Work Text:
Hidup itu banyak sekali cobaannya. Memiliki gelar sarjana pun tidak bisa dipastikan mendapat pekerjaan yang layak. Mungkin Marko menjadi salah satu dari beribu-ribu orang yang belum memiliki pekerjaan sesuai dengan pengabdiannya selama berkuliah. Hingga pada akhirnya, ia memilih untuk bekerja sebagai penagih hutang.
Ada satu nasabah yang selalu membuatnya bertanya-tanya. Tante Heca namanya, janda kembang di kampung. Jika dilihat dari kondisi rumah terbilang sangat mewah. Pun tante Heca dikenal sebagai seorang yang hidup berkecukupan. Bahkan untuk masuk ke pintu rumah pun ia harus berjalan dua puluh lima langkah dari pagar. Banyak tanaman hias yang mengelilingi halaman rumah ini. Pun ada mobil dan dua sepeda motor yang terparkir di garasinya. Lalu pertanyaan tersebut adalah, ‘mengapa tante Heca berhutang jika hidupnya lebih dari cukup? Bahkan hutang yang tertulis hanya tiga ratus ribu rupiah’. Ingin bertanya langsung kepada tante Heca, namun lidahnya kelu ketika berhadapan dengan tante Heca secara langsung.
“Maaf ya, habis mandi. Mas Marko mau mampir dulu, nggak? Takutnya haus nagih hutang di siang bolong begini.”
“Masih ada penagihan di kampung sebelah, tan.”
“Duh, uangnya ada di kamar. Masuk dulu aja, nggak apa-apa.”
Marko mengulas senyum. Kemudian masuk ke dalam rumah ini.
“Mandinya siang banget, tan.” Ujar Marko.
“Tadi pagi udah mandi, tapi kalau lagi musim panas begini jadi gerah. Jadi, tante mandi aja..”
“Ini ya, tan. Sisa 2 nomor lagi.”
“Eh cepet banget. Kalau mau hutang lagi boleh nggak?”
“Ya cepat orang tante bayarnya lancar. Boleh kok, tapi saya bilang boss dulu. Tapi biasanya kalau lancar sih besok bisa cair.”
“Mau deh. Tapi mas Marko masih terus kerja di sini, ‘kan?”
“Selagi CV saya belum dilirik sama perusahaan besar sih bakal terus kerja di sini.”
“Oh, gitu…”
“Iya. Besok saya kabarin bisa cair atau nggaknya. Tapi saya usahakan bisa.”
“Oke. Btw, mas. Kalau parkir dimasukin aja motornya. Siang bolong gini keadaan kampung sepi, rawan maling.”
Benar juga. Mayoritas warga di sini tidak memililiki kegiatan di siang hari. “Oke deh, nanti saya masukin ke dalam pagar.”
“Sampai garasi juga boleh.” Jawab tante Heca dengan tawa.
“Tante juga.”
“Huh? Tante parkir mobil sama motor di dalam garasi, kok.”
“Ah, bukan itu. Maksud saya hati-hati kalau lagi sendirian di rumah. Katanya keadaan kampung ini sepi.”
“Oh, hahaha. Kalau tante sih pasti aman soalnya warga asli sini. Nggak ada yang berani juga meskipun tante janda dan tinggal sendiri.”
“Ya udah kalau gitu, saya permisi, tan.”
“Iya, hati-hati, mas.”
Marko akhirnya bisa bernapas lega. Selama di dalam rumah tante Heca, tubuhnya dibuat menegang. Sebab balutan handuk pada tubuh tante Heca tidak sempurna. Payudara yang besar bahkan bagian berwarna cokelatnya terlihat sedikit, serta panjang handuk yang hanya menutupi hingga bagian paha atas. Marko benar-benar pening, apalagi harus menghadapi nasabah seperti tante Heca setiap hari.
Keesokan harinya, tubuh Marko kembali dibuat menegang. Sebab tante Heca kini mengenakan lingerie berwarna merah terang. Putingnya mencuat, setiap berjalan payudaranya bergoyang-goyang.
“Ini ya, tan, sisa uangnya.” Ujar Marko memberikan lembar uang yang kembali dipinjam oleh tante Heca.
“Okay, ini buat kamu, mas.” Katanya memberi satu lembar seratus ribu untuk Marko.
“Eh, nggak usah, tan.”
“Aduh nggak apa-apa. Besok, ya, saya mulai ngangsur. Apa mau makan siang dulu di sini? Daripada makan di luar? Hitung-hitung hemat uang.”
“Duh, saya kembalikan aja uangnya, tan, kalau ditawari makan.”
“Nggak apa-apa, dong. Yuk ke belakang. Motor mas Marko masuk ke dalam pagar, kan?”
Marko mengangguk. “Masuk, tan.”
Bukan hanya tubuh Marko yang menegang, penisnya pun ikut menegang ketika melihat punggung polos tante Heca. Apalagi saat ingatannya kembali pada dua puting tante Heca yang mencuat. Duh, kepala Marko jadi pening.
“Saya nggak masak banyak, sih. Cuma daging sapi rica-rica sama ayam bakar.”
“Makasih banyak, tan. Tante nggak makan?”
Tante Heca menggeleng. “Saya makan sehari sekali, mas.”
“Saya jadi nggak enak makannya ditemenin gini…”
“Ya nggak apa-apa. Malah saya senang punya teman ngobrol. Btw, mas Marko tuh punya istri, nggak?”
“Saya belum kepikiran buat nikah, tan.”
“Kalau pacar, ada?”
“Nggak ada. Perempuan jaman sekarang mana mau pacaran sama cowok yang gajinya pas-pasan?”
“Kalau saya sih mau.”
Uhuk, uhuk!
Marko tersedak makanannya sendiri.
“Mas Marko! Minum dulu.”
Uhuk, “makasih, tan.”
Marko melanjutkan santapannya.
“Mas.” Panggil tante Heca.
“I—iya, tan?” Jawab Marko sedikit ragu. Tatapan perempuan di depannya cukup tajam
“Sekarang mah saya mau jujur-jujuran aja, ya.”
Jantung Marko semakin berdebar. Suasana menjadi tegang.
“Saya tuh senang lihat laki-laki pekerja keras kayak mas Marko. Padahal mas masih muda, lho, tapi mas tuh bukan tipe laki-laki yang mudah menyerah.”
Marko masih menunggu kalimat selanjutnya.
“Kalau saya sih nggak masalah punya laki-laki dengan gaji pas-pasan. Lagipula saya punya usaha sendiri, punya penghasilan sendiri. Yang penting nggak nyakitin.”
“Maksudnya apa ya, tan?” Dengan berat hati, Marko bertanya demikian. Sebab takut bila ada hal yang tidak disukai tante Heca tentang dirinya.
“Saya mau bilang kalau saya suka sama mas Marko. Suka dalam penglihatan perempuan ke laki-laki. Mas pikir saya hutang karena butuh uang?”
Marko akhirnya mengerti. Tiba-tiba tubuhnya menegang. Bahkan untuk menelan ludah pun rasanya menyulitkan.
“Bukan, mas. Saya sengaja hutang biar bisa setiap hari lihat mas Marko.”
“Tan, tapi…”
“Saya nggak maksa, kok. Saya cuma mau jujur aja.”
“Duh, saya jadi nggak enak, tan. Dan nggak nyangka kalau ada yang suka sama saya.”
“Mas tuh nggak pernah ngaca, ya? Mas Marko tuh ganteng.”
Marko mengakui ketampanannya. Namun untuk soal disukai, sangat mustahil karena perempuan suka dengan laki-laki yang memiliki banyak uang.
“Saya nggak tau harus jawab apa, tante.”
“Nggak usah jawab nggak apa-apa. Tapi kalau mas Marko diterima kerja di perusahaan besar, tolong kabari, ya. Soalnya saya nggak mau dandan kayak gini buat orang lain.”
Hah? Maksudnya apa lagi ini? Kepala Marko semakin pusing.
“Tan…”
“Aduh, udah deh, mas. Kalau udah makannya mending keluar dari rumah saya. Bukan apa-apa. Bayangan di kepala saya semakin menjadi-jadi. Saya capek tiap malam colmek sambil bayangin muka kamu.”
HAH?
“Udah basah ini memek saya.”
HAH???
“Tan…?”
“Mau liat?”
Marko meneguk air liurnya dengan kasar. Alih-alih menggeleng, kepalanya justru mengangguk sebagai jawaban.
“Kalau lihat harus tanggung jawab.”
Lagi dan lagi, Marko menganggukkan kepala. Padahal ia belum tahu tanggung jawab yang tante Heca maksud seperti apa. Kemudian, tante Heca beralih duduk di samping kursi Marko. Kedua kakinya melebar— memperlihatkan kelamin merah mudanya yang sudah dihiasi lendir bening.
Jadi selain tidak mengenakan bra, tante Heca juga tidak mengenakan celana dalam. Marko dibuat kaget sekaget-kagetnya.
“Tan…”
“Minimal dibelai sih kalau nggak mau ngentotin.”
DUH! Kepala Marko benar-benar pusing!
“Tan… saya cuma punya waktu sebentar.”
“Nggak apa-apa ayo cepat. Biar nanti malam saya bisa tidur nyenyak, mas.”
Marko kembali menelan air liurnya dengan kasar. Saat wajahnya mendekat, tante Heca menuai protes.
“Basuh dulu mulut sama tangannya. Mas habis makan daging rica-rica nanti memek saya pedas!”
Marko segera beranjak. Kemudian membersihkan area mulut dan kedua telapak tangannya dengan sabun yang tersedia. Tak lupa mengeringkan telapak tangannya dengan tisu yang ada di atas meja makan.
“Tan, ini beneran nggak apa-apa?” Kedua mata sayu Marko menatap mata sayu tante Heca.
“Ya nggak apa-apa. Saya janda, mas juga single. Nggak ada yang salah.” Heca yang sudah tidak tahan menarik tangan Marko untuk menyentuh kelaminnya. “Duh, masss.”
Baru kali ini Marko melihat dengan jelas kelamin perempuan. Biasanya hanya melalui layar ponsel, namun kini benar-benar sangat nyata. Jari tangannya bergerak dengan hati-hati. Kelamin tante Heca sangat bersih, berwarna merah muda, dan harum. Tanpa ada sehelai bulu yang menempel. Marko jadi gelap mata dan berakhir menenggelamkan wajahnya di kelamin tante Heca.
Keraguan masih menyelimudi diri Marko. Namun lidahnya dengan berani terjulur hingga cairan bening itu dapat dicecap oleh indera perasanya. Jadi, begini rasanya? Nikmat dan tidak ada duanya.
“Aahh mass. Saya bisa pipis kalau mas Marko gini.”
“Wangi banget, tan.” Ujarnya. Lidahnya kembali menyentuh permukaan kelamin tante Heca, namun kali ini semakin liar seperti video porno yang pernah ia tonton. Kemudian menyesap klitoris tante Heca tanpa jeda.
“Aah mas Marko…”
Selanjutnya, jari tangan Marko membelai kelamin yang sudah basah tersebut. Lalu tanpa aba-aba memasukkan jari tengahnya ke dalam lubang kelamin di hadapannya. Suara lenguhan tante Heca berhasil membangunkan gairah dalam dirinya.
”Ahh, mas Marko…. Enak, mas…”
Tante Heca dibuat kewalahan. Matanya merem-melek. Angan yang sering ia bayangkan akhirnya terjadi. Jadi, ia tidak perlu penasaran bagaimana rasanya jika Marko menyesap cairan cintanya, bagaimana Marko menyapu lidah di permukaan kelaminnya, serta bagaimana jari panjang Marko melesak masuk ke dalam lubang kelaminnya. Hanya persetubuhan panas yang mungkin akan terjadi dalam waktu dekat.
”Mas, jilatin lagi… saya— akh mau keluar!”
Lantas Marko mengindahkan permintaan tersebut. Sesapan pada kelamin tante Heca semakin kencang. Gerakan jari di dalam lubang kelamin Heca pun semakin cepat. Pinggul Heca terangkat sebelum akhirnya meloloskan cairan cinta.
”Hahh rasanya gila, mas.” Ujar Heca dengan napas terengah keadaan kelaminnya sudah sangat merah dan sedikit perih.
”Mas mau pake memek aku, nggak?”
Meskipun Marko sedang ditawari makanan penutup paling lezat, namun ia tak bisa melupakan tanggung jawabnya. Akhirnya ia menolak permintaan itu.
“Tan, saya harus lanjut nagih. Kalau..”
“Kalau apa, mas?”
“Kalau nanti malam saya ke sini, apa boleh?”
Heca tersenyum lebar. “Boleh. Mas boleh kapan pun ke rumah saya.”
“Ya—ya udah deh, tan. Saya lanjut kerja dulu… saya permisi.”
“Hati-hati ya, mas.”
Marko menghentikan langkah, kemudian berbalik untuk kembali menatap mata tante Heca.
“Kenapa?”
“Itu— anu, tante mau dibawain apa?”
Kegugupan serta pertanyaan tersebut menimbulkan tawa. “Titip kondom aja, mas. Saya nggak punya suami, jadi kalau ketahuan hamil bisa bikin warga heboh.”
“K—kondom?”
“Iya.” Heca mendekati tubuh kaku Marko. Kemudian berbisik, “soalnya saya bakal layani mas Marko sampai pagi.”
Tubuh Marko semakin menegang. “Sa— saya lanjut kerja dulu, tan. Makasih memek— eh makan siangnya.” Lalu berjalan dengan tergesa untuk keluar dari rumah tante Heca. Jantungnya masih berdetak cepat setiap mengingat kejadian sebelumnya.
Malam yang sangat Heca tunggu akhirnya datang. Marko sampai di kediamannya dengan balutan celana panjang dan kaus warna putih. Terlihat sangat tampan dan gagah— sangat berbeda dengan penampilannya saat bekerja. Heca sendiri tidak bisa melunturkan senyum saat memeluk lengan laki-laki muda menuju kamarnya.
“Saya kira mas Marko nggak jadi ke sini.” Heca mendorong tubuh Marko agar duduk di atas ranjang tidurnya. Kemudian membuka lemari pakaian yang berisi lingerie dengan berbagai macam model. “Mas Marko boleh request pakaian yang saya pakai. Atau mau yang sekarang saya pakai juga nggak apa-apa.”
Marko menelan air liurnya dengan kasar. Penampilan tante Heca malam ini mampu membuat penisnya menegang sejak diberi sambutan oleh tante Heca. Lingerie berwarna merah terang yang sama sekali tidak bisa menutupi bagian tubuh intim— seakan pakaian ini dirancang untuk menggoda suami disaat sedang merajuk.
“I— ini aja, tan.” Jari telunjuknya terarah ke tubuh tante Heca. Sementara kedua matanya menatap mata tanta Heca. Sesekali melirik payudara yang terpampang jelas.
“Mas udah makan?”
“Udah.”
“Jangan tegang gitu, ah.” Heca duduk di pangkuan Marko. “Penampilan kamu malam ini jauh lebih ganteng dari biasanya.” Kedua tangannya membuka kaus Marko.
“Tante juga…”
“Saya emang kenapa?”
“Lebih cantik.”
“Mas cuci tangan dulu sana.”
Meskipun Heca sering bertelanjang tubuh saat di rumah, namun ia sangat menjaga kebersihan. Apalagi di bagian tubuh intim. Tak sembarangan orang bisa menyentuh, kecuali si mantan suami yang suka selingkuh dan berondong kesayangannya, Marko.
“Pesanan saya udah dibeli?”
“Ada di kantung celana. Saya cuma beli satu, tan.”
“Nggak apa-apa. Nanti saya stok biar kita bisa main sampai puas.”
Setelah mengatakan itu, Heca menyamakan tinggi dengan daerah intim Marko. Ia membuka celana Marko dengan sangat hati-hati. Kemudian mengeluarkan penis tegang Marko dari sarangnya.
“Gede juga, mas. Saya tambah nggak sabar.”
Awalnya wajah Marko terlihat tegang. Namun saat Heca mulai mengulum penis tegangnya, lama kelamaan ia jadi menikmati. Bahkan telapak tangannya kini sudah meremas rambut Heca— sama sekali tidak peduli jika dianggap tidak sopan apalagi dengan perbedaan usia mereka.
“Mas Marko desah aja, biar saya makin semangat.”
Lantas setelahnya, Marko mengalunkan suara lenguhan dan erangan. Kedua matanya menutup rapat untuk menikmati setiap kuluman penis dari Heca. Keadaan penisnya semakin keras dihiasi oleh urat yang begitu menggoda.
“Duduk!”
Marko kembali duduk di atas kasur Heca. Sementara Heca duduk di pangkuan Marko. Kulit tubuh mereka kini sudah bersentuhan. Semakin membuat Marko gugup.
“Pegang ini…” Heca mengarahkan telapak tangan Marko ke area kelaminnya. “Aaahh.” Kamu bisa mainin memek aku sesuka kamu… kayak tadi siang…”
Dengan keraguan dan sedikit terdorong oleh hawa napsu, jari Marko bergerak di area kelamin Heca. Fokusnya kini terbagi antara gerakan tangan dan bibir yang kini sudah bertautan dengan bibir Heca.
“Ahh sshh udah lama banget memek saya nggak ada yang mainin. Hngg, saya senang bisa ketemu cowok ganteng kayak mas Marko.” Heca mendesah nikmat. “Jari mas Marko juga panjang, jadi bikin saya puas..”
Marko pun jadi gelap mata. Bibirnya mengecup leher Heca tanpa jeda. Perubahan warna merah keunguan semakin melingkupi leher yang semula putih bersih.
“Saya nggak tahan lagi, Mas.” Heca bangkit dari duduknya. Kemudian melepas kain lingerie hingga membuat lekuk tubuhnya bisa dilihat langsung oleh mata telanjang Marko. Ia mencari kondom di dalam saku celana Marko dengan tergesa. Satu bungkus kondom yang Marko beli ternyata berisi tiga, jadi malam ini mungkin akan jadi malam yang panjang. “Mas, ayo, masukin kontol kamu ke memek saya.” Heca sudah berada di tengah kasur, mengangkang serta memperlihatkan kelaminnya yang sudah basah akibat keluarnya cairan alami.
Sementara Marko mulai mendekat. Cukup ragu, namun ia tau letak lubang kelamin yang akan menjadi santapannya. Perlahan ujung penisnya dimasukkan ke dalam lubang kelamin Heca. Bergerak maju hingga batang penisnya tenggelam di sarang kenikmatan.
“AAAHH.” Heca memekik. Lama tak melakukan hubungan seksual cukup membuat lubang kelaminnya merasakan perih. “Sssh aah pelan-pelan dulu, mas. Udah lama baget saya nggak ngentot sama orang. Jadi rasanya kayak masih perawan.”
Racauan Heca ditutup oleh cumbuan panas. Di bawah sana, pinggul Marko menarik lalu mendorong penisnya masuk hingga pangkal. Sedangkan bibirnya mencium bibir tante Heca— melumatnya dengan rakus, lalu memberi tanda cinta di leher tante Heca. Lenguhan mereka saling beradu. Terkadang kedua mata mereka saling bertemu, dan saling bertukar senyum, lalu kembali beradu cumbuan panas yang membakar tubuh. Peluh Marko menetes membasahi tubuh putih Heca di bawahnya.
“Ahh, aahh, aahh.”
Heca melenguh, sementara Marko mengerang. Kasur kayu tempat mereka bercinta berderit seiring gerakan pinggul Marko yang semakin cepat. Bunyi penyatuan tubuh mereka begitu nyaring. Beruntung rumah besar ini hanya dihuni oleh tante Heca. Mereka bebas berteriak untuk menyuarakan rasa nikmat atas penyatuan tubuh mereka saat ini.
“Hngg enak nggak mas memek saya—aah!”
“Enak, sampe bikin saya ketagihan.”
“Mas Marko jago banget, ah! Mentok banget rasanya.”
“Fuck!”
Umpatan itu menghentikan gerak pinggul Marko sejenak. Ia menegakkan tubuh, lalu menyugar rambut basahnya ke belakang. Kegiatan yang sedang ia lalukan saat ini begitu nyata. Nikmatnya terasa, panasnya membakar tubuh, serta hatinya berdebar-debar. Ia kembali tersenyum. Kedua telapak tangannya menggoda gunung kembar Heca. Memijat, meremas, dan memainkan puting tegang yang pas jika dihisap oleh mulutnya.
“Masss, berhentinya lama banget…” Ujar Heca sedikit protes. Rangsangan di gunung kembarnya membuat kepalanya pening bukan main. Lubang kelaminnya ingin terus digesek oleh batang penis Marko.
“Saya nggak nyangka, tan, bisa berhubungan badan sama tante. Apa malam ini bakal jadi malam pertama dan terakhir kita?”
Telapak tangan tante Heca meraih wajah Marko. Lalu dua jarinya sengaja masuk ke dalam mulut Marko.
“Saya pengennya gini terus, mas. Saya mau jadi boneka seksnya mas Marko kapan pun mas butuh..”
Jawaban Heca menimbulkan senyum yang semakin merekah. “Saya juga mau jadi boneka seksnya tante. Jadi, kita bisa kayak gini terus, ya?”
Heca mengangguk. “Iya, aku mau dipake sama kamu terus.”
Fuck!
Tubuh Marko semakin memanas. Pinggulnya kembali bergerak maju dan mundur. Sementara kedua telapak tangannya meremas kuat buah dada tante Heca. Raganya seperti melayang di udara. Peleburan cairan putih di dalam lapisan kondom sangat memuaskan. Saat penisnya keluar, ia merebahkan tubuh di samping tante Heca. Kemudian memainkan kelamin tante Heca dengan kelima jarinya.
“Aah, sshh, saya keluar, mas!” Cairan cintanya mengucur deras. Membasahi kasur, lantai, dan tubuh mereka berdua. Namun alih-alih menyelesaikan kegiatan ini, Marko justru mengganti lapisan kondom sebelumnya dengan lapisan kondom baru.
“Mas, masih memek saya sensitif, nanti keluar lagi, ssshh.”
Marko seolah tuli. Ia memasukkan penis dari belakang tubuh Heca, tepat masuk ke lubang kelamin yang sudah merah merona. Pinggulnya bergerak maju-mundur tanpa jeda.
Tubuh tante Heca tergolong kecil. Rambutnya hitam panjang, serta parasnya begitu ayu rupawan. Laki-laki mana yang rela menjadikan perempuan cantik ini menjadi janda? Apalagi ia pernah mencuri dengar kalau dibalik status janda ini ada suami yang berselingkuh. Ck! Padahal tante Heca punya segalanya, bahkan dalam urusan ranjang pun sangat luar biasa.
Posisi mereka berubah. Tanta Heca menungging— membiarkan lubang kelaminnya dihujam habis-habisan oleh Marko. Rambut panjangnya dijambak hingga membuat kepalanya mendongak, namun ia menikmati perannya menjadi kuda yang sedang ditumpangi.
“Aaakh mas Markoooo…”
“Ah! Saya kecanduan, tan!”
“Ahh! Pake saya sesuka kamu, mas. Sampai kondom habis pun nggak apa-apa dilanjutkan sampe kamu puas.”
“Sial! Sempit banget memek kamu, tan!”
“Makanya—akh pake saya tiap hari!”
“Arghh fuck!”
Marko mengerang frustasi, apalagi dengan tante Heca. Air liurnya menetes tak terkendali. Mereka hilang akal. Persetubuhan yang terjadi semakin memanas.
Ronde ketiga, posisi tubuh tante Heca berada di atas tubuh Marko. Pelajaran selama menjadi istri seseorang dapat direalisasikan saat ia berhasil menjerat Marko. Tubuhnya bergerak lihai. Bergerak memutar demi memberi kepuasan untuk si berondong. Kadang pula bokongnya naik turun agar penis panjang berurat Marko masuk sampai pangkal.
Duh, tante Heca juga sangat kecanduan. Apalagi jika diingat, penis mantan suaminya tidak sebesar milik Marko. Jadi ada keuntungan bisa berpisah dengan laki-laki yang doyan selingkuh itu.
“Hngh, jangan cubit terus pentil saya. Rasanya kayak kesengat listrik, mas.”
“Terus maunya diapain pentilnya?”
Semakin ke sini, Marko semakin berani.
“Hmhh aahh ini lho kontol mas Marko panjang banget.”
“Awal bahas pentil, tapi sekarang bahas kontol, hum?”
“Ahh..”
Ekspresi tante Heca… duh. Mata merem-melek dengan mulut terbuka…. Semakin membuat Marko bergairah.
“Saya mau keluar lagi, tan.”
“Jangan cepet-cepet dong, mas!”
“Ya mau gimana lagi? Orang dienakin kayak gini.”
Tante Heca memutus penyatuan tubuh itu. Kemudian duduk di antara kedua kaki Marko, lalu terlentang dan melebarkan kaki.
“Kalau mau keluar berarti kamu yang gerak. Biar kerasa enaknya.”
Dan Marko pun mengakui jika menjelang pelepasan memang lebih nikmat jika ia yang memegang kendali. Maka, Marko kembali mengisi kekosongan lubang kelamin tante Heca. Kemudian menghujamnya tanpa ampun. Lenguhan serta erangan mereka bersahutan. Peluh membanjiri seluruh tubuh. Kini bukan lagi rambut tante Heca yang menjadi pegangan, melainkan dua gunung kembar yang ukurannya melebihi kepalan tangannya sendiri.
Tiga hentakan terakhir, Marko menjemput putihnya untuk yang ketiga kali. Tubuhnya limbung di sisi tubuh tante Heca. Bibirnya mengulas senyum lebar. Pengalaman seks pertamanya sungguh nikmat luar biasa.
“Hah.” Tente Heca menghembuskan napas kasar. “Gimana rasanya ngentot sama janda, mas?” Kepalanya menoleh ke samping. Ia tersenyum melihat raut bahagia Marko.
“Enak.”
“Hahaha.”
Marko kini menoleh ke samping. “Saya pernah baca kalimat di FB, katanya ngentot sama janda tuh lebih enak daripada ngentot sama perawan. Dan ya, saya mengakuinya meskipun ini kali pertama saya berhubungan seks.”
Alis tante Heca menukik tajam. “Berarti kamu ada niat buat cobain memek perawan?”
“Hm.” Marko bergumam. Ia kembali menatap langit-langit kamar. “Saya bukan cowok yang mau coba-coba sih, tan.”
“Tapi saya dicobain, tuh.”
Marko menoleh lagi. “Karena saya nggak tahan. Terus pas udah coba, ternyata seenak itu.” Senyumnya tersungging manis. “Saya beneran kecanduan. Nggak hanya ini yang bikin candu,” jari tangannya membelai kelamin basah Hece. Kemudian, membelai bibir tebal Heca. “Tapi saya rasa, semua yang ada di tubuh tante Heca bikin saya kecanduan.”
Tante Heca membenamkan wajahnya di lengan Marko. “Halah, bisa aja kamu, mas.”
Sementara senyum Marko semakin lebar. Jarinya mengapit dagu tante Heca agar kepala perempuan cantik ini kembali mendongak. Lalu, dikecupnya bibir merah muda itu dengan lembut. Setelahnya dibiarkan hanyut dalam gairah yang kembali memuncak.
“Lagi, yuk. Saya mau coba di meja makan.”
“Mas!”
“Nanti saya keluarin di luar.” Padahal ia sendiri belum mampu mengendalikan diri. Tapi udah sok-sokan merayu agar diberi jatah lagi.
“Fantasi liar kamu pasti udah ke mana-mana, kan?”
Marko mengangguk. “Hm, bahkan kepikiran ngentot di halaman rumah kamu.”
Gelak tawa tante Heca pecah. “Boleh, biar kalau ketahuan kita diarak keliling kampung.”
Bibir Marko kembali memangut bibir tante Heca. Bunyi kecipaknya sangat nyaman didengar. Apalagi diiringi oleh remasan payudara yang lembut.
Dan mereka kembali memadu kasih. Tak peduli pada waktu, tak peduli pada suara yang semakin parau, tak peduli pula pada kelamin yang sama-sama kebas.
