Actions

Work Header

ngentotin pocong jadi-jadian

Summary:

keonho awalnya fomo doang jadi pocong buat ngerampok rumah-rumah karna temennya juga gitu bahkan sampe ada yang dapet emas, temennya nyaranin keonho buat ngerampok ke rumah martin karna dia tinggal sendirian tapi siapa sangka ujungnya malah diewe

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

“nih liat, hasil gua jadi pocong jadi-jadian.” kata salah satu dari mereka yang biasanya dipanggil seonghyeon, sembari meletakkan beberapa lembar uang berwarna merah dan satu jam tangan.

semua orang di ruangan itu melongo karena jika dihitung-hitung, uangnya mencapai belasan juta bahkan lebih.

“emang gapapa ya kalo kayak gini? lu berarti bawa-bawa parang dong?” tanya salah satu dari mereka yang biasanya dipanggil ian.

seonghyeon hanya mengangkat kedua bahunya, “gua cuman bawa parang mainan aja yang dari plastik, eh mereka malah percaya.” ucapnya sembari tertawa.

mata chiquita langsung berbinar, “anjir serius lu? sering-sering lah jadi pocong, biar bisa sering nongkrong kite.”

seonghyeon yang mendengar itu langsung mengambil uang-uang yang berserakan di atas meja. “enak aja lu, lu aja sendiri yang jadi pocong, ini mah duit gua doang.”

“gimana, keonho? lu mau ikutan jadi pocong gak?“ lanjut seonghyeon.

“hah gatau.. gua takut ketangkep.” jawab keonho ragu-ragu, kini ia sedang bengong sembari mengelupaskan kulit bibirnya yang kering.

seonghyeon yang mendengar itu langsung tertawa terbahak-bahak, “ngapain takut ege? yang ada malah mereka yang takut sama kita.”

chiquita yang mendengar itu langsung mengangguk-angguk setuju. “gini deh, coba lu ke rumahnya bang martin aja, dia tinggal sendiri kan? pasti gampang ngerampoknya.”


disinilah keonho sekarang, berdiri dalam kain kafan putih yang sengaja dibuat kotor di depan pintu rumah seseorang yang sering mereka sebut sebagai bang martin sembari membawa parang plastik milik seonghyeon dan mengetuk-ngetuknya ke pintu kayu itu.

sesekali ia akan mengetukkan kepalanya ke pintu kayu keras itu, meskipun rasanya sedikit sakit.

clek.

suara gagang pintu yang bergerak dan pintu yang terbuka, menampilkan sosok pria yang jauh lebih tinggi berdiri tepat di hadapannya.

keonho sedikit heran, kenapa martin tidak terlihat takut sama sekali? bahkan martin hanya menatapnya dengan tatapan datar.

karena tiada respon sama sekali dari martin, keonho akhirnya menjulurkan parang plastik yang ada di genggamannya ke arah martin.

“berikan.. aku.. hartamu..” ucapnya dengan terbata-bata dan suaranya dibuat serak.

yang terjadi berikutnya sangat berada di luar ekspektasinya.

bukannya takut, martin malah mengambil alih parang plastik tersebut dan membuangnya ke sembarang arah. martin dengan sigap membawa keonho ke dalam rumahnya lalu mengunci pintunya dan memasukkan kuncinya ke dalam saku celananya.

keonho yang melihat itu hanya bisa ternganga, semuanya terjadi begitu cepat bahkan otaknya tak mampu memahaminya.

martin mendekati keonho yang terduduk di lantai dan menggenggam rahangnya “keonho kan lu? ngapain lu jadi pocong gini?”

keonho yang mendengar itu kaget, kok bisa martin kenal sama dia? bahkan mereka sama sekali gapernah ketemu.

keonho mencoba mengeluarkan satu tangannya yang berada di dalam kain kafan itu dan menggenggam tangan martin yang kini berubah menjadi mencengkram rahangnya.

“bang gua minta maaf bang, lepasin gua bang janji ga diulangin lagi.” mohonnya dengan air mata yang hampir mengalir.

rahangnya dicengkeram semakin keras sampai mulutnya tidak bisa mengeluarkan suara yang jelas, “enak ya lu abis jadi pocong jadi-jadian terus malah bilang gini? berapa banyak duit yang udah lu ambil dari warga?” lanjut martin.

“bang sumpah demi dah gua baru pertama kali bang, sebelumnya gua ga pernah.”

keonho berusaha melepaskan cengkraman martin di rahangnya tapi nihil, tenaga martin sungguh besar. harusnya ia sedari awal tidak setuju untuk merampok rumah martin, jelas-jelas martin jauh lebih tinggi dan besar darinya.

“ikut gua sini.” martin melepaskan cengkramannya di rahang keonho dan gantinya menarik tangan kanan keonho. namun karena keonho masih terlilit di dalam kain kafan, jadinya martin menyeret keonho yang tiduran.

“bang pelan-pelan, sakit..” bisik keonho, air matanya sudah turun ke pipi dan dagunya.

setelah sampai di tujuan martin yaitu kamar mandi, martin langsung membantu keonho untuk membuka kain kafan yang membungkus tubuhnya yang ternyata telanjang.

martin melongo ketika kain kafan itu sudah terlepas seluruhnya, ternyata badan keonho bagus juga, montok.

“lu jadi pocong mau ngerampok apa ngelonte, tolol? kok kagak pake dalemnya? kayak lonte murahan aja, lc aja dibayar lah lu gratis.”

keonho yang mendengar itu langsung berusaha menutupi area dada dan selatannya dengan kedua tangannya namun martin malah menarik kedua tangannya dan diletakkan di belakang tubuhnya, martin mengambil tali yang ada di kain kafan tadi dan mengikat kedua tangan keonho dengan kencang.

keonho langsung terjatuh ke lantai kamar mandi yang kering “bang please lepasin gua, gua janji ga bakal kayak gini lagi.”

martin mengacuhkan segala permohonan keonho. ia mengambil shower yang tergantung, menyalakannya dan menyemprotkannya ke muka keonho yang dibuat cemong.

keonho merasa tubuhnya mulai menggigil, pasalnya martin menyiramnya dengan air dingin tengah malam gini.

“bang.. dingin.. ampun bang..” ucap keonho dengan terbata-bata dan suaranya bergetar karena tubuhnya menggigil.

martin menendang tubuh keonho yang sedang terduduk di lantai dan memaksanya untuk tengkurap memperlihatkan pantat seputih susu nya yang montok bukan main.

“bang, mau ngapain bang? please lepasin bang, jangan apa-apain gua.” keonho panik ketika merasakan ada tangan yang meraba-raba pantatnya.

martin langsung menampar pipi pantat kanan keonho dengan keras tanpa belas kasihan sama sekali, sehingga warnanya berubah menjadi merah.

“AH! bang, ampun..” keonho menangis sesegukan.

martin mengangkat pinggul pemuda di depannya dan otomatis keonho menjadi menungging memperlihatkan vagina dan lubang anus nya yang pink kemerahan, kedua lubang itu berkedut tak karuan.

ketika melihat lubang-lubang yang berkedut itu, martin langsung tertawa terbahak-bahak. “katanya minta stop, kok yang di bawah sini malah kedut-kedutan? emang dasarnya lonte.” martin kembali menampar pipi pantat keonho, yang sekarang sebelah kiri.

keonho yang mendengar perkataan kasar martin yang merendahkannya hanya bisa menangis dalam diam, ia tidak bisa kabur karena kakinya dikunci oleh kaki martin dan tangannya diikat.

martin mengambil botol shampoo yang berbentuk lonjong dari wastafel, kemudian mendekatkannya ke vagina keonho yang masih terus berkedut itu.

keonho yang merasakan adanya sesuatu yang menyentuh dan menggesek vaginanya merasa merinding, kakinya tak bisa diam sampai martin emosi dan menamparkan botol shampoo itu ke vaginanya.

“ahh..” keonho harusnya merasa marah, sedih, dan malu. tapi entah kenapa, sensasi vaginanya yang ditampar oleh botol shampoo itu mampu membuatnya mendesah.

martin menyeringai mendengar desahan kecil yang keluar dari mulut keonho.

PLAK!

pipi pantatnya ditampar lagi dengan sangat sangat keras.

“hitung.” ucap martin, memerintahkan keonho untuk berhitung setiap kali pantatnya ditampar.

PLAK!

“a-ahh! dua!”

martin meremas kedua pipi pantat itu sampai tangannya tercetak disana, “satu, goblok! ulang!”

PLAK!

“s-satu!”

PLAK!

“ahh! d-dua!”

PLAK!

“t-tiga.. mmhh”

PLAK!

“empaathh..”

PLAK!

“a-ahh! lima!”

PLAK!

“t-tujuh.. mmhh”

kali ini vaginanya yang ditampar dengan keras oleh martin, “salah, goblok! ulang dari awal”

hitungan diulang dari angka satu.

PLAK!

“AAHH! s-sepuluh.”

di tamparan yang ke sepuluh ini, martin malah menampar vaginanya dengan sangat sangat keras sampai menimbulkan suara becek.

martin berdiri dan keonho langsung ambruk, tubuhnya yang tadinya menungging berubah menjadi tidur menyamping, kedua pipi pantatnya yang memerah terasa sangat perih apalagi terkena air dari shower di samping tubuhnyayang masih belum dimatikan sedari tadi.

martin kembali menggerayangi tubuh keonho, namun kali ini berbeda. celana martin sudah tidak ada, keonho dengan jelas bisa melihat penis martin yang begitu besar. keonho seharusnya tidak heran dengan ukurannya, karena keonho juga tahu bahwa martin blasteran orang barat.

martin mengambil alih tubuh keonho dan dibuat lah keonho terlentang dengan posisi tangannya berada di belakang tubuhnya masih terikat, kedua pahanya diangkat dengan kaki yang menjadi tumpuan.

“gausah foreplay, ya? lonte kayak lu ga pantes buat dicolmekin.”

keonho menegang mendengar perkataan martin. pasalnya, ini adalah kali pertama keonho melakukan hubungan badan setelah berbulan-bulan dan dipastikan vaginanya akan sangat rapat.

“bang, jangan.. sakit..” keonho berusaha menghentikan martin dengan merapatkan kedua pahanya namun nihil, tubuhnya terlalu lemas hingga martin dengan senangnya bisa membuatnya mengangkang lebar lagi.

“peduli apa gua? mau memek lu berdarah kek, ga peduli gua.” ucap martin sembari menggesekkan penisnya ke labia keonho yang sedari tadi menutupi lubang vaginanya.

keonho melenguh merasakan sensasi urat-urat dari penis besar milik martin menggesek vaginanya, kepalanya terlempar ke belakang memperlihatkan leher jenjangnya yang seputih susu. “ahh.. bang..”

martin yang melihat itu langsung merundukan badannya dan mendekatkan wajahnya dengan leher jenjang milik pemuda di bawahnya, tanpa melepaskan gesekan antara kedua kelamin mereka.

martin menghirup wewangian berbagai jenis bunga dari leher keonho, kemudian menjilatinya dan sesekali menggigitnya sampai meninggalkan bekas kemerahan di leher putih itu.

ketika keonho terbuai dengan sentuhan di lehernya, martin mencari kesempatan dalam kesempitan untuk melesakkan penisnya ke dalam vagina keonho yang masih sangat rapat.

“AAHHH! bang, pelan-pelan!” keonho menjerit merasakan vaginanya seperti terbelah menjadi dua bagian karena dimasuki oleh benda yang besarnya tiada tanding.

martin menggeram dan langsung saja menghentakkan pinggulnya ke depan sampai penisnya masuk seluruhnya ke dalam vagina keonho dan langsung disambut oleh remasan yang sangat gila di penisnya.

“ahh! jangan dijepit, lonte!” martin menegakkan tubuhnya kembali dan melihat wajah keonho yang sudah basah dengan air mata yang ingus. keonho terlihat sangat berantakan, namun pemandangan itu membuat martin menjadi lebih bergairah lagi dan berkeinginan untuk membuat keonho menangis semakin histeris.

dengan itu, martin menarik penisnya sampai hampir keluar dan langsung menghentakkannya hingga mentok sampai menyentuh dinding rahim keonho.

“AAHH! ABANG! UDAH!” jeritan keonho dan tangisannya histeris karena vaginanya terasa sangat sakit, seperti sobek.

martin berasa semakin bergairah mendengar panggilan 'abang' dari keonho, meski tadi keonho keras memanggilnya 'bang' tapi yang kali ini rasanya berbeda.

martin langsung menggerakkan pinggulnya maju mundur yang membuat penisnya keluar masuk dari vagina keonho, mengabaikan suara teriakan dan tangisan keonho yang kesakitan. ia tidak peduli, yang penting penisnya bisa merasakan kenikmatan yang tiada tanding karna jepitan vagina keonho.

“ahh! ahh.. abang.. mnhh ahh!” keonho terus mendesah tak karuan, kedua matanya dipejamkan dan kepalanya mendongak, akibat dari genjotan penis martin di vaginanya.

tubuhnya terhentak-hentak ke atas seiring dengan hentakan kasar penis martin di vaginanya, vaginanya terasa sangat perih dan sudah dipastikan sedikit robek. namun ia tidak bisa berbohong, walaupun terasa sakit, namun rasa nikmat yang diterimanya jauh lebih besar.

“aahhh! abang.. terus..” keonho mengaku kalah dan mengakui kalau genjotan martin memang tiada tanding.

martin yang mendengar gumaman keonho itu tersenyum miring menatap keonho yang sudah tak berdaya di bawahnya, “katanya tadi stop, kok sekarang malah minta terus?”

setelah mengatakan itu, martin langsung membalikkan lagi tubuh keonho menjadi tengkurap dan mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi agar menungging tanpa melepaskan penisnya.

“AAHH! MAU KELUAAARR!” teriakan keonho tak mampu dibendung saat merasakan genjotan yang lebih kuat dan cepat dari martin di vaginanya yang sudah sangat basah sampai mengeluarkan suara becek di setiap genjotan.

martin mencengkram pinggul keonho sangat keras sampai telapak tangannya menciptakan tanda kemerahan di pinggul sekal itu.

“tahan, keluar bareng.” martin merundukan tubuhnya membuat penisnya masuk semakin dalam ke vagina keonho, martin mendekatkan kepalanya ke tengkuk keonho dan mulai menjilati tengkuk yang penuh keringat itu.

“aahh.. abang, mau keluar.. nggak kuat..” desah keonho dengan suara yang sangat lemas.

setelah beberapa genjotan terakhir, martin akhirnya mengeluarkan seluruh spermanya di dalam rahim keonho dan saking banyaknya, sampai meluber keluar.

tepat saat martin mengeluarkan penisnya, vagina keonho langsung mengeluarkan air mancur yang sangat deras sampai pahanya gemetar tak karuan.

“ahh! aahh! memek aku bocor!”

martin dengan tergesa-gesa mengambil handphone nya yang berada di dalam kantung celananya, mengambil video keonho yang masih squirting deras dan menangis.

“kalau aku hamil gimana?”

Notes:

fic pembuka untuk series keonho bermemek gua hehe.. gimana guys menurut kalian? btw yang mau request boleh ya komen aja, boleh sama siapa aja bahkan sama grup lain juga boleh tapi kasih ide plotnya dikit ya

Series this work belongs to: