Work Text:
Lapisan pembatas itu hanya kain tipis dari korden yang terpasang asal-asalan di jendela. Jarak rumah sangat dekat, hanya sekitar 4 meter tidak genap. Sangat dekat untuk bisa mengintip eksistensinya, namun terlalu jauh untuk bisa menggapainya.
Matanya yang bulat, selalu nampak berbinar dan dibalut dalam lengkungan indah lentiknya bulu mata yang dimiliki. Kini mata indah itu sedang sibuk menyibak sedikit celah kordennya untuk mengintip ke sebelah.
Rantai bergerigi, berputar sangat cepat sedang membelah besarnya gelondongan kayu yang dibaringkan. Seseorang dengan celana kolor hitam sedikit kebesaran, tanpa memakai atasan, adalah pria yang sedang mengoperasikan alat berat tersebut dengan cara yang... Jantan.
Otot lengan yang kuat dan licin oleh keringat itu bergerak menekan kayu yang ada di bawahnya satu per satu hingga terbelah. Suara mesinnya bising dan berisik sekali. Namun telinganya tidak meluapkan protes selagi mata indahnya tetap mendapatkan asupan menggiurkan dari keseluruhan otot lengan yang dimiliki, juga otot bahu yang kokoh, dada yang bidang, serta terakhir perut kotak-kotaknya yang berhasil membuatnya lapar seketika.
Matanya tidak bisa berpaling. Fokusnya tidak mau teralihkan. Bahkan saat ujung dasternya ada yang menarik, menggoyangkannya pelan seolah ingin membuyarkan seluruh fokusnya, ia tidak menoleh sedikit pun. Matanya sangat sayang untuk melewatkan pemandangan yang ada di depan mata saat ini.
"Ummahh! Mmama! Mma! Mimiik!"
Dan ketika rengekan itu menyapa, ia akhrinya menunduk, mau untuk memberikan atensi kepada si kecil usia 1,3 bulan, yang sedang merengek minta disusui.
"Adek mau enen ya? Sini, sayang." Janda anak satu berparas cantik itu segera mengangkat anaknya untuk duduk di pangkuan. Baju dasternya yang sudah usang dan kucal, dan kancingnya bahkan sudah hilang satu, kini ia tanggalkan lagi kancingnya hingga itu memudahkannya untuk mengeluarkan susu bulatnya dari sangkar -kutang belel dengan tali yang sudah kendor karena terlalu ringkih menampung susunya yang besar serta sering tumpah-tumpah dari wadah.
Saat susunya sudah keluar, dasternya semakin ia sisihkan ke kanan, dan pentilnya ia sodorkan ke mulut sang anak. Tanpa perlu ia arahkan, anaknya sudah pandai untuk menangkapnya sendiri. Sepertinya memang sangat haus hingga begitu tidak sabar untuk segera menyusu dengan rakus.
"Sshh... pelan-pelan adek...nghh!" Bibirnya mengeluarkan desah tipis saat pentilnya dihisap terlalu kuat oleh sang anak.
Sambil menyusui anaknya, Yulita atau biasa dipanggil Yul, kembali menggerakkan tangan untuk menyibak korden jendela. Ia melanjutkan aktivitasnya untuk memandang tukang potong kayu yang bekerja di sebelah rumah, yang memang adalah sebuah pabrik pengolahan kayu mentah.
Lelaki pemegang alat berat, gergaji mesin besar dengan gerigi rantainya yang tajam, sekarang sedang beristirahat. Duduk di atas gelondongan kayu besar, dan tengah mendongak dengan sebotol air mineral dalam tegukan.
Mata Yulita tidak teralihkan dari bagaimana jantannya jakun sang lelaki bergerak naik dan turun saat menenggak air.
"Aah..." tidak sadar ia keluar desahan. Ia menunduk ke bawah, melihat pentilnya dihisap kuat hingga susunya keluar deras dalam tegukan anaknya.
Fantasi kotor membayangi. Bagaimana jika yang sedang menyusu padanya, menghisap susunya kuat-kuat, menenggak asinya rakus sampai jakunnya naik-turun adalah lelaki itu, bukan bayinya. Bagaimana jika pentilnya ditawan oleh mulut dengan bibir tebal itu dengan posesif, dihisap kuat sampai pipi mengempis, lalu sedangkan dadanya yang satu akan diremas-remas nakal oleh tangan kasar yang biasa memegang alat berat itu.
Dalam fantasi yang Yulita wujudkan dengan satu tangan naik ke atas, menyentuh satu dadanya yang lain yang tak terjamah. Ia remasi pelan, bahkan dengan tergesa juga ia keluarkan dari daster dan kutangnya. Remas-remas dan cubiti pentilnya sendiri. Ia beri kenikmatan pada diri sendiri dengan bayangan bahwa yang tengah menggerayanginya adalah lelaki berbadan kekar dengan keseluruhan otot yang nampak begitu menggairahkan itu.
Nikmatnya...
"Ngh... mau nyusuin Mas Irul! Ahh... dia mau susuku ndak yahh!! Ahhh sayangh! Enennya kenceng banget sihh..." Yulita menunduk, menatap bayinya. Rakusnya sang anak dalam menyusu, menyadarkan Yulita kalau sepertinya bayinya sedang sangat lapar.
Dan jika seandainya yang sedang sangat lapar dalam menyusu adalah Irul, Yulita sungguh akan sangat hilang akal. Pasti rasanya akan nikmat sekali selama menyusuinya. Membuat badan terasa panas, seperti terbakar, dan gelenyar aneh akan hinggap di perutnya. Menebarkan sensasi menggelitik, bergolak gila sampai akhirnya berhasil membuat bawah pusarnya menjadi basah.
"Ahh...memekku basah lagi cuma karena liat Mas irul minum! Nghh... mau, mau juga susuku diminum begitu sama Mas irul!" Yulita menatap lapar dengan bagaimana Irul nampak seksi hanya karena sedang minum.
Air mengalir dengan sedikit berantakan, jatuh membasahi dagu hingga menetes di leher. Membayangkan bahwa itu adalah air susunya yang berantakan, yang diminum serampangan, acak-acakkan secara langsung dari pentil mancungnya oleh mulut rakus Mas Irul, sampai jejak putihnya mengotori pinggiran mulut, dagu dan leher. Fantasi kotornya itu berhasil memancing memeknya jadi semakin basah.
Yulita sudah kepalang sange. Ia menunduk dan tepat sekali anak lanangnya sudah memejamkan mata, terlelap begitu damai.
Yulita meletakkan bayinya ke ayunan bambu, menyelimutinya dan menepuk-nepuk badannya pelan hingga ia pastikan sang anak telah lelap.
Baru setelah selesai urusannya dengan sang anak, Yulita tidak berbasa-basi sedikit pun untuk menaikkan daster ke atas, lalu celana dalam ia turunkan, dan kemudian duduk di ranjang, mengangkang menghadap jendela.
Yang akan dia lakukan adalah memanja diri sambil mengintip Mas Irul, sambil membayangkan bahwa yang tengah memberinya nikmat adalah lelaki perkasa, gagah, tinggi, besar yang sudah lama ia lirik itu.
"Ahh... Masshh! Kuceek memekh akuh yah!" Yulita memakai dua jarinya untuk membelah memeknya. Ia gosok-gosok dari atas ke bawah. Rasa lembap segera meliputi, ia tidak menyangka kalau memeknya sudah sebasah itu.
Korden jendela sedikit terbuka, membuat Yulita bisa tetap mengintip dan melihat sosok Irul. Paras tampan dan gagah pria itu, sudah pasti menjadi amunisi terbaik untuk membuat tubuhnya semakin memanas, gairahnya semakin naik, dan nafsunya semakin tidak karuan.
Dan melihat wajahnya juga memudahkan dirinya untuk semakin jelas mematri bayangan pria itu di dalam kepala, memfantasikan bahwa pria itu memang sedang membantu kegiatannya secara langsung.
"Aduhh Masshh... Itilku cubit gituh Mash! Aah manteep enak bangeet Mas sayang!" Yulita tidak ragu untuk mengeraskan suaranya saat mendesah. Apalagi sekarang suara gergaji mesin yang sangat bising sudah kembali terdengar, maka sudah pasti suara itu dapat menyamarkan suara desahan rusuh miliknya.
Yulita mencubiti itilnya sendiri, membuatnya yang sudah menjadi semakin bengkak. Rasanya nikmat sampai kedua kakinya bergerak semakin melebar, dan begitu juga paha dalam miliknya yang nampak sedikit bergetar.
Dari kaki naik ke atas, tangan kanannya meremasi dada dengan pentil yang ia tarik dan tekan-tekan pelan.
Mata terpejam, lalu terbuka lagi untuk memotret pemandangan Mas Irul yang sedang menekan gergaji di atas kayu. Tangan Mas irul terlihat penuh urat yang menonjol, bewarna ungu dan terlihat sangat kentara. Yulita menatap lapar. Membayangkan bahwa tangan itulah yang saat ini sedang mengobrak-abrik dan mengacak-acak memeknya. Ia usak kasar itilnya, ia kucek dengan gerakan tidak menentu seolah bentuk impulsif dari matanya yang sedang jelalatan memindai setiap lekuk tangan kekar milik Mas Irul.
"Aakhh! MAashh! Kocokk tempikku Mash... Angghh! Enak! Enaakhh!" Yulita mendongak, ia masukkan dua jarinya ke dalam lubang memeknya. Ia kocok kasar, ia korek-korek bagian atas lubang memeknya, titik sensitif dengan permukaan yang agak kasar dan bergerigi. Setiap ia menekannya kuat, setiap ia mengoreknya kasar, kantung kemihnya terasa bergetar dan seperti siap kapan saja untuk menyemburkan air kencingnya.
Matanya tidak terpejam. Matanya menatap fokus Mas Irul. Napasnya berhembus kasar dengan muka yang sudah memerah. Banyak keringat membanjiri, badannya basah seperti badan Mas Irul yang sekarang juga sedang dibanjiri oleh keringat.
"Akhh! Mas! Mash! Akuhh mau pipissh Massh! Ayoo kobok terus memekku Mas!" Tangannya semakin kasar dalam bergerak, matanya semakin berkilat dalam memandang, dan kepalanya semakin liar dalam membayangkan bahwa seluruh kenikmatan ini berasal dari pria itu, dari Mas Irul yang sekarang sedang ia intip dari celah korden jendelanya.
"Aduhh! Pinteer bangeeet mas irul ngobelnya! Aahhh! Pipissh Mash! Aku pipisssh -argh!" Teriakan menggema. Yulita orgasme, sangat hebat dengan air kencing yang mengucur deras.
Memeknya berkedut kasar, lelehan pelumas alami itu keluar tipis dari dinding lubang kawinnya. Sedangkan itilnya membengkak dengan cairan air seni yang masih mengucur dari saluran uretra, deras sekali.
Yulita langsung lemas. Kaki masih terbuka, pinggul sesekali masih mengejan, dan pahanya pun nampak bergetar pelan efek pasca orgasme.
"Lemesh..." Gumam Yulita pelan. Napasnya berhembus semakin kasar, dada naik-turun berantakan, dan saat ia menunduk ke bawah, ia melihat air kencingnya masih mengucur deras.
"Ahh... Mas Iruul! Adeek masih sensitif Mash, jangan dikucekh...nghhh itilkuh linuh Mas!" Yulita mendesah keenakan karena itilnya yang masih sensitif sibuk ia kuceki sendiri, namun dalam bayangannya yang melakukan itu adalah Mas Irul.
Telapak tangan besar dan kasar, mengucek itilnya, menampar itilnya dengan kasar. Membuat semburan air kencingnya menyiprat berantakan mengenai area paha dalam sekaligus kasur di bawahnya.
Ah.... membayangkannya saja berhasil membuat Yulita merasakan lubang memeknya berkedut dengan semakin gila.
Siang yang sangat berkeringat dan panas. Yulita menyudahi kegiatannya saat melihat Mas Irul melangkah menuju ke parkiran truk, berniat mengantarkan kayu yang sudah dipotongi kepada para pelanggannya.
Yulita menatap tidak rela. Masih ingin agar Mas Irul tetap di tempat dan menemaninya menghabiskan siang yang begitu panas itu.
~~~
Yulita pagi itu hanya memakai daster tanpa lengan, hanya memiliki bagian tali pengikat yang ia kaitkan di belakang leher. Ia tidak memakai kutang, karena memang pagi seperti ini jadwalnya untuk memompa ASI.
Padahal anaknya sudah berusia satu tahun lebih, namun asi milik Yulita masih menyumber dengan deras. Padahal kata teman-teman sesama menyusui, kalau bayi sudah memasuki mpasi dan asi sudah bukan sumber asupan utama, perlahan-lahan produksi asi juga akan ikut menurun, tidak terlalu drastis, tapi tetap akan berkurang jika dibandingkan saat bayi masih aktif menyusu.
Namun ini berbeda untuk Yulita. Asinya benar-benar menyumber deras, sangat deras melebihi saat anaknya masih belum mengenal mpasi. Bahkan sesekali saat ia sedang bersantai tidak melakukan apa pun, tiba-tiba saja susunya merembes keluar sampai menyebabkan pakaian yang ia kenakan basah di bagian dada.
Merembesnya sangat banyak, sampai menembus kutang dengan busa tebal miliknya, juga berakhir ke lapisan pakaian luarnya.
Maka dari itu setiap hari ia harus rajin memompa asi agar susunya tidak menyumber hebat sampai tumpah-tumpah, bocor-bocor membasahi baju.
Di tengah kegiatannya memompa asi, tiba-tiba saja Yulita mendengar suara sedikit ribut dan riuh dari sebelah rumah. Begitu melihat jam, 8 pagi, ia langsung tahu kalau suara sedikit berisik di sebelah adalah suara dari para tukang di tempat pemotongan kayu yang sedang bersiap untuk bekerja.
Yulita mendekat. Ia menyunggingkan senyum sambil membuka sedikit kordennya, tentu saja untuk mengintip si tampan Mas Irul yang sudah ia taksir dan lirik sejak lama, sedang bekerja mengangkat bergelondong-gelondong kayu dari truk ke bawah.
"Ganteng banget." Gumam Yulita. "Uda punya pacar belum ya, kayanya belum deh."
Setahu Yulita, Mas Irul itu masih bujang. Anak tunggal dari pengusaha mebel yang memilih untuk membuat usaha baru lain, yaitu pengolahan kayu mentah. Tipe anak pekerja keras karena selain menjadi pemilik usaha, Mas Irul setiap hari juga selalu turun tangan dalam setiap proses berlangsungnya seluruh pekerjaan yang ada di tempat usahanya tersebut.
Mas Irul juga sangat pandai mengelola keuangan, karena buktinya di usia muda sudah berhasil memiliki beberapa petak hutan jati berusia tua yang sangat luas. Itu didapatkan dari hasil membeli dengan uang hasil bekerjanya sendiri.
"Hebat banget." Gumam Yulita sambil membereskan peralatan pompa asinya karena ia sudah mendapatkan sekitar lima kantong asi berukuran 200ml.
Selesai dengan memompa asi, Yulita menengok bayinya yang masih terlelap sehabis ia mandikan tadi. Memiliki kesempatan ini, Yulita segera memanfaatkannya untuk mengerjakan pekerjaan rumah sebelum nanti bayinya bangun dan ia akan dilanda beberapa kerepotan karena harus beraktivitas sambil menggendong anak.
***
Hari itu Yulita pergi berkunjung ke rumah ibunya. Rumah ibunya berada di kecamatan yang berbeda dengannya. Dan untuk sampai ke sana, Yulita dari rumah harus naik ojek pengkolan yang biasa mangkal di tikungan dekat rumah menuju ke jalan raya besar. Dari naik ojek, turun di pinggir jalan raya, lebih tepatnya di halte ala kadarnya, tempat bus biasanya berhenti untuk menurunkan dan membawa naik penumpang. Perjalanan dilanjut dengan naik bus, dan itu butuh waktu sekitar satu jam lebih, dan bisa saja semakin lama kalau bus sengaja berhenti lama di beberapa tempat pemberhentian untuk menanti penumpang.
Dan setelah perjalanan panjang itulah, Yulita akhirnya sampai di rumah ibunya yang kebetulan sekali dekat jalan raya sehingga ia tak perlu berpindah naik kendaraan lain lagi untuk bisa sampai ke rumah ibunya.
Yulita berkunjung bukan karena alasan khusus selain rindu saja dengan ibunya. Ia menjanda kurang-lebih sudah dua tahun ini. Suaminya meninggal karena kecelakaan kerja tepat satu bulan setelah menikah, dan kala itu sebenarnya Yulita berniat untuk memberi kejutan kepada sang suami perihal kehamilannya. Namun nahas sekali, nyatanya hari itu ia sendiri yang malah dapat kejutan dari pihak perusahaan sang suami, kalau suaminya meninggal tergencet mesin pres.
Kebetulan suamianya bekerja di pabrik ban besar yang ada di kota, dan selalu menyempatkan pulang sebulan sekali. Pas sekali hari itu suaminya meninggal di hari seharusnya sang suami pulang untuk menjumpainya. Memang benar hari itu suaminya pulang, namun bukan ke rumah. Akan tetapi kembali ke tempatnya semula, untuk selamanya.
Sejak suaminya meninggal, Yulita sebenarnya tak pernah benar-benar sendiri. Masih banyak keluarga serta tetangga yang perhatian padanya. Apalagi orangtuanya, juga orangtua mendiang suaminya. Mereka sangat perhatian dan penuh kasih-sayang. Sekarang saja Yulita tinggal di rumah yang dibangunkan oleh orangtua mendiang suaminya. Begitu juga seluruh kebutuhan baik dirinya mau pun bayinya, itu juga banyaknya ditanggung oleh orangtua mendiang suaminya.
Tapi meski sudah banyak perhatian dan kasih-sayang, ada kalanya Yulita merasa kesepian, apalagi di rumah ia hanya ditemani oleh bayi kecilnya saja. Maka dari itu untuk mengisi rasa sepinya, sesekali dalam satu bulan, Yulita akan pergi menengok ibunya.
Bertahan di rumah ibunya dari pagi sampai sore, tepat pukul lima sore Yulita memutuskan untuk pamit pulang.
Perjalanan dengan bus sudah Yulita lalui, sampai di jalan raya desa, kondisi sudah sangat sepi karena tadi bus mengalami macet ban bocor, dan harus dibenahi cukup lama. Sekarang sudah jam sembilan, ia berusaha untuk mencari ojek pangkalan yang biasanya berkumpul di dekat warung kopi, tapi nihil, sepi sekali.
"Iya mbak, kalo abis ujan gini apalagi uda malem juga, tukang ojeknya jarang pada mangkal di sini. Lebih suka ke warkop yang di ujung jalan sana, soalnya kan ada tivi gedenya mbak, pada nobar di sana. Jadi di sini sepi deh." Ucap si pemilik warung menjelaskan mengapa kondisi warung sekarang sepi, tidak ada deretan tukang ojek yang biasa mangkal seperti biasanya.
"Oh, ya udah. Makasih ya mbak. Saya permisi dulu." Yulita pun memilih segera keluar dari warung kopi tersebut.
Kondisinya memang baru saja selesai hujan. Jalanan masih basah, sebagian bahkan sampai tergenang air dan nampak licin. Yulita yang sedang menggendong bayi, sekaligus satu tangan lain menenteng tas jinjing berisikan barang-barang perlengkapan mereka selama di rumah ibu tadi, harus berjalan dengan super hati-hati atau nanti bisa terpleset dan jatuh. Agak repot dan susah, apalagi tasnya cukup berat.
Andai saja tadi busnya tidak mengalami kendala, andai juga tidak hujan, Yulita pasti sudah sampai rumah. Tapi karena semua sudah terjadi, Yulita mencoba untuk bersabar, dan jalani saja.
"Ya sudahlah, ikhlas saja. Jalan kaki sampai rumah, anggap saja olahraga." Ucap Yulita berusaha menyemangati diri.
Yulita menunduk, melihat anaknya nampak terlelap dan sejak tadi pun tak pernah rewel. Anaknya memang tipe anak yang kalem dan tenang, tidak pernah menangis sampai menjerit-jerit keras, tidak pernah tantrum secara berlebih juga. Anaknya juga selalu mengerti akan kondisinya, bila ia sedang repot atau apa, anaknya tak pernah meminta atensi, hanya memerhatikan dalam diam, dan baru ketika pekerjaannya sudah selesai maka sang anak akan memanggilnya dengan ocehan tak jelas, meminta diperhatikan.
'TIN!'
'TIN!'
Yulita terkejut saat ada yang membunyikan klakson di sebelahnya, kemudian sepeda motor besar berhenti tepat di sebelahnya. Saat Yulita menoleh, ia kaget sekali sebab pengendara motor yang berhenti tepat di sebelahnya adalah Mas Irul, si lelaki tampan yang sering ia jadikan sebagai bahan fantasinya dalam berbagai aspek kegiatan panas yang membakar. Si pekerja keras dengan otot-otot menawan yang juga nampak keras berbobot -enak untuk diremat-remat.
Astaga... Yulita tak bisa menahan diri tapi kepalanya sudah sibuk sekali memikirkan hal-hal yang sebenarnya tak perlu dalam situasi semacam ini. Tapi serius saja, Yulita pun wajar sekali bila dirinya bersikap seperti sekarang ini. Karena lagipula, ini Mas Irul... siapa juga yang tak akan jatuh bersikap nyaris hilang kendali seperti dirinya baru saja.
"Mbak Yulita, habis dari mana mbak? Mau pulang? Mau ikut bonceng saya mbak?" Tanya Mas Irul kepada Yulita. Ia melihat wanita membawa tas jinjing besar, dengan menggendong bayi yang nampak lelap dalam tidurnya.
Mas Irul bisa tahu kalau Yulita sedang menahan lelah, itu tergambar jelas dari raut wajahnya yang nampak kuyu, tidak ceria dan cerah seperti biasanya saat mereka tak sengaja saling bertukar sapa di halaman wanita itu, saat wanita itu sedang menyapu.
Pakaian Yulita pun malam ini terlihat sedikit lusuh, berantakan dan kotor. Sebuah kemeja lengan pendek, dengan rok di bawah lutut. Karena berjalan di atas jalanan yang licin, berair, dan sedikit berlumpur, setiap pijakan langkah kaki berbalut sendal selop bewarna hitam itu akan menyipratkan sedikit jejak noda lumpur yang mengotori bagian belakang rok Yulita. Tidak terlalu parah, tapi tetap saja kotor. Kemeja yang dikenakan basah terkena gerimis kecil yang masih mengguyur, dan itu juga kusut sekali sebab terus bergesek dengan bayi kecil yang tengah digendong di depan dada.
"Uhm, ini tadi habis dari rumah Ibuk, Mas. Karena busnya tadi mogok lama, sampek sininya telat sekali. Terus juga, ojek yang biasa mangkal pada gak ada, makanya jalan kaki aja." Yulita menjelaskan situasinya kepada Mas Irul.
"Oh, iya. Kalo uda malem begini uda jarang yang mangkal, Mbak. Ayo, saya antar saja sampai rumah, biar bisa cepet istirahat. Wajah Mbak Yulita keliatan capek sekali soalnya." Mas Irul sekali lagi kembali menawarinya, memberi senyum sekaligus mengulurkan tangan untuk mengambil alih tas yang dibawa oleh Yulita.
"Ini gak papa, Mas Irul? Saya takut merepotkan." Yulita bersikap seolah sungkan, ketika nyatanya di dalam hati ia sedang kegirangan.
Kapan lagi dibonceng motor oleh si berondong tampan yang sudah sejak lama telah mencuri atensi hatinya itu.
"Ndak sama sekali, Mbak. Sini naik saja. Lagipula kasihan dedeknya kalo terlalu lama di luar malam-malam begini Mbak. Bisa masuk angin, terus sakit nanti."
Malam itu pun Yulita diantarkan oleh Irul dengan dibonceng sepeda motor. Selama perjalanan itu diisi dengan sedikit obrolan, serta banyaknya kegugupan yang dirasakan oleh Yulita. Apalagi sejak tadi Yulita mengulurkan tangan untuk memegang bahu serta sedikit bagian kaos Irul di bagian pinggang. Irul mengajak mengobrol, namun Yulita malah sibuk memerhatikan jari-jemarinya di bahu dan kaos di bagian pinggang Irul. Ia memberi sedikit remasan di masing-masing tangannya. Membuat otaknya bekerja di luar dari yang pernah ia harapkan.
Seperti otaknya bekerja sendiri, tanpa Yulita minta. Membayangkan bagaimana kondisi ia meremat bahu dan pinggang Irul, bukan karena landasan ia sedang menaiki jok belakang motor milik Irul, akan tetapi karena ia sedang menaiki badan Irul, mendudukinya dari atas, bergerak naik turun, menggenjot kontol pria itu, memakan kontolnya rakus dengan lubang memeknya yang lapar sambil menunduk meremat bahu dan pinggang Irul kuat karena terlalu keenakan dengan sensasi yang ditimbulkan. Dan selama ia bergoyang di atas tubub pria itu, susunya akan ia biarkan bergelantungan di atas dada kekar Irul.
Yulita menggigit bibir bawahnya sendiri.
Hngg... pasti enak sekali. Apalagi kalau mendadak pori-pori kecil di pentil merah hatinya meneteskan beberapa air susu, dan kemudian dari bawah akan langsung ditangkap oleh mulut terbuka Irul. Dikenyot, dihisap kuat-kuat sampai pipi pria itu kempot.
Kotor sekali. Saking kotornya berhasil membuat yang di bawah pusar berdenyut. Memeknya basah. Semakin berkedut, semakin gatal.
Yulita yang duduk dengan posisi mengangkang di belakang Irul, dengan rok yang sedikit terangkat naik, tapi masih dalam batas aman. Kini kedapatan berusaha merapatkan kaki, resah, sebab kelaminnya terus berkedut dan terasa gatal, diakibatkan oleh fantasi kotornya sendiri. Ia rapatkan kaki, tapi sulit, tapi ia ingin sekali menggesek-gesekkan pahanya dengan keras.
Karena kesulitan dan kerusuhan kecil ini, sepeda motoe yang dikendarai Irul sedikit terguncang. Membuat Irul merasa heran.
"Mbak? Mbak Yulita kenapa? Duduknya gak nyaman ya, mau berhenti buat dibenerin dulu ndak mbak?" Tawar Irul.
"Ndak Mas, ndak papa. Cuma tadi digigit serangga aja, jadi kaget terus gak sengaja gerak. Maaf ya Mas kalo tadi sempet bikin motornya goyang." Yulita menolak tawaran untuk turun sambil mengutarakan alasan dustanya kepada Irul karena sudah membuat jok belakang sedikit bergoyang.
"Digigit serangga? Sekarang uda ndak papa mbak? Parah ndak? Duh, di jok biasanya ada jaket tapi tadi pagi tak ambil buat dicuci."
"Ndak papa, Mas Irul. Lanjut aja." Ucap Yulita sambil mengusap halus bahu Irul. Modus saja.
***
Keduanya sudah sampai di rumah Yulita. Sebenarnya Irul mau langsung pulang, tapi tidak disangka sekali mendadak hujan turun mengguyur lagi, dengan lebih deras. Irul tidak membawa jas hujan, dan karena terus mengguyur semakin deras, Yulita pun menawari Irul agar bertahan lebih dulu.
"Mas ujannya makin deres, jangan pulang dulu, neduh di sini saja ndak papa. Sambil menunggu, ini kopinya diminum, Mas. Saya tinggal mandi sama ganti baju dulu, ya."
"Malah jadi merepotkan mbak Yulita. Terima kasih mbak, tak minum dulu kopinya." Irul menjawab sambil memerhatikan penampilan Yulita. Rambut panjang yang disanggul asal, dan sebagian helai rambut tidak ikut tersanggul, nampak sedikit berantakan dan saling melambai kecil setiap kali Yulita bergerak. Pakaian Yulita, kemeja merah muda dengan warna memudar, nampak sedikit basah karena tadi terkena sedikit hujan. Permukaannya tipis, bajunya basah, membuat baju itu menempel, melekat erat menyentuh kulit, mencetakkan dengan epik permukaan tubuh si janda yang sangat terkenal akan kecantikannya itu.
Irul tak bisa berpaling darinya. Matanya terus memandang tubuh itu sambil sesekali menelan ludah gusar. Apalagi saat dua kancing kemeja tersebut entah sejak kapan dalam posisi terbuka. Membuat belahan dada Yulita yang montok, besar, menampakkan diri dengan nyata di depan mata. Ditambah baju yang basah, membuatnya menjadi transparan, kutang dengan warna hitam yang membalut ketat susu montok Yulita, mau tak mau terlihat menerawang dari balik permukaan tipis kain kemeja yang dikenakan.
Irul sudah macam orang ileran sejak tadi sibuk menelan ludah, tak berkedip sedikit pun selama menatap Yulita. Semuanya nampak menggiurkan hingga berhasil memunculkan hasrat dan birahinya. Ia menggeleng pelan, berusaha menahan diri, dan sangat bersyukur saat melihat Yulita sudah melangkah menuju ke rumah bagian belakang untuk mandi.
"Asu! Susune pol gede! Badannya juga mantep tenan!" Irul mengumpat, merasa sangat terpukau dengan susu dan badan Yulita yang sangat luar biasa itu. Susunya besar, bokongnya semok, pinggulnya lebar dan saat melangkah itu berkelok dengan cara yang terlihat sangat sensual di matanya. Pinggang ramping dan kecil, kaki juga jenjang dan indah mulus tanpa bulu.
Cuma melihat saja, Irul bisa merasakan kontolnya mulai bereaksi.
"Sabar, Jon. Nanti pulang kita ngocok." Irul berusaha menenangkan si Jono, atau nama panggilan kesayangan untuk kontol perkasa kepunyaannya yang sudah setengah ngaceng. Ia usap-usap pelan, berharap kontolnya mau tenang, tapi semakin ia usap, ia sadar kalau itu malah membuatnya semakin ngaceng.
Irul pun memilih kembali menikmati kopi hangatnya sambil berusaha menenangkan diri dengan mengenyahkan segala pikiran kotornya. Tapi baru saja ia merasa kondisinya sudah lebih baik, ia malah dibuat terkejut luar biasa dengan kemunculan Yulita dari balik tirai yang memisahkan antara rumah bagian depan dan belakang. Yulita keluar dengan hanya memakai handuk, yang hanya membalut sedikit dari bagian permukaan tubuhnya.
Dada montok nampak menyembul, paha mulus tanpa bulu yang putih bersih, lengan kecil dengan warna kulit yang juga putih, bersih sekali, berkilau licin di bawah terpaan cayaha rumah yang temaram.
Irul kembali tidak tenang, ia kembali dibuat ileran lapar dengan pemandangan yang bisa dikategorikan erotis ini.
"Mas, maaf permisi ya. Tadi saya lupa nda bawa baju ganti jadinya harus keluar begini. Saya ke kamar dulu ya." Ucap Yulita. Beralasan lupa saat sebenarnya sejak awal memang sengaja, dan memang ingin saja menggoda Irul dengan penampilan sangat terbukanya itu.
Irul tak menjawab dengan suara. Ia hanya mengangguk. Ia tak keberatan sedikit pun dengan pemandangan yang Irul suguhkan. Malah sebenarnya... ia senang dengan itu. Bila perlu tak memakai baju secara keseluruhan pun, mata Irul siap sekali untuk menampung seluruh keerotisan yang dimiliki oleh tubuh Yulita.
Yulita masuk ke dalam kamar. Di kamar, lebih tepatnya di keranjang bayi, anaknya terlihat masih terlelap dengan damai. Yulita tersenyum dan menghampirinya.
"Dek, kamu boboknya yang nyenyak ya, Ibuk mau maen dulu sama Mas ganteng di depan. Jangan bangun dulu ya, kasi waktu bentar ya sayang. Kalo kamu nurut, nanti siapa tahu ibuk bisa kasi kamu bapak baru." Yulita tersenyum sendiri, kesenangan membayangkan bisa menjadikan Irul sebagai ayah sambung untuk bayinya yang sejak di dalam kandungan sudah menjadi yatim.
Selesai memberi wejangan untuk bayinya, Yulita bergerak ke lemari, mencari daster dengan potongan lebih terbuka untuk ia kenakan sebagai senjata menggoda Irul. Yulita merasa untuk menggoda Irul tidak akan sulit. Apalagi tadi saat ia baru menampakkan diri dengan handuk, ia bisa melihat dengan jelas pria itu melongo, lalu mata sibuk jelalatan memerhatikan tubuhnya dengan tatapan liar.
Tak usah berusaha keras, Yulita pikir hanya perlu digoda sedikit lagi saja, maka ia pasti berhasil menggaet pria itu untuk bermain dengannya.
Selesai berganti baju, Yulita bersyukur sekali hujan di luar masih mengguyur dengan deras. Seolah itu semakin mendukung rencananya untuk menahan Irul begitu lama malam ini di rumahnya.
Yulita keluar kamar, memakai daster tanpa lengan. Lengannya terlihat, ketiaknya terlihat. Kerah daster dari karet sudah sedikit kendor, sehingga turun dan melorot ke bawah, membuat dadanya yang sengaja tak ia bungkus kutang, menyembul dengan bulat dari balik dasternya.
"Mas Irul, hujannya semakin deras. Jangan pulang dulu, jangan nekat menerobos hujan nanti bisa sakit." Yulita melangkah ke arah kursi panjang dan besar yang terbuat dari kayu jati, berlapis vernish yang membuatnya licin dan berkilau.
Kursi di ruang tamu hanya satu, kursi itu saja. Dan Yulita duduk di sana, bersama Irul, dengan sedikit jarak yang masih membentang di antara mereka.
"Iya, mbak. Numpang neduh dulu ya." Ucap Irul sambil mata memerhatikan pakaian Yulita yang ia sadari itu lebih terbuka, dan lebih memancing birahinya untuk naik.
Daster pendek sekali, berada di atas lutut, dan saat dipakai duduk maka pahanya yang sekal, putih nan mulus itu nampak nyaris secara keseluruhan. Saat Irul berusaha mengalihkan mata, naik ke atas, ia malah bertemu pentil Yulita yang ngaceng, tercetak dari balik kain dasternya yang tipis.
Cobaan datang bertubi. Irul lagi-lagi menelan ludah sampai jakunnya bergerak naik-turun.
Dan Yulita menangkap pemandangan itu. Ia menyeringai tipis, senang sekali melihat Irul memang menaruh minat besar terhadap dirinya. Mungkin memang diawali dengan minat terhadap tubuhnya. Tapi siapa peduli, di awal pun ia sendiri juga menaruh minat di tubuh kekar, berotot super perkasa milik Irul. Baru setelahnya, lambat laun, perasaan baru muncul di dalam hati, ia jatuh cinta kepada Irul.
Yulita berniat untuk memikat Irul dengan tubuhnya, dan selanjutnya secara perlahan akan membuat pria itu terpesona secara sepenuhnya kepadanya hingga tak bisa berpaling sedikit pun darinya.
Optimisme ini akan Yulita bangun sebaik mungkin.
"Iya Mas Irul, santai saja. Kopinya abis, mau saya buatkan lagi ndak? Atau mau yang lain saja selain kopi? Sayang juga ada teh, jahet anget," Yulita berkata dengan suara yang semakin lirih, serupa bisikan. Bokongnya ia geser pelan, mendekat kepada Irul, membuat jarak mereka menjadi semakin terkikis. Dan saat bibirnya berada tepat di sisi telinga Irul, Yulita lantas membisikkan lanjutan kalimatnya yang tadi belum tuntas ia ucapkan, "atau Mas Irul mau susu? Saya juga ada susu, Mas." Bisik Yulita.
Badan Yulita menempel di lengan kekar Irul yang malam ini memakai kaos lengan pendek di atas siku. Yulita gesekkan bagian dadanya yang menempel lengan Irul pelan, sampai putingnya semakin mengeras karena sengaja ia tekan-tekan lumayan kuat di lengan kekar milik Irul.
Selama Yulita melakukannya, badan Irul nampak menegang. Bahu tegap, punggung berdiri kaku, dan lehernya keras sekali tidak mau menoleh ke sebelah, kepada Yulita yang sampai saat ini wajahnya masih ada di dekat telinganya.
Irul kaget sekali. Tidak menyangka kalau serangan dari Yulita akan kontan, dan secepat ini ia dapatkan.
"Mas..." Bisikannya semakin lembut, mendayu dan penuh rayu.
Yang dirayu semakin bergidik di tempat. Bulu kuduk berdiri, meremang dan menggigil sebadan.
"Kok malah diem Mas Irul? Dijawab dong, mau yang mana? Teh, jahe anget, apa mau susu~ Mas?" Yulita semakin menjadi-jadi saat Irul belum meresponnya, namun meski pun begitu, dari Irul sendiri juga belum ada tanda-tanda lelaki ini akan menolaknya.
Mungkin masih kaget. Yulita sangat wajar dengan itu.
Dan untuk menenangkan Irul yang masih syok, maka Yulita pun mengulurkan tangan dan ia daratkan di atas paha milik Irul. Ia usap-usap paha itu pelan, berharap Irul bisa lebih tenang, atau sebenarnya usapannya ini hanya berakhir membuat Irul semakin kaget dan tegang.
Yulita melirik ke bawah.
Kontol Irul kedapatan sudah tegang, ngaceng total.
"Mbak... mbak Yulita, bo-boleh minta susunya mbak? Mau susunya-" Ucapan Irul terhenti saat ia melihat Yulita mulai menurunkan lengan pakaian segaris yang tersampir di bahu. Kain itu turun dari bahu, melewati lengannya, terus turun sampai benar-benar jatuh terlepas, dan pemandangan dada kiri Yulita langsung tersuguh.
"Kok diem aja, Mas? Gak doyan ya sama susu yang ini?" Tanya Yulita sambil memasang wajah sedih, cemberut masam.
Irul panik sudah membuat si cantik nampak bersedih. Ia segera menggeleng kasar sambil mulai bersiap untuk memberikan klarifikasi kepada Yulita,
"Ndak! Ndak gitu Mbak! Ini saya cuma bingung aja, serius boleh ngicip susunya Mbak Yulita langsung dari pentilnya. Takutnya nanti kalau saya asal kenyot, malah dianggap lancang. Jadi saya agak bingung ini."
"Ndak usah ragu-ragu atau takut Mas. Ini sudah saya sodori kok, silakan saja kalau mau icip. Mana uda netes-netes gini, sayang lho kalo ndak ditampung di mulutnya Mas Irul. Ya, itu sih kalau Mas Irul mau icip -nghhh...." Yulita menutup ucapannya dengan desahan. Pentilnya main dicaplok, dilahap begitu saja oleh Irul.
Benar sekali. Irul yang sejak tadi sudah ileran menatap tubuh molek si janda cantik, saat ditawari untuk menyusu langsung di pentilnya, tentu saja Irul tak pakai pikir panjang langsung mau. Langsung menerima tawaran tersebut dengan sukarela. Enak.
"Anghh... Ma-masshh Iruulhh... lidahnya di daleeem nghh.. gelihh enakh Mashhh!" Yulita mendesah, suaranya bergetar pelan, begitu pun badannya dari bahu sampai pinggul yang mengejak dan bergetar, sebagai akibat permainan mulut Irul yang menghisap pentilnya kuat-kuat, juga tingkah lidah Irul yang di dalam sana nakal menjilati serta menekan puncak pentilnya kasar.
Yulita menunduk ke bawah, melihat bibir tebal milik Irul melingkupi areola miliknya, menghisap kuat sampai puncak dadanya serada ikut terhisap oleh mulut rakus tersebut. Hisapan Irul sungguh kuat, pipi pria itu sampai mengempis sebagai ulahnya sendiri. Kehebatan Irul ini berhasil mendatangkan sensasi gatal di dadanya yang satu, yang belum terjamah. Ia raih tangan Irul, ia tuntun tangan itu ke dada kirinya, dan sebelum ia bertindak lebih jauh, Irul sudah paham sekali untuk langsung menangkap dada kanannya yang menganggur.
"Aaahh.... Maaashh ngenyotnyaah kuat sekalih ya! Enakhh kan susunyaah, langsung dari kantongnya, masih anget pastihhh! Aakhhh Mashhh! Ja-jangaan digigit!" Yulita tersentak kaget karena pentilnya mendapatkan gigitan. Ia angkat tangannya, meremat kedua bahu Irul yang lebar, kuat nan kokoh itu dengan cengkemaran kasarnya. Ia lampiaskan sensasi nikmat yang ia rasakan, gelenyar yang membuat memeknya di bawah sana basah, kedut-kedutan kacau, dengan cara meremat bahu Irul kasar atau juga menjambak kepala Irul kuat sampai membuat rambut pria itu acak-acakkan, berantakan total.
"Enak Mbak, enak sekali!" Ucap Irul, melepaskan mulutnya dari dada Yulita. Napasnya memburu berantakan, matanya menatap liar dan penuh nafsu antara wajah sayu Yulita yang memerah penuh keringat, atau pun bergantian dengan kondisi dada Yulita sekarang yang... pentilnya basah dan licin bekas liur, juga areola yang membengkak sebab ia hisap kuat-kuat sejak tadi. Erotis. Mengundang Irul agar melakukan hal yang lebih liar lagi dari ini.
Nafsu Irul naik dan melambung tinggi. Badannya panas, bercucuran keringat, napas makin memberat dengan dada yang bergerak naik-turun rusuh. Gejolak di dalam diri mendorongnya untuk segera mendorong Yulita berbaring di atas licinnya permukaan kursi kayu jati yang mereka duduki, menindihnya, menidurinya, mendorong kasar kontolnya ke dalam memek si cantik yang ia percaya pasti sempit dan legit itu. Setelah itu segera ia genjot kasar, ia kawini si janda berulang kali dan menjadikannya sebagai tempat penampungan peju hingga rahim itu penuh dengan seluruh benihnya.
Bagus sekali kalau benihnya ada yang tumbuh dan berkembang menjadi bayi. Membayangkan bisa menghamili si janda, membuat perut ramping itu membuncit karena tengah mengandung anaknya.
Sialan. Bayangan itu membuat Irul bisa merasakan celananya semakin sesak, kontolnya semakin ngaceng. Makin tidak sabar untuk segera merealisasikan, mewujudkan secara nyata seluruh fantasi kotornya.
"Aahhhh!" Desahan Yulita kembali menggema, penyebabnya karena dada kanannya kini bergantian mendapatkan kenikmatan dari mulut rakus milik Irul.
Kali ini kenyotan Irul terasa lebih brutal dari sebelumnya. Yulita mendongak, sesekali punggungnya akan melengkung setiap kali ia rasa hisapan sang pria terlalu kuat hingga membuat ia merasa seluruh raganya seperti ikut terhisap dalam pusaran kenikmatan yant ditawarkan olehnya.
Yulita masih meremas bahu Irul, masih juga mengacak-acak rambut Irul dengan jambakannya hingga membuat itu berakhir berantakan, kacau sekali.
"Anghh... Ma-masshh linuhh Mash! Pelann sedikiit!" Yulita kelimpungam pasalnya dada kirinya yang sebelumnya sudah dikerjai mulut Irul sampai areolanya bengkak, pentilnya lebih merah dan licin oleh liur, mendadak dicubit kasar sambil ditarik-tarik ke atas atau pun ditekan ke dalam hingga tenggelam dalam gumpalan lemak dadanya yang empuk.
Tak berhenti di sana, Irul yang kesenangan mendengar Yulita terus mendesah keenakan karena perbuatannya, mulai bersikap lebih serakah. Irul ubah posisi mereka, membuat Yulita berbaring di atas kursi yang mereka duduki. Kursi kayu jati yang sangat besar dan panjang, dan sudah pasti lebih dari muat untuk menampung tubuh mereka berdua.
Tangan bergerak turun ke bawah. Dari meremas pinggang kecil Yulita, kemudian menelusup masuk ke dalam kain daster tipis yang dikenakan oleh Yulita. Menjelajah permukaan kulit tubuh Yulita yang lembut serta mulus sekali.
Sebuah kontradiksi nampak dengan sangat jelas. Tubuh besar dan kekar Irul yang mengungkung tubuh kecil Yulita. Kulit tan yang liat dengan warna serupa madu, licin penuh keringat, bertemu dengan kulit seputih susu milik Yulita.
Perbedaan yang nyatanya hanya membuat keduanya malah terlihat semakin menyatu, dan pas secara utuh. Seolah keberadaan keduanya adalah sebuah takdir yang telah dikhususkan untuk menjadi pelengkap satu sama lain.
"Ohhh jari! Mas Irull jarinyaaahh!" Si cantik terkejut saat jemari kasar dan dihisai kapak tebal di telapaknya itu berhasil menyentuh kelaminnya. Sentuhan tipis, tapi berhasil menaburkan sensasi seperti tersengat listrik untuk Yulita, hingga membuat Yulita melengkungkan punggung tinggi-tinggi karena terlalu melayang atas sentuhan luar biasa yang didapatkan.
"Ndak pake kutang, dan pake celana dalam, ini memang sengaja mau godain saya? Atau memang dasarnya mbak Yulita emang suka betingkah kaya lonte begini biar bisa digerayangi, terus ditiduri?" Iruk duduk di antara kedua kaki Yulita yang ia buka lebar. Satu kaki Yulita ia biarkan menjuntai di bawah, sedangkan satu kaki lainnya ia naikkan di atas sandaran kaki. Menyebabkan memek Yulita terbuka, terpampang sangat jelas di depan mata.
Daster tipis tadi Irul naikkan sampai di atas dada Yulita. Membuat susu bulat itu terlihat, membuat juga memek dengan lipatan dagingnya yang gemuk, tembem itu tersuguh indah.
Irul menjilat bibir bawahnya pelan. Ia belah bibir memek Yulita, menggesek-gesekkan jarinya yang memiliki permukaan kasar dan kontras sekali dengan kelentit lembut Yulita, dengan gerakan yang awalnya halus, lalu perlahan berubah menjadi lebih cepat.
"Aahhh... Itilkuuh Mashh! Enaakh digeseek begituhh! Aakh... Mashhh akunyaah emang lonte Mash...lonteehnya kamuhh! Mas Irul mau kaann tidur sama sayah? Mau kaan sama lonte kayak sayah? Aakhhh! Mas! Mas! Aduuhhh! Cepeet bangeet geseeknyaaa!" Yulita harus menerima akibatnya sendiri atas kalimat provokasi yang baru saja ia keluarkan. Tapi semuanya karena Irul sendiri yang memancingnya. Irul sendiri yang mengatainya lonte lebih dulu, dan itu berhasil menaikkan adrenalin di dalam diri, berhasil menaikkan hasratnya, hingga ia tak bisa menahan diri untuk meladeninya.
Kini itil Yulita digesek kasar dengan menggunakan ibu jari, ditekan-tekan kuat sampai membuatnya linu. Yulita tidak kuasa ingin merapatkan kaki tapi satu pahanya diremat keras oleh Irul, membuat ia tak bisa berkutik, tak bisa melawan, dan berakhir pasrah.
"Ada syaratnya kalo mau jadi lontenya Mas." Irul mulai membungkuk, menempatkan kepala tepat di antara kedua kaki Yulita yang sudah terbuka lebar.
"Apa Mas syaratnya? Saya siap Mas, saya mau ngelakuin semuanya asal bisa jadi lontenya kamu Mash! Ahhh..." Yulita semakin menggila, tidak ia pikirkan soal kewarasan, soal akal sehat. Nafsu sudah lebih berkuasa. Dan kegilaan sudah menyerap hampir seluruh fungsi kerja otaknya. Ia hanya akan menuruti bagaimana nafsunya bekerja menguasai diri setelah ini.
"Harus mau Mas makan memeknya setiap hari." Irul menunduk, ia jilati gelambir memek Yulita yang gemuk itu rakus dan asal-asalan.
"Harus mau Mas kawinin setiap hari. Mas genjot memeknya, Mas isi perutnya pake peju Mas sampek hamil, Mas kenyot susunya setiap hari sampek tumpah-tumpah. Harus siap kapanpun Mas ewe kalo Mas pengen. Kuat ndak kamu?" Irul gelap mata. Mengatakan segalanya yang tidak senonoh kepada Yulita. Tangannya bergerak di bawah, masuk ke dalam lubang Yulita dua jari secara sekaligus. Sempit. Panas dan sudah basah, becek sekali.
Yulita terlihat mengangguk kasar, penuh semangat. Hanya syarat seperti itu, tentu saja Yulita siap menyanggupinya karena pada dasarnya itulah yang ia inginkan.
"Aakhh... Ma-mauhh! Siaapkh semuahnyah Mash! Aakhh! Akhhh! Mashh Irull jarinyyaa lidahnyaa... Tolonghh enak sekalihh Massh!" Yulita mendesah keenakan. Ia menunduk, melihat kepala Irul bergerak pelan di depan selangkangannya. Pria itu rakus menjilati itilnya, kalap menghisap itilnya, sambil dua jarinya rajin sekali menggengot lubang kawinnya.
Yulita teler keenakan, matanya bergulir ke belakang sampai menyisakan putih. Mulutnya sibuj mendesah dengan muka memerah dan penuh keringat, sementara badan sibuk menggeliat kasar, penuh keresahan.
Service dari Mas Irul sungguh luar biasa. Ditambah dengan beberapa kalimat kotor, sembarangan dan ngawur yang sejak tadi mereka lontarkan kepada satu sama lain, itu nyatanya hanya membuat memeknya semakin basah, semakin berkedut tidak karuan.
"Maashh!! Su-sudaah duluh Mashh! Kenyotnya jangan ku-kuaat!! Aakhh... Perutkuhh! Akuh mau pipisssh Mash kalo begituuh!" Yulita kelojotan di tempat. Ia bergetar, badannya menggeliat tidak karuan dengan paha yang bergetar hebat. Ia meminta disudahi atau dipelankan karena merasakan perutnya agak keram, merasakan lubangnya semakin berkedut kencang, pertanda bahwa orgasmenya akan datang.
Irul menyeringai puas. Ia hisap semakin kuat, jarinya pun tancap gas semakin kasar mengobel lubang kawin Yulita. Mengorek bagian atasnya, gerakannya melengkuk naik, menekan bagian atas dinding kawin Yulita yang bertekstur agak kasar. Gerakannya semakin berantakan, tidak terkendali, apalagi saat ia rasa lubang Yulit semakin menyempit, semakin berkedut.
Semakin Yulita tersiksa atas kenikmatan yang diberikan, semakin tiada ampub jufa Irul untuk memermainkannya.
"Akhhh!! Mass Iruul.... Hiksss pipissh Mashh! Mau pipissshh!" Dada Yulita memantul dan naik-naik ke atas. Punggungnya melengkung tinggi, pinggulnya mengejan tidak karuan, lalu kedua pahanya bergetar hebat.
Orgasme datang.
"Aaakhhhh!" Jeritan keras menggema memenuhi ruang tamu yang luas. Yulita merasakan lubangnya berkedut kasar, menyempit menahan jari Irul kuat agar tak meninggalkannya. Air kencing mengucur deras dari uretra, menyembur tepat di depan wajah Irul yang masih berada di dekat sana.
Basah. Seperti mendapatkan mata air segar dari sumber yang sangat keramat. Itulah yang Irul rasakan saat mendapatkan semburan dari Yulita.
Irul jauhkan wajahnya dari memek Yulita. Melihat di bawahnya Yulita masih nampak berantakan, menggelepar dengan mulut yang terbuka, dari mulutnya menghembuskan napas kasar, badannya bergetar dan mengejan tidak karuan. Kondisinya persis seperti ikan yang baru saja diangkat dari air, menggelepar dan bergerak heboh tak bisa diam di tempat.
"Makin licin memekmu abis ngecrot." Irul perhatikan memek Yulita. Semakin becek. Jarinya masih bertahan di dalam lubang tersebut, ia tarik keluar dan yang ada lubang itu malah berkedut semakin kuat. Seolah itu bentuk perlawanan, tidak rela bila ditinggalkan oleh jarinya.
Orgasme dengan kontraksi hebat dan semburan air seni tadi, berhasil membuat Yulita merasa lemas dalam sesaat.
"Kalo licin, nanti biar gampang dimasukin kontolnya Mas." Yulita keluar rayu, memberi kerlingan genit.
Irul terkekeh pelan. Si janda semok ini, sangat nakal sekali. Dan dia suka.
"Bangun Dek, sekarang giliran enakin Mas dong." Irul menarik Yulita agar bangun. Daster yang tadi berada di atas susu, langsung turun dan jatuh menutupi badan Yulita secara berantakan, sebab di bagian lengan kirinya sudah tidak terpasang dengan baik. Irul tak berniat melepaskan untuk membuatnya telanjang, karena dengan kondisi berantakan seperti sekarang, itu lebih terlihat erotis di mata Irul. Irul suka melihat Yulita nampak acak-acakkan, lebih seksi, lebih membuatnya birahi tidak tertahankan.
"Aduh Mas, jangan dipanggil Adek. Nanti memekku makin kedutan, makin gatel ndak tahan cepet-cepet dirojok kontol -nghhh..." Yulita resah sendiri dalam duduknya hanya perkara Irul mengubah nama panggilan untuknya.
"Oh jadi makin sange ya? Bagus Dek, bakal Mas buat makin ndak tahan kamu. Sini dudukin muka Mas, Mas mau makan memekmu sambil kamu nyepong kontol Mas."
Permintaan gila yang langsung diiyakan oleh Yulita. Irul sudah berbaring, Yulita membalik tubuhnya dan segera mengangkat naik dasternya sampai sebatas perut. Ia pegang kain dasternya, mengangkang naik, dan memosisikan memeknya tepat di atas muka Irul, lebih tepatnya pas di atas mulut dan hidung bangir si pemuda.
"Aahhhh...." Yulita langsung dibuat mendesah saat pinggangnya dibawa turun secara tak terduga oleh kedua tangan kekar Irul. Pria itu sepertinya sudah sangat tidak tahan.
Selagi memek Yulita digarap si pemuda yang sudah lama ia taksir itu, dalam posisi 69, ia bergerak untuk menurunkan kolor celana training Irul. Ia bawa turun sampai sebatas paha, disusul dengan celana dalam yang juga ia bawa turun.
"Ungh... Kontolnyaa Mashh... Gedeehhnyah... Aahhh!" Yulita bicara tidak jelas karena memeknya sedang dimainkan oleh lidah Irul. Lidah menjilati lubangnya, menghisap gelambir memeknya bergantian seolah sedang mengajak berciuman. Sedangkan hidung bangir Irul, bekerja sedikit lebih terlambat, saat lubangnya sudah kebas terkena jilatan dan tusukan lidah Irul, hidung pria itu baru bekerja untuk digesek-gesekkan du atas itilnya. Kepala Irul bahkan ikut menggeleng atau pun mengangguk pelan.
Yulita tidak bisa fokus. Ia mendesah keenakan sambil pinggulnya secara naluriah bergerak, bergoyang dengan sendirinya di atas muka si pemuda.
"Aduhhh idungnyaah Mas Irulk gesek-gesek itilkuuh aduhh Massh!" Yulita merinding, badannya bergetar, wajahnya mendongak dengan bola mata yang bergulir nikmat. Tangannya di atas perut, meremat kain dasternya kuat-kuat, menahannya agar tidak melorot dan mengganggu kegiatan Irul. Dan satu tangan lain, sejak tadi hanya bisa mengocok lemah, seperti tidak berdaya dalam melayani kontol Irul.
"Seponghh Dek!" Perintah Irul, suaranya agak tidak jelas karena mulutnya memang terbungkam oleh memek.
'PLAAK!'
Bonus tamparan keras dan kasar di bokong Yulita yang semok.
"Akhh! Iy-iyaah!" Yulita memekik merasakan tamparan yang menghasilkan getaran nikmat tersendiri untuknya.
Yulita pun menundukkan tubuh, melaksanakan perintah sesuai dengan yang diberikan oleh Irul kepadanya. Meski itu sulit, meski harus berjibaku dengan kenikmatan di selangkangannya yang sekarang lagi-lagi sedang dimakan oleh Irul, Yulita kini akhirnya berhasil untuk menjilati bagian puncak kontol Irul. Awalnya ia jilat-jilat pelan, menyatukan liurnya dengan cairan licin bening yang menyumber dari puncaknya. Membuat permukaan kontil itu basah, mengilap, dan semakin menggiurkan untuk segera Yulita kocok dengan lebih baik menggunakan satu tangannya.
"Ngrrhhmm!" Geraman Irul tertahan oleh memek Yulita yang menekan bibirnya. Pria itu bisa merasakan satu tangan Yulita mengocok bagian batang kontolnya, sedangkan mulut Yulita bergerak untuk menghisap palkon, kuat dan dalam, dan bergantian mengisap keseluruhan bagian kepala kontolnya dengan lebih kuat hingga pipi tembam si cantik cekung ke dalam.
Kenikmatan yang saling terbagi dengan baik. Mereka menyentuh dan memanja satu sama lain dengan kemampuan yang sama-sama sudah mahir. Apalagi Irul yang hebat sekali sekarang sudah berhasil memancing Yulita untuk kembali meraih orgasme keduanya.
"Aakhmmphh!" Yulita menggeram pelan saat sedang menelan biji zakar Irul. Badannya bergetar, pinggulnya kembali mengejan dan pahanya reflek merapat saat mulut sialan Irul menghisap lubang kawinnya kuat. Menyeruput cairan bening, pelumas alami yang mengalir tipis dari lubangnya.
Karena perilaku itu, Yulita akhirnya terpancing untuk meraih orgasme, lebih hebat dari sebelumnya.
"Akhhh! Mashh! Aduhh gustii Mas Iruull! Mas! Maash, memekkuuh bocor lagi Mashh! Aduh! Aduh!" Yulita melepaskan zakar Irul untuk berseru heboh menyambut orgasmenya. Kedua pahanya mengapit kepala di bawahnya kuat, pahanya bergetar tidak karuan, pinggulnya terus mengejan, dan kepalanya mendongak tinggi-tinggi sambil mulut terbuka mengumandangkan desah yang menggema.
Orgasme Yulita selalu ditandai dengan lubang kawinnya yang berkedut hebat, menyempit lebih rapat, cairan pelumas yang meleleh sedikit lebih deras dari biasanya, dan juga kini lagi-lagi ia berhasil menyemburkan pipisnya dengan lebih deras.
Yulita tak paham mengapa ia bisa terkencing-kencing hingga sebanyak dua kali seperti ini. Padahal biasanya ia hanya bisa meraihnya sekali, itu pun tidak terlalu deras. Namun bersama si tampan ini, karena service luar biasanya itu, hebat sekali ia bisa sampai terkencing-kencing deras sebanyak dua kali.
Yulita sudah sangat lemas, ia manut saja saat pahanya dilebarkan dan membebaskan kepala Irul yang sejak tadi ia bekap dengan kedua pahanya yang sekal dan padat itu. Yulita duduk bersandar di atas kursi dengan kedua kaki yang ia biarkan mengangkang, terbuka lebar memamerkan apemnya yang sudah benyek, berantakan, basah, dan becek penuh lendir.
Saat Yulita menoleh ke sebelah, ia melihat muka berantakan Irul, bekas ia jepit pahanya, dan tentu saja bekas ia jadikan tempat duduk untuk memeknya. Yulita melihat bibir Irul basah, licin oleh cairan kawinnya, hidung pria itu pun sama licinnya.
Terlalu erotis. Tapi Yulita senang melihatnya, karena yang membuat pria itu berakhir seperti itu adalah karena habis memakan kelaminnya.
"Mmphh!" Dalam kondisi lemas, Yulita menerima saja saat tengkuknya ditarik, dan bibirnya disambar ke dalam sebuah ciuman yang terasa sangat panas. Mereka tidak hanya saling melumat, mereka juga saling menyapa mulut satu sama lain dengan lidah gesit mereka. Bertukar liur, bertukar rasa cairan kelamin yang masih tertinggal di mulut masing-masing dengan cara yang berantakan dan kasar.
Puas mencium si cantik sampai bibir tebal itu nampak semakin tebal, bengkak dan lebih merah dari sebelumnya, Irul langsung memandu yang lebih tua agar menungging. Ia berniat mengawininya dengan posisi selayaknya anjing kawin.
"Nungging, dek. Mas mau genjot dari belakang." Irul turun dari kursi, menurunkan celana disusul dengan celana dalam, sedangkan kaosnya juga ia lepaskan begitu saja. Ia bertelanjang, berbeda dengan Yulita yang masih memakai daster namun kondisinya berantakan sekali.
Yulita menungging di atas kursi, menghadap ke arah sandaran kursi dan membiarkan kedua tangannya berpegang di sana kuat-kuat. Kakinya ia lebarkan, sudah sangat kuat untuk menerima tusukan dari kontol besar milik Irul. Kontol yang tadi sempat memenuhi mulutnya, kontol dengan banyak urat-urat menonjol yang nampak begitu jantan, bewarna sedikit lebih gelap dari kulit tubuh Irul yang memang bewarna tan seksi itu.
Irul kocok-kocok kontolnya, ia pukul dan tamparkan pelan di pipi pantat Yulita yang montok itu kasar hingga mengundang rengekan dari pemiliknya.
"Uunghh! Mas Irul! Ayo mash masukin maash! Memekkuh udah gak kuaathh aakhhhh!" Dan memekik sangat keras saat merasakan kontol Irul akhirnya menjebol memeknya.
Ini pertama kalinya Yulita merasakan kontol sejak ditinggal mati oleh suaminya. Dan ia senang sekali bahwa yang memasukinya adalah si tampan yang sangat ia taksir itu.
Sesuai dugaan Yulita, rasanya sangat penuh, sesak, dan tentu saja enak. Urat-urat kontol Irul menggesek setiap permukaan dinding lubang kawinnya. Dan saat Irul sudah mulai menggerakkannya keluar-masuk dengan tempo lembut, di sana Yulita langsung dibuat lemas karena sensasinya terlalu nikmat.
Yulita sangat merindukan sensasi ini. Saat kontol asli memberinya kenikmatan, bukan sekadar jari-jemarinya yang lentik, yang selama ini kenikmatan yang dihasilkan itu hanya terasa seperti sebuah semu yang tak pernah benar-benar dapat ia raih.
Dan kontol Irul, dengan gerakan yang awalnya lembut lalu berubah menjadi kasar, kuat, dan melesak sampai mentok menghantam mulut rahimnya, itu benar-benar mewujudkan kenikmatan luar biasa yang selama ini Yulita harapkan, dan dambakan.
"AKHH!! Mashh mentook banget! Akhh!" Yulita sedikit menjerit saat Irul menggenjotnya terlalu keras, benar-benar mentok sekali.
Irul bergerak gesit mengulurkan tangan, membekap mulut si cantik agar bisa lebih mengontrol suaranya.
"Ssstt... Jangan kenceng-kenceng, nanti dedek kebangun di kamar." Bisik Irul dengan tidak memelankan tempo genjotannya, tetap disodok kuat-kuat, sampai membuat Yulita kewalahan menerima kenikmatan yang ada. Kepalanya mendongak tinggi, mulutnya terbekap dan tak bisa keluar desah dengan leluasa seperti biasanya.
Yulita terlalu asik dengan diri sendiri sampai lupa pada fakta bahwa ia masih memiliki bayinya di kamar. Bayinya yang sedang terlelap damai di kamar, dan ia tinggalkan begitu saja demi agar bisa main gila bersama si berondong.
Tapi sejauh ini belum ada suara tangisan, yang menurut Yulita itu artinya sang anak masih terlelap, dan suara jeritan nan berisik yang sejak tadi ia keluarkan itu belum memberikan pengaruh apa pun untuk sang anak.
"Uhhmm!!" Yulita kaget saat kontol Irul di lubang memeknya, yang sedang menggenjot dengan enak-enaknya, mendadak terlepas keluar. Yulita ingin keluar erangan protes, tidak suka. Tapi mulutnya masih dibekap, dan kemudian tiba-tiba saja badannya dibanting, dibalik dalam posisi telentang.
Yulita berbaring di bawah lengan kursi, kakinya dibuka lebar, dengan posisi seperti di awal tadi. Satu kaki menjuntai di bawah, satu kaki lagi dinaikkan di atas sandaran kursi. Lalu memeknya dilebarkan, dibuat menganga, siap sekali menerima sodokan dari kontol Irul yang masih menegang sempurna.
"Unghhh.... masukkin lagi Mashh-mphhhh!" Sekali lagi mulutnya dibekap ketika Irul sedang melakukan penetrasi.
Kali ini setelah masuk dengan lebih mudah, Irul bergerak dengan tempo yang lebih cepat. Disodok kuat sekali sampai badan Yulita terhentak-hentak kasar, dan bahkan puncak kepalanya sesekali akan sedikit membentur bagian lengan kursi. Badannya naik-turun, dadanya yang masih berbalut daster acak-acakkan itu akan terlihat memantul heboh seiring dengan kuatnya genjotan sang pria.
Persenggamaan yang terlalu hebat. Yulita sudah macam orang teler, dan Irul sendiri sudah macam orang kesetanan yang tak memiliki kendali saat menggenjot lubang kawin Yulita.
"Asu! Sempit pool memekmmuuh dek! Argh! Enak kontolkuh dijepit!" Umpat Irul yang tak peduli dengan suaranya yang melantun cukup keras. Padaha tadi dirinya sendiri yang memberi peringatan kepada Yulita agar jangan berisik, dan sampai sekarang telapak tangannya pun masih membekap mulut si cantik.
Bekapan itu baru terlepas saat Yulita mendorong tangan Irul menjauh.
"Aahh... lepas Mashh! Adeek mau ciuum! Mauhh cium!" Yulita tidak tahan. Sejak tadi ia digagahi dalam posisi bisa melihat secara langsung, keseluruhan paras tampan Irul di atasnya, melihat bibir pria itu dalam jarak dekat, mana tahan Yulita untuk tak segera menyambarnya dalam ciuman.
Mereka pun berciuman kembali. Yulita dekap erat tubuh Irul, meremas bahu dan menyentuh permukaan punggung Irul yang liat serta penuh keringat itu dengan sangat gelisah.
Kulit mereka bertemu dalam tumbukan yang keras, menimbulkan suara nyaring yang berisik, memenuhi seluruh ruangan hingga menimbulkan gema yang bersaing dengan derasnya suara hujan yang masih mengguyur di luar. Keringat membanjiri, napas mereka berhembus semakin kasar saat ciuman panas yang tadi terjalin baru saja tersudahi.
"Aahhh...Mashhh... a-akuhhh mau keluaarg lagihh! Anghh mentok Mash! Mentookk!" Yulita mendongak, perutnya terasa keram, tidak nyaman sekali saat mulut rahimnya terus dihajar kasar oleh puncak kontol Irul.
Irul tahu Yulita ingin orgasme lagi. Dengan kebaikan hatinya, ia berikan stimulan baru di atas kelentit Yulita berbarengan dengan genjotannya yang ia tusukkan semakin kasar. Nyatanya yang ia lakukan ini, hanya membuat Yulita semakin tersiksa dalam kenikmatan. Sekarat dalam gelombang orgasme yang teraih dengan luar biasa.
"Aarghhh! Mas Iruuull!! Hiksss! Linuhh Mashhh pelan-pelaaan! Hiikss!!!" Yulita menangis tersedu-sedu, orgasme yang kesekian kalinya sudah berhasil didapat. Reaksinya adalah lubang kawin yang merapat semakin kuat, badan menggigil dengan perut yang terasa seperti mendapatkan tekanan kuat. Tidak ada banjir air kencing seperti sebelumnya, tapi kali ini napasnya berhembus semakin kasar, ia tersengal hebat.
"Jangan diketatin, lonte! Argh!" Irul menggeram, giginya mengerat kuat dan tangannya ia kepalkan kasar di sisi kepala Yulita saat merasakan kontolnya dijepit terlalu kuat, seperti diperas.
Tak tahan dengan sensasi itu, pada akhirnya Irul kembali kencangkan tusukannya. Ini sudah berlangsung lama, ia harus segera meraih ejakulasinya sendiri sebelum nanti jika terlalu lama melakukan penetrasi, itu akan membuat lubang Yulita menjadi kering serta perih saat bergesekan dengan kontolnya.
Beberapa kali lonjakan, beberapa kali hentakan dan sentakan kuat sampai Yulita melengkungkan punggung tinggi-tinggi, akhirnya Irul berhasil juga menyemburkan laharnya deras, banyak sekali ke dalam lubang tersebut, terserap masuk dan berakhir memenuhi rahimnya.
"Aarghhh!! Terima peju dari Mas ya dek, makan semuanya, tampung sampek kembung perutmu!" Irul hentakkan beberapa kali, memastikan seluruh laharnya sudah masuk.
"Anghh... angeeth Mash! Penuhhh.... pejunyaa penuhh, kaya banjiir!" Yulita bisa merasakan sendiri derasnya semburan sang pria memenuhi rahimnya.
"Mas banyak banget inih kalo aku hamil gimanah? Nghhh.. ahhhh!!" Yulita merengek manja saat susunya diserang dalam kenyotan hebat oleh Irul.
"Ya gak papa. Kitakan abis kawin, wajar kalo kamu hamil abis ini. Kalo uda hamil, nanti kita nikah aja." Ucap Irul, terdengar enteng sekali, tapi jujur saja ia tak masalah untuk menikahi si janda yang punya paras cantik itu.
"Unghh... mau hamiilh Mashh! Ayo ngewe lagi, biar hamil beneran!" Yulita malah menggodai si ganteng, yang tentu saja langsung diiyakan dengan mudah.
****
Malam panas itu berakhir setelah Irul tiga kali menembakkan pejunya di dalam rahim Yulita. Sekitar tengah malam, saat hujan reda dan keduanya baru selesai mandi bersama, Irul sebenarnya ingin pulang namun ditahan oleh Yulita.
"Nginep aja Mas, uda malam. Mending tidur sama aku aja." Yulita bicara dengan lebih santai, tidak seperti di awal-awal tadi yang masih kaku dan aneh.
Irul pun mau untuk menginap. Tidur bersama Yulita di kamar Yulita juga. Ia mengenakan koas kutang pria bewarna putih yang kontras dengan kulit sawo matang miliknya. Kaos itu milik mendiang suami Yulita. Membuat Irul merasa tak enak, karena selain memakai pakaian pria itu, beberapa saat lalu ia juga baru saja memakai istri pria itu dengan cara yang beringas. Meski tidak ada yang salah dengan hal itu, apalagi pria tersebut pun sudah meninggal, tapi Irul tetap merasa memiliki tanggungan moral yang mengganjal.
Tapi untuk apa juga memikirkan moral saat semuanya sudah berjalan sejauh ini.
Irul berbaring di kasur Yulita, sedangkan Yulita sendiri ada di sebelahnya, sudah terlelap. Irul perhatikan pakaian tidur yang dikenakan Yulita. Kutang renda transparan, celana renda di bawah bokong, tapi juga transparan. Semuanya transparan, tanggung sekali mengapa tidak telanjang sekalian kalau semuanya menerawang dengan sangat jelas.
Tapi jujur saja penampilan ini, memang sangat cocok untuk Yulita. Membuatnya terlihat seksi, dan jika saja wanita ini tidak sedang kelelahan, maka mungkin Irul sudah kembali menggarapnya dengan lebih liar lagi. Stamina Irul masih sangat penuh, ia terbiasa bekerja keras dan berat. Dan stamina Yulita sendiri, mungkin saja biasanya juga sangat baik, tapi karena hari ini habis melakukan perjalanan sampai larut malam, maka wanita itu jadi kelelahan luar biasa. Irul sangat memakluminya. Sejauh ini pun, Yulita yang bisa meladeninya sampai bucat tiga kali, dan sudah berkali-kali ia bolak-balik di atas kursi yang keras sampai beralih ke ranjang empuk yang ada di kamar tamu, itu sudah sangat hebat untuk Yulita.
Irul raih badan Yulita untuk mendekat padanya, ia peluk dari belakang dan mulai memejamkan mata untuk menyusulnya tidur. Tapi baru berjalan beberapa menit, tiba-tiba saja tangisan kecil dari bayi yang ada di keranjang, membangunkan keduanya secara bersamaan.
"Ouh, dedek Wira bangun ya. Sini nenen dulu yah." Yulita sigap sekali mengambilnya dalam gendongan. Ia turunkan tali bra yang menyangkut di bahu, ia keluarkan susunya, dan arahkan pentilnya untuk dilahap sang anak.
Irul memerhatikan dari tempatnya.
"Enak banget nenennya. Mau nenen juga dong, Dek." Irul mendekat, duduk di sebelah kiri Yulita, lebih tepatnya duduk di sebelah dada Yulita yang menganggur tidak dikenyot Wira.
Yulita terkekeh pelan.
"Sini Mas nenen aja, masih deres kok. Nenen yang banyak, biar boboknya nyenyak nanti." Ucap Yulita sambil menyodorkan dada.
Malam itu pun, sebelum benar-benar terlelap, Yulita harus menyusui dua bayinya. Satu bayi kecil nan menggemaskan. Satu lagi besar ganteng yang tadi habis menggarapnya habis-habisan, membuatnya keenakan luar biasa sampai ruang tamunya berantakan luar biasa dan hingga kini belum ia bersihkan.
Besok saja. Walau tadi Irul sudah berniat membersihkannya, tapi Yulita menyuruhnya besok saja. Lebih baik segera istirahat, dan yang lain sebagainya bisa dipikirkan besok. Termasuk juga memikirkan bagaimana pendapat tetangga soal berondong ganteng pagi-pagi keluar dari rumah seorang janda.
Pasti akan menyebar gosip. Tapi siapa juga yang peduli. Biarkan saja. Yulita tak keberatan sama sekali dijadikan bahan gosip, asal itu digosipkan bersama si ganteng ini.
END
