Actions

Work Header

Seharusnya Janji

Summary:

George mencintai Alex.
Carlos Sainz seharusnya cuma bosnya. Seharusnya.

Notes:

⚠️Additional Warning⚠️
This fic contains consensual but morally messy infidelity themes.
Author does not endorse cheating/infidelity in real life.

Hello, this is a difficult topic for me personally.
I truly hate what my mom did, and I don’t think I will ever understand cheating or infidelity in real life.
Sometimes I still feel like a confused eldest daughter who spent most of her life being pulled around like a puppet.

Enjoy reading~

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Perjalanan Dinas

Summary:

"Janji ya?"
"Janji."

Chapter Text

Angin malam Nagano di awal musim semi menusuk tulang, tapi yang bener-bener bikin George Russell berkeringat dingin justru ruangan tatami mewah ini—dan bosnya yang duduk santai di seberang sana.

Sebagai senior accountant andalan Williams Accounting, George udah biasa ngadepin angka-angka rumit mulai dari jutaan bahkan sampe triliunan juga pernah. Tapi nemenin bosnya, Alpha Carlos Sainz—yang aslinya mager parah buat dinas luar negeri kalau bukan karena cuan gede—itu yang nguji kesabaran George sampe ubun-ubun.

Klien Jepang mereka, seorang Alpha paruh baya pemilik jaringan resort mewah, membungkuk dalam-dalam dengan senyum penuh arti. Proyek audit ini sukses besar, dan bonusnya gak tanggung-tanggung: free stay di resort eksklusif ini kapan pun mereka mau.

Eh, maksudnya Pak Carlos doang deng. Emang George bakal diajak lagi?

Bahkan pas high season sekalipun.

"Senang bekerja sama dengan Anda, Pak Sainz. Asistennya cantik juga, as expected," ucap Alpha Jepang itu dalam bahasa Inggris yang kaku banget kayak kanebo kering. Matanya melirik George dengan tatapan yang bikin George pengen buru-buru nyemprotin scent blocker atau minimal melempar gelas sake ke arahnya.

Untung saja intrusive thoughts masih bisa ditahan.

Alpha di mana-mana emang gak ada bedanya, sama-sama mata keranjang, batin George menjerit, menahan senyum profesionalnya agar tidak luntur.

Carlos, yang menyadari ketidaknyamanan George sekaligus gak terima aset terbaik kantornya diperlakukan sembarangan, langsung berdeham.

“Dia senior accountant saya,” ralat Carlos tenang namun tegas. “Salah satu yang terbaik di kantor, makanya saya ajak ke sini. Namanya George Russell.”

Senyum tipis di wajahnya gak mampu sepenuhnya menyembunyikan nada protektif seorang atasan. Inget, seorang atasan.

Setelah basa-basi korporat itu selesai dan si klien akhirnya pamit, George langsung mengembuskan napas panjang saat mereka diantar ke kamar privat.

Dan demi Tuhan.

Kamarnya emang anjay.

Begitu pintu geser dibuka, pemandangan private onsen langsung menyambut mereka. Uap air hangat mengepul di tengah udara Nagano yang dingin, dikelilingi batu alam dan pohon pinus yang bikin semuanya kelihatan terlalu romantis buat perjalanan dinas biasa.

Mewah banget. 

Sayangnya, masalah utama mereka bukan pemandangannya.

Ruangannya memang luas, khas ryokan bintang lima. Tapi futon ada dua, digelar berdampingan dan hanya dipisahkan partisi kayu berlapis washi tipis.

Setipis iman dan takwa George.

George langsung memijat pelipisnya yang mendadak pening. Pikirannya langsung melayang ke London, ke pacarnya, Alex Albon.

Kasihan banget Alex. Kemarin pas George pamit kerja, Alex udah cemberut maksimal kayak anak anjing yang mainan favoritnya direbut gitu aja karena jadwal yang sama padatnya—minusnya dia gak diajak ke Jepang aja.

Kalau Alex tahu George satu kamar—cuma dibatasi kertas setebal tisu diskonan—sama Alpha sekelas kepala kakap resto padang pagi sore, Carlos Sainz, Alex pasti udah meluncur pakai jet pribadi (gak deng soalnya masih misqueen) malam ini juga sambil nangis.

"George? Kamu pakai onsen-nya duluan aja. Saya mau cek email sebentar," suara bariton Carlos membuyarkan lamunan George. Carlos udah melepas jasnya, menyisakan kemejanya yang dua kancing teratasnya terbuka. Scent khasnya samar-samar tercium karena dia mulai rileks.

George menelan ludah, buru-buru mengambil yukata yang disediakan hotel. "Ah, iya, pak. Terima kasih. Saya permisi dulu."

Dia langsung melangkah cepat menuju onsen luar, berusaha keras menenangkan detak jantungnya.

Di luar, sambil merendam tubuhnya di air panas, George menatap langit Nagano sekilas lalu mengambil ponselnya, mengetik pesan cepat untuk sang pacar.

George

Alex, kamarnya bagus banget. Tapi tebak apa? Aku sekamar sama Pak Carlos dan pembatasnya cuma kertas tipis. Please telpon aku kalau kamu udah bangun, aku butuh denger suara kamu biar gak stres :(

Belum ada satu menit, ponsel George langsung bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan

Albonbon❤️ calling...

George langsung mengangkatnya secepat kilat, bersiap meredam suara rengekan (dan omelan) cemburu dari Alpha-nya di seberang sana, sementara di dalam kamar, Carlos cuma bisa menggelengkan kepala mendengar kasak-kusuk karyawannya yang bucin akut itu.

Layar ponsel George menampilkan wajah Alex yang cemberut maksimal, bibirnya monyong lima senti. Pencahayaan kamar hotel di London yang remang-remang membuat wajah Alpha-nya itu terlihat lebih melas daripada posesif.

"Bete ahh," gerutu Alex di seberang sana. "Pasti nanti kalian berdua malamnya futonnya pisah, eh paginya  paling juga udah gatuk jadi satu. Aku tahu ryokan, George. Partisinya cuma pajangan!"

George tertawa kecil, berusaha menahan suara agar tidak terdengar sampai ke dalam kamar. Dia sedikit bergeser ke sudut onsen yang lebih tersembunyi agar privasinya lebih terjaga.

"Alex, stop paranoid. Pak Carlos itu atasan aku, dia profesional. Kita ke sini buat kerja, bukan buat yang aneh-aneh."

"Profesional atau nggak, yang namanya Alpha sama Omega di satu ruangan tertutup itu tetap aja ada syaitonnya!" Alex masih tidak mau kalah. Matanya menatap George tajam dari layar. "Tunggu... George, jawab jujur. Kamu bawa pengaman nggak di koper?"

George tersedak napasnya sendiri. Wajahnya memanas, entah karena suhu air onsen atau karena pertanyaan frontal dari pacarnya. "Alex! Ngapain juga aku bawa gituan buat perjalanan dinas?!"

"Ya jaga-jaga, George! Kalo amit-amit kejadian—karena feromon kamu pasti keganggu udara dingin atau entah apa lah—at least kamu nggak bakal hamil," suara Alex melunak, berubah jadi lebih serius dan parau.

"Please, I still want to marry you. Jangan bikin aku gila di sini sambil ngebayangin kamu di sana."

Kalimat itu telak menghantam ulu hati George. Keinginan Alex untuk membangun masa depan bersama mereka selalu berhasil membuat George luluh. Dia mematikan suara speaker ponselnya, mendekatkan gawai itu ke telinga agar lebih privat.

"Alex, dengerin aku," bisik George lembut. "Aku punya kamu. Cuma kamu. Pak Carlos mungkin yahh gitu deh, tapi dia nggak punya tempat di hatiku. Kamu satu-satunya Alpha yang aku mau buat jadi pendamping aku selamanya. Oke? Nggak akan ada kejadian apa pun, aku janji."

Di dalam kamar, pintu geser terbuka pelan. Carlos muncul di ambang pintu, bersiap menuju onsen dengan handuk tersampir di bahu. Matanya menangkap sosok George yang sedang berbisik-bisik di balik telepon.

Carlos berhenti sejenak, melirik George yang tampak begitu intim dengan ponselnya, lalu mengalihkan pandangannya dengan canggung. Sebagai Alpha, dia bisa mencium aroma anxiety sekaligus kerinduan samar-samar dari George—bukan untuknya, sayangnya.

"George," panggil Carlos, suaranya sedikit lebih berat dari biasanya karena dia sudah mulai merasa terpengaruh oleh angin malam yang dingin. "Saya... saya keluar sebentar buat ngerokok di smoking room luar ya. Kamu selesaikan dulu telponnya, take your time."

Carlos berbalik, memberikan ruang privat yang sangat dibutuhkan George. Namun, di balik pintu geser yang tertutup kembali, George tahu kalau malam ini akan jadi malam yang sangat panjang—dan sangat menguji iman.

🏁🏁🏁

Alex di layar ponselnya masih menatap George dengan tatapan yang memohon, transisi dari rasa cemburu menjadi beneran anxiety.

"George... please, please beli dulu sayang. Gue tahu gue posesif, gue tau gue jealous banget, tapi mau gimana lagi? Gue di sini, lo di sana, dan di tengah-tengahnya ada bos kita. Gue nggak mau ambil risiko sekecil apa pun."

George menghela napas panjang, menatap pantulan dirinya sendiri di permukaan air onsen. Dia bisa merasakan betapa Alex benar-benar tidak tenang, dan dia tahu kalau dia tidak menuruti permintaan ini, Alex tidak akan bisa tidur tenang sampai dia pulang ke pelukannya.

"Iya-iya, Alex," jawab George akhirnya, suaranya melembut. "Abis ini aku cari konbini (minimarket). Di sekitar sini kayaknya ada yang buka 24 jam. Aku beli buat ketenangan hati kamu, oke?"

"Janji ya?"

"Janji."

"Aku bakal simpen di dompet atau di kantong tas yang paling dalem. Nggak akan aku keluarin kecuali kalau... yah, kalau keadaan bener-bener darurat atau amit-amit terjadi sesuatu yang nggak aku inginkan," George mencoba menenangkan pacarnya.

"Sekarang, kamu tidur ya? Besok kamu ada ketemu klien juga, kan? Jangan mikirin aku mulu, aku bakal baik-baik aja di sini."

Setelah sedikit bujuk rayu—atau bujuk buset, tepatnya—dan akhirnya berhasil bikin Alex tersenyum tipis lagi, George memutuskan untuk menyudahi panggilan itu. Dia buru-buru naik dari kolam onsen terus memakai kembali yukata dengan rapi, dan melangkah masuk ke dalam kamar.

Suasana di dalam kamar terasa hening, hanya terdengar suara detak jam dinding dan embusan angin musim semi dari luar jendela. Carlos sudah ada di dalam kamar lagi, mungkin udah kelar ngerokoknya atau gak mood ngerokok. Dia duduk bersila di atas futonnya sendiri, sibuk dengan laptop di pangkuannya. Begitu George masuk, Carlos melirik sekilas, lalu kembali menatap layar laptop.

George berjalan melewati partisi kayu tipis itu dengan perasaan campur aduk. Dia merasa kayak lagi mau  misi rahasia negara aja.

"Pak, saya mau... em, mau cari snack sebentar ke minimarket depan. Bapak mau titip sesuatu?" tanya George, berusaha menjaga suaranya tetap datar, meskipun jantungnya berdegup kencang memikirkan misi utamanya yaitu untuk membeli 'asuransi' yang diminta Alex.

Carlos mendongak, matanya yang tajam menatap George selama beberapa detik, seolah bisa membaca kegelisahan di balik wajah Omega itu. Dia tahu George baru saja selesai teleponan, dan dia cukup cerdas untuk tahu bahwa George tidak mungkin keluar hanya untuk mencari snack jam segini kalau tidak ada sesuatu yang mendesak.

"Tidak usah, George. Saya udah kenyang tadi," jawab Carlos santai, namun ada kilatan jenaka di matanya. "Hati-hati di luar, dingin dan jangan lama-lama, besok kita harus audit berkas lagi sebelum pulang."

"Siap, Pak," sahut George cepat, lalu segera mengambil jaketnya dan melangkah keluar pintu ryokan, niatnya bulat untuk menuntaskan permintaan konyol—tapi ada benernya juga sih—dari sang pacar.

🏁🏁🏁

Dinginnya angin malam Nagano langsung menusuk kulit begitu George melangkah keluar dari konbini, kantong plastik kecil berisi kotak 'asuransi' pesanan Alex dan sebotol teh hijau tersembunyi aman di dalam saku jaket tebalnya. George berjalan cepat di trotoar sepi, napasnya membentuk kabut tipis di udara.

Begitu kembali ke ryokan dan membuka pintu geser kamar, keheningan langsung menyambutnya. Laptop Carlos sudah tertutup di atas meja kecil deket futonnya. Tapi yang bikin George mematung di ambang pintu adalah suara kecipak air yang lembut dari arah luar.

Carlos lagi berendam.

George narik napas dalam-dalam, berusaha meredam detak jantungnya yang mendadak gak karuan. Dia seharusnya buru-buru menyembunyikan kantong plastiknya ke dalam tas kerja, tapi entah dapet keberanian dari mana, kakinya malah melangkah pelan mendekati pintu kaca yang membatasi area kamar dan private onsen.

Melalui celah kaca yang sedikit berembun, George bisa melihat punggung tegap Carlos yang bersandar di tepian batu alam. Bahunya lebar, otot-otot lengannya yang biasa tersembunyi di balik blazer sekarang terekspos jelas, basah oleh air hangat, berkilau di bawah temaram lampu taman. Sisa feromon menguar tipis bersama uap air, menciptakan atmosfer yang bener-bener memabukkan.

Oh, shit.

George menelan ludah dengan susah payah. Di kantor, dia emang sering banget liat bosnya—entah pas lagi mimpin rapat, nolak laporan divisi lain yang berantakan, atau sekadar jalan di lorong. Tapi damn, Alpha keturunan Spanyol itu gak sadar apa kalau dia seseksi ini?

Enak banget dia berendem di sana tanpa beban, kelihatan santai dan tanpa dosa, sama sekali gak tahu kalau George di dalam kamar lagi berjuang setengah mati nahan diri biar iman dan takwanya gak makin ambruk ke neraka.

George buru-buru memalingkan muka, megangin dadanya yang bergemuruh. Pikirannya udah buyar ke mana-mana. Di satu sisi, bayangan Alex yang cemberut posesif di video call tadi masih segar di ingatan. Di sisi lain, pemandangan surgawi di depan matanya ini pol-polan merusak iman.

"George? Kamu sudah balik?"

Suara bariton Carlos yang serak karena efek relaksasi air panas tiba-tiba menggema dari luar.

George tersentak, hampir aja lompat. "Ah—iya, Pak! Sudah! I-Ini... saya mau langsung siap-siap tidur!" jawab George gelagapan, buru-buru masuk ke dalam dan berdoa dalam hati supaya malam ini cepat berlalu sebelum insting Omega-nya bertindak lebih jauh.

George buru-buru duduk di lantai tatami dekat tasnya, membelakangi pintu onsen. Dengan gerakan buru-buru dan panik, dia membongkar kantong plastik kecil dari konbini tadi sambil ngedumel pelan.

"Lagian kenapa sih parno banget... lagian Pak Carlos juga b aja kali, nggak bakal macem-macem. Posesifnya kadang suka nggak ngotak, dikira gue gampang bener apa tergoda..." cicit George, masih asyik mengomel sendiri sambil meratapi nasibnya yang harus jalan menembus angin malam Nagano cuma demi sebuah rasa aman semu bagi pacarnya.

Dia menarik keluar barang belanjaannya dari plastik. Di tangan kanannya ada sebotol teh hijau, dan di tangan kirinya... ada satu kotak kecil berwarna merah mencolok dengan tulisan Jepang yang artinya Ultra Thin lengkap dengan gambar varian rasa stroberi. Benda keramat itu dia pandangi dengan saksama, bingung mau ditaruh di sebelah mana supaya nggak gampang kelihatan.

"Beli apa tadi, George?"

DEG.

Suara bariton yang berat dan serak khas orang habis berendam itu terdengar tepat di atas kepalanya.

George membeku seketika. Seluruh bulu kuduknya berdiri. Dia bener-bener gak nyadar kalau suara kecipak air di luar udah berhenti dan bosnya udah selesai berendem.

Begitu George mendongak, Carlos sudah berdiri tepat di belakangnya—cuma pakai yukata longgar yang ikat pinggangnya agak kendor, menampilkan siluet dadanya yang masih basah dan beruap. Rambut hitamnya yang setengah basah jatuh berantakan di dahinya, bikin aura Alpha-nya makin keluar berlipat-ganda.

Dan pas banget, posisi tangan kiri George lagi keangkat ke udara, memegang erat kotak kondom rasa stroberi ultra thin itu tepat di depan mata Carlos.

Suasana kamar yang tadinya hangat mendadak hening seketika. Hanya ada suara detak jam dinding yang seolah mengejek kepanikan George.

Mata tajam Carlos turun, menatap lurus ke arah benda keramat di tangan George, membaca tulisan dan gambar stroberi kecil di kotaknya, lalu kembali menatap mata George yang udah melotot horor mirip Omega ketahuan maling jemuran.

Carlos menaikkan sebelah alisnya. Sudut bibirnya berkedut, menahan senyum geli yang amat sangat melihat asisten senior andalannya yang biasanya galak dan perfeksionis di kantor, sekarang malah mati kutu memegang pelindung rasa buah di kamar hotel mereka.

"Oh," Carlos berdeham pendek, memecah suasana absurd di antara mereka. "Jadi... itu snack malam yang kamu maksud, George?"

"N-no... No, no! Sorry, Pak! Jangan salah paham dulu!"

George langsung nyentak turun tangannya, hampir menjatuhkan kotak merah itu saking paniknya, sebelum buru-buru menyembunyikannya di balik punggung. Baru setelah itu dia sadar kalau Carlos literally berdiri di belakangnya.

Sial bego banget deh.

Wajahnya udah merah padam sampai ke telinga, mengalahkan warna stroberi di kemasan tadi. Otaknya yang biasa encer mendadak blank total.

"Ini... ini sebenarnya request-nya—"

Kalimat George menggantung begitu aja.

Shit.

Masa iya dia harus bilang kalau semua ini gara-gara Alex yang parno akut karena mereka sekamar? Carlos kan bos mereka berdua di Williams Accounting, anjir.

Bisa-bisa pas balik ke London nanti, Alex langsung dipanggil ke ruangan HRD atau malah diledek habis-habisan tiap kali papasan di koridor kantor.

Sementara George lagi mengalami krisis eksistensi, Carlos cuma bersedekap dada. Otaknya yang sebenarnya encer kalau lagi nggak males tentu gak butuh waktu lama buat mencerna situasi ini.

Dia tahu betul gimana hubungan George dan Alex. Alpha posesif yang parno kalau Omeganya dinas luar bareng pria lain? Classic. Carlos udah sering lihat yang begitu.

Tapi melihat George yang panik setengah mati dengan yukata sedikit berantakan, ditambah aroma manis yang mulai bocor karena gugup, sesuatu di dalam diri Carlos terusik.

Kapan lagi, kan?

Mereka lagi di Nagano, jauh dari gosip kantor London. Kamarnya mewah, suasananya mendukung, dan George Russell malam ini terlalu cantik buat diabaikan begitu saja.

Ditambah lagi, barangnya bahkan udah siap. Ultra thin rasa stroberi pula.

Carlos melangkah mendekat sampai George bisa merasakan hangat tubuhnya tepat di belakang punggungnya. Aroma khas sang Alpha samar bercampur dengan uap air hangat yang masih menempel di kulit Carlos.

"Saya tahu itu punya Alex," ucap Carlos pelan di dekat telinga George. Tatapannya turun ke kotak merah yang masih disembunyikan George di balik punggung. "Tapi Alex nggak ada di sini sekarang, George..."

Dengan tenang, Carlos mengulurkan tangan dan menarik perlahan pergelangan tangan George kembali ke depan, sampai kotak kondom itu kembali terekspos di depan George.

"Dan berhubung kita udah sama-sama basah..." lanjut Carlos pelan di dekat telinga George,

"sayang banget kalau berhentinya sekarang."

End of Chapter 1

Notes:

Thank you for reading~
Feel free to leave me a message on my Strawpage: here

Series this work belongs to: