Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-05-20
Words:
2,446
Chapters:
1/1
Comments:
7
Kudos:
11
Hits:
80

High School Puppy Love

Summary:

Bagi Geon, cinta monyet di SMA itu hanya mitos belaka. Hanya fiksi sebagaimana isi novel yang dipajang di perpustakaan.

Tomoya bilang, Geon harus mengalaminya sendiri agar ia mengerti bahwa kisah romansa di SMA itu memang nyata adanya.

Tapi Geon tidak memiliki keberanian untuk berharap setelah berkali-kali usaha membangun kisahnya sendiri mengalami kegagalan.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Katanya, masa SMA itu masa-masa paling indah. Banyak kenangan manis yang sulit untuk dilupakan di dalamnya, termasuk kenangan romansa berupa cinta monyet.

 

“Cinta monyet apanya!”

Geon melempar novel sembarang di kasurnya. Pandangannya terarah ke langit-langit kamarnya, menghela nafas beberapa kali memikirkan nasib kisah cintanya yang tidak berjalan semulus novel yang baru saja dibacanya dan tidak ia selesaikan karena kepalang kesal.

Saat itu tahun ketiganya di SMA, menjelang semester akhir. Urusan cintanya tidak pernah berhasil. Geon pernah berpacaran satu kali dengan seorang kakak kelas, namun Geon tidak lebih hanya dijadikan bahan pamer karena parasnya yang manis. Geon memutuskan hubungannya karena lelah setiap saat ia harus mengirimkan fotonya dan harus selalu mengunggah momen ke sosial medianya saat mereka pergi berdua.

Selain dari itu, sudah tiga kali Geon mengalami cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Geon mengerang lagi. Pikirannya melayang pada seseorang yang telah enam bulan terakhir disukainya diam-diam. Jika biasanya Geon selalu mengambil tindakan dengan menyatakan perasaannya, kali ini ia merasa ada sesuatu yang menahannya untuk melakukan itu. Entah karena ketakutannya akan ditolak lagi, atau karena ia sekarang lebih nyaman menjadi pengagum dari jauh. Geon tidak tahu pasti opsi mana yang paling benar.

 

*****

 

“SO GEON!”

Geon terkejut, seisi koridor ikut menoleh pada sumber suara.

Uemura Tomoya. Geon menghela nafas. Temannya yang satu ini entah bermaksud pamer karena suaranya yang bagus atau ia memang berniat membuat Geon kesal di pagi hari dengan memanggilnya (meneriakinya) ketika berjalan di koridor menuju kelas.

Sekarang semua mata tertuju pada Tomoya yang berlari ke arah Geon kemudian merangkulnya. Geon rasanya ingin pura-pura tidak mengenalnya.

“Berisik banget sih.” Geon lanjut berjalan dengan Tomoya yang masih merangkulnya, tertawa tanpa rasa bersalah.

“Gimana novel yang kemaren gue pinjemin? Seru kaan?” tanya Tomoya.

“Seru nggak, bikin iri iya.”

Tomoya menertawakannya. “Makanya cari pacar biar baca novel romantis nggak iri. Padahal itu novelnya seru loh, gue baca itu udah, berapa kali ya? Lebih dari sepuluh kali kayaknya.”

Geon menggelengkan kepalanya. “Lo harus mulai ganti bacaan.”

Tomoya tertawa lagi. Entah mungkin segala yang ada pada Geon selucu itu untuk ia tertawakan atau memang selera humornya yang rendah.

Sementara Tomoya memainkan ponselnya, masih dengan sebelah tangan merangkul Geon, Geon tiba-tiba berhenti berjalan membuat Tomoya ikut berhenti.

“Kenapa—”

“Puter balik yuk jangan lewat sini.”

Tomoya mengernyit, Geon sudah hampir membalikkan badannya sebelum Tomoya kemudian mengerti apa yang terjadi dan kembali merangkul Geon, mencegahnya untuk berbalik dan senyuman melengkung di wajahnya.

“Gimana mau pacaran, baru papasan aja udah pengen puter balik.” Tomoya menyindirnya sambil memaksa Geon untuk kembali berjalan.

Geon tidak bisa menolak, tenaga Tomoya lebih besar darinya. Ia hanya pasrah, membiarkan tungkainya mengikuti Tomoya yang dengan sengajanya, membuat Geon sebal ketika ia berhenti di depan orang yang menjadi alasan Geon untuk memutar arah sebelumnya.

“Pagi Haru hehehe.” Tomoya menyapa dengan senyuman teramat lebar.

“Pagi Moya, pagi- Geon?”

Geon yang tadinya menunduk kemudian mengangkat kepalanya, tersenyum canggung ke arah Haru. “Pagi..”

“Haru, gue denger-denger lo suka baca buku ya?” tanya Tomoya membuat Geon menahan kesal karena ia sengaja membuka topik pembicaraan agar ada alasan untuk berdiri lebih lama di sana.

“Iya, tapi biasanya cuma baca novel sih. Kenapa emang?”

“Waah, kebetulan! Geon juga suka baca novel, katanya mau minta rekomendasi novel romance. Kemaren dia baca punya gue katanya kurang suka, kali aja dia suka apa yang lo baca.”

Geon ingin menjitak Tomoya sekuat tenaga.

“Oh, boleh boleh. Gue juga baca novel romance kok, cuma gue kurang tau Geon bakal suka atau enggak. Nanti ke perpus aja pas istirahat, gimana? Gue kasih liat beberapa yang pernah gue baca.”

“Oke kalo gitu nanti Geon ke perpus pas istirahat. Duluan ya Haru, daaah!”

Tomoya melambaikan tangannya, kembali menyeret Geon yang merasa entah dimana ia harus menaruh wajahnya ketika bertemu Haru nanti.

“Kenapa sih lo nggak nanya gue dulu? Astaga, Uemura Tomoya! Muka gue harus ditaruh dimana??”

Geon mengeluarkan kekesalannya ketika keduanya telah duduk di kelas. Rambutnya ia acak-acak, ekspresi kesalnya terlihat sana-sini tapi Tomoya tidak merasa bersalah sama sekali.

“Denger ya, kalo gue nggak kayak gini, bisa-bisa sampe lulus Haru nggak bakal tau kalo lo suka sama dia.”

Geon kembali mengangkat kepalanya yang sebelumnya ia telungkupkan di antara lipatan tangannya di meja. “Tapi Moya, gue tuh capek, setiap gue yang mulai pasti akhirnya jelek, dan ini udah tiga kali berturut-turut, gue nggak mau Haru jadi yang keempat kalinya.”

Tomoya mendelik. “Namanya juga nyoba, nggak ada yang tau hasilnya bakal gimana. Daripada nggak dicoba, nggak bakal tau sama sekali kan?”

Perkataan Tomoya memang ada benarnya, tapi Geon tetap berhati-hati. Ia berusaha untuk tidak menunjukkan ketertarikannya berlebihan saat bersama Haru yang saat itu benar-benar membawanya menuju rak berisikan novel di perpustakaan.

“Lo biasanya emang suka baca novel romance ya?” tanya Haru memecah keheningan.

“Gue baca apa aja sih tapi baru tertarik romance akhir-akhir ini karena Moya.”

Haru mengangguk tanda mengerti. “Gue nggak nyangka orang kayak Moya bakal suka baca juga, kirain hidupnya cuma buat dance aja.”

Geon tertawa pelan, canggung. Karena terlalu membatasi diri ia jadi bingung sendiri harus bertingkah seperti apa. Ia takut salah sedikit saja Haru tidak akan menyukainya.

Geon berjalan pelan di belakang Haru yang tangannya memindai judul beberapa buku di rak yang dilewatinya, sesekali berhenti untuk mengambil salah satu.

Geon tidak bisa menebak kali ini entah akan menjadi keberuntungannya atau bukan karena ia menyukai sosok seperti Haru yang dengan melihatnya pun, Geon merasakan aura positifnya. Haru disukai banyak orang karena sifatnya yang ramah, temannya banyak dimana-mana padahal ia hanya mengikuti ekstrakurikuler dance yang anggotanya tidak sebanyak ekstrakurikuler lain yang memungkinkan untuk terbentuknya lingkaran pertemanan yang lebih luas.

Karena itulah Geon tidak bisa secara gamblang menunjukkan perasaannya pada Haru. Ia tidak ingin dicap terlalu bawa perasaan karena Haru yang baik padanya, karena faktanya, Haru baik kepada semua orang. Mungkin Geon saja yang berlebihan karena saat ia mengikuti ekstrakurikuler dance di awal tahun ajaran kelas 11, Haru lah orang pertama yang mengajaknya berbicara dan mengenalkannya dengan teman-teman yang lain.

Geon merasa ia harus semakin mengurungkan keinginannya untuk menunjukkan perasaannya pada Haru atau ia akan kehilangan Haru sebagai temannya.

 

*****

 

Sudah satu minggu Tomoya mengeluh karena ia tidak bisa mengajak Geon pergi bermain. Geon benar-benar sibuk dengan novel yang direkomendasikan Haru sehingga ia menolak setiap ajakan Tomoya untuk pergi sepulang sekolah.

“Gue ngebantuin lo bukan buat bikin lo jadi cuekin gue, Geon...” Tomoya mengetuk-ngetuk jarinya di atas tangan Geon yang hanya menghela nafas melihatnya.

“Gue kan di sekolah sama lo terus, Moya. Lo ngomong gini kayak gue bener-bener seminggu gak ketemu sama lo aja. Kita cuma gak pergi main doang, udah deh.”

Tomoya cemberut, ia masih berusaha mengalihkan perhatian Geon dari novelnya.

“Jangan hari ini, ya? Gue kan kemaren seminggu abis baca terus, hari ini mau istirahat. Mumpung besok udah Sabtu, kita mainnya besok aja, oke? Terserah mau kemana, mau dari pagi juga boleh, gimana?”

Tomoya akhirnya tersenyum sumringah. “Oke! Besok gue ke rumah lo jam sembilan pagi, harus udah rapi nggak terima alesan bangun kesiangan.”

Geon mengangguk. “Iya iya, sekarang lepasin tangan gue, gue mau ke perpus balikin novelnya terus langsung pulang. Lo langsung pulang juga.”

Geon kemudian menutup novel yang selesai dibacanya dan membereskan alat tulisnya karena bel pulang sudah berbunyi sejak 10 menit lalu.

“Ya udah deh gue pulang duluan ya. Awas besok jangan lupa. Daah!” Tomoya segera berdiri, menjauh sambil melambaikan tangannya dan berkali-kali mengatakan ‘jangan lupa besok’ membuat Geon hanya tertawa menanggapinya.

Setelah selesai dengan urusannya, Geon kemudian menggendong ranselnya dan memeluk 4 buah novel untuk ia kembalikan ke perpustakaan.

Geon tidak tahu skenario macam apa tapi saat itu, Haru ada di sana sebagai pemandangan pertama yang Geon temukan ketika memasuki perpustakaan.

“Haru? Lagi ngapain?”

“Oh, ini gue lagi gantiin penjaga perpus bentar soalnya orangnya lagi ke toilet. Lo mau balikin buku?”

Geon mengangguk, menyerahkan 4 novel di pelukannya. “Ini novel yang waktu itu, mau gue balikin soalnya udah masuk tenggat waktunya juga.”

Haru mengambil semua novel dari tangan Geon, membukanya satu persatu untuk menandai kartu pinjam yang terselip di dalamnya. “Ini udah selesai lo baca semua?”

“Udah, makanya gue balikin semua. Kalo belum juga kayaknya bakal minta perpanjangan waktu sih.”

Haru tersenyum, tangannya masih sibuk dengan pena. “Hebat banget cuma seminggu, gue waktu itu lama banget selesainya.”

Geon menanggapinya dengan tertawa kecil. Haru tidak tahu Geon melakukannya demi dirinya bahkan hingga mengabaikan Tomoya yang memgeluh setiap hari.

Ketika selesai dengan urusan penandaannya, Haru mengangkat kepalanya, menemukan Geon yang sibuk memindai isi perpustakaan. “Lo pulang sama siapa?”

“Hah? Gue?”

Haru tertawa. “Iya, lo. Nggak ada siapa-siapa lagi di sini.”

Geon mengusap tengkuknya, tertawa canggung. “Gue pulang sendiri, naik bus.”

“Emangnya kalo udah sore gini masih ada?”

“Ada tapi agak lama sih.. biasanya nunggu sampe setengah jam.”

Haru membulatkan mulutnya tanda mengerti. “Nggak takut nunggu sendiri di halte? Katanya sih suka ada—”

“Haru!”

Haru tertawa dengan reaksi ketakutan Geon bahkan sebelum Haru mengatakan kelanjutannya.

“Mau pulang bareng gue?”

Geon mematung beberapa detik.

Kembalinya penjaga perpustakaan yang sibuk bertukar ucapan terima kasih dengan Haru menyadarkannya kemudian.

“Gimana? Mau nggak?” tanya Haru sekali lagi. Ia berjalan ke arah luar perpustakaan beriringan dengan Geon.

“Ngerepotin nggak? Rumah gue agak jauh..”

“Gapapa lah, lagian gue jarang nganterin temen pulang, sekali-kali.”

Temen ya, temen, hahaha temen...’ batin Geon.

“Ya udah boleh kalo gitu. Tapi gue nggak bawa helm?”

Haru kemudian menunjukkan helm lain yang menggantung di motornya saat mereka sampai di parkiran.

“Tadi pagi gue nganter kakak gue dulu, pake aja gapapa.”

Geon menerima uluran helm dari Haru dan memakainya dengan canggung.

“Udah? Ayo.”

Geon duduk di belakang Haru dengan tangan yang ia gunakan untuk memegang tas Haru yang berada di depannya. Sejujurnya ia bingung harus berpegangan ke mana lagi.

“Udah, Haru. Dari gerbang nanti belok kanan ya.”

“Okee!”

Kemudian motor Haru berlalu dari parkiran seiring munculnya senyum di wajah Geon karena semua ini tidak pernah ia rencanakan, berani membayangkannya pun tidak.

 

*****

 

Dan di sinilah mereka, di depan sebuah toko yang tutup.

Toko?

Iya, keduanya terjebak hujan, tepat 5 menit sebelum sampai di rumah Geon. Tadinya Geon bersikeras agar ia pergi dengan berlari ke rumahnya saja karena sudah dekat tapi Haru menolak dengan alasan hujannya terlalu deras untuk diterobos.

“Jadinya lo malah kelamaan di sini, Haru.. udah mau malem.” Geon masih merasa tidak enak.

“Gapapa, kan nggak ada yang tau juga bakal hujan kayak gini. Gue gak masalah pulang kemaleman kok, asal lo nggak kehujanan, kan gue yang nawarin lo pulang bareng.”

Geon meringis. Kenapa ada orang sebaik Haru di dunia ini.

Kemudian hening cukup lama. Yang terdengar hanya suara hujan yang mulai mereda dan kendaraan yang berlalu-lalang di jalanan depan mereka.

Geon mulai merasakan dingin yang menjalar ke badannya, terutama karena ia tidak memakai jaket sehingga seragam yang dipakainya tidak terlalu membantu. Ia beberapa kali menggosokkan tangannya dan menempelkannya ke pipinya.

“Dingin?” tanya Haru.

Geon menoleh, mengangguk. “Gue nggak bawa jaket, kirain nggak bakal hujan.”

“Sini.” Haru mengulurkan tangannya.

Geon mengernyit, membiarkan tangan Haru mengawang di depannya beberapa saat. “Apa?”

“Tangan lo, sini.”

Geon ragu tapi ia menyambut uluran tangan Haru. Kemudian Haru menarik tangan keduanya ke dalam saku jaketnya. Membiarkan Geon yang rasanya ingin lari dari sana saat itu juga karena demi apapun, ini sudah lebih dari ekspektasinya.

“Makasih...” Geon mencicit kecil, ia tidak bisa melihat ke arah Haru sekarang.

“Tangan lo dingin banget. Itu pipi lo juga merah, lo sakit? Apa lo ada alergi dingin?”

Geon menggeleng cepat. Haru benar-benar tidak tahu apa-apa soal mengapa pipi Geon memerah.

Keduanya kembali tenggelam dalam hening untuk beberapa menit kemudian hingga Geon yang membuka suara pertama. “Udah lumayan reda, Haru. Mau pergi sekarang?”

Haru menengadahkan sebelah tangannya, merasakan rintik hujan yang tidak membuat tangannya terlalu basah.

“Ya udah, ayo.” ucapnya sembari melepaskan tangan Geon dari genggamannya.

Ada sedikit kecewa yang Geon rasakan saat hal itu terjadi tapi kemudian sesuatu kembali mengejutkannya.

“Haru, ngapain? Nanti lo kedinginan?”

Haru melepaskan jaketnya dan memakaikannya di kedua bahu Geon.

“Nggak, pake seragam doang juga udah ngebantu kok. Justru lo yang harusnya nggak boleh kedinginan. Ayo naik.” jawab Haru sambil mengulurkan helm untuk Geon.

Geon bahkan sudah tidak lagi merasakan dingin karena seluruh rasa panas bermuara di pipinya.

 

*****

 

“Haru, makasih ya udah repot-repot nganterin gue pulang sampe minjemin jaket segala. Ini jaketnya gue cuci dulu ya? Nanti gue balikin kalo udah wangi!”

Haru tertawa. “Iya, gapapa, gak ngerepotin juga kok santai aja.”

“Ya udah gue masuk ya? Udah malem juga. Lo hati-hati di—”

“Eh, bentar.” Haru memotong perkataan Geon kemudian sibuk membuka tasnya, mencari sesuatu.

“Kenapa?”

Haru kemudian menyodorkan sebuah novel. “Ini, gue baru selesai baca, kali aja lo juga suka.”

“Astagaa kenapa sih lo tuh, padahal kan bisa besok-besok lagi aja.” Geon menerima uluran novel tersebut. Novelnya terlihat masih sangat rapi, mungkin masih baru.

“Kan biar langsung lo baca, hehe. Gue pulang ya, Geon. Daah!”

“Daah Haru, hati-hati!”

Kemudian Haru berlalu dari pandangannya. Geon segera berlari ke dalam rumahnya, ingin melepaskan hasratnya untuk berteriak karena seluruh kejadian tak terduga hari ini.

 

*****

 

Setelah mandi dan berganti pakaian, Geon menjatuhkan diri ke kasurnya. Tangannya menarik novel yang diberikan Haru dari nakasnya.

“Kenapa ya Haru baik banget padahal gue nggak minta pinjem novelnya.”

Geon bermonolog, membolak-balik novel tersebut untuk melihat sampulnya kemudian membuka lembarannya dengan cepat namun segera terusik dengan penanda yang jatuh ke wajahnya.

“Lucu banget bookmarknya.” Geon meneliti penanda bermotif beruang putih yang berukuran cukup besar itu, membaliknya kemudian menemukan tulisan penuh yang membuatnya mengernyit dan segera duduk untuk membacanya. Itu tulisan tangan Haru.

Hai Geon,

Gue bingung gimana bilangnya, maaf ya kalo ini aneh. Tapi buat saat ini gue cuma bisa nulis di sini karena gue belum siap sama reaksi lo kalo gue ngomong langsung.

Gue suka sama lo. Udah lama, dari sejak kelas 11. Gue suka perhatiin lo hehe maaf ya kalo gue keliatan aneh lagi tapi waktu itu gue denger lo lagi pacaran sama kakak kelas, makanya gue sempet mundur. Tapi karena sekarang dia udah lulus dan kata Moya lo nggak ada hubungan apa-apa lagi sama dia, jadi gue berani buat ngakuin ini semua.

Gue nggak tau lo suka sama gue juga atau enggak, tapi Geon, gue nggak maksain apapun kok. Kalo lo nggak suka sama gue, lo boleh balikin novel sama bookmarknya. Tapi kalo lo juga suka sama gue, novel sama bookmarknya buat lo. Gue tunggu jawabannya kalo kita ketemu di sekolah ya.

Geon diam. Kemudian ia menenggelamkan wajahnya di bantal, berteriak sekuat tenaga.

“Astaga astaga astaga astaga sumpah ini nggak mimpi??” Geon menampar wajahnya sendiri kemudian meringis.

Kejadian hari ini sudah lebih dari cukup untuk membuat Geon senang tapi dengan penanda yang masih berkali-kali ia baca ulang tulisannya, membuat Geon semakin merasa semuanya tidak nyata.

Haru adalah orang yang Geon tidak berani taruhkan harapan padanya tapi justru Haru sendirilah yang memunculkan harapan-harapan itu. Bahkan lebih dari harapan, Haru membuat apa yang Geon inginkan menjadi nyata.

Tentang kisah menyenangkan di SMA, tentang cinta monyet, tentang perasaan suka yang terbalaskan.

Dan tentang Geon yang akhirnya memiliki seseorang yang tulus menyukainya.

 

SELESAI.

Notes:

A little contribution for celebrating NEXZ's 2nd anniversary and a gift for my beloved best friend. 🤍