Work Text:
Sebentar lagi dunia mungkin akan kiamat, jadi Kaveh ingin bercinta hari ini dengan khidmat.
Harus, walau itu berarti bercinta dengan guru sendiri. Wajib, walau itu berarti bercinta di toilet kantin yang sudah rusak──yang tak bisa dimasuki siapapun kecuali oleh mereka yang nekat. Mesti, walau itu berarti bercinta di antara murid-murid yang tengah makan dan minum dengan marak.
Awalnya Haitham terlihat enggan sekali diminta datang ke sana melalui WhatsApp. Namun, saat Kaveh mengatakan, ‘aku takut besok kiamat,’ tanpa sadar kakinya bergerak dengan kepala celingak-celinguk takut ada yang lihat.
Tersenyum lebar Kaveh begitu melihat siluet guru cantiknya betulan melangkah masuk ke dalam toilet. Langsung disambar bibir Haitham dengan rakus, tak mengizinkan satu patah kata pun keluar, bahkan untuk sekadar mengomeli kengawuran ketikannya.
Dia padu taut sambil mendorong paksa badan Haitham mundur, membawa raga matang itu hingga masuk ke dalam salah satu bilik toilet yang pengap. Dilumatnya bibir bawah Haitham, sementara kaki bergerak tangkas menyepak pintu bilik sampai tertutup rapat. Ia tekan punggung Haitham ke daun pintu bilik, lalu memutar grendel cepat-cepat.
Seluruh pergerakan taktis itu ia lakukan tanpa melepas pagut sedikit pun.
Haitham yang terkenalnya sebagai guru killer paling ditakuti langsung luruh seketika. Di kelas saja ia sedingin es, kalau sudah di bawah kukungan Kaveh mah ia meleleh. Refleks ia memejamkan mata, merespons lumatan kasar muridnya sembari mengalungkan dua lengan di sekeliling leher Kaveh.
Dadanya lekas membusung, membuat dua bongkahan payudara yang besar menekan ke dada Kaveh, menciptakan sensasi empuk yang buat muridnya itu majukan pinggul guna menekan kemaluan yang sudah ereksi kaku di balik celana ke area kewanitaan Haitham yang terhalang rok kerja.
“Mmhhm──” Di tengah cium yang kian menuntut, Haitham langsung mendesah pasrah dalam mulut sang murid.
Dirayapkannya satu tangan ke belakang kepala Kaveh, Haitham menyelipkan beberapa helai rambut pirang Kaveh di antara sela-sela jemari, lalu meremasnya kuat-kuat untuk menekan kepala Kaveh agar tautan antar bibir mereka semakin dalam.
Karena remasan itu lah, Kaveh memiringkan kepala, mencari posisi yang lebih nyaman. Ia ikut pejamkan mata kala menelan habis desahan gurunya yang tertahan, lalu dengan gemas menggigit bibir bawah Haitham. “Mhmm.” Terlena ia dalam desah begitu mulai mengulum bibir bawah sang guru sampai bibir tipis itu memerah dan agak bengkak, selagi bibir atasnya sendiri gantian digigit dan diciumi dengan tak kalah rakus.
Kaveh rasakan tetek Haitham yang semakin menekan dadanya. Dari jepitan empuk itu, ia jadi tahu satu rahasia kecil; siang ini, Haitham tak mengenakan bra. Gurunya itu hanya memakai tanktop yang ada cup bra bawaan di balik kemeja kerjanya. Tapi, sialan, cup itu tak cukup tebal untuk menyembunyikan fakta bahwa kedua pentil Haitham menegang cepat di balik lapisan kain, langsung terasa jelas menantang dada Kaveh.
Langsung ia putus ciuman mereka secara sepihak, guna melihat air wajah Haitham yang kini sedang terengah-engah. “Kenapa nggak pake beha, Bu?” tanya Kaveh. Mengerjap permatanya, menanti jawaban. “Sengaja, ya? Biar aku gampang ngerasain pentil toket ibu ngaceng?”
“Mesum,” Haitham menjawab sambil menghela napas. “Panas banget hari ini, jadi ngga pake beha.”
“Oh, aku kira karena ibu juga takut besok kiamat,” balas Kaveh. Ia kecup bibir Haitham, turun ke dagu, turun ke rahang, lalu turun ke leher putih gurunya. “Makanya sengaja ngga pake beha buat aku,” tambah ia bersuara sebelum menjilat garis leher Haitham.
Dia ingat betul satu aturan penting; Haitham tak pernah memperbolehkannya mencupang leher, karena bakal terlalu kentara nanti, dan susah ditutupi. Jadinya, Kaveh hanya menjilati membuat sang guru mendongak pasrah, sambil semakin meremas rambut Kaveh.
“Haah . . ngawur. Omongan kamu kenapa ngawur mulu dari tadi? Apa coba kiamat, kiamat . . gitu.” Haitham sendiri, walau ingat pernah mewanti-wanti Kaveh untuk jangan beri satu pun tanda, tetap saja tak dapat menahan rasa terangsang yang hebat kalau lehernya sudah diciumi dan dijilati begitu rupa.
Rasa sensitif di area itu buat tubuhnya merinding, buat dia jadi ingin ditandai.
“Engga tau.” Sambil terus sibuk di leher Haitham, Kaveh membalas pelan. Ia turunkan satu tangan untuk menarik paksa keluar kemeja kerja Haitham dari dalam rok ketatnya sebelum jemari dengan cekatan melepas satu per satu kancing kemeja tersebut hingga terbuka berantakan. “Aku tiba-tiba kepikiran aja, sih.”
Jengah sekali Haitham yang dengar. Dia sampai enggan balas dan hanya fokus pada deru napas Kaveh di atas kulit lehernya. Selagi menciumi leher itu, Kaveh menghirup aroma tubuh Haitham yang begitu feminim──aroma khas daun sirih bercampur manjakani. Jujur saja, wangi itu sukses membuat celananya makin sesak, makin menyiksa, hingga Kaveh berbisik di sela napasnya, “bukain celana aku, bu. . sesek banget kontol aku──hh.”
Haitham yang mendengar rengek itu tak langsung menurut. Ia memang melonggarkan remasan tangan dari rambut Kaveh, tapi jarinya tak bergerak turun ke celana muridnya itu. Tidak. Ia justru meraba masing-masing bongkahan pantat Kaveh, lalu menekannya dengan kuat, membuat kemaluan Kaveh yang menegang bisa semakin melesak padat menekan lipatan vaginanya di balik kain.
Kalau saja saat ini tak ada penghalang berupa celana seragam dan rok kerja, Kaveh yakin sekali, burungnya pasti bakal langsung melesak masuk ke dalam liang peranakan sang guru. Habis, posisi kepala tititnya pas sekali menekan tepat di belahan bibir vagina.
“Aahh Ibu . . jangan ngeledek,” kata Kaveh separuh merengek. Suaranya terdengar frustasi di sela deru napasnya. Ia sejajarkan kembali wajahnya pada wajah Haitham, memberi tatap seolah merajuk. “Aku minta bukain, bukan minta diteken ke memek ibu.” Tutur katanya sih begitu, padahal pinggulnya sendiri terus bergerak maju-maju, seakan ingin mencoba meloloskan kemaluannya agar dapat merasakan jepitan vagina Haitham.
Haitham yang sudah memandangnya, menyunggingkan seringai tipis yang menggoda. Sumpah, cantik sekali di mata Kaveh. “Kamu buka sendiri dong. Punya tangan, kan? Udah selesai kan bukain kemeja ibu?”
Cemberut sedikit Kaveh saat mendengar tantangan itu, namun ia langsung nurut tanpa nunda waktu lagi. Ia lepas kini gesper celananya, membuka kancing, menarik turun resleting, lalu menyingkap celana dalamnya hingga kemaluannya yang besar, panjang, dan sudah memerah di bagian kepala mencuat bebas tepat di depan permukaan rok Haitham.
“Aku nggak bawa kondom hari ini. Boleh tetep masuk kan, bu?” Tanya Kaveh. Sambil memegang pangkal kemaluan, ia menatap Haitham penuh harap.
Haitham, yang matanya sempat berbinar karena selalu saja takjub setiap melihat ukuran titit muridnya itu, langsung menggelengkan kepala. Ia ulurkan tangan, meraih kepala kemaluan Kaveh yang sudah basah guna melumuri cairan pra-ejakulasi muridnya itu ke tangan.
“Engga boleh, ibu lagi masa subur,” kata Haitham tegas. Ia tarik pelan batang kemaluan Kaveh ke bawah, buat satu tangan Kaveh spontan bertumpu ke pintu tepat di samping kepala Haitham untuk menahan keseimbangan tubuhnya. “Pake paha ibu aja ya? Kamu gesekin kontol kamu deket memek biar ibu juga ngerasa enak.”
Tambah cemberut saja Kaveh mendengarnya. Namun ya, dasar murid nakal, ia tak mau moodnya hancur begitu saja, jadi ia gunakan satu tangannya yang bebas untuk menarik paksa tanktop Haitham ke atas hingga membuat dua bongkah payudara sang guru otomatis terekspos bebas di udara toilet yang gerah.
“Tapi, gimana kalau besok kiamat?” tanya Kaveh, masih keras kepala menyeru protes. Ia segera dekatkan wajah ke salah satu puting Haitham yang tegak, sementara tangan lain mencengkeram tetek Haitham yang sebelah untuk diremas dengan gemas.
Sempat Haitham tertegun dalam hati, bertanya mengapa muridnya bawa-bawa kiamat? Apa jangan-jangan ini trik baru Kaveh supaya kemauannya diturutin? Karena sejauh yang Haitham tahu, selama menjalin hubungan rahasia ini, Kaveh memang gampang sekali ngambek, gampang pula marah, tetapi ia tipikal anak lelaki yang tak akan sampai hati mengarang aksi atau asal bicara demi keinginannya dipenuhi.
Jadi, kenapa bawa-bawa kiamat terus?!
Sayang, belum sempat Haitham membuka suara untuk menanyakan itu, Kaveh sudah lebih dulu menyergap dan menggigit pentilnya yang sensitif.
“Aahh──!”
Pekikan kaget itu buat Haitham buru-buru menutup mulutnya sendiri dengan satu tangan agar suaranya tak bocor keluar dari bilik toilet. Sementara tangan yang lain lekas menekan bagian belakang kepala Kaveh, agar muridnya bisa mengulum semakin dalam.
Terus Kaveh menghisap puting Haitham, sementara puting lain ia cubit lalu pelintir hingga buat sang guru merem-melek menahan nikmat yang teramat sangat. Wanita itu mendongak lagi; kali ini sambil menurunkan tangannya dari mulut untuk menarik rok kerjanya yang ketat naik sampai ke perut.
Haitham arahkan kemaluan muridnya agar berada tepat di antara kedua paha dalam yang sudah lumayan basah karena cairan vaginanya mengalir ke sana.
“Haah . . terus Kaveh──” pinta Haitham dengan desah parau. Selalu runtuh ia, setiap muridnya itu menyusu.
Ia lalu rapatkan kedua pahanya erat-erat, menjepit kemaluan Kaveh hingga Kaveh mengerang rendah tanpa melepas kuluman panasnya dari puting. Tak lama kemudian, ia gerakkan pinggul, menggenjot sela paha sambil sengaja menggesek-gesekkan batang tititnya sedekat mungkin pada belahan bibir vagina yang masih terbungkus celana dalam.
Karena kewanitaan Haitham sudah sangat becek, gerakkan Kaveh jadi sangat mulus. Begitu mudah ia menarik dan mendorong, memaju-mundurkan kemaluan di antara himpitan daging paha empuk.
“Mmh mnhh~ haaah Kaveh . .” desah Haitham, lagi.
Rasanya memang jelas tak seenak dengan ditancap langsung masuk ke dalam lubang vagina, tapi permainan ini, ditambah desahan gurunya, sudah lebih cukup untuk membuat Kaveh menggila.
Lagipula, Kaveh memang menyukai semua bagian tubuh Haitham. Semua. Tanpa terkecuali. Pernah ada satu kali di mana burungnya dijepit kuat-kuat menggunakan dua telapak kaki Haitham, dan Kaveh tetap bisa ejakulasi dengan hebatnya karena … sialan, dia benar-benar cinta mati sudah pada gurunya itu.
Menjalin hubungan dengan Haitham sudah seperti menang jackpot bagi Kaveh. Dalam hati, ia bersyukur telah terlahir sebagai anak paling pintar satu angkatan di sekolah. Kalau saja otaknya tak encer, dia tak akan sering dipanggil ke ruang guru untuk bimbingan, tak akan sering diminta menjadi perwakilan sekolah untuk ikut lomba, tak akan pula mendapatkan nomor pribadi Haitham, dan yang paling krusial; dia tak akan pernah sengaja melihat sisi rapuh Haitham yang sedang mabuk sepulang mengajar demi menemaninya persiapan lomba matematika dulu.
Semua kebetulan indah itu yang buat mereka ada di bilik toilet sekarang. Jadi, Kaveh harus bercinta penuh khidmat, karena siapa tahu besok kiamat.
Haitham terus mendesah merasakan bagaimana lipatan vaginanya berkali-kali tergesek oleh batang kemaluan Kaveh yang panas. Tak puas hanya dengan gesekan dari luar, ia menelusupkan satu tangannya ke celana dalamnya sendiri untuk mulai memainkan klitoris yang sudah membengkak.
Haitham usap area sensitif itu dengan gerakan melingkar memakai jari tengah, yang lama-kelamaan bergerak agak ke bawah, sedikit mendekati lubangnya tapi tetap berfokus di sekitar klitoris untuk memacu orgasme.
Sedangkan tangan yang lain masih setia menekan kepala Kaveh di teteknya. Namun, Kaveh tak mau hanya bertahan di satu tempat; ia dorong sedikit kepalanya mundur, lalu pindah ke puting yang satunya lagi untuk kembali ia gigit, kulum, jilat, dan hisap dalam-dalam selayaknya bayi yang haus.
Di tengah kenikmatan yang menyiksa itu, Haitham sangat berharap tak ada seorangpun yang mendengar suara desahannya. Ia tahu betul kalau di luar bilik toilet saat ini suasana sedang ramai-ramainya oleh anak-anak yang mengobrol, jajan, makan, dan minum di kantin. Ia juga mati-matian berharap tak ada orang nekat lainnya yang terpikir untuk masuk ke kamar mandi rusak ini selain Kaveh dan dirinya.
Tapi sial, ketakutan Haitham mendadak menjadi kenyataan. Ternyata tetap ada segerombolan siswa yang melangkah masuk ke dalam toilet.
Derap langkah kaki yang mendekat dalam jumlah banyak terdengar jelas. Ya, kurang lebih sekitar empat orangan. Tepat saat mendengar suara-suara berisik itu, Kaveh langsung melambatkan gerakan pinggulnya, hingga berhenti.
Selagi ia masih asyik menyusu di puting gurunya, matanya melirik ke atas, menatap Haitham yang kini menggigit bibir erat-erat sembari menunduk untuk membalas tatapannya.
Dari sorot mata panik itu, Kaveh tahu kalau Haitham sangat takut ketahuan. Ya iyalah, bagaimanapun statusnya adalah seorang guru, sedangkan Kaveh muridnya. Haitham jelas takut kehilangan pekerjaan, dan reputasinya hancur berantakan. Tapi di sisi lain, wanita itu juga sama sekali tak mau berhenti dari permainan panas ini.
Kaveh tahu, Haitham sudah terlanjur cinta mati padanya pula. Gurunya itu sudah terlanjur butuh kehadiran Kaveh di hidupnya.
Begitu mulai tercium bau pekat asap rokok yang menyelinap masuk dari sela bawah bilik toilet, Kaveh akhirnya berhenti menyusu. Ia mengangkat kepalanya menjauh, membiarkan kain tanktop Haitham kembali jatuh menutupi payudara dengan posisi acak-acakan.
Kaveh lalu tangkup sebelah pipi Haitham dengan satu tangan, sementara tangan lain bergerak menyingkirkan jari Haitham dari area kewanitaannya sendiri. Dengan gerakan taktis, Kaveh tarik keluar kemaluannya dari jepitan paha dalam Haitham, lalu langsung melorotkan celana dalam gurunya itu ke bawah.
Jantung Haitham langsung berdebar kencang bukan main. Ia takut Kaveh nekat melakukan hal aneh di tengah situasi genting ini──lagipula sejak di obrolan WhatsApp tadi kelakuan muridnya ini memang sudah aneh karena terus-terusan membahas soal kiamat. Tepat saat Haitham hendak membuka mulut untuk menyeru protes, Kaveh dengan cepat membekap mulut Haitham menggunakan satu telapak tangannya. Ia kemudian kecup punggung tangannya sendiri itu, sembari menatap Haitham dalam-dalam.
“Jangan berisik,” bisik Kaveh, suaranya terdengar sangat rendah.
Menggunakan tangannya yang bebas, Kaveh langsung arahkan kepala kemaluannya yang sudah basah berurat tepat ke lubang vagina Haitham; syukur kaki Haitham sudah lumayan melebar karena refleks saat Kaveh menjauhkan kemaluannya tadi.
“Aku masukin ya,” tambah Kaveh pelan. Intonasi kalimat itu jelas bukan untuk minta izin.
Haitham langsung terbelalak mendengarnya. Ia benar-benar tak sangka kalau Kaveh akan nekat melakukan hal seaneh dan seberani ini. Sikap ngeyel Kaveh siang ini terasa sangat asing, karena selama menjalin hubungan rahasia, Kaveh selalu patuh dan nurut sekali pada setiap perkataan gurunya. Nurut banget.
Tanpa memberi waktu bagi Haitham untuk melayangkan tolakan, Kaveh perlahan menekan masuk kepala kemaluannya yang besar menerobos lubang vagina Haitham. Sensasi bukaan penuh yang tiba-tiba itu buat Haitham refleks melingkarkan kedua tangannya di leher Kaveh. Wanita itu memeluk muridnya dengan erat sembari memejamkan mata rapat-rapat, merasai bagaimana dinding vaginanya dipaksa melebar perlahan mengikuti diameter kemaluan Kaveh yang berurat kaku.
Kaveh sengaja memasukkannya dengan teramat lamban, membiarkan Haitham menikmati setiap inci rasa panas dari kejantanannya yang tenggelam semakin dalam di dalam lubang vaginanya yang sempit dan becek.
Kaveh sendiri rasanya ingin sekali mengerang keras karena jepitan itu luar biasa nikmat, tapi dia juga tak mau mereka berdua ketahuan. Alhasil, dia melampiaskannya dengan menggigit bibir bawahnya sendiri kuat-kuat sembari tangannya tetap setia membekap mulut Haitham. Tepat ketika seluruh batang kemaluannya sudah melesak mentok hingga kepalanya mencium pintu rahim Haitham, Kaveh refleks mendongak dengan napas tertahan.
Lega. Rasanya lega dan puas bukan main bisa mengawini vagina Haitham secara langsung tanpa selembar pengaman pun. Sensasinya ternyata jauh lebih enak ketimbang semua permainan yang pernah mereka lakukan sebelumnya! Ini adalah kali pertama bagi Kaveh menembus gurunya tanpa memakai kondom. Ia benar-benar bisa merasakan bagaimana seluruh batang kemaluannya disambut oleh kehangatan yang basah, ketat, dan menjepit seolah sedang memijat di dalam sana.
Di tengah keheningan intim itu, suara obrolan anak-anak dari luar bilik terdengar semakin jelas. Posisi gerombolan siswa perokok itu pas sekali sedang bersandar tepat di depan pintu bilik tempat Kaveh dan Haitham bercinta.
Menyadari situasi rawan tersebut, Kaveh tak langsung bergerak. Ia memilih untuk menurunkan tangannya dari bibir Haitham dengan perlahan, lalu menyeludupkan kedua tangannya ke bawah masing-masing paha Haitham untuk ia angkat tinggi-tinggi demi memperdalam tautan mereka.
Akibat pergerakan itu, sempat terdengar suara pintu bilik yang berdecit agak nyaring gara-gara ada tekanan kuat antara berat punggung Haitham dengan daun pintu kayu tersebut. Beruntung, anak-anak di luar langsung mengira kalau decitan itu berasal dari punggung salah satu teman mereka yang tak sengaja menyenggol pintu, sehingga mereka tak meneruskan rasa penasaran mereka dan kembali lanjut ngobrol santai.
Air mata Haitham perlahan jatuh membasahi pipinya. Ia benar-benar takut setengah mati kalau sampai ketahuan, sampai-sampai rasa panik itu membuatnya menangis. Tapi sebenarnya, tetesan air mata itu keluar juga karena dia merasa sangat nikmat merasakan lubangnya diisi penuh oleh burung Kaveh tanpa pengaman. Jadi bukan cuma Kaveh saja yang kepalang keenakan; Haitham pun merasakan sensasi luar biasa yang sama.
“Jangan keluar di dalem,” bisik Haitham terengah-engah. Ia dekatkan bibirnya ke telinga Kaveh supaya suaranya yang teramat lirih itu cuma bisa didengar oleh muridnya seorang. “Aku belum mau hamil sekarang.”
Kaveh mengangguk patuh. Ia dekatkan wajahnya ke ceruk leher Haitham, lalu kembali menghujani garis leher gurunya itu dengan kecupan-kecupan basah untuk menenangkannya. “Mhm,” dehamnya rendah.
Karena toilet tempat mereka bersembunyi ini adalah toilet rusak yang terbengkalai, rata-rata kloset di dalam bilik memang sudah dibongkar total, bahkan lubang bekas klosetnya pun sudah ditambal semen rata. Kondisi itu membuat ruang gerak dalam bilik jadi sedikit lebih leluasa.
Kaveh pun memanfaatkan situasi itu untuk memindahkan tubuh Haitham perlahan-lahan, menjauhkannya dari balik pintu kayu yang rawan berdecit ke dinding tembok kokoh di belakangnya. Ia himpit lagi punggung gurunya ke tembok bilik yang dingin, sebelum akhirnya ia mulai menggerakkan pinggul maju-mundur dengan ritme yang terjaga.
“Mmh. .” Haitham mulai mendesah tertahan. Kepalanya refleks menengadah membentur tembok saat merasakan kemaluan Kaveh mulai bergerak keluar-masuk. Demi mencari tumpuan agar tautan mereka semakin dalam, Haitham melingkarkan kedua kaki mulusnya di sekeliling pinggang Kaveh. Pergerakan instan itu membuat Kaveh spontan memindahkan kedua tangannya ke bawah, mencengkeram masing-masing bongkahan panrar Haitham dengan erat untuk ia remas sekaligus menahan bobot tubuh gurunya agar tak melorot jatuh.
Haitham berusaha sekuat tenaga untuk menahan desahannya agar tak lolos, sementara Kaveh juga berjuang keras untuk tak memacu tempo pinggulnya lebih cepat. Mereka berdua terjebak dalam siksaan nikmat; menahan diri agar tidak menimbulkan suara malah membuat intensitas gairah mereka berdua meledak dua kali lipat.
Jantung Haitham berdebar kencang, nyaris terasa sampai ke tenggorokan. Urat-urat di sepanjang batang kemaluan Kaveh yang terjepit di dalam sana makin menonjol dan berdenyut hebat. Kaveh menarik mundur lalu menghantamkan kemaluannya masuk lebih dalam, membuat suara kecipak basah mulai terdengar samar. Ia menundukkan kepala, matanya liar memandangi bagaimana kejantanannya sendiri yang memerah itu keluar-masuk dari lubang kewanitaan Haitham dengan ritme yang memabukkan.
“Haah . . Hayi— aku . . aku──”
Bel sekolah tiba-tiba berbunyi nyaring, memutus keheningan dan membuat gerombolan anak-anak di luar toilet panik. Mereka segera mematikan rokok dan bergegas keluar. Begitu pintu toilet tertutup rapat setelah mereka pergi, Kaveh langsung melepas semua kekangan. Pinggulnya bergerak makin cepat, dia gempur habis-habisan lubang vagina Haitham, menghantam mulut rahim gurunya itu sampai perlahan-lahan mulai terbuka lebar oleh tusukannya.
Haitham langsung memejamkan mata erat-erat. Ia melengkungkan punggungnya hingga membentur tembok. Karena suasana toilet sudah sepi, ia tak lagi menahan diri dan membiarkan desahannya pecah di udara.
“Haaah . . haah!! Kaveh . . Kaveh── mmgh! Enak, terus hhh terusshh!”
Kaveh yang sudah lupa mau bicara apa, kini hanya fokus mengikuti pinta Haitham. Ia genjot terus tubuh gurunya itu tanpa jeda. Ia keluar-masukkan kontolnya yang terus berkedut dalam lubang yang kian lama kian menyempit──seolah dinding-dinding dalam vagina Haitham menebal karena terstimulasi hebat. Kaveh bahkan tanpa sadar menancapkan kuku-kukunya ke kulit bokong Haitham, meninggalkan bekas kemerahan yang memucat di bawah tekanannya.
Kedua tetek besar Haitham ikut berguncang naik-turun dengan hebat seiring dengan setiap genjotan kasar yang diberi Kaveh dari bawah. Kemeja kerja gurunya itu kini sudah berubah menjadi teramat lecek, dan tatanan rambut abu-abu Haitham yang biasanya rapi saat mengajar kini telah berantakan total, tergerai jatuh ke bawah hingga beberapa helainya menyentuh jari-jemari Kaveh yang masih mencengkeram erat pantatnya.
“Memek kamu . . enak banget, Bu Hayi──hhh,” kata Kaveh dengan nada vulgar, langsung berbisik tepat di depan wajah gurunya.
Ucapan sevulgar itu sukses membuat Haitham merona merah karena malu sekaligus terangsang hebat. Alih-alih menciut, kevulgaran muridnya itu justru membuat Haitham makin kencang mendesah parau.
“Mmhm . . genjot terus──hh. Ibu dikit lagi keluar…” balas Haitham, suaranya sudah terputus-putus menahan puncak pelepasan yang sudah di ujung tanduk. Ia mulai mencengkeram punggung Kaveh kuat-kuat menggunakan kuku-kukunya. Namun karena pinggul Kaveh terus bergerak maju-mundur, cengkeraman tangan Haitham jadi terseret ke bawah, menciptakan bekas cakaran panjang yang samar di balik seragam sekolah yang masih melekat di tubuh Kaveh.
“Aku juga,” kata Kaveh dengan napas yang kian memburu. Ia sudah bisa merasakan kemaluannya yang tegang berurat itu makin berkedut hebat di dalam jepitan daging hangat Haitham. “Aku juga dikit lagi keluar . .” tambahnya lagi.
Tempo genjotannya kian memburu, membuat suara tamparan antar-kulit yang cabul terdengar semakin nyaring mengisi bilik toilet rusak itu. Plok! Plok! Plok! Kedengarannya benar-benar mesum, tapi persetan dengan semua itu, karena siang ini mereka memang harus bercinta dengan penuh khidmat.
“Keluarin di luar . . jangan di dalem,” Haitham kembali mengingatkan dengan sisa kesadarannya sambil menundukkan kepala, cemas kalau-kalau muridnya itu lepas kendali karena terlalu nikmat.
Namun alih-alih memberikan jawaban verbal, Kaveh justru langsung menyambar bibir Haitham dengan rakus. Ia bungkam mulut gurunya itu dalam sebuah ciuman yang dalam dan menuntut.
Haitham yang sudah kepalang pasrah langsung spontan membalas lumatan itu. Ia memiringkan kepalanya, membuka rongga mulutnya lebar-lebar demi menerima lidah Kaveh yang merangsek masuk ke dalam untuk ia hisap.
Kaveh biarkan lidahnya dihisap habis-habisan oleh Haitham tanpa perlawanan. Di detik-detik krusial itu, ia mempercepat tempo genjotannya sekuat tenaga, sampai akhirnya dengan satu sentakan, ia menghantamkan pinggulnya kuat-kuat ke depan. Dorongan brutal itu membuat kepala kontolnya melesak dalam, menembus masuk melewati pintu rahim Haitham yang mendadak terbuka lebar untuk menyambut puncaknya.
Tepat saat itu juga, Haitham langsung memutus ciuman mereka secara sepihak. Ia mendorong bahu Kaveh sekenanya, lalu buru-buru menunduk untuk melihat ke bawah. Matanya menyaksikan sendiri bagaimana kemaluan Kaveh terkubur sempurna tanpa celah di dalam lubang vaginanya.
Tautan itu terasa kelewat sempurna, sampai-sampai seluruh raga Haitham bergetar hebat. Jari-jemari kakinya menekuk tak berdaya, tangannya mencengkeram erat bahu muridnya, dan perut bagian bawahnya mendadak diisi oleh gelombang rasa panas yang luar biasa pekat.
Iya, Kaveh melanggar janji. Murid nakal itu memuntahkan seluruh cairan pejunya yang kental dalam rahim Haitham sampai menggenang penuh. Saking meluapnya volume sperma yang ditembakkan Kaveh, sebagian cairannya bahkan sampai mengalir keluar, merembes di sela-sela jepitan lubang vagina dan pangkal kemaluannya.
Di saat yang bersamaan, Haitham pun mencapai orgasmenya. Cairan bening miliknya keluar semua dalam jumlah banyak, bercampur baur dengan sperma Kaveh lalu menetes membasahi lantai toilet di bawah kaki mereka.
Sambil terengah-engah, Haitham memandang Kaveh dengan tatapan yang mulai buram dan sayu. Sementara itu, Kaveh hanya bisa mendongakkan kepala ke atas, melepaskan erangan lega yang teramat panjang.
“Haah…”
“Hhh aku udah bilang──” Haitham mengangkat wajahnya perlahan dengan napas yang masih putus-putus. Ia menatap Kaveh dengan sorot mata setengah kecewa yang kentara, membuat Kaveh yang masih sibuk mengatur napasnya langsung membalas tatapan gurunya dengan serius.
“Jangan keluarin di dalem... Kalau ibu hamil gimana? Kamu emang mau tanggung jawab? Kamu aja masih sekolah. Mau dikasih makan apa anak kita nanti? Gaji ibu doang mana cukup…”
Hebat ya? Kaveh saja masih kesulitan bicara karena saking lelahnya mengatur napas. Sementara Haitham, yang barusan habis orgasme hebat dan rahimnya diisi penuh, malah sudah bisa langsung mengomel panjang lebar. Tapi ya, justru sifat dominan dan cerewet seperti itulah yang selalu sukses bikin Kaveh jatuh cinta setengah mati.
Kaveh sunggingkan seringai tipis yang tampan di wajahnya. Ia lalu menurunkan kedua kaki Haitham dari pinggangnya pelan-pelan, namun sejurus kemudian, ia langsung memeluk pinggang gurunya itu erat-erat tanpa berniat mengeluarkan kemaluannya dari dalam memek Haitham.
“Mau,” kata Kaveh mantap. Ia mengecup sekilas bibir ranum Haitham. “Kalau besok belum kiamat terus kamu betulan hamil, aku bakal langsung cari kerja. Aku bakal tanggung jawab penuh. Aku bakal ngehidupin kamu sama anak kita nanti.” Ia menatap lekat mata Haitham dengan binar polos seperti bocah, membuat Haitham akhirnya cuma bisa menghela napas, lalu kembali memeluk leher Kaveh dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher muridnya itu.
“Kamu aja masih kelas dua. Gimana coba nyari kerjanya?” gumam Haitham.
“Aku aja bisa ngontolin memek ibu sampe mentok begini. Masa ketimbang nyari kerja aja ngga bisa?” balas Kaveh, telanjur percaya diri.
Ia ciumi pucuk kepala gurunya itu sambil memejamkan mata menikmati kehangatan mereka. “Lagian, kalau aku ngga ngehamilin ibu sekarang, aku takut nyesel. Takut kalau besok betulan kiamat, terus aku ngga dapet kesempatan buat pejuin rahim ibu lagi.”
Karena sudah muak dan geli sendiri mendengar kata 'kiamat' yang terus disebut sejak tadi, Haitham langsung menarik wajah menjauh dari ceruk leher Kaveh, lalu dengan gemas menjentulkan dahi Kaveh. “Stop ngomong soal kiamat-kiamat. Mending kamu lanjut sekolah yang bener, terus lulus jadi orang sukses. Baru habis itu nikahin ibu.”
Kaveh terkekeh pelan mendengar penegasan itu. Ia mengusap dahinya yang sedikit memerah dengan satu tangan, sebelum akhirnya kembali menekan tubuhnya maju. Ia sengaja menghimpit raga Haitham ke tembok bilik sampai kemaluannya──yang tadi sempat agak layu usai ejakulasi──mendadak ereksi dan mengeras kaku kembali dalam lubang hangat Haitham.
“Itu sih udah pasti kok. Aku pasti bakal nikahin kamu, Bu Hayi. Habis itu, aku bakal kawinin ibu dengan khidmat... sampai kiamat.”
