Actions

Work Header

Jealousy Jealousy Jealousy

Summary:

Just Hanhwan make up sex after a big fight. (written in Bahasa Indonesia)

Notes:

Seperti biasa baca twitter aunya dulu yaa!

Twitter AU

Happy birtday Phi Hanwool!!!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Minhwan berdiri berdecak pinggang di menghadap jendela kaca dengan pemandangan kota incheon yang megah dan indah. Sayangnya, pemandangan itu sama sekali tidak membuat hatinya merasa nyaman. Hati  Minhwan justru dipenuhi kemarahan, kekesalan dan mungkin bahkan kedengkian kepada siapa lagi kalau bukan kekasihnya Phi Hanwool. 

Anaknya Phi Yeonbeak itu sudah kelewat batas, marah hanya karena satu anak kecil yang mendekati Minhwan. Dia pikir Minhwan akan tergoda pada laki-laki lain semudah itu.

Kata-kata dan makian Hanwool sudah keterlaluan. Minhwan jengah mendengarnya, ia tahu Hanwool cemburu, tapi bukan berarti ia bisa semena-mena padanya. Lagi pula bukan salah Minhwan jika laki-laki lain mengerubunginya. Kecantikan bukanlah dosa, iyakan? Bukan salahnya kalau ia sangat kharismatik sehingga semua orang terpikat padanya. 

Lagi pula hanwool sendiri yang selalu mengelu-elukan kecantikan Minhwan. Dia pikir laki-laki lain buta dan hanya dia yang melihatnya!

Lihat saja, Minhwan sudah memblokir nomor Hanwool, ia pastikan Hanwool akan benar-benar mendapatkan ganjaran kali ini. Ia tak akan kalah atau luluh pada apapun itu yang ditawarkan Hanwool. 

Tiba-tiba suara bell rumah Minhwan berbunyi, kencang, konsisten dan tak kunjung berhenti. Minhwan tau jelas siapa itu, ia tidak perlu membuka pintu atau sekedar mengintip melalui lubang pintu, sudah pasti Phi Hanwool yang ada di baliknya. 

Minhwan bergeming di tepatnya, mengabaikan suara bel yang menggema di seluruh rumah. Untungnya, tak ada siapapun di rumah, ayahnya sedang keluar negeri bersama Phi Yeonbaek, ibunya sedang berlibur di benua lain. Rumah ini memang selalu sepi, kadang hanya diisi dirinya atau Hanwool yang datang sesekali. 

Tapi tak peduli sesepi apa rumah ini, Minhwan tetap tak akan membukakan pintu untuk Hanwool. 

Suara bell berganti menjadi bunyi gebrakan, pintu diketuk tanpa henti.

Tok Tok Tok!!

Dok Dok Dok!!!

Brak Brak Brak!!!

Suara itu tak mengusik Minhwan sedikitpun. Ia masih berdiri di tempatnya, memandang kota Incheon yang luas. Ia tak peduli sekalipun pintu itu didobrak. 

Namun, bukan suara dobrakan pintu yang didengar Minhwan, tapi malah suara tombol pintu yang ditekan kemudian pintu yang terbuka. Sial, tentu saja hanwool tau kode sandi rumahnya. Bagaimana mungkin Minhwan bisa lupa. 

Pintu terbuka. Dari sudut matanya, Minhwan bisa melihat Hanwool masuk lalu melangkah mendekatinya. Bajunya rapi, kaos dengan jaket kulit kesayangannya. Rambutnya tertata ke belakang dengan beberapa helai jatuh di samping kiri dan kanan dahinya, matanya menatap tajam, sedang bibirnya membentuk satu garis datar. Hanwool masih sangat tampan seperti biasanya. Tapi ketampanan itu tidak membuat Minhwan menjadi lengah. 

Minhwan menengok ke arah Hanwool, menatap sinis lelaki itu hanya untuk kembali menengokan kepalanya ke arah jendela. Tangannya masih terlipat di depan dada dan bibirnya tertutup rapat. Tak ada sambutan baik ucapan selamat datang yang hangat atau makian yang penuh bisa. 

Hanwool berdecak kesal dengan bagaimana Minhwan mengabaikannya. 

“Ma Minhwan!”

Minhwan tidak menjawab, ia hanya melirik sedikit ke arah hanwool untuk kemudian melengos. Ia melepaskan lipatan tanganya di dada, berbalik membelakangi hanwool lalu berjalan pergi. Melihat wajah hanwool hanya akan membuatnya lebih marah. 

Namun, setelah baru mengambil satu langkah, lengan Minhwan dicengkram, ia ditarik dengan kuat sampai punggungnya membentur jendela kaca. Rasa sakit memenuhi tubuh Minhwan, tak hanya di punggung, tapi kedua lengannya juga terasa perih. Hanwool mencengkram  lengannya kuat, mendorong tubuh Minhwan ke arah jendela hingga Minhwan tak bisa bergerak.  

“Mau ngapain lo tadi! Ngomong lagi coba! Di hadapan gua!”

Hanwool tidak berteriak, suaranya dalam, pelan, tapi menusuk tepat ke ulu hati. Minhwan teringat apa yang dikatakan Hanwool di dalam chat mereka. Minhwan yang centil, Minhwan yang suka menggoda, dan apalagi tadi, lonte?! Apa terlalu sering mengatakannya di atas ranjang membuat Hanwool berpikir ia bisa sembarangan menghinanya?!

Kemarahan membuat Minhwan gelap mata, karena kata itu sudah keluar sekalian saja Minhwan katakan bahwa ia memang lonte, yang berarti ia bisa menjadi lonte untuk siapapun dan bukan hanya Hanwool. Padahal itu hanya satu kalimat yang datang dari kemarahan, namun lihat betapa Hanwool jauh lebih marah darinya, jauh lebih tak terima darinya. 

“Kenapa! Lu pikir gua gak bisa?! Kalo gua bisa jadi lonte lu gua juga bisa jadi lonte orang lain!”

“MA MINHWAN!”

Cengkraman di lengan Minhwan mengeras, sangat kuat. Minhwan bisa merasakan jari-jari hanwool menekan kulitnya. Mata Hanwool memandangnya lekat, penuh kemarahan, deru nafas hanwool terasa berat, satu-persatu berhembus dari hidungnya. 

Minhwan menatap balik, memancarkan kemarahan dari mata bulatnya, tangannya terkepal kuat, bibirnya mengatup berusaha menahan air mata yang ingin terjun bebas. 

“Lu tau jelas gua ga serius!”

Bohong! Jelas bohong! Minhwan tertawa getir mendengar kebohongan itu. Ia mengalihkan pandangan dari Hanwool. Tawanya lepas menggema di seluruh ruangan.

Cengkraman tangan Hanwool di lengan Minhwan melemah. Mata Hanwool yang dipenuhi pancaran kemarahan melunak, ada sesuatu yang muncul di sana, sekilas, hanya sekilas. 

Minhwan menghentikan tawanya, kembali memandang Hanwool, pekat, lekat, tak ingin lepas. 

“Lu pikir gua gak bisa bedain kapan lu becanda kapan lu serius.” ucapnya tegas. Tak ada kemarahan dalam nada suaranya, hanya keyakinan, keyakinan yang tak akan bisa digoyahkan Hanwool. 

You mean it, Phi Hanwool! Every word of it!” ucapan minhwan telak, menghujam jantung Hanwool. 

Hanwool terdiam, cengkraman tangannya terlepas, bibirnya bergetar, matanya melebar, sedang pupil matanya terus bergerak ke kiri dan ke kanan seakan mencoba lari dari Minhwan. 

Minhwan mendengus, menertawakan kebodohan Hanwool, “Harusnya lu sangkal, goblok.” 

Pupil mata hanwool langsung berhenti berlari, seketika itu juga beralih menatap Minhwan. Ketakutan memenuhi sorot mata itu, sama sekali tidak seperti Hanwool. Tak hanya itu, penyesalan juga terlihat jelas di sana, memenuhi seluruh relung matanya, memelas memohon pengampunan. 

“Sa.. Sayang.. aku…”

Sayang dia bilang! Kemarahan Minhwan yang sudah tinggi makin naik, hampir mencapai puncak. ia langsung mendorong tubuh Hanwool keras, membuat hanwool mundur satu langkah. 

“Pergi!” teriaknya keras sambil kembali mendorong hanwool, “Gua gak mau liat muka lu bangsat!”

Kemarahan si mungil memuncak, tanpa ia sadari air mata jatuh mengliri pipinya. Hal itu tak luput dari mata Hanwool. Mata yang sudah membelalak itu terbuka semakin lebar, tangannya terulur berusaha menyentuh pipi Minhwan. Namun, sebelum tangan itu sampai, Minhwan kembali mendorong tubuh Hanwool. 

“Pergi gua bilang! Laki goblok!”

Hanwool tidak bergeming, setiap kali Minhwan  mendorongnya ia melangkah mundur, namun langsung mengambil satu langkah maju. Hal ini membuat posisi mereka tak berubah, tak menjauh, tak berjarak sedikitpun.

“Minhwan, please dengerin aku. Aku gak maksud….”

“Gak mau tau gua anjing! Pergi lu bangsat!”

“Sayang please…”

“Jangan panggil gua sayang, badjingan!” Minhwan berteriak, ia berhenti mendorong Hanwool. 

Keduanya berhenti bergerak, tak hanya mereka, waktu seakan ikut berhenti berjalan. Minhwan memandang Hanwool lekat, bekas air mata terpampang jelas di pipinya, matanya hitam, lekat menatap Hanwool tanpa berkedip sedikitpun. Namun, kemudian mata itu menutup, air mata jatuh menetes membasahi pipinya. 

Minhwan mengambil satu langkah mundur, Satu tangannya naik ke wajah dan menutupi matanya. Ia menarik nafas panjang, kuat, berusaha meredam rasa sakit dan amarah. 

“Keluar.” ucapnya pelan, suaranya lemah seakan sudah tak punya semangat juang. 

“Lil one.” Hanwool kembali mengambil satu langkah maju. 

“Ke..” Minhwan tak sanggup menyelesaikan kata itu, nafasnya tercekat, tanganya tak mampu membendung air matanya. 

Si mungil kembali menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Ia melepaskan tangan yang menutupi matanya, lalu tanpa mengatakan apapun lagi, ia mendorong tubuh Hanwool menuju pintu. 

langkah Minhwan pasti, dorongannya kuat, dan ia tak berhenti sedikitpun, membuat Hanwool terbawa tanpa bisa melawan. 

Begitu sampai di depan pintu, Minhwan langsung membuka pintu itu lebar-lebar. Dengan mengerahkan sisa tenaganya, ia mendorong hanwool keluar dari rumahnya. 

Pintu itu langsung ditutup. Kali ini Minhwan menguncinya dengan kunci selop tambahan. Sehingga pintu itu tak akan bisa dibuka dari luar. 

Begitu hanwool sudah tak terlihat. Minhwan jatuh terduduk di depan pintu. Ia tak bisa membendung amarahnya, tak bisa membendung kesedihan, tangisnya pecah, suaranya memenuhi ruangan. 

“Phi Hanwool tolol!”

Teriakan Minhwan memenuhi ruangan, menggema, mengisi kekosongan yang ditinggal laki-laki yang berstatus sebagai pacarnya. 

Hanwool bodoh, benar-benar laki-laki bodoh, Minhwan akan mengutuknya untuk waktu yang sangat lama. 

***

Hari mulai gelap, matahari sudah turun ke peraduanya. Matahari itu belum sepenuhnya terbenam, tapi hujan deras membuat kegelapan menyelimuti langit. Sudah lebih dari tiga jam hujan ini turun, deras, kemudian rintik, kemudian deras, terus begitu seakan tak kenal lelah. 

Setelah hanwool pergi, Minhwan hanya berdiam, terbaring lemas di atas karpet di ruang keluarganya. Ia tak ingin bergerak, tak ingin berpikir, tak ingin apapun. 

Hanwool, si bodoh itu, padahal ini hari ulang tahunya, padahal mereka selalu merayakan ulang tahun bersama, tapi lelaki bodoh itu malah membuat masalah yang tidak perlu. 

Minhwan menghembuskan nafas panjang, lelah mengutuk Hanwool.

Tiba-tiba saja ponselnya berdering, nyaring, membuatnya semakin pusing. Minhwan kembali menghembuskan nafas berat sambil mengulurkan tangannya ke arah handphone yang ada jauh di atas kepalanya. 

Handphone itu berhasil diraih. Minhwan langsung menariknya, melihat nama Geonyeop tertera di layar. Masalah hidup apalagi yang akan diterima Minhwan. 

Minhwan menggeser tombol hijau kemudian meletakan hp itu di telinganya. 

“Di mana lu?!”

“Mau ngapain?”

“Cowo lo berantem bego!”

Of course, it’s Hanwool again.

“Biarin ajalah, cape gua.”

“Babak belur anaknya, anjing!”

Minhwan mendecak, “Sama siapa si emang berantemnya, sekarang ada di mana anaknya?”

“Sama Siwan, siapa lagi.”

Another oalah moment, dan Minhwan hanya bisa mendesah kesal.

“Terus sekarang di mana dia, separah apa si Siwan.”

“Laki lu yang babak belur cok!”

Oke, itu cukup mengejutkan. Minhwan mendengar bahwa Siwan memiliki reputasi yang cukup bagus dalam berkelahi. Dia tumbuh dan dididik di Chinatown, tapi mas si Hanwool sampe kalah??! Hanwool, anaknya Phi Yeonbaek, kalah sama anak chinatown, yang bener aja!

“Jangan becanda lu puki!”

“Serius gua anjeng!!! Laki lu ngajak ribut tapi dipukulin dia gak ngelawan, gak bertahan, pasrah malah dia anjeng!”

Jantung Minhwan langsung berdegup cepat mendengar hal itu, darahnya terasa mengalir jatuh ditarik lebih kuat oleh gravitasi. Hanwool tidak melawan tidak bertahan, berarti dia sengaja dipukul. 

Kekhawatiran memenuhi pikiran Minhwan. 

“Terus sekarang dia di mana?” nada suara Minhwan meninggi, tanpa sadar dia sudah terduduk di atas karpet. 

“Ngak tau, anaknya kabur abis dipisahin Jun ama Gamin. Lu cari dah tuh laki lu, mukanya bonyok tadi.”

“Bukanya ditahan, tolol.”

“Mana bisa nahan Phi Hanwool goblo. Udah ah, lu cari dah tuh sono laki lu.”

Tanpa disuruh pun Minhwan akan langsung mencari hanwool, sambungan telepon langsung ia putus. Ia berdiri lalu berlari ke arah pintu. Tangan Minhwan bergetar sehingga membuka kunci selop menjadi lebih sulit. 

Setelah memfokuskan diri, Minhwan berhasil membuka pintu. Betapa terkejutnya ia saat mendapati Hanwool berdiri tepat di depan pintu. kepala hanwool menunduk, seluruh tubuh dan bajunya basah, wajahnya lebam, di bawah mata, di pipi, di dekat bibir, sedang air menetes dari rambutnya. 

Hanwool terlihat lemah, lemas, tak berdaya, tak berkutik, bahkan hampir seperti tak berjiwa. 

Minhwan berdecak kesal. Kelegaan sekaligus kekesalan memenuhi dadanya. 

“Ckk, anak tolol.” ucapnya keras menunjukan kekesalan, namun tubuhnya justru bergerak dengan cara yang berbeda.

Minhwan berlari menghampiri Hanwool, menyilangkan tangannya di punggung hanwool, menarik lelaki itu turun ke dalam pelukannya. Hanwool membalas pelukan Minhwan, mengalungkan tangannya di pinggang ramping si mungil, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher lelaki itu.

Di sore hari yang dingin karena hujan yang tak kunjung reda, keduanya menemukan kehangatan dan tenggelam di dalamnya. 

***

Minhwan masuk ke dalam kamar mandi, suara air jatuh dari shower memenuhi ruangan. Minhwan menutup pintu lalu meletakan baju di atas wastafel. 

Minhwan memandang hanwool yang ada di bawah guyuran air shower. Keduanya dipisahkan dengan pintu kaca yang membatasi area shower dan wastafel. Hanwool masih mengenakan pakaian lengkap, kepalanya tertunduk dan tak bersuara sama sekali. 

Minhwan berdecak, ia sudah mandi dan sebenarnya tak ingin kena air, tapi sepertinya dia tak punya pilihan lain. 

Minhwan melangkah menuju pintu kaca, membukanya lalu masuk ke dalam area shower. Area itu cukup luas, sekitar 1 x 2 meter. Minhwan berdiri di hadapan Hanwool sebisa mungkin menghindari area yang terkena air. 

“Phi Hanwool, mandi yang bener!” ucapnya cukup keras. 

Hanwool hanya mendongak sedikit, memandang Minhwan dengan mata sayunya tanpa mengatakan apapun. Minhwan menatap lekat wajah lelakinya, ternyata wajahnya yang babak belur tidak mempengaruhi tingkat ketampanannya, atau memang otak Minhwan saja yang sudah rusak karena cinta. 

Minhwan kembali berdecak, tapi ia mengulurkan tanganya ke belakang tubuh Hanwool, mematikan keran. Setelah air shower tidak lagi jatuh, Minhwan mendekati hanwool. Dengan lihai, si mungil melucuti kaos dan celana hanwool. 

Hanwool pasrah, membiarkan lelaki mungilnya melakukan apapun yang dia mau. 

Tubuh bugil Hanwool terpajang di hadapan Minhwan. Minhwan bisa melihat kejantanan Hanwool yang masih lemas, serta dadanya yang makin sekal. Seluruh tubuh Hanwool seakan bersinar karena terkena air, licin, mulus, seakan memanggil Minhwan untuk menyentuhnya. 

Minhwan menggelengkan kepalanya, mencoba fokus, ia harus segera membersihkan Hanwool. Untungnya, tubuh Hanwool tidak terluka, hanya beberapa memar di area sekitar perut dan paha. Luka kecil itu tak akan membunuh Hanwool. 

Minhwan mengambil spons jaring miliknya lalu memompa sabun cari ke sana. Setelah meremasnya beberapa saat dan busa mulai bermunculan, Minhwan menggunakan spons itu untuk membasuh tubuh Hanwool, mulai dari area dada, tangan, dan perutnya. 

“Anak tolol, ngajakin berantem bukanya ngelawan malah pasrah.” Minhwan mendumel sembari menggosok tubuh Hanwool. Dari sudut matanya, ia melihat bagaimana Hanwool melirik ke arahnya. 

“Nyamperin terus ngajak ribut tapi gak ngelawan tuh konsepnya gimana dah!” mulut si mungil masih terus meracau, marah, kesal, dan gemas jadi satu. 

Kesal dengan Hanwool yang tetap diam, Minhwan akhirnya melempar spons jaringnya ke badan Hanwool. Lemparan itu cukup keras, namun Hanwool sama sekali tidak menunjukan ekspresi kesakitan. 

“Ngomong!! Dipotong kali lidah lu sama Siwan!”

Hanwool mengangkat wajahnya, dan untuk pertama kalinya setelah sampai di rumah Minhwan, ia menatap langsung mata Minhwan. 

“Udah boleh peluk belom?” tanyanya, dengan mata sayu, menatap Minhwan penuh pengharapan, seakan keinginan itu adalah harapan terbesarnya.

Minhwan berdecak, “bilas dulu badan lu, masih banyak sabunya.”

Hanwool langsung menyalakan keran, gerakannya secepat kilat, tak ingin membuang waktu barang sedetikpun. Selagi hanwool membasuh badannya, Minhwan memompa shampo ke tanganya.

“Majuin kepalanya biar ga kena air,” titah si mungil yang langsung dituruti Hanwool.

“Nunduk.” 

Hanwool menundukan kepalanya. 

Minhwan langsung mengusap shampo itu ke kepala Hanwool, meratakan ke seluruh bagian rambutnya, sambil sedikit memijat kepala laki-laki itu. 

“Pake acara ujan-ujanan, kalo sakit gimana!”

Bukanya menjawab, Hanwool marah meraih pinggang si mungil dan menariknya sampai keduanya berada di bawah guyuran shower. Tak hanya itu, Hanwool juga langsung mendekatkan wajahnya ke arah Minhwan, namun si mungil menahan bahunya supaya ia tak bisa maju. 

“Rambut lo masih banyak sabunya, nanti gua keminum air sabun!” teriak Minhwan kencang. 

Hanwool langsung mendorong Minhwan menjauhi shower, sambil menengadahkan kepalanya ke bawah shower, memastikan setiap inci rambutnya bersih dari sabun. 

Begitu rambutnya bersih dari sabun, Hanwool langsung menarik tengkuk Minhwan dan meraup bibir si mungil, kasar, penuh hasrat dan tanpa ampun. Dilumatnya bibir si mungil, atas bawah, dihisap kencang, sambil dijilat lahap. Begitu bibir itu terbuka ia langsung menelusupkan lidahnya ke dalam, menyentuh setiap inci bagian dalam mulut Minhwan, bermain dengan lidah si mungil dengan lincah.

Satu tangan hanwool menahan tengkuk Minhwan, menahan si mungil supaya tidak bisa ke mana-mana. Sedangkan tangan lainya memeluk pinggang ramping Minhwan, meremas pelan pinggang itu,penuh hasrat, penuh tekanan, penuh gairah. 

Saat dirasakan Minhwan kesulitan bernapas, hanwool melepas pagutan bibir mereka. Minhwan langsung meraup oksigen sebanyak mungkin, seluruh tubuhnya basah dan dingin karena air shower yang mengguyur mereka, namun darahnya terasa panas, mengalir dengan cepat dalam nadinya. Terlebih, saat dirasakan penis Hanwool yang sudah terisi penuh, menyundul pantatnya dan sesekali bergesekan dengan miliknya yang juga mulai tegang. 

“Hanwool…” suara Minhwan menjadi sayu, lemah, penuh kepasrahan yang langsung ditangkap oleh Hanwool. 

Hanwool melepaskan tangannya dari tubuh Minhwan, hanya untuk langsung menarik kaos Minhwan lepas dari tubuhnya, memperlihatkan dada Minhwan, puting yang sudah menegang entah karena hasrat atau karena dingin, seakan memanggil minta segera dihisap. 

“Sayang…” Hanwool memanggil Minhwan pelan, takut jikalau ia masih belom boleh memanggil sayang. Untungnya, Minhwan tidak mengeluh dan hanya menatapnya dengan mata yang sayu, serta bibir merah dan basah.

“Mau nenen boleh?” pinta Hanwool masih dengan suara yang pelan. 

Minhwan menangguk pelan, ciuman itu membuatnya pening, penisnya sudah terisi penuh, menegang dengan sempurna di dalam celana dalamnya. kemarahan dan kekesalannya hilang ditelan hasrat dan nafsu. 

Hanwool langsung mengangkat pinggang Minhwan dan memeluknya, membuat supaya dada Minhwan berada tepat di hadapannya. Ia memutar posisi mereka, menahan tubuh Minhwan di dinding supaya tak jatuh. 

Dengan rakus, Hanwool langsung melahap puting kanan Minhwan, memasukan seluruh areolanya ke dalam mulut, lalu memainkan puting  itu dengan lidahnya. Ia menjilat ujung putingnya, lalu memutar lidahnya di sekitar pentilnya, dan dengan rakus mengenyot seluruh bagian itu membuat si empunya kelimpungan dalam dekapannya. 

Minhwan membekap kepala Hanwool, meremas rambutnya kuat. Punggungnya terasa dingin, sebagian tubuhnya masih terkena aliran air shower, kakinya kelimpungan karena tergantung dan tak ada pijakan. Tapi semua ketidaknyamanan itu sama sekali tak terasa, tenggelam, kalah oleh nikmatnya permainan lidah Hanwool pada putingnya, geli dan nikmat menyundul-nyundul di dalam perutnya sehingga ia kelimpungan. 

“Ahh… Hanul…  terus… enak… eungh….”

Desahan Minhwan membuat Hanwool semakin percaya diri. Lelaki mungilnya sudah tak lagi marah. Kepalanya membesar merasa sudah berhasil meluluhkan hati Minhwan. 

Hanwool menurunkan tangannya ke bawah pantat Minhwan supaya dada Minhwan tepat berada di mulutnya. Ia menahan Minhwan hanya dengan satu tangan, tangan lainya digunakan untuk melepaskan celana pendek sekaligus celana dalam Minhwan, membuat si mungil sama bugil dengan dirinya. 

Tubuh Minhwan bergetar, kulit hanwool merasakan dingin kulit Minhwan. Hanwool pun menyadari bahwa air shower masih menghujani mereka. Dengan cepat ia mengulurkan tangannya untuk mematikan keran. 

Sambil tanganya bergerak, mulut Hanwool pindah ke dada sebelah kiri, melahap areola Minhwan, melakukan gerakan yang sama persis dengan sebelumnya, menjilat, memutar lidahnya, mengulum pentil Minhwan. Hanwool merasakan cengkraman Minhwan di rambutnya menguat, tubuh si mungil beberapa kali bergetar serima dengan jilatan lidah Hanwool di putingnya. 

Dan, ah, suara desahan Minhwan yang mengalun memenuhi kamar mandi membuat hanwool semakin bergairah. Dengan kasar ia menggigit pentil Minhwan. 

“Ahh.. jangan digigit!! nanti lecet!”

Hanwool masih gemas, namun ia langsung menuruti perintah si mungil karena tak ingin sampai si mungil marah dan menyudahi sesi panas mereka. 

Setelah puas menyusu pada si mungil Hanwool menurunkan tubuh Minhwan. Kakinya kembali menyentuh lantai. Kaki itu sedikit bergetar, hampir jatuh jika saja hanwool tidak menahan pinggangnya. 

Minhwan berhasil berdiri dengan stabil, namun kepalanya masih pening, penisnya menegang ingin segera mendapat kenikmatan, lubangnya berkedut minta segera diisi. 

Hanwool tentu merasakan hal yang sama. Tangannya tak berhenti bekerja, memposisikan penisnya dan penis Minhwan berhadapan, membuat keduanya bergesekan merasakan hangat kulit masing-masing.

“Sayang, lube.” tanya Hanwool sambil mengocok penis mereka berbarengan dengan satu tangan. 

Minhwan meringis kenikmatan, ia mendengar suara Hanwool, tapi tak bisa memberikan jawaban lengkap. Hanya tangannya yang bergerak, menjulur ke arah tempat sabun berada dan mengambil botol yang ia kenali sebagai lube, yang memang ia biarkan di sana jika sewaktu-waktu butuh. 

Hanwool melihat gerakan itu dan langsung meraih botol tersebut. Ia melepaskan tangannya dari penis mereka dan menungakan lube ke tangan kanannya. Dengan cepat, ia meletakan kembali botol lube di tempatnya. Tak sembarangan melempar karena ia tak mau jauh-jauh mengambilnya lagi nanti. 

Tangan yang bersih dari lube meraih tengkuk Minhwan dan langsung melahap bibir si mungil. Sedang, tanganya yang berlumuran lube menjalar ke belakang menuju lubang kenikmatan Minhwan. 

Dingin terasa di lubang Minhwan, tapi perlahan menjadi hangat karena diisi dua jari Hanwool sekaligus. Jari itu bergerak di sana, maju mundur, melakukan gerakan menggunting, dan tak lupa menyodok titik surgawi Minhwan. Minhwan semakin mabuk kepayang dibuatnya. 

Bibir Hanwool lepas dari bibir Minhwan, menjalar turun ke leher, mengecup dan menyedot jakun Minhwan, lalu turun ke tulang selangka, mencium dan menghisap dengan kuat dan cepat. 

Mulut Minhwan yang bebas kembali mengeluarkan lantunan desahan, membawa kenikmatan di telinga Hanwool, membuat hanwool makin bersemangat menjamah tubuh si mungil. 

“Ahh… eungh.. ahhh… Hanul… Hanul…..”

Bibir Hanwool kembali turun, menggarap dada Minhwan, menciumi bagian tengahnya lalu turun ke perut. Hanwool mengecup, menjilat, merasakan perut Minhwan berkedut dengan tiap gerakannya. 

Si mungil semakin meracau, mendesah nikmat sambil meremas rambut Hanwool kuat.

Namun, desahan itu tak cukup, semua rangsangan itu belum cukup bagi hanwool. Ia ingin Minhwan gila, hilang akal, larut dalam kenikmatan hingga tak bisa memikirkan apapun lagi.

Bibir Hanwool semakin turun, sampai di pelvis. Lelaki itu berlutut di hadapan Minhwan, kepalanya tepat berada di depan penis Minhwan. Tanganya yang bebas langsung menangkap penis itu, tegang, merah, licin, dengan cairan precum yang terus keluar dari lubangnya. 

Hanwool mengocok penis itu, lidahnya terjulur, menjilat lembut kepala penis Minhwan, bermain dengan lubang kencing si mungil, lalu dengan lahap mengulum kepala penis itu ke dalam mulutnya. 

Minhwan kelimpungan, kakinya bergetar, kedua tangan nya langsung bertumpu pada pundak Hanwool, manahan tubuhnya supaya tidak jatuh. 

“Ahh.. fuck! Hanul! Hanul! jangan dua duanya!!”

Hanwool tidak mengindahkan keinginan si mungil. Ia melahap penis Minhwan, dari kepala hingga ujung, kepalanya menempel dengan pelvis Minhwan, dan tangan nya bermain dengan kedua bola Minhwan. Ia memaju mundurkan kepalanya seirama dengan jarinya di dalam lubang Minhwan. 

“Ahhh… nghh.. Hanul!!... Hanul!!.... ahhahh… HANULLL…” 

Minhwan mulai menangis, air mata membasahi pipinya, bibirnya merintih keras, desahan bercampur dengan erangan kenikmatan. Hanwool menyentuh tiap titik kenikmatan pada tubuhnya. Jarinya yang lihai bermain di dalam lubangnya, menyentil prostatnya tanpa ampun. Sedang penis Minhwan terasa hangat, dibalut mulut cantik Hanwool. Tubuh Minhwan bergetar, panas, dingin membuat pikirannya kosong. 

“Hanul!! Aku mau keluar!! KELUAR!!!”

Kaki Minhwan bergetar lebih kuat, tubuhnya condong ke depan, satu tangan berpegangan pada bahu Hanwool satunya lagi meremas rambut hanwool. Perutnya terasa penuh dan kencang, kenikmatan menjalar di setiap inci darahnya. Kedua pahanya tertutup rapat dan dalam sekejap, cairan kenikmatannya muncrat di dalam mulut hanwool. 

Hanwool menghentikan kegiatan jari dan kepalanya. Meresapi pelepasan Minhwan, merasakan tubuh Minhwan yang bergetar. Carian Minhwan memenuhi mulutnya, penisnya berkedut menembakan lebih banyak mani langsung ke tenggorokan hanwool. 

Bagitu carian Minhwan berhenti meledak, Hanwool melepaskan penis Minhwan dari mulutnya sekaligus jarinya dari lubang Minhwan. Ia berdiri dan dengan sigap menangkap tubuh Minhwan yang lemas dan jatuh ke bawah. 

Hanwool menyandarkan kepala Minhwan di bahunya, mengelus pelan punggung Minhwan, membiarkan si mungil larut dalam klimaksnya. Tangannya ia ulurkan ke arah botol lube, diraihnya botol itu lalu langsung dituangkan ke tangan kanannya. Dengan cekatan, Hanwool melumuri lube tersebut ke seluruh batang penisnya. 

Setelah selesai, Hanwool membuang sembarang botol lube ke belakang, kali ini tak peduli ke mana botol itu mendarat. Lalu Hanwool meletakan tanganya di bagian belakang lutut Minhwan, mengangkat si mungil hingga berada di atas perutnya. 

“Hanul!! Hanull!! kamu mau ngapain!” Minhwan yang panik karena kakinya kembali terangkat dari lantai langsung berteriak. 

Hanwool memposisikan penisnya tepat ke arah lubang Minhwan. Punggung minhwan disenderkan ke dinding, sedang kedua kakinya dilingkarkan ke pinggang Hanwool. Seketika, penis Hanwool menelusub masuk ke dalam lubang Minhwan. Dalam satu hentakan kuat, penis itu memenuhi lubang Minhwan. 

Minhwan mengalungkan lengannya di pundak Hanwool, berpegangan kuat supaya tidak jatuh. 

“Ahh.. penuh banget… Hanul… bentar.. bentar…”

Kali ini, Hanwool menuruti si mungil, tidak langsung bergerak, membiarkan lubang itu beradaptasi dengan penisnya. 

Minhwan menengadahkan kepalanya ke atas, matanya menutup, rasa sakit, panas, perih dan nikmat bercampur jadi satu. Seluruh saraf dalam tubuhnya berada dalam keadaan siaga penuh, masih sangat sensitif setelah pelepasan. 

Tangan Hanwool menahan pantat Minhwan, Penisnya terasa hangat terjepit lubang Minhwan yang sempit dan sedang memerahnya dengan kuat. Hanwool sudah tak kuasa menahan diri. ia pun mulai bergerak, pelan, menghujani lubang itu dengan tumbukan penisnya. 

“Ahh…. bangsat Ma Minhwan… nikmat banget lubang kamu cantk….!”

Desahan Minhwan kembali memenuhi ruangan, bercampur dengan geraman kenikmatan Hanwool. Titik kenikmatannya kembali digempur, konsisten, semakin cepat, semakin dalam, tanpa kenal ampun.

“Eunghh.. Hanul.. enak… terus… lagiii… ahhh… c…cepetin!!! cepetin”

Hanwool mempercepat gerakan pinggulnya, menghujam satu titik yang sama. Darahnya mengalir cepat, penisnya nikmat diremas lubang si cantik, wajahnya dibenamkan di leher si mungil, menghirup kuat aroma tubuh Minhwan yang terasa manis. 

“Rileks cantik, kontol aku jangan diremes sayang…” bisik Hanwool tepat di telinga Minhwan. 

Embusan suara Hanwool membuat seluruh tubuh Minhwan merinding. Ia menguatkan pegangannya pada Hanwool, takut jatuh, namun masih tetap terbuai dengan kenikmatan. 

“Ahh…. Hanul penuh!! penuh banget!!.. eunghhhh… enak… jangan berenti!! Hanul!!” Tangisan dan erangan Minhwan kembali memenuhi ruangan, memenuhi telinga Hanwool, membuat darahnya semakin memanas. 

Hanwool mengangkat tubuh Minhwan lebih tinggi, membuat penisnya masuk semakin dalam ke perut Minhwan. Lubang itu memeras lebih kuat, berkedut, membuat hanwool mabuk kepayang.  

Gerakan pinggul hanwool menjadi semakin cepat, tak beraturan, tak berirama, tapi tepat menyentuh satu titik yang sama. 

“Hanulll!! Hanull fuck!!!I’m close!! I’m close!!!

“Aku juga cantik, barengin sayang!”

Tubuh Minhwan menegang, begitu pula Hanwool. Keduanya berada di ujung tanduk. Dalam satu hentakan kuat, Hanwool menanamkan seluruh penisnya ke dalam lubang Minhwan, membiarkan benih-benihnya muncrat di dalam lubang Minhwan, mengisi perut Minhwan.

Di saat yang bersamaan, tubuh Minhwan bergetar hebat, cairan spermanya memenuhi perut Hanwool, suaranya melengking memenuhi telinga hanwool.

Keduanya berhenti bergerak, bernafas dengan berat dan cepat, berusaha mengatur diri, menenangkan syaraf.

Minhwan terkulai lemas di dada Hanwool. Lubangnya masih berkedut, sisa-sisa mani keluar dari penisnya mengenai perut Hanwool. 

Hanwool menahan tubuh Minhwan, menjauhkannya dari dinding, mengelus pelan punggung si mungil. Tubuh Minhwan sesekali bergetar, namun ritme nafasnya sudah melambat. 

Hanwool menyalakan shower, membiarkan air keran membasahi tubuh mereka. Ia membilas sisa sperma Minhwan dari perutnya dan juga penis Minhwan. Sedangkan, penisnya masih menancap di dalam lumbag Minhwan. Sesekali menyundul, membuat Minhwat bergeliat geli dan nikmat.

“Hanull…. lepasin kontol kamu!!”

Hanwool tertawa kecil, tapi tetap melakukan yang diminta Minhwan. Begitu hanwool mengeluarkan penisnya, sperma Hanwool mengalir jatuh dari dalam lubang Minhwan. Dengan telaten, Hanwool menggunakan jarinya untuk membersihkan sisa-sisa benihnya di sana. 

Tubuh Minhwan kembali berkedut, Minhwan melenguh pelan, tangannya berusaha mendorong tubuh Hanwool meski gagal total karena tak bertenaga. 

“Eunghh… Hanul udahhhh…”

Jari hanwool tetap bergerak di lubang Minhwan, sepelan mungkin, supaya tidak mengganggu si mungil, “Tahan ya sayang, biar bersih.”

Minhwan kembali meringis, hampir menangis, “Udah… udah.. Hanulll…. ga kuat… jangan digempur lagi.”

Hanwool selesai membersihkan lubang Minhwan. Ia mematikan keran lalu mengangkat tubuh Minhwan, memperbaiki posisi mereka supaya Minhwan tidak jatuh. 

Minhwan yang sudah lemas hanya bisa menyandarkan kepalanya di pundak hanwool.

“Sayang..” Hanwool memanggil pelan, tapi Minhwan tidak merespon, “Liat aku bentar cantik.”

Minhwan menurut, mengangkat sedikit kepalanya supaya bisa menatap wajah hanwool. 

“Sayang… sekali lagi yaa.. pleasee.”

Alis Minhwan mengerut, bibirnya mengerucut, siap untuk merengek dan menolak permintaan Hanwool.

Lil one, it’s my birthday, pleaseee, can we do it one more time….” Hanwool memohon dan mata bulat Hanwool adalah salah satu kelemahan Minhwan. Lagi pula, lelaki itu benar, ini adalah ulang tahunnya, tapi bukannya merayakan mereka malah bertengkar.

Minhwan mengangkat kepalanya lebih tinggi supaya matanya sejajar dengan mata Hanwool, “Sekali aja ya, janji!”

“Janji!”

“Oke, tapi di kasur ga di sini.”

“Siap princess!”

Minhwan kembali merebahkan kepalanya di pundak Hanwool, beristirahat sejenak, membiarkan Hanwool mengurus sisanya. 

 

Minhwan merasakan punggungnya menyentuh kasur yang lembut dan empuk. Minhwan membiarkan tubuhnya rebah di sana, kepalanya jatuh lebih dalam di atas bantal. Tubuhnya sudah kering, hanya rambutnya yang masih basah. 

Angin dingin terasa menyerang tubuh Minhwan, menerpa kulitnya, membuat bulu kudunya terbangun. Ia belum mengenakan kain barang sehelai pun. 

Tubuh Hanwool rebah di atas tubuh Minhwan. lembut kulit mereka bertemu, bersentuhan, mulai dari dada, perut hingga penis yang saling beradu. Bibir Hanwool langsung melumat rakus bibir Minhwan, menghisap bibir atas, pindah ke bibir bawah, tak lupa menelusupkan lidahnya ke dalam sana. 

Tangan hanwool tak tinggal diam, salah satunya bermain dengan daun telinga Minhwan. Mengusapnya pelan dengan ibu jari dan telunjuknya, lalu telapak tangan itu turun, menjalar ke pipi. 

Hanwool menghentikan pergulatannya dengan bibir Minhwan. Mengangkat sedikit kepalanya untuk bisa melihat wajah Minhwan. Jarinya menelusuk masuk ke dalam mulut Minhwan, telunjuk dan ibu jari bermain dengan lidah Minhwan, membasahinya dengan air liur. 

Hanwool tersenyum, memandang lelakinya yang tergeletak pasrah. Minhwan terlihat sangat cantik, matanya sayu, lidahnya terjulur keluar, bibirnya bengkak sedang mulutnya dipenuhi air liur. 

“Fuck, sayang, kamu cantik banget.”

Minhwan melenguh panjang, wajahnya  merona, merah menyelimuti pipi hingga ke telinga. 

Hanwool sangat menyukai reaksi tersebut, begitu berbeda dari Minhwan yang biasanya, yang selalu sok galak, yang selalu sok tak kenal takut. Terlebih, kenyataan bahwa sisi Minhwan yang ini hanya ditujukan padanya, hanya dia yang tahu. 

Hanwool merasakan penisnya berkedut hanya karena memikirkan hal itu. 

“Sayang, aku langsung masuk ya.” pinta Hanwool, ia sudah tak tahan, ingin segera mengisi lubang si mungil. 

Minhwan yang masih berusaha mengatur irama nafasnya mengangguk pelan, “Pake kondom, Hanull.”

Alright cantik.

Hanwool bangun dari tempat tidur, beralih ke sisi ranjang, membuka laci untuk mengambil lube dan kondom. Hanwool sudah hafal setiap inci rumah Minhwan, ia tahu jelas di mana barang-barang penting di simpan. Menemukan lube dan kondom yang disimpan Minhwan di setiap (hampir) di setiap sudut rumah bukanlah hal yang sulit. 

Hanwool kembali naik ke kasur, meletakan lube dan kondom samping tubuh Minhwan. Sedang ia langsung memposisikan dirinya di antara paha Minhwan. Ia mengambil bantal, meletakkannya di bawah pinggang Minhwan sebagai penyangga. 

Hanwool mengambil kondom, membuka bungkusnya dengan gigi dan langsung dipasang pada penisnya. Setelah itu, ia mengambil botol lube, menuangkan ke tangan dan mengoleskannya ke sekujur batang penisnya. 

Hanwool membuka paha Minhwan, mengekspos lubangnya, lubang itu berkedut, minta diisi, siap untuk digempur lagi. Penisnya sudah siap, bertengger tepat di depan pintu masuk Minhwan. Dalam satu hentakan, Hanwool mendorong penisnya masuk ke lubang Minhwan. Membenturkan pelvisnya dengan pantat Minhwan. 

“Aaakkh… hhngg.. Hanul.. pelan.. ahh… pelan!!!”

Minhwan meringis, sedikit kaget tapi lebih banyak nikmat, tangannya terkepal, meremas seprei dengan kuat, matanya terpejam, dan kepalanya mendongak ke atas, tegang sampai urat lehernya bermunculan. 

“Shhh, relax baby… It’s okay.”

Hanwool menundukan tubuhnya, memposisikan wajahnya tepat di atas Minhwan. Ia usap pelan, kepala Minhwan, sambil memberi kecupan-kecupan kecil di seluruh wajah Minhwan. Mulai dari tahi lalat di bawah mata kanan Minhwan, keningnya, pipinya, hidungnya, sampai bibir itu bermuara di bibir Minhwan, melumat lembut, menenangkan si mungil, menunggu si mungil mengatur nafas. 

Minhwan melingkarkan tanganya di punggung Hanwool. Tubuhnya mulai relax, terbuai dengan lumatan bibir Hanwool. 

Menyadari bahwa nafas Minhwan sudah stabil, Hanwool pun mulai menggerakan pinggulnya. Pelan, lembut, berusaha menyentuh titik surgawi kekasihnya. 

Putan bibir mereka terlepas, wajah Hanwool turun, menuju target baru yaitu leher Minhwan. Ia mengecup, menjilat, menghisap, bahkan leher putih itu. 

Kecupan itu membuat pikiran MInhwan melayang, seluruh tubuhnya serasa melayang, merinding sebadan-badan. Belum lami, sodokan penis Hanwool di lubangnya, gesekan lembut penis Hanwool di dinding dalamnya, semua sentuhan lembut itu membawa pikiran Minhwan menerawang, jauh, ke langit ketujuh.

“Ahhh.. Hanull… eunghhh.. sayanggg…. enakk… terus hanull…. mentokin… mentokin… enak….”

Darah Hanwool terasa mengalir semakin cepat dalam nadinya. Jarang sekali MInhwan memanggilnya sayang saat mereka sedang bergulat. Tanpa menunggu lagi, Hanwool memenuhi permintaan Minhwan, mendorong penisnya supaya masuk lebih dalam. 

Gerakan Hanwool semakin cepat, menumbuk prostat Minhwan. Suara hentakan antara pinggul keduanya memenuhi ruangan, suara yang terdengar basah dan becek. 

Dengan tempo yang dipercepat, Minhwan semakin melayang, tangannya memeluk erat tubuh Hanwool, menancapkan kukunya di punggung Hanwool. Kakinya mengangkang lebih lebar, betisnya otomatis terangkat tinggi, ujung-ujung jari kakinya menekuk, meresapi tiap jengkal kenikmatan yang diberikan Hanwool. 

“Ahhhh…. hahh… Hanull… ahh pelan-pelan…. nanti aku keluar!!!”

Lubang Minhwan memeras penis Hanwool lebih kuat, berkedut dan membuat remasan itu semakin terasa. Dindingnya tebal, membalut penis Hanwool, hangat, nyaman , nikmat, serta panas yang memburu ingin segera meledak. 

Hanwool ingin menikmati momen ini sedikit lebih lama. Tidak, ia ingin memporak-porandakan Minhwan, membuat si mungil hilang akal, hilang kendali, hilang kewarasan. 

Hanwool mengangkat tubuhnya dari Minhwan, menghentikan gerakannya membuat Minhwan hampir mengumpat.

“Ganti posisi sayang, nungging cantik.”

Tanpa menunggu Minhwan bergerak, Hanwool membalik tubuh Minhwan, membuat Minhwan menungging. Paha si mungil di buka lebar, pinggulnya diangkat, dan punggungnya di dorong ke kasur. 

Pinggul Hanwool kembali bergoyang, penisnya menumbuk lubang Minhwan, lebih dalam, lebih cepat. 

Plak 

Plak 

Plak 

Plak

Kamar itu penuh dengan suara cabul benturan pinggul keduanya, ditambah geraman Hanwool dan desahan Minhwan. Panas menjalar di dalam darah hanwool. 

Minhwan memiringkan kepalanya, tengkuknya ditahan Hanwool, kepalanya ditekan ke bantal, kedua tangannya memeluk erat bantal, jemarinya meremas bantal itu, kakinya bergetar hebat, putihnya semakin naik, nikmat, nikmat. Minhwan ingin lebih butuh lebih. 

Desahan minhwan semakin keras, bercampur rintihan tangis yang tak bisa ditahan, air mata membanjiri wajahnya, jatuh langsung ke bantal.

“Eungg… Hanull… terusss… terusss.  ahhhngh..”

Hanul melepas tangannya dari tengkuk Minhwan, mengangkat Pinggang Minhwan supaya pantat si mungil semakin naik. Ia mempercepat tempo gerakannya, sedang tanganya menelusup ke depan, meraih penis Minhwan dan mulai mengocok seirama dengan tumbukan penisnya. 

“Aaahhnngg…. Hanulll… Hanulll… AHHH… FUCK…”

Tangisan Minhwan semakin kencang. Lembut dan hangat tangan Hanwool serta panas sodokan penis Hanwool membuat pikiran semakin naik ke langit, melayang-layang tanpa pijakan. 

Minhwan mengangkat tubuhnya, menggunakan tangannya sebagai penyangga.

“Hanul aku mau keluar… keluar… ahhh”

“Tahan cantik, barengin aku, dikit lagi..” pinta Hanwool tapi gerakan tangannya di penis Minhwan malah semakin cepat. 

Tangan Minhwan tak kuat menyangga tubuhnya, bahunya ambruk di atas bantal, tanganya meremas kuat, sementara rasa panas itu naik semakin tinggi. 

“Aahha.. ngak bisa…. ngak kuat… Hanul… ampunn… ahhahhh… ampun!!”

Mendengar Minhwan memohon ampun malah membuat Hanwool makin bergairah, pinggulnya bergerak semakin cepat tanpa perintah. 

“Fuckkk…. Minhwan…. dikit lagi sayang… tahan… remes terus kontol aku cantik….”

Minhwan meraung semakin keras, suaranya sudah didominasi tangisan. Seluruh tubuhnya menegang, dan dalam sekejap, cairan putih muncrat keluar dari penisnya, membasahi kasur, membasahi karpet. 

“AKkhhhh… Hanul aku keluar!!! KELUAR!! HANUL!!!

Hanwool tak menghentikan gerakan pinggangnya, genggaman tangannya di penis Minhwan menguat, memerah cairan putih itu sampai titik penghabisan. 

“Lepas dulu Hanul… ahhh… dia ga mau berenti… hanull… please… hanullll!!”

Hanul berhenti memerah penis Minhwan, namun tidak dengan pinggangnya. Tak ada yang bisa menghentikan pinggang Hanwool, bahkan dirinya sendiri. 

“Hanull… kontol aku gak mau berhenti! please… pelanin dulu… bentar… hanull.. ahhhhahh.”

Hanwool mengurangi intensitas kecepatannya, tak tega pada si mungil yang sudah kewalahan. Ia menarik tangan Minhwan menempelkan dadanya di punggung Minhwan. Satu tangannya memeluk dada Minhwan sedang tangan lainya melingkar erat di perut Minhwan. 

Hanwool mengecup lembut punggung Minhwan, naik ke pundak, leher hingga pipinya, merasakan tubuh Minhwan yang bergetar hebat dan memperhatikan cairan kental yang terus menyemprot keluar dari penis Minhwan. 

“Dikit lagi sayang… tahan yaaa… dikit lagi aku sampe…” bisik Hanwool di telinga Minhwan.

“Pe.. akhh… pelan.. pelanin dulu…”Suara Minhwan serak, lemas dan penuh kepasrahan. 

“Liat sayang, kontol aku udah masuk dalem banget! Aku dikit lagi sampe, tahan ya sayangku.. please.”

Minhwan menundukan kepalanya, melihat bagaimana penis Hanwool menyundul dari dalam perutnya, hilang, timbul, hilang timbul.

“Ahhh… Fuck.. Minhwan… Kamu suka sayang… seneng liat kontol aku nyeplak di perut kamu.”

Minhwan tidak menjawab hanya menatap dengan takjub, perutnya yang sesekali menyembul. 

“Aku isi ya perut kamu cantik, pake peju aku, biar hamil, biar gede perutnya, ya sayang…” suara Hanwool lembut, dalam, mengalun indah di telinga Minhwan, membuatnya mengangguk tanpa beban. 

Hanwool mendudukan dirinya di kasur, memeluk erat tubuh Minhwan, lalu kembali mempercepat pergerakan pinggulnya. Ia sudah tak kuat, sudah tak tahan, apalagi lubang Minhwan terus memeras penisnya tanpa ampun. 

Minhwan kembali merintih, menangis, meraung, tubuhnya bergetar lagi. Perutnya terasa semakin kencang, penuh, dan tak karuan. Sedangkan gerakan Hanwool semakin tak konsisten, menusuk, menusuk dan menusuk. 

Sesuatu menggelitik di perut Minhwan, mengalir deras, siap untuk meledak. 

“Ahh….  Hanull.. pipis… aku mau pipis… HANUL!!”

Mendengar itu membuat Hanwool semakin bersemangat. ia sudah dekat, pikiranya sudah di awang, gerakannya sudah tak beraturan. Ia tak bisa menunggu, tak sanggup menunggu.

“Pipis aja cantik, keluarin, aku mau liat.”

Minhwan kelimpungan, tubuhnya bergerak ke sana ke mari mencoba keluar dari kukungan hanwool. Tapi tangan kekar Hanwool memeluk dadanya erat, tak memberikan ruang sedikitpun bagi si mungil untuk lepas. 

“Aku beneran pipis!! beneran pipis!!!!”

“Iya sayang pipis, keluarin.”

Bersamaan dengan itu cairan bening menyembur dari penis Minhwan, diiringi raungan tangis si mungil, panjang, sampai ke ujung kasur. Sedangkan di dalam lubang Minhwan, penis Hanwool juga mengeluarkan cairan putih, hangat mengaliri lubang Minhwan, tertahan oleh kondom tapi tetap terasa menyebar ke seluruh perut Minhwan. 

Tubuh Minhwan bergetar hebat, tangisan tak berhenti, muncratan panjang perlahan memendek, sampai benar-benar habis tak tersisa. 

“Bangsat sayang, kamu kencing aja secantik itu.”

MInhwan tidak menggubris perkataan hanwool, kepalanya rebah di pundak Hanwool, tubuhnya masih bergetar dan sesekali berkedut, tangisan masih terdengar, air matanya tak juga berhenti. 

“Sayang… Lil one..” Hanwool memanggil Minhwan pelan, namun satu-satunya yang terdengar dari Minhwan hanyalah tangisan. 

Hanwool langsung membalik tubuh Minhwan, tubuh yang sudah lemas tak bertenaga. Ia baringkan kepala Minhwan di pundaknya supaya lebih nyaman dan dielusnya pundak si mungil. 

I’m sorry, lil one, is it too much?” Nada suara Hanwool meninggi, diliputi kepanikan, tapi masih tak ada jawaban dan tetap saja hanya suara tangisan yang terdengar.  

“Maaf, sayang, maafin aku.”

Hanwool memeluk erat tubuh Minhwan, mengusap kepala Minhwan, berusaha sekuat tenaga untuk menenangkan si mungil. 

Minhwan masih menangis, tapi ia mulai bergerak, ia mengalungkan tangannya di pundak Hanwool, menelusupkan wajahnya di ceruk leher Hanwool, dan terus menangis syahdu.

“Sayang? oh fuck, Minhwan I’m sorry..” Nada suara Hanwool semakin terdengar putus asa, lelaki itu bahkan hampir menangis, dan ia hanya bisa memeluk Minhwan lebih erat. 

Hanwool merasakan kepala Minhwan menggeleng pelan, “Enak…. enak banget…” ucap Minhwan di sela tangisnya, sambil tetap menyembunyikan wajahnya di leher Hanwool. 

Hanwool langsung bernafas lega, “Fuck, baby, you scared me..”

Minhwan hanya memeluk Hanwool lebih erat, masih belum bisa menghentikan tangisnya. 

Hanwool mengatur nafas, kemudian bangun dari tempat tidur sambil menggendong Minhwan. Penisnya terlepas dari lubang Minhwan. Hanwool langsung menarik kondom yang masih tertempel di sana, mengikat, lalu membuangnya sembarangan arah. 

“Kasurnya basah, kita pindah kamar ya, kamu istirahat aja, biar aku yang urus sisanya.”

Minhwan mengangguk pelan,tangisnya mulai mereda, dan ia menyadari betapa lelah dirinya. Minhwan tak peduli lagi, biar Hanwool yang mengurus sisanya.

Notes:

visit my strawpage or tellonym guyss!!!

Strawpage

 

Tellonym

Thank you for reading ^-^