Actions

Work Header

The Things We Carry Home

Summary:

Martin selalu terlihat kuat sebagai ketua OSIS yang memikul semua hal sendirian, sampai suatu sore ia membawa Juhoon pulang dalam keadaan nyaris tumbang karena terlalu memaksa dirinya belajar. Di tengah rumor sekolah, kelelahan, dan hari-hari yang terasa terlalu berat untuk dua remaja seusia mereka, Martin dan Juhoon perlahan belajar bahwa dicintai berarti juga membiarkan diri sendiri dijaga.

Notes:

fanfic ini ditulis dalam keadaan penulisnya stres berat yang beneran stres sampe menuju sekarat gitu. dengan pikiran if i die tonight, i'll write something that reminds me of the first year me as a fanfiction author.

ternyata besoknya ga meninggal, so here it is, dipublikasi setelah bolos 3 matkul hehe.
happy reading!

Work Text:

Lorong lantai atas sekolah sudah hampir gelap sewaktu Martin selesai membereskan rapat terakhir OSIS hari itu. Lehernya pegal, kakinya kelelahan, dan kepalanya masih penuh dengan rundown acara Bulan Bahasa yang belum selesai.

Semua orang bilang jadi ketua OSIS adalah hal keren.

Bullshit.

Martin bahkan belum sempat duduk tenang sejak pagi. Guru terus mencarinya. Panitia selalu punya alasan untuk ribut soal dekor. Anak kelas sepuluh salah print banner. MC lomba debat tiba-tiba punya 1001 alasan berubah pikiran soal bersedia atau tidak untuk nanti.

Tubuh Martin luar biasa lelah sekarang. Namun anehnya, yang terus memenuhi pikirannya bukan istirahat melainkan satu nama lainnya.

Juhoon.

Barangkali karena Martin tahu Juhoon ikut sibuk menyiapkan olimpiadenya beberapa minggu terakhir. Seakan tak mau kalah dengan kesibukan Martin, jadwal latihan soal Juhoon sama parahnya akhir-akhir ini.

Sekalipun Juhoon tetap senyum, tetap lembut, tetap mengucap gapapa kapanpun Martin tanya di akhir hari. Bahkan di saat wajah pucat Juhoon yang semakin terlihat memburuk di setiap hari. Kim Juhoon dan julukan academic achiever-nya itu bukan kabar burung semata.

Juhoon memang segila itu dalam belajar. Latihan soal setiap hari tidak akan berhenti sampai Martin dan orang tuanya yang paksa. Hal itu juga yang membuat Martin takut, Juhoon punya kebiasaan terus belajar seperti tubuhnya tidak punya batas.

Saat Martin naik ke lantai tiga untuk mengambil kabel proyektor yang tertinggal, langkah kakinya langsung berhenti. Ada satu kelas yang lampunya masih menyala. Tanpa repot-repot menduga pun Martin langsung tahu siapa yang ada di sana.

Martin mendorong pintunya pelan.

Benar saja.

Juhoon duduk sendirian dekat jendela. Tumpukan buku tebal memenuhi meja. Coretan rumus ada di mana-mana. Kalkulator. Kertas latihan. Dan wajahnya sendiri… pucatnya semakin kentara. Mama Juhoon jika melihat pasti akan menarik paksa alat tulis Juhoon dan menyita bukunya di ruang kerja ayah Juhoon.

Martin sudah mendeteksi kali ini pucatnya sudah bukan pucat biasa. Yang berarti nyawa Martin akan segera di ambang batas sebelum ditegur Mama Juhoon.

Bagaimana bibir Juhoon nyaris tak ada warna. Mata sayunya tampak kelelahan—lebih lelah dari Martin kelihatannya. Bahkan cara Juhoon duduk pun sudah sedikit membungkuk seperti tubuhnya mulai kehabisan tenaga.

Tapi tangannya masih menulis. Jujur saja Martin langsung merasa perutnya jatuh.

Mi amor.”

Juhoon sampai kaget kecil lalu menoleh. Dan bahkan dalam kondisi begitu, Juhoon masih senyum kecil.

“Oh.” Suaranya terdengar serak dan lelah. “Rapatnya udah selesai?”

Martin tak langsung menjawab, sebab sekarang ia bisa lihat jelas wajah Juhoon benar-benar tidak sehat. Martin berjalan mendekat. “Kenapa kamu belum pulang?”

“Sebentar lagi.”

“Kamu makan nggak?”

Juhoon diam sebentar. “…tadi.” Atensi Juhoon kembali pada kertas di hadapannya. Jelas sekali ia menghindari arah percakapan Martin.

“Tadi kapan?”

“Pagi.”

Martin langsung ikut pusing. “Sekarang jam lima sore, mi amor.”

“Aku nggak lapar.”

“Juhoon.” Nada Martin langsung turun rendah.

Dan Juhoon akhirnya berhenti menulis pelan. “Aku gapapa.”

Kalimat paling dibenci Martin sedunia, sebab Juhoon selalu bicara begitu. Selalu. Mau tangannya dingin, mau demam, mau hampir tumbang pun: aku gapapa.

Martin melangkah semakin dekat sampai berdiri tepat di samping meja Juhoon. Dari jarak sedekat ini, ia bisa lihat jelas lingkar gelap samar di bawah mata Juhoon. “Kamu pucet banget, mi amor.”

Juhoon malah terkekeh kecil, nyaris tak bertenaga. “Lebay.”

Martin hampir frustrasi mendengar itu. “Juhoon, istirahat dulu—”

“Aku cuma tinggal—”

Tiba-tiba Juhoon tak melanjutkan kalimatnya membuat Martin ikut terdiam juga. Ekspresi Juhoon berubah tipis seperti baru menyadari ada sesuatu. Detik setelahnya tetes-tetes darah jatuh ke kertas rumusnya.

Martin langsung mengumpat pelan. Juhoon sendiri juga terlihat sedikit terkejut. Detik berikutnya, darah mulai mengalir dari hidung Juhoon. Bukan sedikit tapi benar-benar langsung turun cepat.

Shit—” Martin refleks jongkok di depan kursi Juhoon. “Juhoon.”

Juhoon otomatis menutup hidungnya pakai tangan sambil sedikit membungkuk. “Aku gapapa—”

“Jangan ngomong dulu.” 

Suara Martin langsung berubah tegang. Ia buru-buru mencari tisu di tas Juhoon dengan tangan yang mulai panik. Ditambah hal yang membuat Martin semakin takut adalah Juhoon yang masih mencoba terlihat biasa saja. Padahal darahnya sudah menetes ke buku.

“Martin, serius, ini biasa—”

“Biasa apanya, sih, Kim Juhoon?!” Nada Martin akhirnya naik. Bukan maksudnya untuk marah. Martin hanya takut. Takut sekali. Sampai Juhoon langsung diam.

Martin cepat-cepat menarik kursi lain lalu duduk tepat di depan Juhoon sambil memegang pergelangan tangannya. Sensasi dingin langsung teraba oleh jemari Martin. Tangan Juhoon dingin sekali.

Demi apapun Martin merasa dadanya mulai sesak sendiri. “Lihat aku.”

Juhoon pelan-pelan mengangkat mata dan Martin hampir hancur di situ. Sebab bahkan sekarang pun, Juhoon masih lebih terlihat khawatir Martin panik dibanding mengkhawatirkan kondisi tubuhnya sendiri.

“Aku beneran gapapa…” Suara Juhoon semakin kecil sekarang.

Dan Martin akhirnya sadar satu hal yang mengerikan. Juhoon mungkin sudah terlalu terbiasa memaksa tubuhnya sendiri sampai ia tidak tahu lagi bedanya “lelah” dan “bahaya.”

Martin sudah tidak peduli lagi dengan kertas proposal acara yang tadi masih memenuhi kepalanya.

Rundown? Dekor? Guru pembimbing OSIS?

Persetan.

Yang ada di depan Martin sekarang jauh lebih penting. Juhoon masih duduk di kursinya sambil menahan tisu di hidung, wajahnya terlalu pucat di bawah lampu kelas yang dingin. Yang semakin Martin lihat, semakin rasa takutnya berubah menjadi panik yang sulit ditahan.

Tiba-tiba Martin berdiri cepat. “Kita pulang.”

Juhoon langsung mengangkat kepala sedikit. “…hah?”

“Sekarang.”

“Kamu belum selesai… kan?”

Martin hampir kehilangan akal, “Juhoon.”

“Aku bisa tunggu sampe kamu selesai di sini.”

“Kamu mimisan.”

“Itu biasa.”

“Kamu pucet banget.”

“Aku kurang tidur aja.”

Martin langsung tertawa pendek saking frustrasinya. Bukan tertawa karena lucu. Martin tertawa sebab tidak ada jarak satu jengkal baginya untuk meledak karena khawatir.

“Kurang tidur apaan kalau udah begini?”

Juhoon diam. Dan itu semakin bikin Martin takut. Karena biasanya Juhoon terus melempar alasan seperti sebelumnya atau mencoba menenangkan Martin.

Sekarang Juhoon bahkan kelihatan lelah untuk membela dirinya sendiri. Maka Martin langsung mulai memasukkan buku-buku dan alat tulis Juhoon ke dalam tas tanpa izin.

“Martin—”

“Nggak ada latihan soal lagi hari ini sampe dua hari kedepan. Aku bakal bilang ke mama kamu.”

“Tapi olimpiadenya tinggal—”

“Aku nggak peduli!” Itu keluar lebih cepat dari yang Martin sendiri kira.

Juhoon langsung diam di saat yang sama Martin sendiri ikut membeku beberapa detik. Jelas saja Martin jarang bicara sekeras itu pada Juhoon. Tapi sekarang tangannya literally gemetar sedikit sewaktu menutup resleting tas Juhoon.

“Aku nggak peduli sama olimpiade sialan itu kalau kamu sampai masuk rumah sakit lagi.” Suara Martin rendah, serak sama lelahnya, dan jelas panik.

Juhoon menatap Martin dengan tatapan yang melembut. Sampai beberapa saat kemudian, Juhoon akhirnya benar-benar melihat wajah Martin. Kemeja OSIS-nya kusut. Rambut Martin berantakan. Mata tajamnya sekarang penuh takut.

Lantas Juhoon mendadak menyadari Martin juga sama lelahnya. Tapi bahkan di kondisi begitu, yang paling Martin khawatirkan tetap Juhoon.

“Martin…”

“Kalau kamu pingsan di sini gimana?” Martin langsung lanjut sebelum Juhoon sempat jawab. “Aku lagi rapat di aula. Aku nggak bakal tahu.” Nada suaranya makin berantakan sekarang.

“Terus kalau kamu kenapa-napa sendirian gimana?”

Juhoon pelan-pelan menggenggam ujung lengan baju Martin. Pelan sekali, sebuah gestur otomatis yang biasanya langsung membuat Martin tenang. Sayangnya kali ini tidak cukup.

Martin berjongkok lagi di depan kursi Juhoon. Matanya memerah karena semakin lelah sekarang. Napasnya memberat. “Please… mi amor…

Detik itu juga Juhoon langsung merasa dadanya jatuh. Martin hampir tidak pernah meminta sesuatu dengan nada selemah itu.

“Aku takut banget lihat kamu kayak gini.”

Sunyi kelas langsung terasa penuh. Suara hujan kecil di luar terdengar samar dari jendela. Juhoon rasanya sedang didekap erat oleh rasa takut Martin yang meluap-luap.

Bukan sekadar khawatir pacarnya kelelahan. Martin genuinely terlihat seperti semisal Juhoon tumbang sekarang, ia benar-benar akan ikut hancur.

“Aku nggak mau pulang terus tiba-tiba dapet kabar kamu masuk UGD lagi, mi amor.” Martin menunduk sebentar sambil ketawa kecil frustrasi. “Ketos apaan gue kalau pacar gue sendiri nggak bisa gue jagain?”

Dan itu dia.

Kalimat yang akhirnya membuat pertahanan Juhoon runtuh pelan. Karena di balik tubuh besar dan image 'ketua OSIS ramah' yang disayangi semua orang itu, Martin Edwards ternyata tetaplah seseorang yang terlalu banyak khawatir pada Kim Juhoon.

Kekasih kecil Martin itu akhirnya menunduk. “Maaf, ya,” cicit Juhoon pelan.

Hal itu membuat semua panik di dada Martin langsung sedikit runtuh begitu mendengarnya. Juhoon jarang meminta maaf untuk dirinya sendiri. Biasanya Juhoon hanya mengucap gapapa, tersenyum berusaha meyakinkan, lalu lanjut memaksa tubuhnya.

Tapi sekarang akhirnya Juhoon menurut. “Aku pulang sekarang…”

Martin langsung mengangguk cepat. “Iya.”

“Aku istirahat.”

“Iya, mi amor.” Nada Martin bahkan terlalu cepat menjawab, seolah takut Juhoon berubah pikiran.

Pelan-pelan Juhoon mulai ikut membereskan pulpen terakhirnya sementara Martin otomatis mengangkat tas Juhoon ke atas meja. Selama beberapa detik, kelas itu akhirnya terasa tenang lagi. Sampai Juhoon berdiri. Dunia Martin rasanya ikut langsung berhenti.

Karena begitu tubuh Juhoon tegak, langkahnya sontak saja goyah. Kecil sekali, bahkan nyaris tak tampak. Untungnya Martin memperhatikan. Selalu memperhatikan.

“Juhoon—”

Tubuh Juhoon langsung kehilangan keseimbangan. Juhoon seperti benar-benar tidak sadar tubuhnya sudah selemah itu. Justru itu yang membuat Martin lebih takut. Kursinya terdorong sedikit kalah Juhoon nyaris menghantam sudut meja.

Martin bersumpah jantungnya ikut jatuh.

SHIT—”

Martin langsung menarik tubuh Juhoon ke dalam pelukannya sebagai refleks. Cepat sekali. Sampai kursi di belakang ikut bergeser keras. Jika telat satu detik saja, kepala Juhoon pasti sudah terbentur sudut meja itu.

Tangan besar Martin otomatis memegang dahi Juhoon sambil menahan tubuhnya erat. Napasnya langsung berantakan.

Mi amor,” panggil Martin dengan nada rendah sekarang. Jelas sekali ia ketakutan.

Sementara Juhoon sendiri malah terlihat sedikit linglung, “Eh, sorry...”

Martin hampir gila mendengar itu. Di saat seperti ini pun Juhoon masih meminta maaf. Martin langsung mengangkat wajah Juhoon pelan. Dan semakin dilihat, semakin Martin sadar tubuh Juhoon benar-benar hampir tumbang.

Wajahnya pucat parah. Kelopak matanya berat. Tubuh Juhoon bahkan tidak sepenuhnya kuat berdiri sendiri sekarang.

Something inside Martin langsung patah.

Like, nope. Selesai. Tak perlu ada debat lagi. Tanpa banyak basa-basi, Martin langsung membalik badan lalu berjongkok di depan Juhoon.

“…Martin?”

“Naik.”

“Hah?”

“Sekarang.”

Juhoon langsung panik kecil, “Enggak, aku masih bisa jalan—”

“Juhoon.”

Nada Martin langsung final. Tak bermaksud marah, tapi nada Martin terdengar terlalu takut untuk mengalah lagi. Sebelum Juhoon sempat protes lebih jauh, Martin sudah menarik pelan tangan Juhoon ke bahunya. 

Refleks yang terlalu natural. Beberapa detik kemudian, Juhoon sudah ada di punggung Martin. Si lelaki tinggi itu langsung sadar tubuh Juhoon ringan sekali dari terakhir kali seingatnya. Terlalu ringan. Itu justru membuat dada Martin semakin sesak.

Juhoon langsung malu setengah mati. “Orang-orang lihat nanti.”

“Biarin.”

Martin berdiri sambil memastikan paha Juhoon tertahan aman di lengannya. Tas Juhoon menggantung di satu bahu Martin sekarang. Dan Juhoon otomatis melingkarkan tangan lemasnya di leher Martin pelan. 

Hangat dan dekat. Martin bisa merasakan napas lelah Juhoon di sisi lehernya.

“Kamu capek juga…” Suara Juhoon dekat sekali dan berbisik di telinga Martin sekarang.

Kekasih tingginya itu langsung jalan keluar kelas tanpa ragu. “Aku nggak peduli.”

“Martin—”

“Aku lebih takut kamu pingsan.”

Lorong sekolah sudah hampir kosong waktu mereka lewat. Beberapa anak panitia OSIS yang masih tinggal langsung tertegun melihat ketua OSIS mereka literally bawa pacarnya pulang di punggung. 

Tapi Martin bahkan tidak melihat mereka. Tidak peduli sama sekali. Yang ada di pikirannya hanyalah Juhoon harus sampai rumah. Juhoon harus istirahat. Juhoon harus baik-baik saja.

Kalau sampai sesuatu terjadi pada Juhoon, Martin yakin ia benar-benar bisa mengacak-acak satu sekolah ini demi mencari siapa yang membuat Juhoon sampai memaksa dirinya separah ini, meski Martin selalu tahu itu adalah Juhoon sendiri.

 


 

Langit sudah benar-benar gelap sewaktu motor Martin akhirnya sampai di depan gerbang rumah Juhoon.

Di sepanjang perjalanan tadi, Juhoon hampir tidak bicara sama sekali. Juhoon banyak diam di balik punggung Martin. Pelukannya lemah di pinggang Martin. Kadang napasnya terasa terlalu pelan sampai Martin harus memastikan beberapa kali kalau Juhoon masih sadar.

Jujur saja itu membuat rasa takut Martin tidak turun sedikit pun. Bahkan setelah mereka turun dari motor, Martin masih tidak mengizinkan Juhoon untuk berjalan sendiri, ia memaksa Juhoon untuk tetap naik ke atas punggungnya. 

“Martin… aku bisa jalan.”

“Aku nggak yakin.”

“Aku malu tau.”

“Biarin.”

Juhoon mendengus pelan dan memilih melingkarkan lengannya pada leher Martin daripada semakin lelah memperpanjang perdebatan.

Rumah Juhoon hangat bahkan tampak dari luarnya. Lampu terasnya kuning lembut, dan aroma masakan masih samar tercium saat pintu depan dibuka. Mama Juhoon muncul, lalu langsung terkejut melihat anaknya semata wayangnya itu dibawa pulang di punggung pacarnya.

“…astaga.”

Martin langsung panik sendiri. “Maaf tante, tadi Juhoon—”

Tapi sebelum Martin selesai ngomong, mama Juhoon malah langsung jalan mendekat dengan wajah khawatir yang surprisingly tenang.

“Juhoon kecapekan lagi?”

Kalimat tanya itu langsung membuat Martin sadar jika pola seperti ini bukan pertama kali.

Juhoon hanya menggumam kecil di punggung Martin. “Sorry, ma.”

Mama Juhoon langsung mengusap rambut anaknya pelan,  “Ayo masuk dulu.”

Fakta jika mama Juhoon tak terlalu terkejut melihat Juhoon sepucat itu malah mendukung ketidakenakan Martin. Seolah tubuh Juhoon yang dipaksa sampai tumbang begini sudah terlalu sering terjadi.

Martin akhirnya pelan-pelan menurunkan tubuh Juhoon di ruang tengah. Begitu kakinya menyentuh lantai, Juhoon langsung harus pegangan ke sofa sebentar. Martin otomatis mendekat lagi, “Pelan-pelan.”

Juhoon mengangguk kecil.

Mama Juhoon memperhatikan semuanya diam-diam beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas kecil.

“Martin capek juga, ya?”

Refleks Martin menegakkan tubuhnya. “Eh, ngga kok tante?”

“Kamu keliatan sama capeknya.”

Oh…

Baru sekarang ada yang notice kondisi Martin juga. Ia sampai bingung mau jawab apa. Soalnya sedari tadi otak Martin dipenuhi dengan Juhoon yang jangan pingsan. Juhoon yang harus istirahat. Juhoon yang harus baik-baik saja. Rasa lelah dirinya sendiri bahkan tidak terpikirkan.

Mama Juhoon tersenyum kecil lembut. “Juhoon sering cerita kamu lagi sibuk nyiapin Bulan Bahasa di sekolah.”

Langsung saja Martin melirik Juhoon yang malah pelan-pelan menghindari tatapannya. 

He talks about me?” Anehnya, pikiran itu justru muncul lebih dulu di kepala Martin.

Mama Juhoon tertawa kecil.

“Sering.”

Juhoon langsung kelihatan malu setengah mati. “Aku ke kamar dulu,” ujarnya kecil sekali sekarang.

Mama Juhoon langsung mengangguk. “Iya, ganti baju terus istirahat.”

Martin refleks berdiri juga. “Aku bantu—”

“Nggak usah,” Juhoon buru-buru jawab pelan.

Mungkin karena malu. Mungkin karena Juhoon tidak mau terlihat terlalu lemah. Dan Martin akhirnya hanya bisa menyaksikan Juhoon berjalan pelan menaiki tangga. Pelan yang betulan pelan sekali.

Tangan Juhoon bahkan sempat menyentuh railing beberapa kali demi menjaga keseimbangan. Something still feels wrong. Martin bisa merasakan itu. Rasa tidak nyaman di dadanya langsung muncul lagi.

Sementara mama Juhoon meminta Martin duduk dulu di sofa. “Kamu istirahat dulu aja di sini. Tante bikinin minum dulu.”

Martin sebenarnya mau menolak. Tapi sebelum Martin sempat bersuara—

BRAK.

Suara benda jatuh keras terdengar dari lantai atas. Seluruh tubuh Martin langsung dingin.

“Juhoon?!” Martin berdiri terlalu cepat sampai lututnya nabrak meja.

Mama Juhoon juga langsung pucat. “Juhoon!”

Martin tidak banyak menunggu lagi. Ia langsung berlari ke tangga di saat yang sama jantungnya berdebar terlalu keras sekarang. Sudah Martin duga, sedari tadi Juhoon masih memaksa dirinya tetap sadar. Dan begitu Martin sampai depan kamar, pintu kamar Juhoon setengah terbuka.

Si pemilik kamar terjatuh di lantai. Tanpa pikir panjang, Martin langsung masuk ke dalam. Lututnya hampir ikut jatuh saat ia berjongkok di lantai samping Juhoon.

“Hey, hey, lihat aku,” panggil Martin dengan suara bergetar sekarang.

Tubuh Juhoon terjatuh miring dekat sisi ranjang. Salah satu tangannya masih menyangkut di sprei seperti tadi sempat mencoba berdiri.

Demi apapun wajah Juhoon sudah semakin pucat. Mama Juhoon yang baru datang setelah menyusul dari belakang segera mendekat dengan panik. Kelopak mata Juhoon bergerak sedikit, menandakan jika ia masih sadar.

“Maaf…”

Oh tidak tahukah Juhoon jika detik ini Martin literally about to lose his mind.

“Jangan minta maaf dulu.” Martin langsung menyangga belakang kepala Juhoon pelan lalu membantu Juhoon duduk sedikit bersandar ke dadanya. “Kamu pusing?”

Juhoon mengangguk kecil pelan.

“Mual?”

Juhoon mengangguk lagi.

Mama Juhoon langsung buru-buru duduk di sisi lain sambil megang pipi anaknya yang dingin. “Astaga, badan kamu dingin banget, nak.”

Martin langsung menunduk sedikit ke Juhoon. “Napas pelan-pelan dulu. Jangan dipaksa berdiri.”

Tentu saja Juhoon menurut, toh sekarang bahkan ia sudah tak punya kesempatan untuk berpura-pura kuat.

Martin bisa merasakan napas Juhoon masih agak tidak stabil di dekat lehernya. Pelan dan berat. Dadanya sendiri ikut sesak. Karena tadi… jika mereka telat dengar suara jatuh itu bagaimana?

Jika kepala Juhoon terbentur? Jika Juhoon pingsan sendirian di kamar? Martin bahkan tidak sanggup melanjutkan pikiran itu.

Mama Juhoon akhirnya berdiri cepat. “Tante ambil air sama termometer dulu.”

Martin hanya bisa mengangguk kecil tanpa melepas Juhoon. Begitu pintu kamar tertutup lagi, ruangan mendadak jadi sunyi. Sunyi yang penuh suara napas lelah dari Juhoon.

Martin pelan-pelan mengusap rambut Juhoon yang sedikit berantakan. Tangannya masih gemetar kecil.

Dan Juhoon notice itu. “Martin.”

“Hm.”

“Aku bikin kamu takut ya.”

Martin langsung tertawa kecil. Tapi tawanya terdengar sama lelahnya. “Banget.”

Juhoon menunduk sedikit. “Maaf, ya.”

“Nggak usah minta maaf terus,” ujar Martin pelan, suaranya serak sekarang. “Please.” Martin akhirnya jujur. “Aku tadi hampir mati pas dengar kamu jatuh.”

Juhoon langsung diam setelah mendengar Martin genuinely ketakutan. Bahkan di saat Juhoon sekarang ada di pelukannya, Martin bisa merasakan adrenalinnya belum turun sama sekali.

Tangan Martin masih dingin. Jantungnya masih sakit. “Aku tuh udah firasat dari tadi,” lanjut Martin pelan. “Makanya aku nyuruh kamu pulang.”

Juhoon memejam mata sebentar. “Aku tahu…”

“Terus kenapa masih dipaksa?”

Sunyi.

Lalu akhirnya Juhoon jawab lirih, “Aku gak mau kamu capek sendirian.”

Martin langsung membeku. Karena kalimat itu keluar begitu kecil. Begitu jujur. Dan tiba-tiba semuanya masuk akal; latihan olimpiade berlebihan, selalu menjawab gapapa, memaksa tetap sadar, takut istirahat.

Juhoon bukan tidak peduli dengan tubuhnya. Juhoon juga khawatir dengan rasa lelah yang Martin punya.

Kekasih tingginya itu langsung menarik napas pelan. Lalu tanpa mengucap apapun, Martin merapatkan pelukannya sedikit dengan teramat hati-hati.

Begitu kepala Juhoon pelan-pelan jatuh ke bahunya, terlintas satu pikiran mengerikan di kepala Martin. Bahwa Martin mungkin akan terus takut selama hidupnya jika Juhoon terus memperlakukan dirinya sendiri seperti ini.

Dalam pelukan kekasihnya, Juhoon sebenarnya masih berusaha sadar. Meski kepalanya berat. Pandangan mulai kabur. Dan tubuhnya terasa seperti pelan-pelan mati rasa. Tapi Juhoon masih berusaha.

Karena di sini adalah rumahnya, ada mama di sini, pun ada Martin di sini. Juga Juhoon benci membuat orang panik. Tapi begitu Martin merapatkan pelukannya sedikit semuanya langsung berubah.

Hangat.

Itu hal pertama yang Juhoon rasakan. Hangatnya dada Martin. Tangan besar Martin di punggungnya. Cara Martin menahan tubuhnya hati-hati sekali seperti Juhoon sesuatu yang rapuh. Yang anehnya, justru karena itu Juhoon jadi tidak kuat lagi.

Karena tubuhnya akhirnya sadar sekarang adalah waktu dan tempat yang aman. Tidak perlu berdiri lagi. Tidak perlu pura-pura kuat lagi. Tidak perlu menahan diri supaya tetap sadar.

Martin ada di sini. Rasa aman itu terlalu besar sampai seluruh tenaga terakhir Juhoon langsung habis. Kelopak matanya makin berat. Suara Martin dan mamanya yang tadi sempat hendak mengambil sesuatu itu mulai terdengar jauh.

“Juhoon?”

Hangat di sekelilingnya tetap ada. Dan untuk pertama kalinya hari itu, Juhoon akhirnya benar-benar membiarkan dirinya jatuh.

Martin langsung menyadari ada yang berubah. Tubuh Juhoon yang tadi masih sedikit tegang mendadak lemas total di pelukannya. 

“Juhoon?”

Tidak ada respon.

Jantung Martin langsung drop.

“Juhoon.” Tangannya otomatis naik megang pipi Juhoon pelan. Begitu melihat mata Juhoon benar-benar tertutup sekarang, napas Martin langsung kacau.

“Tante,” panggil Martin sampai pecah sedikit. Ia panik lagi. Panik sekali. Karena tadi Juhoon masih menjawab. Masih sadar. Sekarang tiba-tiba tubuhnya lemas sepenuhnya di pelukan Martin.

Berbeda dengan Martin, mama Juhoon justru masih cukup tenang. Khawatir? Jelas. Tapi tidak panik. Itu langsung menunjukkan bahwa ini bukan yang pertama kalinya.

Mama Juhoon cepat mendekat lalu mengecek dahi dan napas anaknya pelan. “Hm… nggak apa-apa.”

Kepala Martin langsung mendongak menatap wajah mama Juhoon. “Nggak apa-apa?”

“Juhoon kecapekan banget aja.” Mama Juhoon mengusap rambut Juhoon pelan. “Kalau tubuhnya udah terlalu capek biasanya memang begini.”

Biasanya.

Martin benci kata itu. Karena berarti Juhoon sering memaksa dirinya sampai separah ini. Mama Juhoon lalu menatap Martin yang masih kelihatan pucat sendiri.

“Martin, bisa bantu pindahin Juhoon ke kasur dulu?”

Langsung saja kepala Martin mengangguk cepat. Tentu saja bisa. Bahkan jika harus menggendong Juhoon seharian pun akan Martin lakukan.

Dengan pelan-pelan Martin berdiri sambil mengangkat tubuh Juhoon hati-hati. Lagi-lagi, dadanya terasa sesak karena tubuh Juhoon ringan sekali di lengannya.

Terlalu ringan untuk seseorang yang terus memaksa dirinya bekerja sekeras itu. Kepala Juhoon jatuh lemah di bahu Martin sekarang. Napasnya kecil dan pelan. Martin berjalan ke tempat tidur seperti takut salah gerak sedikit saja maka akan menyakiti Juhoon.

Setelah Juhoon dibaringkan pelan di atas kasur, Martin masih tidak langsung menjauh. Tangannya tetap di sisi kepala Juhoon. Matanya terus memastikan dada Juhoon masih naik-turun dengan normal.

Sampai mama Juhoon akhirnya bicara lembut dari belakang. “Martin.”

Martin langsung menengok.

“Kamu nggak usah terlalu takut.”

Bagaimana caranya agar Martin tidak takut?

Mama Juhoon tersenyum kecil. “Tante udah tahu harus gimana.”

Maka Martin langsung mengerti, orang tua Juhoon sudah terlalu sering menjadi orang yang menangani semua ini.

“Makasih udah bawa Juhoon pulang.” Suara mama Juhoon lembut sekali. Mungkin itu juga yang membuat Juhoon selalu bicara dengan pelan dan selembut mungkin. “Tadi kalau Juhoon pulang sendiri mungkin kondisinya bisa lebih buruk.”

Kepala Martin langsung menunduk sedikit. Anehnya, Martin malah merasa belum melakukan cukup. Sementara di atas kasur, Juhoon tidur tidak sadar dengan wajah yang akhirnya terlihat sedikit tenang.

Membiarkan Martin yang hanya bisa berdiri di samping ranjang sambil memikirkan jika dirinya saja setakut ini melihat Juhoon tumbang di satu sore, maka mama Juhoon pasti sudah hidup dengan rasa takut itu jauh lebih lama.

Sampai beberapa menit, Martin masih berdiri di samping ranjang seperti belum bisa meyakinkan dirinya sendiri jika semuanya sudah lebih aman sekarang.

Matanya tidak lepas dari Juhoon sama sekali. Sampai mama Juhoon akhirnya pelan-pelan mendekat. “Martin.”

Bahu Martin langsung refleks tegak sedikit. “Iya tante?”

Mama Juhoon tersenyum kecil. “Juhoon bakal baik-baik aja.” 

Kalimat itu lambat tapi pasti cukup ampuh membuat dada Martin sedikit longgar. Meski tetap belum hilang sepenuhnya.

“Juhoon memang suka begini kalau terlalu maksa dirinya.” Mama Juhoon duduk di sisi ranjang sambil ngusap rambut anaknya pelan. Nada suaranya tenang. Terlalu tenang.

Dan Martin semakin sadar jika wanita ini pasti sudah melewati momen seperti tadi berkali-kali. “Tapi biasanya setelah istirahat cukup Juhoon bakal membaik lagi.”

Martin akhirnya pelan-pelan duduk di kursi belajar Juhoon. Lelahnya baru terasa lagi sekarang. Tulang punggungnya pegal. Kepala Martin berat. Dan adrenalinnya perlahan turun meninggalkan rasa lemas.

Mama Juhoon memperhatikan Martin beberapa detik lalu terkekeh lembut. “Kamu juga kelihatan mau tumbang.”

Martin langsung gelagapan kecil. “Eh, enggak kok.”

“Kamu habis ngurus acara sekolah kan?”

Martin hanya bisa ngangguk kecil. Dan mama Juhoon langsung menghela napas pelan seolah paham semuanya. “Makanya tante bilang istirahat dulu tadi.”

Atensi Martin masih terkunci pada Juhoon sebelum akhirnya bersuara lagi, “Aku takut banget tadi.”

Tentu saja mama Juhoon langsung mengerti.  “Tante tahu, nak.”

“Juhoon keliatan kayak maksa banget buat tetap sadar,” tambah Martin.

“Itu memang Juhoon.” Kalimat itu keluar lembut banget. Sedikit sayang. Sedikit sedih. “Dari kecil selalu begitu. Kalau sudah punya target, suka lupa tubuhnya sendiri.”

Martin langsung menunduk pelan, rasa khawatir itu datang lagi. “Besok dia masih mau sekolah nggak ya?”

Mama Juhoon langsung menjawab cepat, “Oh, nggak mungkin.” Martin otomatis menoleh. Mama Juhoon sekarang tersenyum tipis yang surprisingly tegas. “Dua hari ke depan Juhoon libur.”

Oh, mama Juhoon terlihat begitu serius dengan ucapannya. 

“Dan tante nggak bakal kasih dia belajar sama sekali.”

Martin langsung hampir tertawa lega untuk pertama kalinya hari itu. Karena jujur? Martin sendiri tidak yakin bisa menghentikan kekasih kecilnya itu jika sudah keras kepala soal belajar.

Tapi jika mamanya turun tangan… selesai sudah. “No books,” lanjut mama Juhoon santai. “No latihan soal. No mikirin soal olimpiade dulu.”

Martin langsung bisa membayangkan Juhoon protes dari kasurnya nanti. Sedikitnya pikiran itu berhasil membuat suasana di kamar Juhoon sedikit lebih ringan.

Mama Juhoon lalu berdiri pelan. “Kamu nggak usah terlalu khawatir.” Martin hanya diam. “Tante tahu cara ngatasinnya.”

Selama ini mama Juhoon pasti yang selalu jadi tempat Juhoon jatuh setiap tubuhnya menyerah. Sekarang Martin ada di situ juga.

Mama Juhoon lalu menatap Martin lembut. “Kalau kamu mau datang cek dia besok atau lusa juga nggak apa-apa.”

Martin langsung ngangkat kepala cepat, “Boleh?”

“Tentu.” Mama Juhoon malah tertawa kecil. “Justru biasanya Juhoon lebih nurut kalau kamu yang ngomong.”

Martin refleks mengusap wajahnya sebab salah tingkah dan mama Juhoon tertawa lebih lepas melihatnya.  Sedang di atas kasur, Juhoon yang masih tertidur tampak jauh lebih tenang sekarang.

 


 

Hari tanpa Juhoon datang pada akhirnya lebih cepat dari yang Martin kira. Pagi itu terasa terlalu anomali bagi Martin. Aneh yang sampai membuat emosinya mudah goyah.

Biasanya di tiap pergantian jam pelajaran, Martin masih bisa sekilas melihat Juhoon lewat koridor, duduk belajar, atau sekadar menunduk sambil membaca buku di kelasnya. Namun sekarang tak ada. Dan Martin jadi sadar selama ini keberadaan Juhoon ternyata semenenangkan itu bagi dirinya.  

Ketidakhadiran Juhoon itu satu hal, kondisi sosial sekolah hari itu adalah hal lainnya. Sekolah rasanya sengaja mendukung kekacauan kewarasan Martin hari ini. Event puncak Bulan Bahasa tinggal beberapa hari. Anak OSIS mulai stres. Panitia mulai gampang ribut.

Pun Martin yang biasanya bisa handle semuanya dengan tenang, hari ini terlalu mudah kehilangan fokus. Martin salah menaruh berkas. Lupa balas chat guru. Bahkan tadi pagi sempat melamun lama di ruang OSIS sambil menunggu balasan chat Juhoon.

“aku udah makan, tapi mama belum bolehin bangun lama. semua buku aku disimpen di ruang kerja papa lagi”

Senyum Martin merekah detik setelahnya. Tidak bisa dipungkiri Martin lega sendiri. At least Juhoon benar-benar istirahat.

Sialnya ketenangan itu tak bertahan lama. Masih di sekitar jam istirahat kedua, Martin mulai merasa suasana panitia aneh. Begitu Martin masuk ruang OSIS, beberapa orang langsung mendadak terdiam.

Otak cerdas Martin langsung tahu—there’s gossip, and he hates gossip.

Awalnya Martin tidak peduli, semua orang memang punya banyak alasan untuk menggunjingkan orang lain. Ia tidak tertarik untuk mencari tahu. Tidak sampai akhirnya pendengaran Martin tidak sengaja menangkap satu kalimat dari pojok ruangan.

“Ya gimana nggak keteteran, ketosnya aja kemarin kabur sama pacarnya.”

Tangan Martin yang hendak membuka laptopnya langsung berhenti bergerak.

Sunyi.

Orang-orang yang tadi mengobrol langsung kaku.

Dan Martin sebenarnya masih bisa tahan jika itu hanya soal dirinya. Tapi begitu ada orang nyeret Juhoon ke situasi ini? Finished.

“Apa tadi?” Suara Martin terdengar begitu rendah sekarang. 

Ruangan OSIS langsung tegang. Salah satu panitia langsung gugup. “…enggak, maksudnya—”

“Kabur?” Martin tertawa kecil. “Ada yang lihat sendiri gue ‘kabur’?”

Tidak ada yang berani menjawab. Sebab memang tak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi kemarin. Yang mereka lihat hanya si ketua OSIS meninggalkan sekolah sambil menggendong pacarnya. Lalu sekarang rumor mulai berputar seenaknya.

“Kalau kalian mau ngomongin gue, silakan.” Martin naruh map di meja sedikit keras. “Tapi jangan bawa nama Juhoon.”

Satu ruangan semakin diam. Semua orang juga tahu—yang bukan anggota OSIS juga tahu, jika Martin jarang marah. Wajahnya terlalu ramah menebar senyum pada semua orang. Bahkan jika dibandingkan dengan Juhoon, meski lebih kecil dari Martin tapi aura juteknya lebih parah Juhoon.

Salah satu panitia akhirnya mencoba berbicara pelan. “Kita cuma takut tugas-tugas kita jadi ketunda.” Itu sebenarnya kalimat normal. Masuk akal bahkan.

Sayangnya Martin hari ini terlalu lelah buat mikir jernih. “Ketunda?” Ia langsung menengok pada arah suara. “Gue masih di sekolah dari pagi sampai sekarang.” Suaranya semakin dingin.

“Yang ngurus proposal siapa?”

“Yang revisi rundown siapa?”

“Yang nyari pengganti MC debat semalam siapa?”

Sekarang beberapa orang mulai genuinely takut. Karena Martin tidak pernah menyerang orang begini. Dan mereka baru sadar ketos mereka tuh ternyata juga manusia yang bisa lelah di balik senyum ramahnya.

Martin akhirnya menarik napas kasar sambil ngusap wajahnya sendiri. Lelah. Lelah sekali.

Di tengah semua ini, yang ada di pikirannya malah seandainya Juhoon ada di sini.

Sial.

Martin terlalu sayang pada Juhoon sampai tak bisa marah dengan fokus penuh.

Ruang OSIS masih diisi oleh atmosfer tegang yang terlalu pekat. Semua orang tahu ini sudah bukan sekadar gosip receh lagi. Martin benar-benar kelihatan di ujung batas sabarnya sekarang.

Napasnya berat. Rahangnya keras. Dan tatapan matanya terlampau dingin. Beberapa panitia sebenarnya mulai menyesal sudah berbicara yang macam-macam.

Tapi suasana yang sudah sepanas itu malah semakin teebakar sewaktu salah satu staf logistik tiba-tiba bersuara, “Ya kita semua juga capek, Martin.”

Siswa itu terlihat sama emosinya. Mungkin juga stres. Mungkin juga kelelahan. Yang justru itu masalahnya, semua orang di ruangan ini lagi sama-sama lelah.

“Gue semalem juga pulang jam delapan,” lanjutnya. “Yang lain juga sama.”

Martin masih diam.

“Tapi kita tetap lanjut kerja.”

Oke. Masih bisa ditahan. Masih.

Sampai akhirnya kalimat berikutnya keluar.

“Lagian pacar lo juga bisa pulang sendiri naik transportasi umum, kan?”

Ruangan langsung beku total. Atensi semua orang literally bisa melihat perubahan ekspresi Martin saat itu juga. Bahaya. Benar-benar bahaya. Martin berjalan satu langkah mendekat pelan-pelan yang justru membuatnya semakin seram.

“Ulang.” Suaranya rendah. Datar. Tapi emosinya jelas bocor sekarang.

Staf logistik itu sebenarnya langsung sadar ia salah bicara. Tapi ego orang lelah tuh kadang menyebalkan. “Ya emang salah gue apa? Kita semua capek. Emang lo doang yang punya alasan pacar sakit?”

Martin langsung tertawa pendek tidak percaya. Map di meja dibanting keras olehnya. Hal itu membuat beberapa orang langsung terkejut. “Lo pikir gue ninggalin kerjaan buat jalan-jalan?!” Nada suara Martin akhirnya naik. Pertama kalinya hari itu.

Sontak semua orang langsung diam total.

“Lo lihat sendiri dia hampir pingsan?!” Martin sekarang benar-benar emosional. Sudah cukup sedari tadi ia menahan perasaan takut, kurang tidur, rasa bersalah, lelah, dan juga khawatirnya pada Juhoon. Sekarang tiba-tiba seseorang bicara seolah Juhoon hanya beban yang merepotkan dirinya.

“Lo pikir gue seneng gendong dia keluar sekolah?!”

Staf logistik itu langsung berdiri juga. “Ya gue mana tahu—”

Exactly,” potong Martin langsung nyela. “Lo nggak tahu apa-apa soal dia jadi jangan asal ngomong.”

Ruangan jelas semakin chaos. Beberapa anak OSIS mulai ikut berdiri untuk menenangkan keduanya.

“Udah—udah—”

“Martin, santai dulu—”

Tapi Martin sudah terlalu penuh emosinya sekarang. “Dari pagi gue masih di sini.” Ia nunjuk meja penuh berkas dan juga laptopnya yang bahkan masih dalam mode sleep karena Martin hendak membukanya lagi.

“Semua kerjaan gue selesai.” Lalu matanya langsung menatap tajam pada staf tadi. “Dan kalau gue milih bawa Juhoon pulang daripada ninggalin dia tumbang sendirian, gue bakal ulangin lagi seribu kali.”

Dan masalahnya?

Martin memang benar. Maka dari itu tidak ada yang bisa membalas.

Tapi staf logistik itu juga terburu oleh emosi. “Ya lo nggak usah sok paling capek juga!”

Martin langsung maju lagi. Semua orang panik karena tinggi badan Martin terlalu intimidatif jika sudah seemosi ini.

“Martin—”

“Woy jangan!”

Staf itu juga reflek mendorong bahu Martin duluan.

Karena Martin yang dari tadi tinggal sisa satu benang sabar langsung balik menarik kerah seragam staf itu. Perkelahian kasar tidak bisa dicegah ketika si staf logistik melayangkan satu tinjuan pertama pada wajah Martin.

Kursi di sekitar langsung bergeser kasar. Ruangan OSIS akhirnya pecah total.

“ANJIR PISAHIN!”

“WOY WOY WOY!”

Beberapa orang langsung menarik Martin dari belakang, jika tidak mungkin salah satu dari mereka akan berakhir di rumah sakit.

Isi kepala Martin bahkan sudah tidak berpikir secara rasional. Yang ada di kepalanya hanya satu: jangan bicara seenaknya soal Juhoon.

JANGAN.

Sampai akhirnya pintu ruang OSIS terbuka keras.

“INI RIBUT APA?!”

Semua langsung membeku. Guru pembina OSIS berdiri di depan pintu dengan wajah syok sambil bawa map progres acara.

Di tengah ruangan kursi-kursi berantakan, orang-orang terlihat panik, dan Martin masih ditahan dua orang dengan napasnya terdengar berat bak habis berlari maraton. Ruang OSIS terus sunyi dalam satu menit setelahnya. Tidak ada yang berani bicara. Suasana di sana sudah terlalu kacau sekarang.

Di tengah semua itu, si ketua OSIS asih berdiri dengan napas berat sambil ditahan dua anak panitia. Rahangnya keras. Matanya merah capek sekaligus emosi. Guru pembina OSIS langsung melihat sekitar dengan wajah tidak percaya. “Ini sebenarnya ada apa?”

Masih tidak ada yang jawab. Karena semua orang tahu jika ini bukan ribut biasa. Ini akumulasi kelelahan berminggu-minggu yang akhirnya meledak. Martin sudah terlalu lelah untuk menahan dirinya lagi. Ia pelan-pelan melepas tangan-tangan yang menahannya sedari tadi. Lalu berdiri tegak sambil mengusap wajahnya kasar.

“Kalau emang kalian ngerasa gue nggak becus jadi ketua…” Suaranya sekarang jauh lebih dingin, “Yaudah.”

Semua langsung menoleh pada Martin. Dan entah kenapa, mendadak muncul firasat buruk dari kalimat Martin yang belum usai itu.

Tawa kecil terdengar kemudian, Martin merapikan kursi mejanya yang jatuh tak jauh dari sana. Ia juga meraih laptopnya kemudian.

“Gue stop aja.”

Sunyi panjang datang lagi.

Guru pembina sampai langsung mengernyit. “Martin—”

“Serius.” Martin nemotong cepat. “Cari aja orang lain.”

Ruangan langsung terkejut. Karena meskipun mereka sedang kesal, tak ada yang genuinely ingin Martin mundur. Semua orang tahu tanpa Martin, acara Bulan Bahasa kemungkinan besar akan hancur.

“Lo pikir gampang jadi ketua OSIS?” Sekarang emosinya Martin benar-benar bocor semua. “Apa semua orang di sini tahu gue tidur jam berapa tiap malam?”

Tak ada yang menjawab.

“Tau nggak gue masih revisi proposal jam dua pagi kemarin? Tau nggak gue bahkan belum sempet makan siang hari ini?” Martin tertawa lagi, mendukung suasana semakin sesak.

“Tapi lucu ya.” Matanya langsung menyapu seluruh ruangan. “Sekali gue ninggalin sekolah buat bawa orang yang hampir pingsan…” Suaranya mulai serak sekarang. “…gue langsung dibilang nggak tanggung jawab.”

No one can look at him now. Untuk pertama kalinya, mereka benar-benar melihat sisi manusia Martin. Bukan ketua yang sempurna. Bukan orang yang selalu bisa handle semuanya.

Hanya anak sekolah lelah yang kebetulan dipaksa menjadi sandaran semua orang. Martin akhirnya narik napas panjang.

“Gue juga di sini statusnya siswa, btw.

Benar. Martin juga siswa SMA. Tugas utamanya belajar. Bukan jadi mesin penyelesai masalah. Bukan jadi tempat semua orang lempar tekanan.

“Gue juga punya hidup sendiri.” Kali ini, yang muncul di kepala Martin otomatis wajah Juhoon tadi malam. Pucat, jatuh di lantai kamar, lemas di pelukannya. 

“Dan kalau gue harus milih antara acara sekolah sama orang yang gue sayang…” Martin langsung menatap ke mejanya yang penuh dengan kertas-kertas. “Gue bakal tetep pilih Juhoon.”

Guru pembina bahkan tak bisa langsung menyela. Ia juga bisa melihat sendiri Martin sudah benar-benar di batasnya. Tanpa menunggu respons siapa-siapa lagi, Martin langsung mengambil tasnya.

“Martin.” 

Guru itu coba memanggil, tapi Martin sudah jalan lebih dulu menuju pintu. Langkahnya cepat bersama seluruh lelah dan emosi yang tersisa.

Sebelum benar-benar keluar, Martin berhenti sebentar tanpa menoleh ke belakang. “Kalau emang kalian rasa gue nggak layak jadi ketua, ya cari aja pengganti yang lebih baik.”

Lalu Martin betulan pergi. Pintu ruang OSIS tertutup sempurna. Semua orang di ruangan itu menyadari jika mereka mungkin baru saja menyakiti satu orang yang selama ini paling banyak nyangga semuanya sendirian.

 


 

Lucunya, setelah Martin keluar dari ruang OSIS sampai izin pada satpam keluar gerbang sekolah, ia sendiri malah tidak tahu harus pergi ke mana.

Kakinya berjalan sendiri menuju tempat parkir motornya. Jika ia pulang sekarang,  sebetulnya bukan masalah. Yang jadi perkara adalah jejak pukulan di sudut bibirnya. Martin menatap spion motornya agak lebih lama sebelum menghela napas panjang.

Daripada tampak mencurigakan oleh satpam kenapa ia belum pergi dengan alasan bodong hendak mengambil print banner itu, Martin akhirnya keluar parkiran sekolah dengan motornya.

Di sepanjang jalan, kepala Martin masih terasa panas. Napasnya masih berat. Jelas jika emosinya belum turun sama sekali. Tapi di tengah semua kekacauan itu, ada satu tempat yang langsung muncul di pikiran Martin.

Rumah Juhoon. Tentu saja. Kapanpun di saat jiwa raganya terlampau selelah ini, Martin selalu ingin melihat Juhoon. Meskipun Juhoon sendiri kadang hanya duduk diam sambil membaca buku. Tetap saja rasanya tenang. Dan sekarang Martin butuh itu.

Sementara itu, Juhoon sedang duduk di halaman depan rumah dengan ekspresi paling bosan sedunia. Mamanya benar-benar serius soal larangan belajar.

No books. No laptop. No latihan soal. Literally semua bahan olimpiade disita. Jadi sekarang Juhoon hanya duduk di kursi teras sambil memakai sweater rumah oversized-nya dan selimut tipis di paha.

Masih pucat sedikit. Masih terlihat tidak bertenaga. Yang masih bisa diuntung hanya gerakannya lebih hidup dibanding semalam. Juga jujur saja, Juhoon sedang memikirkan Martin.

Mungkin hari ini Martin sedang sibuk sekali di sekolah. Apalagi sehabis kejadian kemarin. Juhoon bahkan sempat khawatir Martin ditegur guru karena gegabah meninggalkan sekolah lebih dulu. Maka dari itu ketika Juhoon melihat sosok tinggi familiar berdiri di depan gerbang rumah, Juhoon langsung berdiri.

“Martin?”

Martin juga baru sadar ia sudah sampai dengan motornya. Begitu matanya menemukan Juhoon—semua emosi yang tadi masih panas mendadak runtuh dikit. Karena Juhoon ada di sana. Masih aman. Masih bisa memanggil namanya.

Juhoon buru-buru berlari kecil mendekati gerbang rumahnya. “Kok kamu di sini?”

Martin diam beberapa detik. Dari keterdiaman itu Juhoon menyadari wajah Martin berantakan. Rambutnya mencuat tak beraturan. Dasi seragamnya longgar. Matanya tak menunjukkan semangat sedikitpun.

Ada sesuatu di ekspresi Martin itu yang membuat dada Juhoon langsung tidak nyaman. “Martin? Kenapa?”

Martin akhirnya tertawa kecil. “Maaf, aku kabur dari sekolah.”

“Hah?” Juhoon malah semakin bingung.

Martin jujur tidak tahu harus menjelaskan dari mana. Semuanya terlalu penuh di kepalanya sekarang. Rasa marah. Capek, kesal, takut, semua menumpuk jadi satu. Akhirnya Martin berjalan mendekat ke gerbang. “Aku capek.”

Juhoon langsung merasa dadanya ikut nyeri. Martin jarang sekali bicara begitu. Jarang sekali menunjukkan jika ia sendiri tidak sekuat itu. Juhoon langsung membuka gerbang rumahnya buru-buru. “Ayo masuk dulu.”

Martin menurut tanpa banyak bicara. Begitu ia masuk, Martin ikut duduk di kursi sebelah Juhoon di teras, bahunya langsung turun sedikit. Beberapa detik mereka hanya diam. Angin sore perlahan melewati halaman. Suara burung samar dari jauh. Dan Martin duduk sambil menunduk, kedua tangannya saling menggenggam lemah.

Juhoon melirik kekasihnya itu, “Di sekolah kenapa?”

Mendengar pertanyaan itu, Martin menutup mulutnya lebih lama. Juhoon melihatnya seperti dalam kepala Martin sedang sibuk memilih rangkaian kata yang tepat.

“Aku marah sama orang.”

Sebelah alis Juhoon terangkat sedikit. Martin tidak pernah terpancing emosi oleh siapapun.

“Aku hampir baku hantam.”

Sekarang Juhoon benar-benar melotot. Martin terkekeh frustasi sambil mengusap wajahnya.

“Aku capek banget, mi amor.”

Juhoon awalnya hanya mendengarkan diam-diam. Tapi ada satu hal yang sedari tadi mengganggu pikirannya. Dan begitu Martin kembali sedikit menoleh ke arahnya, Juhoon langsung menyadari itu.

Juhoon menyipit kecil. “Itu apa?”

Martin otomatis bingung. “Apa?”

Telunjuk kanan Juhoon langsung menunjuk sudut bibir Martin. Ada lebam tipis di sana. Tidak besar kecuali jelas itu ada karena kena pukul. Untuk sepersekian detik Martin langsung terdiam. Oh tidak. Karena tadi emosinya terlalu kacau sampai ia lupa soal itu.

“…oh.”

‘Oh’?” Juhoon duduk lebih tegak. “Kamu bilang hampir baku hantam.”

Martin langsung salah tingkah. “Ya…”

“Terus?” tanya Juhoon lembut dengan segaris kecurigaan.

Dan Martin tahu, habis sudah dirinya. “Dia duluan yang dorong.” Itu literally pengakuan terselubung.

Mata Juhoon langsung melebar. “Kamu beneran berantem?!”

“Sedikit.”

“Martin!”

Martin langsung refleks menunduk sedikit seperti anak habis ketahuan jajan sembarangan. Jika anak-anak OSIS tadi lihat ketos galak mereka sekarang, mereka pasti tidak percaya. Martin sekarang malah keliatan takut dimarahi Juhoon.

Juhoon langsung mendekat sedikit untuk melihat lebamnya lebih jelas. Dan semakin dilihat, semakin membuat Juhoon kesal “Dia mukul kamu?”

Martin diam 

“Aku lagi nanya loh.”

“Ya dikit.”

“Dikit tuh gimana?”

Martin tertawa kecil tidak bisa menahan gemasnya mendengar kekesalan Juhoon. Itu juga yang malah membuat lebam di sudut bibirnya semakin terlihat. Juhoon semakin tidak suka melihatnya. Martin jarang sekali terlihat sakit. Tubuhnya besar. Kuat  yang biasanya justru Martin lah selalu menjaga orang lain.

Jadi melihat wajah Martin yang terhias lebam begini membuat hati Juhoon aneh sekali. “Kalau kakak kamu lihat gimana?”

Nah. Martin langsung kelihatan mati. Kakak perempuannya memang sangat tegas soal Martin berkelahi.

Exactly.”

Juhoon langsung berdiri kecil. “Ayo masuk.”

“Hah?”

“Sini.”

Martin masih bingung sewaktu Juhoon menarik ujung lengan seragamnya pelan. Bukannya masuk lewat pintu depan, Juhoon malah berjalan ke samping rumah.

Mi amor?”

“Pelan-pelan.” 

Suara Juhoon terdengar kecil penuh konspirasi sekarang. Martin langsung mengerti. They're sneaking in. Karena kalau mama Juhoon lihat Martin lebam, tahu ternyata Martin betulan berkelahi, tidak mungkin keluarga Martin tidak akan tahu. Mama Juhoon pasti akan memberitahu orang tua Martin.

Juhoon pelan-pelan membuka pintu samping rumah yang tersambung ke tangga. Ia sempatkan menoleh pada Martin. “Ayo cepet sebelum mama lihat.”

Martin benar-benar hampir tertawa lagi menyadari betapa absurd adegan ini. Juhoon yang semalam tumbang sekarang malah mengajaknya masuk rumah diam-diam.

Dan Martin juga menurut, tentu saja. Mereka berdua naik tangga pelan-pelan. Juhoon beberapa kali masih harus memegang railing karena tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Setiap melihat itu, Martin otomatis waspada lagi.

“Hati-hati.”

“Aku tahu.”

“Tangan kamu dingin?”

“Martin.”

“Kenapa?”

“Aku lagi marah, ya, sama kamu.”

Martin langsung diam lagi. Jujur saja Juhoon ingin kesal lebih lama. Tapi begitu mereka sampai kamar, Martin langsung duduk di lantai dekat ranjang sambil menghela napas berat yang panjang.

Mendengar itu rasa marah Juhoon langsung berubah jadi sedih. Kamar Juhoon akhirnya sunyi lagi. Hanya ada suara kipas kecil di sudut ruangan dan napas lelah Martin yang masih terdengar.

Kekasih tinggi Juhoon itu duduk di lantai sambil bersandar ke sisi ranjang. Kemeja seragamnya tetap kusut. Lengan bajunya masih tergulung. Dan lebam kecil di sudut bibirnya sekarang kelihatan makin jelas di lampu kamar.

Sementara Juhoon duduk di pinggir ranjang sambil memperhatikan Martin diam-diam. Juhoon juga tahu betul yang suka memaksa dirinya sendiri sampai hancur itu bukan hanya dirinya. Martin juga.

Bedanya, Martin hancur untuk semua orang. Dan hari ini mungkin akhirnya terlalu berat. Juhoon turun pelan dari ranjang. Martin otomatis langsung waspada, “Eh, jangan turun dulu—”

Tapi Juhoon memilih ikut duduk di lantai juga tepat di depan Martin. Beberapa detik kemudian, Juhoon membuka kedua tangannya lebar-lebar. “Peluk sini.”

Mendadak kerja otak Martin melambat. Biasanya justru Martin yang lebih dulu mencari Juhoon untuk ia peluk. Baru kali ini Juhoon yang menawarkan lebih dulu. Martin bahkan tidak berpikir dua kali. Tentu saja ia langsung maju. Tubuh tingginya otomatis membungkuk sewaktu melingkarkan tangan di pinggang Juhoon.

Dan begitu kepalanya bersandar ke perut Juhoon—seluruh tubuh Martin langsung melemas. As if, finally… finally something soft.

Juhoon hangat. Sweater rumahnya lembut. Dan aroma khas Juhoon yang samar seperti sabun dan teh hangat langsung membuat kepala Martin kosong. Lelahnya mendadak terasa semua sekarang. Juhoon pelan-pelan mengusap belakang kepala Martin. Hati-hati sekali. Dan itu hampir membuat Martin genuinely emosional.

Sorry, mi amor,” ujar Martin lembut.

Juhoon langsung menunduk sedikit. “Hm?”

“Harusnya aku nggak berantem.” Martin semakin merapat ke pelukan Juhoon. Tangannya melingkar erat sekarang seolah takut kalau ia lepas, semuanya akan runtuh lagi.

“Tapi mereka ngomongin kamu…” lanjut Martin. “Dan aku udah terlalu emosi.”

Juhoon diam sambil terus mengusap rambut Martin pelan.

Martin lanjut lagi lirih, “Aku juga bikin kamu khawatir.”

Tetap saja kenyataannya dari tadi Martin bukan hanya marah. Ia juga merasa bersalah. Bersalah karena gagal mengontrol emosi, membuat masalah di saat Juhoon tidak sekolah, dan sekarang masih berani datang ke rumah Juhoon dalam keadaan begini.

“Aku harusnya lebih dewasa.”

Juhoon langsung menggeleng kecil. “Aku lebih takut lihat kamu nyimpen semuanya sendirian.”

Selama ini Martin selalu menjadi tempat semua orang bersandar. Tapi jarang ada yang bertanya apakah Martin sendiri baik-baik saja? Sekarang di pelukan kecil Juhoon, untuk pertama kalinya hari itu Martin merasa emosi yang ia luapkan selama di sekolah tadi adalah valid. Martin juga punya hak itu.

Juhoon pelan-pelan menyandarkan pipinya di atas kepala Martin. “Lain kali kalau capek…” Suara Juhoon terdengar terlalu pelan, agar Martin bisa mencerna kalimatnya baik-baik. “Dateng aja ke aku.”

Demi apapun Martin bersumpah jika bukan karena ia sedang duduk, lututnya mungkin sudah jatuh lemas sekarang. Pelukan mereka masih berlangsung lama. Jujur saja Martin memang tidak ingin melepasnya. Di kamar ini akhirnya tidak ada suara panitia, tuntutan, rumor, atau orang-orang yang meminta ia kuat terus.

Hanya ada Juhoon. Hangat. Lembut. Dan mengusap rambutnya pelan seperti Martin sesuatu yang harus dijaga. Martin bahkan semakin bersandar pada pelukan kekasihnya.

Juhoon mengizinkan apapun yang Martin lakukan. Kekasih hatinya itu benar-benar sedang lelah hari ini. Maka dari itu Juhoon hanya diam sambil terus menepuk-nepuk punggung Martin pelan.

Sampai tiba-tiba suara pintu diketuk tiga kali memecah keheningan. Keduanya langsung sedikit terperanjat.

“Nak?” Suara mama Juhoon terdengar dari balik pintu.

Martin langsung refleks mengangkat kepala cepat. Juhoon sendiri juga kaget kecil, tapi untungnya pintunya tidak dibuka.

“Mama masuk ya…”

“JANGAN!” Martin refleks berbisik panik.

Juhoon hampir tertawa melihat ekspresi Martin yang sangat takut dimarahi orang tua. Untungnya mama Juhoon berhenti duluan sebelum buka pintu.

“Martin ada di dalem, ya?”

Nah. Ketahuan.

Juhoon langsung melirik Martin sebentar sebelum menjawab jujur. “Iya, ma.” Toh motor Martin masih parkir depan rumah, mana mungkin mamanya tak menyadari itu.

Beberapa detik hening, dan Martin bersumpah ia udah siap mental untuk ceramah panjang. Tapi ternyata mama Juhoon benar-benar tidak membuka pintu kamarnya dan hanya bersuara lagi, “Kalau mau makan nanti turun aja, ya. Martin juga pasti belum makan.”

Mendengar itu Martin langsung merasa bersalah sekaligus tersentuh. Setelah Martin datang dengan muka lelah dan lebam begini, mama Juhoon tetap menyambutnya dengan hangat.

Juhoon pelan-pelan melirik Martin lagi. Si lelaki tinggi yang masih setengah meluk pinggang Juhoon itu akhirnya jawab agak keras ke arah pintu. “Iya, makasih tante.” Suara seraknya langsung membuat Juhoon ingin memeluk Martin lagi.

“Turunnya pelan-pelan,” lanjut mama Juhoon dari luar. “Juhoon jangan sok sehat.”

Juhoon mendengus pelan, “Iya ma.”

Langkah kaki mama Juhoon akhirnya menjauh. Suasana di kamar langsung sunyi lagi. Beberapa detik kemudian, Juhoon akhirnya tidak tahan untuk tertawa. “Kamu takut banget ketahuan.”

Martin langsung bersandar lagi ke perut Juhoon sambil menutup mata. “Aku lagi capek. Jangan diketawain.”

Juhoon langsung melemas, nada suara Martin sekarang tuh benar-benar terdengar seperti anak kecil yang sedang mengadu kelelahannya. Untuk beberapa menit, tak ada dari mereka yang bicara. Martin masih duduk di lantai sambil meluk pinggang Juhoon. Sedangkan Juhoon tetap berdiri di depan Martin sambil menyelipkan jari-jarinya pada rambut Martin.

“Aku hari ini jelek banget ya.”

Juhoon langsung menunduk sedikit. “Hm?”

“Aku marah-marah, bahkan berantem.” Martin tertawa kecil. “Kayaknya kalau anak sekolah lihat aku sekarang, image ketos sempurna langsung hancur.”

Juhoon terdiam beberapa detik. “Aku suka Martin yang sekarang.”

Martin langsung mengangkat kepala sedikit. “Kenapa?”

“Karena nyata.”

Juhoon melihat Martin sebagai manusia. Manusia yang bisa lelah, bisa takut, bisa emosional, dan Juhoon justru lebih sayang setelah melihat sisi itu.

Yang lebih tinggi itu menatap Juhoon beberapa detik lama. “Aku takut bikin kamu kecewa.”

“Karena berantem?” tanya Juhoon sedikit bingung 

Martin ngangguk kecil. “Harusnya aku bisa lebih tenang.”

Juhoon akhirnya pelan-pelan menarik tubuh Martin untuk duduk menghadapnya. Sekarang mereka sejajar. Juhoon langsung memegang kedua tangan Martin. Tangannya masih sedikit dingin.

“Kamu tahu nggak…” Suara Juhoon terdengar tenang sekarang. “Aku justru sedih karena kamu nahan semuanya sendirian sampai meledak begini.”

“Aku tuh tadi takut banget.” Martin akhirnya jujur lagi. “Takut kalau kamu kenapa-kenapa. Takut acara sekolah hancur. Takut orang-orang kecewa.” Ia mengusap tangan Juhoon pelan. “Kayaknya aku takut semuanya.”

Lelaki tinggi besar yang semua orang kira kuat itu ternyata hanya anak SMA yang terlalu banyak berpikir sendirian. Juhoon lalu menarik tangan Martin mendekat ke dadanya sendiri. Terasa degup jantungnya pelan. Hangat.

“Kalau capek…” Juhoon menunduk sedikit. “Nggak usah kuat terus di depan aku.” Senyum tipis terbit di wajah Juhoon. “Aku nggak butuh ketua OSIS sempurna.” Matanya sekarang menatap Martin lembut. “Aku cuma butuh Martin.”

Martin bersumpah jika Juhoon bicara satu kalimat manis lagi, Martin bisa menangis betulan di lantai kamar ini. Maka akhirnya Martin hanya maju sedikit lalu menyandarkan dahinya pada bahu Juhoon.

Lengan Juhoon terulur naik memeluk bahu Martin tanpa banyak kata. Orang yang paling kuat itu sebenarnya cuma butuh tempat buat berhenti sebentar.

“Aku juga mau minta maaf.”

Martin langsung sedikit mengangkat kepala. “Hm?”

Juhoon keliatan ragu sebentar. Jujur saja Juhoon tidak terbiasa bicara panjang soal dirinya sendiri. “Tadi pagi mama ceramahin aku.”

Martin menahan tawanya. “Ceramah apa?”

“Kata mama…” Juhoon menunduk sedikit malu. “Kamu kelihatan takut banget kemarin.”

Rupanya benar mamanya Juhoon menyadari itu. Bagaimana paniknya Martin saat Juhoon jatuh, bagaimana tangan Martin gemetar, bagaimana Martin tidak bisa melepaskan perhatian dari Juhoon sampai malam.

“Mama bilang aku terlalu sering bikin orang khawatir.”

Kepala Martin langsung buru-buru geleng kecil. “Eh, jangan mikir gitu—”

“Tapi bener,” potong Juhoon tidak defensif, tanpa marah. “Aku terlalu sering ngerasa tubuhku bakal baik-baik aja.” Jemarinya mengetuk pelan-pelan di atas paha Martin. “Padahal ternyata nggak.”

Lantas pandangan Juhoon terangkat “Aku ngerti sekarang,” ujarnya,  “Kalau aku sakit, yang sedih ternyata bukan cuma mama sama papa. Tapi ada kamu juga sekarang.”

Martin langsung otomatis menarik Juhoon mendekat lagi. Seolah refleks. Karena Martin tidak sanggup mendengar Juhoon bicara selembut itu. Juhoon tertawa kecil di pelukan Martin.

“Aku bakal coba lebih aware sama badanku. Aku bakal bikin alarm makan. Terus alarm istirahat juga kalau lagi latihan soal. Nggak belajar sampai malam banget lagi.”

Martin langsung nutup mata lega. Akhirnya Juhoon mengerti.

“Sebisa mungkin aku nggak mau bikin kamu setakut kemarin lagi.”

Seperti beban yang diputus ikatannya, Martin langsung memeluk Juhoon lebih erat sebab merasa lega. Selama ini yang membuat Martin paling takut bukan lelahnya. Tapi kenyataan jika Juhoon sering memperlakukan dirinya seolah dirinya tidak berharga untuk dijaga.

Dan sekarang Juhoon akhirnya mulai belajar bahwa tubuhnya penting. Dirinya penting. Ada orang-orang yang menyayangi dirinya.

“Makasih udah mau coba,” ucap Martin.

Juhoon merasakan suara itu sedikit gemetar. Jadi ia hanya membalas memeluk Martin lebih erat lagi. Dua anak lelah yang akhirnya sama-sama belajar dicintai juga berarti harus belajar menjaga diri sendiri.

Setelah obrolan panjang itu, kamar Juhoon menjadi lebih hangat. Tidak seberat tadi, atau dengan emosi yang meledak-ledak. Martin melepaskan pelukannya dan menatap Juhoon dengan senyum lebih ringan. Sedangkan Juhoon merapikan rambut Martin yang masih berantakan di beberapa sisi sambil sesekali melirik lebam kecil di bibirnya.

Atas semua yang terjadi hari ini, jarak mereka terasa berbeda. Lebih dekat dan lebih lembut. Martin yang pertama sadar. Karena begitu Juhoon menurunkan tangannya dari rambut Martin, wajah mereka mendadak jadi begitu lebih dekat. Martin bahkan bisa melihat bulu mata Juhoon bergerak kecil. Bisa merasakan napas hangat Juhoon pelan di pipinya.

Tiba-tiba si lelaki tinggi itu malah jadi gugup. Gelisah di posisi duduknya sebab jantungnya ikut-ikutan tidak tenang. Juhoon sendiri juga langsung sadar sekarang mereka terlalu dekat. Tapi Juhoon tidak mundur. Malah tetap diam di situ. Dan itu membuat Martin semakin kehilangan arah.

Mi amor.”

“Hm?”

Martin ragu beberapa detik. Lalu akhirnya bicara setengah berbisik, “Aku cium boleh, nggak?”

Wajah Juhoon langsung tersipu dan memerah perlahan. Meskipun mereka pacaran, mereka belum pernah sampai sejauh ini. Paling hanya sekedar pegangan tangan, pelukan, bersandar di bahu. A simple teenage love. Jadi sekarang tentu saja keduanya berdebar hebat.

Juhoon bahkan sempat menunduk malu duluan sebelum akhirnya mengangguk kecil. “Boleh.”

Martin bersumpah jantungnya hampir copot. Ia maju pelan-pelan sekali, berusaha sehati-hati mungkin yang ia mampu. Seolah takut membuat Juhoon tidak nyaman.

Kedua mata Juhoon sendiri refleks tertutup. Detik selanjutnya yang Juhoon rasakan adalah adanya tekanan di bibirnya dengan tekstur yang serupa. Deruan napas Martin begitu dekat, hangat tubuhnya juga seakan tak berjarak lagi dengan tubuh Juhoon.

First kiss itu tak berlangsung terlalu lama. Lembut, sebentar, rasanya hangat sampai menjalar ke pipi dan telinga keduanya. Baik Martin maupun Juhoon sama-sama langsung membeku setelahnya.

Juhoon yang lebih dulu tersadar lantas langsung mundur sedikit dengan wajah merah total. Martin juga sama kacaunya.

“…”

“…”

Awkward.

SUPER awkward.

Sampai akhirnya Martin malah tertawa menjadi responnya karena saking gugupnya. Tanpa sadar membuat Juhoon ikut malu sendiri.

“Kenapa ketawa, deh?”

“Aku nervous, mi amor.”

“Iya, aku juga…”

Martin akhirnya menyandarkan dahinya lagi pada ke bahu Juhoon sambil masih tertawa salah tingkah.

First kiss kita jelek nggak?”

Ditanya begitu Juhoon langsung mengusap dahinya sendiri merasa teramat malu. “Nggak tahu…”

“Tapi singkat banget.”

“Martin!”

Martin tertawa kencang sekarang. Dan untuk pertama kalinya sejak dua hari terakhir yang kacau itu, suasana akhirnya terasa ringan. Hangat, manis, mirip sore ini yang rupanya hujan mulai turun di balik jendela kamar Juhoon.

Beberapa detik kemudian, Juhoon pelan-pelan ikut bersandar juga pada bahu Martin. Dan dengan suara kecil penuh malu, ia berbisik, “Tapi aku juga suka.”