Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-05-25
Words:
2,850
Chapters:
1/1
Kudos:
54
Bookmarks:
4
Hits:
945

"Aku sendirian di rumah," katanya.

Notes:

THIS IS MY FIRST SMUT please bare with me :DD

this story is part of my own landoscar alternative universe i made on twitter @blanktorow (same as my username) gently check if you want to read more of them!

Work Text:

Siang ini, Lando dan Oscar sedang bersantai di rumah Lando. Tiga hari ini sampai dua hari kedepan, rumah Lando kosong karena ibu, ayah dan adiknya sedang pergi ke luar kota. Lando ditinggal sendirian karena ada beberapa hal yang harus dia kerjakan. Selain itu, ditinggal sendirian di rumah artinya dia bisa membawa pacarnya main ke rumah dengan bebas – tanpa ada siapa-siapa.

Sekarang, mereka berdua sedang bersantai di ruang tamu, menonton kartun Bluey atas kemauan Oscar. Lando duduk di sofa dan Oscar duduk di bawah- bersandar ke sofa di antara dua kaki Lando. Tangan yang lebih tua menyisir rambut dan memijat kepala yang lebih muda dengan lembut – yang lebih muda menerima dan menikmati sambil menonton kartun kesukaannya itu.

Tiba-tiba saja Lando merasa lapar, tangannya terhenti di atas kepala Oscar, “Aku laper deh seng, kamu laper gak? Go-food yuk?”

Yang ditanya tidak memberi respon, matanya masih lengket melihat ke arah tv, kepalanya diam dengan malas di atas paha kanan Lando. Alis Lando mengernyit, lalu tertawa kecil.

“Seng,”

Masih tidak ada jawaban,

“Sayang…”

“Mmm?” Di panggilan ketiga, akhirnya Oscar menoleh. Matanya menatap Lando yang berada di atasnya, berbinar mengkilap. Lidahnya sedikit keluar, membasahi bibir – gerakan yang sering Oscar lakukan secara tidak sadar kalau bibirnya kering. Dagunya agak naik ke atas untuk melihat Lando yang memanggil. Semua gerakan tadi terjadi dengan cepat – kurang dari satu detik, tapi berhasil membuat Lando gugup. Gugup karena dalam sepersekian detik itu, pikirannya sudah lari jauh beribu-ribu meter.

“Astaga tuhan…”

“Hah kenapa sayang?” Oscar yang mendengar nada bicara Lando yang sedikit kaget langsung agak panik– celingak-celinguk, takut ada sesuatu. Tapi Lando masih terpaku, lalu menelan ludah pelan. Dia pelan-pelan menurunkan dagunya dan tersadar akan posisi mereka sekarang. Tangannya yang masih menetap di rambut Oscar, dengan impulsif menjenggut surai itu ringan. Tarikan mendadak itu berhasil membuat sang empunya meringis, dan kepalanya ikut terhuyung ke belakang, menunjukan leher halus milik Oscar

“Ih apasih anjir, sakit tau.”

“Aduh pikiran aku udah kemana-mana seng sumpah maafin aku.” Oscar berkedip bingung mendengar pernyataan dari sang pacar, lalu memutar matanya ketika dia ‘paham’. Oscar mendecak, “Mesum anjing.”

“Ya maaaaaaaf sayaaaaang…”

Oscar mendengus lalu bangkit dari duduknya, langsung melangkah cepat, menghiraukan keluhan Lando di belakangnya. Oscar buru-buru masuk ke ruangan yang langsung terlihat di depan matanya – kamar mandi. Oscar tidak mau kalau Lando tau sebenarnya dia juga jadi salah tingkah dan malu.

---

Oscar pelan-pelan membuka knop pintu kamar mandi lalu berjalan ke arah ruang tamu. Dilihatnya Lando masih di posisi yang sama– terduduk di sofa namun dengan kaki yang sedikit tertutup, menghentakkan tumitnya resah.
Oscar beringsut duduk di sebelah Lando, tangannya meraih salah satu lutut Lando agar berhenti bergerak gelisah. Ibu jarinya bergerak lembut mengusap lutut Lando, Oscar yang menunduk perlahan mengangkat wajahnya. Netranya menemukan tatapan Lando yang jelas terlihat bingung dan gugup. Tapi akhirnya Oscar menunduk lagi.

“Aku malu.” Ujar Oscar pelan, hampir seperti berbisik. Lando terkekeh gemas.

“I thought you’re not comfortable with that,” jawab Lando, tangannya meraih dagu Oscar ke atas, membuat Oscar menatapnya. Pelan-pelan, dia maju sedikit dan menempelkan bibirnya dengan milik Oscar, diciumnya lembut. Setelah merasa puas dan keduanya merasa makin gerah, Lando mundur perlahan. Melepaskan ciuman tanpa paksaan.

“Would you sit down on the floor, love?”

Oscar langsung menurut, kembali di posisi dia sebelumnya – duduk di lantai, berada di antara dua kaki Lando, namun kali ini dia menghadap Lando yang duduk di sofa. Oscar letakan tangannya di atas kedua paha sang pacar, matanya menatap milik Lando– kilapnya masih sama seperti tadi. Jari-jari Lando membelah surai rambut Oscar, disisirnya ke belakang. Matanya menatap lembut orang yang sedang duduk di bawah.

“Kamu beneran mau? Aku gak maksa loh, sayang. we can just- not do this.”

Ibu jari Oscar pelan-pelan mengusap paha dalam Lando, membuat celana pendeknya sedikit naik. Lando berhasil merinding dibuatnya. Oscar mengangguk, “Im sure.”

Oscar meraih karet celana milik Lando, sang empunya pun paham dan perlahan mengangkat sedikit pinggangnya, membantu Oscar melepaskan kain yang masih menempel. Sekarang pakaian Lando sudah hilang setengah kebawah. Oscar terus menatap ke arah pacarnya. Sungguh dia malu karena ini pertama kalinya mereka melakukan kontak tubuh intim dan… karena melihat alat genital pacarnya untuk pertama kali dan melebihi ekspektasinya.

Dengan ragu Oscar mulai membubuhkan ciuman-ciuman kecil di paha dalam milik Lando. Bulu kuduk Lando berdiri memberi sinyal tanda nikmat yang menjalar ke saraf tubuhnya. Tangan Lando tidak berhenti menyisir surai lembut milik Oscar, seolah mengizinkan Oscar untuk melanjutkan apapun yang ingin dia lakukan.

Puas merangsang Lando, tangan Oscar meraih alat genital sang pacar, membubuhkan satu ciuman di ujungnya sebelum pelan-pelan memasukannya ke dalam bibir ranumnya. Lando menggelinjang karena sensasi hangat yang mengelilingi dan mengulum miliknya terlalu nikmat. Dia berusaha keras untuk tidak menjenggut rambut sang pacar, mengerang rendah dan pelan.

Oscar mulai menggerakan kepalanya maju mundur, lidahnya bermain di sisi bawah. Tangannya ikut memompa. Saat tiba-tiba muncul keberanian, Oscar masukan setiap senti milik pacarnya dan menahan ujungnya di tenggorokannya. Lando akhirnya mendesah, diikuti dengan rapalan panggilan sayang yang tak henti. Jari-jarinya menyelip rambut Oscar, menahan kepalanya untuk tidak bergerak sampai akhirnya Oscar tersedak. Lando tarik surai Oscar– memberi sinyal untuk mundur sebentar, membiarkan Oscar bernafas sebentar sebelum akhirnya kepalanya bergerak lagi.

Lando tidak berhenti menatap ke bawah, rasanya ia tidak ingin menutup matanya satu detikpun. Dia mau semua momen ini tersimpan di kepalanya. Pipi merah, rambut berantakan, mata berair, dengan mulut yang penuh. Cantik. Cantik sekali.

Sekarang kepala Oscar bergerak lebih cepat, pinggang Lando ikut bergerak dengan tergesa yang terkadang membuat Oscar terhentak dan tersedak beberapa kali. Lando tak bisa tahan melihat mulut sang pacar yang penuh dengan miliknya– membuat Oscar seribu bahkan sejuta kali lipat lebih seksi di matanya.

“Anjing- Oscar… Cantik… Enak banget sayang…” Lando meracau, lengkap dengan erangannya. Oscar yang mendengar pun makin semangat, kepalanya tak berhenti bergerak, matanya tak sedetikpun terlepas dari netra sang pacar yang sayu keenakan.

“Ah- Lepas- Lepas, cantik… Mau keluar…-”

Oscar memompa tangannya lebih cepat lagi, kepalanya bergerak dengan kecepatan yang stabil.

“Fuck- Sayang-! Lepas sayang aku mau-”

“Keluarin aja.” Jawab Oscar cepat, suaranya redam karena mulutnya penuh.

Lando menggumamkan kata umpatan lagi sebelum akhirnya mencapai pelepasannya dengan nama Oscar terucap di bibirnya. Kepalanya terlempar ke belakang, urat-urat di lehernya menegang, matanya tertutup rapat. Cairan miliknya meluncur di kerongkongan Oscar, ditelan habis hingga hanya tersisa rasa yang samar di lidah. Tangannya masih menggenggam rambut Oscar kuat, namun sang empunya tidak protes sama sekali.

Oscar perlahan melepaskan milik sang pacar, dadanya naik turun cepat, menarik napas yang sedari tadi sulit untuk didapat. Lando, yang perlahan mengumpulkan nyawanya, melihat ke arah pacarnya. Oscar terlihat berantakan, namun Lando bisa bilang kalau inilah tampilan terbaik pacarnya yang pernah dia lihat.
Tangan Lando meraih rahang Oscar, ibu jarinya mengusap pipi Oscar lembut.

“Gila kamu sayang,”

“Jago banget.”

Suara Lando sedikit lemas, tapi terlihat kalau pujian itu datang dari dirinya yang paling dalam. Oscar mendengarnya pun tersipu, menunduk. Lando tertawa gemas, duh, bisa-bisanya dia masih keliatan lucu setelah memuaskan pacarnya?

Lando menepuk pahanya, “Naik sini sayang.”

Oscar menurut, naik untuk duduk di pangkuan pacarnya. Kalau orang lain tahu Oscar bisa menjadi pemalu dan penurut seperti ini ke pacarnya, bisa malu dia.

“That was so good, im not even kidding. Kamu belajar sama siapa, sayang?”

“Salah tanya, harusnya belajar sama ‘apa’ bukan ‘siapa’.”

“Loh, kirain pernah sama mantan kamu.”

“Ngawur! Aku mana berani SMA udah gini-ginian.”

“Padahal aku gapapa lho kalau tau kamu belajar dari orang lain. I’ll thank him because now my pretty boyfriend knows how to do it for me and me only for the rest of his life,” Lando cekikikan.

“Duhhh, beneran ga sama siapa-siapa.”

“Terus? belajar sama ‘apa’?”

Oscar memutar bola matanya pipinya memerah.

“Gausah pura-pura gatau.”

“Apa? Kamu nonton bokep?”

Kalimat yang barusan dilontarkan berhasil membuat Lando mendapatkan sentilan di jidatnya.

“Aduh! Kok marah, sih? Itu kan tebakan aku. Apa jangan-jangan aku bener?”

Oscar hanya menenggelamkan kepalanya di pundak Lando, mendengus.

“Loh? Bener? Ihhh aku bilang si mamah loh seng.”

“Apaan sih kocak kita udah 20 tahun lebih… udah boleh nonton gituan.”

Lando terbahak-bahak, tangannya mengusap punggung Oscar lembut, lalu berbisik. “Makasih banyak ya sayangku…”

Oscar cuma berdeham, tangan Lando juga gak berhenti mengusap punggung Oscar lembut. “Kamu mau juga gak sayang?” Tawar Lando, nadanya lembut. Yang ditanya cuma bisa meringkuk, menyembunyikan wajahnya di leher sang pacar.

“Ngomong dong, cantikku. Aku gak ngerti kalo kamu gak ngomong.” Beberapa detik, Lando belum mendapatkan respon, lalu-

“Mau.”

“Pinter.”

Oscar yang dipuji tersipu malu, Lando maju sedikit untuk mendaratkan ciuman di dahi Oscar.

“Angkat pinggangnya, sayang.”

Oscar mengangkat pinggangnya, tangannya menetap di bahu Lando sebagai sanggahan. Sekarang, keduanya sama-sama berpakaian hanya setengah badan. Lando pelan-pelan maju untuk menyerbu leher polos milik yang lebih muda. Dipaparkannya ciuman-ciuman kecil, lengkap dengan gigitan-gigitan tipis yang perlahan menjadi agak nafsu. Diikuti dengan hisapan manis yang meninggalkan bekas jelas layaknya noda kunyit di kain putih.

Lando mundur sedikit, melihat mahakaryanya yang dia tinggalkan di leher Oscar. Pacarnya itu kembali terlihat berantakan, tampan, tapi juga cantik dan manis di saat yang bersamaan. Oscar sungguh terlihat sempurna seperti ini di mata Lando.

Tangan Lando tanpa keraguan langsung meraih kejantanan Oscar, di pompanya perlahan. Oscar mendesis nikmat, kedua tangannya mencengkram pundak Lando. Dan ketika Lando menambahkan temponya, Oscar tidak tahan, akhirnya menggoyangkan pinggulnya untuk menemui gerakan tangan sang pacar.

“Gila, you're so fucking hot like this, sayang. Aku berdiri lagi.”

Oscar menunduk, dan benar saja, dia langsung bisa melihat apa yang Lando maksud ‘berdiri’ lagi.

“Do you think we should- sssh- do it?”

“Do what, sayang?”

“Dont be so stupid- anjing- or trying to look stupid.”

“Beneran mau?”

“Kelamaan ih- mau keluar-” Lando menghentikan tangannya tiba-tiba, membuat Oscar menggerutu.

“Apasih anjir? Ka-”

“Kalo mau lanjut mending pindah. Kamu bilang kamu mau kan?”

Oscar terdiam sebentar, lalu mengangguk. Tanpa basa-basi, Lando membawa Oscar dalam gendongan dan jalan ke kamarnya.

“Aku gak punya kondom,” Lando mengaku, agak kikuk. “Tapi kayaknya ada di kamar mama papa, aku cari dulu ya sayang.”

Selesai merebahkan Oscar di kasurnya, Lando melangkah keluar menuju kamar orang tuanya. Benar saja, dia menemukan kondom dan juga pelumas di nakas samping kasur. Dia membawa tube tersebut dan mengambil satu bungkusan kondom sebelum kembali ke kamarnya.

Sampai di kamar, Lando naik ke atas kasur lalu merangkak di atas Oscar.

“Oscar, are you really sure?” Lando bertanya sekali lagi. ia takut sebenarnya Oscar tidak terlalu yakin dan hanya dikelabui nafsunya, dan akan menyesal setelah melakukan ini bersamanya.

“Im really sure, Lando. If im not i wont push you to do this in your house either.”

Hm, ada benarnya.

Setelah Oscar menyelesaikan kalimatnya, Lando merendahkan badannya untuk menyatukan bibir miliknya dengan milik Oscar. Ciumannya langsung panas dan berantakan, sedangkan tangan Lando sibuk menggerayangi tubuh Oscar. Jari-jari mengabsen tulang rusuk Oscar lalu naik ke dadanya, memilin puting Oscar dengan jarinya. Oscar melenguh, tulang belakangnya melengkung ke atas.

Sesaat Lando melepas ciumannya, dia mengambil pelumas di nakas lalu melumuri satu jari telunjuknya. “Kalau sakit bilang ya, sayang.”

Setelah mendapat anggukan dari Oscar, telunjuknya meraba dan menyapa lubang sempit milik Oscar yang berkedut terangsang. Pelan-pelan Lando coba masuk, dari buku jari pertama, sampai akhirnya masuk satu jari. Oscar merasa aneh atas intrusi yang ada, pedih namun sama enaknya. Jari Lando bergerak pelan sampai dirasa sudah cukup, dia menambahkan satu jari lagi. Kali ini dia jari tersebut bergerak seperti gunting. Lando mau memastikan kalau Oscar benar-benar siap.
Dalam tahapan ini, Lando tidak sengaja menemukan titik prostat milik Oscar. Sang empunya langsung menggelinjang hebat, mendesah merdu.

“Enak ya, sayang? Hm?”

Oscar mengangguk cepat.

Dirasa sudah siap, Lando mengeluarkan jarinya lalu merobek sebungkus kondom yang dia ambil tadi, menggunakannya lalu melumurkan pelumas secukupnya. “Kalau sakit tepuk pundak aku dua kali, kalau aku boleh lanjut tepuk sekali. Oke sayang?”

“Okay.”

Lando mencoba masuk perlahan, ujungnya menekan sedikit lubang sempit itu sampai akhirnya masuk satu per tiganya. Oscar meringis, menepuk pundak Lando dua kali.

“Right, sorry baby. Bilang kalo aku udah boleh gerak, ya.”

Oscar mengangguk, lalu menepuk pundak Lando sekali ketika dia sudah terbiasa dengan rasa aneh yang timbul. Lando dorong masuk perlahan lagi, mengerang keras. “Gila, kamu sempit- banget…”

Kepala Lando jatuh di dahi Oscar. Sedangkan Oscar menutup matanya, mulutnya sedikit terbuka. Setelah menyesuaikan keberadaan kejantanan sang pacar di dalamnya, Oscar menepuk pundak Lando sekali lagi.

“Pelan aja.”

“Got it.”

Lando mulai bergerak pelan, memperhatikan wajah Oscar baik-baik. “Segini aman, sayang?”

Oscar mengangguk. Matanya sayu, mulutnya tidak bisa tertutup dan tidak berhenti mengeluarkan napas kasar pendek-pendek. Sedangkan yang di atasnya, hanya menonton pemandangan di bawahnya sambil menggoyangkan pinggulnya, pelan-pelan merangsek lebih dalam lubang milik sang pacar. Sampai akhirnya semua inci miliknya masuk, Lando mendesahkan nama pacarnya lirih, gerakannya terhenti beberapa detik– sensasinya terlalu hebat.

Lando lanjut mengejar pelepasan kedua, menaikkan tempo gerakannya. Sampai tiba-tiba punggung Oscar melengkung sempurna ke atas, matanya hanya tersisa warna putih– terputar ke belakang. Lando baru saja menemukan titik prostat milik yang lebih muda. Dan dia bisa merasakan dinding-dinding itu memijat miliknya dengan intens.

“Wah anjing- Enak ya sayang? Enak aku mentokin?” Lando bergerak lebih cepat, menghantam titik itu dengan sempurna berkali-kali. Membuat Oscar tak berhenti melenguh dan mengeluarkan napas pendek-pendek. Mulutnya terbuka membentuk seperti huruf o kecil. Lando melihatnya seperti sebuah undangan, dia selipkan jari telunjuk dan tengahnya untuk mengisi mulut cantik itu. Oscar otomatis menutup mulutnya, mengulum jari tersebut seakan jari tersebut adalah permen. Sangking nikmatnya, air liur meluncur sedikit keluar dari ujung mulutnya yang penuh itu. Mata Oscar sedikit terputar ke belakang, dahinya sedikit basah dengan peluh, dan mulutnya keluar air liur. Pemandangan sempurna untuk Lando di atasnya yang tidak berhenti menghentakkan pinggulnya cepat dan dalam.

Merasa dia sudah dekat pada pelepasan, Lando meraih kejantanan milik Oscar lalu dipompanya cepat. Mengikuti tempo gerakan pinggulnya yang menghantam titik nikmat milik sang pacar. Oscar hanya bisa menggelinjang keenakan, tatapannya tidak fokus, mulutnya hanya bisa mengeluarkan dua kata – enak dan enak banget.

Tiba-tiba saja Oscar sudah mencapai pelepasannya, cairan miliknya mendarat di perutnya sendiri. Lalu disusul oleh Lando yang mengerang keras sekali sesaat dia keluar– pinggangnya bergerak patah-patah, mengisi kondom yang dia gunakan.

Mereka berdua sama-sama terengah-engah, badan terlapisi keringat tipis– efek dari aktivitas fisik yang baru saja mereka lakukan.

Lando pelan-pelan menunduk lalu mencium lembut bibir pacarnya, yang dibalas sama lembutnya. Ciumannya terasa vulnerable – tanda kalau mereka lelah tapi masih penuh afeksi.

“Kita baru aja ngewe loh seng.”

Oscar mendecak, pacarnya emang selalu punya pilihan kata yang– ya begitulah. Padahal harusnya ini jadi momen yang hangat dan dalam. Pemilihan kata dari Lando agak kurang cocok di situasi seperti ini, memecah atmosfer yang terasa lembut jadi sedikit cerah.

“Ngomong difilter kenapa sih.”

“Masa masih malu sih, orang kita udah begini – aku udah ngocokin kamu, kamu udah ngocokin aku, aku udah masuk-”

“Demi tuhan Lando Norris tutup mulut lu.” Lando terbahak.

Puas bercanda, Lando ciumi seluruh area wajah manis milik sang pacar yang masih terasa hangat– masih memerah. Lalu pelan-pelan dia tarik keluar kejantanan miliknya dan membuang kondom bekas pakai itu. Bergerak minggir sedikit, Lando mengambil tissue basah juga tissue kering, dan mulai mengelap perut si Manis yang kotor. Sudah bersih dan kembali nyaman, tangannya bergerak turun untuk memijat paha Oscar.

“Did I do good, sayang?”

“Hmmm sebenernya aku gak punya perbandingan, tapi tadi enak banget so i could say you did good, very well, even.”

Lando terkekeh, Oscar tahu kok kalau Lando juga seorang yang 0 pengalaman seperti Oscar. Semua yang dia lakukan hanya berdasarkan insting dan bacaan di internet. Iya, Lando betulan mencari tahu tentang cara melakukan hubungan seksual dengan laki-laki. Dia malu membacanya, karena sedikit merasa bersalah untuk membayangkan sang pacar dalam skenario seperti itu. Tapi semua terbayarkan dengan pacarnya yang manis itu merasa puas.

“Pantat kamu sakit ya, seng?” Oscar mengangguk. Sekarang dia terkulai lemas dengan Lando di sampingnya. “Perih dikit.”

Lando mengangguk, “Aku sampe lupa aku laper gara-gara liat kamu tadi, malah sange.”

“Lando Norris astaga tuhan mulut lu di rem dong anjiiiing.”

“Oke oke maaf maaf. Tapi kamu laper kan? Aku gofood ya sekarang.”

Oscar cuma bisa mendengus lalu mengangguk, Lando di sebelahnya langsung meraih handphone miliknya di atas nakas untuk memesan makanan. Dia yakin pacarnya belum sanggup untuk bergerak banyak karena lubang analnya masih perih, jadi tidak mungkin dia minta pacarnya untuk buat makan malam di dapur.

“Seng.”

“Hmm?”

“Aku mau ngomong tapi janji dulu gak bakal marah ya.”

“Aneh-aneh ya pasti.”

“Udah janji dulu, pasti kamu penasaran kan?” Oscar memutar bola matanya malas, “yaudah iya, apaan?”

“Aku kayaknya bakal sering coli habis ini.”

“Astaga… Aku gak perlu tau… Kenapa harus ngomong sih…” Lando nyengir tanpa dosa, “aku pengen kamu tau.”

“Aku gak mau tau.”

“Tapi udah tau.”

Oscar menepis pelipis Lando ringan.

“Jadi inget waktu itu kamu pernah nanya, kalo aku kadang ngetik ‘masa harus ke kamar mandi lagi sih’ dan lain-lain itu aku beneran ngocok apa enggak. Kalo masih kepo jawabannya– kadang iya kadang enggak.”

“Sumpah gue gak mau tau anjir udah gak penasaran.”

Lando ketawa, lalu maju untuk cium pipi pacarnya.

“Olahraga sana, ngocok mulu. Nanti dimarahin dokter tirta.” Gerutu Oscar.

“Duh gimana ya, udah olahraga tapi pacarnya lucu imut gini jadi kadang tetep suka ngoc-”

“Elu sangean.”

Lando cuma bisa nyengir.

Oscar menatap ke arah jendela yang menunjukkan langit berwarna biru cerah, kalau Oscar tidak salah ingat, sekarang masih sore. Mereka bersenggama di tengah hari. Dari pikiran itu, Oscar tersenyum sendiri. Sangat terlihat keduanya sama-sama ingin dan tidak sabar– manusia mana yang mau bersenggama di siang bolong?