Actions

Work Header

Memek Ngebul Wangi Menthol Lebih Enak Daripada Kontol

Summary:

Wonbin dan Eunseok sama sama ketagihan memek satu sama lain.

Notes:

duh gatau dah ini masuk akal apa enggak, aman atau enggak, namanya juga work of fiction yahh ;)

lanjutan dari series tempik tempik ituh, terserah yah mau baca si tempik dulu apa kagak, enjoy!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Sudah menjadi kebiasaan Eunseok di waktu luangnya, dibandingkan menghabiskan waktu di luar, Eunseok lebih suka menghabiskan waktunya di kamar tidur. Bermain game dan menggunakan headset, dirinya pun tidak dapat mendengar suara-suara yang ia keluarkan dari mulutnya sendiri. Menurut testimoni kawan-kawan asrama sih suara yang ia keluarkan lucu. Tetapi gak ada yang bisa denger, kan? Eunseok di dalam kamar seorang diri, kok.

Namun, hari ini Eunseok dikejutkan dengan kehadiran Wonbin secara tiba-tiba. Wonbin memang sering menyelinap ke dalam kamarnya untuk sekedar mencari presensi guna menemaninya selepas menonton film bergenre horror. Wonbin penakut, dan kehadiran Eunseok yang sibuk dengan game-nya tidak begitu mengganggu. Yang penting ada orang lain dalam jangkauan matanya, Eunseok pun tidak keberatan setiap kali Wonbin berlama-lama di dalam kamarnya, toh dirinya selalu pakai headset untuk meredam bisingnya handphone Wonbin yang selalu memutar cuplikan reality tv show itu.

Tetapi, hari ini kedatangannya sungguh membuat pria yang tengah dalam misi yang serius itu sedikit berjengit dan meletakkan rokok listrik bersensai dingin itu.

“Bina, kaget tau. Kok diem-diem gitu masuknya?” 

Tangan sosok Bina yang mengejutkan dirinya melingkar pada pinggang ramping tak berbusana itu. Eunseok sengaja tidak menyalakan AC, jendelanya dibuka agar asap rokoknya tidak terperangkap di dalam kamar. Maka dari itu, pria 180cm tersebut bertelanjang dada agar tidak kegerahan.

“Iya, tumben Kak Eunseok gak denger Bina buka pintu.” balasnya enteng, seperti tidak baru saja buat jantung Eunseok nyaris copot. Dagunya melandai pada pundak Eunseok, tajamnya menohok pada kulit Eunseok yang tipis. Dada kenyalnya menempel di punggung yang tak berlapis sehelai lapisan pun, hanya kaus tipis Wonbin yang menjadi perantara. Kalau boleh Eunseok tebak, Wonbin pun tidak menggunakan bra.

Salivanya ditelan bulat-bulat, menyadari payudara Wonbin yang dalam masa pertumbuhan itu digesek-gesekkan pada punggung tak berdosanya. Sungchan benar, Wonbin sering merasa gatal dan nyeri, tidak heran jika Eunseok tidak sengaja mendapati Wonbin tengah meremas dadanya sendiri sembari berbaring santai — sementara matanya sibuk menatap layar ponsel.

Eunseok memutuskan untuk pura-pura tidak peduli, padahal memeknya berkedut juga saat merasakan kenyalnya dada Wonbin digencet padanya seperti itu. Terpujilah orang tua Wonbin yang telah mewarisi tubuh mungil padanya sehingga ia dapat menyelinap di sela sempit di belakang Eunseok pada kursi gamingnya. Game-nya tetap dilanjut, suara headset-nya bocor hingga Wonbin pun dapat mendengar suara tembakan dari dalam video game yang ia mainkan. Bibir yang lebih tua ikut mencebik gemas setiap kali medan peperangannya naik tingkat kesulitan.

Wonbin mengamati layar komputer dan pengguna komputernya secara bergantian, lalu mengecup pipi Eunseok tiba-tiba. Dadanya masih digesek-gesek dan sesekali ditekan, sedikit mengganggu Eunseok untuk berkonstrasi penuh. Pinggulnya juga aktif menggasak pada bongkahan sintal Eunseok. Bagian belakang tubuh sang kakak sudah sepenuhnya dimiliki oleh Wonbin.

“AH! Bina, jangan banyak gerak, makanya.” keluh Eunseok kala layarnya menampilkan tulisan merah yang mengecewakan ‘Game Over’. Headset dilepaskan dan ditaruh asal pada meja. 

“Maaf, kak.. tetek Bina gatel..” 

“Yaudah, boleh. Tapi jangan ganggu kakak main bisa ya? Pelan-pelan aja.” ucapnya final. Kepalanya menoleh ke arah lawan bicaranya. Dikeker dari ekor mata, Wonbin terlihat sedang manyun.

“Tapi, memek Bina juga, kak.. tetek dan memek Bina mau dibantuin sama Kak Eunseok… hngh..”

Eunseok terdiam sejenak sebelum memutar tubuhnya menghadap Wonbin. Mata bulat pemuda yang lebih mirip kucing hitam itu sayu dan gelap oleh napsu. Eunseok juga sebenarnya gatal di bawah sana, maka dari itu dagu yang lebih muda digamit dan ia tinggalkan kecupan manis pada labium yang lebih muda. Terdengar erangan lembut tanda kecewa karena kecupannya hanya mampir sejenak.

“Kalau mau dibantuin, minta tolongnya yang baik, Bina.” Eunseok menitah. 

“Mau.. Minta tolong, kak..”

“Minta tolong apa? yang jelas kalau ngomong.”

“Minta tolong.. mainin memek sama tetek Bina, kak.”

Vape bersensasi dinginnya diambil kemudian dihirup sejenak —  menimbulkan suara yang khas, kemudian dihembuskan tepat di wajah Wonbin. “Karena Bina pinter, kakak bantuin, ya. Pake memek kakak, mau?”

Wonbin mengerjap, berusaha untuk memfokuskan pandangannya di tengah lebatnya kabut asap yang Eunseok hiaskan pada wajahnya. Ia mengangguk antusias, “mau, mau kak.”

Eunseok tersenyum dan dengan mudahnya menyelipkan tangannya di balik lutut Wonbin. Yang diangkut mengalungkan tangannya pada pundak sang kakak, wajahnya berseri-seri penuh kegembiraan. Wonbin dijatuhkan pada empuknya kasur Eunseok. 

Untung tidak ada siapa-siapa. Sungchan sedang pergi ke kamar asrama atas, katanya sih mau main sama Anton. Meskipun janggal, karena mereka berdua tidak pernah menyukai game yang sama. 

Dugaan Eunseok tepat. Ketika dirinya bantu Wonbin untuk membugili diri, dibalik baju Wonbin tidak terdapat helaian apapun. Maka setelah Eunseok bantu lepaskan baju dan celananya, dadanya langsung ditangkup dan diremas kuat-kuat. Wonbin mendesah pelan.

“Ah.. hngh..”

“Bina, kan udah punya tetek. Rajin pake beha dong, sayang. Masa dibiarin gondal-gandul gini, hm?”

Wonbin mengiyakan di sela-sela desahannya. Suaranya kini cenderung lebih feminin, bahkan Wonbin kerap kali kesulitan mencapai nada rendah yang biasanya ia mampu nyanyikan dengan mudah. Eunseok iri, Eunseok juga ingin jadi wanita seperti Wonbin. Wanita yang cantik, itu sebabnya Eunseok tidak masalah dengan Wonbin yang selalu mencarinya di saat si kecil merasa takut. Eunseok suka Wonbin yang akhir-akhir ini tumbuh menjadi wanita yang seutuhnya.

“Jangan berpikir kalau kamu itu laki-laki, Bina. Mana ada laki-laki bermemek dan bertetek, sayang.”

Dengan lancang, tangan Eunseok menyambar beceknya memek Wonbin. Wonbin mendesah kian kencang. Eunseok tersenyum, sementara sebelah tangannya dipakai untuk menyangga tubuhnya di atas Wonbin agar tidak jatuh menimpa si jelita.

“Kakakh.. kucekin Bina.. pleash- Ah…”

Eunseok tersenyum miring, “emang cuma kamu yang memeknya basah?”

Celana pendeknya dilucurkan dan dibuang ke lantai. Udara dingin dari luar meniup kedua tubuh ringkih nan tipis serta kaya dengan cairan lengket, pertanda keduanya sudah terstimulasi dengan sempurna. Wonbin sendiri tidak menyangka, sejak malam panas di hotel yang ia habiskan bersama 3 pria lainnya itu justru memberi rasa dan preferensi baru baginya. Wonbin suka tribbing, dan itu bisa ia lakukan dengan Eunseok, memeknya Eunseok.

Tak muluk-muluk, kedua tungkai yang lebih muda di pisah sampai hampir sama rata dengan permukaan kasur. Wonbin menggeram karena otot paha dalamnya dilebarkan sejauh itu. Eunseok duduk diatasnya dan menubruk vaginanya dengan milik Wonbin.

“Ahh..”

“Hngh…”

“Kak- Enak.. memek Bina enak- k-ketemu memek Kak Eunseokh.. Hnn..”

“Bina nakal banget.. hngh..”

Keduanya meracau nikmat. Eunseok yang duduk sama rata di atas Wonbin kian menggesekkan memeknya pada milik Wonbin. Eunseok dan Wonbin bertukar cairan, jangan ditanya sebasah dan selengket apa dibawah sana. Kedua insan itu menggesek dengan kacau, sehingga cairan lengketnya meleber kemana-mana. Kedua biji kelentitnya yang sudah sama-sama menegang beradu dalam tempo yang asal, sebab sama sama mencari nikmatnya masing-masing.

Tidak cukup memeknya, Eunseok merendah tanpa melepas kontak keduanya pada bagian intim. Mulutnya menyambar payudara Wonbin yang daritadi menganggur dan hanya menari sendiri. Pucuk ranumnya ia lamot dalam mulut basahnya. Wonbin mendesah dan pinggulnya semakin kuat menekan pada Eunseok. Lidah Eunseok menari-nari di atas puting kemerahan Wonbin yang sudah mengacung tegang, sesekali digigit gemas dan berhasil membuat Wonbin menjerit karena gelinya menyetrum hingga ke ujung jemari kaki. Tungkainya ia bawa mengait untuk memerangkap Eunseok di atasnya.

“Kakak.. kakak nenennya pinter.. enak- hng..”

Tetek cewek sangean sensitif ya? iya? hmph..”

Wonbin mendesah dan mengangguk setuju, biar cepet. Suaranya tidak keluar, saking seraknya. Eunseok meremas kedua belah dadanya searah jarum jam, kemudian ganti menjadi melawan arah jarum jam. Jika ini adonan, mungkin saja tetek Wonbin sudah halus, tangan Eunseok begitu mahir sehingga membuat kedua kaki Wonbin lemas dan terlepas dari pinggang Eunseok. 

Eunseok melepaskan kedua payudara Wonbin, agar bisa ia tonton cantiknya berpantul indah di setiap hentakan pinggulnya yang memabukkan. Eunseok mungkin lebih suka melihat dua kenyalnya Wonbin bebas seperti itu, tapi tidak dengan Wonbin. 

Wonbin sudah tidak tahan lagi, payudaranya yang besar kian terpelanting di setiap hentakkan tanpa penetrasi dari Eunseok menghantamnya. Kepalanya merunduk sedikit, dan bilah dada kirinya ia bawa masuk ke dalam mulutnya sendiri. Wonbin nenen sendiri.

“Anjing- gede banget ya, Bina. Sampe bisa nenen sendiri, hmm..” 

Yang tengah sibuk memanjakan diri sendiri membalasnya dengan tatapan mata yang nakal serta desahan lembut, sementara mulutnya sibuk menyedot puting sendiri.

“Enak, Bina? Hng..”

“Hnn.. ngh…” jawab Wonbin tak berdaya. Kontak matanya dengan Eunseok sesekali terputus kala matanya hilang kendali dan terguling ke belakang.

“Enakan kontol apa memek, Bina?” tanya Eunseok retoris.

“Hnn..”

“Enak mana, Bina?” Cengkeramnya pada pinggul Wonbin mengerat, pinggulnya terus bergerak maju dan mundur, sedikit ditekankan ke Wonbin agar biji kelentit keduanya mendapatkan stimulus lebih dahsyat.

Ha.. Enakh- an.. memekh… hnggh..”

Eunseok tersenyum miring, “Enakan main sama kakak, ya? daripada Anton dan Sungchan?” tanya nya lagi. Kini rahangnya direnggut hingga isapan pada putingnya terlepas.

“A- Iya.. hngg.. Kakak.. mau pipis.. hiks..” pelupuk matanya terasa basah, Ternyata, Wonbin gak kuat lama kalo main sama Eunseok. Biji kelentitnya sensitif dan spot itu dihajar tanpa ampun oleh Eunseok.

Mendengar itu, sang kakak menjauhkan bagian intimnya dari milik Wonbin, sebagai gantinya jari telunjuk dan tengahnya ia sodorkan ke dalam mulut Wonbin, membuat Wonbin harus menjilat bersih cairannya sendiri. Setelah kedua jari tersebut terlumasi hingga ke pangkalnya, ia bawa tangannya ke bawah dan langsung melesak ke dalam liang senggama yang lebih muda.

“Ahhng.. kakak..”

“Keset banget, Bina. Ini memek murahan apa perawan, hah? kok ngejepit banget?”

 

Clek clek clek.

 

Liang yang semula sudah cengap-cengap itu Eunseok koyak menggunakan dua jarinya yang tebal. Wonbin merengek dan menitikan air mata seraya liang kawin serta klitorisnya dimainkan secara bersamaan, terlebih jemari si kakak yang ditekuk-tekuk dan menghajar g-spotnya dengan mudah itu membuat Wonbin semakin pusing dan kehilangan kendali.

“Pipis.. Bina mau pipis kakak.. hngg… ha..”

“Pipisin tangan kakak, Bina.

“Hng.. yang kenceng, kak. AAAAH!”

Eunseok mempercepat gerakannya, yang berhasil membuat Wonbin gila. Dalam dua kali hujaman saja Wonbin berhasil memuncratkan beningnya, pancarannya kemana-mana, sebab terhalang milik Eunseok yang dengan sigap diarahkan tepat di atas miliknya.

“Hngg… Bina…Biji kelentitnya yang disembur cairan Wonbin itu dikucek-kucek sehingga tidak lama kemudian, Eunseok pun menyusul. Mereka saling pipis. Airnya mengucur deras ke sembarang arah; vagina Wonbin yang merekah, kasur, dan tentunya tubuh bugil Wonbin yang berada di bawahnya.

Haa… kakak.. enak banget. Makasih, kakak.” ujar Wonbin dengan napasnya yang tersengal. Dahinya berlinang air keringat, pelupuk matanya lembap selepas menangis saking nikmatnya. Eunseok tersenyum sebelum membisikkan. “sama-sama, Bina.” dan merunduk untuk menyeka peluhnya, kemudian dikecupnya kening si jelita.

“Kakak kalau mau Bina bantuin, juga boleh minta sama Bina, kok..” ucapnya malu-malu. Wonbin tidak ingin menjadi pihak yang selalu meminta ke Eunseok, meski baru sekarang ia berani untuk mengutarakan keinginannya secara langsung. Ia ingin tahu, sebenarnya Eunseok juga sesering itu gak menginginkan dirinya — seperti dirinya menginginkan Eunseok.

Vape yang sebelumnya ia letakkan di kasur, tepat di samping kepala Wonbin, pun diambil dan mulutnya menghisap panjang rasa menthol yang baginya candu. Tapi tidak ada apa-apanya dibandingkan nenen sama Wonbin.

“Kamu kali yang sange sama memek aku, makanya sampe minta gitu.” Otak cabulnya tiba-tiba mengilhamkan ide bejat. Senyum tipisnya mengulas jahil. Vape-nya diarahkan pada memek cengap-cengap Wonbin. Mulut vape-nya diselipkan di antara bibir vagina yang lebih muda. Wonbin mengerang geli, dan ulah Eunseok tersebut berhasil membuat Wonbin memuntahkan asap beraroma persis vape andalannya, bukan melaui mulut atas tetapi mulut bawahnya.

“Ahh.. kakak mah! iseng banget!” Sensasinya aneh, mungkin karena perisa yang mengandung menthol sehingga ada rasa perih yang membuat Wonbin sedikit terangsang dan mengeluarkan cairan bening yang tersisa dari klitorisnya. 

Eunseok gak sepenuhnya salah, Wonbin memang ingin explore lebih jauh sama Eunseok. Ada kemungkinan ia bosan bercinta dengan Anton dan Sungchan. Wonbin seperti menemukan dunia baru dimana alat kelamin yang serupa dengan miliknya ternyata mampu memberinya stimulus jauh lebih dahsyat daripada ketika liangnya dikoyak serampangan oleh batang yang  keras.

“Jadi gimana? lebih enak memek ya daripada kontol, hm?” godanya sambil merayu dengan menghujani wajah Wonbin dengan kecupan yang banyak setelah kedua jemari Wonbin disingkir secara paksa olehnya. 

Wonbin merengek manja, “Kakaaak, ih.” Sisi wajah Eunseok ia sentuh, dengan harapan dapat menghentikan sang kakak. Namun nihil, tenaganya kalah kuat dari Eunseok.

Keduanya terkekeh geli hingga matahari terbenam, berpelukan di atas ranjang yang tadinya basah hingga setengah kering. Ada momen dimana Wonbin kepo sama rasa vape-nya Eunseok, yang Eunseok respon dengan menyodorkan vape-nya langsung di depan mulut Wonbin. Alhasil, si pria berbibir tebal itu terbatuk, normal katanya bagi orang yang baru pertama kali nyobain rokok. Eunseok terkekeh melihat Wonbin yang imut dan kepo itu. 

Eunseok dan Wonbin memang merasa nyaman dengan satu sama lain, beruntung mereka hanya berduaan di dalam unit asrama bawah. Tidak ada yang mengganggu mereka berbincang ringan seusai sesi seks hebat. Sesekali tangan Eunseok merambat untuk membantu remas kenyalnya Wonbin, sebab yang lebih muda kian mengeluh dadanya perih. 

 

“Kak, obatnya Kak Wonbin udah dicheck out belom? udah mau abis, tuh.” 

 

Samar-samar terdengar suara Anton, yang entah sejak kapan sudah bergabung bersama mereka dibawah. Mungkin dibawa oleh Sungchan, sebab kedengarannya lawan bicaranya itu tidak lain dan tidak bukan adalah Sungchan.

 

Obat? Obat apa? Apakah Wonbinnya sakit?

 

“Bina.. Bina sakit.. apa?” Ragu Eunseok untuk bertanya, namun daripada rasa khawatirnya menggerogoti pikirannya sendiri, bertanya lah jalan keluarnya.

“Enggak, aku gak sakit apa-apa, kak.” alisnya bertaut sama bingungnya dengan Eunseok.

Tiba-tiba pintu kamar Eunseok terbuka lebar. Iya. Mereka lupa mengunci pintu. Tapi tidak ada yang berjengit kaget, sebab tidak ada yang perlu ditutupi lagi, karena Anton dan Sungchan sudah pernah melihat mereka tanpa busana sebelumnya.

“Abis ngapain lu berdua?” alis tebalnya diangkat sebelah, Sungchan bertanya dari ambang pintu. Disusul dengan kepala Anton yang ikut menyembul untuk mengintip isi kamar Eunseok,

“Dihh, gak ngajak-ngajak.” timpal Anton kecewa.

Eunseok bangun dari posisi rebahnya, tangannya ia silangkan di depan dada. “Ada pertanyaan yang lebih penting. Obat apaan yang kalian kasih ke Wonbin?”

Anton dan Sungchan tidak menyangka dinding kamarnya cukup tipis hingga percakapannya bocor ke dalam kamar. 

“A- aku bisa jelasin..” gagap Anton sambil beringsut mendekat. Gurat panik tergambar di wajahnya. 

Sungchan dalam hatinya hanya berharap Wonbin akan memaafkan mereka berdua atas perbuatan bejatnya selama ini.

Notes:

jangan ikutan pipis yah, kawan-kawan. kasur eunseok aja belum kering sampe skrg...

find me on twitter