sang dokter sudahi kegiatan menyusunya untuk melihat keadaan Anton, “Pasien goblok,” Sungchan menggenjot penisnya sambil menampar klitoris Anton, yang membuat Anton reflek merapatkan vaginanya, “jago banget godain dokternya, ah! Anjingh! Mana rapet terus memeknya,” lalu Sungchan mengucek klitoris Anton sembari tempo genjotannya dipercepat untuk mengejar pelepasan yang sedari tadi ia tahan.

Keadaan Anton jauh lebih kacau dari sebelumnya. Karena sekarang dirinya disumpel sama kontol, bikin memeknya kerasa enak. Gatal di memeknya terobati tiap kali kontol Sungchan menyenggol g-spotnya.

Angh! Kencenginh, kencengin genjotnyah, mas Sungchan! Ungh, enak bangeth, enyaak! Ahhh!” Desahannya makin tolol, dirinya dibuat hilang akal cuma karena disodok kontol. Sungchan juga sama. Kontolnya terus-terusan dijepit bikin dia lupa kalau orang yang lagi dia kontolin itu pasien yang tadi takut buat buka celananya. Sekarang malah enggak segan-segan buat ngangkang biar memeknya terus disumpel.

Angh! Anjing, enak banget memek perawan bangsath. Jangan diketatin, fuck!” Geraman dan desahan terus keluar dari mulut Sungchan seiring tempo genjotannya enggak mengenal kata pelan. Keduanya sama-sama mengejar pelepasan sampai lupa sama sekitar.

Anton yang sudah semakin becek, merasa bahwa pelepasannya semakin dekat. Memeknya terus merapat, dan desahannya enggak berhenti keluar. “Hngh! Ahh! Mas Sungchan, mmau keluar lagih, aaahh!” Pinggulnya gemetaran.

Ah! Enak bangeth memek perawan anjinghhggg, bareng keluarnya sayangh.” Sungchan juga enggak kuat, pelepasan dia udah deket. Genjotannya makin kenceng sampai mata Anton juling dan lidahnya keluar saking keenakan.

Dikasih rangsangan segitu banyaknya, squirt Anton langsung muncrat kemana-mana karena vaginanya masih digenjot oleh Sungchan terus-terusan membuatnya overstimulated.

Sungchan yang kontolnya semakin dijepit Anton membuatnya tidak tahan, sehingga ia memuntahkan pejunya di memek Anton yang masih mengeluarkan cairannya.

Hngh… ngh… penuh… memeknya penuh… udah enggak gatel soalnya disumpel peju…” anjing. Anton yang masih mengatur nafasnya sempat-sempatnya berbicara begitu sambil menatap Sungchan nanar.

Sungchan kemudian memegang pipi Anton yang memerah bagaikan tomat. Ia usap pipinya sambil ia cubit pipinya, “kamu cantik. Dariawal saya udah salah fokus sama muka cantik kamu, taunya malah jago godain dokternya.” Lalu cairan Anton dan pejunya yang menyatu di memek Anton mengalihkan perhatiannya. Terlalu banyak yang mereka keluarkan hingga beberapa tidak bisa ditampung dan berakhir keluar. 

Ia jadi gemas sendiri. Akhirnya dia berinisiatif buat sebarkan cairannya di sekitaran memek Anton yang membuat pemiliknya merengek, “Udah ih, Mas! Nanti aku jadi sange lagi.” Sambil mencubit lengan Sungchan. 


Sumpah, Anton sekarang gemesin banget. Udah seksi, cantik, imut. Sungchan jadinya kasih kecupan di sekitar muka Anton sampai anaknya ngerengek lagi. Lama-lama, Sungchan jadi pengen buat Anton merengek terus.

Kemudian, ketukan di pintu berhasil membuat panik keduanya. Lantaran Sungchan baru sadar kalau arah jam sudah berada di angka satu. Berarti mereka udah berjam-jam berduaan disana. 

Notes:

Belongs to @Mlondays.