Work Text:
“eh awas itu! ryul ih! tuhkan kalah” protes ohyul kecewa sambil mengerucutkan bibirnya tak sadar. Pasalnya, teman bermainnya ini ia rasa tidak sungguh sungguh untuk memenangkan permainannya.
“ah bosen yul, main ini mulu” balas ryul. Bosan juga ia memainkan permainan yang sama untuk waktu yang cukup lama.
“yaudah terus mau ngapain?” jawab ohyul sedikit malas. Karena sejujurnya memang membosankan melakukan aktivitas yang sama selama berjam-jam begini.
“nonton film aja deh yuk!” kali ini ryul sedikit bersemangat. Sedangkan ohyul cuma menganggukan kepalanya sambil meraih remote di dekatnya, lalu membuka aplikasi streaming untuk mereka berdua menonton.
“nonton apa ya? you choose.” ucap ohyul melemparkan remotenya ke arah ryul sambil beranjak dari duduknya.
“lu mau kemana?” melihatnya bangun dari sofa, ryul heran.
“mau ambil cemilan, kayaknya ada popcorn” jawabnya tanpa menatap ryul. Ia pergi ke dapur mencari eksistensi popcorn dan memanaskannya untuk dijadikan camilan menonton film.
Ryul terus saja menggulir aplikasi streaming ini, berupaya untuk menemukan film yang layak untuk mereka berdua tonton. Membuka kategori Comedy, Action, Drama, hingga Romance. Susah banget sih cari film seru ujarnya dalam hati.
Hingga ohyul kembali, orang itu masih belum juga menemukan film yang cocok untuk mereka berdua tonton.
“astaga belum selesai juga milih film?” ucap ohyul frustasi, sambil meletakkan popcornya di atas meja.
“ya abisnya lu nyuruh gua yang milih, ya gua bingung” jawab ryul.
“udah sini” akhirnya remote beralih ke sang empu. Lanjut menggulir hingga tak lama kemudian akhirnya menemukan apa yang dapat mereka tonton.
“ini aja ya?” tanyanya mengarahkan remotenya ke arah TV yang menunjukkan judul dan poster sebuah film romance. Dibalas simbol ‘ok’ dari jari tangan ryul.
Melihat betapa mudahnya ohyul mencari film, dapat dipastikan kalau ini memang salah satu watchlist yang ia punya. Juga dari genre yang di pilih, ini memang selera ohyul.
Selama film dimulai. Mereka menonton dengan tenang, sampai pada kissing scene tiba-tiba saja ohyul berceletuk “enak gasih ciuman?” membuat ryul terkejut. Ohyul juga tak menyangka kalimat itu akan keluar dari mulutnya.
“kenapa? mau coba?” tanggapannya tengil, menggoda ohyul untuk meledeknya. Pipi ohyul memanas. Ia dapat pastikan wajahnya memerah saat ini. Tapi ia berusaha untuk tenang.
“mau,” ucapnya pelan. Ryul terkejut. Membuat wajah seolah bertanya-tanya keheranan.
“buat belajar. Biar nanti pas gua ciuman sama cewek gua, gua ga bego-bego amat.” alibinya, melanjutkan ucapannya— tertawa canggung. sedangkan ryul, terlihat menahan tawanya mendengar pernyataannya.
Ryul menyeringai. Memikirkan sesuatu yang gila. Tiba-tiba saja ia tertarik dengan bibir milik ohyul. Menatapnya cukup lama, sampai tak sengaja keluar kalimat:
“mau coba sama gua?” ohyul terbelalak. Matanya membulat sempurna menatap ryul heran. “HAH?” ujarnya terkejut.
“well, for learn, only if you want to” katanya berusaha untuk bersikap setenang mungkin. Walaupun ia rasa saat ini terasa panas, gerah. Apakah ac mulai tak berfungsi?
“uuhh… for learn?” jawabnya yakin-tak-yakin. “you’ve done this before? sama mantan lo itu?” tanyanya.
Sudah pasti ia pernah melakukannya dengan para mantannya yang banyak itu. Ryul memang sering kali gonta-ganti pasangan. Saking seringnya, ohyul sendiri tak hapal siapa saja yang pernah dekat dan menjalin hubungan dengannya. Kalau bisa dijejerkan, mungkin saja mantan-mantan ryul bisa sepanjang antrian pom bensin pertalite.
“of course. jadi, mau coba?” tanyanya sekali lagi pada ohyul. Meyakinkan dirinya apakah ia benar menginginkannya. Ia tak mau melakukan hal yang membuat temannya ini tak nyaman.
Ohyul mengangguk pelan. Tiba-tiba saja ia merasa gugup setengah mati. Wajahnya memanas sudah pasti ia benar-benar memerah saat ini. Tak jauh berbeda dengan ryul yang juga menunjukan semburat merah di pipinya dan merasakan panas di tubuhnya.
“say it out loud, yakin gak?”
“iya yakin, udah buru ih!” ucapnya salah tingkah. Terkesan terburu-buru, padahal sebenarnya ia malu, gugup. Melakukan hal ini dengan temannya— sahabatnya sendiri.
Pernyataan tersebut cukup meyakinkan ryul untuk melanjutkan aksinya. Mereka mulai mengabaikan pertujukkan film yang mereka putar di TV. Atas inisiatif ryul— ryul bergerak menyamping, siap untuk melakukan aksinya. Mendapati isyarat yang disampaikan ryul, ohyul pun akhirnya menghadapi ryul. Kini mereka duduk berhadapan— bertatap muka.
Cukup lama mereka berhadapan begini. Ryul sibuk memperhatikan wajah gugup ohyul, sedang ohyul berusaha santai untuk menutupi kegugupannya ini. Kalau dilihat seperti ini, ohyul ternyata menggemaskan juga— setidaknya itu yang ada di pikiran ryul saat ini.
Ryul memajukan wajahnya, mendekat. Hingga hanya tersisa beberapa centi dengan wajah temannya. Melihat bibir ohyul sedekat ini, membuatnya semakin penasaran akan bagaimana rasa bibirnya ini. Ryul menarik dagu ohyul dan mendekatkan wajahnya ke wajah teman baiknya ini. Ia menutup matanya perlahan hingga bibir keduanya bertabrakan.
Hangat, manis, lembut — lebih lembut dari yang ryul bayangkan. Bukannya ryul pernah membayangkan bagaimana rasanya, ia tidak. Atau setidaknya, ia telah berusaha untuk tidak membayangkannya.
Ryul memimpin, ohyul mengikuti setiap aksinya. Ohyul kini meraih ujung baju ryul dan menggenggamnya gugup.
Ryul melanjutkan aksinya. Ia mulai tenggelam dalam ciuman ini. Ryul menggigit bibir ohyul lembut, memberinya akses untuk masuk lebih dalam. Mengabsen setiap baris gigi ohyul.
Hangat, ryul merasakan kehangat di dalam mulut ohyul. Hangat sampai-sampai entah bagaimana ia merasa seluruh tubuhnya ikut memanas. Ohyul akhirnya membalas ciumannya. Mengangkat satu tangannya dan meletakkannya di bahu ryul.
“nnghh..” tiba-tiba tanpa sadar, ohyul mengeluarkan suara dari tenggorokannya. Ohyul terbelalak, melepaskan ciumannya. Ryul juga terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.
Namun, bukannya berhenti ryul menginginkannya lagi. Ia kembali mendekatkan wajahnya, menarik tengkuk ohyul dan menabrakkan bibirnya sekali lagi. Namun kali ini dengan sedikit tuntutan.
Ohyul tidak menolak. Ia justru menikmati segalanya yang terjadi. Ketika bibir mereka kembali bertautan, ohyul mengalungkan lengannya ke leher ryul. Membiarkan dirinya menjadi milik orang yang ada di hadapannya ini — sahabatnya sendiri.
Ryul memasukan lidahnya lagi, menuntut suara yang tadi baru saja mereka dengar. Ia ingin mendengarnya lagi, suara yang akan keluar dari mulut ohyul.
Ryul mengangkat tubuh ohyul. Membawanya ke pangkuan ryul. Kini ohyul duduk di pangkuan ryul. Ohyul menunduk, menatap mata ryul yang menengadah. Astaga, melihatnya dengan posisi seperti ini membuatnya salah tingkah. Muncul semburat merah di pipinya, menunduk malu-malu.
Melihat pemandangan yang ada dipangkuannya ini ryul benar-benar tidak bisa menahan dirinya lagi. Kembali ia menyatukan tautan mereka yang terputus. Gila. Sepertinya ryul akan gila. Bagaimana sahabatnya ini bisa se-memabukkan ini? Ohyul sungguh berbahaya untuknya.
Tangan ryul kini menyelinap masuk ke dalam kaus milik ohyul. Sentuhan telapak besar milik ryul yang dingin bersentuhan dengan kulitnya yang hangat membuat bulu kuduknya berdiri. Muncul lagi perasaan aneh di dalam perut ohyul, seperti ada sesuatu yang bermekaran disana. Anehnya, ohyul menyukainya.
Ryul sudah banyak melakukan hal ini sebelumnya, erbeda dengan ohyul. Ryul memiliki banyak pengalaman dalam bercinta. Bercumbu seperti ini sudah sering kali ia lakukan dengan mantannya.
Tapi entah kenapa, melakukannya bersama sahabatnya ini rasanya benar-benar berbeda. Eksperimen ini lah yang paling berkesan untuknya. Dan tak ada yang lebih baik dari ini.
Ohyul tidak pernah menyangka akan melakukan ini dengan sahabatnya sendiri. Atau kalau boleh mengakui — dengan cinta pertamanya. Dan yang paling membuatnya bahagia adalah, ketika sahabatnya juga menginginkannya sama dengan dirinya.
Tak ada yang tau diantara mereka berdua, akan menjadi seperti apa hubungan mereka setelahnya. Mereka akan memikirkannya setelah mereka selesai dengan urusannya.
