Work Text:
Haechan memijat tulang hidungnya begitu kakinya masuk ke dalam kamar hotel tempat ia dan rekan kerjanya menginap untuk acara workshop selama 3 hari di Bali. Sebuah kamar deluxe berukuran 30 m2 yang dipesan oleh rekan kerjanya yang seharusnya memiliki kasur dua kasur single tapi yang ada di hadapannya saat ini adalah sebuah kasur besar. Ya. Sebuah. Yang artinya Haechan dan Jaemin harus tidur dalam satu kasur yang sama.
“Gue kan udah bilang, pesen yang ranjangnya dua..” Haechan berusaha keras menahan emosinya.
Haechan sudah lelah terbang selama kurang lebih 2 jam setelah pesawatnya delay selama 3 jam, belum ditambah macet yang menyambutnya membuat tubuhnya benar-benar remuk dan ingin segera rebahan melepas penat. Tapi ternyata masih ada plot twist lucu yang terjadi di hari ini.
Jaemin lantas merogoh kantongnya dan membuka aplikasi pemesanan tiket online miliknya, “Gue pesen yang dua, kok.” Ucapnya santai seraya menunjukkan layar ponselnya kepada Haechan.
Haechan menghela nafasnya berat. Jelas-jelas yang dipesan Jaemin adalah double bed dan bukannya twin bed. Lelaki leo itu pasti salah mengira double artinya dua, padahal double bed artinya satu kasur yang muat untuk dua orang dewasa.
Malas berdebat, si manis kemudian berjalan ke arah telepon kamar dan menelpon resepsionis untuk komplain. Sementara itu Jaemin yang nampak tidak ambil pusing mulai membuka kopernya dan unpacking his things.
Setelah terlibat beberapa percakapan dengan resepsionis hotel, Haechan menaruh ganggang telepon dengan lemah dan berbaring.
“Gimana?” Tanya Jaemin sambil menaruh koper kosongnya ke dalam lemari.
“Penuh. Kita baru bisa pindah kalau ada yang check out. Besok dikabarin.” Ucapnya lemah.
Jaemin hanya mengangguk kemudian berjalan ke arah kamar mandi, “yaudah. Gue mandi duluan ya.” Ucap Jaemin lantas masuk ke dalam kamar mandi dengan dinding kaca itu.
“Buset?! Itu gak ada gordennya samsek???” Tanya Haechan dengan mata membulat.
Tubuhnya yang semula rebahan otomatis duduk di kasur besar itu. Menatap bangunan kamar mandi dengan kaca transparan yang terlihat jelas menampakkan aktivitas apapun yang berlangsung di dalam sana.
Jaemin berhalan menuju kaca dan menarik tali gorden beberapa kali, “nge-stuck.” Ucapnya cepat sekali pasrah.
Haechan menggusak wajahnya frustasi. Lengkaplah sudah penderitaannya hari ini. Mulai dari kasur sampai dengan kamar mandi. Mending kalau penghuninya sepasang suami istri yang berbulan madu. Ini Jaemin dan Haechan?! Dua rekan kerja yang bahkan di kantor pun gak deket-deket amat!
Mata si gemini membelalak ketika dengan acuhnya Jaemin mulai menanggalkan pakaiannya. Membuat Haechan bergegas membalikkan tubuh. Ogah melihat aktivitas mandi rekannya itu.
“Kenapa santai banget, sih?!” Gerutu Haechan di balik bantal.
Suara gemericik air yang jatuh dari shower sayup-sayup terdengar beriringan dengan senandungan dari mulut Jaemin. Lelaki itu nampak begitu santai sementara Haechan gelisah menunggu kapan ia selesai. Tubuhnya sudah sangat lengket, ia juga ingin cepat membersihkan diri.
Sudah sepuluh menit Haechan diam di posisinya. Rasanya bosan juga. Apalagi Jaemin terdengar belum selesai juga. Tangannya meraba-raba nakas di sebelah kasur mencari dimana ia meletakkan ponselnya terakhir kali. Tapi tak kunjung ia dapatkan. Mau membalikkan tubuh tidak mungkin.
Haechan menggeram dalam hati. Mencari ponsel di atas nakas sudah seperti mencari jarum ditumpukkan jerami. Susah sekali! Terlalu fokus membuatnya tidak menyadari kalau Jaemin sudah tuntas dengan kegiatannya dan keluar dari kamar mandi transparan itu.
Lelaki itu berjalan menghampiri Haechan dan mengambilkan ponselnya yang terletak di samping telepon kamar itu.
“Nih.” Ucapnya menaruh ponsel Haechan di telapak tangannya.
Haechan berbalik kaget begitu merasakan tangan dingin Jaemin menyentuhnya.
“Udah selesai?!” Tanyanya berbalik dan terkejut melihat sosok rekan kerjanya itu berdiri di sampingnya dengan bertelanjang dada.
Mata Haechan otomatis turun dan membelalak begitu melihat handuk yang melilit pinggang si leo. Karena apa maksudnya memakai handuk serendah itu?! Haechan bisa lihat dengan jelas v line abs Jaemin yang sexy itu.
Mata Haechan berpindah ke atas, menangkap beberapa bulir air masih menempel di kulit putihnya yang berotot. Bikin iri saja. Punya tubuh sebagus itu ditambah wajah setampan itu. Curang banget. Jaemin must be God’s favorite.
“Lo gak mandi?” Tanya Jaemin membuyarkan khayalan Haechan.
Si beruang buru-buru berdiri, “ini mau mandi!” Serunya bergegas pergi ke arah kopernya dan mengambil baju gantinya.
Dalam hati Haechan misuh-misuh. Santai banget sih tuh orang. Keluar cuma pakai handuk dililit di pinggang. Mana gak bener lagi pakenya. Masa Haechan bisa lihat…
Wajah Haechan memerah. Lekas ia gelengkan kepalanya membuang apapun yang bersarang di otaknya. Sepertinya ia butuh siraman air dingin di kepalanya.
Haechan pun masuk ke dalam kamar mandi. Setelah menggantung baju gantinya di belakang pintu. Haechan yang semula ingin menanggalkan pakaiannya mengurungkan niatnya ketika melihat Jaemin di atas kasur malah bermain ponsel menghadap dirinya.
Si manis longokkan kepalanya keluar kamar mandi, “Jaem. Jangan ngadep sini dong.” Protesnya.
Lelaki kelinci itu mengalihkan pandangan dari layar ponselnya, “orang gue lihat hape.” Sahutnya santai.
“Iya, tau! Ngadep sana anjir!” Seru Haechan sudah mulai kehilangan kesabarannya.
Setelah Jaemin akhirnya menurut, barulah Haechan bisa mandi dengan lebih tenang. Ya, sebenarnya gak tenang-tenang amat. Soalnya, kadang ia masih agak was-was, takut kalau tiba-tiba Jaemin membalikkan badannya. Haechan juga tidak berani menghadap ke kamar. Ia lebih memilih menatap dinding kemar mandi dan menggosok tubuhnya dengan cepat. Karena itu, yang biasanya Haechan bisa mandi lebih dari setelah jam, kali ini dipangkasnya hanya sepuluh menit lebih.
Haechan keluar dengan piyama tidurnya yang bergambarkan beruang cokelat dan lilitan handuk di kepala. Menghampiri Jaemin yang masih di posisinya sejak Haechan masuk kamar mandi sesari tadi. Tidak bergerak.
“Jaem, lo gak kedinginan gak pake baju dari tadi?” Tanya Haechan menggoyangkan tubuh Jaemin.
Tubuh Jaemin terbalik perlahan. Menampilkan wajah tenang lelaki kelinci itu yang terlap di atas kasur entah sejak kapan.
“Lah, tidur dia. Bisa masuk angin nih kalo sampai pagi.” Guman Haechan yang tiba-tiba tatapannya tertuju pada paha kencang Jaemin yang tersingkap handuknya.
Wajah Haechan memerah. Melihat garis otot paha rekannya itu yang terlihat begitu mantap. Dibandingkan paha mulus Haechan yang jarang leg day, bagai langit dan bumi!
Haechan menampar pipinya pelan. Apaan sih malah ngeliatin badan orang kayak orang mesum?! Berusaha mengabaikan pemandangan otot paha Jaemin yang menggiurkan dan fokus pada wajahnya yang tidur dengan lelap.
“Jaem.. jaem…” panggil Haechan menggoyangkan tubuh lelaki itu.
Jaemin membuka matanya perlahan, menguap dan meregangkan tubuhnya, “oh, udah mandinya.”
“Pake baju sana, ntar masuk angin.” Ucap Haechan buru-buru masuk ke kamar mandi untuk menaruh handuk di kepalanya.
Ketika Haechan keluar, ia berpapasan dengan Jaemin yang sudah mengenakan pakaian lengkap. Gantian, lelaki itu membentangkan handuknya di towel bar di pintu kamar mandi kaca itu.
Haechan duduk di sisi teritory miliknya dan menghidupkan smart tv. Sekasur berdua dengan rekan kerjanya pasti akan sangat awkward, setidaknya suara tv akan menyamarkan kecanggungan mereka. Kecanggungan Haechan setidaknya.
“Lucu banget tuh piyama, kaya anak gadis aja.” Adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut Jaemin.
Haechan yang sedang sibuk memilih channel music di youtube menoleh ke sumber suara, “enak aja, gue cowok tulen ya! Emang cewek doang yang boleh pake piyama?!” Sergahnya tidak terima.
“Gue sih gak.” Sahut Jaemin santai lantas membanting diri ke atas kasur membuat badan Haechan sedikit bergoyang.
“Eh, tapi badan lo pulen banget sih buat ukuran cowok.” Aku Jaemin kemudian.
Mata Haechan membulat dengan wajah merah padam. Tangannya menunjuk wajah Jaemin yang sedang tersenyum tanpa dosa, “lo ngintip gue mandi, ya?!”
Jaemin hanya menjulurkan lidahnya dan dihadiahi timpukkan bantal di wajahnya sebagai balasannya
🚿🚿🚿
Hari masih gelap, tapi Haechan sudah menuntaskan aktivitasnya buang air dan mandi subuh-subuh demi menghindari tragedi pengintipan oleh rekan kerja usilnya.
Jaemin dan keusilan memang bukan hal baru. Haechan tahu itu. Lelaki leo itu memang dikenal sebagai sosok yang kerap menjahili siapapun di tempat kerja. Ada saja tingkah polahnya. Tapi sebelumnya Haechan tidak pernah menjadi targetnya.
Selain karena Haechan merupakan karyawan yang baru 8 bulan pindah ke kantor tersebut, ia juga sangat introvert. Belajar dari pengalamannya di kantor sebelumnya, lebih sedikit kau terlibat di tempat kerja lebih baik. Headphone merahnya adalah andalannya di tempat kerja untuk menangkis obrolan-obrolan tidak penting di tempat kerja. Baginya cukup kerjakan tugas dan pulang. Tidak perlu bergaul, tidak perlu akrab dengan rekan kerja.
Makanya ketika ditugaskan tiba-tiba oleh atasannya untuk menggantikan Jeno yang cuti tiba-tiba, Haechan sebenarnya sangat keberatan karena sedikit banyak ia sudah menduga perjalanan dinas mewakili kantor bersama dengan Na Jaemin akan sangat tidak menyenangkan. Tapi apalah daya, perintah atasan adalah mutlak. Sebagai karyawan pindahan baru, ia tidak bisa berbuat banyak.
Alarm ponsel Jaemin berdering. Lelaki itu dengan malas mematikannya dan duduk bersandar di headboard kasur. Menguap dan meregangkan tubuhnya. Membuka air mineral di samping kasurnya dan menengak setengahnya. Haechan mengamati gerak-gerik rekan kerjanya dalam diam.
Merasa diperhatikan, Jaemin menoleh, “lah, udah mandi aja lo.” Ucapnya heran melihat Haechan sudah siap sedia untuk sarapan.
Jaemin melirik jam di ponselnya, “kepagian. Ini mah breakfast juga belum siap.” Ucapnya kemudian berjalan dengan santai ke kamar mandi.
Haechan buru-buru berbalik, suara air terdengar dari kamar mandi. Jaemin sedang buang air kecil. Haechan bertekad hari ini mereka harus pindah kamar! Dan akan ia pastikan tidak ada kamar mandi transparan untuk mereka!
Setelah mandi dan bersiap, keduanya turun ke lantai dasar untuk sarapan. Mereka tidak banyak ngobrol karena tepat setelah duduk di meja makan, Haechan keluarkan airpodsnya, tanda ia ingin makan dengan tenang, tanpa obrolan. Jaemin sendiri terlihat tidak terlalu ambil pusing dan asyik menyantap omelete putih telurnya.
Usai sarapan penuh keheningan, keduanya berjalan ke hotel tempat workshop diadakan yang kebetulan berada 600 meter dari hotel tempat mereka menginap. Sebenarnya mereka tidak perlu repot-repot berjalan kaki—yang sebenarnya tidak seberapa itu— menuju hotel tempat workshop jika saja atasan mereka lebih cepat mendaftarkan nama keduanya. Karena 40 orang pendaftar pertama mendapatkan benefit free kamar sehingga Haechan dan Jaemin sebetulnya tidak perlu merogoh kocek pribadi untuk penginapan mereka—walaupun nanti juga akan di-reimburse kantor— dan tidak akan ada drama salah itu
🚿🚿🚿
Workshop hari pertama selesai di jam 16.00 wita, sesuai jadwal. Haechan dengan kepala mumetnya—kebanyakan materi— ingin segera masuk kamar dan beristirahat. Sebelum itu ketika kembali ke hotel, tidak lupa ia mampir ke resepsionis untuk minta pindah kamar ke tipe yang lebih normal.
“Mohon maaf, kamar yang bapak minta masih penuh. Barusan sekali kamar terakhir dipesan.” Ucap resepsionis meminta maaf.
Haechan menghela nafasnya berat. Kepalanya semakin pening memikirkan harus menghabiskan semalam lagi bersama Na Jaemin di kasur double bed dengan batas bantal di tengahnya itu.
“Oke deh, mbak. Besok tolong sisain 1 kamar, ya.” Pesan Haechan kemudian berjalan lunglai ke lift.
Jaemin yang menunggu di sofa lobby bergegas menghampiri Haechan, “jadi kamar berapa?”
“Masih penuh.” Jawabnya seadanya.
“Oke.” Sahut Jaemin tanpa beban.
Lift naik ke lantai 7. Kedua lelaki dewasa itu berjalan beriringan menuju kamar mereka di ujung kanan lorong, 710. Setelah membuka pintu dengan kartu akses dan menaruhnya di dinding, Haechan yang sudah lelah fisik dan pikiran dibuat emosi kembali saat melihat sesuatu yang tersusun rapi di atas kasur mereka.
Dua buah angsa-angsaan dengan kepala yang membentuk lambang hati yang terbuat dari handuk mandi mereka. Dengan taburan bunga mawar merah segar di atas ranjang.
“What the hell???” Haechan menggusak wajahnya frustasi sementara Jaemin tertawa terpingkal sambil mengabadikan pemandangan itu dengan jepretan kamera ponselnya.
“Ngakak banget bangsat!” Sambil terkekeh jarinya mengirimkan foto itu ke grup kantor.
“Ngapain lo kirim ke grup, anjir!” Hardik Haechan berusaha merebut ponsel Jaemin dari tangannya namun perbedaan tinggi tubuh mereka membuatnya tak bisa menggapai ponsel yang diangkat tinggi-tinggi oleh rekan kerja usilnya itu.
Ponsel keduanya seketika penuh dengan notifikasi beruntun dari grup kantor. Haechan memeriksa ponselnya sendiri untuk melihat respon yang diberikan teman sekantor mereka.
Renjun Kantor
Wkwkwkw honeymoon lo berdua?
Chenle Kantor
Wah.. selamat menempuh hidup baru kakak-kakak 😬
Mark Kantor
Mantap. Langsung jadi nih. Gak sabar punya ponakan 😇
Jeno Kantor
Kerjaan si @Jaemin Kantor ini pasti
Jaemin Kantor
Kamar mandinya lebih gong lagi hehe
“Jaemin!” Haechan melotot memperingatkan Jaemin yang ancang-ancang hendak memotret kamar mandi transparan mereka.
“Iya iya… gak…” kekeh Jaemin lantas duduk di samping Haechan yang menggusak wajahnya untuk yang kesekian kalinya hari ini.
“Complimentary kali, karena belum bisa ganti kamar.” Celetuk Jaemin
Haechan hanya diam tidak berniat menanggapi ucapan Jaemin. Kepalanya terlalu mumet untuk memikirkan apakah benar ini complimentary, atau salah kamar, atau si usil Jaemin sengaja memesan semua ini dan bersikap seolah tidak tahu apa-apa.
Melihat rekan kerjanya tidak merespon apa-apa akhirnya Jaemin mengalah, “yaudah lo mandi sana. Ini biar gue yang beresin.” Ucapnya lembut.
Haechan mengangguk, “sorry ya kalo gue sensi, gue lagi capek aja.” Ucapnya seketika merasa tidak enak hati melampiaskan kekesalannya pada teman sekamar yang mungkin tidak tahu apa-apa itu.
Haechan menyalakan shower dan membiarkan tubuhnya diguyur air dingin sambil membelakangi kamar. Ia benar-benar tidak peduli mau Jaemin mengintipnya atau tidak. Lagi pula sepertinya lelaki itu tidak benar-benar mengintipnya kemarin. Bisa saja ucapan nakal itu hanya untuk mengusilinya.
Setelah keluar dari kamar mandi, Haechan mendapati kasur mereka sudah bersih. Jaemin pun tidak terlihat di kamar, melainkan di balkon—sedang merokok.
Kini malah Haechan yang seperti mengintip aktifitas lelaki itu diam-diam dari dalam kamar. Melihat wajah tenangnya menyesap batang rokok yang sudah sisa sepertiga itu. Memandangi langit yang mulai berubah jingga.
Jaemin itu tampan. Sungguh Haechan akui. Tapi jika ia diam. Seperti sekarang.
Merasa ada yang memperhatikan, Jaemin menoleh dan memergoki Haechan sedang menatapnya. Lelaki itu tersenyum lebar dan mematikan puntung rokoknya. Masuk ke dalam kamar menyapa Haechan yang pura-pura sibuk dengan gorden kamar.
“Ada apaan di gorden, Chan?” Tanya Jaemin sambil terkekeh.
“Ada nyamuk tadi!” Sahut Haechan asal mengibas-ngibaskan gordennya.
Jaemin mengulum senyumnya, “yaudah. Tangkep nyamuknya ya, Chan. Ntar balik-balik dbd kita. Gue mandi dulu!” Kerlingnya lalu ngacir ke kamar mandi.
Haechan menggigit bibirnya. Malu karena tertangkap basah.
Jaemin mandi lebih singkat dari sebelumnya. Seolah dirinya mengejar sesuatu. Dan benar saja, ia mengajak Haechan untuk bergegas memakai jaket dan keluar bersamanya untuk makan malam.
Sejujurnya Haechan si introvert mentok ini ingin menghabiskan malam di kamar dan memesan room service saja untuk makan malam. Tapi melihat Jaemin yang begitu semangat mengajaknya membuat Haechan tidak tega untuk menolak.
Inilah sebenarnya alasan mengapa Haechan tidak ingin terlalu akrab dengan rekan kerja. Ia adalah tipikal orang yang sulit untuk bilang tidak. Tidak enakan adalah nama tengahnya. Dan hal itu telah menjadi kelemahannya yang dimanfaatkan mantan rekannya di kantor terdahulu. Makanya setelah pindah Haechan membuat benteng yang tinggi dan batasan yang jelas dengan rekan kerjanya.
“Udah sampe Bali rugi gak makan ikan bakar di Jimbaran!” Seru Jaemin begitu mereka turun dari taxi online.
Senja sudah sangat menjingga, deburan ombak terdengar di depan, bau bakaran yang khas begitu menggugah selera. Suasana yang ramai namun menyenangkan. Nampaknya Haechan akan menikmati makan malamnya.
Haechan duduk di salah satu tempat di tepian pantai yang menghadap laut langsung. Angin sepoy-sepoy menyapa kulitnya. Haechan sandarkan punggungnya di kursi kayu tepi pantai itu. Menikmati semuanya. Berpejam mata merilekskan tubuh dan pikiran.
“Gue udah pesenin ikan bakar, udang bakar, cumi goreng, oyster, sama plecing kangkung. Minumnya es kelapa batok. Lo mau nambah apa?” Tanya Jaemin begitu duduk di samping Haechan.
Si manis menggeleng, “itu juga banyak banget, Jaem. Yakin abis?” Tanya Haechan sangsi.
Jaemin menjentikkan jarinya, “lah itu mah kecil.”
Tak berapa lama pesanan mereka datang satu persatu. Keduanya menikmati hidangan sambil menatap sunset yang indah. Kali ini tanpa airpodsnya. Haechan membiarkan dirinya larut dalam obrolan ringan bersama rekan kerjanya itu.
“Gue dari dulu pengen deket sama lo tau, Chan.” Ucap Jaemin sambil mengupaskan kulit udang dan menaruh dagingnya di atas piring Haechan. Ini sudah udang ke 4 yang ia kupaskan untuk Haechan omong-omong.
“Lo tuh di kantor kayak punya vibes gak mau dideketin gitu. Anak-anak jadi takut mau ajak main.” Lanjut Jaemin sambil mencocol cumi gorengnya ke sambal.
“Gue gak main sama anak kantor.” Jujur Haechan kemudian.
Jaemin menoleh, “kok? Padahal seru lho, anak kantor kan banyak yang seumuran. Lo, gue, Jeno, Renjun…” Jaemin mengabsen satu persatu nama rekan kerjanya di kantor.
Haechan menggeleng, “gak dulu, deh.”
Jaemin berhenti makan dan menoleh ke arah Haechan. Menatapnya lama seolah berusaha membaca air mukanya. Membaca dirinya.
“Lo pernah ada pengalaman jelek di kantor lama, ya?”
Haechan diam beberapa lama. Matanya hanya menatap deburan ombak dan langit di ujung dana yang sudah menggelap. Memikirkan apakah menjadi seterbuka ini kepada Jaemin akan membuatnya menyesali keputusannya di kemudian hari.
Tapi melihat ketulusan yang terpancar dari sorot mata rekan kerjanya di samping membuat prinsip Haechan goyah jua pada akhirnya. Gak papa deh ke Jaemin doang gue ceritanya. Adalah pembelaan Haechan untuk dirinya sendiri.
“Gue pernah dituduh main gila sama senior di kantor lama. Salah gue juga sih gak enakan mau nolak kebaikan senior gue yang ternyata udah ada pasangannya itu. Gue dilabrak di kantor dan temen-temen kantor yang gue kira sahabat malah percaya dan ngucilin gue.” Tutur Haechan panjang lebar.
“Sorry ya, padahal lagi enak-enak makan. Cerita gue ganggu suasana ya.” Kekeh Haechan setelah menyadari perubahan atmosfer diantara mereka.
Jaemin menggeleng, “gue makasih, Chan. Lo mau cerita sama gue. Lagian sialan emang tuh senior udah punya pasangan pake ngedeketin lo. Tau aja mana yang pulen!” Tukas Jaemin buat Haechan terkekeh geli.
“Kenapa jadi lo yang kesel?!” Kekeh Haechan geli melihat kemarahan si leo.
“Ya gimana gue gak kesel! Gara-gara dia gue jadi susah kan ngedeketin lo!”
🚿🚿🚿
Perut sudah kenyang, langit sudah menggelap seutuhnya dan dihiasi bintang-bintang yang bertaburan di langit. Jaemin dan Haechan telah kembali ke kamar hotel dan bersiap tidur untuk menghadapi hari ke dua workshop esok harinya.
Keduanya tidur besisian dengan bantal di tengah sebagai pembatas. Pesis seperti kemarin. Lampu kamar sudah di matikan dan suara smart tv yang memutar lagi pengantar tidur menjadi satu-satunya yang terdengar di antara mereka.
“Chan.” Panggil Jaemin pelan.
Haechan yang tidak benar-benar tidur memilih diam. Toh Jaemin tak melihat matanya terbuka di kegelapan.
“Gue lihat ya lo masih bangun.” Ucapnya kemudian mematahkan asumsi Haechan.
Oh tentu saja. Tayangan dari smart tv juga menjadi satu-satunya pencahayaan yang menerpa wajahnya sesekali. Bodoh jika Haechan mengira Jaemin tidak melihat mata meleknya.
“Apa?” Tanya Haechan berusaha tak terdengar jengkel.
Entah mengapa sejak deep talk di pinggir pantai tadi Haechan rasanya tidak ingin sewot-sewot menanggapi rekan kerjanya ini.
“Bantalnya taroh bawah aja gimana? Sempit, Chan. Ini kan bukan king size.” Bujuk Jaemin terdengar.
Haechan menghela nafasnya, “makanya pesen twin bed jangan double bed.” Omel Haechan, meski begitu tangannya tetap menyingkirkan bantal diantara mereka.
Begitu tak ada pembatas di antara mereka, Jaemin dengan semangat menggeser tubuhnya hingga lengan keduanya bersentuhan.
“Gini kan lega.” Ucap Jaemin terdengar kelewat senang.
“Jangan nempel-nempel.” Protes Haechan menggeser tubuhnya ke kiri.
Belum sedetik ia bergeser, Jaemin sudah ikut menggeser tubuhnya, kembali menempelkan lengan mereka.
“Lo kalo geser lagi, gue jatoh ke bawah, nih.” Peringat Haechan dibalas kekehan Jaemin.
Tiba-tiba saja tangannya ditarik dan tubuhnya dibawa merapat ke rekan kerjanya itu, kaki Jaemin mengunci tubuhnya bagaikan guling. Haechan dalam pelukan Jaemin telak.
“J-Jaem?!”
“Gak bakal jatoh kalo kayak gini, gue jagain.”
Ucap Jaemin mengeratkan pelukannya di pinggang Haechan buat lelaki berkulit tan itu tak bisa kemana-mana.
“Tenang aja, Chan. Gue belum ada pasangan jadi gak bakal ada yang ngelabrak lo. Yang ada malah se-kantor ngerestuin kita.” Tukas Jaemin buat Haechan tak bisa berkata-kata dengan cara confess-nya.
“Asbun banget jadi orang.” Rutuk Haechan.
Meski begitu, ia tidak berniat mendorong atau melepaskan diri dari pelukan Jaemin. Membuat lelaki kelinci itu positif melihat respon Haechan sebagai lampu hijau.
Jaemin mengeratkan pelukannya, membawa Haechan lebih dekat, “enak banget meluk lo, Chan. Pulen.” Puji Jaemin kesenangan.
“Stop manggil gue pulen, deh.” Protes Haechan sambil menyembunyikan wajah meronanya.
🚿🚿🚿
Haechan terbangun dari tidurnya yang kelewat nyenyak sampai-sampai tak mendengar alarmnya berbunyi. Ia melirik jendela yang terbuka satu sisi. Cahaya matahari masuk dari sana dan itu artinya sekarang sudah tinggi hari.
Haechan menoleh ke arah kamar mandi yang berisik dengan bunyi air, Jaemin ada di sana, membelakanginya sambil menggosok kepalanya dengan shampoo. Telanjang bulat.
Haechan buru-buru memalingkan wajahnya. Gawat! Ia tidak sengaja mengintip Jaemin mandi! Wajahnya seketika bersemu merah. Mengingat tubuh atletis penuh otot rekan kejanya itu. Punggungnya yang lebar dengan bahu tegap itu… tangan besar yang mendekapnya sepanjang malam….Arrrgghh!! Haechan seperti orang mesum membayangkannya Haechan buru-buru menarik selimut menutupi wajahnya. Bersembunyi di dalam sana.
Tiba-tiba suara shower berhenti diikuti oleh langkah kaki yang terdengar keluar dari kamar mandi. Bersenandung santai. Berbanding terbalik dengan keadaan Haechan di dalam selimut yang sibuk meredam debar jantungnya yang berisik bukan main.
“Chan? Belum bangun?” Suara Jaemin terdengar mendekat.
Merasa tidak ada jawaban, lelaki itu pun berdiri di sisi tempat tidur Haechan dan menarik selimutnya dalam sekali tarikan.
“Lo ngapain?” Jaemin terkekeh melihat Haechan yang panik selimutnya ditarik.
Wajahnya merah dengan rambut yang berantakan. Jaemin tertegun. Visual Haechan paling sexy yang pernah ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
“Muka lo kenapa merah?” Tanya Jaemin buat si manis semakin merah padam. “Ah… lo ngintip gue mandi, ya??” Tuduh si leo tepat sasaran.
Haechan segera kabur ke kamar mandi dan berteriak, “Lo sarapan duluan, deh! Gue nyusul!”
“Gak lah. Bareng aja.” Sahut Jaemin santai.
“Jaemin…” rengek Haechan.
Pasalnya ia tidak bisa mandi jika lelaki leo itu ada di kamar tidur mereka.
“Iya iya… gak bakal gue intip. Gue nyebat dulu.” Jaemin berjalan santai ke arah balkon.
Setelah melihat lelaki itu hilang dari pandangan, barulah Haechan bisa bernafas lega. Bayangan tubuh bugil Jaemin kembali terbayang di benaknya. Argggh! Haechan harus segera mengguyur kepalanya dengan air dingin agar pikiran mesumnya hilang seutuhnya!
🚿🚿🚿
Workshop hari kedua telah berakhir. Jaemin dan Haechan kembali ke hotel mereka dalam keadaan lelah fisik dan pikiran. Materi hari ini lebih berat dengan banyak studi kasus yang harus diselesaikan. Karena itu, ketika singgah mengambil kartu akses di resepsionis dan ditawari untuk pindah kamar. Haechan merasa tidak sanggup untuk pindahan dan ingin merebahkan diri secepatnya di kamar hotelnya. Lagipula lama kelamaan rasanya mereka sudah biasa dengan kamar tipe honeymoon itu.
“Gue tau lo capek, tapi gue pengen ngajakin lo nonton tari Kecak di Uluwatu.” Ucap Jaemin ketika Haechan baru selesai mandi.
Haechan terdiam sebentar. Tidak mengiyakan namun juga tidak mengelak.
“Udah beli tiket?” Tanya Haechan yang dijawab dengan anggukan Jaemin.
Haechan menghela nafasnya, “yaudah ayo.” Sahutnya membuat Jaemin terlihat bersemangat.
Jaemin tahu Haechan lelah, karena itu sepanjang perjalanan ia tidak mengajak bicara rekan introvertnya itu. Karena apabila diajak ngobrol, bisa-bisa energy Haechan keburu terkuras sebelum mereka sampai di Uluwatu.
Kepala Haechan Jaemin bawa bersandar di bahunya. Si manis menoleh bingung, dihadiahi senyuman manis si kelinci. Perjalanan dari hotel ke Pura Uluwatu memakan waktu kurang lebih 55 menit. Jaemin telah memesan tiket pertunjukkan tari kecak di jam 19.00 wita. Effort-nya membuat Haechan tidak tega untuk menolaknya. Toh sepanjang perjalanan ia hanya tidur di bahu rekannya itu.
Hari sudah menjingga ketika mereka sampai, Jaemin ajak Haechan masuk ke area Pura sambil menggenggam tangannya. Haechan tidak protes. Alih-alih merasa nyaman. Nyaman dengan semua perlakuan Jaemin. Dan yang terpenting, lelaki leo itu tidak memiliki pasangan yang akan melabrak si gemini di kantor kelak.
Haechan diam-diam menikmati semua perhatian Jaemin. Ketika lelaki itu merangkulnya untuk mengarahkan tempat duduk di antara para turis asing di theater terbuka di sana. Ketika ia menggenggam tangan Haechan sambil menjelaskan dengan semangat cerita apa yang akan dibawakan para penari malam ini. Haechan menikmatinya. Rasanya hangat… dan nyaman…
Haechan yang awalnya biasa saja melihat pertunjukkan menjadi ikut terbawa suasana begitu melihat semangat Jaemin. Terlebih ketika pemeran Hanoman melompat dan duduk di sampingnya, Haechan reflek memeluk Jaemin minta perlindungan. Lelaki leo itu memberi gesture mengusir meskipun sambil tertawa.
🚿🚿🚿
“Seru gak, Chan?” Tanya Jaemin begitu mereka masuk kamar tidur.
“Seru tapi capek!” Tukas Haechan lantas melempar dirinya ke atas kasur.
Rambutnya sampai lepek menempel di dahi. Jaemin yang duduk di sebelahnya terkekeh melihat wajah lelah Haechan. Pipinya merah menggemaskan. Jaemin tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuh rambut hazelnut Haechan. Menyisirnya ke atas, agar suhu dingin ac kamar bisa menerpa wajahnya.
“Makasih ya, Jaem. Lo dari kemaren ajak gue kemana-mana.” Ucapnya dengan senyum paling manis yang pernah Jaemin lihat.
Jaemin tertegun menatapnya. Sedetik kemudian membalas senyuman Haechan dengan mata yang terus terkontak lekat satu sama lain.
“Balik dari sini, lo masih bisa gue deketin gak?” Tanya Jaemin buat Haechan tertawa geli.
“Ya masa gue pura-pura gak kenal sama lo sih di kantor?” Tanya Haechan geli.
Jaemin menggedikkan bahunya, “kali aja lo pura-pura gak denger pake headphone merah lo itu.” Ejek Jaemin membuat Haechan tidak bisa membalas perkataannya karena rasanya tuduhannya benar adanya.
“Kalo sampe gue dicuekin di kantor, liat aja. Gue sebar aib lo ngintipin gue mandi!” Sergah Jaemin buat mata Haechan membulat.
Lelaki berkulit tan itu seketika tidak merasakan lelah namun kepanikan mutlak, “Enak aja! Gak yaa!!” Serunya tidak terima.
“Oh gitu.. selain tukang ngintip ternyata lo tukang boong juga..” tukas Jaemin buat Haechan semakin frustasi.
“Jaem.. yang bener aja. Gue gak sengaja itu..”
Jaemin tersenyum lebar bak mendapatkan jakpot, “nah kan! Ngaku! Bener ya lo ngintip gue mandi! Lihat apa, lo?!”
Wajah Haechan memerah. Bayangan tubuh telanjang Jaemin kembali terproyeksi di otaknya. Terlalu jelas hingga membuat Haechan salah tingkah sendiri dibuatnya.
“Hayoo.. lo lagi ngebayangin apa?” Kejar Jaemin benar-benar menyudutkan Haechan.
“Gue harus apa biar lo dan mulut berisik lo itu diem?” Tanya Haechan membuat Jaemin seketika menutup mulutnya.
“Hah?”
“Iya emang gue salah gak sengaja lihat lo waktu mandi.” Aku Haechan. “Kalau gitu biar impas, besok lo boleh deh lihat gue mandi. Gimana?” Tantang Haechan.
Jaemin melongo. Tawaran ini bagaikan hoki seumur hidup yang pantang untuk dilewatkan. Apalagi ini adalah Lee Haechan. Rekan kerja yang sedari dulu sudah amat ia minati. Penilaian lelaki agustus terhadap si manis yang selama ini hanya berkutat di penampilan —tipenya secara visual— seketika tidak ada apa-apanya dibanding daya tarik Haechan yang sekarang berani menantangnya.
Attractive. Satu kata paling tepat untuk menggambarkan Haechan di mata Jaemin. Bukan hanya dari segi visual, tapi juga bagaimana lelaki gemini itu membalikkan keadaan dan membuatnya mati kutu. Pesona seorang Lee Haechan yang baru Jaemin ketahui.
Seringai tipis tercetak di wajah lelaki agustus itu. Tadi mungkin ia hanya terkejut. Harus Jaemin akui, egonya sedikit tersentil oleh tantangan Haechan. Sifat kompetitifnya seketika muncul ke permukaan. Tidak mau kalah adalah naluri alamiah seorang Na Jaemin. Jaemin tidak akan membiarkan Haechan merasa menang.
Jaemin mendekatkan wajahnya dan berbisik rendah, “gak asik ah, kalo cuman lihat badan pulen lo itu. Sekalian mandi bareng aja, ya gak sih?”
🚿🚿🚿
Kaca kamar mandi yang berembun yang menjadi saksi bisu kegiatan tak senonoh yang dilakukan dua rekan kerja itu. Dibawah guyuran shower, lengan besar Jaemin memeluk tubuh mungil Haechan yang penuh dengan busa sabun dari belakang. Tangannya menjalar, menggerayangi kulit tan tersebut. Membuat si empu tubuh menyandar ke dada bidang rekan kerjanya pasrah. Dengan kepala mendongak ke atas dan mata yang terpejam.
Nafas Haechan memberat, bersamaan dengan sentuhan-sentuhan sensual Jaemin di tubuh bagian atasnya. Sapuan yang kini berfokus pada kedua dada montok si manis membuatnya menderu. Tangannya mencengkram bahu lelaki agustus itu terlebih ketika jemari kasar itu bolak-balik memainkan putingnya yang mengeras.
Puting cokelat mencuat yang membuat Jaemin kehilangan akal sehatnya. Menggesekkan talapak tangannya dengan cepat. Diantara licinnya busa dan desahan manis yang keluar manja dari belah bibirnya yang terbuka. Yang membuat si gemini menggelinjang nikmat dan menekan milik Jaemin yang sudah menegang sempurna di antara belahan pantatnya.
“Sshhh—“ Jaemin menggeram rendah ketika merasakan batangnya terjepit diantara pantat sintal rekan kerjanya itu.
Jaemin peluk erat perut Haechan. Membuat tubuh keduanya semakin merapat. Haechan berjengit ketika merasakan kontol besar Jaemin berada diantara pahanya. Bergesekan dengan kulit paha bagian dalam, membuat si manis reflek merapatkan kedua kakinya—menjepit kontol besar jaemin.
Dengan tangan yang melingkar di perut si manis, Jaemin mulai menyentakkan pinggulnya maju-mundur dengan kuat. Gesekan antara kontol besar Jaemin dengan paha licin Haechan yang penuh sabun menghasilkan bunyi yang benar-benar terdengar jorok memenuhi ruang kaca kamar mandi.
Plop plop plop
Vulgar.
“Ah—Jaem.. pelan-pelan.." lenguh Haechan.
Alih-alih melambat, yang dilakukan lelaki agustus itu malah mempercepat hentakannya, membuat badan Haechan memantul dengan punggung yang bolak-balik membentur dada bidang sang rekan kerja.
“Sshh—“ Jaemin menggeram rendah, gesekkan di paha Haechan betul-betul merangsang tubuhnya.
Membuat Jaemin tinggi dan butuh penyaluran gairahnya yang membuncah. Maka dari itu ia gigit baju Haechan dan buat si manis memekik sekaligus menjepit lebih kencang kontol Jaemin di pahanya.
“Jangan digigit anjir!” Protes Haechan menyikut dada Jaemin.
Lelaki kelinci itu hanya menjulurkan lidahnya tanpa dosa sementara si beruang mengecek bahunya.
“Kita masih ada penutupan workshop ya, kalo lo lupa!”
Alih-alih merasa bersalah, lelaki agustus itu malah curi kecupan di pipi basah Haechan, “gak gue cupang, kok.” Sahutnya enteng kemudian mendaratkan ciumannya di bibir ranum Haechan sebelum rekan kerjanya itu protes lebih lanjut.
Dan berhasil. Ciuman basah Jaemin berhasil membungkam mulut Haechan dan menggantikan omelannya dengan lenguhan diantara bunyi kecipak yang begitu porno.
Tangan Haechan sudah mengalung di belakang leher Jaemin sementara tangan kekar si leo menangkup milik keduanya, mengocoknya bersamaan. Perbedaan ukuran yang signifikan terlihat begitu jelas dalam genggaman tangan Jaemin. Berbanding terbalik dengan kontol besar berurat rekan kerjanya itu, milik Haechan nampak mungil—sesuai dengan yang punya.
Jaemin yang usil mengerjai lubang pipis Haechan. Mengusap cairan pre-cum yang mulai keluar diantara busa sabun licin. Membuat si gemini menggelinjang merapatkan kakinya.
“A-ahh— Jaemin—“ pagutan basah itu terlepas, Haechan terhuyung ke belakang hingga punggungnya menabrak dinding kaca.
Tapi Jaemin tidak berhenti. Ia balikkan tubuh Haechan hingga wajahnya menempel sempurna di dinding kaca. Lagi. Jaemin wants to fuck Haechan’s thighs. Kedua tangannya memegangi pinggul sempit si manis sementara pinggulnya sendiri maju mundur dengan hentakkan yang cepat dan kuat.
“Rapetin, Chan.”
Dengan tenaga yang tersisa, Haechan patuhi perintah dominannya. Merapatkan pahanya. Menjepit kontol Jaemin lebih kuat. Memberi kenikmatan pada lelaki yang menggeram rendah di telinganya.
“Ngghh— sempit banget, Chan.”
Kotor. Ucapan Jaemin seolah-olah lelaki itu sedang mengontoli lubangnya. Atau memang itu sedang dibayangkannya? Haechan tidak bisa berpikir lagi. Otaknya mendadak bego. Gesekan kontol di pahanya yang sensitif, juga sesekali menabrak lubangnya membuatnya overstimulasi.
“J-Jaemhhh— gue gak tahan lagi…”
“Sama— gue juga mau keluar—“ erang Jaemin lantas menggigit daun telinga Haechan, menyalurkan birahinya.
Jaemin peluk pinggang Haechan lebih erat dan percepat hentakkannya. Tanpa ampun. Tanpa peduli betapa tubuh Haechan bergetar dalam rengkuhannya. Dengan lenguhan-lenguhan yang menggema di kamar mandi kaca itu.
Dan setelah beberapa sentakkan kuat, tubuh Haechan akhirnya menggelinjang hebat. Kontol mungilnya menyemburkan cairan semen putih mengotori dinding kaca. Lelaki manis itu terkulai lemah dalam pelukan Jaemin yang juga menjemput putihnya tak berapa lama kemudian.
Haechan yang terengah menyaksikan kepala kontol yang dijepitnya itu menyemburkan sperma ke dinding kaca, bercampur dengan miliknya, dan sisanya meleleh di kedua pahanya. Lantas, keduanya terkulai lemas di lantai kamar mandi. Dengan deru nafas bersahutan satu sama lain.
Jaemin beringsut mendekati Haechan, curi kecupan di pipinya, kemudian tersenyum manis kepada rekan kerjanya itu.
“That was super hot.”
“And you into rough sex.” dengus Haechan sambil memegangi daun telinganya yang sempat digigit oleh Jaemin tadi.
Si kelinci terkekeh dan kecup telinga si beruang sebagai gantinya. “Yaudah nanti vanilla, gimana?” Tawar Jaemin sambil memainkan kedua alisnya.
🚿🚿🚿
Jisung Kantor
@Jaemin Kantor @You hari ini flight jam berapa? Nitip pie susu boleh?
Renjun Kantor
Nitip bule 1
You
Sorry guyz gak jadi balik hari ini kita extend
Jaemin Kantor
Iya nih. Mau lanjut honeymoon sama my baby 😬
Mark Kantor
Wahh beneran dapet ponakan nih
Jeno Kantor
Congrats yaa. Gak sia2 perjuangan @Jaemin Kantor sampe nyuruh gue cuti
Chenle Kantor
Oh gituu 🫢
Jisung Kantor
Terserah deh pulang kapan, yg penting nitip pie susu ya hehe
