Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-05-19
Words:
1,684
Chapters:
1/1
Comments:
5
Kudos:
171
Bookmarks:
6
Hits:
3,222

My Dear Little Brother

Summary:

Intinya beerlens mengentot hebat.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Suara kecipak basah itu membuat Nakula makin mabuk kepayang. Ia bisa merasakan bagaimana lelaki yang lebih tua darinya itu dengan sengaja justru melesakkan lidahnya lebih dalam, membuatnya nyaris tersedak. Lidahnya tebal, memenuhi rongga mulut yang kini sudah banjir liur. Ia ingin bersuara. Namun lelaki sialan di depannya ini justru makin memperdalam ciumannya, seolah ingin melahap habis dirinya.

Tangannya meremat kasar rambut coklat dengan highligt warna kuning itu. Ia berusaha menarik kepala itu menjauh demi mengais udara untuk bernafas. Namun ajaibnya, si lelaki justru tertawa dalam ciumannya, sukses membuat Nakula Nalendra tersedak liur yang entah milik siapa.

Sesaat kemudian, dengan rasa iba yang setengah-setengah, lelaki yang lebih tua melepaskan ciumannya. Ia biarkan saliva yang sudah banjir itu mengalir turun di dagu kemudian leher kesayangannya. Saat melihat adiknya itu kini terengah setelah terbatuk, ia justru tertawa, membuat yang lebih muda sontak memukul lengannya.

"Hampir ga bisa nafas aku, Mas!"

Sadewa Sagara kemudian menepuk kepala kesayangannya itu, mengusaknya penuh kejahilan sebelum menarik si surai biru untuk duduk di pangkuannya. 

"Nggak apa-apa, kan masih ada saya."

Nakula mengerutkan kening. Sadewa kemudian melanjutkan, "Kan saya separuh nafas kamu."

Dan pukulan lagi-lagi mendarat di dada bidang si Sagara. Lelaki itu kemudian tertawa lagi, menangkup kedua pipi yang lebih muda kemudian menciumnya gemas.

Yah, awalnya hanya ciuman gemas. Namun belum juga semenit, ciuman gemas itu beralih menjadi ciuman ganas.

Lenguhan demi lenguhan yang keluar dari bibir indah Nakula itu seperti sebuah sinyal bagi Sadewa untuk segera memenuhi hasrat yang ia tahan mati-matian. Kemudian, sembari memuaskan adiknya, tangannya bergerak melucuti pakaian milik sang adik. Tak butuh waktu lama karena Nakula--sepertinya dengan sengaja--hanya memakai celana kolor setengah paha dan celana dalam yang sudah longgar karena sudah terlalu sering dipakai. Yang membalut tubuh atasnya pun hanya sekadar kaos kedodoran milik Sadewa yang entah sejak kapan bisa sampai ke tangan adiknya.

Tak butuh waktu lama sampai Nakula sudah bugil di pangkuannya. Sementara Nakula sudah telanjang, Sadewa justru masih lengkap dengan kemeja dan celana jeansnya, membuat Nakula merengut saat menyadari hanya dirinya yang sudah bugil. 

Kesal, Nakula kemudian merengut. Ia mencebikkan bibir membuat sang kakak mencubitnya gemas.

"Kok cuma aku yang telanjang? Mas telanjang juga, dong!" serunya kesal. Sadewa hanya tertawa sebelum akhirnya mulai melucuti kemejanya. Ia buka dua kancing teratasnya sebelum melepas kemejanya melalui atas.

Melihat Mas-nya yang biasanya rapih dan teratur itu kini terburu-buru, bisa Nakula pastikan lelaki yang beberapa menit lebih tua darinya itu sudah kepalang sange. Yah, Nakula tidak heran, sih. Memangnya siapa yang tidak sange melihat tubuh putih bersih dan mulus milik Nakula?

Langkah selanjutnya, Sadewa mengangkat tubuh Nakula dengan entengnya. Ia sandarkan tubuh itu di dadanya yang sudah telanjang sembari berkata, "Bentar ya, Mas lepas celana dulu."

Nakula menurut saja. Bukan hanya Sadewa yang kepalang sange di sini.

Dan setelah Mas-nya itu selesai dengan celananya, Nakula segera menurunkan tubuhnya lagi, kini dengan kesadaran penuh menduduki batang besar yang sudah ngaceng sempurna itu. Ia gesekkan pantatnya pelan-pelan, membuat Sadewa mendesis merasakan hangat kulit Nakula yang menggesek penisnya.

"Binal banget pantatnya. Udah ga sabar pengen dijebol apa gimana?"

Tangan Sadewa turun, membelai belahan pantat mulus itu sebelum meremasnya kuat.

"Anghhh...."

Wah, sialan. Nakula terlihat begitu cantik di atasnya. Mata birunya sayu, digenangi air mata seolah hampir menangis.

"Gimana Cah Ayu? Lubangmu udah gatel banget ya? Minta dimasukin ya?"

Makin belingsatan lah Nakula di atas tubuh Sadewa. Ia merengek-rengek, menggesekkan lubangnya yang basah itu ke penis Sadewa, ingin segera disetubuhi. Sedangkan Sadewa meringis, mati-matian menahan diri agar tidak segera menjebloskan penisnya yang sudah tengang sempurna itu ke dalam lubang adiknya. Ia kemudian menangkup pipi Nakula lagi, berusaha mengembalikan fokus Nakula.

"Coba kamu yang masukin kontolnya Mas. Bisa, kan?"

Nakula kemudian mengangguk. Tanpa menunggu waktu lama, ia meraih penis besar milik Sadewa. Ia arahkan kepala kontol milik yang lebih tua ke pintu masuk lubang analnya. Perlahan tapi pasti, ia mulai menurunkan tubuhnya, merasakan bagaimana penis besar itu mulai melebarkan lubangnya.

"Anghh Mas...."

Ia sedikit meringis, merasakan perih yang selalu ia rasakan saat penis besar itu menerobos masuk ke lubangnya. Sudah berkali-kali ia kawin dengan kakak kembarnya itu, tapi lubangnya tidak pernah terbiasa dengan ukuran jumbo milik Sadewa.

"Pelan-pelan aja. Kontol saya ga akan kabur, kok."

Menanggapi guyonan jelek milik Sadewa, Nakula kemudian mendelik, memberikan tatapan kesal pada kakaknya itu.

Sementara itu Sadewa makin tidak sabar. Tangannya meraih pinggang ramping Nakula, begitu ramping sampai Sadewa tidak berhenti memuji keindahan tubuh adiknya sendiri. Jemarinya mengelus lembut pinggang itu, menggenggamnya, sebelum dalam satu detik ke depan ia turunkan paksa tubuh Nakula, membuat penisnya yang baru setengah masuk itu kini sudah masuk sempurna ke dalam lubang anal Nakula.

Nakula menjerit, merasakan bagaimana lubangnya terasa perih dan panas karena dimasuki paksa oleh penis jumbo itu. Tanpa sadar, air matanya mengalir, membuat Sadewa terkekeh pelan sebelum memajukan wajahnya, menjilat air yang mengalir di pipi adiknya itu.

Belum juga Nakula pulih dari syoknya akibat kontol besar itu, Sadewa dengan ketidaksabarannya justru menggerakkan penisnya. Ia mulai bergerak pelan, sebelum tanpa aba-aba mulai bergerak lebih cepat. 

"Mas--hnghhh! Ah--enak--nghh!"

Wah, sialan. Sadewa pikir adiknya akan menangis merengek kesakitan. Tapi Nakula justru mendesah keras-keras seolah menunjukkan betapa enaknya kontol kakak kembarnya itu. 

Sadewa tentu tidak akan protes. Ia menyukai apapun reaksi Nakula saat di ranjang. Mau ia menangis, menjerit, meronta, sampai reaksi telernya, semua Sadewa suka.

"Mas-haa... Mas Dew--aahh...."

Tangan besar itu bergerak, mengelus rambut biru terang itu dengan lembut.

"Iya, sayangnya Mas?"

Tubuh Nakula terlonjak-lonjak di atasnya. Sadewa sudah tidak lagi menggerakkan tubuhya. Nakula sendiri yang mengambil alih permainan. Ia memperhatikan bagaimana wajah cantik Nakula kini penuh dengan liur dan keringat. Matanya yang biasanya ia buat juling untuk bercanda itu kini benar-benar juling karena keenakan. Pipinya yang putih itu memerah sempurna. Rambutnya sudah lepek, basah karena keringat.

"Enak, ya, kontolnya Mas?"

Kepalanya mengangguk dengan bibirnya yang ia gigit kuat.

"Nghhh... iyahh... enakhh... kontolnya Mas--heukk! enakk...."

Sadewa sudah hampir di ambang batas kewarasannya saat melihat Nakula melonjakkan tubuh di atasnya. Adiknya itu terlalu cantik, sangat cantik sampai Sadewa lupa bahwa Nakula adalah adik kembarnya sendiri.

Kemudian saat ia merasakan lubang Nakula mulai mengetat, ia mulai menggenggam penis milik sang adik. Ia gerakkan tangannya seiring dengan gerakan Nakula di atas penisnya.

"Ah, Mas! Mau keluar--nghh aku mau--anghh...!"

Sadewa hanya meladeni racauan adiknya itu dengan gerakan cepat pada penis Nakula. 

"Iya... keluarin aja--shhh... keluarin aja, Sayang--hhh...."

Gerakannya makin tak terkontrol. Nakula bergerak seolah dirinya tidak mengenal norma--menikmati kontol milik kakak kembarnya sendiri.

"Ahhh Mas aku keluar--nghhh aku keluar--ANGHHH!!"

Sadewa bisa merasakan penisnya diremat erat di dalam lubang senggama Nakula. Ia mendesis merasakan kuatnya otot rektum Nakula berdenyut seiring dengan penis Nakula yang mengeluarkan spermanya. Air maninya itu menyembur sampai ke dada Sadewa, nyaris mengenai dagunya. 

Tubuh Nakula terkulai lemas. Dadanya naik turun mengais oksigen, merasakan nafasnya seperti sehabis lari marathon. Tangan Sadewa naik, mengelus rambut biru itu dengan lembut. Nyaris saja Nakula ketiduran kalau saja Sadewa tidak bersuara.

"Masih kuat, kan? Mas belum keluar."

Nakula kemudian menegakkan tubuh lagi, kemudian perlahan mengangkat tubuh sampai penis besar Sadewa terlepas dari lubangnya. Tubuhnya ambruk, sengaja ia rebahkan di samping Sadewa, kemudian memberi kode agar Mas-nya itu gantian menggenjotnya.

Sadewa yang paham langsung ambil posisi. Ia mengukung tubuh Nakula, membuat adiknya yang sebenarnya tidak kecil-kecil amat itu jadi tampak kecil dan rapuh di bawahnya. Ia kemudian memposisikan penisnya kembali di pintu masuk lubang anal Nakula. Ia dorong perlahan, sampai kemudian seluruh penisnya masuk sempurna ke dalam lubang indah itu.

Tak henti-hentinya Sadewa mendesis merasakan penisnya dijepit erat oleh lubang yang sudah ia perawani beberapa tahun lalu itu. Ia gerakkan penisnya pelan-pelan, menikmati bagaimana dinding-dinding lubang Nakula memijit dan menggesek penisnya. 

"Na, lubang kamu enak banget. Lubangnya cuma buat Mas, kan?"

Nakula baru akan menjawab saat Sadewa tiba-tiba menggerakkan penisnya dengan cepat. Ia tersentak, refleks melotot saat merasakan penis besar itu menumbuk analnya habis-habisan. Jawaban yang sudah ia siapkan tadi lenyap, tergantikan oleh desahan dan teriakan nama Sadewa. 

"Ahh... enak ya Na kontolnya Mas? Sampai teriak-teriak--ughh... kayak gitu?"

Nakula masih hendak menjawab. Namun lagi-lagi yang keluar dari mulutnya hanyalah desahan-desahan cabul.

"Anghh... Mas--nghhh ahhh--heukkhNGHHH!"

Sadewa terkejut saat tiba-tiba penis Nakula menyemburkan sperma lagi. Kali ini tidak sekental yang pertama, namun tetap banyak sampai membuat Sadewa geleng-geleng kepala.

"Seenak apa sih kontol saya sampai kamu keluar gitu? Ga sadar ya pas keluar? Emang udah tolol ya keenakan digenjot?"

Nakula hanya bisa menggeleng. Ia tidak tahu dan tidak paham cara bicara. Otaknya seperti sudah beku saat Sadewa sama sekali tidak berhenti meskipun Nakula tengah ejakulasi.

"Ah, Na... saya mau keluar--nghh Mas mau keluar ya, Na."

Gerakannya semakin cepat dan semakin mantap. Namun di tengah gerakan cepatnya itu, tiba-tiba Nakula mendorong tubuhnya.

"Mas bentar--aghh aku pengen--nghh pipis!"

Tapi Sadewa hanya mengangkat alis, sama sekali tidak mengurangi kecepatannya.

"Mas lepas dulu! Aku pengen pipis--nghhh!"

Lagi, Sadewa hanya tersenyum. Gerakannya justru semakin cepat, sengaja menumbuk titik nikmat Nakula dengan mantap.

"Pipis aja, Sayang."

"Anghh janganhh...! Mhauu pi--pishh!"

"Iya, keluarin aja pipisnya."

Gerakannya makin cepat, makin brutal. Ia genjot kuat lubang yang kini sudah berkedut itu. 

"Ahhh mau pipis!! Ga tahan--anghhh!"

Sadewa memejamkan mata, merasakan denyut lubang yang menjepitnya semakin erat itu. Ia menggigit bibir, merasakan penisnya yang sudah siap meledak kapan saja.

"Sayang, Mas mau keluar--nghh!"

"Aaahhh pipis!! Nakul pipis--aaahhhh!"

Bersamaan dengan penis Sadewa yang menancap dalam, aliran spermanya memenuhi lubang Nakula, saat itu juga lah penis Nakula menyemburkan cairan urin miliknya. Banyak, sangat banyak sampai sprei di bawah mereka basah kuyup.

Beberapa detik Nakula menyemburkan pipisnya, Sadewa perlahan mengeluarkan penisnya dari lubang senggama. Bisa ia lihat spermanya mengalir keluar dari lubang kecil itu, turut membasahi sprei di bawah mereka.

Detik saat Sadewa kemudian mengangkat pandang, ia melihat Nakula sudah nyaris menangis. Kedua matanya merah, genangan air sudah berkumpul siap untuk ditumpahkan. Dan saat Sadewa tertawa, tangis Nakula pecah.

Ia malu setengah mati.

"Mas dibilang berhenti dulu aku mau pipis!"

Sadewa terbahak melihat Nakula yang merengek di bawahnya itu. Ia elus pelan pipi yang berlinang air mata itu sembari menepuk pelan kulit kemerahan itu.

"Nggak apa-apa, kamu tetep cantik di mata Mas, Nakula."

Nakula merengek lagi. Ia memukul tubuh Sadewa kesal.

Sedangkan Sadewa masih tetap menertawakan adik cantiknya itu.

Notes:

udah tamat guys, tengs udah baca. maav ngaco karena intrusive thought saya menang lagi.