Actions

Work Header

tante janda jago ngulek tanpa pake cobek (tapi pake memek)

Summary:

Minimnya lapangan pekerjaan menyudutkan Sungchan pada pilihan sulit dalam hidupnya, maka pada malam suntuk dimana Sungchan hanya bertemankan sepuntung rokok dan segelas kopi instan - mengiyakan tawaran pekerjaan berpenghasilan dua digit terdengar luar biasa menggiurkan di dalam ruang kosan satu petaknya itu. Sungchan mencoba peruntungan di dunia pergigoloan.

Notes:

disclamier: this is a work of fiction, i'm not sure whether the whole arisan berondong thingy actually works like this or not.
fem!nen 39yo
syong 23yo

enjoy!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:


Semilir angin menerpa wajah elok pria yang tengah dilanda gelisah. Dirinya terduduk di atas ayunan di tepi pantai dimana perjamuan besar sebulan sekali itu digelar. Jejeran tamu undangannya sudah dikurasi dan persyaratan utamanya meliputi: 

  1. Single
  2. Berpenghasilan di atas 10 digit per tahunnya

dan yang ketiga dapat Sungchan yakini adalah kekurangan belaian pria. 

“Lo cuma perlu duduk dan senyum, biar wajah dan badan kekar lo yang attract para tante untuk duduk di samping lo. Just be friendly and once they open up, be a little touchy.”

itu pesan Shotaro sesaat sebelum mengantarnya naik ke atas kapal pada pelabuhan, Sungchan dengan tas gym sack nya yang baru ia kemas dini hari itu kebingungan. Ia mulai menyesali keputusan gegabahnya itu. Ini semua salah Prabowo dan Gibran, dimana 19 juta lapangan kerja yang mereka janjikan itu? 

Minimnya lapangan pekerjaan menyudutkan Sungchan pada pilihan sulit dalam hidupnya. Hidup di perantauan pun tidak kalah sulitnya, maka pada malam suntuk dimana Sungchan hanya bertemankan sepuntung rokok dan segelas kopi instan — mengiyakan tawaran pekerjaan berpenghasilan 2 digit terdengar luar biasa menggiurkan di dalam ruang kosan satu petaknya itu.

Jemari kakinya kerap menabrak hamparan pasir putih lantaran kakinya yang terlalu panjang diajak berayun-ayun di atas ayunan, kekanak-kanakan. Pria virgo itu bertelanjang dada dan sudah mulai sedikit kedinginan ditiup dinginnya angin senja. 

“Kalau aku laporin ke bos mu, kira-kira kamu akan dalam masalah nggak?”

Sungchan sedikit terhentak mendengar suara sedekat itu dari balik punggungnya secara tiba-tiba. Kepalanya menoleh dan disitu didapatinya salah satu tante yang sedari tadi bak menyorotkan laser ke pelipisnya di dalam resort sana.

Keduanya belum sempat bertegur sapa, tante tersebut hanya memandanginya dari seberang dengan segelas minuman, mata bulatnya menatap Sungchan tajam. Meski telah mencoba dialihkan, netranya masih saja bersirobok dengan milik tante cantik di seberang sana. 

“Eh- um.. m-maaf, bu,.” gagap Sungchan seperti lidahnya diambil kucing. Ya, kucing di hadapannya sekarang lah oknumnya. Bibirnya yang kering sebab sedikit mabuk dari minuman yang disuguhkan sebelumnya itu digigit gigit dan terkelupas karena gugup.

Yang dipanggil ibu terkekeh dengan anggun, tangannya diistirahatkan pada lipatan dua bongkahan gemuknya yang terlihat sesak seakan midi dress-nya sewaktu-waktu dapat memuntahkan kedua belah dadanya begitu saja.

Sungchan yang setengah mabuk melihat itu pun ikut sesak, di dalam celananya. Kedua kakinya dirapatkan, berharap rasa sesak itu dapat mereda seraya diapit oleh kedua pahanya.

Diambilnya duduk pada ayunan satunya lagi, namun berlawanan arah dengan Sungchan, “panggil aja Tante Wonbin. Jangan ibu, oke?” matanya dikedipkan sebelah pada Sungchan. Aduh, makin sesak.

“I-iya tante..”

“Gak usah gugup, tante gak akan aduin kamu.” ujarnya dengan senyuman yang tak ternilai harganya, murahan juga gaji Sungchan sebagai GA di PT tempat ia bekerja sebelumnya. 

“Makasih, tan.” balasnya singkat. Netranya dialihkan ke kaki yang sama telanjangnya dengan dada. 

Wonbin yang duduk membelakangi laut, mendorong kakinya ke tanah agar dapat mengintip wajah yang lebih muda. Diteliti satu satu bagian wajah dan juga tubuhnya. Kayaknya anak baru. Senyumnya mengembang misterius.

“Kamu baru ya?”

“I-iya, tan.”

“Gimana hari pertama mu?”

“Baik, tante.” 

Jawabannya tidak memuaskan. Wonbin berdecak kecewa, membuat Sungchan mengangkat kepalanya. Gaun yang jatuh tidak sampai lututnya itu tersingkap semilir angin sore, Sungchan buru-buru menatap wajah Wonbin lagi agar tidak terdistraksi. Tetapi wajah tante satu ini seperti tidak layak berada disini, seperti malaikat penghuni surga. Cantik. Cantik sekali.

Seketika alkohol mengambil alih akal sehatnya, Sungchan ingat kalimat terakhir Shotaro, maka dari itu ia beranikan diri untuk memecah keheningan.

“Tante cantik.” puji Sungchan lemparkan tiba-tiba kepada si Tante. Jantungnya berdegup cepat, aura dominan tante mengintimidasinya.

Wonbin tertawa terbahak-bahak, dadanya yang penuh ikut naik dan turun sebab tubuhnya yang diguncang oleh tawa, sebelum kemudian beranjak dari ayunan yang kiranya sudah terlalu kekanak-kanakan baginya yang setahun lagi sudah berkepala 4 itu. Tangannya meraba perutnya geli. Kepalanya digelengkan ringan seraya jemarinya menghampiri mulutnya guna menutup giginya yang nyaris kering. Sungchan memerhatikan gestur elegan tersebut, emang beda ya kalo orang kaya mah — sopan binti santun.

“Gombal anak baru mah gak kena di tante.”

“Beneran, tante.” Sungchan kini sudah berdiri untuk menghalau langkah tante cantik itu yang berencana meninggalkannya lagi. Tingginya tidak terlalu jauh terpaut dari nya. Wonbin tergolong tinggi untuk wanita asia pada umumnya. 

Ya, palingan hanya butuh jinjit sedikit supaya bisa meraih ranum si brondong. Aduh, earth to, Wonbin.

Wonbin sedikit terperangah oleh dada bidang di hadapannya itu, memang standar pemuda yang bisa bekerja disini harus rajin olahraga. Namun, proporsi tubuh brondong yang satu ini di matanya sangat pas, tidak terlalu kekar, dan posturnya tinggi. Sejujurnya, sejauh ini Wonbin tidak tertarik dengan jejeran brondong yang ditawarkan. Untung dirinya belum dapat giliran arisan, jadi tidak ada keharusan untuk memilih. 

Bulan ini seketika rasa ingin memenangkan undian arisan kontroversial ini menguasainya. Wonbin berminat memenangkan Sungchan. Itu sebabnya sedari tadi kedua manik bulat itu kerap jelalatan ke Sungchan, meski dari seberang ruang saja. Ludahnya ditelan bulat-bulat. Sungchan menyeringai. Tangannya dengan lancang mencuri tangan Wonbin yang bersemayam di atas bongkahan apiknya. Jemarinya otomatis bersentuhan singkat dengan belahan yang terekspos tersebut. Napasnya tercekat, kemudian jemarinya dibubuhi kecupan.

“Shall we head back inside? nanti di dalem duduknya sama aku.” tawarannya ditambahkan, “atau dipangku aku?” sebab di dalam sana ia lihat banyak yang berlakon demikian.

Mata Wonbin membulat kaget, “bandel ah.” ketus Wonbin sampaikan. Tawa indah Sungchan menerpa wajahnya, wangi alkoholnya kuat. Anak ini mabuk.

Wonbin berjalan beberapa langkah di depan Sungchan, namun langkah dari tungkai jenjang pemuda itu berhasil menyejajari miliknya. Wonbin memekik kaget kala ia rasakan presensi hangat pada pinggulnya. Tubuhnya direngkuh begitu dekat, pundak telanjangnya menempel dengan dada kekar Sungchan.

“Buru-buru banget, tante cantik.” Sungchan tersenyum manis pada Wonbin yang sudah mendelik padanya.

“I never got your name.”

“It’s Sungchan.” 

Wonbin mengangguk paham. Akan ia ingat nama itu, jaga-jaga ia menang malam ini. Semoga saja. Keduanya berjalan memasuki resort berdampingan dan disambut dengan musik yang berdendang keras khas klub malam.

 



 

“Park Wonbin!” 

Suara riuh serta siulan meledek pun menggoda sang pemenang arisan bulan ini. Namanya disebut oleh MC, yang berarti Wonbin harus naik ke atas panggung. Ia beranjak dari pangkuan Sungchan yang turut membisikan ‘selamat’ padanya. Wonbin tersenyum sembari merapihkan gaunnya. Tema kali ini adalah beach party, gaun pendek khas pelancong di pantai itu ia luruskan, berharap leceknya dapat hilang hanya dengan hantaran hangat dari tangannya.

“Ayo tante, silahkan dijemput hadiahnya.” ajak sang MC di atas panggung.

Sesampainya di panggung, Wonbin diajak berfoto dengan selempang bertuliskan “TANTE OF THE MONTH 2026” ini pasti ulah Renjun, sang ketua pelaksana arisan kondang ini. Tak lama ia dengar sorakan dari sosok Renjun tersebut.

“AYOO DIPILIH BERONDONGNYA, TANTE WONBIN!” soraknya dari pangkuan seorang pemuda berhidung mancung dengan sepasang mata yang kian menghilang seraya tertawa. 

“Mau yang lagi mangku kamu, Njun.” goda Wonbin balik. 

Kedua lengannya sekonyong-konyong ia kalungkan pada pemuda tersebut yang bahkan Wonbin tidak tahu namanya. “Enak aja, Jeno udah aku tandain walau ini bukan giliranku menang.” 

Memang sistemnya adalah: Sang pemenang undian arisan dapat memilih satu brondong untuk diajak kencan, gratis. Tentunya mereka membayar iuran per bulannya, yang entah berapa nominalnya. Tetapi ada beberapa tante yang rela merogoh kocek sendiri demi ‘membungkus’ brondong meski tidak menang undian malam itu.

Debar jantung Sungchan bertalu-talu hingga terdengar ke telinganya sendiri, suara bising di resort mewah malam itu seakan teredam, kepalanya terasa ringan. 

Tiba-tiba pundaknya ditepuk pemuda di sampingnya. 

“Sungchan, nama lo disebut.” kata Nicholas, teman sekamarnya di penampungan brondong selama beberapa hari kedepan di pulau pribadi ini.

Pendengarannya kembali normal, “Sungchan ya. Selamat berkencan dan enak-enak ya, sama Tante Wonbin. Beri tepuk tangan dulu dong buat Tante Wonbin!” 

Suara riuh tepuk tangan kembali meredam pendengaran Sungchan, Wonbin melempar senyuman pada Sungchan dan tangannya turut menepuk seyogyanya. 

Sialan. Apa yang harus seorang perjaka lakukan dalam ‘kencan’ dan ‘enak-enak’ bersama Wonbin?

 



 

Sungchan belum pernah berbuat tidak senonoh dengan anak perempuan orang. Ibunya selalu berpesan untuk menjaga martabat dan kehormatan seorang wanita. Maka dari itu, dia paling anti menyentuh area intim seorang wanita, dengan mantan pacarnya saja tidak pernah lebih jauh dari sekedar bercumbu.

Sungchan gugup luar biasa. Tante Wonbin pasti udah jago. Aduh, gue harus apa nih? Kalo kurang memuaskan apa duit yang diiming-imingi Shotaro itu akan cair seutuhnya atau malah berkurang? 

“Sungchan, boleh loh pegang-pegang.” 

Sungchan tertegun dan napasnya terasa tercekat di kerongkongan. Dirinya bersandar pada headboard kasur di kamar luas dan mewah yang sengaja disiapkan untuk pemenang bulan ini. Wonbin mengambil posisi di atas pahanya, mengangkang dan bertumpu pada lututnya, sehingga kedua kakinya mengapit pinggang Sungchan. Kedua tangannya disandarkan pada dada telanjang Sungchan.

“P-pegang.. apa, tan..?” tanya nya kikuk. Ada keraguan dari nada bicaranya, itu menggelitik perut Wonbin yang sudah menduga kalau berondong satu ini masih lugu. Dadanya sengaja ia busungkan agar berada tepat di depan muka Sungchan persis. Sungchan terperangkap, kepalanya tidak dapat mundur lebih jauh lagi. Tangannya refleks menyentuh benda asing yang hampir menubruk wajahnya itu.

“Nah, gitu. Harus dipojokin dulu ya baru mau pegang-pegang tante, hm?” 

Wonbin sekonyong-konyong menuntun tangan Sungchan di dalam gengamannya, “diremes, sayang.” Sungchan anak yang penurut maka ia kabulkan permintaan Wonbin.

Hmph.. Iya, lebih kencang lagi, sayang.” kenyalnya Wonbin terasa lebih besar dari telapak tangan Sungchan yang pada dasarnya sudah lebar itu. Wonbin melenguh.

“G-gini k-kan tante?” Sungchan bertanya dengan ragu, netranya kian memperhatikan reaksi tante di depannya. Takut-takut melakukan salah.

Wonbin menggigit bibir bawahnya kemudian menangkup kedua sisi wajah berondong manisnya itu. Dadanya ditekan pada wajah Sungchan hingga mancungnya tertanam pada belahan dada. Sungchan rasa sesak, paru-parunya masih memiliki pasokan udara, tapi celananya lah yang sudah kehabisan udara. Aliran darah dari segala penjuru tubuhnya berbondong-bondong menginvasi selatan tubuhnya.

Wonbin yang menggeliat naik dan turun di atas Sungchan tidak sengaja menyundul tegang di balik celana Sungchan. Sungchan meringis hebat kala merasakan kontak pada bagian terintimnya. 

“Dibuka sayang, baju tantenya.” dielus dengan lembut wajah Sungchan. Guratan panik di wajahnya terlihat jelas, Wonbin pretended to not know about the younger’s bulge. She chose to play dumb and asked him to undress her instead. Tali gaun mini nya itu ia sampirkan hingga jatuh ke lengannya, “ayo, sayang. bantu tante.”

Sungchan membasahi bibirnya sebelum menanggalkan tali di sisi lainnya yang masih tersampir apik pada tempatnya, disingkirkannya untaian tali tipis itu hingga meninggalkan bahu mulus Wonbin. “Sekarang dibuka, Sungchan. Turunin baju tante.” Dadanya dicondongkan lagi guna mempermudah pergerakan tangan Sungchan menelanjanginya, agar keduanya dapat sama-sama bertelanjang dada.

“O-oke..” 

Jemarinya diselipkan di balik perpotongan bajunya, Wonbin mendesah payah kala salah satu jari Sungchan tidak sengaja menyentuh pucuk dadanya. Gaun Wonbin sudah datang dengan busa pelapis sehingga ketika Sungchan tarik bajunya ke bawah, volumenya sontak tumpah ruah. Mata Sungchan terbelalak kaget. Pemuda perjaka itu disuguhkan dada montok dan kenyal Wonbin, dengan pucuk yang sudah mencuat tegang, areolanya cenderung besar dan warnanya kecoklatan menggugah gairah insan manapun yang menyaksikan. Siapapun yang melihat pemandangan paripurna di hadapannya saat ini pasti akan paham, mengapa selatannya kian berkedut minta dibebaskan dari dalam celananya.

“Suka, sayang?”

Sungchan mengangguk. Wonbin membelai surainya penuh kelembutan dan pelan. Sungchan merasa begitu diperhatikan dan juga diayomi oleh Wonbin. Selain menggantikan peran ibu yang hilang selama ia berada di perantauan ibu kota, Wonbin juga menggantikan peran Polisi yang seharusnya mengayomi dan melindungi masyarakat namun tidak pernah dirasakan demikian.

“Kalo suka, boleh dicobain, Sungchan.” 

Mulutnya kering. Ludahnya sudah habis ditelan berkali-kali, suasananya terlalu mencekam. Sungchan berusaha berbicara namun tiada vokal yang keluar.

Wonbin menatapnya iba, rupanya anak ini betulan lugu. Maka ia tembak dengan pertanyaan yang justru bikin Sungchan makin merasa kecil di hadapan Wonbin.

“Kamu belum pernah bercinta?”

Sungchan menggeleng pelan. Malu, wajahnya sontak padam dengan semburat merah. Terlihat lucu di mata Wonbin. 

“Belum pernah lihat vagina? payudara juga?”

Lagi, Sungchan menggeleng. Merahnya sudah menjalar hingga ke telinga. Sungguh hiburan bagi Wonbin, menggoda berondong yang belum matang seperti Sungchan. Wonbin menyunggingkan senyum kemudian mengangkat dressnya, menampilkan helaian dalaman berbentuk segitiga terbalik. Kain tersebut terlihat tak becus membungkus alat vital, padahal tujuannya untuk menutupi alat vital wanita.

Tangannya diajak oleh Wonbin ke belakang, melandai pada bokong Wonbin yang mulus dan padat. Namun saat dibawa naik ke atas lagi, ada seuntai tali disana. “Ini namanya g-string, Sungchan.”

Sungchan mengangguk tanda paham akan ucapan Wonbin. Suhu di kamar berpendingin ruangan itu memanas. Salahkan Wonbin yang kelewatan nakal dan seksi, Sungchan jadi kegerahan begini. Tante binal.

Kali ini tangannya diajak berpindah ke depan, langsung ke beceknya. Kain berbentuk segitiga terbalik itu disingkap oleh Sungchan yang didorong oleh rasa ingin tahunya. 

“Ini namanya vagina, sayang.” ucap Wonbin, menyisir surai lebat milik Sungchan. “Kalau jijik, bilang ya, Sungchan.”

Sungchan menggeleng untuk ke sekian kalinya, “enggak. Tante cantik.” 

Wonbin sedikit tersipu namun buru-buru ia hapus perasaan itu, sebagai gantinya Wonbin mendengus sebagai bentuk saltingnya, seperti mencemooh pujian yang Sungchan tuaikan.

“Beneran, tante.” Sungchan kecup singkat Wonbin di dagunya yang lancip. “Tan, Sungchan.. anu.. umm…” pinggulnya menggeliat tidak nyaman di bawah Wonbin.

Wonbin menempelkan beceknya pada tegangnya Sungchan yang masih dibalut celana jeans tebal. Tangannya bertumpu pada pundak lebar berondong tersebut, sambil dadanya ditempelkan pada milik Sungchan yang sama telanjangnya.

Ngaceng ya, sayang?” goda Wonbin, kini pinggulnya bergerak maju mundur dalam irama pelan. Wonbin mengecup leher pemuda di depannya karena merasa bangga memperoleh desahan pertama dari berondongnya. “Enak, sayang?”

Hhh- Ahh! en-ak, tan..” kalimatnya putus-putus berusaha mengumpulkan warasnya.

“Sekarang buka celananya buat tante, sayang.” 

Sungchan buka kancing celananya pelan, kupingnya terasa panas sebab malu. Namun kejantanannya lebih antusias bertemu Wonbin, sehingga sesaat setelah resletingnya dibuksa sepenuhnya, batangnya mengacung sempurna dan langsung menyapa liang senggama Wonbin yang hanya dibalut seutas tali.

Wonbin terkekeh. Milik Sungchan sesuai ekspektasinya, diam-diam Wonbin memperhatikan ukuran tangan dan juga tinggi badan Sungchan selama di resort tadi. Dikalkulasikan, Sungchan seharusnya berukuran jauh di atas mantan suaminya. Sungguh pria yang moodal kontol doang, literally kontolnya bisa dijadikan modal untuk bikin Wonbin cinta mati sama beliau. Senyumannya kian mengembang puas.

“Tan? K-kenapa?”

Wonbin menggeleng kemudian membungkam mulut Sungchan dalam cumbuan panas yang melibatkan lidah, lidah yang lebih muda awalnya kaku dan segan untuk sekedar membelit milik tantenya. Setelah Wonbin menggerakkan pinggulnya ke arah tegangnya, baru Sungchan berani untuk meliukkan lidahnya dan menyambar tengkuk Wonbin. 

Terkejut akan keahlian yang dimiliki si lebih muda membuat Wonbin mengerang ditengah cumbuannya, tidak disangka berondong lugu ini mengerti cara berciuman, dengan lidah.

Tangan mungilnya menggedor-gedor dada pria tersebut, menuntut agar segera dilepaskan dari belenggunya. Sungchan mafhum dan segera mundur, kembali menyenderkan kepalanya pada headboard. Napasnya satu-satu, kilatan pada bibir merona dan bengkaknya itu sangat seksi, dilengkapi dengan dada yang naik turun menikmati udara bebas selepas mencumbu wanita anggun di depannya.

“Kamu, jago juga ya ciumannya. Tante kira lugu.”

“Ciuman pernah, tante. Tapi sebatas itu saja.”

Kepalanya dimiringkan, heran. “Kenapa? Memangnya gak kebawa suasana?”

Ujung bibir Sungchan terangkat sebelah, menunjukan taring pada baris atas giginya. Tangannya mengambil milik Wonbin untuk digenggam, pandangannya jatuh disana seraya menjawab dengan malu, “kata ibu, aku harus menjaga kehormatan dan martabat wanita. Tapi itu gak mencakup bibirnya, kan?” Netranya kembali naik untuk menatap manik Wonbin, senyuman nakal menghiasi wajahnya.

Dadanya menerima cubitan lembut dari Wonbin, “bandel. Ada aja alesannya.”

Keduanya tergelak geli.

“Kalau tante udah pernah berhubungan sebelumnya. Gak ada yang perlu dijaga..” kuku bertombak runcing yang dicat dengan model french tip itu menggaruk halus permukaan dada Sungchan. “Kalau begitu, Sungchan mau gak?”

Luar biasa. Kalimat manipulatif serta sorot mata yang menggoda mampu membuat Sungchan melucuti keimanannya sendiri. Ibu kan hanya berpesan untuk jaga kehormatan wanita, kalau yang sudah pecah perawan seperti Wonbin gak apa-apa dong harusnya. Kepalanya dianggukan, itu membuat Wonbin menyeringai kemudian mengecup pipi Sungchan lembut.

“Since it’s your first time having sex, you can just relax. Okay, sayang?”

Sungchan mengangguk dengan antusias, sudah tidak sabar mengubur kelakiannya di dalam tante cantik di hadapannya. Wonbin berpegangan pada tengkuk dan pundak Sungchan sebelum mendekatkan vaginanya kepada kepala penis yang sudah basah dengan cairan pra ejakulasi, Sungchan menahan tegangnya agar mempermudah pergerakan Wonbin dalam upaya menyatukan milik keduanya yang kadung basah.

Sungchan mengerang tipis kala hangatnya Wonbin secara perlahan melingkupinya hingga tertanam keseluruhan. Bibirnya terasa sangat mudah diterobos namun semakin masuk, semakin sesak berondong itu rasakan di sekitar kejantanannnya.

“Enak, sayang, hngh..?

Ah… Enakh.. tan- hh.. sesak, tante.. sempit…” suranya parau, nikmatnya membuat Sungchan nyaris berderai sebab terasa mencekik di tenggorokannya.

“Kalo tante naik gini.. hngh..” pinggul Wonbin bergerak naik, berusaha mendemonstrasikan pada berondongnya yang masih lugu, namun berujung mengeluarkan desahan kala besarnya berondong absen dari titik terdalam lorong sempitnya. “terus turun gini.. hnghh.. haa..” kemudian turun lagi, dan lagi-lagi kelepasan mendesah yang lebih nikmat dari sebelumnya, “enak gak, sayang?” 

Nikmatnya hampir membuat syaraf-syaraf pada tubuhnya konslet sehingga yang dapat Sungchan keluarkan adalah ringisan manja, “Aah.. tante.. gerakinnya jangan pelan-pelan..” Sungchan merasa sedang disiksa jika Wonbin lebih fokus mengajarinya dibanding mencari puas bersama-sama. Maka, bokong sintal si tante ia simpulkan dalam kedua jemari luasnya. 

Sontak Wonbin memekik, bokongnya diremas tiba-tiba. Tubuhnya dibantu bergerak naik dan turun agar dapat memijat kejantanannya lebih laju, dindingnya menjepit akibat terkejut akan aksi Sungchan.

Ah.. tante.. enak banget- hhh…” racaunya seraya mengontrol pinggul Wonbin di atasnya dengan lancang.

Plak.

Tangannya dilepas dari belakang sana. Wonbin marah. Alisnya bertaut dan leher berondongnya dicekik sehingga matanya beradu dengan Wonbin. Bunyi nyaring yang barusan itu datang dari kontak antara telapak tangan Wonbin dengan pipi Sungchan.

“Kamu diem, aku yang gerak.” ranum merah jambu alami itu menitahnya dengan tegas. Sungchan terperangah, tidak seharusnya ia bertindak seperti itu. Yang punya kuasa disini adalah Wonbin, sedang ia hanyalah hamba sahaya.

Tangannya meninggalkan apel adam yang lebih muda seperti tidak terjadi apa-apa. Sesuai ucapannya, pinggulnya kini bergerak naik dan turun tanpa ampun. Kerongkongan Sungchan pun kering dibuatnya, mendesah nikmat dan meracau aneh-aneh yang tidak masuk akal, seperti:

“Sempit banget, tante.”, 

“Enak banget memek tante-tante.”, 

“Teteknya kenceng banget, tante.”, 

‘Tante cantik banget. hnn..”, 

“Ah, ulekannya enak banget, tante sayang.”

Sungguh, bercinta dengan anak muda yang baru pertama kali digauli membuat Wonbin semakin bergairah dan menumbuk batangnya habis-habisan. Entah darimana ia dapatkan seluruh energi itu, seakan dibantu dengan kekuatan pahlawan super untuk menaklukkan berondong lugu ini.

Sungchan yang racauannya makin gak jelas itu, disumpal mulutnya oleh Wonbin. Benar-benar berisik mulutnya.

Hmmm.. mmph.. Haaa.. hmphh..” sebagai gantinya, erangan-erangan yang menghantar getaran menggelikan pada pucuk dadanya lah yang ia terima. 

“Pinter sayang neteknya.” Surainya diremas kuat-kuat sebagai pegangan, sementara ulekan pinggulnya dipelankan. Sungchan membuka mulutnya dan mengeluarkan desahan kecewa.

Ah.. yang kenceng dong, tante sayang..” pintanya dengan melas dan singkat, kemudian kembali menyesap areola Wonbin yang sudah merah dan bengkak akibat terus-terusan disedot dan digigit manja oleh Sungchan. Belah dada lainnya yang menganggur turut dipilin dan terkandang dicubit hingga nyaris copot dari tempatnya jika Wonbin tidak respon menjerit, seperti enggan memberi rehat bagi cairan pelumas Wonbin yang harus terus dikeluarkan jika putingnya kian diberi stimulasi.

Legam tebalnya dijambak hingga kepalanya menengadah, “Kok nyuruh-nyuruh tante?” Sungchan meneguk ludahnya, bibirnya yang memancarkan kilat basah selepas menyusu pada Wonbin itu dilumat begitu Wonbin tidak lagi sanggup menahan napsu. Wonbin seperti janda yang kurang belaian pada umumnya. Bibir tebal Sungchan kerap menggodanya, apalagi ketika sorot sepasang mata kijangnya yang lugu menatap balik dengan lapar.

Penyatuan kelamin keduanya kembali dipompa seraya mulut Wonbin bertukar ludah dengan Sungchan. Bunyi kecipak basah dari kedua mulut banjir dengan liur yang berlinang kemana-mana itu tidak kalah nyaring dengan suara becek keduanya di bawah sana.

Clek clek clek, dari penyatuan kelamin.

Plok plok plok, dari bongkahan sintal yang terus menerus menampar paha Sungchan.

Klek klek klek, dari pergumulan panas antara kedua mulut mereka.

Ketiganya mengudara dan menyesakkan ruangan yang terbilang luas itu. Lampu yang temaram malam itu menjadi saksi bagaimana pemuda baik itu melepas perjakanya kepada janda cantik demi uang. Itu awalnya, kini sepertinya Sungchan sudah tidak peduli pada uang itu, yang ada di pikirannya hanya memek janda yang ngejepit dan mijet kontolnya. 

Tidak lama kemudian, Sungchan merasakan surganya sedikit lagi datang. Sungchan berusaha melepaskan penyatuan kelaminnya, akan tetapi hentakan tante cantik di atasnya masih terus memompanya tanpa ampun. Kepalanya pusing, lidahnya dibelit seakan dibungkam dan tidak punya hak untuk berbicara selama Wonbin masih memegang kuasa atas seluruh jiwanya. 

Cahaya putih mengedar di balik matanya yang terpejam di dalam ruangan yang suram. Wonbin bantu Sungchan menjemput surganya. Hangat menjalar di dalam rahim Wonbin, ciumannya dilepaskan.

“Kamu udah keluar, Sungchan?”

Sungchan mengangguk lemas, manik kijangnya terbuka. Matanya berkaca-kaca. Sungchan panik. Semoga si tante udah menopause kek, ah tapi kayaknya masih aktif sistem reproduksi si tante. Lalu, Sungchan harus apa? tanggung jawab dan jadi ayah? samar-samar suara bayi yang memanggilnya “p- papah..” terdengar di dalam halusinasinya.

Wonbin mencubit pipi berondong yang mulutnya gak bisa mingkem akibat panik dan kaget. Wonbin tau, Sungchan pasti panik karena bisa jadi Wonbin hamil karenanya. Tapi yang berpotensi hamil hanya bangkit dari pangkuan Sungchan, meninggalkan penis yang sudah lemas dan puas diservice.

“Gak apa-apa. Tante gak akan hamil, sayang.” Wonbin merebahkan dirinya di samping Sungchan. Rambut panjangnya tersebar indah di sekitaran bantal yang ia tiduri. “Aku gak bisa hamil.” lanjutnya.

Rasa bersalah muncul, meski bukan Sungchan yang menghendaki kebenaran itu untuk dikuak. Berondong tersebut beringsut meletakkan kepalanya pada bantal yang sedari tadi menyangga tulang belakangnya sepanjang sesi intercourse mereka. Mata bersalahnya itu menatap Wonbin lekat.

“I’m sorry, tante..” ucapnya seraya menarik selimut guna menutupi tubuh keduanya yang telalu terekspos. Matanya gak bisa fokus selama tete si tante tumpah kayak gitu. 

“It’s okay. I made my peace with it. It’s why my husband —i mean, ex.. left me.” balasnya, pandangannya lurus ke langit-langit kamar berhiaskan kandelir mahal dan berkilauan meski di pencahayaan minim.

Kecupan membuai Sungchan letakkan sepanjang tulang selangka hingga ke klavikula Wonbin. Gelinya membuat Wonbin terkekeh, jemarinya menyambar surai legam Sungchan yang jatuh dan turut menyapu dadanya yang terekspos itu. 

“Tapi, aku gak mau cek ke obgyn. Aku pikir kalau aku dengar dari dokternya langsung, itu hanya memperparah rasa sakit ku ditinggalin mantan suamiku. His sperm might have poor movements juga, sih. But i refused to dig into it any deeper, kalau memang dia yang gak bisa punya anak? that’d only hurt him. Cukup aku yang dikatain mandul sama orang-orang.”

Sungchan tidak menyangka sosok janda yang kesepian ini menyimpan luka yang begitu dalam. Sungchan kagum dibuatnya. “Tante orang baik, ya?” 

Wonbin tersenyum tulus dan menatap Sungchan balik, “Kamu juga anak yang baik, Sungchan.” Wonbin meninggalkan kecupan pada mancungnya Sungchan. “Anak manis.” 

Oh, Tuhan. Sungchan lemas di lutut, untungnya posisi mereka saat ini sedang berbaring. Kalimat buaiannya mengundang aliran darah di dalam tubuh Sungchan untuk mengumpul di kedua pipi Sungchan. Wonbin terkekeh. 

“Jadi, kalo memang sistem reproduksi tante gak bermasalah. I don’t mind having your baby.”

Wajahnya yang semula merah akibat tersipu, kini seketika pucat pasi mendengar ucapan Wonbin. 

Notes:

find me on twitter