Actions

Work Header

Rona ya tuan

Summary:

"Tapi lo kalo selain kena tonjok gampang merah juga nggak?"

...

Pagutan terlepas hanya untuk keduanya tatap dalam jarak dekat. Napas panas menguar dari keduanya, yang belah bibirnya sama-sama basah, dan jejak airnya tak punya empu.

Rupanya Juhoon memang bisa memerah selain kena pukul.

 

Mungkin memang ini cara baru mereka dalam menyapa.
Yang bukan lagi berupa handshake keren.
Yang dilakukannya perlahan dan penuh debar.
Yang melajukan panas merata pada nadi dan hati.
Mungkin, tengah ingin merona ya tuan?

Notes:

Ak ngerasa privatter ak dah kebanyakan buat ngedraft anjai, jadi ngarsip di sini aja sekalian, enak ya pake folder...

Tapi meski niat aslinya ngarsip rasanya bakal seneng juga kalo misal enih dibaca dan dikasih reaksi :D

Happy reading!!!

 

Eh satu lagi ni spasinya gede soalnya biar klo dipindah ke platform lain ttp oke, soalnya ni ao3 emang agak unik ya (kalcer syok)

 

Met membaca frensss

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

 

 

 

 

Martin mengerem motor vario putih itu, menungkak standar lalu turun. Pemuda jangkung itu balik badan belum melepas helmnya. Matanya menatap lama sambil mengulum bibir bimbang.

"Apa?" Tanya Juhoon tenang, dua alisnya naik tinggi menanti.

"Kemaleman ini Jju," Martin jawab pendek buat Juhoon mengerutkan alis samar.

"Kemaleman kalo lu pulang sekarang," lanjutnya mendekat, taruh lengan santai ke atas kepala motor, agak bersandar.

"Yeee kan elu yang ngebikin kita baru pulang sekarang," kilah Juhoon buat Martin nyengir tanpa dosa.

"Nginep aja," tawar Martin santai. Rautnya tak banyak beriak. Beri tatapan tenang. Terlampau tenang untuk degup kencang yang seketika menyerang.

Jakunnya bergerak. Dan demi tuhan ia tau sendirinya gugup, meski sebisa mungkin pertahankan tatapan tenangnya.

Juhoon yang sedikit tersentak dan tak langsung menjawab malah membuatnya makin gelagapan.

Detik yang melambat sejalan dengan harapannya yang terbangun tak wajar.

Karena ini bukan perkara kenal tak kenal, bukan lagi berupa seorang teman yang telah lama berbagi waktu.

Sejujurnya tawaran Martin bukan hanya tanya tanpa harap.

Ada keinginan yang bersemayam dan ia nantikan.

Dan sepertina Juhoon tak jauh rupanya berlakon. Ia berkedip pelan. Bibir bawahnya ia gigit sejenak. 

Ragu menimang beberapa hal.

Hal seperti ajakan Martin yang terdengar menyenangkan. Yang meniup gelembung-gelembung udara supaya bersemayam di perut. Sehingga rongga perutnya terasa tergelitik dan ringan, lalu meletupkan hangat tak wajar, hingga ia bersemu.

Senyumnya tertahan atas sekelebat pikiran nakal.

Keterlaluan, bahkan tawaran itu belum jua jatuh pada kata terima atau tolak.

Maka pandangan Juhoon dinaikkan, tatap mata Martin tepat meminta lagi bujukan.

"Rumah lu kan harus ngelewatin Tanjung Mas, lagi musim ini," Martin membujuk manis, makin condong raih tangan kiri Juhoon dari stang.

Juhoon kembali terkesiap dengan mata membola meski tak bersuara. Gerayang aneh dari sentuhan tangan Martin membawa percik hangat yang melesat ke seluruh permukaan kulitnya, yang membuat pipinya memanas, senyumnya terlukis manis, kepalanya penuh, panas, dan gerah.

Ia sampai menunduk lepas kontak dari mata memohon Martin yang sayu itu.

Martin mengulum bibir lagi hilangkan gugup. "Ya?" Tanyanya mendesak lembut.

"Boleh?" Suara Juhoon malu-malu. Ia yang biasanya bersuara mantap tengah melayang entah kemana, belum lagi ditemukan. Hanya tersisa ia yang melirik dengan kerling tersipu.

Ah matilah Martin. Kalau hasilnya Juhoon yang malu-malu seperti ini harusnya sedari dulu ia pegang tangan kecil ini.

"Hn," Martin anggukkan kepala mantap. Senyumnya mengembang tanpa ia tutupi. Wajahnya sumringah dan merona merah.

Memang tiada beda mereka itu.

Juhoon yang masih menghindari tatap tengah menunduk putar kunci ergesa. Tangan kirinya masih dipegang Martin. Dan diusap pelan dengan jempol. Usapan pelan yang sudah sangat cukup buyarkan fokusnya sehingga kunci tak kunjung tercabut.

Martin malah terkekeh lepas. Kan Juhoon makin malu dan kikuk.

Kunci tercabut, Juhoon berdiri lepas dari motor, buat Martin juga menegak.

Keduanya siap melangkah, tapi tangan bertaut itu tak ingin saling melepas.

sampai Martin meremat pelan tangan Juhoon hanya untuk melepas dan merangkulnya masuk.

 

 

 

 

***

 

 

 

 

Manusia bodoh memang lebih suka bertindak timbang pakai otak.

Martin duduk bersadar sofa. Karpet tebalnya cukup lebar untuk alas kakinya terjulur serampangan.

Handuk di bahunya tersampir lesu. Seperti wajahnya yang sejak tadi ia usap dengan dua telapak. Makin kusut memikirkan sesuatu.

Kamar tamu direnovasi.

Entah kenapa ia kelabakan.

Padahal teman-temannya sering menginap. Teman yang baru dikenal sehari pun ia tak keberatan menawarkan tempat bermalam.

Tapi kenapa Juhoon yang baru pertama menginap mendadak jadi hal tak biasa ya?

Pemuda itu mendongak. Rambut coklat muda dan cukup gondrong yang sisa airnya masih menetes pada sofa dibarkan menekan sofa.

Lengan lembapnya timpa mata. Usahanya hilangkan gugup yang sia-sia.

Karena gemericik air kamar mandi di kamarnya terdengar jelas mengusiknya. Sekelebat wangi yang sama dengan dirinya juga sukses membawa gugup makin bertumbuh.

 

 

 

Juhoon melangkah tenang. Mengusak handuk di atas rambut dengan sembrono. Lalu biarkan handuk bertengger atas kepala.

Kaos biru laut itu tak terlalu gombor, tapi cukup banyak beri ruang pada badannya sehingga tak bentuk siluet badan. Celana cekak itu melebihi lutut, agak kaku sehingga tak menjejak pahanya.

Wajah lugunya yang lembap menoleh mencari. Lalu melangkah ringan.

Ia berjongkok, lihat tin yang tidur menengadah sehingga jejak air dari rambut basahi sofa sekitar.

Baju putih tanpa lengannya pamerkan sedikit otot yang baru tumbuh. Ada satu kalung rantai yang panjang sebagian tertutup lipatan tangan. Tangannya bersedekap dengan napas teratur. Jika tidur begini wajah damainya terpancar, pahat tegas oleh tuhan memang menakjubkan. Pipi tin memang dasarnya bersemu, mendebarkan.

Telunjuk itu terangkat, mengambang halus di alis rapi Martin, yang cokelat elok tanpa rekayasa.

Turun ke prosotan nasal sampai ujung tumpul hidung. Berhenti di situ karena Martin mengerut buat Juhoon tarik jemarinya refleks.

Martin kembali lelap dan sekelebat ide jahil timbul.

Ia mendekat. Lalu bediri bertumpu lutut sehingga bisa tepat di atas wajah mengerut itu, ia tiup pelan buat Martin makin menukikkan alis dalam tidur.

Cengir puas tercipta, Juhoon makin maju tiup-tiup sambil tolah-toleh incar seluruh sudut muka, buat sedikit rambut halus itu terbang. Martin yang menggeliat kecil malah makin betahkan usilnya.

Juhoon tarik napas kembali bersiap. Lebih dekati wajah tak nyaman itu, embus lagi.

Martin berpaling sungguhan terusik. Tangannya reflek sentak mengusir. Terantuk dengan dagu Juhoon yang langsung mendangak beri jarak.

"Duh!" Pekik Juhoon membeku.

Martin terkejut menegakkan kepala. Mata setengah nyawanya pandangi Juhoon yang masih mencerna rasa sakitnya.

Lalu Martin tersentak. Menyilakan kaki lalu beringsut mendekat. "Usil sih," protesnya separuh kesal.

Juhoon pegang dagunya tutupi dengan telapak, biarkan hangat tangan pudarkan rasa sakit yang tajam. Ia melirik bawah, pergelagan Martin ada gelang manik hitam dan gelang besi.

"Sakit," bisiknya reflek mengadu. Tak banyak bicara takut rasa sakitnya melumer sampai ke mana-mana.

"Ya elu si, makanya kaga usah iseng," Martin masih mengomel. Tapi raih kepala Juhoon biar menunduk mendekat.

Juhoon menggeleng. Tak mau lepas tangannya.

"Diliat dulu luka apa enggak," bujuk Martin buat Juhoon separuh enggan melepas tangannya.

"Jangan dipegang-pegang tapi," kata Juhoon memperingatkan. Ia duduk menyimpuh.

"Iye," dua tangan Martin pegang leher Juhoon, arahkan toleh kanan agak mendongak.

Ruam merah pekat seukuran ujung jempol menua di rahang agak bawah.

"Kulit lu gampang merah ya?" Tanya Martin murni buat Juhoon pukul bahunya.

"Lo nonjoknya kenceng ya anjing, hulk kena juga jadi coklat," protes Juhoon begitu saja.

"Iya dah, sakit?" Tanya Martin lirik Juhoon yang langsung mendecak malas.

Martin tertawa, "Lo kalo mau bales gua ikhlas dah."

Juhoon tak jawab dan pilih mencebik ak percaya buat Martin kembali mendekat pada luka.

Meski beberapa kali lirik jakun Juhoon yang naik turun. Distraksi paling sialan. Karena ia jadi menyadari posisi tangan lebarnya, kulit leher Juhoon yang halus, dan dua titik hitam yang manis.

Martin telan ludahnya gugup. Mati-matian lihat ruam Juhoon, lalu jemarinya bergerak gamang, ragu ingin menyentuh.

"Tapi lo kalo selain kena tonjok gampang merah juga nggak?"

"Kena apa?"

"Kalo mau nonjok, tonjok aja ya jju?" Pinta Martin buat Juhoon mengerut bingung.

"Hnnn?" Juhoon mendelik lebar.

Rupanya Martin beri kecup memar itu. Tekan pelan, betul-betul pelan. Hanya ingin rasa sakitnya hilang.

Juhoon mematung, matanya masih membola. Tanpa permisi rasa hangat dari kecup itu jalari seluruh tubuh, sentuh semua indra perabanya. lagi-lagi dibua bersemu.

Ia yang membeku tengah lebur jiwa di dalamnya. Lemas seluruh persendian. 

Bibirnya terbuka hendak bicara, tapi tertahan. Bingung apa kata yang patut keluar.

Martin tarik diri, lirik Juhoon lalu arahkan supaya kepala temannya menatapnya lagi.

Mata bundar legam temui pupil karamel.

Juhoon tarik napas dalam.

Lalu menyentak bahu Martin, buat punggung Martin tubruk sofa dan badannya terjatuh agak miring.

"Gue bisa ngebales lebih ya anjir."

"Mau nonjok sampe lumpuh juga boleh jju," kata Martin tenang, tatap tepat mata Juhoon yang memicing.

Anggukan Martin yang mempersilakan buat Juhoon maju sapa bibir Martin dengan ranumnya. Sehingga Martin tersentak.

Martin kira ini hanya rekayasa, pertunjukan karena Juhoon ingin mempermainkan. Balasan karena ia berlaku tanpa timang-timang.

Tapi beberapa saat juga Juhoon masih tak menjauh.

Rupanya Juhoon memang ingin menyapanya. Menyapa melalui cara lebih intim. Membuang hanshake mereka yang biasa.

Karena Juhoon masih betah menekan, lalu ranumnya terbuka, cubit Martin di mana-mana. Sehingga Martin tak banyak buang masa untuk menimang berat salah suatu keputusan.

Pun semisal salah, Juhoon kok orangnya.

Martin tak mau kalah menuntut, bawa badannya menegak beringsut bersandar lurus pada sofa, gapai pinggang Juhoon dalam satu tarikan tangan.

Sehingga Juhoon mendekat dengan lututnya, langkahi persilaan kaki tin, duduk di singgasana, tempatnya seharusnya, meski kakinya terbuka tak seanggun raja.

Martin rengkuh dengan satu tangan, yang melingkar sangat cukup sabuki pinggang di balik baju longgar.

Pagutan terlepas hanya untuk keduanya tatap dalam jarak dekat. Napas panas menguar dari keduanya, yang belah bibirnya sama-sama basah, dan jejak airnya tak punya empu.

Rupanya Juhoon memang bisa memerah selain kena pukul. 

Martin tersenyum kecil, ia ingin Juhoon lebih merah dari ini, apa mungkin? 

Selain itu bukan hanya pipi, melainkan yang jauh lebih intim, apa mungkin?

Juhoon mabuk sepertinya, Martin yang merekah di hadapannya tak bantu pulihkan akalnya. Tatapnya yang sayu masih mendamba. Patah-patah mendekat lagi pada Martin yang terbuka menyabutnya.

Juhoon kembali tekan bibir Martin yang hangat, cubit semena-mena dan Martin hanya terbuka persilakannya.

Pagutannya makin sembrono lama-lama, terlalu banyak main-mainnya. Buat Martin eratkan pelukan supaya Juhoon bisa sedikit diam. lalu ia paut rakus bibir bawah Juhoon, sempat cubit kecil yang atas lalu raup seluruhnya.

Dan sepertinya Juhoon ang pasif memercikkan rasa baru sehingga pada malam lesu ini Martin lebih punya gairah. Bahkan meski Juhoon kali-kali mundur beri jarak bernapas, ia meluncur hapus jeda.

Sehingga Juhoon pilih berserah penuh, pasrah atas napas tersenggalnya yang lepas. Dua tangannya meraba ke atas, remat pundak tegap itu. Mengelus menuju leher dan tangannya dibuat bertaut lembut di belakang leher tebal Martin .

Erangan rendah sempat lolos.

Jemari panjang Juhoon kembali berpindah, ke bawah, sehingga sikunya bersangga bahu Martin, lengan bawahnya menggantung di punggung tegap Martin .

Tapu Juhoon tak mau terlalu pasif, miringkan kepala beberapa kali, entah cari nyaman atau cari titik terrapat. 

Suara cecapan keluar tanpa pembungkaman. Riuh. Panas. Semuany mengudara makin lepas.

Tangan Juhoon di punggung tak mau diam. Meremat-remat kaus Martin, yang kelamaan naik dalam genggamnya buat punggung polos mengintip demi sedikit. Sampai hemnya ikut dalam genggam. Sehingga punggung bawah Martin terbentang lebar dengan sisa-sisa kaus yang tak mampu digenggam.

Kedua tangan Juhoon sibuk meremat, dan beberapa kali kukunya menggerus punggung Martin. Menimbulkan gelanyar aneh yang buat Juhoon merapatkan diri, supaya tangannya bisa menyapa punggung Martin lebih luas.

 

Klik.

 

Suara pintu terdengar pelan. Tapi renyah dan mencolok selain suara aduan napas dan cecap.

Keduanya menjauh.

Lempar tatap panik.

Juhoon salah fokus pada berantakannya Martin. Rambut basahnya memang berantakan tak sisiran. Tapi rona memerahnya ternyata sampai telinga, meski tatapannya tetap berani ada senyum tersipu yang tinggal di situ.

Ah Juhoon jadi ikut malu dan menunduk. Supaya Martin tak dapat memperhatikannya lebih lekat.

Martin ikut membuang muka. Senyum kecil yang tersipu tak bisa ia hilangkan. Ia berdehem serak sambil garuk leher belakang. "Mau minum nggak jju?"

Juhoon mengangguk meski masih menunduk. Menjauh dan berdiri lurus menuju kasur.

Martin segera berdiri, melesat cepat melintasi pintu.

Juhoon yang ditinggal menoleh ke pintu dengar bunyi ceklikan.

Ia putar kepala lihat cermin. Langsung tatap bibirnya, yang lembap, merah, dan berat. Lalu rona menjalar panas di pembuluh darahnya.

Ia melompat telungkup di atas kasur dengan betis menggantung.

 

 

 

 

 

Notes:

Jujurly dh lama gk bikin narasi cuy tpi engga kagok blas mungkin memang inilah jiwa penulis lepas gw, maaf yah skripsi meski aku berniat serius sama kamu ttp aja yang menang orang lama (fanfic ship)

Pemula bgt lagi, kagok soalnya spasi di sini gede yak segede martin, brb ngulik dulu dah biar ak makin enjoy kalyan ikut enjoy kita semua enjoy aldi taher enjoy

edit: spasinya dh ak edit wkwkwk